Laporan Ekonomi & Keuangan Bulanan / Monthly Report 1 FEBRUARI 2019
PERKEMBANGAN HARGA
Aktivitas sektor riil perekonomian dunia secara umum mengalami perbaikan pada bulan Maret 2019. Hal ini terlihat dari peningkatan perdagangan global yang ditunjukkan oleh Baltic Dry Index serta peningkatan indeks manufaktur di beberapa negara maju, seperti AS, Inggris, dan Jepang, maupun negara berkembang, seperti Tiongkok dan Indonesia. Peningkatan ini didorong oleh meredanya tensi perang dagang antara AS-Tiongkok, dimana kedua negara diprediksi akan menandatangani kesepakatan dalam waktu dekat. Indeks PMI Manufaktur Tiongkok yang mencatatkan nilai diatas 50 untuk pertama kalinya sejak Desember 2018 memberikan harapan positif bahwa perekonomian Tiongkok mulai menunjukkan sinyal perbaikan.
Penyelesaian masalah perang dagang juga memberi sentimen positif bagi investor yang berdampak pada kinerja pasar keuangan, terutama pasar saham di negara berkembang. Kinerja aliran modal masuk ke negara berkembang terus menunjukkan peningkatan, terutama di sepanjang pertengahan Maret, walaupun di akhir bulan aliran modal masuk mengalami sedikit penurunan. Selain itu, kinerja pasar obligasi juga relatif menunjukkan performa yang stabil, meskipun pada akhir bulan terdapat peningkatan pada volatilitasnya. Hal ini didorong oleh yield obligasi Pemerintah AS jangka waktu 10 tahun berada di bawah yield jangka pendeknya.
Harga komoditas energi dan metal secara umum mengalami peningkatan pada bulan Maret, kecuali komoditi batubara dan perak, sedangkan komoditas makanan dan pertanian cenderung stagnan. Kenaikan harga komoditas energi, khususnya minyak mentah, RINGKASAN EKSEKUTIF
Aktivitas sektor riil perekonomian dunia secara umum mengalami perbaikan pada bulan Maret didorong meredanya tensi perang dagang antara AS-Tiongkok.
Maret 2019, inflasi mencapai 0,11% (mtm) atau 2,48% (yoy). 6 kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan kelompok bahan makanan masih tercatat mengalami deflasi. Tekanan inflasi terutama disumbang oleh komoditas hortikultura.
Nilai Tukar Rupiah selama bulan Maret Rata-rata mencapai Rp14.211/USD bergerak cukup stabil dengan volatilitas yang cukup terjaga, sementara itu Sektor perbankan Indonesia masih diwarnai isu pengetatan likuiditas
Surplus Neraca Perdagangan bulan Maret 2019 sebesar USD540 juta (surplus tertinggi sejak Juli 2018), didorong oleh penurunan defisit neraca migas dan peningkatan surplus neraca nonmigas.
Sampai dengan bulan Maret 2019 indikator konsumsi dan investasi menunjukkan sinyal yang beragam, diantaranya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 124,5 menunjukkan optimisme konsumen tetap terjaga, Indeks Penjualan Retail menunjukkan penjualan eceran yang masih tumbuh 8% (yoy), sementara konsumsi semen tumbuh negatif -0,6%
(yoy).
APRIL 2019
Laporan Ekonomi & Keuangan Bulanan / Monthly Report 2 disebabkan kebijakan OPEC+ yang menurunkan produksinya. Sedangkan pemenuhan kebutuhan pembangunan infrastruktur di beberapa negara berkembang, terutama di Asia, masih jadi faktor pendorong kenaikan harga metal. Di sisi lain, penurunan pada harga komoditas batubara disebabkan oleh adanya peningkatan produksi batubara dalam negeri Tiongkok yang mempengaruhi permintaan terhadap batubara. Selain itu, adanya kebijakan pengurangan penggunaan batubara di beberapa wilayah, seperti Eropa dan Tiongkok, atas alasan keberlangsungan lingkungan juga berpengaruh terhadap turunnya permintaan batubara. Hal ini berpotensi mempengaruhi ekspor Indonesia, mengingat batubara merupakan salah satu komoditi unggulan. Untuk komoditas makanan dan pertanian, stabilnya harga disebabkan adanya kenaikan harga susu yang juga diimbangi dengan penurunan harga pada minyak sayur serta gula.
NILAI TUKAR DAN PERKEMBANGAN SEKTOR KEUANGAN
Rata-rata Nilai Tukar Rupiah pada bulan Maret 2019 sebesar Rp14.211/USD, sedikit melemah dibanding dengan bulan Februari (Rp14.035). Nilai Tukar Rupiah selama bulan Maret bergerak cukup stabil dengan volatilitas yang rendah. Pergerakan rupiah pada bulan Maret antara lain dipengaruhi oleh perkiraan pertumbuhan perekonomian global yang tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Dari sisi arus modal, masih terjadi arus modal masuk neto baik melalui Surat Berharga Negara maupun pasar saham. Namun demikian, arus modal masuk lebih kecil dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya. Stabilitas rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan cadangan devisa Indonesia pada bulan Maret 2019 mencapai US$ 124,54 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Februari yang sebesar US$123,27 miliar. Peningkatan cadangan devisa tersebut dipengaruhi antara lain oleh penerimaan valas lainnya.
Sektor perbankan Indonesia masih diwarnai isu pengetatan likuiditas meskipun uang beredar dalam arti luas di bulan Februari mulai membaik. Kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat kesehatan sektor keuangan dan aktivitas sektor riil dan ekonomi. Laju pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) melambat menjadi hanya 2,6% (Jan2019: 3,8%) sementara dalam arti luas (M2) tumbuh 6,0% (Jan 2019:
5,5%). Hal ini terutama ditopang oleh pertumbuhan uang kuasi dan surat berharga non-saham. Sementara berdasarkan faktor pembentuknya, peningkatan pertumbuhan M2 disebabkan oleh perbaikan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih dan akselerasi pertumbuhan kredit. Disisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2019 masih dalam tren perlambatan pertumbuhan dengan tumbuh 6,63% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan suku bunga acuan global dan domestik telah direspon oleh perbankan dengan menaikan suku bunga simpanan/deposito. Suku bunga antar bank juga terdampak atas pengetatan likuiditas. Pada Desember 2018, tingkat suku bunga PUAB sebesar 5,90%. Angka ini bergerak dan mencapai 5,94% di Maret 2019. Sementara itu, suku bunga kredit belum menunjukkan peningkatan mengikuti kenaikan suku bunga acuan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan persaingan perolehan dana di masyarakat serta potensi peningkatan biaya kredit ke depan dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan DPK yang dapat diikuti oleh kenaikan beban bunga. Hal tersebut akan menjadi risiko bagi kegiatan investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Laju pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Februari 2019 tumbuh 12% sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya 11,9%. Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) yang masih bergerak stabil menunjukkan persepsi yang baik terhadap aktivitas ekonomi Indonesia. Meskipun sedikit melambat, Kredit Konsumsi (KK) tumbuh stabil. Sementara secara sektoral, sektor perdagangan dan manufaktur masih menjadi penopang pertumbuhan kredit meskipun masih mencatatkan pertumbuhan yang relatif rendah. Pertumbuhan kredit sektoral pada bulan Februari datang dari sektor pertambangan (28,8%), sektor konstruksi (23.1%), dan sektor utilitas (12,9%).
Laporan Ekonomi & Keuangan Bulanan / Monthly Report 3
Dari sisi Likuiditas, sektor perbankan masih mengalami tekanan yang disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan DPK Perbankan disaat pertumbuhan kredit yang masih tinggi. LDR perbankan pada Februari 2019 masih tinggi sebesar 94,08% (Feb 2018: 89,3%, Feb 2017: 89,4%). Peningkatan kredit sektor riil dapat terhambat akibat tingkat LDR yang cukup tinggi, dimana kebutuhan pendanaan bagi pertumbuhan investasi masih dibutuhkan. Disisi lain, meskipun masih dalam kondisi yang baik, kondisi NPL perbankan Indonesia harus diwaspadai. Per Januari 2019, Rasio NPL tercatat 2,6% (Des 2018: 2,4%) dengan Special Mention Loan sebesar 3.9% dari total kredit sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 23.2%.
Mengamati kondisi ini, perbankan Indonesia masih cenderung memperkuat modal di tengah likuiditas yang ketat. Perbankan mengorbankan Net Interest Margin (NIM) yang memang sudah terlalu tinggi untuk menjaga daya saing di tengah pengetatan likuiditas. (Februari tercatat NIM turun mencapai 4,9%). Untuk menjaga risiko, perbankan juga diperkirakan akan menyalurkan kredit dengan lebih hati-hati.
PERKEMBANGAN INFLASI
Maret 2019, terjadi inflasi sebesar 0,11% (mtm) atau 0,35%
(ytd) atau 2,48% (yoy), lebih rendah dibandingkan Maret 2018 yang inflasi sebesar 0,20% (mtm) atau 0,99% (ytd) atau 3,40%
(yoy). Inflasi terjadi pada 6 kelompok pengeluaran, namun masih pada tingkat yang terkendali. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok sandang dan kesehatan. Sementara kelompok bahan makanan tercatat masih mengalami deflasi.
Meskipun kelompok bahan makanan secara umum mengalami deflasi, produk komoditas hortikultura mengalami peningkatan harga. Peningkatan harga terjadi pada komoditas bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan harga bawang merah dan cabai merah, diantaranya berkurangnya pasokan setelah panen pada bulan Februari, curah hujan yang tinggi, serta gangguan distribusi akibat banjir di beberapa daerah. Disisi lain, keterlambatan penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) sebagai syarat impor menyebabkan terbatasnya pasokan bawang putih. Meskipun demikian, terjadi penurunan harga pada beras, daging dan telur ayam ras, serta ikan segar yang memberikan sumbangan deflasi lebih besar.
Penurunan harga beras di bulan Maret terjadi seiring dengan panen raya padi di berbagai wilayah. Hal ini telah diindikasikan dari penurunan harga gabah di tingkat petani dan penggilingan sejak bulan Februari dan semakin dalam di bulan Maret.
Sementara itu, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan masih memberikan tekanan inflasi seiring dengan masih berlanjutnya tekanan tarif angkutan udara. Meskipun
sudah berada pada periode low season, tarif angkutan masih melanjutkan kenaikan karena tingginya biaya operasional.
Kebijakan Kementerian Perhubungan melalui Permenhub Nomor 20 Tahun 2019 terkait perubahan tarif batas bawah yang sebelumnya 30% menjadi 35% dari tarif batas atas diperkirakan berdampak pada penurunan fluktuasi harga tiket pesawat.
Namun, perubahan kebijakan tersebut tidak secara signifikan mempengaruhi harga tiket pesawat.
Secara tahunan, komponen inti, administered prices, dan volatile food tercatat mengalami inflasi pada level yang terjaga.
Komponen inti terjaga pada kisaran 3%, menunjukkan masih terjaganya kondisi daya beli masyarakat. Komponen administered prices juga masih terjaga pada kisaran 3%, meskipun terdapat tekanan akibat peningkatan tarif angkutan udara. Namun, tekanan ini diredam oleh dampak lanjutan penurunan harga bensin nonsubsidi dan tarif listrik seiring dengan pemberian diskon untuk pelanggan golongan 900 VA rumah tangga mampu. Sementara itu, tekanan inflasi komponen volatile food tercatat sangat rendah seiring melimpahnya pasokan bahan pangan. Namun, survei Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan tekanan kenaikan harga dalam tiga bulan ke depan yang dipengaruhi oleh peningkatan permintaan saat masa Idul Fitri.
PERKEMBANGAN SEKTOR RIIL Kinerja Perdagangan
Surplus Neraca Perdagangan bulan Maret 2019 sebesar USD540 juta, tercatat sebagai surplus tertinggi sejak Juli 2018. Hal ini disebabkan penurunan defisit neraca migas dan peningkatan surplus neraca nonmigas. Kenaikan harga minyak mentah dunia dan kebijakan untuk menjaga pasokan dalam negeri melalui pembelian minyak mentah dari K3S domestik telah menekan defisit neraca migas. Sementara peningkatan nilai ekspor nonmigas yang lebih tinggi telah mendorong surplus neraca nonmigas yang lebih besar. Nilai Ekspor Indonesia pada Maret 2019 sebesar USD14,03 miliar. Nilai ekspor bulan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (11,71% mtm), namun masih lebih rendah dibandingkan Maret 2018 (-10,01% yoy). Cukup tingginya nilai ekspor di bulan ini dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor nonmigas (13,00% mtm) di tengah rendahnya ekspor migas (- 1,57% mtm). Peningkatan ekspor nonmigas pada bulan ini didorong oleh kenaikan volume ekspor seperti batu bara dan bijih tembaga. Sementara ekspor migas masih berada dalam tren menurun seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk terus melanjutkan pemenuhan kebutuhan minyak domestik dan B20.
Sementara itu nilai impor di Maret 2019 mencapai USD13,49 miliar atau tumbuh 10,31% (mtm) dibandingkan bulan lalu yang sebesar USD13,23 miliar. Impor nonmigas tumbuh positif 12,24% (mtm) di tengah kontraksi impor migas -2,70% (mtm).
Kenaikan impor nonmigas bersumber dari impor mesin/pesawat mekanik termasuk laptop dan water boilers serta besi/baja dan serealia. Sementara impor migas melanjutkan penurunan seiring dengan penerapan kebijakan pengendalian impor migas yang telah dijalankan sejak akhir tahun 2018.
Secara golongan penggunaan, impor barang konsumsi tumbuh tinggi. Memasuki periode persiapan HBKN, beberapa barang konsumsi seperti buah korma, anggur dan sayuran menunjukkan peningkatan yang signifikan. Barang konsumsi yang juga meningkat berupa mesin pendingin ruangan (AC). Impor bahan baku masih tumbuh positif dengan kontribusi terbesar dari mesin/peralatan listrik, besi/baja dan serealia (bahan baku industri makanan minuman). Sementara impor barang modal masih didominasi oleh Mesin/pesawat mekanik dan perangkat optik (produk medis).
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Maret 2019 masih mengalami defisit USD193,4 juta. Kondisi ini berkebalikan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus USD314,4 juta. Defisit ini disebabkan oleh rendahnya surplus nonmigas yang sebesar USD1,15 miliar di tengah penyempitan defisit migas yang sebesar USD1,34 miliar. Namun dengan metode FOB, neraca perdagangan masih tercatat surplus sekitar USD1,57 miliar, dan akan berkontribusi dalam menahan laju defisit Transaksi Berjalan di triwulan I 2019.
IndikatorPertumbuhan EKonomi
Sampai dengan bulan Maret 2019 indikator konsumsi dan investasi menunjukkan sinyal yang beragam. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Maret 2019 menunjukkan optimisme konsumen tetap terjaga, dengan berada pada level optimis (di atas 100) yakni sebesar 124,5, meski sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 125,1. Optimisme konsumen ditopang oleh persepsi kondisi saat ini yang tetap kuat dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi pada enam bulan mendatang yang tetap tinggi. Sedangkan penurunan indeks ini disebabkan menurunnya keyakinan konsumen untuk membeli bahan tahan lama.
Indeks Penjualan Retail pada bulan Maret menunjukkan penjualan eceran tumbuh 8,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 9,1% (yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan penjualan sub kelompok sandang dan kelompok suku cadang dan aksesori. Sementara itu, pada Februari 2019 penjualan sepeda motor tumbuh 18,1% (yoy) melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 20,6% (yoy), tetapi lebih tinggi dibanding bulan yang sama di tahun sebelumnya yang terkontraksi -3,1% (yoy). Penjualan mobil penumpang pada Maret 2019 masih terkontraksi dengan pertumbuhan -5,32%
(yoy), tetapi menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya yang terkontraksi hingga -13,9% (yoy). Penjulan mobil niaga juga mengalami kontraksi pertumbuhan hingga -29,5% (yoy) pada bulan Maret 2019. Kontraksi penjualan di awal tahun 2019 ini merupakan kontraksi pertama setelah tren penjualan positif sejak tahun 2017. Penurunan penjualan terjadi pada hampir seluruh kategori mobil niaga termasuk kendaraan truk dan pick-up.
Indikator konsumsi semen dalam negeri kembali tumbuh negatif di bulan Maret sebesar -0,6% (yoy). Konsumsi semen dalam negeri masih didorong oleh pembangunan di Pulau Jawa khususnya di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Share konsumsi semen Pulau Jawa sebesar 55,5% dari total konsumsi semen dalam negeri. Konsumsi listrik melanjutkan tren pertumbuhan yang stabil. Pada bulan Februari 2019 konsumsi listrik tumbuh sebesar 6,20% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan bulan yang sama di tahun sebelumnya yang masing-masing tumbuh 5,81% (yoy) dan 3,72% (yoy). Pertumbuhan konsumsi listrik tertinggi terjadi pada konsumsi listrik sosial sebesar 12,70% (yoy), diikuti konsumsi listrik bisnis sebesar 7,90%
(yoy). Konsumsi listrik rumah tangga masih mendominasi konsumsi listrik nasional, dengan share 41% dari total konsumsi listrik nasional.
Laporan Ekonomi & Keuangan Bulanan / Monthly Report 5 Tabel Indikator Moneter dan Sektor Riil
Tabel Inflasi
Tabel Nilai Tukar Rupiah/Dollar AS
Sumber: BPS, diolah
2018 2019
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret EoP 13.707 13.756 13.877 13.951 14.404 14.413 14.711 14.929 15.227 14.339 14.481 14.072 14.062 14.244 Ytd 13.478 13.573 13.631 13.714 13.746 13.855 13.949 14.048 14.179 14.225 14.250 14.163 14.104 14.139
Sumber: BPS, diolah
2018 2019
ITEMS Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb
Pertumbuhan Uang Beredar (%, yoy)
M1 11,35 12,98 11,58 10,17 10,09 8,24 6,98 8,59 8,23 6,40 5,02 4,77 3,83 2,65
M2 8,40 8,27 7,52 7,46 6,02 5,91 6,37 5,94 6,71 7,25 6,57 6,29 5,51 5,98
Pertumbuhan Kredit Perbankan (%, yoy) 7,45 8,25 8,49 8,90 10,23 10,65 11,19 11,91 12,43 13,09 11,88 11,72 11,9 12,0 Kredit Modal Kerja 7,17 8,49 8,41 8,24 10,40 11,01 11,39 12,65 13,56 14,15 13,67 13,07 12,86 - Kredit Investasi 4,56 4,64 5,32 7,54 8,14 10,10 10,63 11,31 11,36 13,06 9,41 10,85 12,58 - Kredit Konsumsi 10,49 11,09 11,41 11,15 11,77 10,55 11,34 11,25 11,52 11,42 11,17 10,30 9,89 - Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (%, yoy) 8,36 8,44 7,66 8,06 6,47 6,99 6,89 6,88 6,60 7,62 7,29 6,51 6,44 6,63
Suku bunga 7drr (%) 4,25 4,25 4,25 4,25 4,75 5,25 5,25 5,50 5,75 5,75 6,00 6,00 6,00 6,00 Suku bunga Kredit Bank Komersil (%)
Kredit Modal Kerja 10,72 10,69 10,59 10,53 10,51 10,49 10,55 10,48 10,59 10,47 10,48 10,34 10,52 10,55 Kredit Investasi 10,51 10,43 10,38 10,30 10,29 10,35 10,36 10,37 10,54 10,38 10,51 10,38 10,38 10,36 Kredit Konsumsi 12,64 12,60 12,48 12,40 12,34 12,30 12,20 11,96 11,90 11,83 11,80 11,73 11,72 11,68
NPL Bank Umum 2,86 2,88 2,75 2,79 2,79 2,67 2,73 2,74 2,66 5,65 2,67 2,37 2,56 2,59
CAR Bank Umum 23,64 23,24 22,65 22,25 22,19 22,01 22,56 22,83 22,91 22,96 23,33 22,97 23,22 -
Indeks Keyakinan Konsumen 126,1 122,5 121,6 122,2 125,1 128,1 124,8 121,6 122,4 119,2 122,7 127,0 125,5 125,1 Indeks Penjualan Ritel 203,5 200,0 209,1 215,0 232,0 237,8 216,0 214,3 210,8 208,1 213,7 236,3 218,1 218,2 Penjualan mobil penumpang (%, yoy) 12,0 -1,5 -7,0 11,3 10,5 -13,9 34,0 6,9 7,9 12,2 -1,87 -1,69 -23,9 -13,9 Pertumbuhan konsumsi semen (%, yoy) 10,1 5,9 3,5 6,0 3,3 -11,1 12,6 0,6 7,4 6,4 2,6 4,9 -1,3 2,2 Penjualan Motor (%, yoy) 1,8 -3,1 13.0 49,7 10,9 -1,2 10,3 2,4 2,0 5,3 8,6 8,9 20,6 18,1 Penjualan mobil komersial (%, yoy) 35,1 14,9 22,3 23,7 -2,5 10,7 34,8 20,7 19,8 12,3 14,7 7,3 7,7 -16,8
Sumber: CEIC, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, diolah
2018 2019
Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret MtM 0,17% 0,20% 0,10% 0,21% 0,59% 0,28% -0,05% -0,18% 0,28% 0,27% 0,62% 0,32% -0,08% 0,11%
Ytd 0,79% 0,99% 1,09% 1,30% 1,90% 2,18% 2,13% 1,94% 2,22% 2,50% 3,13% 0,32% 0,24% 0,35%
YoY 3,18% 3,40% 3,41% 3,23% 3,12% 3,18% 3,20% 2,88% 3,16% 3,23% 3,13% 2,82% 2,57% 2,48%
Tabel Neraca Perdagangan (USD miliar)
Items Jan Feb Mar Apr Mei Jun 2018Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan 2019 Feb Mar
Ekspor 14.55 14.13 15.59 14.54 16.21 12.97 16.29 15.87 14.92 15.89 14.91 14.33 13.87 12,53 14,03
Non Migas 13.23 12.74 14.25 13.32 14.57 11.29 14.86 14.44 13.64 14.36 13.53 12.59 12.63 11,44 12,93
Pertanian 0.26 0.24 0.28 0.30 0.31 0.20 0.30 0.30 0.32 0.32 0.32 0.30 0,23 0,27
Manufaktur 10.62 10.24 11.18 10.68 11.75 8.56 11.84 11.78 10.89 11.63 10.76 10.17 9,41 10,31
Pertambangan 2.36 2.27 2.78 2.34 2.51 2.54 2.72 2.35 2.43 2.41 2.46 2.12 1,80 2,36
Migas 1.32 1.39 1.34 1.22 1.64 1.68 1.43 1.43 1.29 1.54 1.37 1.75 1.23 1,09 1,09
Impor 15.31 14.19 14.46 16.16 17.66 11.27 18.30 16.82 14.61 17.67 16.90 15.36 15.03 12,20 13,49
Non Migas 13.05 11.95 12.22 13.83 14.80 9.13 15.64 13.77 12.32 14.75 14.04 13.34 13.34 10,65 11,95
Migas 2.26 2.23 2.24 2.33 2.86 2.14 2.66 3.05 2.29 2.92 2.87 2.03 1.69 1,55 1,54
BECBarang Konsumsi 1.36 1.38 1.20 1.50 1.73 1.01 1.71 1.56 1.33 1.50 1.43 1.47 1.22
1,01 1,15
Bahan Baku 11.47 10.55 10.80 12.03 13.13 8.59 13.70 12.63 10.90 13.41 12.87 11.22 11.45 9,01 10,14
Barang Modal 2.48 2.25 2.46 2.63 2.80 1.67 2.88 2.63 2.38 2.75 2.60 2.68 2.35 2,19 2,20
Neraca Perdagangan (0.76) (0.05) 1.12 (1.63) (1.45) 1.71 (2.01) (0.94) 0.31 (1.77) (2.00) (1.03) (1.16)
Non Migas 0.18 0.79 2.02 (0.52) (0.24) 2.17 (0.78) 0.67 1.32 (0.39) (0.50) (0.75) (0.70) 0,79 0,99
Migas (0.94) (0.84) (0.90) (1.11) (1.22) (0.46) (1.23) (1.61) (1.00) (1.38) (1.50) (0.28) (0.45) -0,46 (0,45)
Sumber: BPS, diolah
Pengarah : Kepala Badan Kebijakan Fiskal
Penanggung Jawab : Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro
Penyusun : Thomas NPD Keraf, Andriansyah, Bhayu Purnomo, Raditiyo Harya Pamungkas, Indra Budi Sucahyo, Asep Nurwanda, Abdul Aziz, Immanuel Bekti Hartanto Sumber Data : CEIC, BPS, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan
Dokumen ini disusun hanya sebatas sebagai informasi. Semua hal yang relevan telah dipertimbangkan untuk memastikan informasi ini benar, tetapi tidak ada jaminan bahwa informasi tersebut akurat dan lengkap serta tidak ada kewajiban yang timbul terhadap kerugian yang terjadi atas tindakan yang dilakukan dengan mendasarkan pada laporan ini. Hak cipta Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.