Usulan Pengendalian Risiko Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Menggunakan Metode HIRARC di PT Buana Niaga Bersama
Priana Dwiansyah1*, Kusnadi2
1,2Program Studi Teknik Industri, Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia
*Koresponden email: [email protected]
Diterima: 27 Maret 2023 Disetujui: 31 Maret 2023
Abstract
PT Buana Niaga Bersama Karawang is a manufacturing company that produces retreaded tires, uses mold machines and boiler machines. This study aims to analyze the application of safety and health from the beginning of the production process to finished goods, because this company has not fully implemented occupational safety and health, for example workers do not use safety shoes, carry raw materials manually.
This research is a descriptive research that explains the application of occupational safety and health in the production area of PT Buana Niaga Bersama, the method used is HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) with the first stage namely identifying potential hazards, then evaluating potential hazards and the last stage namely the control of potential hazards. The results of this study are based on the identification of potential hazards, there are 24 cases of potential hazards, with a risk assessment that there are as many as 62% or 15 cases of potential hazards with low risk (low risk), as many as 25% or 6 cases of potential hazards with moderate risk (medium risk). and as many as 13% or 3 cases of potential danger with severe risk (extreme risk). Suggestions for company owners are to provide personal protective equipment and establish standard operating procedures, while for workers, namely to work according to standard operating procedures and use personal protective equipment while working.
Keywords: hazard identification, risk assessment and risk control, low risk, medium risk, extreme risk
Abstrak
PT Buana Niaga Bersama Karawang adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi ban vulkanisir, menggunakan mesin mold (cetak) dan mesin boiler. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dari awal proses produksi sampai barang jadi karena perusahaan ini belum sepenuhnya menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja contohnya pekerja tidak menggunakan sepatu safety dan membawa bahan baku secara manual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu menjelaskan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja diarea produksi PT Buana Niaga Bersama, metode yang digunakan yaitu HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control). Tahap pertama yaitu mengidentifikasi potensi bahaya, kemudian penilaian terhadap potensi bahaya dan tahap terakhir yaitu pengendalian potensi bahaya. Hasil penelitian ini berdasarkan identifikasi potensi bahaya terdapat sebanyak 24 kasus potensi bahaya, dengan penilaian risikonya yaitu terdapat sebanyak 62% atau 15 kasus potensi bahaya dengan risiko rendah (low risk), sebanyak 25% atau 6 kasus potensi bahaya dengan risiko sedang (medium risk) dan sebanyak 13% atau 3 kasus potensi bahaya dengan risiko parah (extrem risk). Saran untuk pemilik perusahaan yaitu menyediakan alat pelindung diri dan membuat standar operasional prosedur, sedangkan untuk pekerja yaitu bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur dan menggunakan alat pelindung diri saat bekerja.
Kata Kunci: hazard identification, risk assessment and risk control, risiko rendah, risiko sedang, risiko parah
1. Pendahuluan
Pasca pandemi Covid-19 dunia mengalami ketidakpastian ekonomi, walaupun demikian perkembangan pembangunan tidak perlu terhambat pandemi yang telah terjadi. Demikian juga dengan perkembangan industri manufaktur yang saat ini terus berkembang. Perkembangan dalam industri manufaktur mesti menjalankan sebuah sistem produksi yang efektif dan efisien, dengan merencanakan produksi yang lebih optimal, dengan tujuan agar menghasilkan produksi yang maksimal [1]. Di Indonesia industri manufaktur memiliki kontribusi terhadap perekonomian sebesar 19,8 persen, dan melebihi rata- rata nilai industri dunia sebesar 16,5 persen. Industri manufaktur saat ini menjadi sektor pemimpin, dapat diartikan dengan berkembangnya sektor manufaktur mampu meningkatkan sektor pertanian, sektor jasa,
ataupun sektor lainnya [2]. Industri manufaktur adalah sektor usaha dengan kegiatan utama memproduksi dan pengolahan dari bahan mentah maupun setengah jadi, menjadi produk yang jadi [3].
Produktivitas pekerjaan dalam industri manufaktur akan meningkat jika tingkat sumber daya manusia yang baik. Dalam industri manufaktur salah satu peningkatan sumber daya manusia adalah dengan semakin terjaminnya keselamatan dan kesehatan pekerja, dengan demikian perusahaan diharuskan menjamin pekerjanya dalam memperoleh keselamatan dalam melakukan pekerjaannya, dengan sebuah regulasi yang mengatur keselamatan pekerja [4]. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) akan dapat ditingkatkan secara efektif dan efisien melalui upaya pelaksanaan yang terstruktur, terintegrasi, terencana, dan terukur [5]. Dalam K3 diklasifikasikan menjadi dua faktor yang menyebabkan kecelakaan dalam bekerja, seperti faktor perilaku pekerja yang tidak aman, pemakaian APD yang tidak sesuai prosedur, pekerja tidak mematuhi SOP, dan pekerja kurang berpengalaman. Faktor kedua seperti kondisi tempat kerja yang tidak aman lingkungan kerja yang berbahaya dan terpapar radiasi, penggunaan peralatan yang dibawah standar, dan terdapat pemicu kemunculan kebakaran [6]. Hampir di seluruh perusahaan, atau lebih spesifiknya dalam sebuah lingkungan kerja, mesti menanggung risiko kecelakaan dalam sebuah pekerjaan, sangat jarang sekali sebuah lingkungan kerja yang terbebas dari risiko kecelakaan dalam bekerja [7].
PT Buana Niaga Bersama telah menerapkan K3 dalam proses produksinya walaupun terkadang penerapannya masih belum dilakukan secara sempurna oleh semua karyawan. Terbukti terlihat sebagian besar karyawan tidak menggunakan APD yang sesuai dengan standar selama bekerja sehingga berisiko menimbulkan kecelakaan kerja, salah satu contohnya yaitu tidak menggunakan sepatu khusus untuk proses pemindahan bahan baku, tidak menggunakan masker untuk mesin mold (cetak), pakaian yang digunakan oleh pekerja berlengan pendek sehingga sangat berisiko terpapar panas saat proses pencetakan ban.
Kemudian tidak adanya Standar Operational Prosedur (SOP) yang tertulis untuk setiap mesin yang ada di PT Buana Niaga Bersama, tidak ada rambu-rambu peringatan pada mesin yang berpotensi timbulnya kecelakaan kerja, seperti tertimpa dan terpapar panas. Selain itu dari segi lingkungan kerja masih terlihat kurang aman dan nyaman, contohnya tertimpa ban, tersandung, terbentur body mesin untuk proses pemindahan bahan baku yang berada di area yang sering digunakan karyawan untuk mobilisasi selama proses produksi. Beberapa mesin yang digunakan bersifat portabel, artinya ada beberapa proses produksi yang tempatnya berpindah-pindah, tidak ada tempat khusus untuk meletakan bahan setengah jadi berupa plat besi sehingga dapat menimbulkan potensi bahaya tersandung ataupun terjatuh.
Dari permasalahan tersebut maka dalam penelitian ini digunakan metode HIRARC untuk mengatasi permasalahan K3 pada PT Buana Niaga Bersama. Metode HIRARC merupakan sebuah tahapan yang terdiri dari tahap identifikasi bahaya atau hazard indetification, penilaian risiko bahaya atau risk assessment, dan terakhir pengendalian dari sebuah risiko potensi bahaya atau risk control. Penilaian potensi bahaya dan risiko terbagi menjadi tiga risk level yaitu low risk atau risiko rendah, medium risk atau risiko menengah, dan extreme risk atau risiko ekstrim [8]. Metode HIRARC dipilih dikarenakan melalui metode ini berpengaruh secara besar dalam hal proses identifikasi bahaya, penilaian risiko bahaya, yang berpotensi besar pada semua proses pekerjaan di suatu pabrik, dengan menggunakan metode ini dapat mengestimasikan potensi terjadinya suatu bahaya dan tingkat keparahan apabila bahaya tersebut terjadi [9].
Pengimplementasian K3 dengan menggunakan metode HIRARC digunakan sebagai suatu bentuk dari realisasi manajemen risiko, sehingga dengan metode HIRARC ini diharapkan mampu mereduksi kecelakaan kerja di suatu perusahaan [10].
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang mengenai penerapan K3 dengan menggunakan metode HIRARC adalah sebagai berikut. Penelitian dari Reynaldi Ahmad Faizin dan Moch. Nuruddin membahas mengenai penerapan K3 menggunakan metode HIRARC pada lingkungan kerja di PT. GMT dan diidentifikasi sebanyak 10 potensi bahaya, kemudian dilakukan penilaian risiko dan mendapatkan hasil penilaian 2 risiko dengan penilaian risiko rendah, 4 risiko dengan penilaian risiko menengah, 2 risiko dengan penilaian risiko tinggi, dan 2 risiko dengan penilaian risiko sangat tinggi. Dalam upaya pengendalian risiko potensi bahaya tersebut maka dilakukan pemasangan alat fire brick berdasarkan dua tahap sebelumnya yaitu identifikasi potensi bahaya dan penilaian risiko [11].
Selanjutnya penelitian dari Ranggi Pramvisi dan T.M Azis Pandria melakukan sebuah penelitian mengenai penerapan K3 dengan metode HIRARC di PT. Socfindo, dan berhasil mengidentifikasi potensi bahaya sebanyak 5 potensi bahaya, kemudian dilakukan penilaian risiko dan mendapatkan hasil penilaian 1 risiko dengan penilaian level ekstrim, 2 risiko dengan penilaian level tinggi, dan 2 risiko dengan penilaian level rendah, dengan upaya pengendalian berupa pendisiplinan penggunaan APD, pengimplementasian SOP K3 dalam pekerjaan sehari-hari, mendisplinkan pembersihan lantai kerja, dan pemberian rambu K3 [12]. Selanjutnya penelitian dari Bianda F Aprilla dan Dedi Yulhendra melakukan sebuah penelitian di PT.
Semen Padang, dan berhasil mengidentifikasi 12 jenis potensi bahaya di lingkungan kerja Crusher dan 8
risiko bahaya di lingkungan kerja Belt Conveyor, dengan tingkat keparahan di kedua lingkungan kerja tersebut 60 persen untuk kategori risiko medium, 25 persen untuk kategori risiko tinggi, dan 15 persen untuk kategori risiko rendah, dengan upaya pengendalian potensi bahaya dengan lima cara, yang pertama eliminasi, yang kedua substitusi yang ketiga rekayasa engineering, yang keempat administrasi, dan yang kelima penggunaan APD [13].
Selanjutnya penelitian dari Caroline Taher dan Kriswanto Widiawan melakukan sebuah penelitian pada PT. X yang memproduksi roti, dan berhasil mengidentifikasi 17 jenis potensi bahaya, dan mendapatkan hasil penilaian terdapat 4 risiko dengan penilaian level tinggi, 10 risiko dengan penilaian level signifikan, dan 3 risiko dengan penilaian level moderat, adapun upaya pengendalian risiko menggunakan pendekatan hierarki pengendalian risiko potensi bahaya [14].
2. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Buana Niaga Bersama dengan objek penelitian di departemen produksi. PT. Buana Niaga Bersama memproduksi ban vulkanisir. Degan proses produksi dimulai dari pengangkutan bahan baku dari gudang, kedua proses pengikisan ban, ketiga proses penempelan karet, keempat proses pencetakan ban. Pada penelitian ini memiliki alur penelitian seperti Gambar 1.
Tahap Studi Literatur
Tahap Survey Pendahuluan
Tahap Identifikasi
Masalah
Tahap Perumusan
Masalah
Tahap Pengumpulan
Data
Tahap Pegolahan
Data
Tahap Analisis Data
Kesimpulan dan Saran
Gambar 1. Metode Penelitian Sumber: [15]
Berdasarkan gambar di atas yang merupakan tahapan-tahapan dari penelitian ini, adapun penjelasan dari gambar di atas, sebagai berikut:
a. Tahap studi literatur, merupakan permulaan dalam melakukan penelitian dengan melakukan pembedahan dari literatur-literatur yang ada terkait topik penelitian yang diangkat, dalam hal ini topik penelitian yang dipilih adalah penerapan K3 dengan menggunakan metode HIRARC, dengan demikian dilakukan studi terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan penerapan K3 dengan metode HIRARC.
b. Tahap survey pendahuluan, merupakan melakukan pengamatan terhadap objek penelitian, dalam penelitian ini dilakukan survey pendahuluan terlebih dahulu pada PT. Buana Niaga Bersama. Survey pendahuluan ditujukan juga sebagai bentuk pengenalan peneliti kepada objek penelitian, sehingga pada tahap penelitian selanjutnya peneliti dapat memahami secara keseluruhan objek penelitiannya.
c. Tahap identifikasi masalah, merupakan tahap mengidentifikasi masalah terkait dengan topik penelitian yang diangkat, dimana pada tahap ini permasalahan diidentifikasi sesuai dengan topik penelitian yang diangkat, pada penelitian ini membahas mengenai penerapan K3, maka dicari permasalahan terkait kondisi eksisting keselamatan pekerja.
d. Tahap perumusan masalah, merupakan tahap merumuskan permasalahan ketika proses pengidentifikasian masalah telah dilakukan dan ditemukan permasalahan yang kuat untuk melatar belakangi penelitian, sehingga dari masalah-masalah tersebut dirumuskan sebagai tindak lanjut dari identifikasi masalah yang telah dilakukan.
e. Tahap pengumpulan data, merupakan tahap dimana rumusan masalah telah ditentukan, dan dilakukan pengumpulan data yang dibutuhkan yang sesuai dengan rumusan masalah yang ditentukan, dalam penelitian ini data yang dikumpulkan mengenai potensi kecelakaan kerja pekerja.
f. Tahap pengolahan data, merupakan tahap dimana pengumpulan data telah dilakukan, kemudian data diolah, dalam penelitian ini dilakukan pengolahan data terkait potensi bahaya pekerja di PT. Buana Niaga Bersama, dengan menggunakan metode penelitian yang telah ditentukan.
g. Tahap analisis data, merupakan tahapan dimana hasil pengolahan data telah diketahui, dan berangkat dari hasil pengolahan data tersebut dilakukan usulan perbaikan sebagai upaya pemecahan masalah yang terjadi pada objek penelitian.
h. Kesimpulan dan saran, merupakan tahap terakhir dari seluruh tahap penelitian dimana tahap pengolahan data dan analisis data telah dilakukan kemudian disimpulkan agar lebih mudah dimengerti. Selain itu diberikan saran untuk objek penelitian sebagai bentuk upaya pemecahan permasalahan yang ada.
Setelah diketahui tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan selanjutnya perlu diketahui mengenai tahapan-tahapan metode HIRARC, dalam upaya penerapan K3, yaitu [6]:
a. Tahap Identifikasi Bahaya, tahap ini sering juga disebut dengan Hazard Identification, yaitu proses pengamatan dalam lingkungan kerja untuk mengetahui situasi dalam pekerjaan, dan sistem pekerjaan yang memiliki kemungkinan untuk menimbulkan kecelakaan kerja.
b. Tahap penilaian risiko, tahap ini sering juga disebut dengan Risk Assessment, yaitu sebuah tahapan untuk melakukan penilaian kepada potensi bahaya yang sebelumnya telah diidentifikasi, kemudian menentukan tingkat risiko yang ditimbulkan dari pekerjaan yang berpotensi kecelakaan. Selain itu, juga untuk memastikan mengenai kontrol risiko dari proses pekerjaan. Pada perhitungan risk assessment ini terdapat dua parameter yang digunakan yaitu potensi terjadi risiko kecelakaan kerja (likelihood) dan penentuan tingkat besar kecilnya dari bahaya yang ditimbulkan (consequence), setelah nilai likelihood dan consequence kemudian perlu diketahui untuk nilai risiko, adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
Risk = Likelihood x Consequence
c. Tahap pengendalian risiko, tahap ini sering juga disebut dengan Risk Control, yaitu sebuah tahapan untuk memberikan penanganan pada risiko-risiko kecelakaan yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya. Tahap ini digunakan sebagai upaya mitigasi risiko. Sebagai upaya mitigasi kecelakaan kerja, maka terdapat pedoman hirarki dalam pengendalian risiko, yang terdiri dari empat jenis pengendalian, yaitu upaya elimination, upaya substitution, upaya engineering control, dan upaya adiminstrative control.
3. Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian yang dilakukan di PT Buana Niaga Bersama, dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2022 yang bertempat di bagian area produksi. Sistem proses produksi pada perusahaan ini adalah proses produksi secara acak sesuai dengan barang yang akan diproduksi. Setiap proses tidak saling berkaitan tetapi dilakukan sesuai dengan waktu dan prioritas. Tahap proses produksi di PT Buana Niaga Bersama. Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) lapangan, studi dokumen, dan wawancara dengan informan penelitian, diperoleh hasil analisis dan pembahasan untuk penelitian risiko keselamatan dan kesehatan kerja di bagian produksi PT Buana Niaga Bersama, sebagai berikut:
a. Tahap Identifikasi Potensi Bahaya
Dalam sebuah proses kerja yang dilakukan di PT Buana Niaga Bersama dimana terbagi menjadi tiga proses kerja yang diamati, yaitu proses pemindahan bahan baku, proses pengikisan ban dan proses pengaretan ban. Tentunya tidak terlepas dari potensi kecelakaan kerja yang terjadi. Oleh
Tabel 1. Identifikasi Potensi Bahaya
No. Proses Kerja Potensi Bahaya Jenis Bahaya
1. Pemindahan Bahan Baku
Tersandung pemindahan bahan baku Mekanik
Terjatuh Mekanik
Tertimpa ban Mekanik
Terbentur bodi mesin cetak Mekanik
Terbentur bodi mesin boiler Mekanik
Posisi membungkuk saat mengangkat
ban Ergonomi
2. Proses Pengikisan Ban
Terbentur bodi mesin Mekanik
Tergores alat Mekanik
Tertimpa ban Mekanik
Aktivitas tangan dan kaki berlebih Ergonomi Posisi Berdiri saat pengikisan ban Ergonomi
3. Proses Pengaretan Ban
Terbentur bodi mesin Mekanik
Tergores alat Mekanik
Tertimpa ban Mekanik
Aktivitas tangan dan kaki berlebih Ergonomi Posisi Berdiri saat pengaretan ban Ergonomi
4. Proses Pencetakan Ban
Terbentur bodi mesin cetak Mekanik
Terjatuh Mekanik
Tertimpa ban Mekanik
No. Proses Kerja Potensi Bahaya Jenis Bahaya
Terjepit Mekanik
Posisi Berdiri saat pencetakan ban Ergonomi
Terbentur bodi mesin boiler Mekanik
Korsleting listrik Listrik
Terpapar suhu panas Fisik
Sumber: Pengolahan Data (2023)
Tabel 1 merupakan hasil dari identifikasi potensi bahaya untuk setiap proses produksi di PT Buana Niaga Bersama. Selanjutnya adalah proses penilaian dari risiko bahaya yang ditimbulkan. Penilaian ini pada dasarnya digunakan untuk mengetahui tingkat dari potensi-potensi bahaya yang diidentifikasi.
Suatu tingkatan risiko yang dihasilkan dari penilaian ini didasarkan pada rasio tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi (likelihood) dengan tingkat keparahan jika risiko terjadi (consequence). Melalui penilaian risiko yang sebelumnya telah dikalkulasikan, sehingga didapatkan hasil empat kategori risk level, yaitu: yang pertama low risk (risiko rendah), yang kedua medium risk (risiko sedang), yang ketiga high risk (risiko tinggi), dan yang keempat extreme risk (risiko ekstrim). Kemudian dalam menentukan nilai likelihood dan consequence, didapatkan dengan diskusi dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti dengan pihak manajerial perusahaan yang bertanggungjawab perihal penerapan K3 di perusahaan. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk mendapatkan nilai likelihood dan consequence yang lebih akurat, hal tersebut karena pihak perusahaan lebih memahami terkait tingkat kemungkinan beserta tingkat keparahan dari suatu potensi bahaya yang terjadi di PT Buana Niaga Bersama. Langkah selanjutnya setelah nilai likelihood dan consequence didapatkan, kemudian ditentukan nilai risiko melalui penggunaan matriks risk assessment. Melalui operasi pengalian antara likelihood dan consequence. Misalnya terdapat potensi bahaya pekerja yang tersandung perkakas atau kabel, mempunyai nilai sebesar 2, nilai ini didapatkan hasil diskusi dengan perusahaan, dan nilai dari consequence sebesar 2. Didapatkan dari hasil perkalian tersebut sebesar 4, maka dapat disimpulkan nilai tersebut termasuk dalam nilai risiko yang rendah atau low risk.
b. Tahap Penilaian Potensi Bahaya
Pada tahap ini, semua proses kerja yang memiliki potensi bahaya kemudian dihimpun dan dilakukan sebuah penilaian dengan menggunakan metode HIRARC. Dari proses penilaian tersebut kemudian proses kerja diklasifikasikan menjadi pekerjaan dengan risiko rendah (low risk), risiko sedang (medium risk), risiko tinggi (high risk), dan risiko ekstrim (extreme risk).
Tabel 2. Penilaian Potensi Bahaya
No Proses Hazard Identification L C S Risk Level
1 Pemindahan bahan baku 1
Tersandung pemindahan bahan
baku
1 1 1 Low Risk
2 Terjatuh 1 2 2 Low Risk
3 Tertimpa ban 3 2 6 Medium Risk
4 Terbentur bodi mesin
cetak 1 1 1 Low Risk
5 Terbentur bodi mesin
boiler 1 1 1 Low Risk
6 Posisi membungkuk
saat mengangkat ban 2 3 6 Medium Risk
2 Proses pengikisan ban
7 Terbentur bodi mesin 1 1 1 Low Risk
8 Tergores alat 4 4 16 Extreme Risk
9 Tertimpa ban 3 2 6 Medium Risk
10 Aktivitas tangan dan
kaki berlebih 2 2 4 Low Risk
No Proses Hazard Identification L C S Risk Level
11 Posisi Berdiri saat
pengikisan ban 2 2 4 Low Risk
3 Proses pengaretan ban
12 Terbentur bodi mesin 1 1 1 Low Risk
13 Tergores alat 2 2 4 Low Risk
14 Tertimpa ban 3 2 6 Medium Risk
15 Aktivitas tangan dan
kaki berlebih 2 2 4 Low Risk
16 Posisi Berdiri saat
pengaretan ban 2 2 4 Low Risk
4 Proses pencetakan ban
17 Terbentur bodi mesin
cetak 1 1 1 Low Risk
18 Terjatuh 1 2 2 Low Risk
19 Tertimpa ban 3 2 6 Medium Risk
20 Terjepit 5 4 20 Extreme Risk
21 Posisi Berdiri saat
pencetakan ban 2 2 4 Low Risk
22 Terbentur bodi mesin
boiler 1 1 1 Low Risk
23 Korsleting listrik 5 5 25 Extreme Risk
24 Terpapar suhu panas 3 2 6 Medium Risk
Sumber: Pengolahan Data (2023)
Dari penjelasan pada Tabel 2 didapatkan 24 potensi bahaya dengan berbagai macam potensi bahaya.
Sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Risiko potensi bahaya low risk, pada kategori ini terdapat 15 kasus potensi bahaya. Pada proses kerja pemindahan bahan baku terdapat empat macam potensi bahaya low risk, pada proses kerja pengikisan ban terdapat tiga macam potensi bahaya low risk, pada proses kerja pengaretan ban terdapat empat macam potensi bahaya low risk, dan pada proses kerja pencetakan ban terdapat empat macam potensi bahaya low risk.
2) Risiko potensi bahaya medium risk, pada kategori ini terdapat 6 kasus potensi bahaya. Pada proses kerja pemindahan bahan baku terdapat dua macam potensi bahaya medium risk, pada proses kerja pengikisan ban terdapat satu macam potensi bahaya medium risk, pada proses kerja pengaretan ban terdapat satu macam potensi bahaya medium risk, dan pada proses kerja pencetakan ban terdapat dua macam potensi bahaya medium risk.
3) Risiko potensi bahaya extreme risk, pada kategori ini terdapat 3 kasus potensi bahaya. Pada proses kerja pemindahan bahan baku tidak terdapat potensi bahaya extreme risk, pada proses kerja pengikisan ban terdapat satu macam potensi bahaya extreme risk, pada proses kerja pengaretan ban tidak terdapat potensi bahaya extreme risk, dan pada proses kerja pencetakan ban terdapat dua macam potensi bahaya extreme risk.
Sehingga dari dari uraian mengenai pengkategorian tiga macam potensi bahaya dari 24 potensi bahaya. Risk level didominasi oleh low risk, yang hampir di setiap proses kerja. Sedangkan untuk risk level extreme risk hanya terdapat pada dua proses kerja yaitu proses kerja proses kerja pengikisan ban dan proses kerja pencetakan ban. Dari 24 potensi bahaya yang telah dilakukan penilaian dengan menggunakan metode HIRARC, kemudian dikonversikan ke dalam bentuk persen untuk setiap risk level.
𝐿𝑜𝑤 𝑅𝑖𝑠𝑘 = 15 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝐿𝑜𝑤 𝑅𝑖𝑠𝑘
24 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 = 62 % 𝑀𝑒𝑑𝑖𝑢𝑚 𝑅𝑖𝑠𝑘 = 6 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑀𝑒𝑑𝑖𝑢𝑚 𝑅𝑖𝑠𝑘
24 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 = 25 % 𝐸𝑥𝑡𝑟𝑒𝑚𝑒 𝑅𝑖𝑠𝑘 = 3 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑦𝑎 𝐸𝑥𝑡𝑟𝑒𝑚𝑒 𝑅𝑖𝑠𝑘
24 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 = 13 %
c. Tahap Analisis Pengendalian Potensi Bahaya
Pada tahap analisis pengendalian potensi bahaya ini, 24 potensi bahaya dilakukan sebuah analisis untuk dilakukan pengendalian potensi bahaya. Pengendalian potensi bahaya ini ditujukan untuk meminimalisir potensi bahaya, yang merupakan sebuah usulan pengendalian dari risiko kecelakaan kerja. Berdasarkan penilaian potensi bahaya yang telah dilakukan, maka untuk upaya pengendalian potensi bahaya pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penerapan 5R, upaya pengendalian ini selain menambah produktivitas dalam bekerja, juga turut mencegah terjadi risiko kecelakaan kerja. Pada setiap proses kerja penerapan 5R diusulkan menjadi upaya pengendalian potensi bahaya.
2. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), adapun APD yang digunakan adalah, safety shoes, sarung tangan, dan helm kerja. Penggunaan APD digunakan di semua risk level seperti, low risk, medium risk, dan extreme risk.
3. Konsentrasi dan pengawasan pekerja, dalam melakukan sebuah pekerjaan tentunya konsentrasi menjadi kebutuhan yang mendasar, agar menghasilkan hasil kerja yang baik. Selain itu juga diperlukan pengawasan atas pekerjaan yang dilakukan.
4. Menggunakan peralatan yang sesuai dengan standar. Peralatan standar digunakan sebagai upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja yang ditimbulkan oleh faktor eksternal. Penggunaan peralatan yang standar selain digunakan pada mesin-mesin kerja, juga harus diterapkan pada instalasi listrik. Karena pemasangan alat instalasi listrik yang tidak standar, berpotensi untuk terjadinya korsleting listrik.
5. Pemasangan Rambu K3, pada kondisi tertentu pekerja kerap kali mengalami kelengahan dalam bekerja. Tentunya dengan pemasangan rambu K3 ini sebagai upaya preventif agar pekerja selalu waspada dalam bekerja. Contohnya pada proses kerja pencetakan ban, diperlukan rambu K3 untuk memberi peringatan tentang bahaya terjepit oleh mesin.
4. Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data, terdapat sebanyak 24 kasus potensi bahaya yang terdapat di PT Buana Niaga Bersama dengan pembagian penilaian risikonya yaitu sebanyak 62% atau 15 kasus potensi bahaya dengan risiko rendah (low risk), sebanyak 25% atau 6 kasus potensi bahaya dengan risiko sedang (medium risk), sebanyak 13% atau 3 kasus potensi bahaya dengan risiko parah (extrem risk). Setelah dilakukan proses penilaian potensi bahaya dengan menggunakan metode HIRARC. Maka selanjutnya adalah melakukan upaya pengendalian potensi bahaya dilakukan dalam lima upaya, yaitu: penerapan 5R, penggunaan alat pelindung diri (APD), konsentrasi dan pengawasan pekerja, menggunakan peralatan yang sesuai dengan standar, dan pemasangan rambu K3.
5. Referensi
[1] A. Septiadi, R. R. D. Satya and E. Wiratmani, "Line Balancing Analysis to Optimize Production line of Bushing Rubber Using Theory of Constraints and Heuristics Method with Promodel Simulation at PT. Madya Putera Tehnik," Jurnal Sistem Teknik Industri (JSTI, vol. 25, no. 1, p. 97 – 111, 2023.
[2] Nurhayani, "Analisis sektor industri manufaktur di Indonesia," Jurnal Paradigma Ekonomika, vol.
17, no. 3, pp. 713-722, 2022.
[3] S. Makhmudah, R. A. Pratama, H. Kurnia, N. F. Zakaria and A. N. S, "Perancangan Sistem Kerja di Berbagai Industri Manufaktur: Kajian Literature Review," Jurnal Teknik Industri, vol. 3, no. 2, pp.
83-92, 2022.
[4] S. N. Syawal, Kusnadi and Sutrisno, "Analisis Potensi Bahaya dengan Metode HIRADC untuk Mencegah Terjadinya Kecelakaan Kerja di Departemen Injection PT. Indonesia Thai Summit Plastech," Jurnal Serambi Engineering, vol. 8, no. 1, pp. 4211 - 4217, 2023.
[5] T. Ihsan, A. Safitri and D. P. Dharossa, "Analisis Risiko Potensi Bahaya dan Pengendaliannya Dengan Metode HIRADC pada PT. IGASAR Kota Padang Sumatera Barat," Jurnal Serambi Engineering, vol. 5, no. 2, pp. 1063 - 1069, 2020.
[6] A. F. Damayanti and N. A. Mahbubah, "Implementasi Metode Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control Guna Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Karyawan di PT ABC," Jurnal Serambi Engineering, vol. 6, no. 2, pp. 1694 - 1701, 2021.
[7] T. Alfarozi and D. Andesta, "Analisis Bahaya Kerja Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja di CV Lancar Jaya Menggunakan Metode HIRARC," Jurnal Serambi Engineering, vol. 8, no. 1, pp. 4317 - 4326, 2023.
[8] N. Roikhana, A. S. Effasa, M. Renggani and A. Y. Nur, "Analisis Manajemen Risiko Pada Rumah Produksi Kerajinan Anyaman Sintetis Menggunakan Metode HIRARC," Prosiding SEMANIS : Seminar Nasional Manajemen Bisnis, vol. 1, no. 1, pp. 83-89, 2023.
[9] A. Ulimaz and M. Ansar, "Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Stasiun Loading Ramp dengan Metode HIRARC di PT. XYZ," INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi, vol. 1, no. 3, pp.
268-279, 2022.
[10] T. R. Kanugrahan, A. D. Puspita and Sajiyo, "Analisa Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Menggunakan Metode HIRARC di PT. AGR UNIT ARF," JISO: Journal Of Industrial And Systems Optimization, vol. 5, no. 2, pp. 106-112, 2022.
[11] R. A. Faizin and M. Nuruddin, "Analisis Risiko pada Area Rotary Kiln di PT Gresik Mitra Teknik Guna Pencegahan Kecelakaan Kerja," Jurnal Serambi Engineering, vol. 7, no. 3, pp. 3473 - 3480, 2022.
[12] R. Pramvisi and T. A. Pandria, "Analisis Manajemen Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pengelolaan Limbah di PT. Socfindo dengan Metode HIRARC," Jurnal Serambi Engineering, vol.
7, no. 3, pp. 3534 - 3539, 2022.
[13] B. F. Aprilla and D. Yulhendra, "Penerapan Metode HIRARC dalam Menganalisis Risiko Bahaya dan Upaya Pengendalian Kecelakaan Kerja di Area Crusher dan Belt Conveyor PT. Semen Padang,"
Jurnal Bina Tambang, vol. 8, no. 1, pp. 203-212, 2023.
[14] C. Taher and K. Widiawan, "Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian Risiko di Pabrik Roti PT X," Jurnal Titra, vol. 11, no. 1, pp. 57-64, 2023.
[15] S. W. Putri, A. Momon, Wahyudin and S. Fikri, "Analisis Efektivitas Mesin Injection 2500 Ton di Bagian Produksi PT.XYZ Menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness," Jurnal Serambi Engineering, vol. 7, no. 4, pp. 4195 - 4200, 2022.