EVALUASI KEBIJAKAN HARGA GABAH TAHUN 2004
Pantjar Simatupang, Sudi Mardianto dan Mohamad Maulana
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jalan A. Yani 70 Bogor 16161
PENDAHULUAN
Paket Kebijakan Harga Dasar Gabah/Beras Pembelian Pemerintah (HDPP) yang belaku saat ini ditetapkan melalui Inpres No.9, 31 Desember 2002 efektif sejak 1 Januari 2003. HDPP tersebut biasanya dikaji ulang tiap akhir tahun.
Keputusan apakah HDPP tersebut perlu dinaikkan mestinya harus dibuat pula pada akhir tahun 2004 ini. Analisis singkat ini dimaksudkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan kebijakan HDPP tersebut.
Oleh karena dinilai sebagai suatu kebijakan strategis yang lingkupnya mencakup tugas dan kewenangan lintas departemen, paket kebijakan HDPP ditetapkan melalu Instruksi Presiden berdasarkan usulan dari Menteri Koordinator Ekonomi. Mengingat HDPP pada intinya adalah kebijakan pertanian, maka rumusan awal atau inisiatif perubahan paket HDPP biasanya berasal dari Menteri Pertanian.
HASIL EVALUASI KEBIJAKAN
1. Kebijakan Harga Dasar Gabah Tidak Efektif di Setiap Wilayah Sepanjang Tahun
Secara rata-rata, pada tahun 2004 (Januari–Oktober) harga jual gabah petani dalam bentuk gabah kering panen (GKP) mencapai Rp 1.211 per kg GKP yang berarti lebih tinggi dari HDPP yang ditetapkan pemerintah Rp 1.200 per kg GKP (Tabel 1; Gambar 1). Berbeda dengan dalam bentuk GKP, harga jual gabah petani dalam bentuk gabah kering giling (GKG) hanya Rp 1.610/kg GKG, di bawah HDPP yang ditetapkan pemerintah Rp 1.700/kg GKG. Hal yang sama berlaku pada tingkat penggilingan, harga GKP di atas HDPP, sedangkan GKG di bawah HDPP. Tidak diperoleh data mengenai harga beras di tingkat petani dan penggilingan. Namun dapat dipastikan harga beras di tingkat petani maupun di penggilingan pasti lebih rendah dari HDPP karena di tingkat konsumen saja harga beras konsisten di bawah HDPP yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 2.790/kg.
Insiden anjloknya harga di bawah HDPP masih terjadi pada bulan Maret
hingga April yang merupakan masa panen raya (Gambar 1). Pada bulan Maret
2003, harga gabah di tingkat petani hanya Rp 1.113/kg GKP atau sekitar 7 persen
dibawah HDPP, merupakan rekor terendah dalam tiga tahun terakhir. Selama
masa panen utama padi (Maret-Agustus) tahun 2004 ini, rerata harga gabah petani
hanya Rp 1.188/kg GKP, yang berarti lebih rendah dari HDPP, sedangkan pada periode sama tahun 2003, rerata harga gabah petani mencapai Rp 1.201/kg GKP, yang berarti sedikit di atas HDPP. Dengan demikian, pada tahun 2004 kebijakan harga dasar gabah gagal diefektifkan sepanjang tahun. Lebih daripada itu, efektifitas kebijakan HDPP pada tahun 2004 lebih rendah daripada tahun 2003.
Tabel 1. Perkembangan Harga Gabah di Tingkat Penggilingan dan Petani, 2003-2004 (Rp/kg) Harga di penggilingan Harga di petani
GKG GKP GKP GKG
Bulan
Aktual HDPP Aktual HDPP Aktual HDPP Aktual HDPP 2003
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember
1681 1552 tad 1554 1581 tad 1510 1725 1703 tad 1573 1567
1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725
1278 1296 1258 1195 1244 1218 1174 1268 1272 1273 1253 1262
1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230
1252 1271 1232 1173 1217 1182 1150 1240 1245 1251 1227 1232
1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200
1654 1535 tad 1529 1558 tad 1500 1700 1679 tad 1559 1530
1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 2004
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober
1614 tad 1725 1558 1690 1715 1853 1325 tad tad
1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725 1725
1314 1228 1139 1189 1261 1262 1236 1236 1256 1301
1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230 1230
1287 1202 1113 1158 1228 1227 1203 1200 1220 1274
1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200
1586 tad 1700 1522 1666 1700 1821 1275 tad tad
1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 1700 Sumber : BPS.
1000 2000
Bulan (Rp/kg)
GKP Aktual HDPP GKP GKG Aktual HDPP GKG
Gambar 1. Perkembangan Harga Gabah Petani, 2002-2004 (Rp/kg)
Bahwa HDPP tidak efektif di semua wilayah dan sepanjang waktu juga terbukti dari hasil monitoring lapang yang dilaksanakan oleh BPS. Hingga bulan September 2004, kasus transaksi jual beli gabah di bawah HDPP di tingkat penggilingan mencapai 55,09 persen dari total observasi, sedangkan yang di atas HDPP dan yang sama dengan HDPP masing-masing 44,95 persen dan 9,96 persen. Gabah yang dijual di luar (dibawah) persyaratan kualitas mencapai 8,82 persen (Tabel 2). Prevalensi kasus transaksi jual beli gabah di bawah HDPP umumnya tinggi di wilayah sentra produksi gabah seperti Banten, Jawa Tengah, DI. Yogyakarta, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Tabel 2. Persentase Observasi Transaksi Harga Gabah Di Tingkat Penggilingan.
Provinsi
Sama dengan HDPP
(%)
Di atas HDPP (%)
Di bawah HDPP
(%)
Di luar kelompok kualitas (%)
1. Sumatera Barat - 97,22 2,78 4,00
2. Jambi 66,67 33,33 - -
3. Lampung - 57,89 42,11 9,52
4. Jawa Barat 10,89 81,19 7,92 15,12
5. Jawa Tengah 2,73 45,45 51,82 13,38
6. D.I. Yogyakarta 3,33 15,00 81,67 -
7. Jawa Timur 11,66 25,68 60,66 11,17
8. Banten - 8,57 91,43 -
9. Bali 11,54 61,54 26,92 10,34
10. Kalimantan Tengah 33,33 - 66,67 -
11. Kalimantan Selatan - 65,00 35,00 -
12. Kalimantan Timur - 100,00 - -
13. Sulawesi Tengah - 100,00 - 66,67
14. Sulawesi Selatan 31,92 17,02 51,06 -
15. Sulawesi Tenggara - - 100,00 -
Tingkat Penggilingan 9,96 44,95 55,09 8,82
Sumber: BPS, Laporan Monitoring s/d September 2004.
2. Harga Gabah yang Diterima Petani Cenderung Menurun
Walau secara rerata masih sesuai HDPP, harga gabah yang diterima petani cenderung menurun dalam dua tahun terakhir. Pada periode Januari – Oktober 2004, harga gabah rata-rata Rp 1.211/kg GKP, lebih rendah daripada periode yang sama tahun 2003 yang mencapai Rp 1.222. Rekor tertinggi harga gabah petani adalah Rp 1.231 pada tahun 2002 (Tabel 3). Penurunan harga gabah petani pada tahun 2004 seolah-olah suatu fenomena “anomali”, karena pada tahun ini harga beras impor meningkat tajam, sementara pemerintah telah berusaha keras menyangga HDPP dengan berbagai instrumen tambahan seperti melarang impor beras, menyediakan dana talangan, membangun lumbung, dan sebagainya.
Peningkatan harga gabah petani pada tahun 2002 dan penurunan pada
tahun 2003 dapat dijelaskan sebagai konsekuensi dari peningkatan dan penurunan
harga beras impor. Hingga tahun 2003 harga gabah di tingkat petani bergerak searah dengan harga beras impor yang berarti pasar gabah domestik terintegrasi dengan pasar beras dunia sebagai konsekuensi dari pasar terbuka. Pada umumnya ini tidak terjadi pada tahun 2004.
Tabel 3. Rerata Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Januari – Oktober 2004
Uraian 2001 2002 2003 2004
1. Tingkat petani (GKP) 2. Tingkat penggilingan (GKG)
1.092 1.466
1.224 1.560
1.222 1.615
1.211 1.640 Sumber: BPS.
Penurunan harga gabah petani pada tahun 2004 bersamaan dengan peningkatan cukup tinggi (sekitar 25%) harga beras impor. Seperti halnya harga gabah, harga beras yang dibayar konsumen di pasar domestik juga mengalami penurunan pada tahun 2004. Ini berarti, pada tahun 2004 pasar beras dan gabah domestik tersekat, tidak lagi terintegrasi dengan harga beras dunia. Akar penyebabnya ialah kebijakan pelarangan impor beras yang ditetapkan pemerintah sejak bulan Januari 2004, pada awalnya hanya pada masa panen raya, namun diperpanjang secara bertahap hingga sampai bulan Desember 2004 mendatang.
Seperti yang akan diuraikan lebih lanjut, penurunan harga gabah tahun 2004 merupakan akibat dari perpaduan kesalahan kebijakan pelarangan impor dan melonjaknya produksi gabah domestik.
3. HDPP untuk GKG dan Beras Kurang Relevan dan Terlalu Tinggi
Fakta bahwa harga GKG kerapkali di bawah HDPP dan harga beras selalu di bawah HDPP walaupun GKP di atas HDPP merupakan isu penting yang perlu dikaji lebih mendalam karena mengandung implikasi terhadap konstruksi kebijakan HDPP tersebut. Patut diduga HDPP untuk GKG dan beras kurang relevan atau terlalu tinggi relatif terhadap GKP.
Pertama, pada umumnya petani menjual gabah dalam bentuk GKP, jarang dalam bentuk GKG dan praktis tidak pernah dalam bentuk beras. Oleh karena itu, HDPP untuk GKG dan beras kurang relevan dijadikan sebagai instrumen penyangga harga gabah petani. HDPP mestinya hanya untuk GKP saja. Harga GKG dan beras dibiarkan bebas berdasarkan kekuatan pasar.
Kedua, dapat dipastikan HDPP untuk GKG dan beras relatif terlalu tinggi
dibanding untuk GKP. Rasio harga GKG/GKP berdasarkan harga pasar (di tingkat
penggilingan) adalah 1,16 sedangkan berdasarkan HDPP yang ditetapkan
pemerintah 1,40. Rasio harga beras di tingkat konsumen/ GKP di tingkat
penggilingan adalah 2,15, sedangkan berdasarkan HDPP yang ditetapkan
pemerintah adalah 2,27. Hal inilah yang menyebabkan harga GKG dan harga beras dapat berada dibawah HDPP masing-masing, walaupun harga GKP di bawah HDPP-nya
Ketiga, penetapan HDPP untuk GKG dan beras yang tidak konsisten, atau tegasnya terlalu tinggi relatif terhadap GKP, sementara transaksi GKG dan beras berdasarkan HDPP praktis hanya antara Bulog dan pengusaha kilang penggilingan padi, maka dapat dipastikan penetapan HDPP untuk GKG dan beras kurang bermanfaat bagi petani, lebih menguntungkan bagi Bulog dan mitra pengusaha kilang padinya, dan merugikan bagi negara.
Keempat, penetapan tiga HDPP (untuk GKP, GKG, beras) yang tidak konsisten dapat menimbulkan kesulitan dalam monitoring dan evaluasi kinerja kebijakan HDPP tersebut. Jika harga GKP yang diterima petani selalu diatas HDPP, sementara GKG dan beras di bawah HDPP masing-masing, lantas apakah dapat disimpulkan kebijakan HDPP efektif atau tidak ? Harga produk mana yang akan diacu ? Kesulitan ini dapat diatasi dengan menetapkan HDPP untuk satu jenis produk gabah saja, yakni “Gabah Kering Panen” (GKP).
Berdasarkan uraian diatas maka disarankan agar HDPP ditetapkan untuk satu produk saja, yaitu GKP. HDPP untuk GKG dan beras tidak perlu lagi ditetapkan pemerintah. Inilah salah satu usulan revisi terhadap ketentuan dalam Inpres 9/2002. Jika memang tetap akan direvisi penetapan harga pembayaran beras program Raskin oleh pemerintah kepada Bulog mestinya dilakukan berdasarkan kajian tersendiri dan tidak harus termasuk dalam ketentuan Inpres yang mengatur HDPP.
4. Kebijakan Pelarangan Impor “Bumerang” Bagi Petani Namun Menguntungkan Konsumen
Barangkali karena gagal mencapai kesepakatan untuk meningkatkan tarif impor guna mendukung HDPP, berdasarkan rekomendasi dari Menteri Pertanian, akhirnya pada bulan Januari 2004 Menteri Perindustrian dan Perdagangan menerbitkan peraturan pelarangan impor beras dua bulan sebelum hingga sebulan sesudah musim panen raya beras atau spesifiknya dari bulan Januari hingga Juni 2004. Kebijakan ini selanjutnya diperpanjang hingga bulan Desember 2004.
Kebijakan pelarangan impor sepanjang tahun sesungguhnya tidak sejalan dengan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Namun demikian, pelarangan impor mungkin masih dapat ditolerir sebagai mekanisme perlindungan khusus (special safeguard mechanism). Pokok masalahnya ialah apakah kebijakan pelarangan impor tersebut tepat dijadikan sebagai instrumen penyangga HDPP guna mengangkat harga gabah petani, mengingat tidak terjadi perubahan besar dalam konteks pasar beras dunia dan produksi gabah domestik ?
Kebijakan pelarangan impor menimbulkan dua konsekuensi yang
merugikan petani, namun menguntungkan konsumen beras. Pertama, insulasi
pasar domestik tatkala produksi gabah meningkat tajam (pada tahun 2004 produksi gabah melonjak 4,23%) akan menyebabkan harga gabah petani (dan harga beras konsumen) anjlok, khususnya pada masa panen padi (Maret – Agustus). Data empiris menunjukkan harga gabah pada musim panen padi anjlok dari Rp 1.201/kg GKP, berarti praktis sesuai HDPP Rp 1.200/kg GKP di tingkat petani, pada tahun 2003 menjadi Rp 1.188/kg GKP, berarti dibawah HDPP, pada tahun 2004. Dalam kondisi demikian, pasar dunia mestinya dapat dipakai sebagai tempat pelepasan efek lonjakan produksi pada pasar gabah/beras domestik sehingga penurunan harga dapat dicegah atau dikurangi.
Kedua, insulasi pasar gabah dan beras domestik tatkala harga beras impor melonjak akan menghambat efek transmisi peningkatan harga beras dunia terhadap harga gabah petani dan harga beras konsumen. Artinya, petani padi kehilangan kesempatan untuk menikmati efek peningkatan harga beras impor sementara konsumen beras terhindar dari efek peningkatan harga beras. Dengan demikian, kebijakan melarang impor beras merugikan bagi petani padi, namun menguntungkan bagi konsumen beras domestik.
Berdasarkan analisis diatas, penurunan harga gabah pada tahun 2004 diduga merupakan akibat dari kesalahan kebijakan: “melarang impor beras tatkala produksi gabah domestik meningkat tajam, sementara harga beras impor juga meningkat tajam”.
Kebijakan larangan impor beras didasarkan pada dua pertimbangan pokok. Pertama, tarif impor beras yang ada tidak memadai untuk menutup disparitas antara harga beras domestik sepadan HDPP dan harga beras impor.
Kedua, terjadi “kebocoran” dalam pelaksanaan kebijakan tarif impor beras berupa penyelundupan dan manipulasi dokumen sehingga sejumlah besar beras impor tidak terkena bea masuk. Dengan perkataan lain, kebijakan pelarangan impor dapat bermanfaat untuk meningkatkan harga gabah petani bila terdapat disparitas antara harga beras sepadan HDPP dan harga beras impor yang cukup besar, sementara defisit beras cukup besar pula.
Dengan HDPP gabah kering panen di tingkat petani Rp 1.200/kg maka harga beras domestik di tingkat konsumen diperkirakan Rp 2.675/kg. Memang benar, sekalipun bea masuk impor beras dibayar penuh, selama periode bulan Januari – Februari 2004 harga beras impor masih jauh lebih murah daripada harga beras domestik sepadan HDPP gabah kering giling tersebut (Gambar 2, Tabel 4).
Disparitas harga dan bea masuk yang cukup besar tersebut merupakan insentif yang cukup menggiurkan bagi para oportunis untuk melakukan tindakan melawan hukum menyelundupkan atau memanipulasi dokumen impor beras.
Perpaduan antara peningkatan harga beras dunia, ongkos angkut kapal dan
depresiasi rupiah yang terjadi serentak dan berkelanjutan telah menyebabkan
harga beras impor meningkat tajam sejak bulan Januari 2004. Dengan bea masuk
penuh, sejak bulan Maret 2004, harga beras impor telah lebih tinggi daripada
harga beras domestik sepadan HDPP. Bahkan, kalaupun bea masuk impor beras
hanya dibayar separohnya, “beras separoh nyolong”, sejak bulan Mei 2004 harga beras impor sudah lebih tinggi dari harga beras domestik sepadan HDPP. Dengan demikian, kebijakan pelarangan impor beras mestinya tidak diperpanjang.
Keputusan untuk memperpanjang larangan impor merupakan kebijakan yang kurang tepat dari sisi kepentingan petani.
Gambar 2. Perkembangan Harga Beras Domestik Padanan HDPP dan Harga Beras Impor, 2004
Tabel 4. Perkembangan Harga Beras Domestik dan Harga Beras Impor, 2004 (Rp/kg).
Harga Beras Domestik Harga Beras Impor Menurut Bea Masuk Efektif
Bulan
Sepadan
HDPP Aktual Rp 430 Rp 215 Nihil
Januari 2.675 2.700 2.498 2.273 2.047
Februari 2.675 2.700 2.518 2.292 2.067
Maret 2.675 2.700 2.786 2.560 2.334
April 2.675 2.700 2.828 2.602 2.376
Mei 2.675 2.700 2.928 2.702 2.476
Juni 2.675 2.693 2.958 2.732 2.506
Juli 2.675 2.571 2.950 2.725 2.499
Agustus 2.675 2.456 3.021 2.795 2.569
Sumber : Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian.
Keputusan untuk memperpanjang pelarangan impor beras setelah masa puncak panen raya Mei 2004 justru menjadi tidak bermanfaat terhadap upaya menopang HDPP. Isolasi pasar domestik tatkala produksi beras domestik melonjak, sementara harga beras dunia melonjak, telah menyebabkan harga beras
1500 2000 2500 3000 3500
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus
B u l a n (Rp/kg)
HDPP (Rp. 2.675/kg) Beras impor, bea penuh Beras impor, bea separo