ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui learning approach yang
dominan digunakan oleh siswa kelas dua SMF K “X” Bandung. Responden dari
penelitian ini adalah 77 orang remaja, merupakan jumlah keseluruhan dari siswa
kelas dua di SMF K “X” Bandung. Sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian,
maka rancangan penelitian yang diajukan menggunakan teknik survey.
Alat ukur yang digunakan untuk menjaring data mengenai learning
approach diadaptasi dari alat ukur yang dikembangkan oleh John Biggs (2001),
yang diterjemahkan oleh peneliti ke dalam bahasa Indonesia yaitu The Revised
two-factor Study Process Questionnaire (R-SPQ-2F) yang terdiri atas dua puluh
item. Dengan menggunakan Alpha Cronbach dalam Spearman Ro (Rs) diperoleh
dua puluh item yang telah valid dengan validitas berkisar antara 0,380 sampai
dengan 0,635 dan reliabilitas sebesar 0,746.
Berdasarkan hasil pengolahan data secara statistik diketahui bahwa
learning approach yang paling banyak digunakan oleh siswa kelas II di SMF K
‘X’ Bandung adalah deep approach, dengan persentase sebesar 84,4%, dan
sisanya adalah surface approach dengan persentase sebesar 11,7%, dan siswa
yang menggunakan deep approach dan surface approach secara seimbang
sebesar 3,9%.
Pada penelitian ini tidak diperoleh keterkaitan antara learning approach
dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu: personal factor dan
experiential background factors. Oleh karena itu peneliti mengajukan saran untuk
dilakukan penelitian lanjutan yang dikembangkan menjadi suatu penelitian
korelasi, yang menghubungkan learning approach dalam mempelajari materi
pelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi learning approach, seperti personal factors (conception of
learning, abilities, locus of control) dan experiential background factors.
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
KATA PENGANTAR
Pertama-tama peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada Tuhan Yesus Kristus atas anugerah dan kemurahan-Nya kepada
peneliti dari awal perencanaan sampai dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Psikologi di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Peneliti menyadari
bahwa terdapat kekurangan dan keterbatasan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu
saran dan kritik yang membangun akan sangat bermanfaat untuk penelitian
selanjutnya. Kendala-kendala selama penulisan skripsi dapat dilalui peneliti
karena dukungan dari berbagai pihak, karena itulah peneliti ingin menyampaikan
terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. R. Sanusi Soesanto, Psik., selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Kristen Maranatha Bandung.
2. Ibu Lie Fun Fun, M.Psi., Dosen Wali peneliti yang telah banyak
memberikan doa dan dukungan sepanjang peneliti menempuh studi di
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
3. Bapak Drs. Paulus H. Prasetya, M.Si., Psik., selaku Dosen pembimbing
utama yang telah bersedia memberikan banyak waktu dan perhatiannya
dalam menyusun skripsi ini. Terima kasih atas masukan dan bimbingannya
hingga skripsi ini dapat selesai, dan juga selaku dosen konsulen yang
memberikan masukan yang berharga serta selaku Koordinator mata kuliah
Skripsi yang selalu menyediakan waktu untuk bertanya.
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
(Terima kasih Pak atas segala bimbingan dan bantuannya serta membuat
saya menjadi orang yang lebih baik lagi dan lebih bertanggung jawab dalam
hidupku)
4. Ibu Jane Savitri, M.Si., Psik., selaku Dosen Pembimbing Pendamping
yang telah secara sabar memberikan masukan-masukan berharga, dukungan
dan semangat kepada peneliti dalam mengerjakan srikpsi.
5. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Kristen
Maranatha yang telah memberikan bekal ilmu kepada peneliti yang berguna
dalam penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Idah Sadiah, Ibu Nellyke Bilusayang. BA, Bapak Juhara, Bapak Widhi
Prihatmo, Ibu Trislowati dan Bapak Yudi Effendi K yang membantu
administrasi akademik selama perkuliahan.
7. Staf Perpustakaan yang telah membantu menyediakan bahan referensi yang
dibutuhkan peneliti dalam menyelesaikan studi dan penyusunan skripsi ini.
8. Ibu Dra. Nindia Widjajanti Santoso, Apt., selaku kepala sekolah SMF K
“X” Bandung yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian dan
pengambilan data.
9. Guru-guru SMF K “X” Bandung yang telah membantu meluangkan waktu
dan mempermudah dalam proses pengambilan data.
10. Seluruh responden untuk kesukarelaan dan waktu yang telah diberikan
dalam mengisi kuesioner penelitian.
11. Teman-teman baikku yang selalu memberi dukungan
(Ali, Ira, Epenz, Grace, Ricky, Hengky, Tiwoel, Dita, dan semua yang tidak
bisa disebutkan satu persatu)
12. Seluruh keluargaku, papi, mami dan semua kakakku (terutama Jully) yang
tidak bosan-bosannya mendoakan dan memberi dukungan peneliti untuk
menyelesaikan skripsi ini.
13. Marlin, terima kasih untuk kesabaran, pengertian, dan bantuannya di dalam
hidupku, kamu sangat berarti bagiku.
Bandung, Desember 2007
Peneliti
DAFTAR ISI
halaman
ABSTRAK ……….……….. i
KATA PENGANTAR……….………. ii
DAFTAR ISI……….………iii
DAFTAR BAGAN…………...………..……….. ix
DAFTAR TABEL……….………... x
DAFTAR LAMPIRAN………...….... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah……… 1
1.2. Identifikasi Masalah………... 8
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian………... 8
1.3.1.Maksud Penelitian………..…………... 8
1.3.2.Tujuan Penelitian………..……. 8
1.4. Kegunaan Penelitian………...………... 8
1.4.1.Kegunaan Teoritis.………...……… 8
1.4.2.Kegunaan Praktis………...…..………... 9
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
1.5. Kerangka Pemikiran………..………... 9
1.6. Asumsi Penelitian………..……….………...………. 19
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Belajar (Learning)………..…..………….……...…... 21
2.2. Perkembangan Kognitif (Piaget’s Theory)……….……...……….. 25
2.3. Learning Approach ....….………... 30
2.3.1. Peranan Teori Di Dalam Perkembangan inventori Mengenai Learning Approach ... 32
2.3.2. Makna Learning Approach Yang Berbeda ... 34
2.3.3. Presage, Process And Product ... 37
2.3.4. Learning Approach ... 43
2.4. Blooms Taxonomy ... 45
2.5. Kurikulum SMF K ‘X’ Bandung ... 49
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian……….………...……..…… 50
3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.…………..………....….... 50
3.2.1. Variabel Penelitian ... 50
3.2.2. Definisi Operasional...…....………..…... 51
3.3. Alat Ukur………...………...…..……..……….... 52
3.3.1 Kuesioner Learning Approach …….……...…..……...…... 52
3.3.2. Data Pribadi Dan Data Penunjang... 53
3.4. Validitas Dan Reliabilitas Alat Ukur ... 54
3.4.1. Validitas ... 54
3.4.2. Reliabilitas ... 55
3.5. Populasi Sasaran ...………... 55
3.5.1. Populasi Sasaran...………... 55
3.5.2. Karakteristik Populasi ...…………... 55
3.6. Teknik Analisis ... 55
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Responden ...……....……… 57
4.2. Hasil pengolahan Data Dan pembahasan ………. 57
4.2.1. Hasil Pengolahan Data ... 57
4.2.2. Pembahasan ...…...………...…... 59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan………..……….……. 67
5.2. Saran……….………..…………... 68
5.2.1. Saran Penelitian Lanjutan………....……… 68
5.2.2. Saran Praktis………..……....…….. 69
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN
DAFTAR BAGAN
halaman
Bagan 1.1. Kerangka pemikiran……….………….. 19
Bagan 2.1. The 3P Model of Classroom Learning……….... 38
Bagan 3.1. Skema rancangan penelitian………..……. 50
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
DAFTAR TABEL
halaman
Tabel 3.1. Alternatif pilihan jawaban dan nilai …………....……...…………. 52
Tabel 3.2. Kisi-kisi alat ukur R-SPQ-2F ...…………... 53
Tabel 4.1. Persentase responden berdasrkan jenis kelamin ...…….... 57
Tabel 4.2 Persentase Learning Approach ...…..……….. 58
Tabel 4.3 Tabel persentase motif pada learning approach ...……..…... 58
Tabel 4.4. Tabel persentase strategi pada learning approach ...…...….... 58
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Alat Ukur
Lampiran 2. Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Lampiran 3. Data Penunjang
Lampiran 4. Data Learning Approach
Lampiran 5. Persentase Alat Ukur
Lampiran 6. Tabulasi Silang Data Penunjang
Lampiran 7 Kurikulum SMFK ’X’ Bandung
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha Lampiran 1
KATA PENGANTAR
Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha. Saat
ini saya sedang melakukan suatu penelitian mengenai learning approach, khususnya
pada siswa SMF kelas 2 di SMF K ‘X’ yang ada di kota Bandung, oleh karena itu saya
bermaksud mengambil data untuk melengkapi penelitian ini.
Saya sangat mengharapkan kesediaan saudara untuk dapat berpartisipasi didalam
pengisian angket/kuesioner mengenai learning approach ini. Semoga partisipasi yang
saudara berikan didalam penelitian ini dapat memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya dalam penelitian ini.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada saudara yang telah berpartisipasi di
dalam penelitian ini.
Bandung, Desember 2007
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
A. DATA IDENTITAS INDIVIDU
Silahkan isi tempat yang kosong atau lingkari salah satu jawaban.
1. Jenis Kelamin : L / P
2. Nilai Rapot terakhir :
3. Pendidikan Orang Tua :
a. Ayah :
b. Ibu :
B. DATA PENUNJANG
Lingkarilah salah satu pilihan jawaban yang menurut saudara sesuai dengan keadaan diri
saudara
1. Makna belajar bagi saya adalah :
a. mengumpulkan informasi
b. mengambil dan menyimpan materi yang dipelajari
c. menerapkan apa yang telah dipelajari dan disimpan
d. melihat komponen materi yang dipelajari dan menggabungkan ide atau
kejadian di masa lalu atau masa depan
e. melihat sesuatu dari berbagai perspektif sehingga mampu mengubah cara
pemikiran
2. Ketika saya memutuskan untuk belajar, hal tersebut di motivasi oleh :
a. kesadaran pribadi
b. tuntutan orang tua
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
3. Saya merasa bahwa saya memiliki kemampuan dan prestasi akademik yang ……..
saat ini.
a. tinggi
b. sedang
c. rendah
4. Bagi saya materi pelajaran di Sekolah…….. untuk dimengerti.
a. sulit
b. mudah
5. Orang tua saya menuntut saya untuk berprestasi
a. ya
b. tidak
6. Orang tua saya beranggapan bahwa pendidikan adalah suatu hal yang penting,
menurut saya pendapat tersebut ...
a. sesuai dengan diri saya
b. tidak sesuai dengan diri saya
7. Saya merasa nyaman ketika mengikuti pelajaran di kelas
a. ya
b. tidak
8. Menurut saya kualitas pelajaran di sekolah……
a. baik
b. kurang baik
9. Saya merasa ……. menjadi bagian dari sekolah
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
b. malu
10.Perasaan saya ketika mengikuti pelajaran di sekolah adalah ...
a. senang
b. kurang senang
11.Saya merasa bahwa kurikulum yang diterapkan di sekolah ...
a. ringan
b. berat
12.Saya merasa bahwa kurikulum di sekolah……. saya.
a. memotivasi
b. membebani saya
13.Dalam pergaulan di lingkungan sekolah, saya memiliki …… teman yang memiliki
prestasi akademik yang tinggi dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
a. sedikit
b. banyak
14.Pergaulan dengan teman tersebut membuat saya ……..
a. termotivasi untuk mencapai prestasi akademk yang tinggi
b. merasa minder dan berusaha menghindari mereka
15.Secara umum, pandangan saya terhadap guru pengajar di sekolah adalah …….
belajar saya.
a. mendorong
b. menghambat
16.Menurut saya tugas yang diberikan guru kepada siswa…
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
b. menambah pengetahuan
17.Tugas yang diberikan guru kepada siswa pada umumnya diikuti oleh pembahasan
dengan cara yang ……
a. menarik
C. KUESIONER LEARNING APPROACH
Kuesioner ini terdiri dari beberapa pernyataan tentang perilaku mengenai studi
dan kebiasaan belajar saudara. Tidak ada suatu cara yang terbaik dalam belajar.
Semuanya tergantung pada gaya apa yang cocok dan tujuan dri apa yang saudara
pelajari. Jawablah setiap pernyataan dengan jujur, dan apabila saudara berpendapat
bahwa jawaban saudara tergantung pada mata pelajaran yang saudara pelajari,
berikanlah jawaban yang paling mewakili mata pelajaran tersebut.
Dalam kuesioner ini saudara diminta untuk memilih salah satu dari lima
kemungkinan jawaban yang tersedia dengan memberikan tanda silang (X) pada salah
satu kolom yang tersedia di sisi pernyataan. Kemungkinan jawaban yang tersedia adalah
Sangat sering atau hampir selalu terjadi pada saya (SS)
Sering terjadi pada saya (S)
Kadang-kadang terjadi pada saya (K)
Jarang terjadi pada saya (J)
Sangat jarang atau hampir tidak pernah terjadi pada saya (SJ)
Kejujuran saudara dalam mengisi angket ini sangat kami harapkan dan jawaban
yang saudara berikan akan kami rahasiakan. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan diri
saudara dan jangan terpaku pada suatu persoalan, reaksi pertama saudara kemungkinan
adalah yang terbaik. Periksalah kembali jawaban saudara, jangan sampai ada pernyataan
yang terlewat.
Contoh :
a
No. Pernyataan SS S K J SJ
Petunjuk pengisian :
SS = sangat sering S = sering K = kadang–kadang J = jarang SJ = sangat jarang
No. Pernyataaan SS S K J SJ
1. Saya menyadari bahwa belajar menimbulkan kepuasan
pribadi yang mendalam.
2. Saya menyadari bahwa saya harus menganalisa topik
dengan baik agar saya dapat membuat kesimpulan sendiri
sebelum saya puas.
3. Tujuan saya adalah lulus ujian dengan usaha seminimal
mungkin.
4. Saya hanya belajar dengan serius tentang materi yang telah
diberikan di kelas atau pada waktu ujian.
5. Pada dasarnya saya merasa dapat tertarik pada topik
apapun jika saya menyukainya.
6. Saya tertarik pada topik baru dan sering menghabiskan
waktu lebih untuk mengali lebih banyak informasi tentang
itu.
7. Saya tidak begitu tertarik pada pelajaran saya, sehingga
saya tidak berusaha keras untuk itu.
8. Saya mempelajari inti dari materi dan mengulanginya
terus-menerus sampai saya hafal walaupun saya tidak
mengerti.
9. Saya merasa bahwa topik perkuliahan dapat semenarik
novel atau film.
10. Saya menguji diri saya sendiri dengan topik penting
Petunjuk pengisian :
SS = sangat sering S = sering K = kadang–kadang J = jarang SJ = sangat jarang
No. Pernyataaan SS S K J SJ
11. Saya lebih dapat mengerjakan tugas dengan mengingat
kunci jawaban daripada mencoba mengerti jawabannya.
12. Saya biasanya memfokuskan diri pada pelajaran yang saya
anggap perlu difokuskan.
13. Saya rajin belajar karena saya tertarik akan pelajarannya.
14. Saya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan
tentang topik menarik yang akan dibahas di kelas.
15. Saya rasa tidak ada manfaatnya mempelajari suatu topik
secara mendalam, hal itu membingungkan dan
buang-buang waktu saja.
16. Saya percaya bahwa guru tidak akan menyuruh siswa
menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari materi
yang tidak akan diujikan.
17. Saya menyiapkan pertanyaan yang berkaitan dengan mata
pelajaran yang akan diajarkan di kelas.
18. Saya membaca bacaan yang disarankan oleh guru yang
berkaitan dengan pelajaran di sekolah.
19. Saya rasa tidak ada manfaatnya mempelajari materi yang
tidak akan diujiankan.
20. Saya rasa cara terbaik untuk lulus ujian adalah dengan
Lampiran 2
Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Pengujian validitas dan reliabilitas alat ukur ini telah di lakukan oleh
Farrel (2007) mahasiswa psikologi Universitas Kristen Maranatha, dan diperoleh
hasil sebagai berikut:
Lampiran 5
Persentase Data Penunjang
Tabel 5.1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase
Laki-laki 17 22.1%
Perempuan 60 77.9%
Total 77 100%
Tabel 5.2. Karakteristik responden berdasarkan usia
Usia Jumlah Responden Persentase
16 tahun 28 36.4%
17 tahun 41 53.2%
18 tahun 8 10.4%
Total 77 100%
Tabel 5.3. Makna belajar bagi siswa
Makna Belajar Jumlah Responden Persentase
1. mengumpulkan informasi 9 11.7%
2. mengambil dan menyimpan materi
yang dipelajari 5 6.5%
3. menerapkan apa yang telah dipelajari
dan disimpan 21 27.3%
4. melihat komponen materi yang
dipelajari dan mampu menggabungkan ide atau kejadian di masa lalu
20 26.0%
5. melihat sesuatu dari berbagai
perspektif sehingga mampu mengubah cara pemikiran
22 28.6%
Total 77 100%
Tabel 5.4. Locus of Control
Locus of Control Jumlah Responden Persentase
Internal 69 89.6%
Eksternal 8 10.4%
Tabel 5.5 Penghayatan terhadap Prestasi
Penghayatan
terhadap prestasi Jumlah Responden Persentase
Tinggi 42 54.5%
Rendah 35 45.5%
Total 77 100%
Tabel 5.6 Penghayatan terhadap Pelajaran di Sekolah
Penghayatan
Pelajaran Jumlah Responden Persentase
Mudah 40 51.9%
Sukar 37 48.1%
Total 77 100%
Tabel 5.7 Pendidikan Ayah
Pendidikan Ayah Jumlah Responden Persentase
SD 6 7.8%
Tabel 5.8 Pendidikan Ibu
Pendidikan Ibu Jumlah Responden Persentase
SD 1 1.3%
Tabel 5.9 Orang Tua Menuntut untuk Berprestasi
Tuntutan
berprestasi Jumlah Responden Persentase
Ya 65 84.4%
Tidak 12 15.6%
Tabel 5.10 Pendidikan Penting Bagi Orang Tua
Pendidikan Penting Jumlah Responden Persentase
Sesuai 75 97,4%
Tidak Sesuai 2 2,6%
Total 77 100%
Tabel 5.11 Merasa Nyaman Bersekolah
Nyaman bersekolah Jumlah Responden Persentase
Ya 64 83.1%
Tidak 13 16.9%
Total 77 100%
Tabel 5.12 Kualitas Sekolah
Kualitas sekolah Jumlah Responden Persentase
Baik 71 92.2%
Kurang baik 6 7.8%
Total 77 100%
Tabel 5.13 Perasan Menjadi Bagian dari Sekolah
Menjadi bagian dari
sekolah Jumlah Responden Persentase
Malu 1 1.3%
Bangga 76 98.7%
Total 77 100%
Tabel 5.14 Perasaan Mengikuti Pelajaran di Sekolah
Perasaan mengikuti
pelajaran di sekolah Jumlah Responden Persentase
Senang 74 96.1%
Kurang senang 3 3.9%
Total 77 100%
Tabel 5.15 Penghayatan terhadap Kurikulum
Penghayatan terhdp
kurikulum Jumlah Responden Persentase
Ringan 19 24.7%
Cukup berat 58 75.3%
Tabel 5.16 Penghayatan terhadap Kurikulum I
Penghayatan terhdp
kurikulum I Jumlah Responden Persentase
Memotivasi 62 80.5%
Membebani 15 19.5%
Total 77 100%
Tabel 5.17 Memiliki Teman yang Berprestasi
Teman yang
berprestasi Jumlah Responden Persentase
Sedikit 13 16.9%
Banyak 64 83.1%
Total 77 100%
Tabel 5.18 Dampak Pergaulan terhadap Pelajaran di Sekolah
Dampak pergaulan Jumlah Responden Persentase
Termotivasi 74 96.1%
Minder 3 3.9%
Total 77 100%
Tabel 5.19 Pandangan terhadap Guru
Pandangan terhdp
guru Jumlah Responden Persentase
Menghambat 11 14.3%
Mendorong 66 85.7%
Total 77 100%
Tabel 5.20 Tugas dari Guru
Tugas dari guru Jumlah Responden Persentase
Sedikit 16 20.8%
Banyak 61 79.2%
Total 77 100%
Tabel 5.21 Pembahasan Tugas Oleh Guru
Pembahasan tugas Jumlah Responden Persentase
Menarik 33 42.9%
Kurang menarik 44 57.1%
Tabel 5.22. Selisih Nilai Deep Approach dengan Surface Approach
Selisih Nilai DA-SA Jumlah Responden Persentase
- 1 s/d -10 9 11,7%
0 3 3,9%
1 s/d 10 55 71,4%
11 s/d 20 7 9,0%
21 s/d 30 2 2,6%
31 s/d 40 1 1,3%
Lampiran 6
Tabulasi Silang Learning Approach dengan Data Penunjang
Tabel. 6.1. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Jenis Kelamin
Learning Approach
Tabel. 6.2. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Usia
Tabel. 6.3. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Makna Belajar
Tabel. 6.4. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Locus of Control
Learning Approach
Locus of Control External
87.5% 0.0% 22.5% 100.0%
Tabel. 6.6. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Penghayatan terhadap
Tabel. 6.7. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Pendidikan Ayah
Learning Approach
(Diploma&Strata) 81.2% 15.6% 3.2% 100.0%
Tabel. 6.8. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Pendidikan Ibu
Learning Approach
Tabel. 6.9. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Tuntutan Berprestasi
Tabel. 6.11. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Nyaman Bersekolah
Tabel. 6.12. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Kualitas Sekolah
Sekolah Kurang Baik
83.3% 16.7% 0.0% 100.0%
Tabel. 6.13. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Perasaan Menjadi Bagian dari Sekolah
Tabel. 6.14. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Perasaan Mengikuti Pelajaran Di Sekolah
Perasaan Mengikuti pelajaran Kurang
Tabel. 6.15. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Penghayatan
Penghayatan Terhadap kurikulum Ringan 84.2% 10.5% 5.3% 100.0%
Tabel. 6.16. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Penghayatan Terhadap Kurikulum I
Tabel. 6.17. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Teman Berprestasi
Tabel. 6.18 Tabulasi Silang Learning Approach dengan Dampak Pergaulan
Dampak Pergaulan Minder
33.3% 66.7% 0.0% 100.0%
Tabel. 6.19. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Pandangan terhadap Guru
Tabel. 6.20. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Tugas dari Guru
Tabel. 6.21. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Pembahasan Tugas oleh
Tabel. 6.22. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Motive
Motive
Tabel. 6.23. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Strategy
Tabel. 6.24. Tabulasi Silang Motive dengan Strategy
Tabel. 6.25. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Selisih DA-SA
Tabel 6.26. Tabulasi Silang Learning Approach dengan Motive Strategy
Learning Approach
Deep
Deep
Surface Surface Total
Lampiran 7
KURIKULUM SMFK `X` BANDUNG
Pendidikan Sekolah Menengah Farmasi merupakan pendidikan menengah
kejuruan bidang kesehatan, termasuk pada jenjang pendidikan menengah yang
mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan pekerjaan
kefarmasian. Lulusan SMF ini secara professional diperlukan untuk membantu
melaksanakan tugas-tugas kefarmasian dibawah bimbingan tenaga kefarmasian
professional.
Muatan kurikulum SMF terdiri dari:
1. Kompenen Normatif
Bertujuan mengarahkan siswa pada pembentukan watak dan sikap etis. Komponen
normatif. Kelompok mata pelajaran normatif terdiri dari pengetahuan-pengetahuan
yang diperlukan untuk pembinaan kepribadian peserta didik baik sebagai warga
Negara, anggota masyarakat maupun untuk pengembangan professional.
Pengetahuan tersebut dipilih dari ilmu-ilmu kemasyarakatan yang di persyaratkan
oleh Departemen Pendidikan Nasional yang terdiri atas mata pelajaran; Pendidikan
Pancasila Kewarganegaraan, Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Indonesia,
2. Komponen Adaptif
Bertujuan mengarahkan siswa pada konsep berfikir logis dan kreatif. Kelompok
mata pelajaran adaftif ini terdiri dari pengetahuan-pengetahuan yang menunjang
kelompok mata pelajaran produktif. Komponen adaptif ini terdiri atas mata
pelajaran; Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris.
3. Komponen Produktif
Bertujuan mengarahkan siswa pada pembekalan keterampilan dan sikap kerja sesuai
dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja. Mata pelajaran kejuruan ini
merupakan pengetahuan keprofesian dalam tugas-tugas kefarmasian. Komponen
produktif ini terdiri dari mata pelajaran; Ilmu Resep, Farmakologi, Farmakognosi,
Administrasi Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Perundang-undangan Kesehatan, dan
Praktek Kerja Lapangan.
Konsepsi lain yang ada pada kurikulum SMF adalah adanya peluang bagi lulusan
untuk dapat bekerja pada sarana pelayanan kesehatan dan peluang luas untuk dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi baik di lingkungan Departemen
Tujuan institusional sekolah menengah farmasi:
1. Sekolah menengah farmasi diselenggarakan untuk menghasilkan tenaga farmasi
tingkat menengah (asisten apoteker) yang mampu bekerja dalam system pelayanan
kesehatan khususnya di bidang farmasi.
2. Setelah menyelesaikan program pendidikan di sekolah menengah farmasi, para
lulusan diharapkan mampu bekerja sebagai pelaksana tenaga farmasi tinkat
menengah (asisten apoteker) dibidang farmasi, dalam pelayanan kesehatan
membantu kegiatan administrasi, pengawasan dan penyuluhan kesehatan kepada
masyarakat serta pendistribusian sediaan farmasi di apotek.
3. dalam memenuhi tugas suci untuk mengembangkan potensi manusia, pendidikan di
sekolah menengah farmasi juga disiapkan untuk memungkinkan peserta didik
melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi (program diploma/sarjana).
75 4 5 3 4 4 20 5 3 4 4 4 20 5 1 3 2 1 12 5 4 4 4 1 18 40 30 DA 10
76 3 4 3 4 4 18 4 4 3 3 3 17 3 4 3 3 3 16 3 3 4 3 3 16 35 32 DA 3
2 L 16 5 Internal rendah sukar SD SMU ya sesuai ya
3 P 16 3 Internal rendah sukar Strata Diploma ya sesuai tidak
4 P 16 2 Internal rendah sukar SMU SMU tidak sesuai tidak
5 P 17 3 Internal rendah mudah SMU SMU ya sesuai ya
6 P 16 4 Internal tinggi mudah SMP SMU ya sesuai ya
7 L 16 3 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai tidak
8 P 17 4 Internal tinggi sukar Strata Strata ya sesuai ya
9 L 17 4 Internal tinggi mudah Strata Strata ya sesuai tidak
10 P 16 5 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai tidak
11 P 16 4 Internal tinggi mudah Strata Strata ya sesuai ya
12 P 16 4 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
13 P 16 5 Internal rendah sukar Diploma Diploma ya sesuai ya
14 L 17 2 Eksternal tinggi mudah SMU Strata tidak sesuai ya
15 L 17 3 Internal rendah mudah Strata Strata tidak sesuai ya
16 L 18 4 Internal rendah mudah SMU SMU ya sesuai tidak
17 L 16 3 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai ya
18 P 17 5 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai ya
19 P 16 3 Internal rendah sukar SD SD ya sesuai ya
20 L 16 4 Internal tinggi mudah Strata SMU ya sesuai ya
21 P 17 3 Internal tinggi mudah SD SMU ya sesuai ya
22 P 17 5 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
23 P 16 5 Eksternal rendah mudah SMU SMP tidak sesuai ya
24 P 16 4 Eksternal tinggi sukar SMU SMU ya sesuai tidak
25 P 17 2 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
26 L 17 5 Internal tinggi mudah SMU SMP ya sesuai ya
27 P 17 3 Internal tinggi mudah SMU SMP ya sesuai tidak
28 P 17 5 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai ya
29 P 17 2 Internal rendah mudah Strata Strata ya sesuai ya
30 L 17 4 Internal rendah mudah Strata SMU tidak sesuai ya
31 P 17 1 Internal rendah sukar Diploma Diploma tidak sesuai ya
32 P 17 4 Eksternal rendah sukar SMU SMU tidak sesuai ya
39 L 16 4 Internal rendah sukar Strata Strata tidak sesuai ya
40 P 17 1 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
41 P 17 4 Internal tinggi mudah Strata SMU ya sesuai tidak
42 L 18 5 Eksternal rendah mudah Strata Diploma tidak sesuai ya
43 L 16 1 Internal rendah mudah SMU SMU ya sesuai ya
44 P 17 1 Internal tinggi mudah Diploma SMU ya sesuai ya
45 P 16 1 Internal tinggi sukar SMU SMU ya sesuai ya
46 P 16 3 Internal tinggi mudah Strata Strata ya sesuai ya
47 P 17 4 Internal rendah mudah SMU Diploma ya sesuai ya
48 P 17 4 Internal tinggi mudah Strata Strata ya sesuai ya
49 P 17 4 Internal tinggi sukar SMU SMU ya sesuai ya
50 P 16 5 Internal tinggi sukar SD SMU ya sesuai ya
51 P 16 4 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai ya
52 P 16 4 Internal tinggi mudah Strata Strata ya sesuai ya
53 P 18 5 Internal rendah sukar Strata SMU ya sesuai ya
54 P 17 3 Internal tinggi sukar SMU SMU ya sesuai ya
55 P 16 3 Internal rendah sukar SMP SMP ya sesuai ya
56 P 18 5 Internal rendah sukar Strata Strata ya sesuai ya
57 L 17 1 Internal rendah sukar Strata Strata ya sesuai tidak
58 P 17 1 Internal tinggi mudah Strata SMU ya sesuai ya
59 P 17 3 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
60 P 16 3 Internal rendah sukar Strata SMU ya sesuai ya
61 P 17 2 Internal rendah sukar SMU SMU tidak sesuai ya
62 P 18 5 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
63 P 16 3 Internal rendah sukar Strata SMU tidak sesuai tidak
64 P 17 1 Eksternal rendah mudah Strata Strata ya tidak sesuai ya
65 P 17 3 Internal tinggi mudah SMU SMU ya sesuai ya
66 P 16 3 Internal rendah mudah SD SMP ya sesuai ya
67 P 18 5 Internal rendah sukar Strata SMU ya sesuai ya
68 P 17 4 Internal tinggi sukar SMU Diploma ya sesuai ya
69 L 17 5 Internal rendah sukar SMU SMU ya sesuai ya
76 L 17 5 Internal rendah sukar SMU Strata ya tidak sesuai tidak
baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
kurang baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
kurang baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang ringan membebani banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat membebani sedikit termotivasi mendorong sedikit menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
kurang baik malu kurang senang ringan membebani banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
kurang baik bangga senang ringan memotivasi sedikit termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi menghambat sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit minder mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang ringan membebani banyak termotivasi menghambat sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit kurang menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi menghambat banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi sedikit termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga kurang senang cukup berat membebani banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong sedikit menarik
baik bangga senang ringan memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak kurang menarik
baik bangga senang cukup berat memotivasi banyak termotivasi mendorong banyak menarik
baik bangga senang cukup berat membebani banyak termotivasi mendorong sedikit menarik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan tempat di mana anak dapat memperoleh pendidikan atau
proses pembelajaran, yang memilki peran yang amat menentukan bagi perwujudan
diri individu dan bagi pembangunan bangsa dan negara. Pemerintah sendiri
mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh anak di Indonesia.
Di Indonesia tingkat pendidikan dibagi dalam jenjang taman kanak-kanak, sekolah
dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Pada
umumnya orang tentunya ingin mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Di tingkat
pendidikan taman kanak-kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah umum, siswa
diajarkan materi pelajaran yang bersifat umum, global dan lebih untuk memberikan
wawasan dan pengetahuan. Namun pada tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah
menengah atas dan perguruan tinggi siswa dapat memilih sekolah yang sesuai dengan
minat serta bakat yang ada dalam dirinya.
Sekolah Menengah Atas terbagi dalam dua jenis sekolah yaitu Sekolah
Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah
Kejuruan adalah sekolah yang lebih fokus mengajarkan suatu bidang khusus
(misalkan: farmasi, teknik, dan akuntansi) serta menerapkan mata pelajaran yang
menjadi bidang khusus melalui praktek lapangan, sedangkan Sekolah Menengah Atas
U nive rsit a s K rist e n M a ra na t ha
(SMA) adalah sekolah yang mengajarkan materi pelajaran secara umum, menyeluruh
dan bersifat teori. Siswa SMA pun harus melanjutkan ke perguruang tinggi untuk
mendalami suatu bidang khusus dengan memilih jurusan di fakultas. Lain halnya
dengan siswa-siswi di sekolah kejuruan, mereka sudah belajar bidang khusus sesuai
dengan sekolah kejuruan yang dipilihnya, sehingga setelah lulus mereka dapat
langsung bekerja. Terutama di jaman modernisasi saat ini di mana pendidikan
memegang peranan yang sangat penting dalam bekerja, siswa yang bersekolah di
Sekolah Menengah Kejuruan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan siswa SMA,
dikarenakan siswa tersebut memiliki keahlian sesuai dengan bidang kejuruan yang
diambilnya. Nilai lebih yang dimiliki oleh siswa sekolah kejuruan adalah disiapkan
untuk dapat langsung terjun ke dunia kerja begitu selesai sekolah sesuai dengan
bidang keahilan yang dimilikinya, baik farmasi, akuntasi maupun teknik. Terdapat
banyak Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia yang salah satunya mempelajari
bidang Farmasi yaitu Sekolah Menengah Farmasi (SMF).
Pendidikan Sekolah Menengah Farmasi (SMF) merupakan pendidikan
menengah kejuruan bidang kesehatan yang mengutamakan pengembangan
kemampuan siswa untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Siswa dituntut untuk
tidak sekadar mengetahui dan menghafal materi pelajaran, namun diharapkan bisa
juga mengaplikasikan dan mempraktekkannya. Menyikapi tuntutan kurikulum di
SMF, maka dibutuhkan proses adaptasi dari siswa baru. Melihat kondisi yang tidak
dapat dipungkiri bahwa ketika siswa berada pada tingkat pendidikan Sekolah
Menengah Pertama (SMP), materi belajar yang diterima bersifat umum, dan tidak
semua materi tersebut menuntut pemahaman yang mendalam. Dalam proses adaptasi
ini, sebagian siswa mungkin akan dengan cepat menyesuaikan cara belajarnya,
namun ada juga sebagian siswa yang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
dapat menyesuaikan cara belajarnya sehingga dapat menghambat keberhasilannya
dalam belajar.
SMF swasta di Indonesia saat ini hanya terdapat 35 sekolah, dan untuk di Jawa
Barat itu sendiri terdapat 4 sekolah SMF swasta, 3 diantaranya terdapat di Kota
Bandung. Salah satu SMF yang ada, adalah SMF K ‘X’ di Bandung yang di pilih oleh
peneliti menjadi tempat penelitian mengenai learning approach. SMF K `X` ini
merupakan sekolah SMF unggulan yang ada di kota Bandung. Lulusan dari sekolah
SMF K `X` ini banyak dicari untuk bekerja di apotik, rumah sakit, puskesmas
maupun industri yang bergerak di bidang farmasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolahnya, SMFK `X` ini
memiliki misi untuk mengembangkan potensi siswa didiknya secara optimal melalui
pendidikan dan pengajaran yang bermutu dan memiliki visi untuk menjadi lembaga
pendidikan Kristen yang unggul dalam iman, ilmu dan pelayanan. Siswa yang
bersekolah di SMF K `X` mendapat pendidikan dan pelajaran yang cukup ketat dari
guru-gurunya. Peraturan di SMF K `X` ini juga sangat ketat dibandingkan dengan
SMU, siswa dididik untuk bersikap jujur, siswa yang ketahuan mencontek sebanyak
tiga kali atau merokok atau tidak naik kelas di kelas II maka siswa tersebut akan di
drop-out (dikeluarkan). Siswa kelas I yang tidak naik kelas masih diberikan
kesempatan satu kali untuk mengulang, untuk siswa kelas II jika tidak naik kelas
maka akan langsung dikeluarkan, sedangkan untuk siswa kelas III yang tidak lulus
ujian diberi kesempatan dua kali untuk mengulang. Dengan adanya sistem drop-out
ini, siswa diharapkan mengikuti tuntutan kurikulum SMF K ‘X’ Bandung yang
menuntut siswa untuk belajar dan mengolah materi pelajaran sekolah secara
mendalam (deep approach).
Kurikulum SMF K ‘X’ terbagi ke dalam tiga komponen, yaitu: Pertama,
komponen Normatif: Agama, PPKn, Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah Umum
dan Sejarah Nasional, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Kedua, komponen
Adaptif: Matematika, Ilmu Kimia, Biologi, Fisika, Bahasa Inggris. Ketiga, komponen
Produktif: Ilmu Resep, Farmakologi, Farmakognisi, Administrasi Farmasi, Kesehatan
Masyarakat, Perundang-undangan Kesehatan, Praktek Kerja Lapangan. Pelajaran
yang diajarkan di SMF K `X` ini setara dengan D3 farmasi, hanya untuk D3 lebih
unggul dalam penguasaan pelajaran kimia.
Sedangkan pembagian waktu belajar untuk mata pelajaran umum (Agama,
PPKN, Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah Umum dan Sejarah Nasional,
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Matematika, serta Bahasa Inggris) sebesar 40%
dan untuk mata pelajaran khusus (Ilmu Kimia, Biologi, Fisika, Ilmu Resep,
Farmakologi, Farmakognisi, Administrasi Farmasi, Kesehatan Masyarakat,
Perundang-undangan Kesehatan, serta Praktek Kerja Lapangan) sebesar 60%. Dalam
setahun siswa akan menerima hasil laporan belajar (rapot) sebanyak empat kali.
Sistem pembelajarannya dibagi dalam enam semester selama tiga tahun. Pelajaran
yang paling sulit yaitu di kelas II, siswa yang akan naik ke kelas III harus benar-benar
menguasai pelajaran yang diajarkan dikarenakan di kelas III, siswa akan melakukan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) di apotik, rumah sakit, puskesmas dan industri.
Siswa yang ingin bersekolah di SMF K `X` harus mengikuti ujian saringan
masuk, karena hanya siswa-siswi yang mendapatkan nilai tinggi saja yang dapat
bersekolah di SMF K `X`. Pada awal masuk sekolah pun akan ada tes bersama yang
diatur oleh Departemen Kesehatan. Sarana SMF K `X` lengkap dan memadai, setiap
meja diisi oleh satu siswa serta terdapat laboratorium resep dan kimia juga mesin
cetak obat.
Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan terhadap 20 orang siswa
kelas II SMF K ‘X’, terdapat berbagai alasan yang mendasari pilihan mereka terhadap
SMF K ‘X’ tersebut. Di antaranya 12 orang (60%) siswa memilih sekolah kejuruan
ini karena dapat langsung bekerja setelah lulus sekolah. Sebanyak 6 orang (30%)
siswa ingin menjadi apoteker yang handal, karena setelah lulus dari SMF K `X`
mereka dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (S1 atau
apabila memungkinkan sampai S3 di bidang Farmasi). Sisanya sebanyak 2 orang
(10%) siswa beranggapan bahwa kejuruan Farmasi adalah bidang yang mulia karena
menyangkut hidup seseorang dan juga sulit karena dituntut untuk teliti dan
bertanggung jawab atas pekerjaannya dan bisa berakibat fatal apabila salah.
Menurut hasil survei awal terhadap 20 orang siswa, terdapat 8 orang (40%)
siswa yang mempelajari materi pelajaran yang diberikan dengan minat dan rasa ingin
tahu yang besar untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dari materi yang
sedang dipelajari, hal ini terlihat dari usaha mereka juga untuk memahami materi
lebih jelas lagi dengan bertanya kepada guru, meminjam buku diperpustakaan,
melakukan uji coba, atau mencari dari berbagai sumber lain untuk memperkaya
pemahaman terhadap materi tersebut, yang disertai keinginan yang kuat untuk
mendapatkan prestasi yang tinggi dan segera memperoleh pekerjaan agar dapat
mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh pada pekerjaan yang nantinya akan
mereka kerjakan setelah lulus dari SMF K ‘X’ tersebut (pendekatan belajar secara
deep approach).
Sedangkan 12 orang (60%) siswa, belajar hanya mengerti pada saat di kelas
tetapi jarang untuk kembali mengulang materi pelajaran yang diberikan untuk lebih
dipahami ketika sudah pulang ke rumah, namun demikian mereka juga memiliki
motivasi untuk lulus walaupun tidak mementingkan prestasi yang tinggi. Biasanya
mereka belajar satu hari sebelum ujian, dengan harapan agar dapat lulus dan naik
kelas tanpa harus mengulang walaupun dengan nilai yang pas-pasan. Siswa
mempelajari materi lebih cenderung menghafal tanpa pemahaman yang mendalam
(pendekatan belajar secara surface approach).
Fakta dari ke 12 orang tersebut di atas menimbulkan kesenjangan antara
tuntutan kurikulum SMF K ’X’ Bandung yaitu mengupayakan agar setiap siswa dapat
memperoleh pemahaman yang mendalam tentang materi pelajaran yang diberikan
sehingga dapat diaplikasikan ketika mereka terjun ke dalam dunia kerja atau
melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi (pendekatan belajar secara deep approach)
dengan kenyataan lebih banyaknya siswa yang menggunakan pendekatan belajar
secara surface approach, yang belajar bukan untuk memperoleh pemahaman tentang
materi pelajaran, tetapi sekadar agar terhindar dari kegagalan.
Jika hal ini terus berlanjut siswa akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang
baik karena makin banyaknya persaingan di bidang Farmasi. Setelah masuk ke dalam
satu perusahaan mereka harus mampu menunjukkan performa kerja yang baik, jika
materi yang telah mereka pelajari semasa sekolah kurang mampu mereka serap
dengan baik, mereka akan mengalami kesulitan pada saat mereka bekerja.
Pentingnya learning approach dalam pengolahan materi yang diterima oleh
siswa ditambah semakin berkembangnya persaingan pekerjaan dalam bidang Farmasi,
memunculkan minat peneliti untuk melakukan penelitian mengenai learning
approach. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas II SMF K ‘X’ di Bandung
dengan pertimbangan bahwa siswa kelas II diharapkan sudah menggunakan deep
approach dalam memahami materi pelajaran yang lebih kompleks dibandingkan
dengan materi pelajaran yang diterima mereka di kelas I dan juga persiapan
menghadapi kelas III sebagai jenjang terakhir apabila ingin langsung terjun ke
pekerjaan. Oleh karena itu jika ditemukan adanya permasalahan di dalam
penyesuaian terhadap materi pelajaran yang lebih kompleks dapat dilakukan
penanganan jika masih memungkinkan.
Dari berbagai uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai learning approach pada siswa kelas II SMFK `X` Bandung.
1.2
Identifikasi Masalah
Jenis learning approach apa yang digunakan oleh siswa kelas II SMF K ‘X’ di
Bandung
1.3
Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai learning
approach pada siswa kelas II SMF K ‘X’ di Bandung.
1.3.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran yang mendalam
mengenai learning approach yang digunakan oleh siswa kelas II SMF K ‘X’ di
Bandung dengan melihat pula faktor-faktor penunjang yang turut mempengaruhi
learning approach.
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Teoretis
(1) Memberikan informasi tambahan mengenai learning approach yang digunakan
siswa bagi bidang ilmu psikologi pendidikan.
(2) Memberikan masukan bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan
penelitian lanjutan mengenai learning approach.
1.4.2 Kegunaan Praktis
(1) Memberi informasi khususnya kepada siswa kelas II di SMF K ‘X’ Bandung,
mengenai learning approach yang mereka gunakan. Informasi ini dapat
dimanfaatkan dalam rangka pemahaman dan menjelaskan pada siswa kelas II
mengenai learning approach yang cocok sehingga dapat menunjang studi dan
dapat mengoptimalkan prestasi.
(2) Memberi informasi kepada guru BP SMFK `X` Bandung mengenai learning
approach yang cenderung digunakan oleh siswa kelas II di SMF K ’X’
Bandung. Informasi ini dapat digunakan untuk pengarahan mengenai
pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang ada.
1.5 Kerangka Pemikiran
Setiap siswa di SMF K `X` Bandung akan menerima berbagai macam materi
pelajaran baru yang harus mereka pahami. Para siswa dituntut untuk mempelajari
materi pelajaran yang diberikan secara mendalam, tidak sekadar mengetahui materi
yang diajarkan, namun minimal dapat memahaminya. Cara belajar siswa
berbeda-beda, tergantung pada bagaimana siswa melakukan pendekatan belajar terhadap
materi pelajaran yang diajarkan disekolah (learning approach). Selesai mempelajari
materi pelajaran siswa akan melakukan praktek di laboratorium sekolah maupun di
lapangan seperti di apotik, rumah sakit, puskesmas dan industri yang bergerak di
bidang farmasi.
Learning approach adalah pendekatan yang dominan yang diterapkan
seseorang dalam belajar. Terdapat dua jenis learning approach yaitu surface
approach dan deep approach (Biggs, 2003). Masing-masing learning approach
tersebut terdiri atas dua aspek yaitu motif dan strategi. Surface approach merupakan
pendekatan yang terbentuk dari motif ekstrinsik; motif untuk mendapatkan `imbalan`,
untuk menghindari konsekuensi yang negatif, seperti tidak naik kelas. Strategi yang
digunakan yaitu dengan cara memfokuskan pada topik atau elemen penting, diikuti
oleh cara-cara belajar yang minim, seperti sekadar menghafalkan materi pelajaran.
Deep approach adalah pendekatan yang terbentuk dari motif instrinsik; motif untuk
mencari kepuasan pribadi dengan memenuhi rasa ingin tahu dan minat terhadap
materi tertentu. Strategi yang digunakan yaitu dengan memperdalam pemahaman,
diskusi, banyak membaca dan merefleksikan pemahaman yang telah diperoleh dalam
kehidupan keseharian.
Dalam pendekatan deep approach, deep motif berdasarkan pada motivasi
intrinsik, lebih jelasnya, yaitu: minat (Hidi 1990; Schiefele 1991). Minat dan rasa
ingin tahu yang besar untuk memperoleh pemahaman tentang materi yang sedang
dipelajari, motivasi deep atau intrinsik dapat disamakan dengan ‘perasaan
membutuhkan’ pengalaman dalam pemecahan masalah yang secara pribadi dianggap
penting di dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan strateginya kemudian mencari
makna mencakup usahanya untuk mengerti materi yang dipelajarinya yaitu melalui
inter-relasi berbagai ide dan banyak membaca, memanfaatkan tugas yang diberikan
secara tepat, mencari analogi, menghubungkan dengan pengetahuan yang
sebelumnya, serta merumuskan apa yang telah dipelajari. Pada deep approach siswa
SMF K ‘X’ di Bandung akan melakukan pemrosesan pengetahuan yang relevan,
operasi konseptualisasi secara abstrak, mencerminkan metakognisi terhadap apa yang
harus diselesaikan, menggunakan strategi secara optimal untuk menyelesaikan tugas,
menikmati proses belajar, menyediakan waktu dan usaha untuk belajar.
Dalam pendekatan surface approach, motifnya adalah ekstrinsik, siswa
menyelesaikan tugas karena konsekuensi positif dan negatif yang mengikutinya.
Siswa bersedia menerima tugas, dan lulus dengan angka yang minimal juga
dikarenakan hidup mereka akan lebih tidak menyenangkan jika mereka tidak
melakukannya; atau karena mereka berharap hasil tugas baik dengan usaha yang
minimal. Belajar di sini melibatkan pemilihan di antara dua fakta, yaitu: belajar
dengan sangat keras atau gagal. Surface strategi biasanya diadaptasi berdasarkan rote
learning, surface motif berfokus pada topik atau elemen yang tampaknya paling
penting; dan mencoba untuk meniru secara tepat. Karena terlalu fokus, siswa tidak
mampu melihat hubungan antara elemen; atau artinya mengimplikasikan apa yang
telah dipelajari. Kadangkala meniru secara tepat merupakan hal yang penting, sebagai
contoh: formula kimia harus ditiru dengan persis baik hal tersebut dimengerti atau
tidak.
Siswa yang belajar di SMF K ‘X’ Bandung selain membutuhkan kemampuan
untuk menghafal juga membutuhkan kemampuan deep process meliputi higher
cognitive level, yaitu suatu proses pengolahan tingkat tinggi pada pemikiran
seseorang di mana materi yang telah diterima diolah lebih mendalam sampai
terbentuk suatu pemahaman dan mampu mengaplikasikannya di dalam kehidupan
sehari-hari, bukan semata-mata untuk dihafalkan saja. Siswa kelas II SMF K ’X’
yang termasuk dalam kelompok remaja madya (15-18 tahun) tahap kognitifnya sudah
berada pada fase formal operasional, yang menurut Piaget tentunya sudah dapat
berpikir secara abstrak dan dapat menggunakan pendekatan belajar secara deep
approach (Kaagan & Cole, dalam L. Steinberg, 1993). Aktifitas yang digunakan
adalah mencari analogi, menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya, berteori
mengenai apa yang telah dipelajari, mendapatkan keluasan pengetahuan.
Mata pelajaran yang diberikan di sekolah SMF K ‘X’ di Bandung terdiri dari
tiga fokus pengajaran. Pertama, mata pelajaran Normatif: Agama, PPKn, Bahasa dan
Sastra Indonesia, Sejarah Umum dan Sejarah Nasional, Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan (materi pelajarannya sama persis dengan yang diberikan di SMU). Kedua,
mata pelajaran Adaptif: Matematika, Ilmu Kimia, Biologi, Fisika, Bahasa Inggris.
Pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris materi yang diberikan sama
dengan SMU, sedangkan pada mata pelajaran Fisika dan Biologi pada dasarnya
materi yang diberikan sama dengan SMU tetapi lebih difokuskan yang berhubungan
dengan kefarmasian. Mata pelajaran Kimia dibagi menjadi dua: Kimia Organik yaitu
cara-cara menghitung bobot jenis dari unsur-unsur Kimia dan menentukan jenis asam
basa dari unsur-unsur Kimia yang berhubungan dengan obat, dan Kimia An-Organik
yaitu mempelajari dan mencari rumus-rumus dari unsur-unsur Kimia.
Ketiga, mata pelajaran Produktif (mata pelajaran kejuruan): Ilmu resep yaitu
Ilmu yang mempelajari tentang cara menghitung dosis obat, penimbangan,
pembuatan obat, cara membaca cara pakai obat dalam resep, mempelajari bahasa
latin, arti dan penulisannya, Farmakologi yaitu Ilmu yang mempelajari cara
penggunaan obat, Farmakognisi yaitu Ilmu yang mempelajari asal-usul obat,
Administrasi Farmasi yaitu Ilmu yang mempelajari pembukuan terutama tata cara
kerja di apotik, Kesehatan Masyarakat yaitu Ilmu yang mempelajari tentang berbagai
penyakit yang ada di masyarakat, baik penyebab atau cara penularannya dan cara
hidup yang sehat, Perundang-undangan Kesehatan yaitu Ilmu yang mempelajari
tentang undang-undang kesehatan yang ada di Indonesia, misal: cara penyimpanan
obat di apotik antara: obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras. Pengaturan cara
kerja apoteker dan asisten apoteker. Mengatur penggunaan zat tambahan dalam obat
yang diperbolehkan. Ilmu Resep. Farmakologi, Farmakognisi, Administrasi Farmasi,
Kesehatan Masyarakat, Perundang-undangan Kesehatan, Praktek Kerja Lapangan.
Tujuan mata pelajaran Normatif adalah untuk mengarahkan siswa pada
pembentukan watak dan sikap etis serta menunjang pencapaian kompetensi pada
komponen produktif. Sedangkan tujuan mata pelajaran Adaptif adalah membekali
siswa untuk bernalar logis dan dapat menerapkan komponen ini ke dalam komponen
produktif secara selaras, bukan semata aspek keilmuannya, sehingga diharapkan
dapat digunakan oleh siswa selama proses pembelajaran di lahan praktik maupun
setelah lulus. Dengan demikian komponen adaptif perlu ditekankan pada aspek
aplikasi bidang farmasi, sehingga nantinya akan lebih berdaya guna. Tujuan mata
pelajaran Produktif adalah untuk mengarahkan siswa pada pembekalan ketrampilan
dan sikap kerja sesuai dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja.
Dari ketiga kelompok mata pelajaran yang telah diuraikan di atas, siswa yang
menggunakan cara belajar deep approach, di dalam dirinya terdapat komitmen
pribadi untuk belajar, dengan cara menghubungkan materi pelajaran secara pribadi
pada konteks yang berarti baginya atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Sedangkan siswa yang menggunakan cara belajar surface approach, hanya akan
menyediakan waktu seminimal mungkin dan usaha yang tidak konsisten untuk
memberikan segala sesuatu yang diperlukan, karena motivasinya adalah
menghasilkan hal-hal yang sederhana.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi jenis learning approach yang akan
digunakan oleh siswa, yaitu personal dan experiential background factors. Faktor
pertama dari personal factors adalah conception of learning, yaitu bagaimana siswa
kelas II SMF K `X` bandung memaknakan belajar bagi dirinya dan akan
mempengauhi bagaimana siswa menyelesaikan tugasnya. Terdapat enam conception
of learning, yaitu increasing one`s knowledge (kuantitatif, informasi, dan
mengumpulkan), memorizing and reproducing (mengambil dan menyimpan materi
yang dipelajari), applying (menerapkan kembali apa yang telah dipelajarri dan
disimpan), understanding (memahami komponen materi yang dipelajari dan mampu
menggabungkan ide atau kejadian dimasa lalu atau di masa depan), seeing something
in different way ( belajar melihat sesuatu dari berbagai perspektif sehingga mengubah
cara pemikirannya), dan changing as a person (diri sebagai pribadi sudah berubah)
(Malton,1981).
Siswa yang memiliki conception of learning yaitu increasing one`s knowledge,
memorizing and reproducing, dan applying, cenderung menerapkan surface approach,
yaitu berpegang pada konsepsi belajar yang didasarkan seberapa banyak materi yang
dihafalkan (kuantitatif). Untuk siswa yang memiliki cenception of learning yang
lainnya yaitu understanding, seeing something in different way, dan changing as a
person cenderung menerpkan deep approach, yaitu berpegang pada konsepsi yang
berdasarkan seberapa dalam siswa tersebut memahami materi (kualitatif). Hal ini
dikarenakan perhatianya tertuju pada struktur, bukan hanya pada elemen tertentu
seperti yang dilakukan siswa dengan surface approach (Van Rossum dan Schenk,
1984 dalam Biggs, 1993).
Faktor kedua adalah abilities atau kemampuan intelektual yang dimiliki siswa
kelas II SMF K `X` Bandung. Siswa dengan tingkat intelegensi yang lebih rendah
cenderung menggunakan surface approach (Biggs, 1987a). Deep approach biasa
digunakan oleh siswa yang memiliki inteligensi tinggi atau cemerlang, namun
pendekatan ini dapat digunakan oleh semua tingkatan, kecuali tingkat inteligensi yang
paling rendah.
Faktor ketiga adalah locus of control, yaitu pusat di mana orang meletakkan tanggung
jawab untuk meraih kesuksesan atau menghindari kegagalan, yang berasal dari dalam
diri (internal) atau luar dirinya (eksternal) (Rotters, 1954). Siswa dengan locus of
control internal akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk bekerja meraih
kesuksesan, memiliki motif intrinsik; yang mengarahkannya pada penggunaan deep
approach. Sedangkan siswa dengan locus of control eksternal, percaya bahwa
terdapat orang lain atau kekuatan yang berasal dari luar diri dalam meraih kesuksesan
dan mengatur hidup mereka, memiliki motif ekstrinsik; yang mengarahkannya pada
penggunaan surface approach.
Faktor experiential background terdiri atas parental education dan experiences
in learning institution. Pendidikan orang tua memberikan pengaruh pada pemilihan
pendekatan belajar siswa. Siswa yang menerapkan deep approach diasosiasikan
dengan tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi daripada orang tua dari siswa
yang menerapkan surface appoach (Biggs, 1987a). Terdapat pula anggapan bahwa
siswa yang memiliki orang tua dengan latar pendidikan yang tinggi, akan memiliki
tuntutan akademik yang tinggi pula terhadap anaknya, serta menganggap bahwa
pendidikan adalah suatu hal yang penting (Biggs, 1987 dalam Biggs 1993).
Faktor terakhir adalah experiences in learning institution, dalam faktor ini
tercakup pandangan tentangp suasana kelas, penghayatan tentang kualitas sekolah,
perasaan senang mengikuti pelajaran di sekolah, pandangan tentang teman dan
kecocokan dengan guru. Suasana kelas yang nyaman bisa membangkitkan motivasi
siswa untuk belajar. Demikian pula pandangan siswa terhadap kualitas sekolah. Jika
siswa memandang sekolahnya berkualitas baik disertai perasaan senang bersekolah,
maka ia akan memilih deep approach (Watkins dan Hattie, 1990 dalam Biggs, 1993).
Namun sekolah juga bisa dipandang sebagai institusi yang hanya peduli pada
kemampuan literacy dan numeracy, bukan dipandang sebagai tempat untuk
menemukan pengetahuan baru dan mengembangkan kemampuan inquiry (Campbell,
1980 dalam Biggs, 1993). Siswa yang berpandangan demikian cenderung akan
memilih surface approach. Sistem pendidikan di sekolah pun turut mempengaruhi
pandangan siswa tentang sekolah tersebut. Sistem pendidikan yang memiliki
kurikulum yang terlalu padat serta tuntutan setiap mata pelajaran yang sekadar pada
pengetahuan dan pemahaman, akan menghasilkan pandangan yang cenderung negatif
tentang sekolah dan akan mengarahkan siswa untuk menggunakan surface approach.
Sedangkan sistem pendidikan dengan kurikulum yang proposional dan disertai
tuntutan setiap pelajaran yang sampai pada tingkat sasaran penerapan, analisis,
sintesis dan evaluasi, yang dianggap akan lebih relevan dengan tuntutan dunia kerja,
akan menghasilkan pandangan yang cenderung positif tentang sekolah dan akan
mengarahkan siswa untuk menggunakan surface approach.
Pandangan tentang teman juga bisa mempengaruhi seseorang dalam memilih
learning approach, terutama jika berada di masa remaja akhir seperti yang dialami
oleh siswa pada umumnya. Pada masa ini remaja mulai membentuk peer-group
dengan temannya, peer relationship ini memegang peranan penting karena teman
memiliki pengaruh yang lebih luas di bandingkan dengan orang tua. Peer relationship
bisa berfungsi sebagai wadah untuk belajar peraturan-peraturan dan standar sosial
yang terkait dengan prestasi akademik siswa di samping peran orang tua (Santrock,
1998). Siswa yang bergaul dengan teman yang berprestasi baik dan
bersungguh-sungguh dalam belajar, akan memotivasinya untuk berusaha belajar dengan baik,
memahami materi perkuliahan yang diberikan oleh guru (Natriello & Mc Dill, 1986
dalam Steinberg, 2002). Pandangan siswa yang positif terhadap teman yang
berprestasi dapat memicu penggunaan deep approach dengan melakukan strategi