• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN NASIONAL IPA SEKOLAH DASAR Tyas Aristi Dwi Hapsari, Anatri Desstya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL UJIAN NASIONAL IPA SEKOLAH DASAR Tyas Aristi Dwi Hapsari, Anatri Desstya"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

175 ANALISIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA SOAL

UJIAN NASIONAL IPA SEKOLAH DASAR Tyas Aristi Dwi Hapsari, Anatri Desstya

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

[email protected]; [email protected]

Abstrak: Artikel penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat Higher Order Thinking Skill (HOTS) pada soal ujian nasional mapel IPA SD tahun 2018. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif deskriptif dengan desain analisis isi dan dokumen.

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi. Dokumen yang dianalisis adalah soal ujian nasional mata pelajaran IPA SD tahun 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 40 soal terdapat 9 soal bertipe HOTS (22,5%) dan prosentase yang lainnya masih pada tahap MOTS dan LOTS. Soal HOTS pada ujian nasional mapel IPA tahun 2018 ini ditandai dengan soal yang memerlukan penalaran dengan kemampuan tingkat tinggi peserta didik, tidak hanya sebatas mengingat.

Kata kunci: HOTS, kemampuan berfikir tinggi, soal UN IPA SD

A. PENDAHULUAN

Perkembangan zaman terus berjalan, seiring dengan itu permerintah selalu mengupayakan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu peningkatan mutu dalam pendidikan adalah pengembangan kurikulum yang termasuk di dalamnya ada system penilaian. Kurikulum yang digunakan sekarang adalah kurikulum 2013 yang mana di dalam kurikulum tersebut terdapat suatu model penilaian yang berstandar internasional yang mempunyai ciri-ciri penilaian tersebut menekankan peserta didik pada kemampuan berfikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill). Menurut Resnick, Higher Order Thinking Skill (HOTS) adalah proses berfikir yang memerlukan pemikiran tingkat tinggi dalam mengurai materi, membuat kesimpulan, membangun sampai mengaplikasikannya (Ariyana, 2018).

Konsep penilaian berbasis HOTS berfokus pada tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan tetapi juga akan lebih mengarah pada pembentukan kemampuan peserta didik secara mandiri dalam berfikir kritis, kreatif dan inovatif dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan peserta didik mempunyai kemampuan dalam berfikir kritis dan inovatif serta menjadi bangsa yang bermartabat dan juga

(2)

176 mencerdaskan bangsa. Tujuan pendidikan akan tercapai jika mengikuti aturan pemerintah salah satunya dengan melakukan kegiatan ujian nasional.

Ujian nasional berfungsi untuk mengevaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional juga berfungsi untuk penyamakan standar mutu pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh pusat penelitian pendidikan (Pudjiastuti, 2018). Dalam pasal 1 ayat 4 tahun 2005 dijelaskan bahwa seharusnya soal ujian nasional yang diselenggarakan di Indonesia mencakup soal-soal yang berbasis HOTS supaya tujuan dan fungsi dari ujian nasional yang dilaksanakan dapat tercapai dan menghasilkan lulusan yang unggul dan berkualitas serta mewujudkan peserta didik yang dapat berfikir kritis, inovatif dan kreatif. Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk menjadi soal evaluasi atau sebagai bentuk penilaian, termasuk soal ujian nasional ini sangat direkomendasikan.

Tujuan utama dari Higher Order Thinking Skill (HOTS) adalah untuk mengukur kemampuan berfikir tinggi peserta didik yang berada pada tingkat C4- C6 yaitu tidak hanya sekedar mengingat dan mengetahui tetapi harus bisa menganalisis. Karakteristik soal-soal HOTS antara lain: (Fanani, 2018)

1) Mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi

Kemampuan berfikir tinggi termasuk dalam kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah, berfikir kritis dan kreatif. Dalam taksonomi bloom kemampuan berfikir tinggi harus membutuhkan kemampuan untuk menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat (C6). Kemampuan berfikir tinggi bukan kemampuan untuk menginat, mengatahui dan mengulang. Tingkat kesukaran soal tidak sama dengan kemampuan berfikir tinggi. Jadi setiap soal yang sukar atau sulit belum tentu termasuk dalam soal-soal HOTS.

2) Berbasis permasalahan

Soal HOTS adalah soal yang mempunyai ciri menggunakan masalah-masalah situasi konkret atau nyata dalam kehidupan sehari-hari yaitu kontekstual. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi asesmen yang menuntut peserta didik mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.

3) Tidak rutin / tidak akrab

(3)

177 Penilaian HOTS tidak dilakukan secara rutin, karena penilaian HOTS adalah penilaian yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau penilaian yang tidak muncul setiap nomor soal. HOTS adalah penilaian yang memerlukan pemikiran yang kreatif karena masalah yang disajikan belum ditemui atau belum dilakukan sebelumnya (Widana, 2016).

4) Menggunakan bentuk soal beragam

- pilihan ganda yaitu peserta didik menjawab soal dengan logika atau penalaran tentang konsep yang sudah dimiliki sesuai dengan stimulus yang diberikan bisa berupa bacaan atau gambar.

- pilihan ganda komplek (benar/ salah, atau ya/ tidak) yaitu pertanyaan dibuat dengan memberikan stimulus berupa bacaan atau yang lainnya yang bersumber dari kondisi nyata atau kontekstual, kemudian peserta didik diberikan pernyataan terkait stimulus yang diberikan lalu mejawab benar/ salah atau ya/ tidak. Susunan benar/ salah harus diacak secara random.

- Isian singkat atau melengkapi yaitu soal yang diberikan dengan menghilangkan bagian-bagian tertentu untuk dijawab peserta didik dengan kata, frase, angka, symbol, tempat atau waktu. Bagian yang hilang hanya diperbolehkan satu atau dua saja supaya peserta didik tidak bingung. Jawaban peserta didik juga harus pasti dan singkat.

- Jawaban singkat atau pendek yaitu soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek maupun frase. Soal ini menggunakan kalimat perintah dan harus jelas.

Dalam pembuatan soal hindari penggunaan kalimat yang sama dalam buku karena cenderung akan membuat peserta didik hanya mengingat atau menghafal yang tertulis di dalam buku.

- Uraian yaitu bentuk soal yang menuntut peserta didik untuk menjawab soal dengan gagasan-gagasan yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan dengan bahasanya sendiri dalam bentuk tertulis.

Adapun level kognitif sebagai berikut: (Fanani, 2018) - Pengetahuan dan pemahaman (level 1)

Pada level ini mencakup dimensi proses berfikir mengetahui (C1) dan memahami (C2). Contoh KKO yang biasa digunakan pada level ini adalah menyebutkan, menjelaskan, membedakan, menghitung, dan lain-lain. Peserta didik dalam

(4)

178 mengerjakan soal ini sering menganggap sukar atau sulit karena harus mengetahui dan mengingat peristiwa atau menghafal definisi untuk melakukan sesuatu. Tetapi soal ini masuk kategori LOTS bukan masuk dalam kategori HOTS.

- Aplikasi (level 2)

Pada level ini mencakup dimensi proses berfikir menerapkan atau mengaplikasikan (C3). Contoh KKO yang biasa digunakan adalah menggunakan, menentukan, menghitung, menerapkan, dan lain-lain. Peserta didik dalam menjawab soal ini harus bisa mengingat peristiwa atau definisi yang diaplikasikan dalam pengetahuan faktual dan konseptual dalam situasi yang lain. Soal pada level ini tergolong sukar atau sulit tetapi tidak masuk dalam soal HOTS, yaitu masuk pada level MOTS.

- Penalaran (level 3)

Pada level ini adalah level yang menerapkan kemampuan berfikir tinggi atau HOTS. Contoh KKO yang digunakan adalah dari C4-C6 seperti menganalisis, mengevaluasi, mengkreasi, dan lain-lain. Peserta didik dalam menjawab soal ini harus menggunakan pemikiran yang lebih dalam yaitu menggunakan pengetahuan konseptual dan faktual serta menggunakan logika atau penalaran untuk memecahkan masalah yang sesuai dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari- hari atau situasi tidak rumit.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, soal ujian nasional mapel IPA SD tahun 2018 belum makasimal dalam menggunakan soal HOTS untuk menjadikan suatu penilaian atau evaluasi. Dalam soal ujian nasional tersebut hanya terdapat 9 soal dari 40 soal yang bersifat HOTS atau berada pada level 3 dan soal yang lain berada pada level 1 dan 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis soal yang bertipe Higher Order Thinking Skill (HOTS) pada ujian nasional mapel IPA SD pada tahun 2018 agar dapat mengetahui besar presentasenya.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan deskriptif dengan desain analisis isi dan dokumen. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui informasi yang ada dalam dokumen yang dianalisis secara mendalam.

Kemudian hasil dari penelitian ini dituangkan secara deskriptif atau narasi sesuai

(5)

179 data yang didapatkan dari proses analisis dokumen tersebut secara nyata tanpa ada perubahan (Moleong, 2016).

Metode dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan dokumen gambar atau dokumen tertulis yang dianalisis (Sugiyono, 2016). Metode ini digunakan untuk memperoleh data dalam menganalisis soal ujian nasional mapel IPA SD tahun 2018 berbasis HOTS atau belum dan masuk dalam kriteria level berapa. Dalam penelitian ini dokumen yang menjadi sumber data adalah soal ujian nasional mapel IPA SD tahun 2018.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini penulis mendeskripsikan presentase soal ujian nasional mapel IPA SD yang berbasis HOTS. Hasil presesntase yang didapat dari analisis tersebut adalah sebagai berikut:

Tahun Banyak soal bertipe HOTS

Banyak soal tidak bertipe HOTS

Jumlah soal

2018 9 soal

(6, 7, 8, 15, 16, 29, 34, 36, 39)

31 soal

(1, 2, 3, 4, 5, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 35, 37, 38, 40)

40 soal

Dari data di atas dapat dikatakan bahwa soal ujian nasional mapel IPA SD tahun 2018 dengan kriteria Higher Order Thingking Skill (HOTS) dengan jumlah soal 40 butir hanya terapat 9 soal yang sudah bertipe HOTS, sedangkan yang lainnya yaitu 31 soal tidak bertipe HOTS tetapi betipe Middle Order Thinking Skill (MOTS) dan Low Order Thinking Skill (LOTS). Pada soal ujian nasional tersebut memiliki presentase soal level LOST dan MOST atau dengan menggunakan KKO C1, C2, dan C3 sebanyak 31 soal dengan presentase 77,5% dan soal HOTS dengan menggunakan KKO C4-C6 sebesar 22,5%, dimana ke 9 soal tersebut adalah soal nomor (6, 7, 8, 15, 16, 29, 34, 36, 39). Nomor soal 6 bertipe HOTS karena dalam soal tersebut terdapat pertanyaan yang masuk pada level 3, yaitu disediakan bacaan sebagai stimulus dan peserta didik harus menjawab soal sesuai dengan masalah yang ada dibacaan tersebut dengan mengaitkan teori atau konsep yang telah didapat. Soal nomor 7 bertipe HOTS karena dalam soal tersebut terdapat pertanyaan bahwa dalam rantai makanan akan terjadi salah satu hewan yang punah, kemudian

(6)

180 peserta didik diminta memperkirakan apabila salah satu rantai makanan tersebut punah apa yang akan terjadi, sehingga peserta didik perlu logika dan penalaran dalam menjawabnya. Soal nomor 8 bertipe HOTS karena dalam soal ini disediakan bacaan yang berupa masalah terkait kehidupan sehari-hari dan peserta didik diminta untuk mencari solusi atau upaya dalam menghadapi masalah tersebut, jadi peserta didik akan berfikir tinggi dengan logika dan penalaran yang nantinya akan menemukan jawaban yang tepat sesuai dengan masalah yang disediakan.

Pada soal nomor 15 termasuk dalam tipe HOTS karena dalam soal tersebut disediakan stimulus berupa bacaan yang berisi masalah penyakit yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari atau kontekstual. Peserta didik diminta menjawab cara yang tepat untuk mencegah penyakit tersebut yang sesuai dengan masalah yang disediakan, sehingga peserta didik perlu berfikir tingkat tinggi dan berlogika atau bernalar dalam menjawab soal ini. Soal nomor 16 bertipe HOTS karena soal tersebut menyediakan bacaan yang berupa masalah dalam kehidupan sehari-hari dan peserta didik diminta menjawab dengan mengkaitkan konsep yang telah dipelajari sebelumnya, jadi peserta didik bukan hanya mengingat saja tetapi juga mengaplikasikan atau menganalisis konsep yang diingat dengan masalah yang sesuai dalam bacaan sehingga bisa menemukan jawaban yang tepat. Kemudian nomor soal 29 bertipe HOTS karena pada soal tersebut menyajikan suatu peristiwa perubahan wujud yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan peserta didik diminta menganalisis manakan benda yang lebih dulu mencair dengan membandingkan 2 benda yang diberikan wadah berbeda, jadi peserta didik memerlukan pemikiran tingkat tinggi dan menggunakan nalar serta logika dalam menjawab soal ini. Soal nomor 34 termasuk tipe soal HOTS karena soal tersebut meminta peserta didik untuk menalar atau melogika sesuatu yang terjadi jika bulan mengelilingi bumi, tentu dengan konsep yang dipahami kemudian diterapkan dalam masalah yang disajikan untuk menentukan jawaban yang benar. Pada soal nomor 36 bertipe HOTS karena soal ini berbentuk jawaban singkat dan dalam soal ini disajikan sebuah masalah yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari kemudian peserta didik diminta menjawab dengan memberikan solusi terhadap masalah yang sudah disajikan. Tentu ini memerlukan pemikiran yang tinggi karena menerapkan konsep yang telah dipahami ke dalam solusi yang akan menjadi jawabannya.. Terkahir soal

(7)

181 nomor 39 termasuk dalam tipe HOTS karena soal tersebut ada stimulus yang digunakan untuk mendeskripsikan masalah, kemudian peserta didik diminta menganalisis hal-hal yang menjadi pengaruh dari masalah yang disediakan.

Soal-soal tipe HOTS tersebut termasuk ke dalam level 3 semuanya, yaitu menggunakan KKO pada kriteria C4-C6, tetapi untuk hasil penelitian ini kategori C6 tidak terpenuhi karena sebagian soal masih berada pada kategori C4 dan C5 belum ke C6 yaitu mencipta. Soal HOTS kategori C4 dan C5 dengan presentase 22,5% atau 9 soal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Santi Eka Aprilliana, dkk (2019), yang menganalisis soal matematika yang berkaitan dengan Higher Order Thingking Skill (HOTS) tahun pelajaran 2018 menunjukkan bahwa soal ujian nasional matematika SD berbasis HOTS berada pada level 3 yaitu dengan kriteria C4-C6. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Santi Eka Aprillian, dkk (2019) menunjukkan bahwa soal pada ujian nasional tahun 2018 mata pelajaran matematika memenuhi level LOTS atau berada pada level 1 mencakup kriteris C1 (mengingat) dengan presentase 11,42% atau 4 butir soal. Kemudian C2 dengan presentase sebesar 28,57% atau 10 soal. Pada level 2 atau masuk dalam kategori MOTS dengan menggunakan kriteria C3 dengan presentase 31,42% atau 11 soal.

Kriteria HOTS berada pada level 3 dengan kriteris C4 dengan presentase 20% atau 7 soal, C5 dengan presentase 8,57% atau 3 soal, tetapi tidak ada soal yang memenuhi C6.

Dari hasil tersebut didapatkan bahwa soal ujian nasional mapel IPA SD pada tahun 2018 belum sepenuhnya memenuhi kriteria soal HOTS, karena masih banyak soal yang berada pada level 1 dan level 2 yang hanya memahami, mengingat saja berarti soal tersebut belum mengukur kemampuan peserta didik dalam menganalisis, mengevaluasi, mencipta, dan lain-lain. Soal yang disajikan tidak mengukur kemampuan berfikir tinggi peserta didik. Tidak semua soal yang dinyatakan sulit termasuk dalam soal kategori HOTS dan juga sebaliknya jika soal HOTS belum tentu soal itu sulit. Soal ujian nasional disusun dengan menerapkan soal-soal HOTS diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam menerapkan konsep yang didapat dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Penggunaan soal HOTS juga dapat melatih keterampilan peserta didik dalam menghubungkan, menginterpretasikan,

(8)

182 menerapkan dan mengintegrasikan materi yang sudah didapatkan melalui pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah yang nyata (Setiawati, dkk., 2018)

D. SIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa keseluruhan dari soal ujian nasional mapel IPA SD pada tahun 2018 belum seluruhnya mengacu pada kemampuan berfikir tinggi peserta didik atau HOTS.

Pada soal ujian nasional tersebut yang memenuhi level LOTS dan MOTS sebanyak 31 soal dengan presentase 77,5% dan yang memenuhi level HOTS sebanyak 9 soal dengan presentase 22,5%. Soal yang disajikan lebih banyak berada pada level 1 dan level 2 yaitu tentang memahami, mengingat, sedangkan level 3 lebih sedikit.

Padahal yang diharapkan dari pemerintah bahwa melalui pendidikan peserta didik diharapkan dapat mengembangkan daya pengetahuan dan keterampilannya dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan cara berfikir tingkat tinggi atau dengan menggunakan analisis dan penalaran. Pemahaman konsep- konsep yang telah didapat dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan masalah. Maka perlu adanya evaluasi dalam pembuatan soal HOTS yang diberikan kepada peserta didik karena pada dasarnya peserta didik yang terbiasa berfikir tinggi akan mampu menghadapi persoalan atau masalah yang akan ditemui dalam kehidupan sehingga lebih mudah untuk menyelesaikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., & Jupri, A. (2017). The use of multiliteration model to improve mathematical connection ability of primary school on geometry. International E-Journal of Advances in Education, 3(9), 603- 610.

Abidin, Z. (2020). Efektivitas Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Berbasis Proyek Literasi, dan Pembelajaran Inkuiri dalam Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis. Profesi Pendidikan Dasar, 7(1), 37-52.

Aprilliani, S. E., Kusmaryono, I., & Wijayanti, D. (2019). Analisis Soal Tipe Higher Order Thingking Skill (HOTS) pada USBN Matematika SD Tahun Pelajaran 2017/2018 dan 2018/2019. Konferensi Ilmiah Mahasiswa Unissula (KIMU) 2.

Ariyana, Y. (2018). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi. Jakarta: Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

(9)

183 Fanani, M. Z. (2018). Strategi Pengembangan Soal Higher Order Thingking Skill

(HOTS) dalam Kurikulum 2013. Vol. II, No.1.

Moleong, L. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pudjiastuti, A. (2018). Buku Penilaian Berorientasi Higher Order Thinking Skill.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Setiawati, W. d. (2018). Buku Penilaian Berorientasi Higher Order Thinking Skills.

Jakarta: Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Widana, I. (2016). Penulisan Soal HOTS untuk Ujian Sekolah. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mampu berpikir secara analitik dalam menyelesaikan soal higher order thinking skills (HOTS) pada

Internasional, Kasus PT Freeport Indonesia, Asian Games 2018, Kebijakan OJK, Hari Batik Nasional, Kota Bebas Sampe Sampah Maluku, Penjualan Mobil Nasional, APBN-P 2017 dan

Hasil UN pada mata pelajaran matematika MTs Nurul Falah masih di bawah rata-rata dan jumlah butir soal berkategori HOTS sekitar 25% dari jumlah soal UN menjadi

Fiduciary relation antara Holding Company selaku pemegang saham korporasi dengan Individu Direktur menegaskan adanya hubungan ketenagakerjaan yang erat antara Holding Company dan

BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN,2010... 0 kilometers 250 500 * Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah

Strategi yang banyak digunakan investor untuk meminimalkan risiko investasi saham adalah dengan membentuk portofolio saham yaitu mengalokasikan dana pada

Tombol Fn juga digunakan dengan tombol yang dipilih pada keyboard untuk menjalankan fungsi sekunder lainnya. Daftar

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV UNAIR berharap bahwa dosen yang telah diberi sertifikat pendidik bisa menjadi suri teladan bagi mahasiswa dan masyarakat.. Junaidi