• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

44

BAB V

ANALISA DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisa Hasil Data

Dari pengolahan data pada bab sebelumnya di peroleh hasil bahwa data yang telah dikumpulkan layak untuk diolah dalam proses pengolahan data. Menurut perhitungan berdasarkan diagram pareto, persentase terbesar dari klaim jenis kendaraan yang terbesar hingga terkecil adalah

1. A : 52,50 % 2. B : 20,76 %, 3. C : 9,85 % 4. D : 9,17 %

5. E (Campuran) : 7,72 %

Dari hasil perhitungan diagram pareto diatas, prioritas perbaikan yang harus di lakukan perbaikan terlebih dahulu adalah dari persentase klaim jenis kendaraan terbesar kemudian diikuti dengan jenis kendaraan dibawahnya.

(2)

5.2 Pembahasan

5.2.1 Menentukan Tema dan Analisa Situasi

Proses klaim harus selalu diperbaiki mengingat bahwa klaim merupakan biaya yang paling besar, sekaligus moment of truth bisnis asuransi yang sangat menentukan kepuasan pelanggan.

Disamping itu tinggi rendahnya biaya klaim sangat mempengaruhi besar kecilnya profit yang diperoleh perusahaan. Dengan upaya menurunkan biaya klaim, tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pelanggan sehingga diharapkan mampu menaikan profit perusahaan.

Biaya atau cost klaim adalah faktor dominan yang sangat mempengaruhi kelangsungan bisnis asuransi kendaraan terutama pada perusahaan PT. XYZ.

Gambar 5.1 Gambaran Pengeluaran Premi Kendaraan

Dari 100 % premi kendaraan yang masuk, untuk biaya akuisisi dan opex dari perusahaan PT. XYZ besaran biaya akuisisi dan opex berdasarkan kebijakan masing – masing divisi atau bagian. Sedangkan untuk besaran biaya klaim dan profit atau keuntungan tidak dapat ditentukan. Besarnya biaya klaim tergantung dari banyaknya

Biaya Klaim Profit

Biaya Klaim

Biaya

Akuisisi Opex Profit Premi

(3)

kendaraan yang klaim atau diperbaiki dibengkel. Jika biaya klaim kendaraan tinggi maka profit atau keuntungan yang didapat perusahaan akan menurun dan jika biaya klaim dapat diturunkan maka profit atau keuntungan perusahaan akan naik.

Dari analisa situasi yang ada di bengkel Authorized (resmi) di wilayah Jakarta – Tanggerang – Bekasi (Jatabek), Penulis melihat bahwa terdapat banyak jenis perbaikan dengan surat perintah kerja (SPK) per Panel yang digunakan untuk memperbaiki kendaraan, sedangkan pembuatan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan kendaraan masih belum optimal. Di sini Penulis mencoba untuk mengumpulkan data, melakukan simulasi awal, dan menemukan bahwa jika kerusakan lebih dari 10 panel utama kendaraan dibuatkan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan, maka perusahaan dapat memperkecil cost klaim yang akan ditanggung dibandingkan dengan menggunakan surat perintah kerja (SPK) Per Panel.

Sebagai salah satu contoh kondisi sebelum improvement atau perbaikan yang Penulis analisis dan melatarbelakangi pembuatan proyek ini, berikut adalah contoh surat perintah kerja (SPK) di bulan Januari 2011 yang menggunakan surat perintah kerja (SPK) Per Panel untuk pengerjaan perbaikan atas kerusakan 11 Panel Body kendaraan untuk jenis kendaraan A di bengkel Authorized.

Jika perbaikan pada Tabel 4.6 dibuatkan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan, Maka biaya klaim yang akan dikeluarkan perusahaan sebesar Rp. 6.318.400 sehingga perusahaan dapat mengurangi biaya klaim sebesar Rp. 616,000.

Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk mengambil tema tentang menurunkan cost klaim perbaikan pada jenis kendaraan A dengan menggunakan SPK All Body Ringan.

(4)

5.2.2 Menetapkan Target

Dari analisis data yang ada, Penulis ingin menurunkan cost atau biaya klaim untuk perbaikan All Body Ringan jenis kendaraan A dari kerusakan atau perbaikan kendaraan yang dilakukan per panel (masih dibuatkan SPK Per Panel untuk kerusakan lebih besar dari 10 Panel body).

Penulis memperoleh data berdasarkan analisis sampling untuk data kerusakan lebih dari 10 Panel Utama kendaraan Avanza yang dibuatkan SPK Per Panel Bulan Januari 2011 seperti pada Tabel 4.7.

Dari Tabel 4.7 adanya temuan 19 surat perintah kerja (SPK) per panel, total biaya perbaikan dengan surat perintah kerja (SPK) per panel sebesar Rp. 131,783,300 (total dari diagram batang warna merah), sedangkan jika perbaikan tersebut menggunakan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan, total biayanya hanya sebesar Rp. 119,101,840 (total dari diagram batang warna biru), dimana terdapat penurunan sebesar Rp. 12,681,460. Maka dari itu, melalui proyek ini Penulis optimis dapat menurunkan cost klaim jenis kendaraan A.

5.2.3 Menganalisa Kemungkinan dan Sumber Penyebab

Pemecahan masalah yang akan penulis terapkan adalah dengan menggunakan diagram fishbone, Analisa dengan menggunakan metode ini dilakukan berdasarkan perhitungan dan wawancara dengan bagian yang terkait dan pengamatan lapangan secara langsung terhadap pembuatan surat perintah kerja (SPK) untuk perbaikan di bengkel.

(5)

Penggolongan penganalisaan diagram fishbone menjadi 5 yaitu factor manusia, prosedur, metode, equipment dan lingkungan. Permasalahan yang terjadi untuk cost klaim perbaikan kendaraan yang tinggi dapat diketahui sebab – akibat dari permasalahan yang terjadi.

Sebab – akibat permasalahan tersebut disajikan kedalam fishbone diagram sebagai berikut :

Gambar 5.2 Fishbone diagram

Analisa kurang optimalnya untuk pembuatan surat perintah kerja (SPK) untuk kriteria All Body Ringan (perbaikan menyeluruh kendaraan tanpa roof) melalui metode dengan tool fishbone diagram dapat diketahui sebab dan akibat yang berpengaruh kepada analisa mengenai cost klaim yang tinggi adalah Manusia, prosedur dan proses.

FaktorLuar People

Metode Prosedur

Kurang optimalnya pembuatan SPK untuk criteria perbaikanAll Body Ringan

Masih adanya bagian (1-3 Panel Utama) yang tidak ada

Masih adanya perbedaan persepsi Surveyor untuk estimasi harga perbaikan pada panel kendaraan

Kurang mengetahui kriteria untuk perbaikan ALL Body Ringan

Pengetahuan tentang Estimasi Kerusakan ALL Body Ringan masih kurang

Belum adanya Ketentuan untuk perbaikan All Body Ringan

Kriteria panel untuk perbaikan kerusakan All Body Ringan masih belum ada.

Untuk di system masih adanya pembuatan SPK ALL Body Ringan yang menggunakan tanpa (roof / kap mesin / back door)

(6)

1). Faktor People atau Manusia

 Pengetahuan tentang estimasi kerusakan ALL Body Ringan & per panel masih kurang sehingga kurang mengetahui kriteria untuk perbaikan ALL Body Ringan maupun per panel.

2). Prosedur

 Kriteria panel untuk perbaikan kerusakan All Body Ringan masih belum ada sehingga belum adanya ketentuan secara tertulis untuk perbaikan All Body Ringan.

 Untuk di system masih adanya tampilan untuk pembuatan surat perintah kerja (SPK) ALL Body Ringan yang menggunakan tanpa (roof / kap mesin / back door).

3). Metode

 Masih adanya bagian (1-3 Panel Utama) dari kendaraan yang tidak ada kerusakannya dibuatkan perbaikan All Body Ringan sehingga untuk cost klaim kendaraan berlebih dari harga perbaikan yang seharusnya.

 Masih adanya perbedaan persepsi antara surveyor untuk estimasi harga perbaikan pada panel – panel kendaraan dan All Body Ringan kendaraan.

Hasil analisa diagram fishbone dapat dilihat faktor – factor penyebab kurang optimalnya untuk pembuatan surat perintah kerja (SPK) untuk kriteria All Body Ringan (perbaikan menyeluruh kendaraan tanpa roof), yang di lihat dari factor Manusia, prosedur dan proses. Untuk tidakan selanjutnya adalah menanggulangi masalah tersebut sesuai dengan prioritas. Sehingga langkah yang di ambil dapat efektif dan tepat.

(7)

Langkah - langkah yang diambil untuk menanggulangi masalah kurang optimalnya untuk pembuatan surat perintah kerja (SPK) untuk kriteria All Body Ringan (perbaikan menyeluruh kendaraan tanpa roof) adalah dengan menggunakan metode 5W+1H. Metode ini merupakan langkah – langkah atau tindakan – tindakan untuk memperkecil terjadinya cost klaim yang berlebih atau tinggi. Berikut ini adalah rencana perbaikan untuk menurunkan cost klaim dengan memanfaatkan price list perbaikan kendaraan yang ada dibagian pemeriksaan (checker) dan bengkel.

5.2.4 Rencana penanggulangan

Tabel 5.1 Usulan Perbaikan dengan Menggunakan 5W 1H

No What When Where Why Who How

1 People Jan’

12

Bagian 4 Wheeler s - klaim

Kurang mengetahui kriteria-kriteria untuk perbaikan ALL Body Ringan

Surveyor Membuat Standarisasi pemahaman mengenai All Body Ringan

2 Prosedur Jan’

12

Bagian 4 Wheeler s - klaim

Tidak adanya Ketentuan untuk perbaikan All Body Ringan kendaraan

Untuk di system masih adanya pembuatan SPK ALL Body Ringan yang menggunakan tanpa (roof / kap mesin / backdoor)

Surveyor Membuat panduan untuk ketentuan kriteria All Body Ringan

Membuat panduan untuk ketentuan kriteria All Body Ringan

3 Metode Jan’

12

Bagian 4 Wheeler s - klaim

Masih adanya bagian (1-3 Panel Utama) yang tidak ada kerusakannya yang dibuatkan per panel

Masih adanya perbedaan persepsi Surveyor untuk estimasi harga perbaikan pada panel kendaraan

Surveyor Membuat panduan untuk ketentuan kriteria All Body Ringan

Sosialisasi mengenai panduan untuk ketentuan kriteria All Body Ringan

(8)

Karena Penulis menemukan bahwa jenis perbaikan All Body Ringan memiliki potensi menurunkan cost klaim yang lebih besar dibanding dengan perbaikan per panel pada kerusakan panel dalam jumlah tertentu, maka Penulis mencari ide untuk dapat menurunkan cost klaim dan merencanakan beberapa hal sebagai di dalam prosesnya.

Perencanaan improvement dimulai dengan menarik lebih banyak data pembayaran klaim kerusakan jenis kendaraan A yang menggunakan surat perintah kerja (SPK) Per Panel, dan menganalisis lebih mendalam lagi data tersebut untuk menentukan kriteria jumlah panel utama yang dapat diperbaiki menggunakan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan.

Berdasarkan hasil temuan dan analisis data, penulis membuat kriteria yang ditentukan untuk pembuatan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan adalah “Jika ada kerusakan lebih dari 10 Panel Utama, yaitu 11 – 13 Panel Utama pada jenis kendaraan A, maka pengerjaannya akan menggunakan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan dan bukan surat perintah kerja (SPK) Per Panel”

Sebagai proses perencanaan selanjutnya, improvement ini perlu disosialisikan kepada para surveyor Jatabek untuk kemudian diimplementasikan di lingkup proyek yang telah dibuat, yaitu penanganan klaim jenis kendaraan A di bengkel Authorized wilayah Jakarta, Tangerang & Bekasi.

5.2.5 Implementasi atau Penanggulangan

Seperti telah disebutkan dalam tahap rencana penanggulangan diatas, Penulis mengimplementasikan rencana improvement dengan mensosialisasikan kriteria dan harga pembuatan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan untuk jenis kendaraan A

(9)

kepada tim Surveyor Jatabek. Gambar di samping adalah periode sosialisasi improvement yang dilakukan Penulis pada awal bulan Desember 2011 hingga Maret

2012.

Sejak periode tersebut, setiap klaim kerusakan lebih dari 10 panel utama jenis kendaraan A di bengkel Authorized wilayah Jatabek akan dibuatkan surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan.

Gambar 5.3 Sosialisasi ke semua Karyawan Jatabek tentang Kriteria Pembuatan SPK All Body Ringan

5.2.6 Mengevaluasi Hasil Perbaikan

Setelah proyek improvement diimplementasikan, Penulis menarik data jumlah SPK All Body Ringan atas klaim kerusakan lebih dari 10 panel utama dari bulan Januari hingga Juli 2012, dan mengevaluasi hasil penurunan cost klaim yang berhasil dilakukan sebagai berikut :

Tabel 5.2 Data Sampling Untuk Menentukan Rata- rata Benefit per SPK dan Jumlah SPK dari bulan Januari – Juli 2012

(10)

Melalui proyek improvement ini pula, Penulis mengevaluasi hasil implementasi dari segi non-financial benefit, dan mendapatkan beberapa poin sebagai berikut :

1. Mencegah kemungkinan komplain dari customer kepada pihak bengkel dikarenakan adanya perbedaan warna atau cat yang mungkin timbul apabila perbaikan per panel secara terpisah (dengan SPK Per Panel) masih dilakukan.

2. Waktu yang dibutuhkan oleh Checker (bagian pemeriksaan) dalam mengestimasi perbaikan kendaraan untuk jumlah kerusakan > 10 panel akan relatif lebih efisien dengan menggunakan SPK All Body Ringan (3 detik), dibandingkan dengan menggunakan SPK Per Panel (37 detik).

3. Meningkatkan nilai KPI Surveyor (menurunkan biaya klaim dengan cara menurunkan jumlah panel Repair)

5.2.7 Membuat standarisasi dan Rencana Pencegahan

Penulis membuatkan standarisasi berupa JUKLAK (Petunjuk Pelaksanaan) tentang surat perintah kerja (SPK) All Body Ringan. (terlampir dilampiran).

5.2.8 Membuat Rencana Perbaikan Berikutnya

Setelah membuat rencana perbaikan untuk SPK All Body Ringan jenis kendaraan A, untuk perbaikan berikutnya penulis berencana membuat kriteria perbaikan untuk jenis kendaraan selain A, dengan lingkup area lebih besar (bukan hanya di Jatabek). Akan dibuat dalam sotfwere bentuknya excell sehingga memudahkan karyawan mengecek kriteria mengenai perbaikan kendaraan.

(11)

Gambar 5.4 Contoh Aplikasi dalam bentuk Excell untuk petunjuk pembuatan All Body Ringan dan kriteria panel utama kendaraan semua kendaraan wilayah Nasional

Gambar

Gambar 5.1 Gambaran Pengeluaran Premi Kendaraan
Gambar 5.2 Fishbone diagram
Tabel  5.1 Usulan Perbaikan dengan Menggunakan 5W 1H
Gambar 5.3 Sosialisasi ke semua Karyawan Jatabek tentang Kriteria Pembuatan   SPK All Body Ringan
+2

Referensi

Dokumen terkait

hal terse but elikenal dengan istilah .ryar'un man qablana. 'Hal ~tersebut' secara tidak langsung merriuriculkan anggapan bahwa khitan perempuan merupakan suatu

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun pelawan dengan dosis 100 mg/ kg BB pada tikus betina setelah melahirkan

Pada akhir hayatnya, menulis sebuah tentang suatu seni berbicara di depan umum (art of effective public speaking), berjudul Rhetorike Techne. Sangat sedikit diketahui tentang

Rapat Pre-Bid Meeting dibuka oleh Ketua Pokja Pengadaan Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Sumatera Utara.. Rapat ini dilaksanakan untuk menginformasikan

Untuk waktu berikutnya, maka apa, dimana dan bagaimana yang dapat saya perbuat/lakukan sebagai seorang yang tanpa berstatus, polos selagi telanjang tanpa hak

Pemahaman subjek pada pembagian bilangan asli dengan bilangan asli dengan hasil bagi sebagai pecahan, didasarkan data oleh jawaban siswa pada butir 1a(vi) dan

HUBUNGAN ANTARA KAPASITAS VITAL PAKSA DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKSI.. KRONIS ABSTRAK Saputra

PTK juga dapat membantu memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran dikelas melalui tindakan bermakna yang dapat digunakan untuk memperbaiki mutu