• Tidak ada hasil yang ditemukan

CAKRAWALA DI LANGIT EMPAT LIMA TETAP BERKARYA, MENYIAPKAN ANAK BANGSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CAKRAWALA DI LANGIT EMPAT LIMA TETAP BERKARYA, MENYIAPKAN ANAK BANGSA"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

CAKRAWALA

DI LANGIT EMPAT LIMA

TETAP BERKARYA, MENYIAPKAN ANAK BANGSA

KUMPULAN ARTIKEL PEMBELAJARAN

Pengajar SMP Negeri 45 Surabaya

Tahun Pelajaran 2020/2021

(3)

iii

CAKRAWALA DI LANGIT EMPAT LIMA

TETAP BERKARYA, MENYIAPKAN ANAK BANGSA

KUMPULAN ARTIKEL PEMBELAJARAN Pengajar SMP Negeri 45 Surabaya

Tahun Pelajaran 2020/2021 Penulis

Pengajar SMP Negeri 45 Surabaya

Penanggung Jawab Supardi, S.Pd.

Kepala SMP Negeri 45 Surabaya

Editor

Ririn lelaningtias, S.Pd.

Drs. Anang Dwitjahjono, M.M.

Dra. Nanik Widyastuti, M.Pd.

Karina Trimawati, M.Pd.

Theo Risky Widianto, S.Pd.

Endang Lutvia Ningsih, S.Pd., Gr.

Desain Cover dan Ilustrator Drs. Achmad Zaini, M.M.

Penata Layout Widhi Ananda Laily Akbar

Cetakan:

Pertama-2020

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya tercurahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan begitu banyak limpahan nikmat sehingga penulisan buku fiksi Sasek Sabu ini telah selesai. Buku fiksi ini telah selesai pada waktu yang ditentukan.

Tim Penyusun buku non fiksi kumpulan artikel pembelajaran / kumpulan artikel ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman sejawat guru, karyawan, siswa dan semua pihak yang telah memberikan kontribusi dan motivasi dalam menyelesaikan buku ini.

Berkat bantuan dan dorongan tersebut, penulis dapat menyelesaikan ini secara lancar dan optimal.

Akhirnya, penyusun juga berharap buku ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca, khususnya dalam pengajaran bidang studi Pendidikan Bahasa dan sastra di dunia pendidikan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan.

Surabaya, November 2020 Penyusun

(5)

v DAFTAR ISI

Judul ... i Kata Pengantar ... iv Daftar isi... v Ac Portable dari Barang Bekas sebagai salah satu karya siswa dalam upaya mengurangi

pencemaran lingkungan………..6 Pot manis klasik ramah lingkungan………13 Menggambar sebagai sarana untuk mengembangkan kecerdasan anak………..20 Upaya menumbuhkan minat belajar matematika di

rumah………..32 Disleksia sebagai gangguan literasi………40 Kulit kentang sebagai bahan bioplastik………..82

Peran penting guru BK dalam mewujudkan sekolah ramah anak……….….90 Gaung gamelan berkumandang di tembok sekolah

metropololitan……….98 Cangkang Kerang, ampas tebu, dan limbah rambut

(6)

vi sebagai media filterasi

air………106

Inovasi di tengah pandemic.……….115

Sinergi Surabaya dan guru, best practice kota layak anak di era pandemic………..125

Guru Inspirasiku………...137

Menjadi Budak di negeri sendiri………..139

Peran siswa dalam menjaga lingkungan………..…145

(7)

1

AC Portable dari Barang Bekas sebagai Salah Satu Karya Siswa dalam Upaya Mengurangi Pencemaran

Lingkungan Karya : Karina Trimawati

Jika kita berbicara mengenai barang bekas pasti kita akan berpikir pula tentang sampah. Berbagai upaya penanggulangan sampah sudah dilakukan oleh pemerintah, diantaranya. Melalui Perda serta sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat. Namun kenyataan di lapangan jumlah sampah plastik (terutama) masih saja belum dapat dikendalikan dengan baik.

Menurut Rizki Daniarto dalam SurabayaInside.com (5/8/2019), jumlah sampah plastik di Jawa Timur mencapai 2.126 ton per hari. Ini merupakan masalah

Sumber: Brilio.net

(8)

2

serius yang perlu ditangani karena sampah plastik tidak dapat diuraikan dalam waktu yang relatif singkat.

Sebenarnya ada banyak cara untuk mengurangi jumlah volume sampah plastik, akan tetapi hanya sebagian kecil masyarakat yang mau untuk melakukannya. Membawa tumbler sebagai tempat minum, membawa tepak makan, membawa tas sendiri saat berbelanja merupakan contoh sederhana yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk dapat berpartisipasi dalam mengurangi jumlah sampah plastik.

Jika di ruang lingkup pendidikan, mungkin hal ini merupakan pendidikan karakter bagi siswa untuk peduli terhadap lingkungan. Bisa dilakukan dengan mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran, bisa juga dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang menghasilkan produk bermanfaat dari sampah atau barang bekas. Memang tidak mudah menanamkan karakter peduli lingkungan. Diperlukan suatu rangsangan atau stimulus agar siswa tertarik dengan hal itu. Mungkin bisa dilakukan dengan motivasi melalui suatu kampanye atau diadakan lomba yang berkaitan dengan upaya mengurangi volume sampah plastik.

(9)

3

Dalam suatu kesempatan lomba yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, disebut sebagai lomba Asah Terampil, siswa di sekolah kami SMP Negeri 45 Surabaya tertarik untuk mengikutinya.

Lomba Asah Terampil ini dapat dijelaskan sebagai lomba kreatifitas siswa dalam menghasilkan suatu produk atau karya berupa barang yang bermanfaat tapi dibuat dari barang bekas/sampah. Lomba ini ternyata mampu merangsang siswa di SD maupun SMP untuk mengikutinya.

Pada postingan facebook DLH (15/08/2018), Pangki mengatakan bahwa peserta lomba Asah Terampil pada saat itu meningkat dua kali lipat. Dari sini dapat kita lihat peserta didik mulai merespon peduli terhadap lingkungan melalui keikutsertaannya dalam lomba tersebut karena tema lomba Asah Terampil itu adalah

“Kendalikan Sampah Plastik”. Peserta lomba dilarang mengerjakan karyanya dari rumah, barang perlengkapan yang dibawa harus belum jadi alias masih bentuk prototipe dan barang perlengkapan yang akan digunakan harus berasal dari barang bekas.

(10)

4

Melalui proses penilaian oleh juri yang sangat ketat, akhirnya diumumkan para pemenang lomba Asah Terampil. Kriteria penilaian dalam lomba itu diantaranya adalah karya sesuai dengan tema, karya dibuat dari barang bekas, karya memiliki keunikan, dan karya memiliki nilai manfaat untuk lingkungan dan masyarakat. Tiga pemenang lomba Asah Terampil tingkat SMP yaitu (1) SMPN 3 Surabaya dengan judul green house dari botol plastik, (2) SMPN 45 Surabaya dengan judul AC portable dari plastik bekas untuk mengusir udara panas, (3) MTsN 2 Surabaya dengan judul pemanfaatan limbah plastik sebagai sarana media tanam aquaponik.

Sekolah kami mendapatkan juara 2 dalam lomba Asah Terampil tersebut. Sebagai guru, kami bangga terhadap peserta didik kami yang telah memenangkan lomba tersebut meskipun bukan juara satu. Nilai positif yang kami dapat dari kegiatan lomba tersebut adalah peserta didik kami sudah mulai melakukan tindakan peduli lingkungan dan peserta didik kami telah menghasilkan karya inovasi dari barang bekas/sampah plastik yang memiliki manfaat terhadap lingkungan dan masyarakat.

(11)

5

Saat ini, sudah banyak orang yang menggunakan Air Conditioner (AC) portable di rumahnya. Hal ini bertujuan untuk menyejukkan ruangan. Selain itu, harga yang dimilikinya pun bisa dibilang sangat terjangkau.

Akan tetapi, meski dikatakan harga sangat terjangkau daya listrik yang dibutuhkan sebuah AC portable masih berkisar 45 – 56 watt. Bila dibandingkan dengan penggunaan baterai yang hanya memiliki daya 9 volt.

Mengingat bahwa penggunaan listrik juga dapat menyumbangkan emisi gas CO2 di udara. Dalam artikel Rocky Salomo (3/12/2011), jika kita menggunakan daya listrik sebesar 20 watt dalam 10 jam setiap hari selama 1 bulan, sudah dapat menyumbangkan emisi gas CO2 sebesar 4,6785726 kg.

Melalui pembimbingan dari guru, peserta didik kami melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan sekitar yang meliputi keberadaan sampah plastik dan cuaca yang sangat panas pada saat itu. Pada akhirnya ditemukanlah sebuah ide untuk membuat AC portable dari bahan plastik bekas untuk mengusir udara panas.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat AC portable dari barang bekas diantaranya adalah ember cat

(12)

6

bekas ukuran 5 kg, botol plastik ukuran diameter 3 cm, pampers bekas, baling-baling kipas kecil, dinamo, kabel, baterai.

Cara membuat AC portable dari barang bekas yaitu 1) kipas plastik kecil diposisikan di atas tutup ember cat bekas, 2) melubangi bagaian atas tutup ember cat bekas sesuai ukuran kipas dan mengusahakan rapat saat dipasang sehingga angin tidak bocor keluar dari ember saat operasional, 3) memotong botol-botol kecil berukuran diameter 3 cm sebanyak 3 buah, 4) melubangi ember cat bekas dengan pisau atau bor pada bagian samping/dinding sebanyak 3 buah sebesar diameter botol plastik yaitu 3 cm dengan posisi agak ke atas, 5) memasang 3 botol plastik bekas yang sudah dipotong tersebut pada 3 lubang yang sudah di buat sebagai saluran keluarnya udara dingin, 6) memasukkan pampers bekas bersama dengan es batu ke dalam ember cat bekas, (semakin besar ukuran es batu semakin lama udara sejuk yang kita dapatkan, upayakan menggunakan es batu yang dibungkus plastik agar setelah beberapa jam cair dapat dimasukkan kembali ke dalam kulkas, jadi kita tidak akan kehabisan es batu meskipun jangka lama), 7) terakhir

(13)

7

menutup ember dengan kipas yang sudah terpasang diatasnya dan menyalakan kipas sehingga AC portable dari barang bekas tampak sedemikian rupa seperti mini AC yang dapat diletakkan di atas meja dan siap dioperasikan.

Dalam hal ini, sumber daya AC portable dari barang bekas berasal dari dinamo dan baterai yang digunakan dan otomatis memiliki daya listrik yang jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan daya AC portable yang sesungguhnya. Udara sejuk dari AC portable ini berasal dari es batu. Uap dari es batu dalam ember dikeluarkan melalui baling-baling plastik kecil ketika AC portable dari barang bekas dinyalakan. Pampers bekas digunakan untuk mencegah mencairnya es batu yang telah diletakkan di dalam ember lebih cepat. Jadi dengan cara yang sederhana, ekonomis dan lebih ramah lingkungan, kita bisa mendapatkan udara yang sejuk. Satu produk hasil karya AC portable dari barang bekas sudah dapat berkontribusi dalam mengurangi volume sampah plastik.

Selain itu, dari segi daya listrik yang digunakan juga lebih hemat dan lebih sedikit menyumbangkan emisi gas CO2 di udara.

(14)

8

Seperti halnya DLH, kami sebagai pendidik juga berharap kepada para generasi muda agar bisa menjadi sosok yang kreatif dan imajinatif khususnya dalam bidang pelestarian lingkungan. Warisan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang ada di negara ini ibarat tongkat estafet dimana para generasi muda menjadi salah satu bagian didalamnya. Jika bumi ini lestari maka makhluk hidup yang ada di dalamnya juga akan sejahtera. Salam Bumi Lestari.

(15)

9

POT MANIS KLASIK RAMAH LINGKUNGAN Karya : Nanik Widyastuti

Merebaknya pandemi COVID-19 membuat aktivitas kebanyakan orang dilakukan di rumah. Berhari- hari di rumah dapat menimbulkan kejenuhan yang mungkin dapat memunculkan hobi baru. Aktivitas di rumah ini, salah satunya berkebun. Bagi sebagian orang hobi ini termasuk murah dan menyenangkan. Dengan budidaya sayuran seperti sawi, bayam, dan kangkung secara tidak langsung dapat mendukung kebutuhan pangan di rumah

Persemaian bibit tanaman merupakan bagian dari pembiakan tanaman baik secara vegetatif maupun generatif. Kegiatan ini sampai saat ini sebagian besar masih menggunakan polybag sebagai wadah media tumbuhnya. Karena polybag dianggap memiliki beberapa keunggulan antara lain, tahan air, ringan, dan harganya relatif murah sehingga mudah terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Tetapi polybag memiliki kekurangan yaitu akar tanaman akan tumbuh melingkar dan plastik polybag yang tidak mudah hancur oleh

(16)

10

lingkungan baik oleh hujan dan panas matahari maupun mikroorganisme yang hidup dalam tanah, hal ini menyebabkan peningkatan penimbunan limbah plastik.

Selain itu dengan penggunaan polybag yang terbuat dari plastik tidak ramah terhadap lingkungan. Karena pada proses pembuatannya saja membutuhkan minyak bumi dan gas alam.

Salah satu cara untuk megganti fungsi polybag adalah dengan penggunaan wadah atau pot semai berbahan dasar organik untuk pembibitannya. Ampas tebu merupakan bahan buangan yang biasanya dibuang tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga akan menimbulkan gangguan lingkungan dan bau yang tidak sedap. Menurut berita kompasiana Limbah dari tebu ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah ini dapat merusak ekosistem air jika di buang beigtu saja.

Selain bau yang tidak sedap, limbah dapat mengurangi kadar oksigen dalam air. Sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan dalam air dapat mati. Berdasarkan hal tersebut perlu diterapkan suatu cara untuk mengatasi limbah ini, yaitu dengan menggunakan teknologi daur ulang. Limbah ini diolah menjadi produk yang bermanfaat. Pot manis

(17)

11

klasik merupakan pot yang berbahan dasar organik yaitu dari ampas tebu dan serbuk kayu yang dianggap sebagai berkelanjutan karena bertujuan untuk menjaga keselamatan lingkungan lingkungan.

Prospek pemakaian pot manis klasik yang bersahabat dengan lingkungan akan semakin diperlukan untuk mengurangi limbah plastik yang semakin meningkat dimuka bumi ini. Oleh karenanya penggunaan pot manis klasik ini memenuhi syarat Reduce, Reuse, Replace dan Recycle. Selanjutnya pot manis klasik ini diharapkan selain berfungsi sebagai wadah tumbuh tumbuhan juga dapat memberikan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman dan meningkatkan mikroorganisme tanah. Pot manis klasik yang ramah lingkungan dianggap praktis karena dapat langsung ditanam ke dalam tanah tanpa harus membuka wadahnya, tidak seperti wadah yang terbuat dari plastik.

Selain itu diharapkan pot manis klasik dapat terdekomposisi secara cepat serta tidak menyebabkan kerusakan lingkungan, dan tidak menyebabkan terjadinya kerusakan perakaran saat bibit dipindahkan ke lapangan.

(18)

12

Pot manis klasik ini pernah kita ikutkan dalam lomba Peneliti Belia yang diselenggarakan oleh Dinas Kota Surabaya. Tetapi sayang hanya sampai di babak penyisihan. Walaupun demikian kami sebagai pembimbing tetap merasa senang karena dapat membimbing dan memotivasi siswa menghasilkan suatu barang yang bermanfaat yaitu pot manis klasik yang berasal dari barang bekas/limbah sampah. Selain itu juga dapat membantu mengurangi jumlah volume sampah di masyarakat.

Pembuatan Pot Manis Klasik ini dilakukan siswa kami di rumah masing-masing dengan pembimbingan dari kami sebagai guru padptemba bulan April – September 2015. Adapun alat-alat yang diperlukan antara lain : wadah tempat campuran ampas tebu, serbuk kayu dan lem kanji, pengaduk, pot untuk cetakan dan oven.

Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkan adalah : limbah ampas tebu, limbah serbuk kayu, kanji.

Cara Pembuatan Pot Manis klasik :

1. Ampas tebu dikeringkan kemudian dihaluskan dijadikan serbuk

2. Menyiapkan juga serbuk kayu

(19)

13

3. Mencampur serbuk tebu dan serbuk kayu 4. Menambah lem kanji

5. Mencampur ketiga bahan sampai betul-betul menyatu

6. Mencetak dalam cetakan pot.

7. Setelah agak kering mengeluarkan pot manis klasik dari cetakan.

8. Menjemur pot di bawah sinar matahari.

9. Memanggang pot dengan oven agar betul-betul kering.

Uji coba dilakukan empat kali, uji coba pertama pot manis klasik pada tahun 2015 hasilnya baik kering dan uji coba terakhir pada tahun 2019 hasilnya mulai rapuh. Selama 4 tahun dari tahun 2015 hingga tahun 2019 perlakuan yang dilakukan adalah diletakkan ditempat yang terkena cahaya dan disiram secukupnya. Pada tahun 2018 pot mulai menunjukan kondisi mulai rapuh dan lembab.

Sedangkan pada tahun 2019 pot sudah mulai rapuh, lembab, dan mudah patah. Berdasarkan uji coba ini maka dapat disimpulkan kondisi pot dapat bertahan selama 3 tahun dan setelahnya pot mulai menunjukan kondisi rapuh lembab dan mudah patah.

(20)

14

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pot manis klasik ini sudah diktakan layak dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.. Limbah dari serbuk kayu dan ampas tebu dapt diubah menjadi pot organik ramah lingkungan sebagai pengganti polybag untuk menanam bibit tanaman jenis sayuran seperti sawi dimusim hujan dan bayam dimusim kemarau. Selain sayuran tersebut sebagai referensi dapat menanam packcoy atau sawi sendok.

Kami sebagai guru berupaya memotivasi siswa memberikan harapan positif agar siswa mampu membangun diri sendiri dan lingkungannya. Disarankan kepada pembaca untuk hidup lebih baik lagi dengan cinta lingkungan dan memperhitungkan jumlah sampah yang dihasilkan. Selain dapat mengurangi sampah plastik, dapat diminimalisir untuk menghasilkan sampah organik dan anorganik. Selain itu sebaiknya sampah organik dan anorganik dapat di olah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Seperti pot ini. Untuk selanjutnya diharapkan ada uji coba kelayakan pemakaian pot manis klasik ini agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Selain itu pembuatan dan pemakaian pot manis klasik ini dapat

(21)

15

membantu mengurangi timbunan sampah plastik di bumi tercinta ini.

Daftar Pustaka

 Jaya, JD., Ilmannafian, A.G,. Maimunnah.2019.

Pemanfaatan limbah serabut (fiber) Kelapa Sawit dalam pot organik. Jurnal sains dan teknologi lingkungan

 Ritonga,C. Daulai, S.B, Rohanah A. 2014.

Pemanfaatan Ampas Tebu sebagai tali serat. Jurnal Rekayasa pangan dan pertanian volume 2 no 1

 Triono, A. 2015. Pemanfaatan Ampas Tebu Sebagai Reinforcement pada Pembuatan Rem Komposit Berbahan Alami,. Jurnal Energi dan Manufaktur. Vol 7 No 1.

 Wardani. R.A.K., Sari D.P., Jumiati. 2017.

Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu sebagai Media Tanam Jamur dan Kain Perca untuk Bahan Baku dalam PACkaging Fungcube. Proceeding Biology Education Conference. Vol. 14 no 1 halaman 83-87

(22)

16

MENGGAMBAR SEBAGAI SARANA UNTUK MENGEMBANGKAN KECERDASAN ANAK Pengertian Menggambar

Menggambar adalah segala aktivitas kreatif yang membentuk gambar untuk menyampaikan gagasan, ide serta simbol sebagai salah satu ekspresi yang di tuangkan melalui coretan atau guratan menjadi gambar yang beraneka ragam.

Menggambar merupakan kegiatan menuangkan persepsi visual ke dalam bentuk gambar, seperti yang di ungkapkan oleh Ching (2002:9) bahwa : Menggambar adalah membuat guratan di atas sebuah permukaan yang secara grafis menyajikan kemiripan terhadap sesuatu.

Proses menyalin ini memang mudah dan merupakan aksi ampuh manusia untuk membuat suatu ekspresi visual.

Walaupun semua itu berakar kuat dalam kemampuan kita untuk melihat, menggambar tidak pernah membuat kita mempresepsikan apa yang terlihat sebagai realitas di luar sana dan visi yang ada di dalam pikiran kita. Dalam proses menggambar, kita menciptakan realitas yang terpisah dan setara pengalaman-pengalaman kita. Penyajan secara

(23)

17

grafis yang demikian adalah cara vital untuk mencatat hasil observasi, memberi bentuk pada apa yang kita visualisasikan, dan mengkomunikasikan berbagai pemikiran dan konsep yang kita miliki.

Menurut Affan di dalam Saiful Haq 2008: 2 pengertian menggambar adalah menggambar dan melukis merupakan perwujudan bayangan angan-angan atau suatu pernyataan perasaan ekspresi dan pikiran yang diinginkan perwujudan tersebut dapat berupa tiruan objek ataupun fantasi yang lengkap dengan garis bidang warna dan tekstur dengan sederhana sedangkan jenis-jenis menggambar bisa dengan menggambar bentuk menggambar konstruktif atau menggambar teknik menggambar ekspresi menggambar suasana menggambar ilustrasi.

Menggambar adalah salah satu kegiatan yang di sukai oleh banyak orang terutama anak-anak. Tak hanya sekedar aktifitas yang menyenangkan, menggambar juga mempunyai beragam manfaat dan peran penting bagi tumbuh kembang anak. Selain dapat mengisi waktu luang, menggambar juga memberikan ruang kreatifitas yang luas

(24)

18

bagi anak, meningkatkan sisi imajinasinya, mengasah sisi kemampuan kreatifitas seni mereka dan bisa mengembangkan kecerdasan anak.

Berikut manfaat-manfaat menggambar dalam perkembangan kecerdasan anak :

1. Kecerdasan Motorik Halus

Menggambar menggunakan jari tangan, kegiatan ini apabila di lakukan anak anak secara terus menerus akan meningkatkan kerja otot tangan terutama jari jemarinya. Berhubungan dengan menulis, anak yang sudah mempunyai kekuatan jari yang bagus dengan otomatis akan luwes dalam menulis sesuatu angka, huruf dan lain sebagainya.

(25)

19

2. Meningkatkan Konsetrasi dan Fokus

Manfaat menggambar untuk perkembangan

anak adalah

meningkatkan fokus.

Saat menggambar atau melukis, anak akan dituntut lebih fokus dan berkonsentrasi untuk menyelesaikan gambar yang akan dibuat. Jika kegiatan ini dilakukan secara rutin, anak pun akan lebih terbiasa fokus dalam mengerjakan sesuatu.

(26)

20

Ini bisa memudahkannya ketika anak menerima perintah atau instruksi dari orang tua atau guru saat di sekolah.Menggambar bisa meningkatkan konsentrasi karena dalam menggambar menggunakan ide, anak akan lebih konsentrasi dan fokus sehingga dalam hal mengerjakan sesuatu kalau anak bisa konsentrasi akan lebih mudah menagkap materi yang di berikan.

3. Menstabilkan Emosi

(27)

21

Di dalam menggambar sangat di butuhkan kesabaran dan ketelatenan serta konsentrasi yang penuh agar dalam mengores dam memberi kesan gelap terang sesui objek yang di inginkan. Terutama dalam mewarnai anak akan menggunakan emosinya secara terukur dalam menggunakan tangannya untuk mewarnai, sehingga dalam mewarnai warna yang digunakan tidak keluar dari objek.

Kalau anak sudah terlatih menggambar dengan sendiri anak akan lebih bisa mengendalikan emosi, sehingga di dalam mengaplikasikan tindakan kesehariannya anak dengan emosi yang terkontrol.

(28)

22 4. Melatih Mengkoordinasi

Sebelum menggambar anak biasanya sudah menentukan tema dari gambarnya,misalnya saja tema “HIJAUNYA RUMAHKU”. Ada langkah langkah yang harus di lalui misalnya saja dalam menggambar pohon,anak harus tahu bagian perbagian dari pohon yaitu ada batang ada ranting dan ada daun. Setelah itu anak akan menyambung bagian perbagian dari pohon sehingga menjadi gambar pohon yang utuh. menggambar rumah, anak juga harus mengetahui bagian bagian dari rumah misalnya pintu,

(29)

23

atap dinding dan lain-lain. Saat itu juga anak akan berpikir harus di gambar di sebelah mana pohon, rumah dan lain- lain. Agar terlihat komposisi yang enak dan seimbang.

Dari hal ini anak akan terlaltih untuk mengatur dan mengoordinasikan objek objek agar menjadi satu kesatuan gambar yang utuh.serta melatih koordinasi anak pada mata, tangan, serta otak.

(30)

24 5. Melatih Kreatifitas

Sedangkan menurut para ahli, Widyatun mengemukakan bahwa Kreatifitas merupakan suatu kemampuan untuk memecahkan masalah, yang memberikan individu menciptakan ide-ide asli/adaptif. Dan juga James R,Evans mengemukakan bahwa kreatifitas juga merupakan ketrampilan untuk menentukan pertalian baru, dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih

(31)

25

konsep yang telah tercetak dalam pikiran, dan lain sebagainya.anak anak yang terbiasa. Dalam menggambar anak akan terbiasa menggunakan dan menuangkan ide-ide baru. Hal ini pula akan mempengaruhi anak dalam menyeleseikan dan mempelajari sesuatu agar bisa menguasai materi tertentu. Sehingga anak yang kreatif anak tersebut akan lebih berprestasi.

6. Sarana Mengekspresikan Diri

Tidak semua anak bisa mengungkapkan perasaanya secara verbal. Dengan menggambar anak bisa menuangkan perasaaan yang dia rasakan saat itu.

Sehingga anak bisa meluapkan emosinya secara positif ke dalam bentuk gambar.

7. Melatih Kepercayaan Diri dan Bertanggung Jawab

(32)

26

Ada salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak melalui berkenalan dengan orang lain dan bermain. Melalui kemampuan mengenal orang lain, maka anak akan mencoba komunikasi. Menggambar dapat melatih keberanian anak untuk melakukan suatu hal yang mereka anggap menyenangkan. Dalam mengambar tidak jarang di adakan kompetisi sesama teman sekelas bahkan mungkin antar sekolah. Dengan keiukutsertaan anak dalam kompetisi akan melatih anak untuk berani, percaya diri. Serta bertanggung jawab dengan apa yang di lakukannya. Anak akan berusaha menyeleseikan gambarnya untuk bisa melihat hasil akhir dan untuk

(33)

27

mendapatkan reward, hadiah atau nilai dari guru atau orang tuanya.

Dengan kita mengetahui begitu banyaknya manfaat dari menggambar untuk perkembangan anak anak.

Sebagai pendidik tentunya kita selalu berusaha kreatif untuk menemukan cara cara menggambar yang mudah dan membuat pembelajaran semakin menarik.

Di masa Pandemi adanya wabah Covid-19.

Pemerintah memberlakukan kebijakan untuk mengurangi penularan wabah dengan menutup sekolah dengan menggantikan secara daring. Ini tentunya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan materi menggambar agar anak-anak bisa menuangkan ide, menuangkan gagasan yang akan membuat mereka tidak bosan.(jlk)

(34)

28

Tentang Penulis

Julaikah, S.Pd lahir di Kota Mojokerto Jawa Timur pada 03 september 1976. Lulus S1 di Universitas Adi Buana Surabaya tahun 2009 Fakultas Ilmu Keguruan dan Kependidikan Jurusan Seni Rupa.

Mengabdikan diri Menjadi Guru di SMP NEGERI 45 Surabaya Jawa Timur sejak tahun 2015 sampai sekarang.

Mendirikan Sanggar Lukis Pakapur sejak tahun 1996 sampai sekarang.

.

(35)

29

UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA DI RUMAH

Oleh : Anang Dwitjahjono (Guru SMPN 45 Sby) BAB I

PENDAHULUAN

Seiring dengan luasnya penyebaran wabah Covid 19, tidak sedikit orang tua, siswa dan guru yang terdampak secara emosional, mulai dari stress, takut, sedih, marah sampai merasa bosan dan jenuh saat diharuskan bekerja dan belajar di rumah. Guru perlu mengkaji lebih dalam lagi metode yang dipakai dalam pembelajaran sehingga dinilai metode yang cocok untuk siswa di sekolah kita, sehingga dinilai efektif untuk menghilangkan kebosanan siswa dan menumbuhkan minat belajar matematika di rumah.

Pelajaran matematika pada umumnya tidak disukai siswa, apalagi siswa harus belajar sendiri di rumah tanpa tatap muka dengan gurunya, tentu lebih membosankan. Siswa akan kurang konsentrasi untuk mengikuti Pembelajaran jarak jauh (daring/luring) bahkan cenderung untuk tidak

(36)

30

mengikutinya dan malas mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru kepadanya.

Sikap-sikap tersebut tidak boleh dibiarkan dan harus kita minimalkan dengan mencari inovasi untuk pelaksanaan proses belajar mengajar jarak jauh tanpa tatap muka, dimana guru dan siswa harus menjaga jarak dan penyampaian materi akan disampaikan kepada siswa di rumah masing-masing.

Penguasaan ilmu teknologi bagi guru sangat diperlukan agar dapat berjalan dengan baik dan efektif saat masa pandemi ini. Dapat memanfaatkan Whatsapp (Wa), microsoft office 365, goegle meet/form, zoom meet dan lainnya yang difokuskan untuk upaya guru mendorong siswa dapat mengikuti pelajaran jarak jauh dan siswa menyelesaikan tugas matematika dengan sungguh- sungguh.

(37)

31 BAB II

ISI

Pada masa pandemi covid 19 ini telah memberikan pembelajaran kepada kita tidak hanya tentang upaya memutuskan rantai penularan covid 19 tetapi juga bagaimana siswa kita mempunyai semangat dan tetap belajar di rumah serta bagaimana guru menempatkan teknologi dalam proses belajar mengajar jarak jauh.

Banyak kendala yang dialami guru dan siswa dalam pembelajaran jarak jauh ini diantaranya sarana prasarana yang belum merata seperti internet, fasilitas laptop, Handphone yang belum memadai atau bahkan belum dimiliki siswa sehingga harus bergantian dengan saudara atau orang tuanya, penyampaian materi dan pemberian tugas yang memakan waktu yang cukup lama menghambat dalam menyelesaikan materi bahkan berdampak pada kesehatan mata siswa dan guru.

Komunikasi satu arah melalui Vedio pembelajaran akan menyebabkan terjadinya miskonsepsi, sehingga perlu dipikirkan untuk bisa di usahakan komunikasi dua arah,

(38)

32

misalkan dengan memberi ruang siswa bertanya melalui wa langsung ke gurunya.

Untuk itu perlu adanya kerjasama orang tua siswa dan guru dalam mendampingi anak-anak dalam kegiatan pembelajaran di rumah.

Perubahan ini sangat dirasakan oleh orangtua, guru dan siswa sehingga diperlukan strategi pembelajaran untuk efektifitas komunikasi. Untuk itu penulis dalam pembelajaran menggunakan beberapa perangkat :

1. Video Pembelajaran.

Yaitu serangkaian bahan ajar yang diberikan melalui tayangan gambar disertai suara guru, alur dan pesan-pesan. Cukup kita gunakan smartphone untuk merekam dan kemudian kita unggah ke yutube yang linknya kita sampaikan kepada siswa.

2. Lembar kegiatan dalam modul siswa.

Yaitu Lembar yang memuat materi matematika yang harus dikuasai siswa yang disusun langkah demi langkah secara teratur dan sistematik yang dibuat guru sehingga siswa dapat mengikutinya dengan mudah dan tepat.

(39)

33

Dalam modul juga dicantumkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa dan tugas-tugas yang harus dikerjakannya.

Untuk menumbuhkan minat belajar matematika di rumah diperlukan komunikasi dengan siswa, sehingga penulis memandang perlu membentuk grup wa untuk ketua kelas untuk menyampaikan segala informasi maupun penugasan mengenai proses pembelajaran yang nantinya ketua kelas akan menyampaikannya di grup wa kelas masing-masing. Komunikasi juga bisa langsung dari siswa keguru lewat wa jika ada pertanyaan atau kesulitan dalam memahami materi pembelajaran.

Adapau langkah-langkah pembelajaran jarak jauh yang penulis lakukan adalah :

1. Setelah guru membuat vedio pembelajaran dan modul siswa, Vedio pembelajaran tersebut di unggah ke youtube dan linknya disampaikan kepada siswa bersamaan dengan modul siswa (luring) melalui grup wa ketua kelas dan ketua

(40)

34

kelas menyampaikannya ke anggota kelas masing- masing.

Siswa juga bisa langsung mengunduh dari webb sekolah.

Siswa akan melihat dan mempelajari materi matematika dari Vedio pembelajaran tersebut, bila kuarang mengerti bisa diulang kembali vedionya.

2. Modul siswa dibaca dan dikerjakan semua kegiatan yang di modul siswa

serta mengerjakan tugas-tugas yang ada dalam modul dalam jangka waktu tertentu.

3. Berikutnya diberikan link pelaporan tugas tersebut (microsoft office 365) yang berupa soal-soal yang sama dengan tugas dalam modul siswa hanya bentuk soalnya pilihan ganda. Siswa tinggal memilih jawaban pada link tersebut dengan beracuan dengan tugas yang sudah dikerjakannya. Dari link pelaporan tugas ini guru dapat memantau/menilai kerja tugas dari siswa.

4. Setelah itu guru mengirim kunci jawaban tugas tersebut untuk dicocokan sendiri oleh siswa dengan tugas yang sudah dikerjakannya. Jika salah siswa dapat mengerjakan ualang kembali sampai benar.

(41)

35

5. Setelah satu pokok bahasan selesai diadakan Ulangan Harian dengan

mengirim link Ulangan harian, sehingga bisa diketahui penguasaan siswa terhadap materi matematika tersebut.

Bagi siswa yang nilainya di bawah KKM

bisa belajar lagi dan mengulang kembali mengerjakan link tersebut sebagai remidi.

Demikian seterusnya dan bisa melanjutkan ke materi berikutnya. Perlu juga sekali-kali kita mengadakan Zoom meet untuk berdialog dengan siswa, menanyakan kesulitan siswa dan mendengarkan usulan siswa.

Dengan upaya inovasi bini diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar siswa di rumah masing- masing. Berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan hasil penguasaan siswa terhadap materi matematika memang masih jauh dari harapan, tetapi minat siswa untuk mengikuti pembelajaran 90% mengikuti, sedangkan yang lain mungkin disebabkan oleh kendala-kendala yang sudah disebutkan di atas.

(42)

36 BAB III PENUTUP

Apa yang penulis lakukan dengan pembelajaran jarak jauh dimasa pandemi ini masih jauh dari sempurna, tapi paling tidaknkita sudah berusaha memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini.

Ada sesuatu yang hilang ketika pembelajaran dilakukan secara jarak jauh, saat guru dan siswa tidak bisa bertatap muka dan bertemu siswa yang lain, ikatan emosional antara guru dan siswa tidak tegantikan dengan komunikasi secara virtual.

Guru dan siswa mengalami perasaan yang sama, siswa sering bertanya ‘Kapan mereka bisa sembali sekolah ?’, mereka rindu berjumpa dengan kawan dan gurunya.

Semoga pendemi ini segera berakhir...!

(43)

37

DISLEKSIA SEBAGAI GANGGUAN LITERASI

oleh

Ririn Lelaningtias, S.Pd.

NIP 197302121999032005

ABSTRAK

Bahasa merupakan alat interaksi sosial, dalam arti untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan.

Segala sesuatu yang berupa pikiran, ide, maupun perasaan dapat diungkapkan oleh manusia dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang representatif. Otak pada manusia berfungsi sebagai alat berpikir, menemukan gagasan, dan mengingat. Otak juga dapat mengalami gangguan atau kelainan sehingga dapat

(44)

38

menyebabkan gangguan berbahasa pada seseorang.

Disleksia merupakan satu di antara beberapa gangguan berbahasa. Gangguan tersebut memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa.

Orang dengan disleksia mengalami masalah belajar spesifik, terutama terkait kata- kata. Anak disleksia akan kesulitan dalam membaca.

Misalnya, ketika membaca sering ada huruf yang terlompati, atau terbalik, atau bahkan ada yang bisa membaca tapi mereka tidak mengerti apa yang mereka baca.

(45)

39 A. Pendahuluan

Manusia menggunakan bahasa dalam berinteraksi.

Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar-sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama (Dardjowidjojo, 2012:16). Dengan demikian, bahasa merupakan media yang utama digunakan dalam antarmanusia.

Manusia sebagai subjek dan objek dalam proses komunikasi memiliki kemampuan untuk berpikir, yaitu melahirkan gagasan-gagasan baru karena memiliki otak yang berkembang dengan baik. Dalam sistem saraf manusia, otak merupakan pusat saraf, pengendalian pikiran, dan mekanisme organ tubuh manusia, termasuk mekanisme yang mengatur pemrosesan bahasa. Otak memungkinkan manusia untuk berpikir, menemukan gagasan atau mengingatnya.

Muler (dalam Arifuddin, 2010:244) bahasa dan pikiran selalu terkait, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dikendalikan oleh pikiran dan sebaliknya hasil pikiran

(46)

40

memunculkan kategori atau konsep untuk sebuah benda atau objek.

Dalam psikolinguistik diterangkan bahwa terdapat bermacam-macam gangguan wicara yang disebabkan oleh aspek neurologis pada bahasa yang dialami seseorang. Gangguan tersebut yaitu afasis, demensia, aleksia, dan agrafia. Dalam penelitian ini akan dikaji gangguan wicara pada penderita aleksia dan agrafia.

Aleksia (alexia) adalah hilangnya kemampuan untuk membaca. Agrafia (agraphia) adalah hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf-huruf yang normal. Menurut Darjowidjojo (2012:216) kedua penyakit tersebut disebut pula sebagai disleksia (dyslexia). Gangguan tersebut memengaruhi pengembangan keterampilan literasi dan bahasa. Orang dengan disleksia mengalami masalah belajar spesifik, terutama terkait kata-kata. Akibat dari kondisi ini, orang yang mengalami disleksia harus berjuang saat sedang membaca, mengeja, dan menulis serta mengalami kesulitan membuat hubungan antara kata-kata atau huruf yang tertulis.

(47)

41

Berdasarkan Journal Acaciagrove, diperoleh data bahwa di dunia, 10 hingga 15 persen anak sekolah menyandang disleksia. Dengan jumlah anak sekolah di Indonesia sekitar 50 juta, diperkirakan 5 juta di antaranya mengalami disleksia. Setidaknya disleksia diderita oleh 10% anak yang bersekolah, baik laki-laki atau perempuan dengan penanganan yang belum optimal.

Penyandang disleksia mengalami gangguan dalam berkomunikasi sehingga dalam pergaulan sehari-hari akan menunjukkan perilaku yang berbeda dengan individu pada umumnya. Karena anak yang mengalami disleksia, akan berpengaruh ke seluruh aspek kehidupannnya. Kadang-kadang dalam berbicara, maksud mereka sulit dipahami.

B. Struktur, Fungsi, dan Pertumbuhan Otak Manusia

Dalam penguasaan bahasa, faktor neurologis berkaitan antara otak manusia dan bahasa. Dari munculnya, homoerectus sampai dengan adanya homosapiens pada sekitar 1.7 juta tahun yang lalu, ukuran otak telah berkembang hampir dua kali lipat.

(48)

42

Perkembangan otak ini dibagi menjadi empat tahap.

Tahap pertama adalah tahap perkembangan ukuran.

Tahap kedua adalah adanya perubahan reorganisasi pada otak. Perubahan ketiga adalah munculnya sistem fiber yang berbeda-beda pada daerah tertentu melalui corpus callosum. Perkembangan terakhir adalah munculnya dua hemisfir yang asimitris.

Dalam kaitannya dengan bahasa, bagian otak yang paling banyak berperan adalah hemisfir kiri. Hemisfir kiri terdiri atas empat daerah besar yang dinamakan lobe:

lobe frontal (frontal lobe), lobe temporal (temporal lobe), lobe osipital (occipital lobe), dan lobe parietal (parietal lobe). Keempat lobe tersebut mempunyai tugas sendiri-sendiri. Lobe frontal berkaitan dengan kognisi.

Lobe temporal mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran. Lobe ossipital menangani ihwal

penglihatan. Sedangkan Lobe parietal mengurusi rasa somaestetik, yakni, rasa yang ada pada tangan, kaki, muka, dan sebagainya.

Manusia tumbuh secara gradual dari suatu bentuk ke bentuk yang lain selama berjuta-juta tahun. Salah satu

(49)

43

pertumbuhan yang telah diselidiki oleh para ahli paraneurologi menunukkan bahwa evolusi otak dari primat austrolopithecus sampai dengan manusia masa kini telah berlangsung sekitar 3 juta tahun (Dardjowidjojo, 2012:201). Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Holloway dan Rumbaugh, dkk. dalam Dardjowidjojo (2012:201) bahwa paling tidak ukuran otak yang membesar dari 400 miligram menjadi 1400 miligram pada kurun waktu antara 3-4 juta tahun lalu.

1. Struktur Otak Manusia

Otak adalah benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf (KBBI, 2001:804). Otak tersebut, merupakan pusat pengendalian aktivitas yang dilakukan manusia.

Pada otak manusia, terdapat bagian-bagian yang berkenaan dengan pendengaran, ujaran, pengontrolan alat ujar, dan sebagainya. Otak memungkinkan manusia untuk berpikir, menemukan gagasan, atau mengingatkannya (Arifuddin, 2010:30).

Menurut Steinberg dkk., Dingwall, dan Halloway dalam Dardjowidjojo (2012:203) bahwa

(50)

44

dari segi ukuran berat otak manusia adalah antara 1 sampai 1.5 kilogram. Untuk orang Barat,ini hanylah 2% dari berat badannya, sedangkanuntuk orang Indonesia mungkin kurang dari itu. Dengan kata lain bahwasanya ukuran otak manusia itu bergantung pada ukuran badan manusia itu sendiri . Otak manusia terdiri atas dua bagian yakni batang otak (brain stem) dan korteks serebral (cerebral cortex). Batang otak terdiri dari bagian- bagian yang dinamakan mendulla, pons, otak tengah, dan cerebellum. Bagian ini berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh, termasuk pernafasan, detak jantung, gerakan, refleks, pencernaan, dan pemunculan emosi (Dardjowidjojo, 2012:203).

Sedangkan korteks serebral menangani fungsi- fungsi intelektual dan bahasa.

Korteks serebral manusia terdiri dari dua bagian yaitu hemisfir kiri dan hemisfir kanan.

Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada disebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya hemisfir kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Jadi, dari segi

(51)

45

pengontrolan fisik, kedua hemisfir ini saling silang – yang kiri mengontrol yang kanan, yang kanan mengontrol yang kiri.

Wujud fisik dari hemisfir kiri dan hemisfir kanan hamper merupakan pantulan cermin, namun pada hemisfir kiri ada daerah yakni dearah wernicke yang lebih luas karena dalam kaitannya dengan bahasa yang paling banyak berperan adalah hemisfir kiri. Hemisfir kiri terdiri atas empat daerah yang dinamakan lobe, Pada semua lobe terdapat apa yang di namakan dengan gurus dan sulkus. Girus adalah semacam gunduk atau bukut dengan lereng- lerengnya, sedangkan sulkus adalah seperti lembah.

Salah satu girus ini adalah girus angular, girus ini mempunyai fungsi untuk menghubungkan apa yang kita lihat dengan apa yangkita pahami didaerah wernicke. Adapun empat daerah lobe itu diantaranya : lobe frontal (frontal lobe), lobe temporal (temporal lobe), lobe osipital (occipital lobe), dan lobe parietal (parietal lobe). Keempat lobe tersebut mempunyai tugas sendiri-sendiri.

Lobe frontal berkaitan dengan kognisi. Lobe

(52)

46

temporal mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran. Lobe ossipital menangani ihwal penglihatan. Sedangkan Lobe parietal mengurusi rasa somaestetik, yakni, rasa yang ada pada tangan, kaki, muka, dan sebagainya.

2. Fungsi Kebahasaan Otak Manusia

Dari struktur otak manusia yang dikemukakan sebelumnya, tampak bahwa otak memegang peran yang sangat penting dalam bahasa. Fungsi bicara- bahasa dipusatkan pada hemisfir kiri bagi orang yang tidak kidal. Hemisfir kiri juga disebut hemisfer dominan bagi bahasa, dan konrteksnya dinamakan korteks bahasa.

Hemisfir kiri yang terutama mempunyai arti penting bagi bicara bahasa, juga berperan untuk fungsi memori yang bersifat verbal. Sebaliknya, hemisfer kanan penting untuk fungsi emosi, lagu, isyarat, baik yang emosional maupun verbal. Ujaran didengar dan dipahami melalui daerah Wernicke pada hemisfir kiri; lalu isyarat ujaran itu dipindahkan ke daerah Broce untuk menghasilkan balasan ujaran itu.

(53)

47

Akan tetapi, menurut Dardjowidjojo ( 2012:212) dalam perkembangan penelitian menunjukkan bahwa hemisfer kanan pun mampu untuk melakukan fungsi kebahasaan. Hal tersebut dibuktikan dari orang-orang yang hemisfir kanannya terganggu didapati bahwa kemampuan mereka dalam mengurutkan peristiwa sebuah cerita atau narasi menjadi kacau. Mereka tidak mampu lagi untuk menyatakan apa yang terjadi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Di samping itu, orang yang terganggu hemisfir kanannya juga tidak dapat mendeteksi kalimat ambugu, sukar memahami metafora, dan intonasi kalimat. Ternyata, hemisfir kanan pun dapat dilatih untuk tugas-tugas kebahasaan. Jadi, hemisfir kanan juga mempunyai peran bahasa, tetapi tidak seintensif seperti hemisfir kiri.

3. Pertumbuhan Otak Manusia

Pada waktu manusia dilahirkan, belum ada pembagian tugas antara hemisfir kiri dan kanan.

Akan tetapi, menjelang anak mencapai umur sekitar 12 tahun terjadilah pembagian fungsi yang

(54)

48

dinamakan lateralisasi. Hemisfir kiri “ditugasi”

terutama untuk mengelola ihwal bahasa dan hemisfir kanan untuk hal-hal yang lain.

Perkembangan terakhir seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa hemisfir kanan pun ikut bertanggung jawab pula akan penggunaan bahasa.

Wujud fisik dari hemisfir kiri dan kanan hampir merupakan pantulan cermin, tetapi di sana sini ada sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut seperti pada hemisfir kiri ada daerah, yakni daerah Wernicke, yang lebih luas daripada bagian yang sama di hemisfir kanan.

Ada yang berpendapat ada prbedaan antara otak pria dan otak wanita dalam hal bentuknya yakni hemisfir kiri pada wanita lebih tebal dari pada hemisfir kanan. Keadaan seperti inilah keluasan bahasa didominasi oleh wanita. Meskipun ada perbedaan dalam pemerosesan antara pria dan wanita namun perbedaan ini hanya mengarah pada pengaruh budaya pada genetik.

(55)

49 C. Disleksia

Disleksia merupakan dua penyakit yang dialami seseorang, yakni aleksia dan agrafia. Menurut Dardjowidjojo (2012:216), aleksia (alexia) adalah hilangnya kemampuan untuk membaca, sedangkan agrafia (agraphia) adalah hilangnya kemampuan untuk menulis dengan huruf-huruf yang normal. Berdasarkan definisi tersebut, disleksia adalah hilangnya kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis dengan huruf- huruf yang normal.

Disleksia disandang seumur hidup dengan kondisi berbasis neurologis dan sering kali bersifat genetik.

Berkisar 70-75 persen disleksia adalah genetik. Sejumlah hasil penelitian, antara lain, Brain abnormalities underlying altered activation in dyslexia: a voxel based morphometry study yang dimuat dalam Journal of Neurology, Brain, mengasosiasikan disleksia dengan disfungsi pada daerah abu-abu di otak. Terjadi perubahan aktivasi dalam sistem membaca terkait dengan perubahan kepadatan dari materi abu-abu dan putih pada daerah tertentu otak. Disfungsi di bagian bermateri abu-abu itu

(56)

50

terkait dengan perubahan konektivitas di antara area fonologis (membaca).

Ada beberapa tanda awal disleksia bawaan. Tanda- tanda itu, antara lain, telat berbicara. Pada umur dua tahun, misalnya, anak baru dapat mengucapkan satu atau dua patah kata. Anak juga sering bingung atau tertukar antara kiri dan kanan. Gejala lainnya ialah artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik misalnya kata “kulkas”, misalnya menjadi “kalkus”. Beranjak di usia sekolah, kesulitan makin dirasakan lantaran anak mulai dituntut membaca, menulis, dan berhitung. Anak kesulitan mempelajari huruf, baik bentuk maupun bunyinya. Beberapa huruf sering kali tertukar, seperti ”b” dan ”d”, ”h” dan ”a”, serta

”t” dan ”j”.

Anak dengan disleksia juga kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam rima. Orang yang mengalami disleksia harus berjuang saat sedang membaca, mengeja dan menulis serta mengalami kesulitan membuat hubungan antara kata-kata atau huruf yang tertulis.

(57)

51

Gangguan kondisi disleksia ini dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu:pertama, trauma disleksia yakni kondisi yang biasanya terjadi setelah adanya trauma otak atau cedera di daerah otak yang mengontrol bagian membaca dan menulis. Gangguan ini jarang terjadi pada usia sekolah; kedua, primer disleksia yakni kondisi yang diakibatkan adanya disfungsi dari sisi kiri otak (cerebral cortex) dan bukan disebabkan oleh adanya kerusakan.

Gangguan ini biasanya diturunkan melalui gen atau keturunan, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki; dan ketiga, sekunder disleksia yakni kondisi yang disebabkan oleh hormon selama tahap awal proses perkembangan janin.

1. Penyebab Disleksia

Gangguan kondisi disleksia dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu:pertama, trauma disleksia yakni kondisi yang biasanya terjadi setelah adanya trauma otak atau cedera di daerah otak yang mengontrol bagian membaca dan menulis.

Gangguan ini jarang terjadi pada usia sekolah;

kedua, primer disleksia yakni kondisi yang diakibatkan adanya disfungsi dari sisi kiri otak

(58)

52

(cerebral cortex) dan bukan disebabkan oleh adanya kerusakan. Gangguan ini biasanya diturunkan melalui gen atau keturunan, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki; dan ketiga, sekunder disleksia yakni kondisi yang disebabkan oleh hormon selama tahap awal proses perkembangan janin.

Gangguan kondisi disleksia dibagi menjadi tiga tipe, yaitu (1) Trauma disleksia adalah kondisi ini biasanya terjadi setelah adanya trauma otak atau cedera di daerah otak yang mengontrol bagian membaca dan menulis. Gangguan ini ini jarang terjadi pada usia sekolah; (2) Primer disleksia adalah kondisi ini diakibatkan adanya disfungsi dari sisi kiri otak (celebral cortex) dan bukan disebabkan adanya kerusakan. Gangguan ini biasanya diturunkan melalui gen atau keturunan, dan lebih sering dijumpai pada laki-laki; (3) Sekunder disleksia adalah kondisi ini disebabkan oleh hormon selama tahap awal proses perkembangan janin (sumber: http://medisian.com/2012/10/disleksia.).

(59)

53

Faktor penyebab disleksia lainnya disebabkan oleh empat hal, antara lain.

a. Keturunan

Masalah disleksia telah ada dalam gen keluarga anak-anak disleksia. Anak disleksia tersebut menghadapi masalah dalam bacaan dan ejaan. Masalah disleksia ini banyak dihadapi oleh anak lelaki daripada anak perempuan dengan kadar 3:1 atau 2:1. Hal tersebut disebabkan orang lelaki lebih banyak memikul tanggung jawab daripada orang perempuan.

b. Makanan

Beberapa unsur penyedap makanan, bahan pengawet, dan pewarna tiruan mengganggu otak jika digunakan secara berlebihan dalam waktu yang lama. Gangguan terhadap otak terjadi bukan melalui reaksi imunologi, tetapi bahan pencemaran atau racun yang terkandung dalam bahan-bahan makanan tersebut.

c. Bawaan

(60)

54

Masalah pendengaran pada kalangan anak- anak dialami sejak dilahirkan. Anak-anak yang sering mengalami influensa dan terjangkit kuman pada bagian tenggorokan mempengerauhi pendengaran dan perkembangannya dari waktu ke waktu hingga menyebabkan kecacatan. Keadaan ini ditentukan melalui pemeriksaan intensif dari dokter. Masalah pendengaran yang dialami sejak dilahirkan akan menyebabkan otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengar dengan huruf atau kata yang dilihatnya.

d. Perkembangan

Disleksia berkembang sedikit demi sedikit.

Bagian-bagian tertentu dalam otak tidak matang atau dengan kata lain pertambahannya tidak seimbang lalu menyebabkan bagian otak yang mengawal bacaan dan ejaan tidak dapat berfungsi dengan sepenuhnya. Kedua hemisfer cerebral yang menguasai kemahiran

(61)

55

bacaan dan ejaan lemah, maka terjadilah keterbalikan huruf dan perkataan yang dialami oleh anak-anak disleksia (sumber:

http://nurfaikarazali.wordpress.com/about- 4/faktor-faktor-penyebab-disleksia/).

2. Ciri-Ciri Disleksia

Ada beberapa tanda awal disleksia bawaan.

Tanda-tanda itu, antara lain, telat berbicara. Pada umur dua tahun, misalnya, anak baru dapat mengucapkan satu atau dua patah kata. Anak juga sering bingung atau tertukar antara kiri dan kanan.

Gejala lainnya ialah artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik misalnya kata “kulkas”, misalnya menjadi “kalkus”. Beranjak di usia sekolah, kesulitan makin dirasakan lantaran anak mulai dituntut membaca, menulis, dan berhitung. Anak kesulitan mempelajari huruf, baik bentuk maupun bunyinya. Beberapa huruf sering kali tertukar, seperti ”b” dan ”d”, ”h” dan ”a”, serta ”t” dan ”j”

(sumber:

http://acaciagrove.multiply.com/journal/item/ ).

(62)

56

Anak dengan disleksia juga kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam rima. Orang yang mengalami disleksia harus berjuang saat sedang membaca, mengeja dan menulis serta mengalami kesulitan membuat hubungan antara kata-kata atau huruf yang tertulis.

Pertanda lainnya ialah bingung konsep ruang dan waktu serta kesulitan mencerna serta mengikuti beberapa instruksi yang disampaikan secara verbal, cepat, dan berurutan. Artinya jika ada perintah yang diucapkan secara cepat, kemungkinan perintah terakhir yang diingat.

3. Fakta kebahasaan Anak Disleksia

Anak disleksia mengalami kesulitan dalam mengingat, membaca, dan menulis huruf, kata, dan kalimat. Anak-anak disleksia biasanya mengalami masalah kebahsaan sebagai berikut.

a. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya b. Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara

terstruktur misalnya essay

(63)

57

c. Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’

tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’

d. Membaca lambat-lambat dan terputus-putus dan tidak tepat misalnya

1) Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).

2) Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai

”tulis”)

3) Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai

4) Tertukar-tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama) e. Daya ingat jangka pendek yang buruk

f. Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar

g. Tulisan tangan yang buruk

h. Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung

(64)

58

i. Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek

j. Kesulitan dalam mengingat kata-kata

k. Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan

l. Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol (Sumber: http://indigrow.wordpress.com/tag/tanda- tanda-anak-disleksia/ )

Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah-masalah berikut:

a. Masalah fonologi

Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi.

Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran namun berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.

b. Masalah mengingat perkataan

(65)

59

Kebanyakan anak disleksia mempunyai level intelegensi normal atau di atas normal namun mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan.

Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman- temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita namun tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.

c. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial

Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa”

susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal orang tua sudah mengingatkannya bahkan mungkin sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga

(66)

60

mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang jam 8 pagi. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung”

dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.

d. Masalah ingatan jangka pendek

Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.

e. Masalah pemahaman sintaks

(67)

61

Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan Diterangkan–

Menerangkan (contoh: tas merah), namun dalam bahasa Inggris dikenal susunan Menerangkan- Diterangkan (contoh: red bag).

(Sumber: http://indigrow.wordpress.com/tag/tanda- tanda-anak-disleksia/ )

D. Kasus BT Sebagai Penyandang Disleksia

Penyandang disleksia adalah seseorang yang memiliki ketidakmampuan untuk membaca dan menulis.

Anak dengan disleksia kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam rima. Orang yang mengalami disleksia harus berjuang saat sedang

(68)

62

membaca, mengeja dan menulis serta mengalami kesulitan membuat hubungan antara kata-kata atau huruf yang tertulis.

1. Ketidakmampuan Membaca pada Anak Penyandang Disleksia

Berikut deskripsi ketidakmampuan membaca pada anak penyandang disleksia. Data berikut diperoleh pada BT penyandang disleksia yang tidak memiliki kemampuan membaca pada saat pembelajaran membaca mata pelajaran bahasa Indonesia. Teks yang harus dibaca sumber data tersebut sebagai berikut:

Kerusakan lingkungan hidup di sekitar kita sudah sangat mengkhawatirkan. Salah satu sebabnya adalah kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih kurang. Sebagai bagian lingkungan hidup, kita harus mencintai dan menjaganya agar keseimbangan lingkungan tidak

(69)

63

rusak. ….(Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan, 2013:4).

Dalam kegiatan membaca pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas VII, sumber data melaksanakan di ruang sumber, diperoleh data bahwa sumber data belum bisa membaca secara lancar. BT masih harus mengeja kata dengan bantuan guru pendamping/psikolog. Berikut transkrip kegiatan membaca sumber data:

/k-…k/, /r-u…ru/, /kru/, /s- a-k…sak/, /kerusak-an/, /l-i-

…li/, /likuan/, /d-i …di/, /d- u…du/, /s-…s/, /k-i…ki/, /t- a…ta-r…tar/, /skitar/, /k-i

…ki/, /t-a…ta/, /kita/, /s-u…su/, /susu/, /d-a…da-h/, /sudah/, /s- a…sa-at/, /saat/, /m--

…m/, /k-h-a…kha/, /w- a…wa/, /t-i…ti-r…tir/, /mkhawatirkan/.

(70)

64

Pada saat mengeja kata, BT masih harus dibantu oleh guru pendamping/psikolog. Jika tidak dibantu dalam mengeja, BT tidak mampu untuk membaca kata. Di samping itu, jika terdapat kata- kata yang BT mengenal/mengetahui, BT akan langsung menyebutkan kata tersebut. Kata tersebut seperti kata lingkungan. Sebaliknya, dengan ejaan su, BT langsung menyebutkan kata susu, padahal kata tersebut tidak terdapat dalam teks. BT menganggap jika ada suku kata su pasti bentuk katanya susu.

Di peroleh data, BT menyebutkan kata yang mirip dengan kata sebelumnya padahal kata tersebut tidak ada dalam teks. Kata tersebut adalah du dengan kata sebelumnya di. Demikian selanjutnya, guru pendamping harus membantu BT dengan cara mengeja setiap kata.

Ketika guru pendamping meminta BT untuk membaca sendiri teks pada kalimat berikutnya BT menolak permintaan tersebut. BT menyatakan ketidakbisaannya kepada guru pendampingnya. BT

(71)

65

merasa kesulitan dalam menggabungkan huruf menjadi kata.

Berdasarkan deskripsi yang telah diuraikan sebelumnya ditemukan deskripsi pada BT sebagai berikut.

a. BT berusia 15 tahun. Jika melihat usia BT, akan menganggap BT dapat membaca. Akan tetapi, ternyata BT belum dapat membaca dengan lancar. BT masih harus mengeja kata demi kata dengan bantuan guru pendamping/psikolog.

b. Pada saat mengeja, BT juga menggunakan perbendaharaan kata-kata yang telah dimilikinya sehingga BT sering langsung menyebutkan kata tersebut tanpa melihat kata yang seharusnya.

c. Untuk membaca sebuah kalimat dengan 6 kata, BT tampak berjuang keras untuk dapat membaca.

2. Ketidakmampuan Menulis pada Anak Penyandang Disleksia

(72)

66

Berikut deskripsi ketidakmampuan menulis pada anak penyandang disleksia. Data berikut diperoleh pada BT penyandang disleksia yang tidak memiliki kemampuan menulis yang dilakukan pada saat pembelajaran menulis di ruang sumber.

Data penelitian yang diperoleh pada saat pembelajaran menyalin kalimat:

Saya senang belajar. → contoh kalimat dari guru pendamping

yasa senang belajar. → tulisan BT

Berdasarkan data menyalin kalimat pada lampiran 2, BT menuliskan kata saya dengan kata yasa. Tampak adanya penulisan yang terbalik pada deret konsonannya. Konsonan y pada kata saya yang seharusnya terdapat di suku kata terakhir dituliskan di suku kata awal. Kesalahan penulisan yang terbalik pada konsonan y terjadi sebanyak 2 kali dari 4 kata yang sama.

Data penelitian berikut diperoleh pada saat pembelajaran dikte huruf:

s j c

(73)

67 huruf seharusnya y, z, x

Berdasarkan data dikte huruf pada lampiran 3, BT menuliskan huruf yang berbeda. Untuk dikte huruf y, BT menuliskan huruf s. BT menuliskan huruf z dengan huruf j. Sedangkan dikte huruf x, BT menuliskan dengan huruf c. Berdasarkan dekripsi hasil data penelitian, tampak adanya pertukaran huruf yang dialami BT.

Data penelitian berikut diperoleh pada saat pembelajaran menebali pola:

menebali huruf k, g

Pada pembelajaran menebali huruf pada lampiran 4, BT tidak mengalami kesulitan. BT mengikuti bantuan titik-titik pada huruf yang

. . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . .

(74)

68

dimaksudkan. Akan tetapi pada saat BT mengulang kembali tulisan yang sama tanpa bantuan titik-titik, BT menulis huruf dengan bentuk yang tidak sama seperti contoh. Pada kegiatan menebali huruf, BT lebih suka menirukan contoh yang diberikan guru pendamping daripada menulis huruf sendiri.

Data penelitian berikut kegiatan menulis berdasarkan warna:

→ seharusnya merah dituliskan abu-abu

→ seharusnya hitam dituliskan hitam

→ seharusnya hijau dituliskan kuning

→ seharusnya coklat dituliskan coklat

→ seharusnya biru dituliskan hijau

(75)

69

→ seharusnya oranye dituliskan abu-abu

→ seharusnya ungu dituliskan hijau

Berdasarkan data menulis warna pada lampiran 5, BT mengalami 5 perbedaan dari 7 warna yang diberikan. BT mengulangi warna abu- abu dan hijau pada warna yang berbeda. Sebaliknya pada warna hijau, BT menuliskan warna kuning.

Sedangkan warna hitam dan coklat, BT menuliskan dengan benar. Selanjutnya, peneliti tidak melakukan pengujian warna lainnya.

Data penelitian berikut diperoleh pada pembelajaran menulis dikte kalimat:

1. Temanku bernama Ali.

Temanku berna --- 2. Sepatu baru warna hitam.

Sapatu baru warnga hima 3. Sapu lidi baru.

Sepu liib baru

Referensi

Dokumen terkait