PERAN AGAMA
DALAM MEMBINA MENTAL REMAJA Oleh:
Fuadatul Huraniyah ABSTRAK
Kemajuan teknologi secara tidak lansung berdampak terhadap mental dan emosi seseorang, sepertii suka berbohong, sedih, tidak tenang dan lain sebagainya hal tersebut biasanya rawan terjadi pada kalanga remaja. Oleh karena itu kehadiran agama pada mereka suatu hal yang penting dan wajib. Agama merupakan suatu pandangan hidup dan pedoman hidup bagi sebagian besar umat manusia. Keberadaannya memberikan pengaruh yang sangat besar dalam segala macam bidang kehidupan umat manusia, baik itu pengaruh psikologis, sosial, politik, maupun ekonomi dan lain sebagainya. Banyak metode dan pendekatan untuk memahami agama dan keberagamaan manusia yang bersifat kompleks tersebut, di antaranya pendekatan teologi, filsafat, sosiologi, dan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi terhadap agama bersifat deskriptif dan komparatif disamping itu dalam kajiannya mensyaratkan adanya sikap empati. Agama memiliki peran dan andil yang sangat kuat untuk dijadikan bahan dan acuan dalam membina mental remaja yang belum benar.
Kata Kunci: Agama, Pembinaan, Mental PENDAHULUAN
Kebutuhan manusia yang paling penting dalam kehidupannya adalah rasa aman, yaitu ingin merasa hidupnya tidak dirongrong apa saja atau tak ingin ada ancaman apapun dalam dirinya. Melalui akan kebutuhan untuk mencari kekayaan. Hal tersebut dimaksud untuk menjadi kehidupannya baik yang sedang dialami maupun pada keadaan masa depannya. Bahkan juga termasuk ingin menjamin kehidupan keluarganya atau anak cucunya di kemudian hari. Disamping itu, karena dorongan rasa aman, manusia ingin
mengetahui termasuk kehidupan masa depan atau kehidupan sesudah mati.
Dalam diri manusia, disamping menginginkan rasa kasih sayang, rasa aman juga membutuhkan rasa harga diri. Bahkan karena harga diri, manusia dapat melakukan perbuatan yang nekat dan kejam terhadap orang lain yang mengakibatkan kurang menghargai harga diri. Kebutuhan akan harga diri ini tidak pandang dulu, baik orang itu berpangkat rendah, tua atau muda, pria maupun wanita semua membutuhakn penghargaan diri dari orang lain, orang merasa tidak dihargai akan menantang dan membalas terhadap orang yang tidak menghargainya karena ia merasa dirugikan dan dihilangkan harga dirinya.
Rasa bebas juga merupakan bagian kebutuhan manusia untuk berbuat dalam bersikap maupun dalam berucap. Adanya kecendorongan manusia untuk berbuat bebas tersebut karena terdorong oleh fitrahnya sebagai makhluk yang bebas. Kebebasan tersebut dimaksud adalah dalam menentukan segala kemauan dan pilihannya, yaitu sesuai dengan akal yang merupakan potensi yang dimilikinya. Maka jika manusia tidak mendapatkan kebebasan atau selalu tertekan, akan timbul suatu gejolak atau menentang yang memperkosa kebebasannya.
Disamping rasa bebas manusia ingin juga rasa tahu. Keingin tahuan manusia tersebut khususnya adalah pada hal-hal yang sama.
Manusia tak ingin terselimuti hal-hal yang sifatnya tak tentu. Ia ingin mengetahui segala sesuatu dengan jelas. Maka dapat dilihat dalam diri manusia, dengan segala upaya berusaha untuk mempelajari dan menjawab hal-hal yang menjadi keraguan jiwanya.
Adapun kebutuhan manusia yang lain adalah rasa sukses, ia dalam segala aktifitasnya jika telah medapatkan sesuai dengan apa yang digunakannya akan merasa senang atau bahagia. Namun sebaliknya apabila manusia selalu mengalami kegagalan, akibatnya akan menjadikan rasa tidak enak baik pada hal-hal yang biasa saja maupun pada hal-hal yang remeh sekalipun. Misalnya pada masalah keluarga, kantor, masyrakat atau dalam kehidupan sehari-hari. Jika manusia mengalami kegagalan di samping menjadi tak enak akan
pula merasa pesimis dan putus asa. Perasaan putus asa tersebut akan membawa pada hilangnya ketenangan jiwa dan hilangnya pula rasa bahagia.dan banyak lagi dampak dari ketidak tenangan tersebut.
Atas dasar latar belakang tersebut maka penulis tertarik mengulas tema yang berjudul Peran Agama Dalam Membina Mental Remaja. Kehadiran aga tidak hanya sekedar sebagai doktrin dan sakral, tetapi Agama harus dijadikan tuntunan dan pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
PEMBAHASAN 1. Agama
a. Pengertian Menurut Bahasa
Dalam arti terminologi atau teknis, pada umumnya orang menganggap bahwa kata “agama” ekuivalen dengan kata religion (bahasa Inggris), religie (bahasa Belanda) dan Al-Din (bahasa Arab), pemaknaan yang demikian bukan berarti tanpa masalah. Sebab bila diteliti secara mendalam ternyata kata-kata tersebut memiliki riwayat sendiri-sendiri yang belum tentu menunjukkan persamaan diskursusnya.
Kata “agama” diyakini berasal dari bahasa Sansekerta : a-ga- ma. Sering orang menterjemahkan dengan a : tidak dan gama : kacau.
Namun pengertian yang sebenarnya dari istilah ini adalah a : cara atau jalan dan gama : cara-cara untuk mencapai kepada keridloan Tuhan.1
b. Pengertian Menurut Istilah
Untuk mendapatkan pengertian agama yang dapat diterima oleh semua pihak, maka perlu penelitian tentang religi, secara khusus. Hal ini karena dilihat dari diskurusus yang ada di dalamnya, kata agama lebih ekuivalen dengan istilah tersebut, daripada istilah Al-Din. Namun sayangnya hingga saat ini juga belum ada pengertian religion yang dapat diterima secara umum.
Agama, menurut bahasa sansakerta, agama berarti tidak kacau (a = tidak, gama = kacau). Dengan kata lain, agama merupakan
1 Endang Saefudin Anshori, Ilmu Filsafat dan Agama, Bina Ilmu, Surabya, 1987, hlm. 34
tuntutan hidup yang dapat membahaskan manusia dari kekacauan.
Di dunia Barat terdapat suatu istilah umum untuk pengertian agama ini, yaitu : relige, religie, religion, yang berarti melakukan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian; perbuatan ini berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang- ulang.
Agama merupakan “satu kepercayaan dan cara hidup yang mengandung faktor-faktor anrata lain (a) percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari segala hukum dan nilai-nilai hidup, (b) percaya kepada wahyu Tuhan yang disampaikan kepada rasulnya, (c) percaya dengan adanya hubungan antara Tuhan dengan manusia, (d) percaya dengan hubungan ini dapat mempengaruhi hidupnya sehari-hari, (e) percaya bahwa dengan matinya seseorang , hidup rohnya tidak berakhir, (f) percaya dengan ibadat sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan, dan (g) percaya kepada keridlaan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini”.2
Harun Nasution, mengatakan dalam intisarinya adalah ikatan.
Karena itu, agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari.3
Di dalam Al-Qur’an memperkenalkan istilah-istilah lain bagi agama yaitu al-Millah menurut al-Juijani dalam al-Ta’rifat sebagaimana dikutip oleh Endang Saefuddin Anshori, baik Al-Din maupun al-Millah sama dalam materinya, perbedaannya hanya dalam kesannya saja, al-Din dinisbatkan kepada Allah, umpamanya din Al-Allah (din yang diturunkan Allah). Al-Millah dinisbahkan kepada Nabi tertentu millah Ibrahim (din yang dibawa oleh Nabi
2 Syamsu Yusuf LN, M. Pd. Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama Islam), Diterbitkan oleh C.V. Pustaka Bani Quraisy Divisi Buku Umum, Jl. Depok XIV No. 39 Antapani Tengah-Bandung, 2004. hlm.
10-11
3 Jalaluddin, Psikologi Agama (Edisi Revisi 2004), Hak penerbitan PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 12.
Ibrahim).4
Dalam pengertian umum istilah al-Din mengandung arti yang mirip dengan pengertian religi, sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Namun apabila ditinjau dari arti khusus (dalam kontek Islam) maka din yang benar, hak. Dalam kontek ini Nurcholis Majid menterjemahkan dengan kepatuhan atau ketaatan dan ketundukan.5
2. Fitrah Manusia dan Kebutuhannya pada Agama
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah, adalah dia dianugrahi fitrah, atau potensi untuk mengimani Allah dan mengamalkan ajaran-Nya. Karena fitrah inilah kemudian manusia dijuluki “homo religius”, makhluk beragama.6
Sesungguhnya agama adalah kelaziman dalam kehidupan manusia sejak lahir di dunia sama-sama dilahirkan kepercayaannya, oleh sebab itu agamalah yang paling dulu terwujud dalam jiwa manusia dari soal-soal yang lain. Ahli sejarah agama berpendapat bahwa manusia itu menurut wataknya suku beragama, naluri suka beragama dan suka memikirkan Allah, selalu kelihatan pada tiap- tiap masyarakat manusia.7
Selanjutnya tentang hajat manusia akan agama dijelaskan bahwa agama manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia, tinggi, bila dibandingkan dengan makhluk lain oleh karena itu untuk mangarahkan ketinggian martabat manusia dalam memahami fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi ini, ajaran Islam menegaskan perlunya kesatuan ilmu dan agama, maka agama menjadi sumber yang paling luhur sebab yang dibahas oleh agama adalah masalah-masalah yang mendasar untuk kehidupan manusia yaitu akhlak, kemudian dihidupkan dengan kekuatan “Ruh Tauhid”
dan ibadah dengan Allah sebagai kewajiban dan tujuan hidup dari perputaran roda sejarah manusia di bumi ini.
4 Endang Saefuddin Anshori, op. cit., hlm.121
5 Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, Yayasan Wakaf Paramidana, Jakarta, 1995, hlm. 427
6 Syamsu Yusuf LN, M. Pd, op. cit., hlm. 27
7 A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, Pustaka Al-Husna Zikra, Jakarta, 1997, hlm. 59
a. Tauhid
Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, dan tentang sifat-sifat yang pasti ada (wujud) pada-Nya, dan sifat-sifat yang bisa ada (juz’i) pada-Nya, dan sifat-sifat pasti tidak ada pada- Nya (Mustakhil).8
Tauhid adalah awal dan akhir dari anjuran Islam, ia adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan suatu kepercayaan yang menegakkan bahwasanya Tuhanlan yang menciptakan, mengatur dan mendidik alam semesta ini.
Adapun lawan tauhid adalah atheisme yaitu yang meniadakan Tuhan, sedang menurut Islam atheis merupakan kekafiran yang paling besar, sesuai dengan firman Allah :
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang- orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu(An-Nisa’: Ayat 101).
Jadi jelaslah bahwa segala faham yang bertentangan dengan kepercayaan tersebut, tentu tidak punya hak hidup dalam negara Indonesia. Doktrin tauhid bagi kehidupan manusia menjadi sumber kehidupan jiwa dan pendidikan kemanusiaan yang tinggi. Tauhid akan mendidik jiwa manusia untuk mengikhlaskan seluruh dan kehidupan Allah semata, maka tauhid merupakan kekuatan yang besar yang mampu mengatur secara tertib, manusia yang berjuta- juta yang hidup tersebar di penjuru dunia. Dengan jiwa tauhid yang tinggi seseorang akan bebas dari belenggu kejahatan duniawi, perbudakan, kecuali perbudakan Allah, karena tauhid manusia memiliki yang agung dan muthmainah (tenang).
b. Ibadah
Dalam Islam ibadahlah yang memberikan latihan rohani, dan sumber pendekatan kepada yang Maha Kuasa, semua ibadah dalam Islam membuat ruh manusia supaya senantiasa tidak lupa kepada
8 Nurcholis Majid. Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang,, Jakarta, 1984, hlm. 13
Tuhan, bahkan senantiasa lebih dekat pada Tuhan, Allah berfirman : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ” (Q.S. Azd-Dzariyat : ayat 56).
Dengan kata lain bahwa semua kegiatan manusia baik segi ubudiya maupun muamalah adalah dikerjakan dalam rangka penyembahan kepada Allah Swt dan mencari keridlaan-Nya, dan ibadah yang diajarkan dalam Islam tidaklah berarti meninggalkan kehidupan dunia, bahkan Islam melarang Uzlah ke gua-gua dan bersemedi di tempat-tempat sunyi, tetapi Islam menuntut agar kehidupan manusia itu harmonis dan selaras. Allah berfirman :
Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). (Q.S.
Al-Qashash : 2).
Maka nampaklah kelebihan manusia dari makhluk lain (binatang) di mana binatang hanya menuruti hawa nafsu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara individu, berkembang baik sekedar untuk melanjutkan jenisnya, sedang manusia di sam- ping dianjurkan untuk mencari penghasilan untuk kelangsungan hidupnya, juga diwajipkan untuk beribadah kepada Allah, sehingga dengan ibadah akan memberikan hidup yang tenang, sebaliknya manakala kehidupan tidak bertujuan ibadah, maka seseorang mudah terjangkit penyakit putus asa.
c. Akhlak
Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang terakhir yang diutus untuk menyempernakan agama-agama sebelumnya, karena Islam yang beliau bawa missinya adalah universal dan abadi, universal artinya untuk seluruh ummat manusia, dan abadi maksudnya sampai akhir zaman. Dalam syari’at Islam Allah membimbing bagi kehidupan jiwa dan mental manusia, sebab dalam bidang inilah terletak hakekat manusia, sikap mental dan kehidupan jiwa itulah yang menentukan bentuk kehidupan lahir.
Al-Qur’an menyerukan kepada manusia untuk beriman, bertakwa kepada Allah SWT, diajarkan untuk menghubungkan
silaturrahim satu dengan yang lainnya, memuliakan tamu, memperbaiki hubungan sesama tetangga, mencintai manusia sebagaimana dirinya sendiri, Nabi bersabda :
“Bersabda Nabi melihat orang mukmin yang kasih sayang menyayangi, cinta mencintai dan kelemahan lembutan bagaikan satu jasad, jika tertimpa menderita mengajak salah satu angguta, maka seluruhnya tidak bisa tidur panas. ” (H.R. Bukhori).9
Itulah gambaran Nabi dalam melihat orang mukmin yang saling cinta-mencintai diumpamakan satu jasad yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasullullah, pendidkan akhlakul karimah adalah faktor yang sangat urgan dalam membina satu ummat atau membangun suatu negara atau bangsa. Suatu pembangunan tidak cuma ditentukan dengan faktor kredit investasi material, betapapun kredit dan besarnya investasi jika manusia pelaksanaannya tidak memiliki akhlak, niscaya semua akan kacau akibat penyelewengan dan korupsi.
Yang diperlukan oleh pembangunan adalah keikhlasan, kejujuran, jiwa manusia yang tinggi, sesuai dengan kata perbuatan, oleh karena program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha adalah pembinaan akhlak yang mulia, ia harus ditanamkan diseluruh lapisan masyarakat mulia dari tingkat bawah sampai yang tinggi dan lapisan atas itulah yang mula-mula wajib memberikan suri tauladan yang baik pada masyarakat dan rakyat. Akhlak dari suatu bangsa itulah yang menentukan sikap hidup dan tingkah laku perbuatannya, sebagaimana penyair Arab Syaudi Bei, mengubah syairnya sebagai berikut :
“Suatu bangsa dikenal karena akhlaknya (budi pekertinya) jika budi pekertinya telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa itu.”10
Dari ketika uraian diatas (tauhid, ibadah, akhlak) bahwa fitrah.
9 Al-Hadits, Shohih Bukhori JilidIV, Maktabah Mesir, t. th., hlm. 53
10 Hamzah Ya’kub, Etika Islam (Pembinaan Akhlak Karimah Suatu Pengatar), CV. Diponegoro Bandung, 1983, hlm. 30
manusia yang asli adalah tauhid yang berarti bahwa insting manusia itu ber-Tuhan, sebab manusia adalah makhluk yang selalu cinta kepada kebenaran, hati nuraninya selalu merindukan kebenaran, dan kebenaran itu tidak akan di dapat dari siapapun, kecuali dari Allah sebagai pusat kebenaran yang terakhir.
Al-qur’an telah menerangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dengan kodrat yang hanif, begitu juga Islam, artinya memihak kepada kebenaran, sebab itulah Islam sesuai dengan fitrah manusia dan cocok dengan naluri manusia, sebagai mana firman Allah SWT :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [(Q.S. Ar-Ruum : 30).
Maka disinilah manusia pada dasarnya memerlukan akan petunjuk-petunjuk dari Allah yang berupa agama, hal itu perlu kiranya disadari oleh manusia bahwa tanpa adanya agama manusia akan mengalami kesesatan, karena sebaik-baiknya mengendali jiwa dan petunjuk bagi manusia adalah agama.
Demikianlah antara lain betapa kebutuhan manusia kepada agama, dikarenakan memberi petunjuk bagaimana (tauhid, ibadah, akhlak) itu harus dijalankan, maka agamalah sangsi terakhir dari semua tindakan moral, untuk mengajarkan akhlak adalah mudah tapi untuk mencapai dasar-dasar bagi akhlak adalah sukar, dasar inilah yang diberikan oleh agama, dan agamalah yang memberikan dan mempertahankan cita-cita etis.
3. Pentingnya Agama dalam Kehidupan
Agama adalah merupakan pedoman hidup dalam kehidupan keyakinan dan iman serta batin kita untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum mengemukakan pentingnya agama dalam kehidupan, terlebih dahulu akan diterangkan beberapa dimensi keagamaan antara lain
a. Dimensi keyakinan, (pikiran atau harapan) arinya bahwa orang yang relegius akan manganut pandangan theologis tertentu, ia akan mangakui kebenaran ajaran agama.
b. Praktek relegius, mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan orang untuk melaksanakan komitmen religius mereka secara nyata.
c. Dimensi pengalaman, bahwa semua agama mempunyai perkiraan secara tepat, bahwa orang yang benar-banar religius, suatu waktu akan mencapai pengetahuan langsung dan subyektif tentang realitas tertinggi dan akan mampu berhubungan dengan perantaraan yang supernatural.
d. Dimensi pengetahuan, dimensi keyakinan dan keagamaan jelas saling berkaitan karena pengetahuan tentang sesuatu yang diyakini merupakan prasyarat yang perlukan bagi penerimanya, namun keyakinan tidak harus pengetahuan agama dihubungkan dengan keyakinan tersebut.
e. Dimensi konsekwensi, dimensi ini mengidentifikasi pengaruh- pengaruh kepercayaan, praktek pengalaman dan pengetahuan keagamaan didalam kehidupan orang sehari-hari, disini terkadung makna ajaran kerja dalam pengertian theologis.11
Dari sini dapat diambil suatu pengertian bahwa dimensi suatu pengertian itu dianggap suatu aspek komitmen religius yang sangat penting tetapi seringkali belum mencukupi, hidup manusia di dunia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan memenuhi cita-cita, memang sepajang manusia dalam hidup di dunia ini, manusia adalah makhluk sosial yang harus bergaul sesamanya, manusia mempunyai sifat kelemahan dan makhluk yang serba kurang, manusia pada umumnya tidak tahan uji, lekas mengeluh jika ditimpa bencana secepatnya menyerah diri, maka disinilah pentingnya agama untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi problem hidup dan sebagai pengisi jiwa, jadi manusia tidak butuh benda materi, namun kebutuhan rohani juga.
11 Roland Robertson, Ed., Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Rajawali Pers, Jakarta, 1986, hlm. 295-297
4. Pembinaan Mental Remaja
a. Pengertian Pembinaan Mental Remaja
Pembinaan secara etimologi berasal dari kata “bina” mendapat awalan pe dan akhirnya an.12 Jadi artinya pembinaan adalah proses, pembuatan, cara pembinaan, pembaharuan, usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik.
Dalam pelaksanaan pembinaan maka konsep pembinaan hendaknya didasarkan pada hal-hal yang bersifat efektif dan pragmatis dalam arti dapat memberikan pemecahan persoalan yang dihadapi sehari-hari dengan sebaik-baiknya, dan pragmatis dalam arti mendasarkan fakta-fakta yang ada sesuai dengan kenyataan sehingga bermanfaat karena dapat diterapkan dalam praktek- praktek.
Sedang pembinaan menurut Masdar Helmi adalah segala hal usaha, ikhtiar dan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengorganisasian serta pengendalian segala sesuatu secara teratur dan terarah.13
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah segala usaha, ikhtiar dan kegiatan yang dilakukan terus menerus perencanaan, pengorganisasian, serta pengendalian untuk memperoleh hasil yang berdaya guna.
Sedang kata mental berasal dari kata Mens, Mentis, yang berarti nyaman, sukma, roh, semangat.14 Dalam kamus besar bahasa Indonesia mental adalah hal yang menyangkut bathin, watak manusia, yang bukan bersifat badan dan tenaga.15
Pengertian tersebut memang masih sangat sederhana dan global. Meskipun demikian dapat dipahami, bahwa mental adalah menunjuk pada kondisi (keadaan) yang mengarah pada kepribadian.
12 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.3-cet. 1 .Jakarta : Balai Pustaka, 2001 hlm. 152
13 Masdar Helmi, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, Toha Putra, Semarang, 1973, hlm. 3
14 Kartini Kartono, Dr. Jeni, Higiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Mandar Maju, Bandung, 1989, hlm. 3
15 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa., op., cit., hlm. 733
Secara lebih tegas dan rinci istilah mental dapat dimengerti melalui pendapat 9 pandangan. Dr. Zakiyah Daradjat dalam bukunya
“Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental” yang mengatakan :
Dalam ilmu psikiatri dan psikoterapi, kata mental sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian) yang berarti bahwa mental dalam semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan akan menentukan corak tingkah laku, cara menghadapi sesuatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan dan sebagainya.16
Untuk memahami mental seseorang, adalah melalui kondisi sikap atau perilakunya, dimana sikap atau perilaku tersebut merupakan manifestasi dari kondisi jiwa atau mental seseorang.
Banyak para ahli jiwa terutama di negara-negara maju, telah mempu mengungkapkan fenomena-fenomena sikap (perilaku) manusia sebagai perwujudan dari jiwanya dan sekaligus dengan tegas memberikan kesimpulan-kesimpulan.
b. Problematika Mental Remaja
Sikap manusia baik tua atau muda, pria maupun wanita selalu mengharap dapat menimakti kesenangan dalam hidupnya, sesungguhnya keadaan tersebut (kesenangan dan kebahagiaan) akan dapat diperoleh, jika manusia telah terpenuhi beberapa kebutuhan.
Dr. Zakiyah Daradjat dalam bukunya “Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental” mengatakan, bahwa kebutuhan- kebutuhan manusia antara lain meliputi :
a. Kebutuhan akan rasa kasih sayang b. Kebutuhan akan rasa aman
c. Kebutuhan akan rasa harga diri d. Kebutuhan akan rasa bebas
16 Zakiyah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hlm. 38-39
e. Kebutuhan akan rasa mengenal f. Kebutuhan akan rasa sukses.17
Bagi seseorang yang telah mendapatkan kasih sayang dan kecintaan akan menemukan kebahagiaan. Tanda-tanda dicintai dapat dilihat seperti selalu diperhatikan, dihargai, dan ditolong apabila telah mendapat berbagai kesulitan. Bagi orang yang telah mendapat kecintaan dan kasih sayang, hidupnya akan merasa tenang karena ia tidak merasa dimusuhi atau dibenci. Tapi bagi para orang yang tidak dicintai, hidupnya akan penuh kecurigaan karena orang lain dianggap sebagai musuh. Maka ia akan curiga kepada sitiap tindakan orang lain, baik tindakan-tindakan tersebut merugikan maupun menguntungkan.
Kebutuhan manusia yang paling penting dalam kehidupannya adalah rasa aman, yaitu ingin merasa hidupnya tidak dirongrong apa saja atau tak ingin ada ancaman apapun dalam dirinya. Melalui akan kebutuhan untuk mencari kekayaan. Hal tersebut dimaksud untuk menjadi kehidupannya baik yang sedang dialami maupun pada keadaan masa depannya. Bahkan juga termasuk ingin menjamin kehidupan keluarganya atau anak cucunya di kemudian hari. Disamping itu, karena dorongan rasa aman, manusia ingin mengetahui termasuk kehidupan masa depan atau kehidupan sesudah mati.
Dalam diri manusia, disamping menginginkan rasa kasih sayang, rasa aman juga membutuhkan rasa harga diri. Bahkan karena harga diri, manusia dapat melakukan perbuatan yang nekat dan kejam terhadap orang lain yang mengakibatkan kurang menghargai harga diri. Kebutuhan akan harga diri ini tidak pandang dulu, baik orang itu berpangkat rendah, tua atau muda, pria maupun wanita semua membutuhakn penghargaan diri dari orang lain, orang merasa tidak dihargai akan menantang dan membalas terhadap orang yang tidak menghargainya karena ia merasa dirugikan dan dihilangkan harga dirinya.
Rasa bebas juga merupakan bagian kebutuhan manusia untuk
17 Ibid, hlm. 14
berbuat dalam bersikap maupun dalam berucap. Adanya kecendorongan manusia untuk berbuat bebas tersebut karena terdorong oleh fitrahnya sebagai makhluk yang bebas. Kebebasan tersebut dimaksud adalah dalam menentukan segala kemauan dan pilihannya, yaitu sesuai dengan akal yang merupakan potensi yang dimilikinya. Maka jika manusia tidak mendapatkan kebebasan atau selalu tertekan, akan timbul suatu gejolak atau menentang yang memperkosa kebebasannya.
Disamping rasa bebas manusia ingin juga rasa tahu. Keingin tahuan manusia tersebut khususnya adalah pada hal-hal yang sama.
Manusia tak ingin terselimuti hal-hal yang sifatnya tak tentu. Ia ingin mengetahui segala sesuatu dengan jelas. Maka dapat dilihat dalam diri manusia, dengan segala upaya berusaha untuk mempelajari dan menjawab hal-hal yang menjadi keraguan jiwanya.
Adapun kebutuhan manusia yang lain adalah rasa sukses, ia dalam segala aktifitasnya jika telah medapatkan sesuai dengan apa yang digunakannya akan merasa senang atau bahagia. Namun sebaliknya apabila manusia selalu mengalami kegagalan, akibatnya akan menjadikan rasa tidak enak baik pada hal-hal yang biasa saja maupun pada hal-hal yang remeh sekalipun. Misalnya pada masalah keluarga, kantor, masyrakat atau dalam kehidupan sehari-hari. Jika manusia mengalami kegagalan di samping menjadi tak enak akan pula merasa pesimis dan putus asa. Perasaan putus asa tersebut akan membawa pada hilangnya ketenangan jiwa dan hilangnya pula rasa bahagia.
Apa yang telah dijelaskan tersebut diatas, baik rasa kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, rasa mengenal dan suskses merupakan kebutuhan pokok manusia (psichis). Maka jika salah satu diantara kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dipenuhi, orang akan menjadi gelisah dan mengalami gangguan bathin.
Akibatnya akan mendorong untuk berbuat sesuatu sebagai kompensasi agar perasaan yang tak enak tersebut dapat sirna.
Bentuk-bentuk kompensasi tersebut seperti mencari kepuasan secara tidak wajar. Misalnya dengan cara berkhayal, menghasut orang.
Bahkan jika rasa gelisahnya terlalu bebas akan berakibat terganggu
mentalnya atau lebih jauh lagi dapat tertimpa penyakit jiwa.
Kesehatan mental adalah kemampuan menyesuaikan diri dalam menghadapi masalah dan kegoncangan-kegoncangan biasa.
Atau kesehatan mental bagi manusia adalah sangat penting, karena cerminan manusia adalah terletak pada mentalnya. Jika manusia telah mengalami tidak sehat mentalnya, menurut hasil penelitian, akan mempengaruhi keseluruhan hidupnya, pengaruh itu dapat dibagi dalam 4 kelompok besar yaitu :
1) perasaan; misalnya cemas, takut iri-dengki, sedih tak beralasan, marah oleh hal-hal remeh, bimbang, merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustrasi), pesimis, putus asa, apatis, dan sebagainya.
2) pikiran; kemampuan berpikir berkurang, sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana yang telah dibuat.
3) kelakuan; nakal, pendusta, menganiaya diri atau orang lain, menyakiti badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.
4) kesehatan badan; penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh gangguan pada jasmani”.18
c. Agama Sebagai Dasar Pembinaan Mental Remaja
Sebelum mengupas lebih lanjut mengenai agama sebagai dasar pembinaan mental, terlebih dahulu akan penulis paparkan mengenai pengertian agama meskipun dalam penbahasan terdahulu telah disinggung.
Agama menurut Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash Shidiqy dalam bukunya Al Islam mengatakan :
Agama adalah suatu kumpulan peraturan yang ditetapkan untuk menarik dan menuntun para umat yang berakal kuat yang suka tunduk dan patuh kepada kebaikan supaya mereka memperoleh kebahagiaan dunia, kejayaan dan kesatuan di akhirat negeri yang abadi, supaya dapat mendiami surga jannatul khulud, mengecap kelezatan yang tak ada tolok bandingnya serta kekal
18 Zakiyah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental (Pokok-Pokok Keimanan), Gunung Mulia, Jakarta, 1982, hlm. 9
selama- selamanya.19
Definisi tersebut di atas mengandung pemahaman bahwa agama meliputi segi-segi akidah, syari’ah dan amalan-amalan kebajikan serta pengertian bahwa kepercayaan (keyakinan) yang dimiliki seseorang akan tiada berguna tanpa disertai amal perbuatan.
Begitu juga sebaliknya akan menjadi sia-sia suatu amal kebajikan tanpa disertai pengetahuan (ilmu). Disamping itu telah jelas bahwa agama merupakan jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat, sehingga agama mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Sebab agama sesungguhnya mengandung hukum-hukum serta akhlak (moral) yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya.
Karena peran yang dipandang oleh agama begitu vital bagi kehidupan manusia, maka perlu diajarkan kepada semua umat manusia khususnya pada anak. Sebab anak adalah merupakan tahap awal dalam perkembangan menuju manusia dewasa. Untuk itu jika menginginkan anak dan generasi tumbuh kearah hidup bahagia dan bersikap tolong menolong, harga menghargai, jujur dan memiliki mental yang baik, maka cara yang paling tepat adalah melalui pembinaan, khususnya pembinaan agama.
Keberadaan agama memang tidak perlu disangsikan, karena agama sejak dahulu hingga kini selalu mengajarkan tentang kebaikan. Agama adalah pedomen tertua yang mengajak manusia berkelakuan sosial, ia membimbing manusia kearah berbudi luhur, berkelakuan baik dan melakukan yang benar serta meninggalkan yang salah, kelakuan itu secara positif dituntun sehingga menguntungkan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan apabila peraturan-peraturan agama sebagaimana yang telah diajarkan benar- benar dilakukan dengan baik, maka mental manusia akan menjadi baik yang akan mempunyai dampak positif dalam dinamika sosial, karena setiap orang telah dan menyadari pentingnya berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang telah digariskan. Sebab dalam sisi
19 T.M.Hasbi Ash Shiddiqy, Al Islam Jilid I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977, hlm. 27.
lain, Tuhan selalu mengawasi segala perilaku yang positif maupun yang negatif dan baik yang menyangkut pribadi maupun manyangkut orang lain.
Dengan demikian agama mempunyai peranan yang besar dalam mengendalikan kehidupan umat manusia tanpa bimbingan agama akan menjadi berantakan. Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Yunus ayat 57 :
“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yunus ayat : 57).
Penegasan Allah tersebut memberikan pengertian bahwa agama adalah yang dapat menyelamatkan umat manusia dari gangguan jiwa. Untuk itu dapat dipahami pula betapa pentingnya agama, sehingga amat tepat sekali pembinaan-pembinaan terhadap diri seseorang jika dilandasi dengan agama akan dapat menyelamatkan dari segala problem yang dihadapi (gangguan- gangguan jiwa). Dan tentu saja dalam pembinaan tersebut jika dapat menghasilkan manusia- manusia yang telah berperilaku sesuai tuntutan yang telah diajarkan oleh agama.
Dalam pembinaan agama yang lebih baik adalah pembinaan sejak kecil terbukti dapat menjadikan bekal kelak dalam kehidupan selanjutnya, sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. Athiyah Al- Abrasy, “Pembentukkan yang utama adalah di waktu kecil, maka apabila seorang anak dibiarkan melakukan sesuatu ( yang kurang baik) dan kemudian telah menjadi kebiasaannya, maka sukarlah merubahnya”20
Dalam pembinaan mental anak dapat dilakukan oleh orang tua seperti membiasakan hidup rukun dan damai serta patuh kepada Tuhan. Disamping orang tua harus memberi contoh tindakan- tindakan tersebut. Sebab apabila anak sudah terbiasa melakukan
20 Muhammad Athiyah Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam (Ahli Bahasa ; Prof. HBustami A. Gani dan Djohar Bahry, L. I. S)., Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hlm. 106
sikap- sikap yang terpuji dan luhur, maka setelah mengijak dewasa akan berbuat dan melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang telah diamati, dipelajari dan dicontohkan orang tuanya atau keluarganya serta yang telah dilakukan sejak kecil. Sebab hal tersebut merupakan proses pembentukan kepribadian, seperti dikatakan oleh Dr. Zakiyah Daradjat dalam bukunya “Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia.” Apabila si anak hidup dalam keluarga yang beriman selalu melihat orang tuanya rukun dan damai serta patuh melakukan ibadah kepada Tuhan, maka bibit pertama yang akan masuk dalam pribadi anak ialah apa-apa yang dialaminya.”21
Dengan demikian, betapa bahagianya anak-anak yang telah mendapatkan bimbingan agama sejak kecil dan telah terisi jiwanya dengan benih-benih agama. Sebab seorang anak yang telah mendapat pembinaan agama, jiwanya akan menjadi kuat, teguh dalam berpendirian dan mantap dalam keyakinannya kepada Tuhan. Dan akibatnya jika perasaan agama telah meresap dalam jiwa dan tidak dicampuri dengan keraguan akan menghasilkan amal, kebajikan dan keutamaan yang akan membawa manfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungan.
Jelas sekali bahwa pembinaan agama perlu dilaksanakan kepada umat manusia khususnya kepada anak sejak kecil, agar jiwa anak tersebut dapat dipengaruhi dan diresapi ruh serta semangat agama yang akan membimbing dan memimpin hidupnya pada jalan yang lurus menuju kesalamatan yang diidam-idamkan. Dan agama akan dapat membimbing umat manusia karena agama mempunyai nilai-nilai yang tinggi bagi kehidupan secara menyeluruh termasuk sebagai dasar pembentukan mental yang sehat. Oleh sebab itu pembinaan agama perlu mendapatkan perhatian yang serius pada anak-anak agar menjadi generasi yang baik.
21 Zakiyah Darajdat, Membina Niali-nilai Moral Di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, hlm. 67
KESIMPULAN
Agama merupakan jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat, sehingga agama mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Sebab agama sesungguhnya mengandung hukum-hukum serta akhlak (moral) yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya. Karena peran yang dipandang oleh agama begitu vital bagi kehidupan manusia, maka perlu diajarkan kepada semua umat manusia khususnya pada anak. Sebab anak adalah merupakan tahap awal dalam perkembangan menuju manusia dewasa. Untuk itu jika menginginkan anak dan generasi tumbuh ke arah hidup bahagia dan bersikap tolong menolong, harga menghargai, jujur dan memiliki mental yang baik, maka cara yang paling tepat adalah melalui pembinaan, khususnya pembinaan agama (meliputi Aqidah, Ibadah dan Ahlak).
Apabila peraturan-peraturan agama sebagaimana yang telah diajarkan benar-benar dilakukan dengan baik, maka mental manusia terutama para remaja dimana kondisi psikisnya masih belum stabil, sedang mencari jati dirinya, ketika agama dijadikan petunjuk dalam kehidupannya maka akan menjadi baik dan akan berdampak positif dalam dinamika sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah Prof ,.Dr., Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 2005.
...,Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, 1988.
..., Pembinaan Remaja, Bulan Bintang, Jakarta, 1976.
..., Islam dan Kesehatan Mental ( Pokok-Pokok Keimanan), Gunung Mulia, Jakarta, 1983.
..., Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, Bulan Bintang, Jakarta, 1982.
..., Pembinaan Remaja, Bulan Bintang, Jakarta, 1976.
Jalaluddin Prof. Dr., Psikologi Agama (Edisi Revisi 2004), Hak penerbitan PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.
Kartono, Kartini Dr., Dr. Jeni, Higiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Mandar Maju, Bandung, 1989.
Nasution, Harun, Prof. Dr., Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta, 1985.
Peta negeri Thailand Pitsuwan, Surin, Islam Di Muang Thai, Nasionalisme Melayu Masyarakat Patani, Jakarta, 1986.
Purwoko, Yodho. Memecahkan Problem Remaja : dari Masyalah Agama Hingga Pergaulan dari Masyalah Seks Hingga Penikahan, Penerbit Nuansa Bandung, 2001.
Razak, Nasruddin Drs, Dienul Islam, PT. Al-ma’arif, Badung, 1989.
Robertson, Roland, Ed., Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Rajawali Pers, Jakarta, 1986.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Prof. Dr.., Psikologi Remaja, PT. Raja Grafido Persada, Jakarta, 2004.
Tebba, Sudirman Perkembangan Mutakhir Hukum Islam Di Asia Tenggara Studi Kasus Hukum Keluarga dan Pengkodifikasiannya, Mizan, Bandung, 1993.
Ya’ub, Hamzah, Dr.Etika Islam (Pembinaan Akhlak Karimah Suatu Pengatar), CV. Diponegoro, Bandung, 1983.
Yusuf LN H. Syamsu Dr., M. Pd. Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama Islam), C.V. Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2004.