• Tidak ada hasil yang ditemukan

F: Ini sudah direkam kah belum? L: Boleh.. apa.. rekam suara. F: Aduh.. ini mau jadi wartawan bagaimana ini pelupa terus. Mau jadi wartawan apa?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "F: Ini sudah direkam kah belum? L: Boleh.. apa.. rekam suara. F: Aduh.. ini mau jadi wartawan bagaimana ini pelupa terus. Mau jadi wartawan apa?"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN A

92

(2)

FORM BIMBINGAN

(3)
(4)

TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN KE-1 INFORMAN: FABIO M LOPES COSTA

PROFESI: WARTAWAN (KONTRIBUTOR PAPUA, KOMPAS.COM DAN KOMPAS.ID)

ASAL: NTT

MEDIUM WAWANCARA: GOOGLE MEET TANGGAL: 9 MARET 2020

PUKUL: 22:00-23:15 WIT Keterangan:

L: Lifita F: Fabio

L: Selamat malam

F: Malam.. malam.. malam L: Bisa kah?

F: (ketawa).. bagaimana tadi sudah wawancara berapa wartawan?

L: Baru satu yang bapak ryanto, yang dari sctv.

F: Bapak ryanto, teman seangkatan saya.

L: Ooh seangkatan?

F: Nggak, maksudnya kita seumuran.

L: Ooh iya.

F: Jadi bagaimana dari si jubi sudah wawancara? HAM L: Belum. Emm masih cari kontak yang jubi tapi belum dapat.

F: Sudah punya teman wartawan banyak gak bisa nanya.

L: (ketawa). Lagi di mana kak?

F: Nanti sa (saya) kirim.

L: Oh iya.

F: Dia pemred jubi ada Namanya Angela Flassy, perempuan pertama yang jadi pemred.

L: Wah.. perempuan

F: Pertama pemred di Papua.

L: Boleh.

F: Karena hampir semua laki-laki sih, jarang ada perempuan.

L: Iya.

(5)

F: Ini sudah direkam kah belum?

L: Boleh.. apa.. rekam suara.

F: Aduh.. ini mau jadi wartawan bagaimana ini pelupa terus. Mau jadi wartawan apa?

Tv kah, koran kah, online kah?

L: Kenapa kak?

F: Mau jadi wartawannya, wartawan apa? Online kah, tv kah, atau apa?

L: Eee.. maunya tv. Tapi kalo dapatnya online tidakpapa.

F: Sekarang ini regenerasi wartawan di berjalan lambat di Papua ini. Angkatan terakhir itu lima tahun yang lalu. Sekarang itu tidak ada wartawan yang baru lagi.

L: Oh iya? Berarti masih kurang begitu?

F: Kurang, jadi kamu bisa melamar wartawan. Inews, Inews jayapura masih kurang.

Tribun ada pembukaan ini, Tribun Papua punyanya Kompas Group. Lagi sementara buka lowongan.

L: Berarti lagi banyak channel yang buka ya?

F: 12 mereka cari wartawan untuk wilayah Papua. Semester berapa sekarang?

L: Delapan.

F: Rencananya wisuda perbulan?

L: Ini sidangnya bulan Juni atau Juli. Mungkin bulan agustus, September kah dia punya jadwal wisuda.

F: Mudah-mudahan secepatnya.

L: Kaka lagi dirumah kah di mana, lagi di luar kah?

F: Di rumah.. Di rumah.

L: Oh iya.

F: Baru habis ketik berita.

L: Berarti tidak sibuk lagi toh?

F: Tidak.. beritanya sedikit saja. Tidak ada penembakan (sambil ketawa).

L: (ketawa).

F: Jadi bagaimana?

L: Iya. Eee wawancara dulu yah. Tapi pertama perkenalan pertama-tama boleh.

F: Saya dulu toh?

L: Iya. Kaka perkenalan, nama lengkap, usia, terus asal dari mana sama sudah berapa lama bekerja jadi jurnalis?

F: Nama saya… Tapi pernah baca Kompas belum?

L: Kompas lebih banyak di media onlinenya, Kompas.com.

(6)

F: Harian Kompas?

L: Pernah.

F: Harian Kompas online yang Kompas.id. Bagaimana anak UMN tidak…

L: Iya.

F: Iya, mahasiswa UMN harus baca produknya Kompas. Berarti kamu ketik Kompas.id ketik Fabio. Pasti muncul semua saya punya nama itu.

L: (sambil mengetik) Kompas.id.

F: Kompas.id Papua. Papua. Coba ketik Kompas.id Papua. Jadi nama lengkap Fabio M. M itu Maria Loves Costa. Asal dari NTT tapi sebenarnya dari Timor Leste, cuman pada saat jejak pendapat Timor Leste merdeka sa (saya) memilih untuk kewarganegaran Indonesia.

L: Wah…

F: Kemudian tes Kompas 2012. Lulus, delapan kali tes. Habis delapan kali tes, dua kali di Jakarta 2013 magang sampai 4 januari penugasan pertama dan sekarang sampai sekarang di Provinsi Papua dan pegang Papua Barat juga per 4 Januari 2014 sampai Maret 2021 saat ini.

L: Jadi waktu pegang itu 2013.

F: 4 januari 2014. Jadi sudah masuk tahun ke delapan di Papua.

L: Ooh… Luar biasa e.

F: Yah Lumayan lah. 2012 kamu apa?

L: Masih SMA. Eh SMP.

F: SMP?

L: SMP. Masih bocil.

F: Bocah cilik.

L: Oke.

F: Berarti dimana? Tinggal dimana di Yahim yah, distik Yahim?

L: ada dia punya nama sih Jln. Kehiran. Yahim Lurus, Kehiran belok kanan.

F: Sa (saya) bar uke kampung Yoboi baru-baru.

L: Yang di danau sana?

F: Iya ketemu buat profil, sosok.

L: Yoboi pernah dengar, sering.

F: Mama Ani. Ani Felle pendiri rumah baca.

L: Oh. Marga Felle, banyak sekali disini.

F: Ani Felle.

(7)

L: Lanjut ya kaka.

F: Iya lanjut, pertanyaan kedua?

L: Awal karir memang sudah di Kompas kah atau dari media-media lain?

F: Jadi dulu pas KKL/PKL.

L: Magang?

F: Magang di harian Timor Express di NTT di Kupang. Magang selama 3 bulan.

Habis itu sempat, setelah wisuda 2010 langsung di Timor Express, Jawa Pos Group.

Tapi hanya 2-3 bulan saya resign. Karena ada keluarga yang sakit harus dirawat, orang tua. Kemudian sampai tahun 2012 kerja di auditor di koperasi kredit. Saat menunggu pembukaan Kompas baru saya daftar dan masuk di Harian Kompas.

Waktu itu tesnya ada tiga plen, Tempo sama Kompas. Tapi saya memilih Kompas.

L: Berarti sempat eee.. karirnya bukan hanya di jurnalistik saja toh?

F: bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat mikro.

L: Mikro…

F: Jadi keliling-keliling untuk mengajar soal pemasangan jaringan it, akuntansi. Itu saja soal koperasi kredit. Disini, di Papua kayaknya belum ada. Kalau di NTT di Jawa sudah terkenal, CU Namanya Credit Union. Pusatnya itu di Jakarta, Gunung Sahari.

L: Waktu kuliah jurusan apa kakak?

F: Kuliah jurusan komunikasi, fakultas ilmu social spesialisasi tentang menulis.

L: Oh.. di Universitas?

F: Universitas Katolik Media Mandira Kupang. UNIKA Kupang.

L: Ooh.. Oke Kitong (kita) masuk di bagian jurnalistiknya langsung. Kalo waktu jadi jurnalistik, itu kakak desknya langsung di desk Papua kah atau desk beda-beda begitu?

F: Kalau pas magang beda-beda, sebelum turun ke Papua kan kita magang di desk metropolitan, desk olahraga, Pendidikan, politik, ekonomi. Tapi setelah penugasan ke Papua Namanya regional. Nah regional itu menulis semua isu yang ada di daerah, olahraga persipura, dan HAM, dan juga masalah kebudayaan, ekonomi. Jadi wartawan Kompas dilihat itu, generalisir dia harus menguasai semua bidang.

L: Tapi hanya di satu daerah begitu?

F: Hanya di Papua dan Papua Barat. Dia kabupaten dan kota.

L: Emm.. waktu magang itu berapa bulan?

F: Setahun lebih lah, setahun dua bulan masa Pendidikan di Kompas.

(8)

L: Terus itu system waktu rollingnya bagaimana, waktu masih magang?

F: Iya, kita per triwulan, per tiga bulan nanti di rolling. Tapi kalo ada yang bagus di desk tertentu bisa sampai lima bulan.

L: Ooh…

F: Misalnya di metropolitan tuh kan, karena mungkin dianggap bagus di lapangan jadi hampir lima bulan sih.

L: Tapi kalau menurut kakak, kakak Sukanya rolling atau satu desk saja?

F: Sebenarnya.. Kalau momen jadi penulis yang bagus itu satu desk saja, tapi kayak pegang politik saja, tapi kalau untuk menambah kemampuan alangkah baiknya rolling saja. Supaya kita bisa menambah ilmu.

L: Jadi Kakak setidaknya harus rolling begitu biar menambah ilmu.

F: Iya, jadi past tugas di daerah kita sudah terbiasa.

L: Iya betul. Eee.. Bedanya desk satu dengan desk yang lain itu bagaimana?

F: Beda tema, tema liputan toh.

L: Beda kesulitannya juga kah?

F: Kalau kesulitan pasti ada. Tapikan wartawan sebelum meliput dia harus baca.

L: Riset begitu ya?

F: Iya, riset data setelah itu baru dia turun ke lokasi liputan. Misalnya ekonomi itu harus angka yah. Soal politik peta politiknya seperti apa, kalau soal hukum pasal- pasal nggak boleh tulis, pidana KUHP seperti itulah.

L: Ya sudah kalau begitu kitong (kita) masuk langsung ke isu Papua sudah. Kan habis magang langsung di kasih tugas untuk papua?

F: Iya, betul.

L: Itu waktu tugas di Papua kaka pertama kali ke Papua atau sebelumnya belum eee.. sebelumnya sudah ke Papua sebelum bertugas?

F: Belum… Belum ini tugas di Kompas pertama langsung…

L: 2014 kah?

F: Iya 4 Januari 2014.

L: Terus waktu pertama kali datang ke Papua. Menurut kakak bagaimana? Orang- orang Papuanya, interaksi sama orang Papua juga, bagaimana?

F: Iya, masih adaptasi sih memang. Suaranya lebih keras yang aslinya, sebenarnya sama kayak NTT sebenarnya tidak masalah sih, cuman mungkin biayanya lebih mahal, biaya hidup di Papua (L: harga?), iya, fasilitasnya tidak sama kayak di kampung di NTT masih lebih baguslah fasilitasnya, biayanya lebih terjangkau. Tapi

(9)

untuk watak sih hampir sama orang Indonesia Timur nggak beda jauh sih. Cuman biar suaranya keras, tegas, tapi ada juga sifatnya baik, ramah. Seperti itu.

L: Dia punya soal akomodasi juga susah kah di Papua?

F: Akomodasi sebenarnya gak masalah, harga saja.

L: Iyo e, harga betul.

F: Makanya lihat hotel dimana-mana, mau ke mana-mana ada angkot, cuman ya itu biayanya itu yang dua kali lipat kalo dibandingkan yang daerah lain di Indonesia Timur, seperti kalo dibandingkan dengan Maluku, bandingkan dengan NTT beda jauh. NTT itu 50 ribu kamu bisa makan siang sama makan malam, di Papua?

L: Satu kali.

F: Sehari satu kali makan.

L: Eem.. apa ini. Mau tanya nih soal pengalaman. Kakak cerita kah tentang pengalaman waktu meliput tentang isu Papua apa saja pengalamannya?

F: Maksudnya secara spesifik, apa secara umum kah atau secara spesifik.

L: Spesifik boleh.

F: Maksudnya kalo Papua ya, Papua terkenal dengan isu yang paling dominan di pusat itu penembakan, kondisi situasi keamanan, gangguan OPM atau disebut KKB Kelompok Kriminal Bersenjata. Nah, itu selalu terjadi perhatian dari media-media nasional Jakarta. Tapi juga, kalau tahun 2014 tuh masuknya Presiden baru akhirnya masalah infrastruktur nawacita, itu menjadi salah satu prioritas liputan juga, bagaimana Presiden yang baru ini ada perubahan, tapi apakah perubahan ini juga bisa menjawab masalah HAM, penyelesaian HAM, nah itu juga menjadi sorotan, jadi ada empat yah empat atau lima masalah. Efektivitas dana otsus, penyelesaian masalah HAM, pembangunan infrastruktur dibawah nawacita, masalah ekonomi mikro dan dampak dana desa, kemudian pengembangan ekonomi masyarakat dengan pariwisata. Lima ini yang menjadi selalu komoditi utama untuk media nasional. Seperti Kompas, SCTV, TVOne, banyak media nasional, mereka selalu berfokus ke lima itu. Isu Keamanan, (L: HAM), otsus, HAM, ekonomi, dan (L:

Infrastruktur) pariwisata, ya infrastruktur.

L: Kalau spesifik waktu kakak meliput isunya, yang isu HAM itu berita apa?

F: Emm.. Papua itu, memang pas saya tiba itu. Memang tidak terasa yah, HAM sudah pernah lewati yah. HAM Abepura, kebanyakan sih aksi-aksi demo masyarakat menuntut untuk kasus-kasus HAM, pelanggaran HAM berat ini kan Presiden sudah berjanji di lapangan stadion Mandala, pas kunjungannya tahun 2014

(10)

ya Desember ya. Dia berjanji bahwa dia akan menyelesaikan kasus HAM, nah sayangnya sampai saat ini belum sudah 2021. Nah, itu sering… Kalau nanti adik coba cek di berita-berita Kompas tuh entah tulisan saya, atau di Kompas.id nanti adik langganan saja hanya 50 ribu yah per bulan langganan, kamu bisa mengambil semua data disitu. Bagaimana Kompas menyuarakan soal penyelesaian HAM di Papua. Itu selalu menjadi, dan kemudian soal masalah HAM di mana pada saat terjadi kerusuhan Wamena, Kerusuhan Jayapura, itu juga. Saya liput langsung karena saya berada di tengah kerusuhan. Waktu itu, kerusuhan kamu dimana?

L: Kerusuhan dimana itu?

F: Yang Agustus 2019, di Jayapura.

L: Sudah di sana, Tangerang.

F: Berarti tidak seru.

L: Kan sudah kuliah toh.

F: Api, lihat langsung orang bakar, orang siram api di Telkomnya.

L: Di Jayapura?

F: Di Jayapura toh, kan kerusuhannya di Jayapura sama Wamena. Kerusuhan di Jayapura, Wamena, Manokwari.

L: Itu kakak ngeliput semua?

F: Liput, nanti kamu cari disitu. Kompas.id di balik kerusuhan Jayapura. Jadi kami sembunyi di Hotel Aston bagian paling atas lantai berapa itu, sepuluh kah lantai dua belas yang paling tinggi. Nanti kita lihat mereka membakar, bakar mobil di Galael, bakar ini.

L: Lumayan, serem.

F: Jadi liputan pelanggaran HAM yang pertama itu kalo ade coba buka itu yang soal penembakan ada beberapa pelajar di paniai. Tiga atau empat itu, tanggal 5 Desember atau 6 Desember di Paniai. Itu liputan pertama soal masalah pelanggaran HAM tahun 2014 yah.

L: Nanti coba berlangganan dulu.

F: Coba cek, coba cek di home Kompas.id atau nanti kalau kamu kembali ke Jakarta pergi di itu PIK Pusat Informasi Kompas. Minta aja mo print berita-berita tentang pelanggaran di Papua periode, dua ribu berapa ee, 2010 sampai 2021 kah. Atau yang punya saya 2014 sampai 2021.

L: (sambil mengetik, membuka laman Kompas.id).

F: Kapan kembali ke Jakarta?

(11)

L: Emm.. sebenarnya mo itu, selesaikan skripsi di sini (Papua).

F: Sekalian ujian skripsi? (kemudian ada nada dering telpon) Aduh.. sabar eeh.

L: Tidakpapa iya.

F: Jadi bagaimana lanjut. (Lihat hp, baca WA) coba dulu kakak, amin. Amin maksudnya?

L: Amin, maksudnya semoga sinyal tidak buruk.

F: Ini memang hormat, majelis kah? Pengurus gereja ka apa? Majelis kah?

L: Anak Tuhan.

F: Di apa GKI? Kingmi?

L: GPDI.

F: GP.. Apa itu Pentakosta?

L: Iya.

F: Biasa Batak ee?

L: Manado.

F: Manado oo.. berarti Ryanto pas Ryanto naik dia juga Manado. Dia SCTV, bos di SCTV Papua itu, coordinator kepala biro.

L: Oh iyo, contributor.

F: Bukan contributor. Kepala biro, dia kepala biro untuk Papuanya.

L: Kan sa (saya) dapat nomor pak Ryanto dari saya punya dosen namanya pak Ronny, eh salah. Pak Raymond Kaya, dia bilang itu (pak Ryanto) contributor papua.

F: Iya, contributor kan itu toh, karyawan tetap (L:Iya, iya). Dia kan sudah levelnya pimpinan. Jadi kalau kamu mau melamar di SCTV, nah lewat dia saja.

L: Tapi dia (pak Ryanto) bilang lagi buka media baru untuk local toh.

F: Nah bisa juga kamu melamar di itu reportase, pegang daerah Sentani, belajar- belajar toh jadi wartawan seperti apa, buka jaringan. Tapi harus siap panas, harus siap naik motor jauh-jauh, jangan dari Sentani ke kota malas.

L: Siap.

F: Pake apa, motor toh? Atau mobil?

L: Motor, tidak ada mobil.

F: Itu toh, anak motor tuh harusnya jago keliling lintasan. Oke lanjut pertanyaannya apa?

L: Ya itu sih, pengalaman kaka waktu meliput Papua isu Papua selain yang tadi toh, atau pengalaman yang waktu ngeliput di Paniai bagaimana?

F: Pania itu ya, terjadi ini pergolakan antara pihak tentara yang menembak itu mereka mengelak bahwa mereka…. Tidak ada titik terang sampai saat ini, karena

(12)

itu dari 2014 sekarang sudah 7 tahun yah.

L: Selain yang waktu Paniai apa lagi?

F: Selain Paniai yaitu, kerusuhan Jayapura, kemudian pengungsi di Nduga, pengungsi Nduga yang lari ke Wamena. Kemudian apa ya, beberapa kasus penembakan di Intan Jaya, yang dibilang pihak gereja tapi TNI bilang OPM, itu kan, kemudian ada masalah beberapa masalah pelanggaran HAM itu terkait lahan di Merauke antara warga dan perusahaan, dan itu adalah pelaporan Komnas HAM, jadi tugasnya kita adalah advokasi untuk menyuarakan, polisi. Kebanyakan konflik antara polisi dengan tentara, di daerah-daerah perkebunan sawit.

L: Kan banyak tuh, laporan-laporan katanya, wartawan itu sulit sekali untuk liput di Papua? Kesulitannya apa saja kalau menurut kakak, waktu pengalaman kakak kemarin-kemarin, hambatannya?

F: Mungkin apa yah, geografis ya. Kemana-mana kan harus naik pesawat, kalau di Jawa kan tinggal naik KRL, naik bus. Kalau di Papua kan harus naik pesawat. Harus naik pesawat, harus, apa, apa perahu, pokoknya kemana-mana harus pake itu transportasi tidak ada yang jalan darat. Kemudian, factor keamanan wartawan bisa terintimidasi kah dari oknum yang diliput, atau dari para oknum aparat keamanan TNI/Polri, itu tantangannya.

L: Terus kakak pernah dapat intimidasi kah begitu?

F: Ada pernah masalah kepala daerah, ada kepala daerah pas ditelusuri korupsi, malah diteriaki lah mara dan pernah suruh orang cek di kos, cari di kos. Tapi saya cepat sembunyi (sambil ketawa) tapi jangan takutlah.

L: Berarti waktu sebelum meliput kan sudah tahu banyak kesulitan, dia punya persiapan apa saja?

F: Iya persiapannya membaca, siapkan data membaca, mental, siap capek, stamina, intinya membaca dan menangkan hati Nurani untuk menulis.

L: Iyo, terus kalo misalkan dia punya narasumber itu sulit sekali untuk minta data- data untuk wawancara, kakak punya cara bagaimana biar bisa dapat data-data itu?

F: Kan bisa cek di narasumber kedua toh, misalnya terjadi kejadian ini kita bisa bertanya di warga sipil atau keamanan atau tokoh masyarakat. Kemudian, cek di data BPS statistic kemudian cek di tokoh-tokoh agama kah opinion leader lah, orang yang berpengaruh disitu bisa menjadi narasumber pengganti. Itu yang harus dicek sampai titik terakhir, kalau tidak bisa lagi.

L: Berarti memang prosesnya begitu ya?

(13)

F: Iya, jangan patah semangat.

L: Betul. Emm, kalo misalkan dari dia punya media, misalkan media Kompas yang kakak dapat dari medianya itu apa saja? Persiapan medianya untuk kakak liputan?

F: Ya, persiapannya ya materi dibimbing, kemudian mereka kasih laptop kemudian bisa alat kerja, kamera atau apa, kendaraan motor.

L: Kalo akomodasi, biayanya dari media atau dari kakak sendiri?

F: Iya kan dalam bentuk gaji kan, di gaji, di suruh kos, untuk bulanan, untuk bayar telepon, kadang untuk penugasan ke daerah-daerah ditanggung tiket pesawatnya.

L: Berarti sudah dalam bentuk gaji saja begitu e?

F: Kalau untuk tugas luar itu biaya sendiri, dinas luar kota namanya.

L: Biaya sendiri?

F: Bukan biaya sendiri, biaya dari kantor tapi di luar gaji.

L: Oh iya, kirain.

F: Wah kalo bayar sendiri hancur.

L: Terus pernahkah tidak kakak punya berita-berita itu ada yang kontroversi atau ada yang pernah dihujat begitu?

F: Berarti belum pernah baca?

L: Tadi baru baca yang Paniai.

F: Asmat pernah baca?

L: Belum sempat.

F: Yang heboh, Asmat yang heboh gizi buruk. Gizi buruk di asmat sampai Presiden turun ke Asmat. Tau gizi buruk di Asmat tidak?

L: Belum.

F: Jadi tidak baca koran. Kalau wartawan tidak baca berita, baca apa saja ini? Ya jadi, itu Asmat, kasus apa e, Nduga, kemudian pembukaan kantor OPM di Wamena itu cukup menimbulkan kontroversi, hebohlah satu Indonesia, seluruh Indonesia hebohannya, bukan seluruh Papua ya, satu negara. Kan itu hanya eksklusif Kompas duluan yang naik.

L: Kakak yang meliput?

F: Setelah itu baru media yang lain menyusul.

(Sempat terganggu karena kakak Fabio harus mengobrol sebentar dengan saudaranya).

L: Tidak apa-apa.

F: Nah, habis itu bagaimana? Ya beginilah urusan rumah tangga ini memang. Habis

(14)

itu bagaimana? Lanjut.

L:Iya, pengen tahu cerita kaka waktu meliput yang di Asmat itu bagaimana?

F: Yang Asmat.. Itu ada foto dari teman di Asmat, ada foto, ini dikirim foto dari bos saya di Jakarta dia suruh cek. Karena saya lihat dia punya foto itu seperti di negara-negara lain. Tapi ternyata di Asmat. Seorang ibu hanya sisa tulang, sama anaknya juga hanya sisa tulang, tidur di depan teras rumah, kelaparan. Jadi setelah itu saya koordinasi dengan pihak lain, karena PEMDA tidak mau kasih data, sama gereja keuskupan. Naik pesawat dari Jayapura Garuda ke Timika kemudian naik kapal pelni tiba di Asmat, setelah itu langsung naik kapal kecil, pergi ke pulau- pulau lihat korban-korban yang meninggal karena gizi buruk. Setelah itu, saya mulai menulis.

L: Woh seperti di Afrika Selatan kasusnya.

F: Coba kamu buka coba. Coba buka Kompas Gizi buruk Asmat. Tahun 2018 itu kejadian Februari.

L: Oh iya, 2018.

F: Jadi itu termasuk pelanggaran HAM, kenapa? Dengan anggaran otonomi khusus yang ratusan M tapi masih terjadi ironi masalah gizi buruk di Papua yang begitu kaya dengan sumber daya alam dan dana otsus yang sampai tahun 2020 ini sudah 93 triliun. Khusus Papua yang dikucirkan dari tahun 2002.

L: Tapi memang yang liput di Papua itu sedikit sekali kah?

F: Untuk wilayah yang sangat luas yah sedikit lah. Tapi yah, wartawannya ada tapi di kota-kota besar kayak di Jayapura, Merauke, Timika, Nabire, tapi untuk masuk ke kabupaten-kabupaten di pedalaman kayaknya belum ada wartawan karena masalah jaringan internet, belum memadai. Masalah apa e, ya itulah.

L: Tapi kalau kakak sendiri tidak susah untuk meliput Papua itu?

F: Susah, makanya sudah hampir delapan tahun ini tidak di pindah-pindah tetap di Papua terus, makanya tidak ada yang mau ganti saya disini.

L: Kalau ada yang mau gantikan, berarti ingin pindah?

F: Mengapa tidak, kalau ke daerah lain provinsi lain, kalau ditawarin Sulawesi bagaimana pasti maulah. Suasana baru.

L: Sudah delapan tahun, lumayan.

F: Delapan tahun, lumayan lamalah.

L: Di Papua itu ada Batasan-batasan untuk wartawan meliput kah tidak?

F: Tidak ada. Cuman itulah kondisi itu yang saya bilang tadi geografis, keamanan

(15)

adalah ancaman meliput isu-isu tertentu yang mengganggu kepentingan pribadi oknum tertentu yang pasti ancamannya keamanan. Karena pernah ada, tahun berapa 2000anlah ada wartawan yang ditikam namanya Banjir Ambarita ditikam di perutnya, setelah meliput kasus yang sensitif. Keamanannya tidak terlalu terjamin, khusus untuk berita-berita terkait dengan pelanggaran HAM, masalah konflik, apa, itu pasti rawan, korupsi. Tapi kalo berita-berita pemerintah, seremonial, itu tidak ada masalah. Aman wartawannya malah disayang sama Bupatinya. Nggak papalah pasti.

L: Kalo kakak waktu itu meliput disaat yang bersamaan mungkin ada wartawan lain kah? Itu kerjasamanya bagaimana?

F: Ya.. Liput secara bersamaan saja, jalan sama-sama, ada waktu untuk sama-sama ada waktu untuk sendiri-sendiri, tapi menu literaturnya beda-beda tidak boleh dilarang sama kantor, copy paste, plagiat, itukan tidak sesuai dengan etika jurnalistik.

L: Foto juga begitu tidak boleh sama?

F: Foto tidak sama. Semua tidak boleh, meskipun kita di momen yang sama.

Kecuali kalo kita meminta bahannya orang tapi kita pake sumbernya dari sumber mana bisa, atau berdasarkan rilis, press rilis. Tapi kalo pake orang lain punya nggak boleh, etikanya gak boleh. Begitu. Biasa kalo liputan sama ya, ada buat grup Wa janjian dimana, liputan. Kayak maksudnya pers Humas pemprov nah itu dia tugasnya hanya di Pemprov saja, kalo Humas pers Polda nah itu dia hanya Polda saja. Kalau saya gabung semua, karena saya pegang semua bidang, saya gabung di pers Pemprov, saya gabung di Humas pers Polda, di Kodam, Persipura, digabung semua itu.

L: Kakak perannya di media, waktu meliput itu bagian apa saja. Mungkin pra produksi habis itu tahap editing, baru langsung dikirim begitukah?

F: Nggak, kita hanya menulis saja. Yang editin itu yang telfon tadi tuh.

L: Oh editornya yah. Sendiri-sendiri begitu.

F: Kita hanya tugasnya masukan bahan, foto, video, naskah.

L: Ditentuin gak bahannya sehari berapa?

F: Nggak, kadang bisa kirim 1 bisa 2, bisa berapa tergantung staminanya saja tapi harus kirimlah minimal minimal tidak boleh ada absen. Kecuali kalo sakit tiga hari.

L: Oh tiga hari boleh absen kalo sakit.

F: Tapi pake surat keterangan dari rumah sakit atau dokter, nah itu baru kalo tidak

(16)

anggap alpa yah. Sistem kerjanya seperti itu.

L: Inikan masih banyak wartawan yang gagap nulis untuk isu di Papua.

F: Isu apa dulu?

L: Isu HAM Papua.

F: HAM.. jadi?

L: Modal utama yang harus dipegang jurnalis itu apa saja? Apalagi mungkin untuk jurnalis junior yang baru mo masuk?

F: Modal utamanya dia harus untuk Papua yah harus mental dulu, bukan masalah dia pinter tapi kalo mentalnya gak kuat, gak berani hadapi tekanan dari oknum yang dituduh melanggar HAM, dia harus mentalnya berani, siap menghadapi ancaman, siap hpnya di hack.

L: Di hack dari siapa?

F: Ya, kita tidak tau kan oknum-oknum yang merasa dirugikan. Kan sekarang lagi berkembang dimana-mana. Jadi mental dulu, khusus untuk di Papua itu mental, baru skill itu menyusul. Mental untuk masuk ke daerah pedalaman, mental untuk naik pesawat kecil lewat gunung-gunung, mental untuk sembunyi dari tembakan, mental untuk ini. Kalo dia sudah kuasai baru, kecuali kalo dia hanya mau jadi wartawan di pemerintahan yah dia hanya siap perut saja untuk makan-makan terus toh. Tapi kalo khusus meliput isu HAM keberanian, mental, kemampuan membaca peristiwa masa lalu, kemudian harus menulisnya dengan presisi dan cover both side.

Dia memberikan kesempatan untuk semua pihak untuk berbicara.

L: Kakak pernah meliput yang demo-demo toh?

F: Sering, su bosan yah.

L: Dia punya cara bagaimana meliput demo, apalagi pas mereka saling melempar batu. Cara untuk berlindung tapi tetap dapat beritanya, atau fotonya?

F: Intinya kalau merasa situasinya kurang nyaman, harus jauh dari kerumunan sejauh mungkin. Atau bersembunyi di belakang aparat kemananlah untuk pastikan, karena aparat kan selalu pake pelindung kan, mereka pake tameng atau apa, sembunyi di belakang situ. Atau secepatnya ambil gambar setelah itu langsung menghilang, cari tempat aman dulu sudah redah baru kembali. Jangan terpaku disitu, karena kalo pada saat luka kita tidak tahu batu arahnya dari mana, batukan tidak ada mata, peluru kan tidak punya mata. Jadi harus tahu batasannya, kalau rasa hati kecilnya bilang sudah tidak memungkinkan, kabur. Tapi kalau mau dapat gambar eksklusif, gambar terbaik, ketika terjadi ini berarti resikonya seperti itu. (L:

(17)

Berarti taruhannya nyawa ya?). Taruhannya nyawa. Jadi harus tahu kapan terus go on atau I think I will be finish, harus kembali, harus back. Cari aman dulu, setelah situasinya redah baru, tetapi, kalo ada aman-aman saja, kita jangan terlalu dekat dengan aparat. Kalo situasi demonya damai ya, ada di tengah-tengah supaya pendemo melihat kita tidak berpihak aparat. Tapi kalo situasinya sudah parah, baru lari masuk ke aparat. Begitu triknya.

L: Makasih.

F: Mau jadi wartawan kah apa?

L: Iya sudah harus siap ini, sudah harus banyak informasi-informasi dari wartawan senior toh.

F: Siap.

L: Ada pertanyaan lagi, bagaimana kakak itu memaknai pekerjaan sebagai wartawan apalagi yang meliput isu HAM Papua?

F: Iya penting karena, kita menjadi telinga masyarakat, menjadi mulut masyarakat toh. Ketika mereka mengalami masalah kemiskinan, masalah pelanggaran HAM, masalah ini, untuk sampai di mulutnya, di telinganya pejabat melalui wartawan menyampaikan hati Nurani masyarakat. Amanat hati Nurani masyarakat.

L: Berarti memang penting sekali.

F: Mottonya Kompas. Dia tidak tahu ini, bagaimana ini yang ajar wartawan- wartawan Kompas masa kau tidak tahu mottonya Kompas tuh bagaimana?

L: Mottonya Kompas?

F: Iya itu kamu baca koran Kompas tertulis amanat hati Nurani rakyat.

L: Pengen magang di Kompas tapi tidak terwujud.

F: Tapi dapat dimana magangnya?

L: Di media baru.

F: Apa medianya apa?

L: Berita Indonesia Link, tapi bagian produksi, dia ada bikin produksi acara berita.

Nah, sa di kasi posisinya asisten produksi.

F: Itu urusnya apa?

L: Kayak jadi pembaca rundown atau, floor director.

F: Maksudnya itu media tv atau media online?

L: Media online sih cuman tayangnya di Youtube, jadi dibikin kayak acara televisi begitu.

F: Dia punya subscribenya sudah lumayan ya banyak?

(18)

L: Waktu itu saya lihat masih 20 ribuan.

F: Harusnya kamu lamar juga di Tribun kah, Detik? Banyak kan media-media.

L: Detik sudah sempat, tapi ternyata mungkin terlambat.

F: Tidakpapa yang penting kan sudah dapat pengalaman toh. Harusnya kamu harus pengalaman liputan kalo asisten produksi kan hanya di dalam ruangan.

L: Iya, cuman di lokasi saja, lokasi syutingnya.

F: Jadi tidak ada sensasinya. Turun wawancara, 5 w 1 h seperti apa seharusnya.

L: Semoga pas mo lamar kerja boleh lancar.

F: Selanjutnya?

L: Pertanyaan sebenarnya sudah. Cuman pengen..

F: Saya pernah liputan sampai jam 6 pagi.

L: Dari jam berapa?

F: Dari malam.

L: Liputan apa itu?

F: Peringatan apa ya, car free day saat peringatan acaranya Jokowi jadi gubernur pertama 2013.

L: Car free day sampai jam 6 pagi? Ooh car free day nya yang jam 6 pagi? E subuh- subuh?

F: Nggak, dari malam itu dari jam 10 malam sampai malam tahun baru, sampai besok paginya. Kan kitakan penugasan kantor berarti sampai pagi ya pagi. Setelah itu baru tidur, bangunnya langsung buat berita.

L: Yang penting mental eh?

F: Kalo kerja di Kompas harus begitu, harus fit. Fit mental, fit stamina sama fit aqiunya. Semua harus fit, kalo nanti kamu lamar di Kompas, tes semua itu. Jadi harus banyak baca.

L: Tapi ngeliput di Papua juga harus fit itu toh mentalnya?

F: Mentalnya harus tebal. Kamu kan anak Papua toh, pastikan tahulah mentalnya.

L: Tapi benarkah, wawancara untuk apa dia punya orang asli Papua susah?

F: Tidak. Siapa yang bilang? Itu informasi dari mana?

L: Dari… Tadi kan saya mau wawancara ada Ibu Evi di The Jakarta Post.

F: Evi?

L: Evi The Jakarta Post. Ternyata dia editor.

F: Oh dia tinggal di Jakarta bagaimana?

L: Tapikan mungkin dia banyak informasi juga.

(19)

F: Maksudnya ibu Evi ini sebagai apa dia? Maksudnya sangkut pautnya sama Papua apa?

L: Nah, itukan sebelum saya mau wawancara dia saya ada minta kontaknya dari dosen, terus dia kasih kontaknya si bu Evi ini, dia (dosen) bilang dia (bu evi) sudah berpengalaman 20 tahun meliput. Pas saya tanya tadi ternyata dia editor.

F: Meliput di Papua ibu Evi? (L: Iya). Kok saya tidak pernah lihat yah? Itu di Jakarta kali.

L: Tapi yang saya tanya wartawan berpengalaman meliput isu Papua. Dia kasih bu Evi.

F: Hanya meliput isu Papua kan tapi bukan di Papua kan?

L: Isu HAM di Papua.

F: Seorang kalo bisa dikatakan paham Papua. Dia harus tinggal di Papua.

L: Oh iya.

F: Gakpapa lanjut.

L: Iya, dia bilang paling sulit biasanya dapat data dari narasumbernya itu. Jadi betulkah?

F: Sulit sih maksudnya?

L: Sulit, biasanya orang Papua kadang tidak mau bicara karena dong sudah takut duluan. Kayak yang tadi pak Ryanto bilang sulit, cuman kadang harus membeli imbalan. Misalkan yang mau diwawancara yang orang di pasar kita harus beli dagangannya dulu baru dia mau bicara begitu.

F: Iya, itukan tidak sulit toh berarti. Tinggal memakai akal. Sulit itu artinya dia tidak mau menerima cara apapun, susah-susah gampang meliput di Papua ini. Ada narasumber ketika ditanya “bapak program”, dia pejabat tanya soal program dia senang sekali. Tetapi kalau tanya soal kasus korupsi, dia tidak akan mau jawab, tapi ada juga dia mau jawab, tapi klarifikasi dulu untuk membantah. Jadi konteksnya berbeda, ada yang mau bicara, ada yang memang takut “ah saya belum bisa bicara karena pimpinan saya belum bicara”. Ada yang begitu.

L: Berarti selama kakak mau wawancara orang asli Papua mereka welcome begitu?

F: Variasi. Ada yang mau bicara, ada yang tidak mau harus statement dari pimpinannya dulu. Nah, kita tanya pimpinan, lalu pimpinannya mau bicara.jadi variasi, bukan semuanya sulit. Wah kalo semuanya sulit gimana mau buat berita.

Ada yang mau kok. Dia dinamis, fluktuatif (labil) kadang satu hari dia mau, kadang ada hari kemudian momen tertentu dia tidak mau. Begitu.

(20)

L: Berarti kalo dia sudah tidak mau jangan dipaksa?

F: Jangan dipaksa, cari cara lain, lewat orang lain kah untuk bagaimana?

L: Betul sekali.

F: Kamu kayak tidak tahu, ko (kamu) pergi ke pasar mama-mama di pasar Sentani kalo sudah ditawarkan harus dibeli. Dong tidak mau bercanda-bercanda, tidak mau beli dong maki ko (kamu). Nanti mereka tanya ade tinggal di Jakarta saja.

L: Kemarin saja sa foto-foto di pasar Sentani (L: Mereka marah toh) dong langsung marah “Ehh, kenapa foto-foto?”.

F: Harusnya ko bilang dulu “mama sa ijin sa mo foto-foto”.

L: Tapikan maksudnya ya foto pemandangannya. Bukan foto langsung dia punya detail-detail orangnya begitu kan.

F: Tapikan mereka kira kamu intel kah, kiranya kamu polisilah.

L: Ooh..

F: Sampaikan dulu “mama sa mau foto ini e, bisa e.. sa mau kirim ke kantor, sekolah ada minta ini”. Pake cara saja, jangan diam-diam bikin orang tersinggung.

L: Iya betul.

F: so?

L: Masih penasaran sama pengalaman-pengalaman waktu ngeliput, mungkin pernah dapat intimidasi. Tapi kakak tadi bilang masih tidak ada toh? Eh?

F: Ada toh, tadi saya bilang toh liput korupsi di datangi sama..

L: Oh iya, yang sampai di kos toh?

F: Nah itu kan intimidasi.

L: Yang kekerasan begitu?

F: Kekerasan waktu liput di pengadilan, hanya mau diancam saya mau dipukul.

Pernah dicekik, di pengadilan disuruh keluar dari siding di cekik. Biasalah.

Makanya saya bilang mentalnya harus kuat. Kalo mau liput soal masalah HAM Hukum dan Politik itu mentalnya harus kuat. Apalagi kalo pas liput di Asmat, perahunya kita mau tenggelam. Ombaknya tinggi, mental juga. Baru ada buaya, di sungainya ada buaya besar-besar, perahunya mati di tengah sungai yang ada buaya.

L: Perahunya tidak jalan?

F: Gangguan mesin. Tapi setelah di perbaiki perahunya jalan lagi, buayanya juga gak berani ganggu.

L: Hah? Buaya-buaya tahu ka apa jangan diganggu.

F: Tidak tahu mungkin beruntung.

(21)

L: Iya.

F: Jadi apa yah, meliput di Papua itu khususnya HAM itu memang riskan. Apalagi yang kasus kerusuhan itu, kita terjebak, di tengah kerusuhan orang bakar kita terjebak pergi ke hotel, melihat orang membakar rumah, membakar kantor telkomsel, bakar mobil, bunyi tembakan dimana-mana. Kalau kita tetap nekat masuk ke kerumunan bisa kena, akhirnya mengikuti sembunyi di hotel.

L: Mungkin waktu meliput kerusuhan-kerusuhan begitu ada korban kah?

F: Korban tuh. Kerusuhan di Jayapura mati berapa, coba ade lihat di berita. Matinya banyak.

L: Terus bagaimana? Ikut membantu kah para korban setelah meliput.

F: Gak mungkin membantu, sedangkan kamu aja ketakutan. Mereka juga kan mengungsi, kita juga kan cari tempat aman bersembunyi. Situasinya kan waktu itu akan sampai berapa hari tuh penembakannya.

L: Berarti dibiarkan saja mayat-mayatnya?

F: Mayat-mayatnya di ambil sama pihak keluarganya kan diambil. Dievakuasi sama pihak polisi. Takutnya kan kita dilarang untuk apabila ada kejadian ini temuan ini, tidak boleh warga sipil atau wartawan menyentuhnya harus aparat kepolisian, karena nanti dihitung buktinya, forensiknya, sidik jarinya. Tidak boleh kita sembarang-sembarang membantu.

L: Oh..

F: Kemudian, tadi si Ryanto cerita pengalamannya apa?

L: Ini dia punya pengalaman waktu meliput di, ada waktu yang di UNCEN. (F: Oh iya). Waktu itu kan ada ruko yang dibakar toh, sia liput disitu terus mengungsi juga.

Sama tipsnya juga sih.

F: Iya pokoknya itu yang… Seru itu Asmat, itukan masalah pelanggaran HAM toh.

Hak masyarakat untuk mendapatkan makanan, gizi yang baik. Ternyata pas menempuh perjalanan jauh saya menemukan itu sih. Hampir tujuh puluh anak yang meninggal dunia, ketika masuk di rumah sakit ada anak yang lagi sekarat, saya melihat sampai dia meninggal, meninggalkan napas terakhir karena gizi buruk.

Komplikasinya apa campak yah.

L: tapi dari pemerintah langsung tangani toh?

F: Setelah ada berita dari Kompas langsung.

L: Oh jadi Taunya karena dari berita Kompas e.

F: Iya. Setelah dari Kompas berapa hari, tujuh hari e berturut-turut di halaman satu

(22)

yah. Makanya saya kok heran mengapa adik tidak tahu itu di halaman satu loh.

L: Kompas.com atau Kompas.id?

F: Harian Kompas. Harian Kompas itu ada di ruangannya Presiden, dia bangun tidur langsung baca itu. Dari jaman Soekarno. Kompas siapa yang beri nama?

L: Yang beri nama Kompas?

F: Ini anak UMN bagaimana tidak diajari kah? Besok saya tanya saya punya editor dulu dosen di UMN.

L: Siapa tuh?

F: Ko tidak perlu tahu (sambil ketawa).

L: Soekarno.

F: Itu sudah. Su tahu baru, bagaimana su lupa tuh? Jadi ya itu, liputan yang paling menarik yaitu Asmat, kerusuhan Jayapura, Agustus 2019. Bagaimana kita meliput itu, banyak warga yang kehilangan hak untuk hidup aman, kehilangan hak untuk rumah, kehilangan untuk kios-kios di sepanjang Entrop.

L: Kehilangan itu karena dibakar kah? Atau kehilangan bagaimana?

F: Dibakar sama pendemo, perusuh. Jadi habis lewat dengan motor itu langsung dengan asap-asap masih keluar.

L: Ada berapa wartawan yang meliput waktu itu?

F: Bah.. Kita terpencar itu, ada disitu, ada yang disini, ada yang sembunyi, masing- masing cari jalan. Kalau di kami ada berapa ee waktu itu sembunyi di Aston ada 10 kah cari aman disitu, jaringannya hilang, internetnya hilang, putus kontak lah.

L: Kalo ini saya dengar dari pak Ryanto sih dia bilang kadang berita local tuh lebih detail daripada berita-berita yang nasional.

F: Lebih detail maksudnya?

L: Lebih detail karena yang itu tadi, narasumbernya lebih banyak mau cerita ke wartawan lokal misalnya ke wartawan yang sesama Papua.

F: Tidak juga. Ada di Kompas tuh mereka terbuka kok.

L: Berarti beda-beda e?

F: Karena mereka tahu ini dibaca President oh. Kompas itu langsung dibaca Presiden sama Menteri-Menteri. Bukan Lukas Enembe yang baca.

L: Gubernur.

F: Gubernur tidak tahu membaca, tidak tahu baca Kompas. Tapi dia mungkin hanya membaca media-media local. Tapi ya, bisa di akui bahwa kuat dia menghadapi pusat. Sampe pusat dia, mentalnya bagus. Tadi malam tadi wawancara siapa

(23)

sebelum saya?

L: Yang itu, ibu Evi cuman dia bilang “sepertinya saya nggak bisa”.

F: Ya karena dia tidak tinggal di Papua.

L: Terus dia bilang wawancara yang lokal juga bukan hanya nasional.

F: Iya, makanya saya kasih, nan saya kasih ibu Angela Pemrednya Jubi.

L: Tapi bolehkah? Tadi bu Evinya juga kasih rekomendasi yang jubi, dia pengen bilang ke rekan dia yang di Jubi, terus ada yang bilang tidak bersedia, cuman sa tidak tanya namanya siapa yang dari Jubi.

F: Oh tidak bersedia. Memangnya ko punya skripsi tentang apa?

L: Tentang studi fenomenologi interpretative wartawan dalam meliput isu HAM Papua. Jadi fenomenologi tentang pengalaman si wartawan.

L: Tadi yang saya jelaskan sudah cukup tentang HAM? Jadi kalo saya sih HAM itu menjadi pemenuhan yang wajib diliput sama wartawan yang tinggal di Papua.

Sudah terhitung mungkin ratusan berita saya tentang HAM, puluhanlah atau ratusan pokoknya hampir itulah. Dari 2014 sampai sekarang ini tetap saya konsisten menyuarakan untuk penyelesaian masalah HAM. Cuman terbentur entah kenapa pusat belum merealisasikan soal penanganan masalah HAM di Papua. Intinya kalo dari saya sendiri konsisten untuk membantu para korban, membantu Komnas HAM untuk menyuarakan suara hati tentang penyelesaian HAM di Papua khususnya di Abepura, Wamena, Wasior PAPUA Barat, itukan tiga kategori pelanggaran HAM berat.

L: Iya kakak sudah cukup, kakak punya pengalaman banyak sekali, tipsnya juga ada.

F: Jadi ya itulah, itu ko pake teori apa teorinya apa studi interpretative?

L: Iya fenomenologi interpretatif dari Husserl.

F: Oh.. kebanyakan kan ada banyak yang pake analisis framing dari Roland Barthes.

L: tapi tidak tau e, di UMN ada yang bilang dosen eh iya fakultasnya kita dilarang angkat yang framing begitu.

F: Oh, tapikan kamu punya kan seperti framing juga, fenomena interpretative.

Bagaimana wartawan menginterpretasikan dia meliput isu HAM.

L: Iya pengalaman cerita langsung.

F: Pembimbingnya siapa?

L: Ibu Veronika Kaban.

F: Oh wartawan?

(24)

L: Dosen.

F: wartawan kah tidak?

L: Dulu dia reporter.

F: Di kompas?

L: Di Kompas sama di apa ee, MNC kah?

F: Oh Kompas TV. UMN tuh harus menjaga kualitas karena alangkah baiknya dosen-dosennya tuh wartawan.

L: Banyak sih.

F: Di kampus saya tuh yang wartawan hanya berapa ee dua kah tiga. Rata-rata hanya S2 S3 dosen-dosen itu tidak pernah menjelang event wartawan begitu, tapi ajar tentang menulis.

L: Kakak juga mengajar kah?

F: Tidak, belum S2. Tapi kalo untuk kasih pelatihan-pelatihan biasalah. Instansi- instansi tertentu untuk pelatihan jurnalistik, dulu pernah mengajar jurnalisme warga, advokasi untuk bawaslu. Begitulah.

L: Berarti ada rencana S2?

F: Di UMN ada S2?

L: Ada.

F: Ada komunikasi?

L: Kurang tahu apa saja de punya S2.

F: UMN akreditasinya sudah apa?

L: A.

F: A e? Apa kita harus ke Jakarta, atau tidak bisa kuliah jarak jauh kalo mo ambil S2 di UMN

L: Mungkin bisa.

F: Saya punya professor di Kupang tawar jadi dosen kalo tidak mau jadi wartawan lagi, tapi harus S2 dulu. Persyaratannya harus S2, kalo S2 baru bisa ambil Pendidikan mengajar. Jadi dia harus linear, sarjana komunikasi masternya juga ilmu komunikasi.

L: Oh ilmu komunikasi.

F: Linear. Nanti kalau adik mau jadi dosen juga harus ambil S2 sama juga dia.

L: Amin.

F: Orang tua dimana?

L: Di rumah.

(25)

F: Maksudnya orang tua PNS di dinas?

L: Apa eee.. kerja di bandara.

F: Oh Kementerian Perhubungan.

L: Tidak yah, pegawai swasta, bagian pesawat yang kecil ke Wamena.

F: AMA kah MAF?

L: Apa eee.. Alda Air.

F: Pilot kah?

L: Tidak.

F: Oh di kantor. Ibu juga di kantor?

L: Tidak.Di rumah.

F: Jadi masuk UMN tuh masuknya tesnya dari Jayapura kah atau di sana baru tes?

L: Tidak pake tes, jalur raport. Jadi cuman dong seleksi raport saja, abis itu tes beasiswa ternyata dapat beasiswa uang pangkal di potong 50 persen.

F: Lumayan lah. Alumninya kalian sudah ada yang jadi wartawan toh?

L: Ada.

F: Agnes, Theodora di Kompas. Alumni UMN banyak yang jadi wartawan Kompas ada dua atau tiga.

L: Tapi kalau masuk Kompas de pu tes yang itu tadi kah, yang kakak bilang?

F: Iya ada tes kesehatan, tes menulis, tes Bahasa inggris, tes magang. Ada berapa kali tes kebanyakan.

L: Magang yang satu tahun itu?

F: Satu tahun magang Jakarta. Tapi mungkin karena corona nih, tidak tau apakah tetapkah di pake itu. Memang sekarang sih belum ada pembukaan sih karena kondisi keuangan kayaknya lagi tidak memungkinkan. Bertahan saja, mungkin setelah pandemic pembukaannya banyak. Intinya S1 dulu.

L: Lagi berjual.

F: Di Papua nih untuk SMA sudah tidak ada kebanyakan SMA kerja di mall.

L: Oh tamat SMA.

F: Iya, tamat SMA kah SMP kah.Tetap dibuang. Jadi karyawan XX1 kayak begitu.

L: Waiters.

F: Iya itu sudah. Lebih baik tes, karena sarjana ini menumpuk, S2 menumpuk S1 menumpuk. Setiap tahun ribuan sarjana diproduksi.

L: Semoga lancar.

F: Iyalah, jangan terlalu lama lah, paskan delapan semester. Pokoknya nanti kalau

(26)

ada kendala apa konfirmasi dengan senior kamu yang sudah wisuda atau cek kembali di perpustakaan lihat yang contoh sama kayak kamu fenomenologi interpretatif. Supaya lihat oh dia punya seperti ini cara penyusunannya.

L: Penelitian terdahulu.

F: Yang sudah dijilid itu.

L: Ada sih beberapa. Iya ada beberapa yang sudah lihat-lihat penelitian terdahulu dari kakak-kakak tingkat yang sudah lulus.

F: banyak kah yang tamat di UMN, banyak eee mendaftar?

L: Banyak.

F: Kam pu kampus itu menutupi…

L: Apa dong bilang, telor dinosaurus. Tapi sayang lagi kosong, sisa pegawai- pegawainya saja.

F: Oh kampusnya diliburkan e?

L: Kitong online semua, dosen mahasiswa.

F: Tapi begitu pembayaran lancar? Harus tetap bayar?

L: iya, ada sih sempat dikasih potongan 700 ribu saja satu semester.

F: Mau tidak mau ada pembayaran, mau gratis?

L: Mau.

F: Cepat wisuda.

L: Amin. Mau, mau.

F: Nanti kalau ada kekurangan kontak saja.

L: Iya kakak siap. Sudah malam.

F: Sudah hajar saja, saya baru pertama kali pake google meet biasanya sih zoom sih.

L: Tapi lebih lancar toh daripada wa tadi?

F: Iya tidak tahu kenapa e wa-ku, tidak bisa telfon ee.

L: Cuman tadi juga pas wawancara sama pak Ryanto agak jelek juga.

F: Iyo sudah, sip.

L: Oke, Makasih kakak.

F: Makasih.

L: Nanti kalo masih kurang masih bisa hubungi lagi ka tidak?

F: Bisa, nanti di Wa saja.

L: Terima kasih untuk waktunya kakak.

F: Untuk foto untuk responden nanti saya kirim.

(27)

L: Makasih. Tuhan berkati kak.

F: Tuhan berkati salam buat keluarga.

(28)

TRANSKRIP WAWANCARA INFORMAN KE-2 INFORMAN: LUCKY IREEUW

PROFESI: PEMRED CENDERAWASIH POS, SEKALIGUS KETUA AJI JAYAPURA.

ASAL: JAYAPURA

MEDIUM WAWANCARA: WAWANCARA LANGSUNG TANGGAL: 16 MARET 2021

TEMPAT: LOBBY UTAMA KANTOR CENDERAWASIH POS, JL.

ENTROP, JAYAPURA, PAPUA.

PUKUL: 19:00-20:15 WIT Keterangan:

L: Lifita

I: Lucky Ireeuw

L: Baik. Kita mulai dari perkenalan dulu mungkin bapak punya nama lengkap, usia, terus asal dari mana.

I: Iya, saya Lucky Ireeuw, saya usia berapa sekarang, empat puluh… tujuh, empat puluh enam, tujuh empat itu berapa tahun sekarang, empat puluh tujuh kah. Terus saya asalnya dari orang asli Papua, khususnya orang Jayapura.

L: Jayapura?

I: He’eh, kampung di bawah situ dekat jembatan merah situ.

L: Hamadi bukan?

I: Iyo, Hamadi di belakangnya di Tobati. Ada Tobati, Enggros, di teluk situ nah sa (saya) tinggal di situ, asal dari situ.

L: Bapak di dunia jurnalis ini sudah berapa lama? Jadi jurnalis dari awal, mungkin dari tahun berapa sampe sekarang gitu.

I: Iya, saya di dunia jurnalistik itu sejak tahun 2000. Lumayan eh hehehe (sambil ketawa). Baru 21 tahun hahaha (sambil ketawa).

L: 2000 yah?

I: 2000 iya, selesai dari saya latar belakang e apa, kuliah di UNCEN (Universitas Cenderawasih) di apa, fakultas hukum, terus lulus dari fakultas hukum, saya karena tertarik di dunia tulis menulis, jadi wartawan. Mulai jadi wartawan hingga Sekarang.

L: Jadi pas lulus kuliah langsung wartawan?

(29)

I: He’eh, pas kuliah sebelum tahun 2000, terus sa (saya) jadi wartawan sampe sekarang. Sudah jadi wartawan ditugaskan ke daerah. Pernah tugas di Biak, terus dari wartawan di lapangan, terus naik jadi redaktur, dari redaktur ke ketua pelaksana, terus jadi pemimpin redaksi.

L: Waw… pertama dari media mana awalnya? Atau sudah dari dulu disini (Cenderawasih Pos).

I: Dari dulu sejak pertama sampe sekarang hehehe (sambil ketawa).

L: Luar biasa hehehe.

I: Iya hahaha. Jadi begitu, jadi jurnalis itu sudah sejak awal sampe sekarang di Cenderawasih Pos. begitu, terus ya, terlibat ikut-ikut di organisasi pers. Saya di.

Kita ada beberapa organisasi Pers di papua, ada PWI, ada IJTI, ada Aliansi Jurnalis AJI. Nah saya di AJI.

L: Oh…

I: Kebetulan periode ini, saya ketuanya.

L: Oh… Tapi walaupun Bapak sudah jadi pemred masih tetap turun lapangan begitu, wartawan?

I: Iya, sekali-kali saya turun lapangan. Biasa kita e apa, untuk membackup liputan teman-teman wartawan yang lain. Kita di Cepos itu kita ada, editor itu ada, jadi kita masih kerjakan halaman. Jadi ada tujuh orang, ada wartawan ada sembilan orang di Jayapura. Nanti di daerah juga ada. Di Biak ada, di Wamena ada, di Merauke ada.

L: Oh…Emm, waktu masih kerja lapangan bapak lebih banyak di desk apa untuk nulis beritanya? Ata sekarang mungkin lebih di desk mananya?

I: Iya, saya waktu masuk tuh langsung di desk politik.

L: Hemm… Sesuai jurusan e.

I: Hahaha… Iyo sudah. Jadi ngeliputnya di DPR, terus di LSM-LSM, Komnas HAM, di LS HAM, LBH, itu karena sa (saya) latar belakang hukum jadi mungkin lebih bisa masuk gitu waktu awal-awal liputan. Terus waktu itu di, awal-awal tahun duaribu karena isu Papua itu waktu itu sangat meningkat, sangat ini sekali ketika ada apa presiden Papua, terus ada kongres rakyat Papua waktu itu, dibuat di GOR Cenderawasih. Nah, waktu karena situasi politik yang kayak seperti itu ya, tidak bisa sembarang orang mewawancarai tokoh-tokoh Papua itu.

L: Itu tahun berapa e?

I: Itu tahun-tahun dua ribu.

L: Oh iya.

(30)

I: (tahun) 99 2000 itu, ada e musyawarah rakyat Papua di Sentani Indah mereka bikin, terus lanjutannya di GOR Cenderawasih bulan Mei itu mereka bikin kongres rakyat Papua. Nah waktu itu saya masih baru, tapi karena ditugasi untuk meliput supaya bisa dekat dengan tokoh-tokoh Papua seperti almarhum Theys Eluay mereka, bapak They situ kan Sentani kan sama-sama toh.

L: Iya (sambil senyum) I: Hahaha…

L: Di dia punya lapangan itu selalu ada acara (I: Yah), KKR di situ.

I: Nah itu sudah. Jadi kitong (kita) anak-anak Papua, jadi mungkin bisa pendekatannya lebih dapat waktu itu. Karena situasi politik waktu itu lagi tegang, sebelum otsus. (L: Oh). Waktu itu, nanti setelah kongres baru ada otsus masuk itu.

Konsekuensi hasil dari rumus kongres Papua yang waktu itu mereka ingin apa pernyataan apa, politik itu ingin pisah gitu. Waktu itu, jadi saya mulai jadi wartawan itu sudah lingkungan liputan saya, politik Papua itu. Nah, jadi akhirnya bisa kenal dengan tokoh-tokoh itu. Presiden Papua itu seperti pak Theys Eluay, Tom Benal, pak Thaha Al Hamid, bapak Pendeta Herman Awom, terus tokoh-tokoh OPM juga yang dari luar negeri, yang mereka datang ikut kesini. Artinya kenal sama mereka untuk itu kan apa, kita punya narasumber begitu, untuk semua berita-berita Papua yang lebih mudah kita, dibanding ada teman saya sama-sama, tapi karena non- Papua mereka takut-takut begitu mau masuk. Terus waktu dulu kan masih ada satgas Papua yang sangat keras sekali. Jadi, sehingga kita itu seperti itu. Jadi desk saya politik, terus ya karena kita memang wajib biasa rolling-rolling ditukar posnya gitu, desk politik. Jadi politik, ekonomi, terus berita kriminal, itu biasa kita cover, Pendidikan, termasuk olahraga itu, e sa (saya) sudah pernah itu di desk-desk semua.

L: Tapi menurut bapak system rollingan itu penting kah, atau mending satu, fokus ke satu desk saja?

I: E… Rolling itu sesuai kebutuhan. Begitu, misalnya saya posnya, itu penting juga menurut saya penting tapi tidak harus buru-buru. Mungkin dia tetap di satu desk itu sampe dia betul-betul menguasai bidang itu. Sehingga waktu dia menulis juga lebih enak gitu, tapi ketika misalnya dia terlalu lama di desk itu, nanti membuat dia bisa membuat dia tidak banyak berkembang. Terus dia terlalu dekat dengan narasumber itu saja begitu, sehingga bisa mempengaruhi dia punya karya jurnalistik. Macam dia desknya di pemerintahan, dia karena terlalu dekat dengan pak Wali Kota akhirnya dia tidak berani ke dekat pak Wali Kota, nah itu kita harus pindahkan

(31)

rolling, putar ke desk lain gitu. Bisa juga penyegaran untuk apa jurnalisnya, supaya dia bisa punya wawasan yang di bidang-bidang lain, bukan hanya satu saja. Kita di pel praktek kita di Cepos biasa sekitar, paling lama itu dia di satu dek itu dua tahun, di dua tahun itu dia sudah harus pindah.

L: Oh… Oke baik

I: Nanti siapa tahu besok-besok mau jadi wartawan.

L: Amin.

I: Kan su tahu. Hahaha

L: Itu lagi. Harus tahu banyak informasi dari senior-senior hehehe.

I: Hahaha. Iyo.

L: Terus kalo misalkan perbedaan desk satu dengan desk yang lain itu apa saja?

I: Ah itu biasa tantangannya beda, tantangannya beda. Orang yang desk, ada yang desk kita anggap desknya lebih ringan. Tapi sebetulnya tra (tidak) ringan juga, macam ekonomi itu dianggap desknya lebih ringan, karena dia punya berita apa, tapi itu sebetulnya itu berat juga kita harus betul-betul kuasai. Nah, tapi dia tidak lebih berat dibanding desk politik, nah gitu. Desk politik itu lebih berat, karena ada bersentuhan dengan apa masalah-masalah yang lebih besar gitu, pemberitaan itu dia ancamannya lebih tinggi. Orang yang kerja di bagian desk politik itu dia ancaman keselamatan jiwanya tuh lebih tinggi dibandingkan orang yang liputan ekonomi.

Ekonomi dia pergi ke pasar saja, tidak jadi masalah. Tapi orang desk politik, dia harus pergi ketemu misalnya sampe orang yang betul-betul tahanan politik, dia harus ketemu mereka untuk wawancara, sampe ketemu orang yang berseberangan ideologi dia harus ketemu dorang (mereka) untuk wawancara. Sehingga kadang- kadang menjadi perhatian, maksudnya menyangkut keselamatan jiwanya juga begitu, dibanding desk olahraga misalnya. Jadi antara desk satu dengan yang lainnya tuh secara itu memang berbeda, tetapi dalam bidang liputannya memang tidak kita bisa bilang mudah juga karena betul-betul harus kuasai, misalnya ekonomi tuh dia harus bisa tahu fluktuasi, apa kenaikan turun barang, terus itu dia harus bisa baca situasi itu. Gitu, jadi sebenarnya masing-masing punya tantangan sendiri-sendiri sih sebenarnya.

L: Tapi buat jurnalis harus bisa kuasai semua bidang toh?

I: Harus, harus bisa kuasai semua bidang. Iya, sedikit-sedikitnya bisalah gitu.

Karena biasa masyarakat bilang jurnalis dong paling tahu semua gitu, padahal belum tentu juga hahaha.

(32)

L: Hahaha.. Adoh, harus banyak belajar jurnalis.

I: Iya.

L: E… Ini sekarang kita masuk ke Papuanya (I: Oke). Menurut bapak, bapak memaknai Papua itu seperti apa?

I: Papua itu, orang bilang surga yang jatuh ke bumi gitu yah, indah gitu. Secara, punya keunikan, indah, langkah, juga mahal, tapi juga banyak konflik kepentingan kita disini, di Papua. Jadi Papua dari segala sisi tuh itu tadi dia unik dia kaya, dia indah, tapi dia banyak konflik disini, konflik kepentingan di Papua, dan itu sudah seperti benang yang sudah riwet sekali sampe sekarang. Karena dari apa, akar masalahnya itu sudah sejak awal di integrasi dengan Papua sudah jadi soal, dengan Indonesia sudah jadi persoalan. Jadi itu yang berlarut-larut tidak pernah selesai, sampe hari ini. Sudah banyak apa korban, sudah banyak apa, apa yang terjadi di Papua tentang itu. Itu itu persoalan yang memang menurut saya belum pernah diselesaikan, dan terbawa hingga sekarang. Konflik yang ada sekarang itu, karena dulu punya akar persoalan itu, mungkin kalo pernah baca, kalo pernah lihat di LIPI pernah, LIPI pernah membuat empat akar masalah Papua itu. Masalah sejarah status politik Papua, masalah diskriminasi, masalah pelanggaran HAM, ada satu lagi ada kesenjangan sosial. Itu itu sih saya melihat Papua seperti itu, di satu sisi kita melihat bahwa Papua itu dia negeri yang elok, yang kaya, yang unik begitu. Tapi disisi lain dia punya sisi yang memang sangat sulit begitu menghadapi situasi politik yang ada saat ini.

L: Tapi menurut bapak harus bisa diselesaikan begitu e, diatasi?

I: Tentu harus bisa, tidak bisa tidak. Kita harus, itu harus jadi pekerjaan pusat pemerintah yang harus menyelesaikan itu. Dengan banyaknya kepentingan politik, sampe kita kadang-kadang tidak tahu mana yang bertujuan baik mana yang tidak, biasa begitu, semua bicara atas nama masyarakat. Tapi tentu punya tujuan sendiri- sendiri. Ada yang bilang otsus itu baik, ada yang bilang otsus itu kurang bagus karena bikin orang berkelahi ya macam-macam lah gitu. Termasuk kita melihat satu sisi, misalnya orang yang menyampaikan aspirasi, ingin merdeka misalnya kayak begitu, apakah itu sesuatu yang buruk ya tergantung dari mana kita menilainya toh.

L: Perspektif sendiri-sendiri yang menilai.

I: Iya begitu hahaha.

L: Kalo sebagai jurnalis itu, bagaimana biar kita bisa dekat sama narasumbernya atau masyarakat Papuanya biar bisa dapat data-data dari mereka pas wawancara.

(33)

Dia punya cara itu bagaimana?

I: Iya, itu pertama tuh kepercayaan. Kita harus menulis dengan jujur, terus kita menjaga kepercayaan dari narasumber itu. Kita harus meyakinkan mereka bahwa kita ini hanya penyalur informasi saja, karena kita tidak punya interest apa-apa, dalam menjalankan tugas fungsi kita secara profesional. Itu saja sih sebenarnya, kepercayaan itu paling utama sekali. Sekali masyarakat, public tidak percaya sudah habis sudah. Media itu juga dia tergantung dia dibangun karena kepercayaan public.

Kalo media sudah tidak dipercaya public, kita membuat berita rekayasa, berita yang tidak benar, itu juga, tidak independent, nah itu langsung ditinggalkan, kita nggak bisa ambil kembali. Jadi supaya jurnalis dia bisa dekat dengan semua orang, dia harus bersifat terbuka dengan siapa saja. Dia harus apa, tidak diskriminasi “saya hanya meliput saya punya masyarakat saja, kalo dong yang lain sa tra usa pergi kesana”, nah itu tidak bisa begitu. Jadi kita harus bisa membawa diri dengan siapa saja dengan orang mana saja, kita, bahkan kalo lihat di kalangan jurnalis kita bilang apa, jurnalistik itu agama kita begitu. (L: Kepercayaan). Iya, kepercayaan kita, agama kita jurnalistik gitu. Sehingga kita betul-betul ikut dengan aturan-aturan yang ada, dalam kode etik yang kita patuhi dengan baik. Jangan juga kita apa mau di stir-stir orang untuk kepentingan, karena pasti ada kepentingan, mau apa saja pasti ada kepentingan, tapi kalau kepercayaan itu kita jaga dengan baik, dan dalam melakukan liputan kita jujur melakukan liputan kita, menyampaikan apa saja yang menjadi apa bahan yang kita mau publikasi, apakah itu dari pemerintah kah dari masyarakat kah, dari orang yang partai politik misalnya, orang yang berseberangan ideologi sekalipun gitu, atau orang yang tidak seideologi dengan kita, seagama dengan kita, sesuku dengan kita misalnya, nah itu disitulah kita harus menjaga kepercayaan itu, itu saja.

L: Oke. Ini mau tanya tentang kondisi HAM di Papua seperti apa untuk sekarang, terus isu-isu HAM Papuanya apa saja begitu?

I: Kondisi HAM di Papua nih, paling sulit sudah. Iya, karena yang orang bicara sampai hari ini tuh tentang hak hidup mereka, hak asasi setiap seseorang terutama orang asli Papua. Itu yang saya lihat, apa, itu saya sudah singgung di awal dari masalah status politik Papua, masa lalu, ketika Indonesia melakukan integrasi kepada Papua, masuk Papua integrasi ke bagian Indonesia dengan status politik itu ada banyak-banyak kepentingan terlibat di dalamnya terus perebutan kekuasaan waktu itu, yang dilakukan penentuan pendapat rakyat yang dianggap e apa, tidak

(34)

berjalan secara objektif, itu adalah rekayasa disana, sistemnya perwakilan.

Sehingga orang Papua dari awal itu sudah melakukan protes, tapi protes itu ditanggapi dengan kekerasan, ditanggapi dengan tindakan oleh militer Indonesia.

Jadi sejak tahun 68 sampe sekarang itu, sudah banyak sekali korban. Korban-korban yang jatuh karena suara-suara mereka yang melakukan protes itu. Dan terjadi terus- menerus dengan operasi, karena Papua pernah menjadi operasi militer cukup lama, hampir 20 / 30 tahun. Nah, disitu orang tidak berani bicara Papua pun tidak berani, orang protes pemerintah juga tidak berani, karena disini daerah operasi, jadi semua dikuasai oleh militer. Dan kita tidak tahu jumlah orang yang sudah e tewas, sudah mati, hanya karena suara yang berbeda begitu. Nah, itu menjadi sesuatu ini, memori praksionis istilahnya seperti itu ingatan masa lalu yang buruk, yang terbawa dari generasi ke generasi, diceritakan dari dia punya tete ke dia punya bapak, bapak kepada anak, dan terus sampai sekarang. Nah itu yang ada saat itu, itu situasi Hak Asasi Manusia di Papua itu seperti itu. Jadi kita mau percaya atau tidak tapi itu ada, begitu dan itu terus sampai sekarang. Nah, waktu LIPI dia membedah itu menjadi empat akar masalah, ada masalah status politik yang tidak pernah selesai, masalah pelanggaran HAM, masalah diskriminasi, kita mau bilang trada diskriminasi tapi pada kenyataannya juga ada seperti begitu. Tapi macam kemarin ada kasus rasisme, nah itukan terjadi (L: Yang di Surabaya itu). Surabaya dan efeknya sampai di Papua itu lalu meluncur ke Sarmi, (L: Kerusuhan) kerusuhan itu kayak begitu. Ah, itulah persoalan Hak Asasi Manusia, jadi yang jadi masalahnya sampai sekarang pemerintah tidak benar-benar serius menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua. Ada beberapa, berapa kali, satupun kasus tidak pernah selesai.

L: Oh... satupun?

I: Iya, satupun tidak ada yang pernah selesai. Kasus Paniai berdarah, biak berdarah, orang demonstrasi tapi ditanggapi dengan represif dari pihak aparat keamanan, sehingga banyak yang korban, banyak yang mati. Kasus itu dibawa oleh Lembaga- lembaga LSM misalnya, Komnas HAM, tapi sampai sekarang tidak ada penyelesaian, pelakunya tidak pernah dihukum, tidak ada rekonsiliasi, e terhadap para korban-korban itu sampai sekarang.

L: Kenapa tidak pernah terselesaikan e?

I: Sa juga tidak tahu hahaha (sambil tertawa). Iya, jadi tidak pernah terselesaikan karena mungkin apa ya, e pemerintah menurut saya tidak pernah serius mengurus Papua dalam soal pelanggaran HAM. Sehingga kita juga ini tuli sampe capek juga

(35)

(L: Iya dari dulu). Dari dulu kita tulis, nanti setiap tahun “peringatan pelanggaran HAM di Papua yang ke tujuh tahun, ke delapan tahun, ke sembilan tahun”, tapi kita tuh hanya mencatat statistic saja, sejak tahun tahun besok tambah berapa kasus, tahun besok tambah berapa kasus, itu yang selalu kita catat itu. Artinya, tapi tahun besok sudah kurang berapa kasus itu, diselesaikan tuh tra pernah ada, ya itu karena kita kalo buka data cek, nanti silahkan dicari di browsing, tidak ada kasus pelanggaran HAM di Papua yang pernah selesai. Jadi itu jadi masalah sampai sekarang, itu membawa indikasi yang sangat luas bagi kepercayaan orang Papua terhadap pemerintah Indonesia. Begitu, itu yang ada hehehe.

L: Adoh begitu e. E… mau masuk ke pengalaman, mungkin boleh bapak ceritakan pengalaman waktu pertama kali meliput isu HAM Papua tentang apa, atau berita yang tentang apa?

I: Saya…Apa ya hehe.

L: Su (sudah) banyak ka apa? Hehehe

I: Iyo, banyak. Ada beberapa, yang sa paling ingat itu e dong pembakaran Polsek Abepura ada waktu demo, terus polisi menanggapi dengan represif, waktu itu sa masih wartawan baru tahun 2000, 2001/ 2002 kah itu.

L: Masih kecil hehe.

I: Iyo begitu sudah. Nah, terus e ini kota mencekam toh, semua orang tidak bisa kemana-mana. Aparat dia melakukan penyisiran, ada berapa orang yang di asrama- asrama, mahasiswa di skyline, di beberapa tempat itu mereka melakukan pembunuhan terhadap ada beberapa orang begitu. Terus waktu itu, e elsam Papua Lembaga Hak Asasi Manusia, Lembaga Studi dan Advokasi HAM Papua itu, kantornya di Kotaraja e di Waena sebelum USTJ sebelah kiri. (L: Iya, USTJ tahu).

Disitu, mereka merilis kasus aparat melakukan pembunuhan kilat gitu terhadap itu.

Dampak dari penyisiran waktu ada peristiwa Abepura. Mereka bakar Polsek waktu itu, ada demonstrasi ditanggapi aparat dengan kekerasan terus jadi keributanlah gitu. Itu saya ngeliput tuh waktu, itu jumpa pers itu, waktu peristiwa itu dan jumpa pers itu. Jumpa pers oleh elsam. Menurut elsam terjadi pelanggaran HAM disitu dan pelanggaran paling berat, dan karena waktu itu kita judulnya itu memang

“Aparat Melakukan Pembunuhan Secara Kilat” nah gitu, terus setelah rilis laporan itu, e saya dipanggil polisi waktu itu (L: Wah..). Jadi sa pernah di Abe polisi gara- gara menulis itu informasi itu. Pertama, polisi kasih surat panggilan, pimpinan redaksi sa pergi e mas Joko, dia sudah pindah, dia pergi menghadap polisi setelah

(36)

itu e saya juga dipanggil sebagai orang yang menulis berita itu, waktu itu saya belum ada di organisasi pers, jadi kita belum tahu hak-hak kita karena kan kita bisa menolak toh, untuk dipanggil polisi itu nggak boleh sebenarnya. Kita punya hak tolak untuk diperiksa, kalo polisi mau panggil kita untuk berita yang kita tulis, de, berita kita itulah kesaksian kita. Kita tidak bisa kasih keterangan lain diluar itu. Tapi waktu itu kitong belum tahu soal-soal itu, jadi tetap di polisi. Cuma, sa cuma ingat waktu itu dipesan jangan tanda tangan BAP (L: BAP itu apa?) Berita Acara Pemeriksaan di polisi. Jadi saya sempat dipanggil karena menulis kasus HAM itu dan e direktur HAM, direktur elsam-nya ditahan berapa hari di polda karena merilis informasi itu. Mereka meminta pertanggungjawaban tentang apa yang disampaikan ke media, ke public tentang polisi melakukan pembunuhan secara kilat, karena itu situasi kan belum reformasi, baru-baru awal reformasi jadi masih orang bebas, mulai bisa berbicara. E… kita nih wartawan dipanggil polisi untuk diperiksa karena kasus HAM itu, itu sa paling ingat sampai sekarang karena pernah diperiksa polisi gara-gara tulis HAM itu hahaha. Iya kayak begitu. Itu yang saya ingat dan beberapa kasus lain yang kita pernah liput termasuk kematian Theys Eluay. Karena bapak Theys itu dia dekat sekali dengan saya juga, karena waktu itu memang saya desknya di situ jadi, kenal mereka semua, jadi beliau sampe kemana pun waktu bicara tentang masalah Papua itu dimana saja sampe istana negara, di luar negeri pun dia pergi itu dia pasti telepon. Dia bilang “anak bapa ada berita, kita baru, kita ada di depan ini Gedung PBB ini, kita mau bicara soal Papua” gitu (L: Jadi dia yang ngasih tahu e). Jadi dulu kita di Cepos itu andalan sudah berita-berita begitu, yang belum tentu semua wartawan bisa dapatlah gitu istilahnya, yang dia percaya saja dia bisa, dia bilang “yang sa bicara jangan ko kurangi sedikitpun. Pokoknya tulis seperti yang sa bicara” Ah bapak sip. Yang penting kita rekam, bukti itu kita simpan toh.

Jadi kita tulis, sa punya Pemred juga semangat “Woi bagus kita bisa dapat” gitu, berita-beritanya bagus, karena mereka waktu ngelobi-lobi Papua itu sampe di Pasifik itu pertemuan-pertemuan disana, itu dia sampaikan ke kita. Saya Cuma kasih telefon saja, sms saja “Bapak perkembangannya bagaimana” dia bilang “Ah satu jam lagi kita pertemuan nanti sa telefon ko”, biasa tuh turun di Cepos (L: Cepat eh hehe). Hahaha. Sehingga waktu beliau meninggal memang sedih juga, artinya e tapi itu tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM, Hak Asasi Manusia. Padahal dia dihilangkan nyawanya secara paksa, tapi dianggap sebagai perbuatan kriminal biasa. (L: Oh biasa saja? Wah). Iya, padahal itu dia dilakukan oleh aparat, kopasus

(37)

yang bunuh diakan. Dong undang dia makan 10 November disini (Jayapura), hari pahlawan itu di markasnya di Angkatan Laut, Tribuana situ, pulang itu dong ikut di mobil sampai di Entrop situ, baru disitu mulai dicekik sampai mati, dibawa dibuang di Koya sana, waktu itu.

L: Balik lagi kesini ke Koya?

I: Iyo, lewat… waktu itu kan belum ada jembatan ini. Jadi dong bawa sampe di Koya trus buang dengan mobilnya disana. Iya, tapi karena itu tidak dianggap sebagai kasus pelanggaran HAM, hanya dianggap sebagai perbuatan kriminal biasa.

Padahal itu dilakukan oleh aparat keamanan. Kan ada syarat-syaratnya untuk pelanggaran HAM, itu sistematis, ada perintah, ada, dilakukan oleh aparat negara, begitu. Yang ingat begitu sih sebenarnya.

L: Kalo misalnya dari medianya waktu bapak hendak mau liputan itu apa yang media kasih, atau bekal dari media untuk anak-anak yang mau liputan seperti apa saja?

I: Oh iya, kita dulu tuh belum banyak, dari dulu, nah sekarang nanti sekarang beda lagi. Tapi dari dulu, waktu sa jadi aktivis di lapangan itu meliput e… kita waktu jadi wartawan itu hanya satu minggu di kasih pembekalan, menjadi wartawan itu bagaimana. Karena kita punya latarkan beda-beda, tidak semua orang jurnalistik jadi wartawan gitu. Dan biasanya orang jurnalistik itu, dia, nanti adek tau sendiri aja gitu toh, nanti liat pikir sendiri karena apa yang kita dapat di ruang kuliah dengan apa yang kita lihat di lapangan itu beda. Pasti sangat beda. Biasa juga banyak teman- teman yang kuliah latar belakang jurnalistik mereka tidak mampu di lapangan begitu. Biasanya hehehe, mudah-mudahan ade bisa.

L: Amin.

I: E… terus e, kita masuk dikasih pembekalan satu minggu tentang bagaimana meliput, Teknik wawancara, Teknik menulis berita, itu-itu saja nggak ada yang lain.

L: Setiap minggu?

I: Tidak. Satu minggu awal ketika kita mulai diterima (L: Oh, oh iya). Kita training dulu, training singkatlah begitu. E… Teknik fotografi, e Teknik menulis berita, terus Teknik wawancara, terus milih-milih berita, yang kayak-kayak begitu. Itu dikasih pembekalan awal. Tidak ada untuk safety jurnalistik, tidak ada.

L: Tidak ada?

I: Sama sekali tidak ada. Nah, itu nanti ketika kita ikut berorganisasi, baru ada dikasih e apa. Cuman dikasih pembekalan misalnya, ketika anda ada ditengah-

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Terlihat pada gambar 7 pada kapasitas 8,069 L/s bahwa turbin dengan variasi kemiringan sudut sudu 25  menghasilkan daya yang terus meningkat hingga 18,61 Watt pada

Pada rangkaian alat rancang bangun sistem monitoring kelembaban tanah dan suhu udara, power digunakan untuk menghidupkan arduino, sensor soil moistur, sensor

Based on the previous analysis, the researcher found that there were three types of gambits that were uttered by the students in EFL classroom and they always use in

Salah satu fungsi dari brosur yang berbentuk selebaran ini memang untuk mengenalkan suatu produk atau barang yang di jual agar bisa dikenal oleh masyarakat sehingga mereka

pembangunan, dilanjut hari kedua pengenalan struktur yang digunakan dalam pembangunan kantor baznas dan dipersilakan bertanya kepada mandor atau

ini adalah anak muda Sidoarjo telah berlomba dalam aksi peduli lingkungan dan melaksanakan kegiatan bersih-bersih lingkungan ( trashmob ) dengan tujuan dari Program

Dari hasil penelitian simpulan yang dapat diambil dari penelitan ini adalah Peserta didik SD 48 mencari sumber informasi di perpustakaan sekolah, toko buku, baca majalah

bahwa dengan semakin kompleksnya, permasalahan yang berhubungan dengan penyelenggaraan reklame, dan demi efisiensi serta efektifitas dalam pemungutan Pajak Reklame,