PANDEMI
Oleh : Badzlina Daroyani Novitaningrum, S.IAN
Dewasa ini, pendidikan dan kesehatan merupakan aspek penting dalam kehidupan yang keduanya berjalan secara beriringan, dimana setiap pemerintah daerah wajib untuk melindungi hak-hak tersebut bagi warganya, tak terkecuali anak-anak. Aspek pendidikan sangatlah penting, mengingat generasi muda masa kini adalah bibit-bibit unggul bagi masa depan. Letak keberhasilan suatu negara di masa mendatang berada di tangan anak-anak muda. Hal ini terbukti dengan pepatah yang mengatakan
“...beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Mudahnya, hal ini bermakna bahwa keberadaan generasi muda masa depan bagi bangsanya, merupakan tonggak utama yang dapat membangun negara itu sendiri. Lalu bagaimana upaya kita agar dapat mewujudkan hal tersebut? Tentunya
128
memulai dengan membangun karakter anak-anak calon penerus bangsa ini.
Pada tahun 2006, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meluncurkan Program Kabupaten/Kota Layak Anak dengan berlandaskan pada Undnag Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa pemenuhan kebutuhan anak tidak hanya menajdi tanggungjawab orangtua saja, melainkan negara, melalui Kepala Daerah.
Dari 126 daerah, Surabaya dan Surakarta menjadi daerah terpilih dengan progres positif yang signifikan. Dengan predikat tersebut Kota Surabaya terus berupaya mengembangkan berbagai fasilitas yang menunjang bagi kebutuhan anak, sehingga anak-anak dapat mendapatkan kenyamanan berada di kotanya. Hingga pada akhirnya Surabaya berhasil mendapat gelar kota layak anak yang telah diraih pada tahun 2017 dan terus berupaya dalam meningkatkan kualitas anak-anak di lingkungan kota Surabaya baik melalui pengembangan berbagai macam infrastruktur, ketersediaan mobilitas pendidikan, kesetaraan hak dalam pembelajaran, serta berbagai
129
program pengembangan karakter anak melalui seni dan literasi.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten/Kota Layak Anak adalah Kabupaten/Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak dan perlindungan anak.
Adapun tujuan dari dibentuknya Kota Layak Anak secara umum untuk memenuhi hak dan melindungi anak, dan secara Kkusus: Untuk membangun inisiatif pemerintahan kabupaten/kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan, dalam bentuk: kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak dan perlindungan anak (PHPA), pada suatu wilayah kabupaten/kota. Untuk memaksimalkan program kota layak anak tersebut, Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini melalui Perda Kota Surabaya Nomor 6
130
Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak melakukan gebrakan di beberapa fasilitas umum, diantaranya pelopor Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang ada di Taman Flora, kemudian penghargaan Puskesmas Ramah Anak yang ada di Puskesmas Tanah Kali Kedinding dan penghargaan Pembina Forum Anak. Melalui gebrakan itu, pada tahun 2019 Kota Surabaya meraih penghargaan Kota Layak Anak sebagai predikat utama, sekaligus di tahun yang sama diundang menjadi pembicara di Forum UNICEF, PBB yang bertajuk “Child Friendly Cities Summit”.
Dengan gelar tersebut Pemerintah Kota Surabaya terus meningkatkan berbagai fasilitas penunjang program kota layak anak, tak terkecuali di tengah kondisi pandemi covid 19 di Indonesia saat ini. Dilansir VOA Indonesia, Ketua Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa tingkat kematian anak akibat virus corona di Tanah Air merupakan yang tertinggi di negara ASEAN. "Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam," ungkap Aman.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Sabtu
131
(30/5/2020), terdapat 1.851 kasus Covid-19 pada anak berusia kurang dari 18 tahun. Kasus tertinggi dilaporkan terjadi di DKI Jakarta (333 kasus), Jawa Timur (306 kasus), Sumatera Selatan (181 kasus), Sulawesi Selatan (151 kasus), Jawa Tengah (100 kasus), dan Nusa Tenggara Barat (84 kasus). Dari jumlah tersebut, terdapat 29 kasus kematian akibat corona pada anak yang dilaporkan (diakses dari media massa online kompas https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/04/170300 423/kematian-anak-indonesia-karena-corona-tertinggi-di-asean-ini-sebabnya?page=all pada 22 Oktober 2020 pukul 10.22 WIB).
Berdasarkan pada data tersebut, Provinsi Jawa Timur menempati posisi kedua dengan jumlah korban pasien anak meninggal akibat covid di Indonesia. Angka yang tidak sedikit bagi sebuah provinsi besar di Indonesia dengan segala fasilitas yang sudah sangat memadai.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup bersih dan pencegahan merebaknya virus semakin luas masih dirasa sangat kurang. Terlebih, masyarakat berkeluarga dimana rumah tempat berkumpul setelah beraktivitas seharian. Sangat rentan bagi mereka membawa virus
132
masuk ke dalam rumah. Dalam hal ini, orangtua sebagai lingkungan pembentuk karakter utama bagi tumbuh kembang anak, berperan penting. Letak pentingnya peran orangtua adalah dimana mereka wajib mengajarkan kepada anak mereka tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan keluarga. Terlebih di tengah pandmei seperti saat sekarang, kuantitas waktu anak-anak lebih banyak berkumpul bersama kedua orangtuanya di rumah ketimbang belajar di sekolah seperti saat belum ada pandemi. Jadi, secara tidak langsung peran guru dalam pembiasaan PHBS dialikan kepada orangtua.
PHBS dalam keluarga dapat dimaksimalkan dengan menguatkan pengawasan orangtua terhadap anak, mulai dari ketika mereka bermain dengan teman, mencuci tangan setelah berada diluar rumah, mencuci tangan sebelum makan dan minum dan ketika selesai memegang suatu benda, hingga penggunaan masker yang benar seperti apa. Menanggapi hal tersebut, predikat kota layak anak Surabaya bergagasan bahwa perlu adanya penyampaian materi pembelajaran melalui media yang ada sehingga siswa yang selama pandemi belajar di rumah tidak mengalami penurunan semangat belajar. Mengingat
133
tingginya angka penularan covid 19 di indonesia, terutama Jawa Timur, Pemerintah Pusat bersinergi dengan Pemerintah Daerah memutuskan untuk memberhentikan pembelajaran tatap muka di sekolah, dan digantikan dengan pembelajaran daring (dalam jejaring/melalui online) oleh bapak ibu guru.
Disini, peran seorang guru amatlah penting, mengapa? Karena melalui pembelajaran tatap muka saja tidak memungkinkan bagi semua siswa untuk secara langsung dapat memahami materi yang disampaikan, apalagi dengan cara jarak jauh? Dimana guru dan siswa hanya bertatap muka melalui layar laptop dan smartphone, sehingga tentu saja penyampaian materi pembelajaran mengalami kendala.
Akan tetapi, Kota Surabaya disini berupaya bahwa meskipun pandemi ini belum berakhir, anak-anak berhak untuk mendapatkan ilmunya selama pandemi. Dilansir dari Antara, Minggu (9/8), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, pandemi Covid-19 membuat perubahan dalam kebiasaan hidup. Termasuk proses belajar mengajar di sekolah. "Kami berharap kepada anak-anak agar tidak ragu, takut atau kurang nyaman
134
dengan kondisi yang berbeda. Sebab, perubahan ini adalah salah satu upaya untuk mencegah virus tersebut,"
katanya. (diakses dari
https://www.merdeka.com/peristiwa/tiga-metode- pembelajaran-yang-diterapkan-di-surabaya-selama-pandemi-covid-19.html pada 22 Oktober 2020 pukul 11.28 WIB). Berdasarkan ulasan Walikota Surabaya diatas, jelas bahwa pemkot Surabaya tidak tinggal diam dan terus berupaya mencari strategi pengganti pembelajaran tatap muka dengan metode daring yang mudah dan tidak mengurangi kenyamanan, sehingga motivasi belajar siswa tetap meningkat. Selain itu, dengan upaya ini diharapkan materi pembelajaran tetap dapat tersampaikan ke siswa.
“Tujuan utama untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran daring, jadi anak-anak itu ada yg tidak memiliki sarana prasarana pendukung sama sekali seperti laptop, komputer dan hp ataupun kendala kuota, maka salah satu layanan yang kami berikan dengan melaui televisi” Ujar Mamik Suparmi S.Pd selaku Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan. Mamik
135
menambahkan “Dulu sebelum ada program TV Pendidikan kami menggunakan layanan drive thru. Jadi, sekolah mengantarkan materi dan penugasan seminggu sekali ke rumah murid yang tidak memiliki sama sekali sarana pendukung dan sekarang melalui tv. Lumayan 30 menit bisa bertemu dengan bapak dan ibu guru. Nah, hal ini salah satu alternatif untuk mengatasi kendala dalam pembelajaran daring”. (diakses dari https://lawancovid- 19.surabaya.go.id/berita-pemkot/baca/tv-pendidikan- sebagai-alternatif-sarana-pembelajaran-dari-pemerintah-kota-surabaya pada 22 Oktober 2020 pukul 12.47 WIB)
Strategi ini menuntut Bapak Ibu Guru untuk bekerja lebih ekstra dan berinovasi metode seperti apa yang digunakan untuk dapat menarik minat siswa dalam mengikuti pembelajaran online. Surabaya sebagai kota dengan predikat kota layak anak tentu tidak tinggal diam dan terus berinovasi menciptakan metode pembelajaran yang tepat bagi guru dan siswa. Mengingat, pendidikan merupakan salah satu indikator dalam penilaian standart kota layak anak, yang berarti bahwa keberhasilan Kota Surabaya dalam bersinergi mengurangi jumlah pasien
136
anak imbas pandemi covid dan strategi yang diambil dalam membuat kebijakan baru bagi keberlangsungan hak belajar siswa yang semestinya didapatkan. Adapun beberapa metode strategi pemkot Surabaya meliputi 3 hal, yakni pembelajaran secara daring (dalam jejaring), luring (luar jejaring) dan pembelajaran melalui siaran stasiun TV hasil kerjasama pemkot Surabaya dengan pihak TV swasta.
TV Pendidikan akan tayang senin sampai kamis pukul 7 pagi hingga pukul 12 siang, kecuali hari jumat hingga pukul 11 siang di SBO TV, dengan durasi 30 menit untuk masing-masing pelajaran dan masing-masing kelas.
Guru-guru yang terpilih berasal dari sekolah negeri maupun swasta, yang akan dilatih oleh Dispendik, total ada 84 guru yang terbagi dalam tim, setiap sesi ada minimal 6 guru dengan mata pelajaran yang berbeda-beda dari kelas 1 hingga kelas 6. Mamik selaku Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dispendik Kota Surabaya berharap
“semoga pandemi ini segera berakhir agar guru dan anak-anak lekas bertatap muka , dengan berbagai trobosan dan layanan ini diharapkan semua murid bisa
137
tetap belajar dan dapat memanfaatkan dengan baik semua layanan ini baik melalui daring, tv dan drive thru dan anak-anak tetap bisa menerima pelajaran dimasa pandemi” pungkasnya. (diakses dari https://lawancovid- 19.surabaya.go.id/berita-pemkot/baca/tv-pendidikan- sebagai-alternatif-sarana-pembelajaran-dari-pemerintah-kota-surabaya pada 22 Oktober 2020 pukul 12.47 WIB).
Upaya-upaya ini sejauh ini berjalan dengan baik dan siswa tidak mengalami kebosanan selama mengikuti proses kegiatan belajar dari rumah. Hal yang serupa disampaikan oleh Supomo, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang dalam hal ini menjadi poros utama aktor pengambil kebijakan. Ia mengatakan walaupun dalam suasana yang sangat terbatas, kualitas pembelajaran tetap diperlukan agar anak-anak pintar.
Dispendik Kota Surabaya menyiapkan beberapa varian metode pembelajaran agar anak-anak tidak merasa bosan.
"Kerja sama bersama televisi itu adalah varian pilihan dengan harapan semua anak-anak Surabaya bisa belajar dengan mudah," kata Supomo. (diakses dari
https://www.merdeka.com/peristiwa/tiga-metode-138
pembelajaran-yang-diterapkan-di-surabaya-selama-pandemi-covid-19.html pada 22 Oktober 2020 pukul 11.28 WIB).
Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam fokus mengedepankan pendidikan di Surabaya melalui berbagai macam metode diharapkan dapat membuahkan hasil, sekaligus solusi bagi keterbatasan tatap muka dalam pembelajaran. Selain itu, melalui metode ini besar harapan kami selaku guru, agar siswa tetap semangat dalam menerima penyampaian materi secara maksimal meski tidak bertatap muka, dan orangtua bisa turut bekerja sama dalam memantau putra putrinya menunjang pendidikan di masa pandemi covid 19. Sehingga, pandemi yang pada saat ini belum tidak menghalangi para guru untuk tetap menyampaikan materi-materi pembelajaran dan tidak menurunkan motivasi belajar siswa dalam menerima materi-materi pembelajaran.
139
Guru Inspirasiku
Oleh: Fajar Krisna Mukti / Kelas 8
Namaku Fajar umurku 13 tahun, aku bersekolah di SMPN45 Surabaya . Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di seolahku karena prestasi yang bagus.
Hidupku semakin bermakna ketika aku mengenal sosok Guru yang sangat menginspirasi bagiku bagaimana tidak segudang prestasi yang telah dia dapat di bidang IPA. beliau bernama bu. Karina sosok yang sangat tegas dan sangat di segani tapi banyak murid yang merasa nyaman ketika belajar dengannya, karena beliau tidak pernah membandingkan mana anak ipa ataupun ips, dimatanya semua sama murid yang ia sayangi.
Setiap mata pelajarannya begitu sangat menyenangkan cara mengajarnya pun membuat kami para murid nyaman tanpa rasa takut walaupun beliau sangat di segani di sekolah. Beliau bukan hanya jadi panutan buat kami para muridnya tapi beliaupun bisa menjadi sahabat
140
untuk kami, beliau tak pernah bosan mendengarkan cerita-cerita dari muridnya dan selalu memberikan masukan yang bijak.
Aku ingin seperti beliau yang mempunyai banyak prestasi di bidang yang sangat aku sukai dari dulu, tetapi aku selalu gagal. aku selalu berusaha agar aku bisa seperti beliau dan beliau selalu memberi semangat kepadaku agar aku tidak pernah menyerah.
Dan pertama kali aku berhasil jadi yang pertama dan mendapat nilai paling tinggi di sekolahku di bidang IPA. Haru bangga campur aduk. Ini jadi penyemangat yang luar biasa untukku agar aku tidak pernah menyerah untuk menggapai apa yang aku inginkan. Aku merasa beruntung bisa mengenal sosok yang begitu menginspirasi buatku. Beribu pujian untuk sosok pahlawan tanpa tanda jasa.
141
Menjadi Budak di Negeri Sendiri Oleh: Chesta adabi / Kelas 9F
Meskipun negara Indonesia sudah merdeka dari penjajahan di negeri ini tapi masih banyak orang yang masih belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Masih banyak orang yang tidak mampu di luar sana dan apa lagi sekarang banyak konflik konflik di negara ini.
Dan apa lagi yang kita rasakan ketika mau kuliah di luar negeri dan
Saya tidak usah menyebutkan, berapa uang yang harus dibawa orang Indonesia kalau mau kuliah atau tinggal di luar negeri? Kalau tidak punya, maka anda akan diusir oleh mereka. Namun bagaimana perlakuan kita terhadap mereka?
Kepemimpinan dalam sebuah Negara merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan dari konstitusi Negara itu sendiri. Jika ada pemimpin Negara, tentu ada wilayah
142
yang menjadi kekuasaannya, kebijakan yang dibuat serta masyarakat yang tinggal dan menetap dalam wilayah tersebut. Secara tidak langsung bahwa Negara yang utuh adalah Negara yang memiliki perangkat-perangkat yang saya sampaikan diatas.
Indonesia adalah sebuah Negara yang berdaulat karena kemerdekaannya sudah diakui oleh dunia. Perjalan panjang dalam memperebutkan kemerdekaan itu tentu tidak perlu saya ulas disini karena yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mendukung kemerdekaan itu dengan sebaik-baiknya, tidak menjadi penghianat apalagi duri dalam daging bagi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah ini. Disamping kemerdekaan Negara yang sudah diakui oleh dunia, bahwa Indonesia juga memiliki wilayah kekuasaan yang cukup strategis. Strategis dikatakan karena wilayah kita merupakan wilayah kepulauan, hal ini berarti peluang besar untuk menjadi juragan di negeri sendiri sebenarnya lebih terbuka lebar.
143
Entah mental apa dan bagaimana yang pada akhirnya kita lebih memilih menjadi budak dan jongos di negeri sendiri.
Tak adil rasanya kita menyalahkan Negara Belanda yang telah menjajah kita ratusan tahun dan tidak memberikan kesempatan kepada masyarakat yang hidup pada waktu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan baik.
Alasan sering kali disampaikan para pejabat di negeri kita yang sebenarnya merupakan dalih untuk keluar dari permasalahan yang telah mereka buat dengan tangan-tangan mereka sendiri melalui kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dalam jangka panjang.
Berhentilah kita menyalahkan Negara lain yang telah menjajah negeri ini ratusan tahun. Bukan banyak Negara-negara yang nasibnya dahulu sama dengan Indonesia bahkan mungkin lebih parah lagi, tetapi pada akhirnya mereka mampu keluar dari nostalgia yang bernama kemalasan dan kebodohan itu guna memperbaiki nasibnya dan generasinya untuk masa yang akan datang.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan bangsa
144
kita, pernahkah terbesit niat dalam hati para pejabat di negeri ini untuk mempertahankan Negara Indonesia walau kiamat datang menghampiri? Atau jangan-jangan mereka tidak ber-Tuhan sehingga menganggap bahwa kehidupan itu adalah hari ini sehingga manfaatkan apa yang bias digunakan untuk menari diatas penderitaan orang lain.
Sepakat atau tidak, seperti yang telah saya sampaikan diatas lama-kelamaan kita memang seperti budak di negeri sendiri. Entah siapa pemilik Negara ini sehingga kita tidak bisa menemukan sesuatu yang merupakan identitas dari Negara kita sendiri. Lambang Negara kita memang tidak berubah, dasar Negara kita masih tetap Pancasila, lagu kebangsaan kita pun masih Indonesia Raya tapi coba suarakan dengan lantang siapa sebenarnya juragan di negeri kita ini? Orang Indonesia kah atau orang non Indonesia? Saya rasa lidah kita sudah kelu untuk menyebutkan siapa sebenarnya yang menjadi juragan itu?
Sampaikesana kah pemikiran kita? Ada yang mengatakan kepada saya bahwa kita tidak perlu menjadi orang kaya
145
karena harta kekayaan itu tidak akan dibawa pergi? Siapa bilang harta kekayan itu tidak bisa dibawa mati. Bukan ketika kita memiliki harta yang banyak, menjelang kematian kita sebahagiannya bisa kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya dan minta dari perbuatan itu akan mengalir terus diri kita meskipun telah meninggalkan dunia ini. Kalau kita tidak menjadi orang kaya, lantas siapa yang kita harapkan untuk membantu kelangsungan Negara ini. Mencari keringat dan kerja keras adalah lebih baik dari pada berhutang pada Negara lain?
Ada kecenderungan yang aneh kita lihat akhir-akhir ini di negeri kita yang bernama Indonesia. Seolah seluruh perangkat kehidupan kita telah tergadai ditangan bangsa lain. Contoh konkrit dan paling nyata adalah, lihatlah yang menuruti yang antara kita orang-orang Indonesia yang memiliki nenek moyang lahir dan berkembang disini, namunnasibnya jauh berbeda dengan mereka-orang-orang non pribumi yang statusnya hanya pendatang
146
namun lama-kelamaan berubah menjadi penjajah gaya baru.
Pertanyaan selanjutnya adalah, siapa yang salah dalam hal ini? Menurut hemat saya yang salah dan yang harus bertanggung jawab adalah pemerintah karena begitu bebasnya mereka tinggal dan mencari kehidupan di negeri kita. Saya tidak usah menyebutkan, berapa uang yang harus dibawa orang Indonesia kalau mau kuliah atau tinggal di luar negeri? Kalau tidak punya, maka tak usah punya mimpi untuk kuliah apalagi tinggal disana karena anda akan diusir dengan mereka. Sadarkah kita, begitu rendahnya kita dimata mereka sehingga mereka menganggap kita seperti sampah yang akan mengganggu kehidupan masyarakatnya ketika kita tinggal disana tanpa jaminan hidup yang layak dan sesuai dengan standar yang telah mereka tentukan.
Akan tetapi berbeda dengan mereka yang datang kemari.
Bebas sebebas-bebasnya karena memang mereka alarm
147
alarm darurat di negeri murahan dan bisa dibayar dengan uang. Dari uang suap yang sedikit itu, yang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja sekarang telah berubah menjadi musuh nyata yang tinggal menunggu waktu untuk menerkam dan mengurai daging tubuh kita yang bernama Indonesia. Samapi muncul sebuah istilah, bahwa ketika orang luar negeri datang ke Indonesia maka mereka akan menambah devisa dan pendapatanNegara, sedangkan orang Indonesia yang datang keluar negeri, maka hanya akan menambah beban Negara.
Pertanyaannya devisa Negara yang dikatakan bertambah dengan kehadiran mereka? Jangan dilihat dari banyaknya gedung pencakar langit dan lapangan pekerjaan yang mereka berikan karena hal itu semu dan jurus jitu dari mereka untuk menidurkan kita lebih lama lagi. Seolah-olah mereka ingin mengatakan, wahai orang Indonesia, sudah tidur saja biarkan kami yang mengerjakan dan anda akan menikmati hasilnya dan jika anda tidak punya uang pakai uang kami, dan ketika anda tidak sanggup bayar silahkan jual rumah anda dengan kami.
148
Bukan perintah untuk mendahului kehendak Tuhan, tapi kalau hal ini terus-menerus kita biarkan, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi kita benar-benar akan menjadi bangsa yang menumpang di negeri sendiri. Kalau tikus mati dilumbung padi, itu sudah terjadi di Negara kita ini tapi kalau sampai menumpang di rumah sendiri ini kan sangat luar biasa kebodohan dan ketololan kita sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka. Negara dalam hal ini pemerintah harus bertanggung jawab terhadap masalah yang terjadi, karena segala hal yang mengatur tentang kehidupan dan pekerjaan orang-orang pendatang dari luar negeri ke Indonesia, semuanya diatur oleh pemerintah bersama DPR.
Pemerintah harus membatasi hak-hak mereka dibidang politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Buat apa takut dengan Negara lain jika kita memberikan batasan-batasan itu terhadap mereka, karena yang lebih penting
Pemerintah harus membatasi hak-hak mereka dibidang politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Buat apa takut dengan Negara lain jika kita memberikan batasan-batasan itu terhadap mereka, karena yang lebih penting