5 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Tempat Kerja.
Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dalam pasal 1 ayat (1) tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja, dimana terdapat sumber-sumber bahaya, termasuk semua ruangan, lapangan, halaman dan sekekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.
Setiap tempat kerja selalu memiliki risiko kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, besar risiko tergantung kepada jenis industri, teknologi serta upaya pengendalian risiko yang dilakukan (Syukri, 1997).
2. Sumber Bahaya.
Bahaya (hazard) adalah sumber atau suatu usaha keadaan yang memungkinkan atau dapat menimbulkan kerugian berupa cidera, penyakit, kerusakan ataupun kemampuan melaksanakan fungsi yang telah ditetapkan. Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan, bahaya tersebut potensial jika faktor-faktor tersebut dalam mendatangkan kecelakaan (Suma’mur, 1996).
Menurut (Ramli, 2010) bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya. Karena hadirnya bahaya maka diperlukan upaya pengendalian agar bahaya tersebut tidak menimbulkan akibat yang merugikan.
Secara umum bahaya digolongkan menurut jenisnya sebagai berikut (Ramli, 2010) :
a. Bahaya fisik yang meliputi kebisingan, intensitas penerangan yang kurang, temperatur ekstrim baik panas maupun dingin, vibrasi atau getaran yang berlebihan, radiasi, dan sebagainya.
b. Bahaya mekanis meliputi terpukul, terjepit, tersandung, kejatuhan peralatan atau benda yang berada di lingkungan kerja.
c. Bahaya kimia adalah substansi kimia yang digunakan secara tidak tepat, baik dalam proses pekerjaan, pengelolaan dan penyimpanan.
d. Bahaya biologi, yang berkaitan dengan makhluk hidup yang berada di lingkungan kerja seperti virus, bakteri, dan jamur yang dapat menyebabkan dan atau mendukung timbulnya penyakit akibat kerja seperti infeksi, alergi, dan berbagai penyakit lainnya.
e. Bahaya ergonomi yaitu bahaya yang disebabkan oleh ketidaksesuaian interaksi antara manusia, peralatan, dan lingkungan, yang berkaitan dengan tata letak yang salah, desain pekerjaan yang tidak sempurna, dan manual handling yang tidak sesuai.
f. Bahaya psikologi yaitu bahaya yang dapat berhubungan atau menyebabkan timbulnya kondisi psikologi pekerja yang berpengaruh terhadap pekerjaan, seperti bekerja dibawah tekanan, hubungan atasan yang tidak harmonis, dan waktu kerja yang berlebihan.
3. Potensi Bahaya.
Potensi bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berubungan dengan proses dan sistem kerja (Tarwaka, 2014). Potensi bahaya mempunyai potensi untuk mengakibatkan kerusakan dan kerugian kepada:
a. Manusia yang bersifat langsung maupun tidak langsung terhadap pekerjaan.
b. Properti termasuk peralatan kerja dan mesin.
c. Lingkungan, baik lingkungan di dalam maupun diluar perusahaan.
d. Kualitas produk barang dan jasa.
e. Nama baik perusahaan.
Identifikasi potensi bahaya di tempat kerja yang berisiko menyebabkan terjadinya kecelakaan antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu (Tarwaka,2014) :
a. Kegagalan komponen, antara lain berasal dari : 1) Kegagalan yang bersifat mekanis.
2) Kegagalan sistem pengaman yang disediakan.
3) Kegagalan operasional peralatan kerja yang digunakan.
b. Kondisi yang menyimpang dari suatu pekerjaan, yang bisa terjadi akibat : 1) Kegagalan pengawasan atau monitoring.
2) Kegagalan pemakaian dari bahan baku.
3) Terjadinya pembentukan bahan antara, bahan sisa dan sampah berbahaya.
c. Kesalahan manusia dan organisasi.
1) Kesalahan operator atau manusia.
2) Kesalahan sistem pengaman.
3) Kesalahan dalam mencampur bahan produksi berbahaya.
4) Kesalahan komunikasi.
5) Melakukan pekerjaan yang tidak sah atau tidak sesuai prosedur kerja aman.
d. Pengaruh kecelakaan dari luar, yaitu terjadinya kecelakaan dalam suatu industri akibat kecelakaan lain yang terjadi di luar pabrik, seperti :
1) Kecelakaan pada waktu pengangkutan produk.
2) Kecelakaan pada stasiun pengisian bahan.
3) Kecelakaan pada pabrik disekitarnya.
e. Kecelakaan akibat adanya sabotase yang bisa dilakukan oleh orang luar ataupun dari dalam pabrik, biasanya hal ini akan sulit untuk diatasi atau dicegah, namun faktor ini frekuensinya sangat kecil dengan faktor penyebab lainnya.
4. Kecelakaan Kerja.
Berdasarkan Undang- Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia maupun harta benda.
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadaap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses (Suma’mur, 2009). Kecelakaan kerja yang sering terjadi dalam suatu industri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Kecelakaan industri (Industrial Accident) yaitu suatu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja, karena adanya potensi bahaya yang tidak terkendali.
b. Kecelakaan di dalam perjalanan (Community Accident) yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja tetapi masih berhubungan dengan pekerjaan.
5. Penyebab Kecelakaan.
Suatu kecelakaan kerja hanya akan terjadi bila terdapat beberapa faktor penyebab secara bersamaan pada suatu tempat kerja atau proses produksi. Dari beberapa penelitian, para ahli memberikan indikasi bahwa suatu kecelakaan tidak daapat terjadi dengan sendirinya, akan tetapi terjadi oleh satu atau beberapa faktor penyebab kecelakaan sekaligus dalam suatu kejadian (Tarwaka, 2008).
Secara umum kecelakaan menurut Suma’mur (2009) disebabkan oleh : a. Tindakan perbuatan manusia (unsafe human act).
Menurut penelitian 85% kecelakaan terjadi disebabkan faktor manusia yang melakukan tindakan tidak aman. Tindakan tidak aman ini dapat disebabkan oleh :
1) Karena tidak tahu yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan aman dan tidak tahu bahaya-bahaya yang ada.
2) Karena tidak mampu/tidak bisa, yang bersangkutan telah mengetahui cara kerja aman dan bahaya yang ada, tetapi karena belum mampu dan kurang-kurang terampil maka dia melakukan kesalahan.
3) Walaupun telah mengetahui cara kerja dan peraturan-peraturan serta yang bersangkutan dapat melaksanakannya, tetapi karena tidak mau melaksanakannya maka terjadi kecelakaan.
b. Keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe condition).
Kondisi tidak aman dapat dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pekerja di lingkungan kerja seharusnya mematuhi aturan dari industrial hygiene, yang mengatur agar kondisi tempat kerja aman dan
sehat. Setiap keadaan/faktor adalah penting artinya bagi terjadinya kecelakaan, tetapi serentetan peristiwa keseluruhan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Apabila sebab satu bagian dari rentetan peristiwa dihilangkan kecelakaan tidak akan terjadi. Kecelakaan diselidiki untuk maksud :
1) Menentukan siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan.
2) Mencegah terjadinya peristiwa serupa.
Henrich (1950) dalam Tarwaka (2016) mengemukakan suatu teori sebab akibat terjadinya kecelakaan yang selanjutnya dikenal dengan Teori Domino.
Berdasarkan Teori Domino digambarkan bahwa timbulnya suatu kecelakaan atau cidera disebabkan oleh 5 faktor penyebab yang secara berurutan dan berdiri sejajar antara faktor satu dengan yang lainnya. Kelima faktor tersebut adalah kurang pengawasan, penyebab dasar, penyebab langsung, kecelakaan dan kerugian.
a. Kurangnya Pengawasan.
Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan digunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan perusahaan.
b. Penyebab Dasar.
Penyebab dasar adalah faktor dasar yang menyebabkan kecelakaan atau faktor utama dari terjadinya kecelakaan. Sebab dasar dianggap sebagai akar permasalahan, penyebab riil, penyebab tidak langsung dan penyebab pendukung. Penyebab dasar membantu menjelaskan mengapa terdapat kondisi yang kurang standar. Sebab dasar dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Faktor manusia.
a) Kurangnya kemampuan fisik dan mental.
b) Kurangnya pengetahuan.
c) Kurangnya ketrampilan.
d) Stres fisik dan mental.
e) Kurangnya motivasi.
2) Faktor Pekerjaan.
a) Kepemimpinan dan pengawasan kurang tepat.
b) Engineering kurang memadai.
c) Maintance kurang memadai.
d) Peralatan dan perlengkaan kurang memadai.
e) Standar kurang memadai.
f) Pembelian kurang memadai.
g) Penyalahgunaan wewenang.
c. Penyebab langsung dari kecelakaan adalah sesuatu yang secara langsung menyebabkan kontak. Penyebabnya dari tindakan tidak aman (88%) dan kondisi tidak aman (10%).
d. Kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan energi atau bahan-bahan berbahaya.
e. Kerugian akibat rentetan faktor sebelumnya akan mengakibatkan kerugian pada manusia itu sendiri, harta benda atau properti dan proses produksi.
6. Penyakit Akibat Kerja (PAK).
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 1 Tahun 1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja, penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja.
Penyakit akibat kerja ditetapkan berdasarkan karakteristik penyebab dan proses terjadinya lambat. Bila proses terjadinya cepat atau mendadak disebut kecelakaan (Tarwaka, 2008). Yang menjadi penyebab penyakit akibat kerja adalah sebagai berikut (Suma’mur, 2009) :
a. Faktor fisik, seperti :
1) Suara yang dapat mengakibatkan ketulian.
2) Radiasi sinar rontgen atau sinar radioaktif.
3) Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke.
4) Tekanan darah tinggi menyebabkan hipertensi.
5) Penerangan lampu yang buruk dapat mengakibatkan kelainan pada indra penglihatan.
b. Faktor kimiawi, seperti :
1) Debu yang menyebabkan pneumoconiosis.
2) Uap yang dapat menyebabkan dermatitis.
3) Gas, misalnya keracunan oleh CO, H2S dan lain-lain 4) Larutan zat kimia yang menyebabkan iritassi pada kulit.
5) Awan atau kabut, misalnya racun serangga, racun jamur dan lain-lain yang dapat menimbulkan keracunan
c. Faktor biologis, misalnya bibit penyakit Antraks atau Rubella yang mengakibatkan penyakit akibat kerja pada pekerja penyamak kulit.
d. Faktor fisiologis/ergonomis, yaitu antara lain kesalahan kontruksi mesin, sikap badan yang tidak benar dala melakukan pekerjaan dan lain-lain yang dapat menyebabkan kelelahan fisik dan gangguan kesehatan.
e. Faktor mental psikologi, misalnya hubungan kerja atau industrial yang tidak baik, dengan akibat timbulnya misalnya depresi atau penyakit psikosmatis.
Menurut (Pungky , 2002) kewajiban pengusaha dalam menghadapi penyakit akibat kerja adalah :
a. Pengusaha wajib dengan segera melakukan tindakan-tindakan preventif agar penyakit akibat kerja yang sama tidak terulang kembali diderita oleh tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya.
b. Apabila terdapat keragu-raguan terhadap hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh dokter, pengurus dapat meminta bantuan Depnakertrans untuk menegakan diagnosa penyakit akibat kerja.
c. Pengusaha wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat pelindung diri yang diwajibkan penggunaannya oleh tenaga kerja.
Sedangkan, kewajiban dan hak tenaga kerja dalam menghadapi penyakit akibat kerja, antara lain:
a. Tenaga kerja harus memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan bila diperiksa oleh dokter atau pengawas keselamatan dan kesehatan kerja.
b. Tenaga kerja harus memakai alat-alat perlindungan diri diwajibkan untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
c. Tenaga kerja harus memenuhi dan menaati semua syarat-syarat untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
d. Tenaga kerja berhak meminta pada pengurus agar dilaksanakannya semua syarat-syarat pencegahan penyakit akibat kerja.
e. Tenaga kerja berhak menyatakan keberatan untuk melakukan pekerjaannya pada tenaga yang diragukan keadaan pencegahannya terhadap penyakit akibat kerja.
7. Hirarki Pengendalian.
Bahaya yang diidentifikasi, diketahui besar potensi bahaya akibatnya harus dikelola dengan tepat, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan kondisi perusahaan. Pengendalian bahaya dapat dilakukan dengan berbagai pilihan, misalnya dengan dihindarkan, dialihkan kepada pihak lain atau dikelola dengan baik (Suma’mur, 2009).
OHSAS 14001:2015 klausul 4.3.1 memberikan pedoman pengendalian bahaya yang lebih spesifik untuk potensi bahaya K3 dengan pendekatan sebagai berikut :
a. Eliminasi merupakan proses untuk menghilangkan bahaya secara keseluruhan. Jika sumber bahaya dapat dihilangkan maka risiko yang akan timbul dapat dihindarkan.
b. Subtitusi merupakan penggantian material, bahan, proses yang mempunyai nilai risiko yang tinggi dengan yang mempunyai nilai risiko lebih kecil atau mengganti dengan yang lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih diterima.
c. Rekayasa teknik merupakan tindakan pengendalian yang memodifikasi sruktur objek kerja untuk mencegah seseorang terpapar terhadap potensi bahaya sehingga potensi bahaya yang ada dapat berkurang.
d. Adminitratif merupakan pengendalian administratif dengan mengurangi tingkat risiko atas potensi bahaya yang mungkin timbul dengan cara melakukan atau menetapkan aturan, prosedur dan cara kerja yang aman.
e. Alat Pelindung Diri (APD) merupakan pilihan terakhir dalam hirarki kontrol. APD tidak menghilangkan bahaya melainkan hanya mengurangi bahaya yang ditimbulkan. Keberhasilan pengendalian ini tergantung dari APD yang yang dikenakan itu sendiri, artinya APD yang digunakan haruslah sesuai dan dipilih dengan benar. APD wajib digunakan sesuai wilayah kerja yang dilakukan.
8. Inspeksi K3.
a. Definisi Inspeksi.
Menurut Tarwaka (2008) inspeksi keselamatan kerja adalah suatu aktivitas untuk menemukan masalah-masalah atau potensi bahaya dan menilai risikonya sebelum kecelakaan atau kerugian dan penyakit akibat kerja benar-benar terjadi.
b. Tujuan Inspeksi
Program penyelenggaraan inspeksi di tempat kerja mempunyai beberapa tujuan (Tarwaka, 2008) :
1) Inspeksi secara sistematis mempunyai peran penting di dalam upaya melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap sumber-sumber bahaya.
2) Inspeksi dilakukan untuk menjamin agar setiap tempat kerja berjalan sesuai dengan peraturan perundangan, standar, norma yang ditetapkan baik oleh pemerintah maupun kebijakan perusahaan.
3) Inspeksi secara regular dan khusus akan dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan tenaga kerja terhadap isu-isu K3 yang dihadapi oleh mereka. Tenaga kerja merupakan sumber informasi yang sangan berharga.
c. Manfaat Inspeksi.
Pelaksanaan inspeksi keselamatan kerja tidak dilakukan begitu saja, tetapi inspeksi ini memberikan manfaat (Alkon,1998), antara lain :
1) Untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang bertentangan atau menyimpang dari program sebelumnya.
2) Untuk menggairahkan kembali kepedulian terhadap keselamatan kerja dilingkungan karyawan. Karena dengan adanya inspeksi, maka karyawan merasa diperhatikan.
3) Mengetahui kembali semua standar keselamatan kerja yang telah ditentukan.
4) Sebagai bahan utama pengumpulan data guna mengadakan pertemuan keselamatan kerja atau sidang P2K3.
5) Berguna unntuk memeriksa fasilitas-fasilitas baru.
6) Untuk menilai kesadaran keselamatan kerja di lingkungan karyawan perusahaan.
7) Untuk mengukur dan mengkaji hasil usaha serta peranan para supervisor terhadap keselamatan kerja.
d. Jenis-Jenis Inspeksi.
Menurut Tarwaka (2008) jenis-jenis inspeksi pada umumnya ada 2 meliputi :
1) Inspeksi Tidak Terencana.
Inspeksi informal merupakan inspeksi yang tidak direncanakan sebelumnya dan sifatnya cukup sederhana yang dilakukan atas kesadaran orang-orang yang menemukan atau melihat masalah K3 di dalam pekerjaannya sehari-hari. Inspeksi ini sebenarnya cukup efektif karena masalah-masalah yang muncul langsung dapat dideteksi, dilaporkan dan segera dapat dilakukan tindakan korektif. Namun, inspeksi informal mempunyai keterbatasan karena memang tidak dilakukan secara sistematik. Ada kalanya kehilangan hal-hal penting yang mungkin telah dilihat atau ditemukan karena masalah yang ditemukan hanya disimpan dalam pikirannya (Tarwaka, 2008).
2) Inspeksi Terencana.
Inspeksi terencana merupakan suatu kegiatan inspeksi yang waktu pelaksanaannya telah ditentukan. Inspeksi terencana meliputi inspeksi umum dan inspeksi khusus.
a) Inspeksi Umum atau Rutin.
Inspeksi umum terhadap sumber-sumber bahaya ditempat kerja atau kegiatan identifikasi terhadap tugas-tugas, proses operasional, peralatan dan mesin-mesin yang mempunyai risiko tinggi (Tarwaka, 2008).
b) Inspeksi Khusus.
Inspeksi khusus merupakan kegiatan inspeksi yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengevalusi potensi hazard terhadap obyek- obyek kerja tertentu yang mempunyai resiko tinggi terhadap kerugian dan kecelakaan kerja,inspeksi yang dilakukan berdasarkan adanya keluhan dari tenaga kerja dan berdasarkan adanya permintaan dari pengurus perusahaan (Tarwaka, 2008).
Perbedaan antara inspeksi umum dengan inspeksi khusus adalah bahwa inspeksi umum direncanakan dengan cara walk-through survey keseluruh area kerja dan bersifat komprehensif, sedangkan inspeksi khusus direncanakan untuk diarahkan kepada kondisi-kondisi tertentu seperti mesin-mesin, alat kerja, dan tempat-tempat khusus yang telah diketahui mempunyai resiko tinggi (Tarwaka, 2008).
e. Obyek yang di Inspeksi.
Untuk menentukan aspek-aspek yang ada di tempat kerja yang akan diinspeksi, perlu dipertimbangkan dan dipahami hal-hal sebagai berikut (Tarwaka, 2008) :
1) Hazard yang berpotensi menyebabkan cidera atau sakit dan masalah- masalah K3 yang ada di tempat kerja.
2) Peraturan perundangan di bidang K3 dan standar yang berkaitan dengan hazard, tugas-tugas, proses produksi tertentu yang diterapkan di masing-
masing perusahaan.
3) Masalah-masalah K3 yang terjadi sebelumnya meskipun resikonya kecil perlu dipertimbangkan.
f. Pelaksana Inspeksi.
Pelaksana inspeksi keselamatan kerja dibedakan menjadi dua (Alkon, 1998) yaitu:
1) Ekstern Perusahaan.
Inspeksi keselamatan kerja dilaksanakan oleh pengawas dari instansi pemerintah atau pihak ketiga.
2) Intern Perusahaan.
Inspeksi yang dilaksanakan oleh orang yang berkepentingan seperti supervisor dan manajer lini dan juga yang memiliki keahlian dibidamg seperti teknisi..
g. Tahap Pelaksanaan Inspeksi.
Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan inspeksi adalah tahap pesiapan, pelaksanaan, pengembangan upaya perbaikan, tindakan korektif dan laporan (Tarwaka, 2008) :
1) Tahap persiapan.
Secara umum, hal yang perlu diperhatikan adalah : a) Memulai dengan sikap positif.
b) Membuat perencanaan kegiatan inspeksi.
c) Menentukan objek yang adakn dilihat dan diamati.
d) Memahami tentang objek yang akan dicari.
e) Membuat checklist.
f) Meninjau kembali laporan inspeksi sebelumnya.
g) Menyiapkan bahan dan alat untuk inspeksi.
2) Tahap pelaksanaan.
a) Berpedoman pada peta pabrik dan checklist.
b) Mencari sesuatu sesuai dengan poin-poin dalam checklist.
c) Mengambil tindakan perbaikan semnetara.
d) Jelaskan dan tempatkan setiap hal dengan jelas.
e) Klasifikasikan hazard.
f) Tentukan faktor penyebab utama adanya tindakan dan kondisi yang tidak aman.
3) Pengembangan Upaya Perbaikan.
Pada saat inspeksi dapat langsung melakukan tindakan seperti : membersihkan tumpahan cairan di lantai, memasang pengaman mesin yang lepas, memindahkan bahan-bahan yang tidak dipakai atau sampah dari lokasi kerja. Tindakan ini sekaligus merupakan pengembangan pada saat inspeksi sekaligus memberikan contoh kepada tenaga kerja.
4) Tindakan korektif.
Sarana korektif yang dilakukan menjadi kurang bermanfaat jika tidak dapat berfungsi dengan baik atau tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.
Untuk itu maka setiap apa yang di rekomendasikan perlu ditindaklanjuti secara konkrit. Upaya Sarana korektif yang dilakukan menjadi kurang bermanfaat jika tidak dapat berfungsi dengan baik atau tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Untuk itu maka setiap apa yang direkomendasikan perlu ditindak lanjuti secara konkrit. Upaya tindak lanjut dapat berupa tindakan dan pengecekan terhadap hal-hal sebagi berikut :
a) Adanya penghargaan terhadap perseorangan atau group kerja yang selalu menjaga tempat kerjanya dengan aman dan selamat.
b) Membuat skala prioritas upaya-upaya perbaikan yang harus dikerjakan.
c) Monitoring terhadap program perbaikan dan anggaran biaya samapi perbaikan selesai.
d) Verifikasikan atau pembuktian bahwa tindakan perbaikan dimulai sesuai jadwal yang telah direncanakan dan dikerjakan oleh orang yang tepat.
e) Monitoring selama pengembangan untuk menjamin bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan apa yang dimaksud.
f) Lakukan uji kelayakan setelah selesai implementasi sarana perbaikan.
g) Lakukan review terhadap implementasi sarana perbaikan secara berkala.
5) Laporan Inspeksi.
Laporan inspeksi disampaika secara tertulis mengenai hasil inspeksi beserta tindakan perbaikan. Laporan tersebut segera disampaikan kepada
pihak-pihak terkait. Macam-macam laporan inspeksi menurut sifatnya ada tiga (Alkon, 1998) yaitu :
a) Laporan Keadaan Darurat.
Laporan yang disusun karena perlu tindakan perbaikan segera..
b) Laporan Berkala.
Mencakup keadaan bahaya yang tidak tergolong emergency yang ditentukan dalam inspeksi berkala. Laporan supaya dibuat dalam 24 jam setelah inspeksi.
c) Laporan Rutin
Mencakup semua hasil pengamatan terutama keadaan yang perlu ditertibkan.
Laporan Inspeksi inspeksi tulisannya harus jelas dan mudah dimengerti, menyebutukan angka secara berurutan untuk hal-hal yang diinspeksikan, mengklasifikasikan setiap bahaya, menempatkan kolom untuk tambahan penyebab dasar dan tindakan perbaiakan untuk setiap item, memberi tanda bagi item yang terbuka dan laporan sebelumnya, diambil tindakan dengan segera dan diperbanyak, diserahkan kepada yang bersangkutan dan disimpen sebagai dokumentasi (Alkon, 1998).
B. Kerangka Pemikiran.
Keterangan :
: Tidak Diteliti.
: Diteliti
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Tempat Kerja
Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)
Sumber Bahaya
Potensi Bahaya Tindakan Tidak
Aman (Unsafe Action)
Inspeksi Terlaksana
Inspeksi
Tercapai zero accident
Inspeksi Tidak Terlaksana Upaya
Pengendalian
Eliminasi Substitusi Rekayasa
Teknik
Administratif APD
Kerugian