i
EXHIBITIONISM DIKAJI DALAM SUDUT PANDANG HUKUM DAN BUDAYA
OLEH:
Dra. Ni Gusti Ayu Putu Suryani, M.Si
UPT-PPKB
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
ii KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang MahaEsa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, karyatulis yang berjudul“Exhibitionism DikajidalamSudut Pandang HukumdanBudaya”
Karya ilmiah ini tidak mungkin dapat terselesaiakan tepat pada waktunya tanpa bantuan dari pihak-pihak yang telah mendukung, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semuapihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu penyelesaian karya tulis ini.
Penulis menyadari karya ini jauh dari sempurna sebab tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dalam penyempurnaannya. Akhir kata semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang Exhibitionism DikajidalamSudut Pandang HukumdanBudaya
Denpasar, 24 Juni 2016
Penulis
iii DAFTAR ISI
HalamanJudul
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan ...2
1.4 Metode Penelitian ...2
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Exhibitionism dari Segi Hukum dan Budaya 2.1.1 Exhibitionism dari Segi Hukum...3
2.1.2 Exhibitionism dari Segi Budaya ...4
2.2 Faktor Penyebab Exhibitionism ...4
2.3 Cara Mengatasi Exhibitionism dari Segi Hukum dan Budaya 2.3.1 Mengatasi Exhibitionism dari Segi Hukum ...5
2.3.2 Mengatasi Exhibitionism dari Segi Budaya ...6
BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan ...7
3.2 Saran ...7
DAFTAR PUSTAKA ...8
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Exhibitionism adalah upaya mempertontonkan organ seksual kepada orang lain secara tak diduga. Kelainan seksual ini sudah termasuk pada kelainan mental yang tergolong pada paraphilia, yaitu obsesi untuk melakukan kegiatan seksual yang “nyeleneh”.Ketika memperlihatkan organ seksualnya, tak jarang pelaku exhibitionism melakukan masturbasi. Beberapa exhibitionist memang sengaja dan secara sadar melakukan dan mempertontonkan organ seksualnya untuk membuat orang lain kaget, sedangkan beberapa lainnya berharap bahwa orang lain terangsang untuk melakukan hubungan seksual setelah diperlihatkan organ seksualnya. Kelainan seksual ini tergolong sebuah bentuk kriminalitas.Pelakunya bisa dijerat oleh hukum dengan tuduhan perlakuan tidak menyenangkan.
Ada beberapa jenis Exhibitionisme diantaranya Flashing: memamerkan buah dada atau alat kelamin dengan cepat dan hanya sesaat dengan cara mengangkat rok atau kaos, memperlihatkan bagian tubuh itu dengan atau tanpa pakaian dalam.Anasyrma:
mengangkat rok tanpa pakaian dalam, jelas untuk memamerkan bagian alat kelaminnya.Mooning: pamer bokong telanjang dengan memelorotkan celana panjang atau celana dalam.Bagi pria hal ini lebih bertujuan untuk humor, untuk mengolok-olok dan bukan untuk tujuan seksual.Sedangkan bagi perempuan, kebalikannya, cenderung untuk benar-benar bermaksud untuk membangkitkan perhatian dan gairah seksual si target.Martymachlia: melakukan atraksi seksual /masturbasi untuk menarik perhatian orang agar menonton aksinya.Telephone scatalogia: Diduga merupakan jenis exhibitionism meskipun tanpa melibatkan pemandangan fisik.
Judul makalah ini sengaja dipilih untuk memberi pengetahuan baru bagi mahasiswa tentang adanya gangguan jiwa Exhibitionism ini serta untuk mengatasi maraknya kasus Exhibitionism di sekitar kita.
2 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka adapun beberapa rumusan permasalahannya yang akan dibahas dalam karya tulis ini yaitu:
1. Apakah Pengertian Exhibitionism dari segi Hukum dan Budaya?
2. Apakah Faktor penyebab Exhibitionism?
3. Bagaimana cara mengatasi Exhibitionism dari Segi Hukum, Budaya?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi tugas mata kuliah pendidikan Agama
2. Mengetahui Pengertian Exhibitionism dari Segi Hukum dan Budaya 3. Mengetahui Faktor penyebab Exhibitionism
4. Mampu menjelaskan cara untuk mengatasi kelainan Exhibitionism dari segi Hukum dan Budaya
1.4 Teknik Penulisan 1.4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penilaian deskriptifdengan mengambil data menggunakan metode pengamatan secara langsung dalam masyarakat. Penelitian deskriptifdapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan keadaan subyek dan obyek penelitin pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya.
1.4.2 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kepustakaan.Dengan mempertimbangkan objek dan permasalahan yang diangkas, maka penulis menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan mengumpulkan bahan pustaka yang berkaitan dengan objek penelitian.Selain itu penulis juga mengadakan studi pustaka dengan mencari materi-materi yang berkaitan dengan objek di web site-web site di internet.
3 1.4.3 Prosedur Penulisan
a. Sumber dan Jenis Data
Data-data yang dipergunakan dalam karya ilmiah ini bersumber dari berbagai referensi atau literatur yang relevan dengan topik permasalahanyang dibahas.
b. Pengumpulan Data
Dalam penulisan karya ilmiah ini digunakan metode wawancara, dan kuesioner. Selain itu, dalam karya inijuga digunakan studi pustaka yang didasarkan atas hash studi terhadapberbagai literatur yang telah teruji validitasnya, relevan dengan kajian tulisan serta mendukung uraian/analisis pembahasan.
1.4.4 Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul dilakukan pengolahan data dengan menyusun secara sistematis dan logis.Teknik analisis data yang dipilih adalah analisis deskriptifargumentatif, dengan tulisan bersifat deskriptif menjelaskan tentang Exhibitionism Dikaji dalam Sudut Pandang Hukum dan Budaya.
4 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Exhibitionism dari Hukum dan Budaya 2.1.1Exhibitionism dari Segi Hukum
Kelainan Exhibitionism ini tergolong sebuah bentuk kriminalitas.Pelakunya bisa dijerat oleh hukum dengan tuduhan perlakuan tidak menyenangkan.Dalam Black’s Law Dictionary, exhibitionism diartikan sebagai The Incedent display of one’s body atau mempertontonkan secara tidak sopan salah satu bagian tubuhnya.
Walaupun kadar eksibisionisme masih dalam kadar yang rendah, namun tidak pantas secara etika dan hukum seseorang menampakkan seluruh atau sebagian bentuk tubuhnya sehingga menampakkan ketelanjangan. Secara etika, sanksi bagi para pelakunya adalah sanksi moral yang bersifat ke dalam diri si pelakunya.Namun secara hukum, ada sanksi hukum yang cukup berat berupa hukuman badan dan/atau denda. Di Indonesia, pelaku eksibisionis dapat dilakukan upaya kriminalisasi melalui beberapa instrumen hukum positif yang berlaku di Indonesia. Secara lex specialis, Pasal 10 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi memuat delik eksibisionisme. Bunyi pasal tersebut adalah "Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya". Sanksi pidana atas kejahatan eksibisionisme ini bisa dilihat pada Pasal 36 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Materi Pasal 36 itu adalah "Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)". Eksibisionisme dalam UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi ini merupakan kejahatan.UU No.
44 tahun 2008 telah melakukan upaya kriminalisasi terhadap perilaku eksibisionisme.Delik eksibisionisme yang terdapat dalam UU No. 44 tahun 2008 adalah delik umum, bukan delik aduan menurut penulis. Sehingga bila terdapat perilaku eksibisionisme dalam masyarakat, polisi harus segera bertindak dan
5 melakukan proses hukum terhadap pelakunya. Delik eksibisionisme dalam UU No. 44 tahun 2008 telah diatur secara komprehensif untuk melindungi korban aksi pornografi, terutama anak-anak dan perempuan. Dalam KUHP, UU Perlindungan Anak, UU Penyiaran, dan UU Pers, tidak diatur secara khusus mengenai perilaku eksibisionisme melainkan ketentuan-ketentuan yang bersifat umum dan tidak mungkin menyentuh pelaku eksibisionisme.
2.1.2Exhibitionism dari Segi Budaya
Pandangan ini meyakini bahwa kita harus mempertimbangkan konteks- konteks sosial yang lebih luas di mana suatu perilaku muncul untuk memahami akar dari perilaku abnormal seperti halnya Exhibitionism.Pengaruh budaya atau sosiokultural meliputi keadaan obyektif dalam masyarakat atau tuntutan dari masyarakat yang dapat berakibat menimbulkan tekanan dalam individu dan selanjutnya melahirkan berbagai bentuk gangguan seperti menjadi korban prasangka dan diskriminasi berdasarkan penggolongan tertentu seperti berdasarkan agama, ras, suku dll.Penyebab perilaku exhibitionism dapat ditemukan pada kegagalan masyarakat dan bukan pada kegagalan orangnya. Masalah-masalah psikologis bisa jadi berakar pada penyakit sosial masyarakat, seperti kemiskinan, perpecahan sosial, diskriminasi ras, gender,gayahidup,dansebagainya.
2.2 Faktor Penyebab Exhibitionism
Penyebab ekshibisionisme masih belum jelas. Namun, ada beberapa teori tentang penyebab ekshibisionisme yaitu:
1. Teori biologi. Yang memegang peranan dalam hal ini adalah hormon testosteron, dimana hormon ini mempengaruhi pengendalian seksual pada pria maupun wanita, meningkatkan kerentanan pada pria untuk melakukan sebuah perilaku penyimpangan seksual.
2. Teori penelitian. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perlakuan kejam terhadap anak-anak dan ketidakharmonisan keluarga merupakan faktor risiko terjadinya exhibisionisme.
3. Teori psikoanalitik. Teori ini berdasarkan asumsi bahwa anak laki-laki terpisah secara psikologis dengan ibu mereka. Orang dengan ekshibisionisme menganggap ibu mereka malakukan penolakan terhadap mereka karena perbedaan kelamin.
6 Sehingga, mereka bertumbuh dengan hasrat memaksa wanita untuk menerima mereka dengan cara melihat alat genital mereka.
4. Trauma kepala. Ada sejumlah kasus pria menjadi ekshibisionis setelah mendapat trauma kepala tanpa riwayat alkohol dan kelainan seksual.
5. A childhood of Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Hubungan antara ADHD dengan eksibisionisme belum diketahui, tapi penelitian di Harvard menemukan bahwa pasien dengan multiple parafilia mempunyai kemungkinan yang lebih besar mengalami ADHD di masa anak-anak daripada laki-laki dengan satu parafilia saja.
2.3Cara mengatasi Exhibitionism dari segi Hukum, Agama 2.3.1 Mengatasi Exhibitionism dari Segi Hukum
Kelainan seksual ini tergolong sebuah bentuk kriminalitas.Pelakunya bisa dijerat oleh hukum dengan tuduhan perlakuan tidak menyenangkan.Exhibitionism pada dasarnya adalah penyimpangan seksual yang efek negatifnya terkena pada diri orang yang melakukannya. Namun pada prakteknya, exhibitionism dapat menjadi hal yang merugikan pihak lain dan dianggap sebagai serangan atau ancaman bagi orang lain.
Dalam konteks praktis ini dapat muncul exhibitionism yang digolongkan sebagai kejahatan. Maka dari itu, cara meengatasi Exhibitionism dari segi hukum adalah memberi hukuman bagi pelaku exhibitionism yaitu yang diatur pada Pasal 10 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Bunyi pasal tersebut adalah "Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya". Sanksi pidana atas kejahatan eksibisionisme ini bisa dilihat pada Pasal 36 UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Materi Pasal 36 itu adalah "Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)" dengan begitu pelaku akan jera dan tak akan mengulang perilaku menyimpangnya tersebut.
7 2.3.2 Mengatasi Exhibitionism dari Segi Budaya
Exhibitionism sangat dipengaruhi oleh budaya. Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk kepribadian seseorang. Berbagai macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Maka dari itu pentingnya pengenalan budaya-budaya baik sangat perlu diterapkan saat masih anak-anak.Pendidikan seksual sejak dini dapat juga mengatasi dan mengurangi berbagai penyimpangan seksual seperti halnya exhibitionism ini.
8 BAB III
KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan
Ekshibisionisme adalah suatu gangguan mental yang ditandai dengan adanya dorongan untuk memperlihatkan organ seksual kepada orang asing atau kepada orang banyak di tempat umum tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab. Apabila yang menyaksikan itu terkejut , takut atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat. Penyebab dari kelainan Ekshibisionisme masih belum dapat diketahui dengan pasti penjelasnya karena sangat jaramg sekali pelaku mengatakan bahwa dirinya mengalami kelainan tersebut, karena banyak factor diantaranya rasa malu untuk mengakui dan merasa takut akan dikucilkan.
Ekshibisionisme biasanya diterapi dengan kombinasi antara psikoterapi, medikasi dan terapi tambahan lainnya.
3.2 Saran
Dari uraian makalah diatas, dapat dirumuskan saran sebagai berikut :
Perilaku Exhibitionism harus di atasi sejak dini. Salah satu caranya adalah dengan pendidikan seksual sejak dini dan penanaman budaya-budaya baik yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.Setiap orang harus selalu waspada dan tanggap terhadap masalah di lingkungannya.Apabila suatu saat melihat kejadian yang merujuk pada exhibitionism, maka di sarankan untuk segera melaporkan pada pihak yang berwajib agar pelaku jera dan mendapat hukuman yang setimpal.
9 DAFTAR PUSTAKA
Smith, Stevenson; Guthrie, Edwin. The Journal of Abnormal Psychology and Social Psychology, Vol 17(2), Jul-Sep 1922, 206-209
Siobhan Hugh,Jones,(1991). “Sexual Exhibitionism as ‘Sexuality and Individuality’: A Critique of Psycho-Medical Discourse from the Perspectives of Women who Exhibi”
http://www.kompasiana.com/advokat-faridmuadz/jerat-hukum-
untukeksibisionis_5519fa29a33311541db65922diakses pada tanggal 16 April 2016
https://bilikml.wordpress.com/2010/12/14/exhibitionism/ diakses pada tanggal 18 April 2016
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi