• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persepsi

2.1.1 Pengertian Persepsi

Persepsi adalah proses diterimanya rangsangan melalui panca indera yang didahului oleh perhatian sehingga individu memiliki kemampuan untuk mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang diamati, baik yang ada di dalam maupun diluar individu (Sunaryo, 2004). Umumnya, individu menerima banyak rangsangan atau stimulus dari lingkungan, namun tidak semua stimulus diberikan respon. Respon akan diberikan oleh individu terhadap stimulus yang memiliki kesesuaian dan menarik perhatian individu (Walgito, B, 2010).

2.1.2 Proses Terbentuknya Persepsi

Pesepsi merupakan proses yang didahului oleh penginderaan, dimana stimulus diterima oleh reseptor, kemudian diteruskan ke otak atau pusat saraf yang diorganisasikan dan diinterpretasikan sebagai proses psikologis. Pembentukan persepsi melewati tiga proses yaitu proses fisik, fisiologis, dan psikologis (Sunaryo, 2004).

1. Proses Fisik (kealaman) merupakan suatu proses dimana objek menjadi stimulus yang kemudian ditangkap oleh reseptor atau alat indra

2. Proses Fisiologis meliputi proses yang terjadi dimana stimulus diterima oleh saraf sensori dan rangsangan diantar menuju ke otak

3. Proses Psikologis merupakan proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulus yang diterima.

(2)

Proses akhir persepsi yaitu individu menyadari apa yang dilihat, apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima oleh alat indera. Persepsi terdiri dari 2 macam yang dibedakan berdasarkan sumber rangsangan yaitu external dan internal perception. External perception yaitu persepsi yang terjadi karena adanya

rangsangan dari luar individu. Sedangkan internal perception adalah persepsi yang terjadi karena rangsangan dari dalam individu yaitu dirinya sendiri sebagai obyek.

2.1.3 Persepsi Remaja Terkait Program Pencegahan HIV/AIDS

Persepsi yang dimiliki masing – masing individu terhadap stimulus bersifat personal dan cenderung berbeda – beda karena dipengaruhi oleh kepercayaan, sikap, motivasi, dan personality individu yang bersangkutan (Pickens J, 2005). Menurut Arterberry (2008), persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman seseorang terhadap stimulus. Pengalaman yang dimiliki dapat berupa pengetahuan terhadap stimulus, reaksi dari apa yang dilihat, dan dirasakan oleh individu. Apabila dikaitkan pada implementasi suatu program sebagai stimulus, maka persepsi terbentuk dari pengetahuan terhadap program, serta pengalaman terkait apa yang dirasakan dalam implementasi program. Berdasarkan hal tersebut, hasil studi persepsi individu terhadap suatu program dapat memberikan gambaran secara umum terkait implementasinya. Salah satunya yaitu studi mengenai persepsi remaja terhadap program pencegahan penularan HIV/AIDS.

Berdasarkan hasil penelitian, remaja beranggapan bahwa program yang dijalankan di sekolah dengan salah satu tujuannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS sangat penting dan bermanfaat untuk mencegah permasalahan remaja termasuk perilaku berisiko penularan HIV/AIDS (Winangsih R, 2015). Sejalan dengan itu, hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa siswa sebagai penerima program beranggapan bahwa program PIK – R yang diimplementasikan memiliki

(3)

peranan yang penting bagi siswa di sekolah. Program PIK – R (Pusat Informasi Konseling Remaja) merupakan salah satu program yang juga memiliki tujuan pencegahan penularan HIV/AIDS. Keberadaan program PIK – R dianggap dapat memberikan informasi yang benar bagi siswa terkait dengan HIV/AIDS, sehingga siswa dapat menghindari risiko penularannya (Desyolmita F & Firman, 2013).

Efektivitas program yang khususnya menyasar remaja, termasuk program pencegahan penularan HIV/AIDS, dipengaruhi oleh beberapa elemen penting yaitu kebutuhan remaja yang sesuai dengan kondisi terkini, pemberian informasi dengan penggunaan media yang disenangi remaja dan informasinya mudah dipahami remaja.

Penekanan materi yang disajikan dengan media yang tidak sesuai akan menimbulkan persepsi yang berbeda – beda, sehingga mempengaruhi pemahaman remaja terkait informasi yang disampaikan (Mohamed A, 2008).

2.2 HIV/AIDS

Proyeksi jumlah orang yang hidup dengan HIV dan kematian akibat AIDS di Indonesia meningkat setiap tahunnya, pada tahun 2015 jumlah orang yang hidup dengan HIV sebesar 735.256 orang dan diproyeksikan meningkat pada tahun 2016 sebesar 785.821 orang. Jumlah kematian akibat AIDS sebesar 36.586 pada tahun 2015 dan meningkat hingga mencapai 40.349 kematian pada tahun 2016 (Ministry of Health Indonesia, 2014). Peningkatan kasus HIV/AIDS yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa perlunya perhatian khusus dalam menanggulanginya.

2.2.1 Pengertian HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus atau HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi ini menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga mudah terserang berbagai macam penyakit. HIV

(4)

menyebar kedalam tubuh manusia melalui cairan tubuh tertentu yang kemudian secara khusus menyerang sel CD4 atau sering disebut dengan sel T. CD4 dalam tubuh manusia berperan dalam melawan infeksi, apabila manusia terinfeksi HIV, maka dapat menurunkan jumlah CD4 yang berdampak pada melemahnya sistem pertahanan tubuh manusia (CDC, 2015). HIV harus masuk langsung ke aliran darah agar dapat bertahan didalam tubuh manusia. Diluar tubuh manusia HIV sangat mudah mati oleh air panas, sabun, dan bahan pencuci hama lain. HIV terdapat di dalam cairan darah, cairan kelamin dan air susu ibu (KPA kota Denpasar, 2015).

Saat HIV sudah bertahan lama didalam tubuh dan menurunkan sistem kekebalan manusia, maka muncul AIDS yang merupakan fase akhir dari infeksi HIV.

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala

penyakit akibat dari menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. Akibat dari menurunnya sistem kekebalan tubuh, maka tubuh mudah terserang penyakit dari bakteri atau virus yang sebenarnya tidak ganas (infeksi oportunistik). Seseorang didiagnosa AIDS saat jumlah CD4 didalam darah kurang dari 200 sel/mm3 atau memiliki gejala khusus AIDS (AIDSinfo, 2012).

2.2.2 Cara Penularan dan Faktor Risiko

HIV hanya dapat ditularkan melalui manusia ke manusia bukan melalui binatang atau gigitan serangga. Virus masuk dan bertahan didalam tubuh manusia melalui cairan darah, cairan kelamin (cairan sperma dan vagina) serta air susu ibu.

HIV tidak dapat menular melalui kontak fisik seperti ciuman, pelukan, berjabat tangan, berbagi pemakaian barang bersama, dan makanan atau minuman (WHO, 2015). Saat HIV masuk kedalam tubuh manusia memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan gejala – gejala sakit atau disebut masa inkubasi yaitu 5 – 10 tahun. Seseorang terinfeksi HIV yang masih terlihat sehat, namun sudah mampu

(5)

menularan HIV ke orang lain (KPA Kota Denpasar, 2015). Secara umum, fase – fase yang dilewati seseorang sebelum terdiagnosis AIDS meliputi (Depkes, 2008):

1. Fase Pertama

Pada fase ini seseorang yang terinfeksi HIV masih terlihat sehat dan belum menunjukkan gejala sakit. Saat melakukan tes darah, HIV belum terdeteksi karena belum adanya sistem antibodi terhadap HIV yang terbentuk, namun dapat menularkan HIV ke orang lain. Masa ini disebut window period yang biasanya terjadi antara 1 – 6 bulan.

2. Fase Kedua

Pada fase kedua, HIV telah bereplikasi dalam tubuh sehingga diketahui dari tes HIV dan telah positif HIV. Fase ini berlangsung 5 – 10 tahun yang dikenal dengan masa laten HIV/AIDS dan belum menunjukkan gejala – gejala sakit.

3. Fase Ketiga

Pada fase ketiga, sudah mulai muncul gejala – gejala awal penyakit yang disebut dengan penyakit terkait HIV, namun belum disebut sebagai gejala AIDS. Gejala yang berkaitan dengan HIV meliputi keringat berlebihan pada waktu malam, diare terus menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu tidak sembuh – sembuh, nafsu makan berkurang dan lemah, berat badan berkurang, pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh dan sistem kekebalan tubuh mulai berkurang. Tahap ini berlangsung selama lebih dari 1 bulan.

4. Fase Keempat

Fase keempat merupakan fase akhir yang sudah memasuki tahap AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosa saat kekebalan tubuh sangat berkurang yang dilihat dari jumlah sel-T nya dan menimbulkan infeksi oportunistik. Pada umumnya, orang yang terinfeksi HIV akan memasuki fase AIDS sangat tergantung pada gizi yang

(6)

dikonsumsi, dan obat – obatan yang membantu proses pembentukan pertahanan tubuh.

Lamanya seseorang yang terinfeksi HIV berkembang menjadi AIDS sangat bervariasi diantara individu. Seseorang yang terinfeksi HIV tanpa adanya pengobatan yang rutin, maka 5 – 10 tahun kemudian akan menderita penyakit akibat HIV. Jarak waktu antara diagnosis terinfeksi HIV dan berkembang menjadi AIDS biasanya 10 – 15 tahun (WHO, 2015). Adapun perilaku dan kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi HIV yaitu (National Institute of Allergy and Infectious Disease, 2009):

1. Berhubungan seksual melalui anal, vaginal, atau oral dengan orang yang terinfeksi HIV, multipartner, dan partner yang tidak menggunakan pengaman (kondom).

2. Penggunaan jarum suntik, tindik, tattoo, dimana jarum suntiknya tidak steril atau digunakan secara bersama antar satu individu dan indiidu lainnya.

3. Ibu hamil yang terinfeksi HIV menularkan ke anaknya sebelum atau selama melahirkan atau melalui air susu ibu yang terinfeksi HIV.

2.2.3 Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS

Upaya pencegahan penularan HIV/AIDS harus dilakukan dengan penyuluhan dan penjelasan yang benar terkait dengan penyakit HIV/AIDS, sehingga pengetahuan masyarakat terkait HIV/AIDS dapat meningkat dan berperilaku yang dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Adapun strategi yang digunakan untuk menghindari perilaku seksual yang berisiko dalam upaya mencegah penularan HIV berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI Nomor 51 tahun 2013 yaitu:

1. A (Abstinence), artinya absen seks atau tidak melakukan hubungan seksual bagi orang yang belum menikah dan cukup umur.

(7)

2. B (Be faithful), artinya bersikap saling setia kepada satu pasangan seks atau tidak berganti – ganti pasangan seks.

3. C (Condom), artinya cegah penularan HIV melalui hubungan seksual yang aman yaitu menggunakan kondom yang baik dan benar

4. D (Drug No), artinya dilarang menggunakan narkoba terutama menggunakan jarum suntik.

Bagi seseorang yang berperilaku berisiko dan terinfeksi HIV maka diberikan pengobatan HIV yang disebut sebagai antiretroviral terapi atau ART, dan obat yang diberikan disebut dengan ARV (antiretroviral). Terapi tersebut tidak dapat menyembuhkan seseorang dari HIV, namun dapat meningkatkan kualitas hidup dan dapat memperpanjang hidup orang yang terinfeksi HIV. ARV berfungsi untuk menekan jumlah HIV sehingga sistem kekebalan tubuh tidak menurun secara drastis dan dikonsumsi seumur hidup (AIDSinfo, 2012). HIV dapat ditekan pertumbuhannya melalui kombinasi 3 atau lebih obat antiretroviral yang juga dapat berfungsi untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh manusia (WHO, 2015).

Upaya pengendalian HIV/AIDS tidak hanya dilakukan melalui pengobatan, namun juga melalui penemuan penderita secara dini. Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV dan AIDS terhadap darah donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperi Wanita Penjaja Seks (WPS), Penyalahguna NAPZA dengan suntikan (IDUs), penghuni lapas atau penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga (Kemenkes, 2013). Dengan penemuan penderita sejak dini, maka selanjutnya aktivitas konseling, perawatan, dan pengobatan dapat segera dilakukan.

(8)

2.2.4 Remaja dan HIV/AIDS

Masa remaja diidentikan dengan masa mencari jati diri dan memiliki tingkat emosional yang cenderung tidak stabil, sehingga memiliki risiko yang tinggi untuk berperilaku berisiko. Tingginya mobilitas sosial masa remaja juga berpengaruh terhadap tingginya kerentanan remaja tertular HIV/AIDS (Pratiwi, N.L & Hari B, 2011). Diperkirakan pada tahun 2012, diantara 35,3 juta orang yang hidup dengan HIV, sebesar 2,1 juta merupakan remaja usia 10 – 19 tahun, dimana mayoritasnya adalah perempuan (56%). Pada tahun yang sama terdapat 300.000 infeksi baru HIV pada remaja usia 15 – 19 tahun, dan diperkirakan setiap hari 830 remaja terinfeksi HIV (Idele P, et al, 2014). Walaupun ada penurunan jumlah infeksi baru sejak tahun 2000, namun kematian akibat AIDS meningkat 2 kali lipat. Pada tahun 2014, HIV/AIDS diperkirakan menjadi penyebab kematian tertinggi kedua, dan kelompok remaja putri merupakan kelompok yang jumlah kasus kematian akibat AIDS yang tidak menurun (Mahmy M, & Idele P, 2014).

Di Indonesia, menurut data UNICEF (2012), satu dari setiap lima orang yang terinfeksi HIV adalah remaja yang berusia di bawah 25 tahun. Sebesar 18% dari total kasus baru HIV pada tahun 2011 merupakan remaja usia 15 – 24 tahun. Remaja sebagai kelompok yang rentan memiliki risiko 30% lebih besar untuk terinfeksi HIV.

Banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus HIV/AIDS di kalangan remaja, termasuk faktor seks berisiko. Hasil penelitian menemukan bahwa 5 – 10%

wanita dan 18 – 38% pria muda berusia 16 – 24 tahun telah melakukan hubungan seksual pranikah serta sebanyak 5 – 10% pria muda usia 15 – 24 tahun telah melakukan aktifitas seksual yang berisiko sebelum menikah (Suryoputro, 2006).

Sejalan dengan itu, survey yang dilakukan oleh KISARA pada 384 remaja usia 10 –

(9)

24 tahun, diketahui bahwa 19,8% remaja telah melakukan hubungan seksual dengan usia pertama kali berhubungan seksual adalah 13 tahun (KISARA, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian Yani (2014) menunjukkan bahwa sebesar 60%

remaja di kota Denpasar memiliki perilaku seksual berisiko tinggi, walaupun 62,7%

remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi. Namun, pengetahuan yang baik tidak secara langsung mempengaruhi perilaku remaja dalam upaya pencegahan HIV/AIDS karena diperlukan juga pengetahuan yang benar terkait HIV/AIDS. Sejalan dengan itu, hasil pencapaian target MDGs pada tahun 2012 menunjukkan proporsi remaja usia 15 – 24 tahun yang memiliki pengetahuan yang benar mengenai HIV/AIDS hanya sebesar 21,25%. Oleh sebab itu, intervensi program yang seharusnya dijalankan tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman remaja mengenai informasi HIV/AIDS yang benar, tetapi juga dapat mempengaruhi perilaku remaja dalam upaya pencegahan penularan HIV/AIDS.

2.3 Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) 2.3.1 Pengertian dan Tujuan Program KSPAN

Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) merupakan program yang dibentuk oleh Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) provinsi Bali dan dijalankan di masing – masing KPA kabupaten/kota. Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) merupakan bentuk turunan program nasional kampanye

“Aku Bangga Aku Tahu”. Kampanye ini merupakan sosialisasi mengenai perilaku seksual yang harus dihindari sebelum ada komitmen melalui pernikahan dan penyadaran tentang cara penularan penyakit HIV dan AIDS. Kampanye tersebut secara nasional dilaksanakan di 10 provinsi di Indonesia, salah satunya yaitu provinsi Bali (Kemenkes RI, 2013).

(10)

Tujuan dibentuknya KSPAN di sekolah adalah untuk membekali siswa keterampilan ketahanan hidup dalam menghadapi masalah pergaulan remaja dan menjadikan siswa sebagai aktivis remaja yang potensial sebagai model yang paling baik untuk remaja seusianya. KSPAN sudah seharusnya dibentuk sebagai bagian keterlibatan siswa dan dunia pendidikan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Selain itu, KSPAN juga dibentuk sebagai upaya memberdayakan siswa menjadi peer educator atau pendidik sebaya dalam memberikan edukasi HIV/AIDS pada lingkungan sekitarnya.

2.3.2 Konsep Operasional Program KSPAN

Dalam menjalankan program KSPAN adapun konsep untuk mengembangnkan desain program bersama siswa untuk adaptasi program KSPAN di sekolah. Konsep tersebut terdiri dari (KPA Kota Denpasar, 2015):

1. Kerjasama yang optimal antara pihak sekolah, siswa, dan jaringan lembaga peduli HIV dan AIDS

Dalam mewujudkan pelaksanaan program yang optimal, maka dibutuhkan kerjasama seluruh pihak dalam menjalankan program. Keterkaitan dan keterlibatan seluruh pihak sangat penting untuk diaktifkan karena akan semakin mempermudah jalannya partisipasi siswa dalam organisasi KSPAN dan kesinambungannya di tahun – tahun berikutnya. Siswa pun memiliki peluang untuk mengingatkan sekolah bahwa keberadaan KSPAN di sekolah harus didukung secara aktif oleh pihak sekolah. Guru Pembina juga memiliki peran penting dalam memonitoring kegiatan KSPAN di sekolah. Selain itu, kerjasama yang paling penting adalah membentuk jaringan dengan lembaga – lembaga yang sudah ada dan memang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

(11)

2. Regenerasi dan sistem rekrutmen siswa yang jelas

Sistem perekrutan anggota baru KSPAN yang jelas sangat diperlukan mengingat masa waktu siswa dapat menjadi anggota KSPAN hanya 3 tahun. Selain sistem perekrutan, transfer pengetahuan dari senior ke junior juga penting untuk diperhatikan sehingga tetap berkesinambungan.

3. Siswa terlibat dalam merancang program

Dalam merancang suatu program yang efektif untuk siswa maka diperlukan pemahaman akan kebutuhan siswa itu sendiri. Siswa sangat perlu untuk dilibatkan dan melibatkan diri dalam pengembangan program dan pelaksanaannya untuk meyakinkan bahwa pendekatan yang digunakan menarik, relevan, dan menyenangkan untuk siswa.

4. Sediakan suatu tempat khusus bagi siswa dengan program meremaja

Program, termasuk pelayanan jika ada, perlu dirancang dan dikondisikan sebagai tempat yang ramah remaja. Para guru atau pembina sebaiknya dapat berkomunikasi efektif dengan siswa, menghormati siswa sebagai mitra dengan kebutuhan husus yang harus ditangani secara benar.

5. Mendidik dengan menghibur

Pendidikan yang menghibur melalui penggunaan multimedia merupakan ciri khas yang digemari remaja dan bagus untuk siswa. Pesan – pesan positif yang ingin disampaikan tentunya diusahakan dapat dikemas dengan pendekatan hiburan. Pelibatan siswa dalam merancang program yang menarik dan menghibur menjadi poin penting dalam konsep ini. Penggunaan media masa, media sosial, musik, drama seni, dan acara – acara variety dalam penyampaian pesan termasuk HIV/AIDS dapat membantu dalam penyerapan informasi secara efektif oleh siswa.

(12)

6. Libatkan dan didik siswa dengan teknologi

Penggunaan teknologi dalam penyampaian pesan kesehatan dapat berguna untuk memperluas jangkauan target sasaran dan mereka yang ingin mempelajarinya dapat belajar sesuai dengan kemampuan. Dalam melaksanakan program KSPAN, pendekatan menggunakan teknologi menjadi prioritas dibandingkan dengan penggunaan intervensi pendidikan kesehatan tradisional.

2.3.3 Kegiatan Program KSPAN

Kegiatan yang dilakukan dalam program KSPAN terdiri dari kegiatan pendukung organisasi dan kegiatan mandiri yang dalam praktiknya diserahkan kepada karakter dan kemampuan sekolah masing – masing. Kegiatan pendukung organisasi berupa pelatihan guru Pembina KSPAN, pelatihan pendidik sebaya KSPAN. Adapun materi pelatihan yang diberikan yaitu mengenai HIV/AIDS, Narkoba, Infeksi Menular Seksual (IMS), Kesehatan reproduksi, gender dan seksualitas remaja, pemberdayaan remaja, basic life skill, dan lainnya (KPA Kota Denpasar, 2015).

2.4 Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) 2.4.1 Pengertian dan Tujuan Program

Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK- R) merupakan salah satu program kesehatan reproduksi remaja yang dibentuk oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini merupakan salah satu program pokok pembangunan nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM 2004 – 2009). Arah kebijakan program PIK – R yaitu mencapai keluarga kecil bahagia sejahtera melalui perwujudan tegar remaja. Tegar remaja yang dimaksud yaitu remaja yang berperilaku sehat, menghindari risiko HIV/AIDS,

(13)

Napza, dan seks berisiko. Selain itu, tegar remaja juga mencakup penundaan usia perkawinan, menginternalisasi norma – norma keluarga kecil bahagia sejahtera, dan menjadi model bagi remaja sebayanya (Muadz, M.M dkk, 2008).

Kegiatan program dikelola dari, oleh, dan untuk remaja yang betujuan untuk memberikan informasi dan konseling mengenai perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR). Selain itu, PIK – R juga sebagai wadah informasi pendewasaan usia perkawinan, keterampilan hidup (life skills), pelayanan konseling dan rujukan PKBR.

2.4.2 Kegiatan Program PIK-R

Kegiatan PIK-R dilakukan sesuai dengan indikator tahapan di setiap sekolah yang terdiri dari tahap tumbuh, tegak, dan tegar.

Tabel 2.1 Indikator Tahapan Program PIK-R

Keterangan Tumbuh Tegak Tegar

Materi 1. 8 Fungsi Keluarga 2. Pendewasaan Usia

Perkawinan 3. Seksualitas,

HIV/AIDS, Napza 4. Keterampilan

hidup

1. 8 Fungsi Keluarga 2. Pendewasaan Usia

Perkawinan 3. Seksualitas,

HIV/AIDS, Napza 4. Keterampilan hidup 5. Keterampilan advokasi

dan KIE

1. 8 Fungsi Keluarga 2. Pendewasaan Usia

Perkawinan 3. Seksualitas,

HIV/AIDS, Napza 4. Keterampilan hidup 5. Keterampilan

advokasi dan KIE 6. Pengembangan materi

sesuai kebutuhan PIK- R (mis: gender) Kegiatan 1. Didalam

lingkungan PIK-R 2. Bentuk aktifitas

bersifat

penyadaran (KIE) didalam PIK-R 3. Menggunakan

media cetak (majalah, dinding,

1. Didalam dan diluar melalui dialog

interaktif di radio dan TV, penyuluhan dan pembinaan, konseling, penyelenggaraan seminar, roadshow ke sekolah lain, pameran, pentas seni, dan lain –

1. Didalam dan diluar melalui dialog

interaktif di radio dan TV, penyuluhan dan pembinaan,

konseling, penyelenggaraan seminar, roadshow ke sekolah lain,

(14)

leaflet, poster, dll)

4. Melakukan pencatatan dan pelaporan rutin

lain.

2. Menggunakan media cetak dalam

penyampaian informasi atau isi pesan program GenRe misalnya melalui majalah dinding, leaflet, poster dan elektronik misalnya radio, televisi, dan website

3. Melakukan pencatatan dan pelaporan rutin 4. Melakukan kgiatan –

kegiatan seperti jambore remaja, lintas alam/outbond, bedah buku, bedah film, dan lainnya

pameran, pentas seni, dan lain – lain.

2. Menggunakan media cetak dalam

penyampaian informasi atau isi pesan program GenRe misalnya melalui majalah dinding, leaflet, poster dan elektronik misalnya radio, televisi, dan website 3. Melakukan

pencatatan dan pelaporan rutin 4. Melakukan kgiatan –

kegiatan seperti jambore remaja, lintas alam/outbond, bedah buku, bedah film, dan lainnya

5. Terlibat dalam kegiatan sosial misalnya pelayanan kesehatan, kebersihan lingkungan dan kampanye perilaku hidup berwawasan kependudukan Sarana,

Prasarana, dan SDM

1. Ada ruang sekretariat 2. memiliki papan

nama

3. struktur pengurus minimal Pembina, ketua, sekretaris, bendahara, seksi program dan kegiatan, dan minimal 2 orang pendidik sebaya

1. Ada ruang sekretariat dan konseling

2. memiliki papan nama 3. struktur pengurus

minimal Pembina, ketua, sekretaris, bendahara, seksi program dan kegiatan, dan minimal 4 orang pendidik sebaya dan 2 orang konselor sebaya 4. Minimal 4 orang

pendidik sebaya yang

1. Ada ruang sekretariat, konseling, dan

pertemuan

2. memiliki papan nama 3. struktur pengurus

minimal Pembina, ketua, sekretaris, bendahara, seksi program dan

kegiatan, dan minimal 4 orang pendidik sebaya dan 4 orang konselor sebaya

(15)

4. Minimal 2 orang pendidik sebaya yang sudah dilatih/orientasi

sudah dilatih/orientasi dan 2 orang konselor sebaya yang sudah dilatih tentang materi pengetahuan dasar konseling

5. Lokasi di komunitas remaja sehingga mudah diakses

4. Minimal 4 orang pendidik sebaya yang sudah dilatih/orientasi dan 4 orang konselor sebaya yang sudah dilatih tentang materi pengetahuan dasar konseling

5. Lokasi di komunitas remaja sehingga mudah diakses 6. Memiliki hotline/sms

konseling,

perpustakaan, dan jaringan internet media sosial Jaringan

dan kemitraan

1. Lurah/kades dan TOMA untuk PIK-R jalur kemasyarakatan 2. TOGA untuk PIK-

R jalur keagamaan 3. Kepala sekolah

untuk jalur sekolah umum 4. puskesmas/pustu

terdekat dengan PIK R sebagai tempat rujukan medis

5. Menjalin

kerjasama dengan mitra kerja

(organisasi kepemudaan, keagamaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan, profesi dan kesiswaan)

1. Lurah/kades dan TOMA untuk PIK-R jalur kemasyarakatan 2. TOGA untuk PIK-R

jalur keagamaan 3. Kepala sekolah untuk

jalur sekolah umum 4. puskesmas/pustu

terdekat dengan PIK R sebagai tempat rujukan medis

5. Memperoleh pembinaan dan fasilitasi oleh

pemprov/pemkab/pem kot/kepala sekolah, dan lainnya.

6. Bermitra kerja organisasi kepemudaan,

organisasi keagamaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan, organisasi profesi

1. Lurah/kades dan TOMA untuk PIK-R jalur kemasyarakatan 2. TOGA untuk PIK-R

jalur keagamaan 3. Kepala sekolah untuk

jalur sekolah umum 4. puskesmas/pustu

terdekat dengan PIK R sebagai tempat rujukan medis 5. Bermitra kerja

organisasi kepemudaan, keagamaan, kemasyarakatan, organisasi kemahasiswaan, organisasi profesi 6. Mempunyai PIK-R

binaan

7.Kegiatan PIK-R telah terinteggrasi dengan Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR)

Sumber: Pedoman Pengelolaan PIK R/M BKKBN, 2012

Gambar

Tabel 2.1 Indikator Tahapan Program PIK-R

Referensi

Dokumen terkait

Pendaftaran Anda untuk membuat sebuah Blog akan membutuhkan Email yang sudah kita buat.. Jadi, diingat-ingat ya

Kelainan bicara dan/atau bahasa adalah adanya masalah dalam komunikasi dan bagian-bagian yang berhubungan dengannya seperti fungsi organ bicara Keterlambatan dan

Tingkat pengetahuan ibu hamil berdasarkan definisi kebudayaan, terutama pada pertanyaan tentang kehamilan merupakan proses alamiah sebagai kodratnya sebagai perempuan,

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Gubernur Nomor 43 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, sebagaimana telah diubah beberapa

Nilai pencapaian penggunaan elektroda memiliki skor awal rata-rata perbulan sebesar 3,69% artinya penggunaan elektroda selama 27 bulan penggunaan mencapai 99,63%

Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan lampu LED celup lebih efektif untuk digunakan sebagai alat bantu pada perikanan bagan.. Kata kunci: LED, lampu LED celup, dan bagan apung

Apakah memang penggunaan media sosial di kalangan para pemuda tani dapat menjadi subsitusi atau hanya komplementer bagi saluran komunikasi politik berbasis

Dengan nama Retribusi Izin Gangguan dipungut Retribusi atas pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi atau Badan yang dapat menimbulkan ancaman