ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran Kreativitas Figural pada anak TK B di TK Santa Angela Bandung. Kreativitas Figural adalah kemampuan anak untuk membentuk kombinasi-kombinasi baru dari unsur-unsur yang diberikan yang tercermin dari kelancaran, kelenturan dan orisinalitas dalam memberikan gagasan serta kemampuan untuk mengembangkan, merinci dan memperkaya (elaborasi) suatu gagasan dalam bentuk kongkrit. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak TK B di TK Santa Angela Bandung.
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah desain non-eksperimental, pendekatan yang digunakan adalah metode deskriptif. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui derajat Kreativitas Figural pada anak TK B ini adalah Tes Kreativitas Figural yang sudah distandarisasikan oleh Prof. Dr. S.C. Utami Munandar. Dari hasil perhitungan statistic, didapatkan validitas dan reliabilitas Tes Kreativitas Figural untuk anak TK B. Validitas alat ukur ini berkisar antara 0.335 sampai 0.957, sedangkan derajat reliabilitasnya adalah0.76 untuk fluency, 0.63 untuk flexibility dan 0.79 untuk originality.
DAFTAR ISI
Abstrak ……….. i
Kata Pengantar……… ii
Daftar Isi………. viii
Daftar Bagan……….. xi
Daftar Tabel……… xii
Daftar Lampiran ………. xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah……….. 1
1.2. Identifikasi Masalah……… 10
1.3. Maksud & Tujuan Penelitian……….. 10
1.4. Kegunaan Penelitian……… 10
1.5. Kerangka Pikir………. 11
1.6. Asumsi………. 23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. KREATIVITAS……… 24
2.1.1. Definisi Kreativitas ………..……. 24
2.1.2. Makna Pengembangan Kreativitas ……… 26
2.1.4. Strategi Empat P dalam Pengembangan Kreativitas……….. 28
a.Pribadi………….……… 28
b. Pendorong……….. 28
c. Proses (process)……….. 31
d. Produk (Product)……… 32
2.1.5. Peranan Guru dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Didik…………. 33
2.2. PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA AWAL ANAK-ANAK…. 35 2.2.1. Tahap Pemikiran Preoperasional Piaget……….. 35
Subtahap Pemikiran Intuitif……….. 37
2.2.2. Pemrosesan Informasi……….. 41
Perhatian……… 41
Teori Pikiran Anak……… 43
2.3. PENDIDIKAN MASA AWAL ANAK-ANAK………. 45
2.3.1. Taman Kanak-kanak yang Berpusat pada Anak……….. 46
2.3.2. Pengaruh Pendidikan Masa Awal Anak-anak……….. 47
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian………. 49
3.2. Variabel Penelitian, Definisi Konseptual & Definisi Operasional………… 50
3.3. Alat Ukur………. 51
3.3.1. Tes Kreativitas Figural………. 52
3.3.2.1. Validitas Alat Ukur………. 54
3.3.2.2. Reliabilitas Alat Ukur………. 55
3.4. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel………. 55
3.5. Teknik Analisis……….. 56
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Responden………. 57
4.2. Hasil Penelitian………... 58
4.3. Pembahasan……… 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan……… 70
5.2. Saran……… 72
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.5. Bagan Kerangka Pikir………. 22
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Persentase responden berdasarkan jenis kelamin……….. 57
Tabel 4.2. Tabel Persentase derajat Kreativitas Figural……….. 58
DAFTAR LAMPIRAN
Tabel 1. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak
beradaptasi di masa awal sekolah
Tabel 2. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak beradaptasi
dengan lingkungan sekolah dan kelas
Tabel 3. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keberanian anak dalam
mengungkapkan pikiran atau keinginannya
Tabel 4. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan ketergantungan anak pada guru
dalam mengerjakan kegiatan kreativitas
Tabel 5. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keberanian anak dalam
mencoba hal-hal baru
Tabel 6. Tabel Derajat Kreativitas Figural berdasarkan minat anak pada jenis
permainan yang beragam
Tabel 7. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk
dengan cepat bangkit dari kegagalan
Tabel 8. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kecepatan anak dalam
menanggapi tugas yang diberikan guru
Tabel 9. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kecepatan anak dalam
mengerjakan tugas yang diberikan guru
Tabel 10. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk
Tabel 11. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk
mengembangkan tugas kreativitasnya
Tabel 12. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan seringnya anak bertanya
dalam kelas
Tabel 13. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk
mengerjakan lebih dari satu tugas dalam satu jam pelajaran kreativitas
Tabel 14. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keaktifan anak dalam kelas
Tabel 15. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan dimana guru
meminta anak mengerjakan tugas kreativitas persis sama dengan contoh
yang diberikan guru
Tabel 16. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk
menerima saran dari guru
Tabel 17. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan dimana guru selalu
memberikan bantuan pada anak dalam mengerjakan tugasnya di kelas
Tabel 18. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan penilaian guru
Tabel 19. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan semangat anak saat guru
mengadakan lomba kreativitas
Tabel 20. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan pemahaman guru akan
maksud dari hasil kreativitas anak
Tabel 21. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan ragam alat kreativitas yang
disediakan sekolah
Tabel 22. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan dimana guru
Tabel 23. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kebiasaan guru untuk
memantau dan memberikan saran pada anak
Tabel 24. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan pengenalan yang baik pada
kemampuan anak dalam potensi kreativitasnya
Tabel 25. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan seringnya diadakan lomba
kreativitas
Tabel 26. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan guru memberikan
penilaian baik buruk pekerjaan anak
Tabel 27. Tabel Derajat Kreativitas Figural berdasarkan jenis kelamin
Tabel 28. Tabel Derajat Kreativitas Figural berdasarkan frekuensi diadakannya jam
LAMPIRAN
Data Penunjang
Tabel 1. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak beradaptasi di masa awal sekolah
Mampu
Tabel 2. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan kelas
Tidak mampu
Tabel 3. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keberanian anak dalam mengungkapkan pikiran atau keinginannya
Tabel 4. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan ketergantungan anak pada guru dalam mengerjakan kegiatan kreativitas
tergantung Total Derajat_KF a. Rendah 14.29% 1 18.18% 4 0 0 16.67% 5 b. Cukup 71.43% 5 59.10% 13 0 0 60.00% 18 c. Tinggi 14.29% 1 22.73% 5 100% 1 23.33% 7 Total 100% 7 100% 22 100% 1 100% 30
Tabel 5. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keberanian anak dalam
mencoba hal-hal baru
Tabel 7. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk dengan cepat bangkit dari kegagalan.
Mampu Cukup mampu Kurang mampu Total
Tabel 8. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kecepatan anak dalam menanggapi tugas yang diberikan guru.
Kurang cepat Cukup cepat Cepat Total
Tabel 9. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kecepatan anak dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Tidak cepat Kurang cepat Cukup cepat Cepat Total
Tabel 11. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk mengembangkan tugas kreativitasnya.
Kurang mampu Cukup mampu Mampu Total
Tabel 12. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan seringnya anak bertanya dalam kelas
Tabel 13. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk mengerjakan lebih dari satu tugas dalam satu jam pelajaran kreativitas
Kurang mampu Cukup mampu Mampu Total
Tabel 15. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan dimana guru meminta anak mengerjakan tugas kreativitas persis sama dengan contoh yang diberikan guru.
Tabel 16. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kemampuan anak untuk menerima saran dari guru
Mampu Cukup mampu Kurang mampu Total
Tabel 17. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan dimana guru selalu memberikan bantuan pada anak dalam mengerjakan tugasnya di kelas
Tabel 18. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan penilaian guru
Tabel 19. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan semangat anak saat guru mengadakan lomba kreativitas
Tabel 20. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan pemahaman guru akan
maksud dari hasil kreativitas anak
Cukup mamahami Total Derajat_KF a. Rendah 16.67% 5 16.67% 5 b. Cukup 60.00% 18 60.00% 18 c. Tinggi 23.33% 7 23.33% 7 Total 100% 30 100% 30
Tabel 21. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan ragam alat kreativitas yang disediakan sekolah
Tabel 23. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan kebiasaan guru untuk memantau dan memberikan saran pada anak
Kadang dipantau Selalu dipantau Total
Tabel 24. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan pengenalan yang baik pada kemampuan anak dalam potensi kreativitasnya.
Cukup mengenal Total Derajat_KF a. Rendah 16.67% 5 16.67% 5 b. Cukup 60.00% 18 60.00% 18 c. Tinggi 23.33% 7 23.33% 7 Total 100% 30 100% 30
Tabel 25. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan seringnya diadakan lomba kreativitas
Tabel 26. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan keadaan guru memberikan penilaian baik buruk pekerjaan anak
Tabel 27. Tabel Derajat Kreativitas Figural berdasarkan jenis kelamin
Jenis_Kelamin Total
Laki-laki Perempuan
a. Rendah 3 10.00% 2 6.67% 5 16.67%
b. Cukup 7 23.33% 11 36.67% 18 0.6%
Derajat Kreativitas
Figural c. Tinggi 3 10.00% 4 13.33% 7 23.33%
Total 13 33.33% 17 56.67% 30 100%
Tabel 28. Tabel derajat Kreativitas Figural berdasarkan frekuensi diadakannya jam pelajaran kreativitas.
Tidak setiap hari
Hampir setiap
hari Total a. Rendah 15.00% 3 20.00% 2 16.67% 5 b. Cukup 65.00% 13 50.00% 5 60.00% 18 Derajat_
KF
c. Tinggi 20.00% 4 30.00% 3 23.33% 7 Total 100% 20 100% 10 100% 30
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Era globalisasi yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang amat pesat, membutuhkan individu-individu yang kreatif produktif.
Menurut psikolog anak Dr.Seto Mulyadi, M.Psi (harian PR, April 2002) persoalan
kreativitas dan kecerdasan ini sesungguhnya sangat penting. Alasannya, kedua aspek
itu merupakan andalan dalam menghadapi kian ketatnya persaingan hidup di era
globalisasi sekarang. Dalam pandangan psikolog Alva Handayani (harian PR,
April 2002), tantangan akan lebih berat lagi bagi mereka yang saat ini masih
anak-anak. Di usia dewasanya kelak, mereka harus berhadapan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta persaingan amat berat, yang lebih dari apa yang
dialami saat ini. Selain persaingan dengan bangsa sendiri, mereka juga harus bersaing
dengan orang atau perusahaan luar negeri akibat globalisasi perdagangan. Persaingan
ini tidak main-main. Jika tidak diantisipasi dengan cermat, semua bisa sia-sia dan
terlambat. Untuk itu, diperlukan cara mengantisipasinya, antara lain dengan
membangun kecerdasan anak. "Hanya anak yang cerdas, kreatif, dan stabil yang bisa
bertahan dalam kerasnya persaingan ini. Dan, pendidikan menjadi faktor terpenting
dalam menciptakan anak yang cerdas, kreatif, dan stabil. Pendidikan di sini
mencakup pendidikan formal di sekolah maupun informal di rumah," kata Alva.
2
Perilaku kreatif adalah hasil dari pemikiran kreatif. Implikasinya adalah
bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui pendidikan. Oleh karena itu,
hendaknya sistem pendidikan dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku
kreatif-produktif, di samping pemikiran logis dan penalaran. Dalam pengembangan
kreativitas sejak dini, peran pendidik sangatlah penting. Berbagai upaya untuk
meningkatkan kreativitas dapat dilakukan oleh pendidik baik di rumah maupun di
sekolah. Berbagai upaya tersebut mengacu pada hakikat kreativitas, peranan pendidik
dalam pengembangan kreativitas, dan upaya-upaya peningkatan kreativitas anak usia
prasekolah dan sekolah dasar. Tetapi di sisi lain, kreativitas anak acap kali sulit
berkembang.
Budaya Indonesia selama ini dinilai sebagai salah satu kendala tumbuhnya
kreativitas anak. Anak dianggap baik dan pandai kalau penurut, patuh, manis, dan
mau berbuat sesuai dengan yang dikatakan oleh guru, orang tua atau siapa pun yang
lebih tua. Anak akan dianggap perusak kalau dia suka memberontak dan melakukan
sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Citra semacam itulah yang
berkembang di Indonesia. Kreativitas anak Indonesia saat ini cenderung kurang
bertumbuh kembang. Pendidikan yang ada, baik oleh orang tua, guru, maupun
masyarakat, masih berorientasi pada harapan-harapan orang tua, bukan keinginan
anak. Anak dibiarkan tumbuh dalam situasi dan posisi yang lemah, di bawah orang
tua ataupun guru. "Sistem pendidikan Indonesia saat ini tidak menciptakan anak-anak
yang kreatif. Murid yang baik selama ini adalah murid yang rajin, penurut, dan patuh,
serta bisa mengerjakan soal-soal sebagaimana yang telah diajarkan guru, sampai pada
3
titik komanya harus persis," kata Dr.Seto Mulyadi, M.Psi. Dr.Seto Mulyadi, M.Psi
kemudian menjelaskan, pendidikan Indonesia hanya mengembangkan kecerdasan
intelektual. Itu pun hanya memanfaatkan 1 persen bagian otak, sedangkan 99 persen
lainnya belum termanfaatkan optimal. Di sekolah pengajaran terutama menekankan
pada penyampaian informasi faktual dan pengembangan penalaran yaitu pemikiran
logis menuju pencapaian satu jawaban yang benar atau paling tepat. Cara penemuan
jawaban yang benar sering pula sudah ditentukan oleh guru. Tetapi dengan
perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia belakangan ini, mencerminkan
peningkatan dalam kesadaran akan pentingnya perkembangan kreativitas. Walaupun
masih belum berkembang secara berkesinambungan. Karena dalam
perkembangannya, masih pada lapisan paling dasar perkembangan kreativitas
dimasukkan sebagai aspek penting dalam pendidikan, tetapi belum disertai pada
pendidikan yang lebih tinggi.
Menurut Dr.Seto Mulyadi, M.Psi erat sekali hubungan kreativitas dan
kecerdasan. Oleh karena itu, anak tidak boleh hanya dididik agar cerdas, tetapi juga
kreatif dan mempunyai emosi stabil. Dengan demikian pemikiran kreatif – suatu
proses berpikir yang bersifat divergen – yaitu kemampuan untuk melihat suatu
masalah dari berbagai sudut pandang dan mampu memberikan macam-macam
kemungkinan jawaban secara lancar, fleksibel (luwes) dan orisinal, kurang
dirangsang. Padahal bakat kreatif sesungguhnya dimiliki setiap anak, tetapi bakat itu
memerlukan kesempatan untuk berkembang dalam lingkungan yang menghargai,
memupuk, dan menunjang kreativitas. Hakikat pendidikan adalah mengusahakan
4
suatu lingkungan yang memungkinkan perkembangan bakat, minat, dan kemampuan
anak secara optimal.
Berdasarkan kenyataan bahwa setiap anak mempunyai bakat dan minat yang
berbeda-beda dalam jenis dan derajat, maka diperlukan pendidikan dan kurikulum
yang berdiferensiasi agar keragaman bakat dan minat anak dapat terwujud. Tetapi
menurut Utami Munandar (Harian Pelita, 2003) bakat ini dapat juga tidak
berkembang karena dikekang dan dihambat, bahkan dimatikan karena sikap pendidik
atau keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan. Contoh sikap orang tua yang
tidak menunjang perkembangan bakat dan kreativitas ialah terlalu khawatir atau
takut-takut, sehingga anak terlalu dibatasi kegiatannya. Kemampuan kreatif seorang
anak sering begitu ditekan oleh pendidikan dan pengalamannya sehingga ia tidak
dapat mengenali potensinya, apalagi mewujudkannya. Jika ia dapat dibantu dalam hal
ini, ia akan mampu mencapai apa yang oleh Maslow (1967, dalam Utami
Munandar, 1999) disebut “aktualisasi diri”. Pendidikan dapat melakukan banyak hal
untuk membantu seseorang mencapai pemenuhan diri sepenuhnya, apa pun tingkat
kapasitas pembawaannya. Banyak orang memiliki benih kreativitas, tetapi lingkungan
gagal untuk memberikan pupuk yang tepat untuk pertumbuhannya, akibatnya
orang-orang ini tidak pernah hidup sepenuhnya.
Torrance, 1959, Getzels dan Jackson, 1962, dan Yamamoto,1964 (dalam
S.C.Utami Munandar, 1999) berdasarkan studinya masing-masing sampai pada
kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kelompok siswa yang tingkat kreativitasnya
tinggi tidak berbeda dalam prestasi sekolah dari kelompok siswa yang inteligensinya
5
relatif lebih tinggi. Torrance mengemukakan hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa
ingin tahu, dan orisinalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi
kekurangan dalam daya ingat dan faktor-faktor lain yang diukur oleh tes intelegensi
tradisional. Penelitian Utami Munandar (1977) terhadap siswa SD dan SMP
menunjukkan bahwa kreativitas sama absahnya seperti inteligensi sebagai prediktor
prestasi di sekolah. Adapun kombinasi dari inteligensi dan kreativitas lebih efektif
lagi sebagai prediktor prestasi sekolah daripada masing-masing ukuran sendiri.
Implikasinya terhadap pendidikan adalah bahwa untuk tujuan seleksi dan identifikasi
bakat sebaiknya menggunakan kombinasi dari inteligensi dan tes kreativitas.
Menurut Utami Munandar (1999), kreativitas adalah suatu gaya hidup, suatu
cara dalam mempersepsi dunia. Hidup kreatif berarti mengembangkan talenta yang
dimiliki, belajar menggunakan kemampuan diri sendiri secara optimal; menjajaki
gagasan-gagasan baru, tempat-tempat baru, aktivitas-aktivitas baru; mengembangkan
kepekaan terhadap masalah lingkungan, masalah orang lain, masalah kemanusiaan.
Banyak orang menganggap bahwa kreativitas hanya dapat diajarkan jika dikaitkan
dengan bidang subjek (mata ajaran) tertentu. Hal ini tidak benar. Kreativitas dapat
diajarkan dalam konteks yang content free alias lepas dari bidang materi tertentu,
dapat pula dikaitkan dengan konten atau bidang subjek khusus.
Untuk itu kreativitas perlu ditumbuhkembangkan sejak dini, khususnya pada
usia prasekolah dan sekolah dasar, karena pada usia-usia tersebut berlangsung
“periode kritis” di samping “periode puncak” perkembangan kreativitas. Setiap anak
pada dasarnya memiliki potensi masing-masing. Bakat yang disandang anak berasal
6
dari pembawaan dan pengalamannya. Kalaupun pembawaan seorang anak bisa
mencapai tingkat kreativitas yang tinggi, belum tentu ia mampu mewujudkan
potensinya itu. Terutama bila lingkungan keluarganya miskin stimulasi, seperti orang
tua bersikap otoriter, kelewat membatasi atau kurang memberikan kebebasan pada
anak, dan tak terbiasa mendengarkan pendapat serta ide anak. Menurut Utami,
stimulasi kreativitas anak sangat membutuhkan peran orang tua, khususnya pada
tahun-tahun pertama kelahiran sampai anak berusia 5 tahun. Jika ia baru mendapat
stimulasi ketika memasuki usia SD, tentu saja hasilnya jauh ketinggalan dibanding
mereka yang sejak lahir atau bayi sudah dirangsang. Pada usia balita, anak masih
memiliki pola pikir yang bebas, fleksibel, dan belum mengenal aturan-aturan dan
batasan-batasan yang akan ia jumpai di tingkat pendidikan selanjutnya.
TK. “X” merupakan salah satu TK yang cukup tua di Bandung. TK ini
berdiri sejak 100 tahun yang lalu. Dengan pesatnya kemajuan jaman, TK ini pun
berusaha untuk berlari mengejar tuntutan jaman yang senantiasa berkembang. TK ini
memiliki tujuan untuk mengembangkan sifat dan sikap anak dari prasekolah untuk
menuju pendidikan formal, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Program
kurikulum yang digunakan adalah sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi),
yang berwawasan internasional untuk menghadapi globalisasi. KBK berarti setiap
mata pelajaran berkesinambungan, dimana semua pelajaran menggunakan tema yang
sama dan saling mendukung. TK ini menggunakan cara dengan menentukan 1 tema
yang akan digunakan selama waktu yang dibutuhkan, dan menggunakan sub tema
7
untuk kebutuhan setiap harinya. Sub tema ini diaplikasikan pada setiap aspek
pengembangan yaitu: bahasa, matematika, sains, seni, agama, dan psikososial.
Kegiatan kreativitas di sekolah ini cukup beragam, dalam kelompok besar
dibagi dua, yaitu daya cipta dan ketrampilan. Daya cipta meliputi kegiatan
membentuk dengan media (mainan plastisi, lasy, malam, lego, miniset) dan
menggambar. Bidang ketrampilan meliputi kegiatan menggunting, menempel,
melipat, meronce, merobek, dan bekerja dengan barang bekas. Untuk
kegiatan-kegiatan di atas guru biasanya hanya menyiapkan media dan perlengkapan yang akan
digunakan dan memberikan pengarahan dan contoh, lalu anak-anak dibebaskan untuk
memilih media sendiri dan berkreasi sendiri, guru hanya mengawasi dan memberikan
saran-saran kepada anak. Semua karya anak dipajang di dinding kelas tanpa
memilih-milih mana yang bagus dan jelek, hal ini menunjukkan penghargaan pada setiap karya
anak. Meskipun begitu dalam acara-acara khusus diadakan lomba gambar, hasil-hasil
yang terbaik akan mendapatkan penghargaan lebih, biasanya berupa hadiah.
Dari hasil wawancara dengan guru dan kepala sekolah, anak yang selalu
menjadi pengikut contoh yang diberikan guru tidak sampai 25% anak dari setiap
kelas. Namun hal itu pun tidak berlangsung lama, karena setiap guru akan selalu
mendorong dan memberi saran-saran membangun pada anak-anak sehingga mereka
bisa mengerjakan lebih baik lagi tugas selanjutnya.
Suasana kegiatan pembelajaran di sekolah ini dibuat untuk membuat anak
tidak takut untuk datang ke sekolah. Setiap guru sangat ramah dan penuh perhatian
pada setiap anak. Para guru membuat suasana yang menyenangkan untuk anak,
8
mereka berbaur dengan anak, sehingga anak tidak melihat sosok guru sebagai sosok
yang ditakuti, tetapi sosok yang dihormati. Dengan begitu, mereka percaya anak-anak
bisa lebih berkembang dengan lebih baik.
Oleh karena itulah, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana kreativitas
figural pada anak TK ini. Untuk anak pada usia TK, tes kreativitas yang dapat
digunakan adalah Tes kreativitas Verbal dan Tes Kreativitas Figural. Tapi dalam hal
ini peneliti memilih menggunakan Tes Kreativitas Figural. Pada usia 2 hingga 7
tahun, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.
(Piaget, dalam Santrock, 2002). Tes Kreativitas Figural adalah tes kreativitas yang
merupakan adaptasi dari Circle Test dari Torrance, dan dilakukan penelitian
standarisasinya pada tahun 1988 oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,
Bagian Psikologi Pendidikan (Utami Munandar, dkk.,1988). TKF mengukur aspek
kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi dari kemampuan berpikir kreatif
anak dapat menunjukkan kemampuan untuk membentuk kombinasi-kombinasi baru
dari unsur-unsur yang diberikan tercermin dari kelancaran, kelenturan dan orisinalitas
dalam memberi gagasan serta kemampuan untuk mengembangkan, merinci dan
memperkaya (elaborasi) suatu gagasan. Tes kreativitas secara umum mengukur
kemampuan berpikir divergen, yaitu cara berpikir yang tertuju pada penemuan
macam-macam alternatif jawaban pada suatu masalah, dengan penekanan pada
kuantitas, kualitas dan relevansi dari jawaban (Guilford, 1956). Stimulus Tes
Kreativitas Figural mengundang anak mengungkapkan gagasan-gagasan dalam
9
bentuk gambar akan menarik bagi anak-anak, sehingga mereka melakukan tes ini
seperti sedang bermain dan kondisi seperti ini menunjang ekspresi kreatif.
Pada anak prasekolah, contoh sikap kreatif antara lain: terbuka terhadap
pengalaman baru, anak mau mengerjakan tugas-tugas baru yang diberikan oleh guru; memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, anak selalu bertanya tentang segala sesuatu
yang membuat dia bingung, dalam hal ini guru dan orang tua sangat diharapkan dapat
memberikan jawaban dan penjelasan yang tepat dengan cara penyampaian yang dapat
dimengerti oleh anak; tidak takut melakukan kesalahan saat mengemukakan ide,
misalnya dalam mengerjakan suatu tugas anak melakukannya dengan cara-cara baru;
imajinatif, anak yang senang berimajinasi sangat baik pada usia ini, ini dapat
merangsang daya kreatifnya, misalnya ia mengarang suatu cerita yang tidak mungkin
terjadi, semakin detail cerita imajinasinya semakin kreatif, sebaiknya orang tua tidak
melarang jika anak sedang bercerita imajinasinya, sebaliknya orang tua merangsang
dengan memancing anak untuk melanjutkan cerita atau dongeng sebelum tidur;
berani mengambil resiko terhadap langkah yang diambil, anak yang berani mencoba
alat permainan baru atau belajar naik sepeda, tetapi tidak menangis bila jatuh atau
terpeleset, tetapi kembali mencoba hingga berhasil. (Utami Munandar, dalam
Nakita, 2002)
Dari hasil pengamatan peneliti, di TK ini guru menciptakan suasana kondusif
yang mampu membuat siswa merasa aman secara psikologis, sehingga anak merasa
nyaman untuk menerima tugas baru dari gurunya, tidak takut bertanya tentang segala
10
sesuatu yang membuat dia bingung, dan juga berani mengungkapkan pikiran atau
keinginannya.
Dengan uraian di atas, peneliti tertarik sekali untuk melihat kreativitas figural
pada anak usia balita di TK.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka identifikasi
masalah yang diajukan adalah sebagai berikut: Seberapa tinggi kreativitas figural
pada anak TK B di TK “X”?
1.3. Maksud dan Tujuan
1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud penelitian ini adalah memperoleh gambaran mengenai kreativitas
figural pada siswa TK B di TK “X”.
1.3.2. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah memperoleh pemahaman tentang bagaimana
keterkaitan antara derajat kreativitas dengan proses dan press yang dialami person.
11
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1. Kegunaan Ilmiah
Kegunaan Ilmiah penelitian ini adalah:
• Memberikan informasi bagi bidang Psikologi Pendidikan tentang kreativitas figural pada anak TK B di TK “X”.
• Memberikan informasi tambahan bagi peneliti lain yang akan meneliti lebih lanjut tentang kreativitas figural pada anak usia prasekolah.
1.4.2. Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis penelitian ini adalah :
• Untuk memberi informasi kepada guru tentang kreativitas figural pada anak usia prasekolah yang bisa dipakai sebagai landasan untuk pengembangan
kreativitas anak di sekolah.
• Untuk memberi informasi kepada orang tua tentang kreativitas figural pada anak usia prasekolah yang bisa dipakai sebagai landasan untuk pengembangan
kreativitas anak di rumah.
12
1.5. Kerangka Pikir
Pengembangan kreativitas anak, bertitik tolak dari asumsi bahwa setiap anak
pada dasarnya memiliki potensi kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan
dirinya secara kreatif, masing-masing dalam bidang dan kadar yang berbeda-beda.
Bentuk kreativitas dapat dilihat dalam bentuk figural, dan untuk mengembangkannya
dibutuhkan berbagai aspek yang dapat membantu untuk memunculkannya.
Kreativitas penting dalam hidup, karena: Pertama, dengan berkreasi orang
dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada
tingkat tertinggi dalam hidup manusia Maslow (1967, dalam S.C.U.Munandar,
1999). Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya.
Kedua, kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat
bermacam-macam kemungkinan penyelesaian suatu masalah merupakan bentuk pemikiran yang
sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan. Di sekolah yang
terutama dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan dan penalaran. Ketiga,
bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungan
tetapi terlebih-lebih memberikan kepuasan kepada individu. Menurut Biondi (1972,
dalam S.C.U.Munandar,1999), ternyata faktor kepuasan ini amat berperan, bahkan
lebih dari keuntungan material semata-mata. Keempat, kreativitaslah yang
memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembanguan
ini, kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan Negara bergantung pada sumbangan
kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru.
13
Definisi kreativitas menurut Torrance (1974, dalam Sternberg, 1988) adalah
proses menjadi sensitif terhadap masalah-masalah, kekurangan-kekurangan,
kesenjangan pada pengetahuan dan kemudian mencari solusi atau pemecahan
masalah-masalah, membuat dan mengkomunikasikan hasilnya. Rhodes (1961, dalam
Utami Munandar,1977) dalam menganalisis lebih dari 40 definisi tentang kreativitas
menyimpulkan bahwa pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi
(Person), proses dan produk. Kreativitas dapat pula ditinjau dari kondisi pribadi dan
lingkungan yang mendorong (press) individu ke perilaku kreatif. Rhodes
menyebutnya sebagai 4P : Person, Process, Press, Product. Sebagian besar definisi
kreativitas berfokus pada salah satu dari empat P ini atau kombinasinya. Keempat P
ini saling berkaitan: Pribadi anak kreatif yang melibatkan diri dalam Proses kreatif,
dan dengan dukungan dan dorongan (Press) dari lingkungan dalam hal ini orangtua
dan guru, menghasilkan Produk kreatif.
Adapun langkah-langkah proses kreatif menurut Wallas (1926, dalam
Vernon, 1982), mengemukakan proses kreatif dalam bukunya “The Art Of Thought”
(Piito,1992) yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu (1)
persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verifikasi. Pada tahap pertama, anak
mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari
jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Pada tahap kedua, kegiatan
mencari dan menghimpun data atau informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi
adalah tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari
masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar,
14
tetapi “mengeramnya” dalam alam prasadar. Tahap ini penting artinya dalam proses
timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
berasal dari daerah prasadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh. Tahap
ketiga adalah tahap iluminasi yaitu tahap timbulnya “insight” atau “Aha-Erlebnis”,
saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang
mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Tahap keempat
adalah tahap verifikasi atau evaluasi adalah tahap di mana ide atau kreasi baru
tersebut itu harus diuji terhadap realitas. Di sini diperlukan pemikiran kritis dan
konvergen. Dengan perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti
oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan unsur orisinalitas,
kebaruan, dan kebermaknaan, seperti definisi dari Barron (1969, dalam Vernon,
1982) yang menyatakan bahwa “kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan
atau menciptakan sesuatu yang baru”. Begitu pula menurut Haefele (1962, dalam U.
Munandar,1980), “kreativitas adalah kemampuan untuk membuat
kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial”. Definisi Haefele ini menunjukkan
tidak keseluruhan produk itu harus baru, tetapi kombinasinya, juga diakui bermakna.
Pendorong (Press) menurut Simpson (dalam Vernon, 1982) merujuk pada
aspek dorongan internal, yaitu kemampuan kreatif dirumuskan sebagai “the initiative
that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”.
Mengenai dorongan dari lingkungan, ada lingkungan yang tidak menghargai
imajinasi atau fantasi, dan menekan kreativitas dan inovasi. Kreativitas juga tidak
15
berkembang dalam kebudayaan yang menekankan konformitas dan tradisi, dan
kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru. Menurut Amabile, dkk.
(dalam S.C.U.Munandar., 1999), kreativitas tidak hanya bergantung pada
ketrampilan dalam bidang dan dalam berpikir kreatif, tetapi juga pada motivasi
intrinsik (pendorong internal) untuk bersibuk diri dalam bekerja, dan pada lingkungan
sosial yang kondusif (pendorong eksternal). Masyarakat lah yang menentukan apa
dan siapa yang dapat disebut kreatif.
Berdasarkan uraian di atas, dinamika yang terjadi adalah sebagai berikut.
Pribadi (person) dalam hal ini anak TK B di TK “X” pada dasarnya memiliki potensi
kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif, masing-masing
dalam bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Anak yang kreatif memiliki rasa
ingin tahu, memiliki minat yang luas, mempunyai kegemaran dan menyukai aktivitas
yang kreatif. Anak kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri.
Mereka lebih berani mengambil risiko (tetapi dengan perhitungan) daripada
anak-anak pada umumnya, artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat
berarti, penting dan disukai, mereka tidak terlalu menghiraukan kritik dan ejekan
orang lain. Mereka pun tidak takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan
pendapat mereka meskipun mungkin tidak disetujui orang lain. Orang yang inovatif
berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi.
Rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa
mencapai tujuannya. Namun agar kreativitas anak dapat terwujud membutuhkan
16
adanya dorongan (Press) dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun
dorongan dari lingkungan (motivasi eksternal).
Motivasi intrinsik adalah kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan
potensinya, untuk mewujudkan dirinya; dorongan untuk mengungkapkan dan
mengaktifkan semua kapasitas seseorang. Dorongan ini merupakan motivasi primer
untuk kreativitas ketika anak membentuk hubungan-hubungan baru dengan
lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya (Rogers, dalam Vernon,
1982). Dorongan ini ada pada setiap anak dan bersifat internal, namun membutuhkan
kondisi yang tepat untuk diekspresikan. Kondisi ini disebut kondisi eksternal yang
memupuk dan memungkinkan bibit kreativitas mengembangakan sendiri potensinya.
Dan menurut Rogers kondisi eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri
anak (internal) untuk mengembangkan kreativitas adalah dengan menciptakan kondisi
keamanan dan kebebasan psikologis yang memungkinkan timbulnya kreativitas yang
konstruktif.
Keamanan psikologis terbentuk dari tiga proses yang saling berhubungan.
Pertama, menerima anak sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan
keterbatasannya. Jika orang tua atau guru memberikan kepada anak bahwa pada
dasarnya ia baik dan mampu, apa pun tingkah laku atau prestasi anak saat ini, maka
anak akan mendorong pengembangan kreativitas anak tersebut. Efeknya adalah
bahwa anak menghayati suasana aman. Di TK “X”, para guru ditunutut untuk
mengenal setiap anak kelasnya dengan baik, megenali kekurangan dan kelebihan
yang dimiliki anak-anaknya. Berangkat dari hal tersebut, setiap guru berusaha
17
mengoptimalkan kelebihan setiap anak dan membantu anak pada hal-hal yang
kurang. Kedua, mengusahakan suasana yang di dalamnya evaluasi eksternal tidak ada
(atau sekurang-kurangnya tidak bersifat atau mempunyai efek mengancam). Evaluasi
selalu mengandung ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan.
Bagi anak, bila merasakan bahwa ia berada dalam suasana di mana ia tidak dinilai,
tidak diukur menurut patokan dari luar, maka anak akan mengalami rasa kebebasan.
Di TK “X”, evaluasi tetap diadakan. Tetapi evaluasi yang diterapkan ini tidak
mengandung kesalahan, semua baik hanya lebih diarahkan sehingga hasil selanjutnya
bisa lebih baik. Ketiga, memberikan pengertian secara empatis (dapat ikut
menghayati). Mengenal dan ikut menghayati perasaan anak, pemikiran-pemikirannya,
tindakan-tindakannya, dapat melihat dari sudut pandang anak dan tetap menerimanya,
betul-betul memberi rasa aman. Dalam suasana ini, diri yang sebenarnya (real self)
dimungkinkan untuk timbul, untuk diekspresikan dalam bentuk-bentuk baru dalam
hubungan dengan lingkungannya. Hal ini juga diterapkan para guru di kelas. Para
murid bebas mengemukakan pendapat mereka tanpa larangan, dan pendapat mereka
didengarkan dan dihargai oleh para guru.
Sementara yang dimaksud kebebasan psikologis adalah keadaan di mana
orangtua atau guru mengizinkan atau memberi kesempatan kepada anak untuk bebas
mengekspresikan secara simbolis pikiran atau perasaannya, misalnya melalui sajak
atau gambar. Atau orang tua mengijinkan anak les musik atau ketrampilan jika anak
menunjukkan bakat dan minatnya terhadap bidang tersebut. Pemberian kebebasan ini
memberi anak kebebasan dalam berpikir atau merasa sesuai dengan apa yang ada
18
dalam dirinya. Di TK “X” setiap hari mereka menyediakan waktu selama 2 jam
pelajaran untuk kegiatan kreativitas, kadang mereka dibiarkan bebas memilih
permainan yang mereka ingin mainkan. Saat inilah anak-anak bebas berekspresi dan
bereksplorasi dengan benda-benda yang tersedia. Selain itu pula di luar jam pelajaran
TK ini menyediakan kegiatan pengembangan bakat dan minat, yang terdiri dari
angklung, menari, dan balet.
Dorongan internal dan eksternal sama-sama diperlukan. Pendidik harus
berupaya untuk memupuk dan meningkatkan dorongan eksternal dan dorongan
internal anak; namun pendidik perlu berhati-hati pula jangan sampai dorongan
eksternal yang berlebih atau yang tidak pada tempatnya justru dapat melemahkan
dorongan internal (minat dan kebutuhan) anak.
Untuk mengembangkan kreativitas anak, ia perlu diberi kesempatan untuk
bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk
melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan kreatif,. Dalam hal ini yang penting
adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya secara
kreatif – misalnya – dalam tulisan, lukisan, dan sebagainya – tentu saja dengan
persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan. Pertama-tama yang perlu
adalah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu tahu atau terlalu cepat
menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Misalnya, dalam
lomba lukis, orangtua karena ingin anaknya terus mengawasi upaya anak,
memberikan instruksi atau contoh, sehingga mengurangi spontanitas dan
kegembiraan anak untuk berkreasi. Produk yang kreatif akan muncul dengan
19
sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima, dan menghargai anak. Perlu pula
diingat bahwa kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk
kegiatan kreatif, dan jenis penugasan atau pekerjaan yang monoton, tidak menunjang
pengembangan kreativitas siswa. Hendaknya orangtua dan guru menyadari bahwa
waktu luang seyogianya digunakan untuk melakukan kegiatan konstruktif yang
diminati anak, dan tidak belajar semata-mata atau melakukan kegiatan yang pasif
apalagi destruktif.
Pada pribadi kreatif, jika memiliki kondisi pribadi dan lingkungan yang
menunjang (pendorong), lingkungan yang memberi kesempatan atau peluang untuk
bersibuk diri secara kreatif (proses), maka dapat diprediksikan bahwa produk
kreativitasnya akan muncul. Fase proses berpikir kreatif ini meliputi fase preparasi,
inkubasi, iluminasi dan verifikasi. Pada fase preparasi seseorang mulai mengenali dan
merumuskan permasalahan yang dijumpai kemudian mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Seringkali yang terjadi
adalah orang tersebut tidak secara langsung dapat menyelesaikan masalah tersebut
meskipun telah dipikirkan selama berbulan-bulan, maka ia akan berusaha untuk
melupakan masalah tersebut. Pada saat yang demikian, ia memasuki fase yang kedua
yaitu inkubasi, suatu fase yang dimulai setelah fase pertama berakhir. Pada fase ini
secara tidak disadari seseorang akan memikirkan kembali masalah yang telah
diupayakan untuk dilupakan tadi. Kemajuan bisa saja terjadi karena informasi yang
telah didapatkannya menjadi matang pada fase ini. Kemudian masuk pada fase ketiga
yaitu iluminasi. Pada fase ini, rencana dan gagasan yang diperlukan untuk
20
menyelesaikan diperoleh melalui insight . dan selanjutnya masuk pada fase yang
terakhir , yaitu verifikasi dimana seseorang harus menentukan apakah penyelesaian
yang telah dihasilkan itu benar atau salah. Jika gagasannya memiliki kekurangan
maka pada fase ini ia akan merevisi gagasan untuk menyempurnakan gagasan
tersebut. Fase berpikir kreatif ini akan selalu dilalui oleh seseorang yang sedang
menghadapi masalah dan berkeinginan untuk menyelesaikan masalahnya.
Pemikir divergen (kreatif) mampu menggabungkan unsur-unsur dengan
cara-cara yang tidak lazim dan tidak diduga. Namun, konstruksi konfigurasi tersebut tidak
tidak memerlukan berpikir konvergen dan divergen saja, tetapi juga motivasi,
misalnya dorongan untuk menghasilkan solusi yang lebih baik; karakteristik pribadi
yang sesuai, misalnya keterbukaan terhadap pembaruan; unsur-unsur sosial, misalnya
kesediaan untuk tidak mengikuti saja; dan keterampilan komunikasi. Proses ini
disertai perasaan dan emosi, yang dapat menunjang atau menghambat.
Kondisi yang memungkinkan anak menciptakan produk kreatif yang
bermakna adalah kondisi pribadi dan lingkungan yaitu sejauh mana keduanya
mendorong seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan, kegiatan)
kreatif. Dengan menemukenali bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif peserta didik, dan
dengan dorongan (motivasi internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara
kreatif, dengan menyediakan waktu dan sarana-prasarana yang menggugah minat
anak meskipun tidak perlu mahal, maka produk-produk kreativitas anak dan remaja
dipastikan akan timbul. Tidak boleh dilupakan adalah bahwa pendidik menghargai
produk kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain, misalnya
21
dengan mempertunjukkan atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih
menggugah minat anak untuk berkreasi.
Setelah melihat kondisi eksternal yaitu keadaan kelas dan sikap para guru,
dan proses kegiatan kreativitas di kelas, maka bergerak ke produk kreativitas figural
yang terdiri atas aspek-aspek penilaian sebagai berikut: Kelancaran, Fleksibilitas,
Orisinalitas, dan Elaborasi. Kelancaran dalam berpikir dan atau memberi gagasan
adalah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan dengan cepat secara
kuantitas. Fleksibilitas atau kelenturan dalam berpikir atau memberikan gagasan yang
beragam dan bebas dari perseverasi. Orisinalitas dalam berpikir atau memberi
gagasan adalah: a) memberikan gagasan-gagasan yang secara statistik unik dan
langka untuk populasi tertentu; b) kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan
baru, atau membuat kombinasi-kombinasi baru antara macam-macam unsure/bagian.
Makin banyak unsur-unsur yang dapat digabung menjadi satu gagasan atau produk
yang kreatif makin orisinal pemikiran individu. Kemampuan mengelaborasi adalah
kemampuan untuk mengembangkan, merinci dan memperkaya suatu gagasan. Makin
detail ornamen atau organ-organ yang digambarkannya berarti mencirikan ia anak
yang kreatif khususnya secara figural.
22
Secara skematis, kerangka pikir ini dapat dilihat melalui bagan berikut:
PROSES
• fase preparasi
• fase inkubasi
• fase iluminasi
• fase verifikasi PERSON:
Anak TK B di TK “X”
PRODUK:
Kecerdasan Kreativitas Figural
Aspek :
• Fluency
• Fleksibility
• Originality
• Elaboration
PRESS:
• Kondisi Internal: Motivasi Intrinsik
• Kondisi eksternal:
o Keamanan psikologis
o Kebebasan psikologis
Bagan 1.1. Kerangka Pikir
23
1.6. Asumsi
• Kreativitas dimiliki oleh setiap anak, dalam derajat yang berbeda-beda
• Press internal pada anak TK adalah motivasi intrinsik yang berupa dorongan
untuk mengungkapkan dan mengaktifkan seluruh potensinya.
• Press eksternal pada anak TK adalah kondisi lingkungan yang diciptakan di
sekolah oleh guru, atau lingkungan yang diciptakan di rumah oleh orang tua.
• Proses dalam diri anak terjadi setelah person menghayati press yang dialaminya saat menemukan masalah. Proses yang terjadi akan menghasilkan produk
kreativitas.
• Produk yang dihasilkan adalah hasil dari potensi yang dimiliki person, didukung oleh press internal dan dukungan dari lingkungan sekitar, yang telah melalui
proses kreativitas.
70
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Derajat kreativitas figural siswa TK B di TK “X” Bandung sebagian besar
berada pada taraf cukup ke arah tinggi.
2. Dari hasil setiap aspek kreativitas figural, dapat dilihat bahwa paling banyak
siswa memiliki derajat yang rendah pada aspek elaborasi, siswa kurang
mampu untuk mengembangkan dan memperkaya hasil kreativitasnya. Hal ini
berkaitan dengan masih besarnya peran para guru pada anak TK B yang
terkadang menuntut siswanya mengerjakan suatu tugas sama persis dengan
contoh.
3. Dari faktor-faktor yang memiliki peran penting untuk menghasilkan produk
kreativitas yang baik, tampak hal sebagai berikut:
• Person yaitu anak TK B yang memiliki kemandirian dan rasa percaya diri, mampu beradaptasi dengan cepat dengan lingkungan baru dan
memilliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang diinginkan dan
dipikirkannya.
71
• Motivasi intrinsik mendukung anak TK B untuk mengaktifkan kapasitas dirinya dalam berkarya.
• Kondisi lingkungan yang menumbuhkan motivasi ekstrinsik berupa kondisi yang menumbuhkan penghayatan secara psikologis pada diri anak,
yaitu bila guru mengenal potensi anak dengan baik, menciptakan suasana
tanpa evaluasi eksternal, dan mampu mengerti dan memahami perasaan
dan pemikiran anak.
• Proses kreativitas yang diciptakan di lingkungan sekolah yang menyediakan fasilitas, kesempatan dan penghargaan, mampu dihayati oleh
anak sebagai suatu proses untuk mengembangkan potensi kreativitasnya.
4. Faktor pendorong yaitu kebebasan psikologis tidak jelas berkaitan dengan
derajat kreativitas figural pada anak TK B di TK “X”. Anak-anak TK B
memiliki ketergantungan yang tinggi pada gurunya, namun hal itu ternyata
tetap menghasilkan anak-anak dengan derajat kreativitas figural pada derajat
cukup ke arah tinggi.
72
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti mengajukan beberapa saran
yang dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berhubungan dengan
penelitian ini, yaitu:
5.2.1. Penelitian Lanjutan
1. Disarankan untuk melakukan penelitian mengenai hubungan pola asuh orang
tua dengan kreativitas figural pada anak.
2. Disarankan untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kreativitas
figural dengan sistem pembelajaran.
3. Disarankan untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kreativitas
figural dengan ketersediaan fasilitas mainan dan alat-alat kreativitas.
4. Disarankan untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kreativitas
figural dengan budaya dan pendidikan.
73
5.2.2. Guna Laksana
1. Disarankan kepada para guru untuk selalu memantau setiap muridnya dalam
melakukan kegiatan kreativitas, mengenali kemampuan dan kekurangan setiap
anak, dan menciptakan kondisi yang aman supaya anak mampu
mengembangkan potensi kreativitasnya tanpa merasa terancam.
2. Disarankan agar sekolah lebih memperhatikan perkembangan kreativitas
murid-muridnya dengan memperkaya diri dengan pengetahuan tentang
manfaat dari setiap alat atau permainan yang bertujuan untuk
mengembangkan kreativitas, dan juga menambah alat atau permainan
kreativitas yang beragam dalam mengembangkan kecerdasan kreativitas
murid-murid.
3. Disarankan kepada orang tua untuk menciptakan keadaan yang kondusif di
rumah, yaitu dengan menciptakan lingkungan yang nyaman, menyediakan
alat-alat permainan yang dapat mengembangkan potensi kreativitas, serta
memiliki sikap yang memberikan kebebasan kepada anak untuk menentukan
apa yang diinginkannya dan menyatakan apa yang dipikirkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Freidenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing : Design, Analysis and Use. Boston : Copyright Allyn & Bacon.
Guilford, J.P.1956. The Structure Of Intellect. Psychological Bulletin, 53, 2, 267-293.
_ _ _ _ _. 1962. Creativity: It’s Measurement and Development. In S.J Parnes & H.F.
Harding (Eds.) A Source Book for Creativity Thingking. Scribners, New York.
_ _ _ _ _. 1982. “Traits of Creativity” dalam P.Vernon (ed.), Creativity, England: Penguin Education
Munandar, Utami S.C. 1977. Creativity and Education, Disertasi Doktor U.I. Jakarta : Universitas Indonesia.
_ _ _ _ _. 1988. Laporan Penelitian Standarisasi Tes Kreativitas Figural. Universitas Indonesia : Fakultas Psikologi Jurusan Psikologi Pendidikan.
_ _ _ _ _. 1988. Kreativitas Sepanjang Masa. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
_ _ _ _ _. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Penuntun
Bagi Guru dan Orang tua. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
_ _ _ _ _. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif
dan Bakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Santrock, John W. 2002. Life Span Development. Jakarta : Erlangga.
Sternberg, R.J. 1988. The Nature of Creativity. New York: Cambridge University Press.
Torrance, E.P. 1965. Rewarding Creativity Behavior. Experiments in Classroom
Creativity. Prentice Hall, New Jersey.
_ _ _ _ _. 1974. Torrance Tests of Creativity Thinking. Norms Technical Manual,
Scolastic Testing Service Inc., Bensenville, Illinois.
DAFTAR RUJUKAN
Harian Umum Suara Merdeka, Minggu, 15 Februari 2004
www.pelita.or.id/rubrik
www.pikiran-rakyat.com/cetak10003/11/hikmah/psikologi
www.republika.co.id/koran.asp
www.tabloid-nakita.com/redaksi
www.tabloid-nakita.com/cover.php3.