1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Provinsi Riau dengan luas 94.560 km persegi merupakan Provinsi terluas di pulau Sumatra. Dari proporsi potensi lahan kering di provinsi ini dengan luas sebesar 9.260.421 ha, lebih kurang 2.478.952 ha atau 26 % telah dialokasikan dan digunakan untuk pengembangan tanaman perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Tidak dipungkiri bahwa usaha perkebunan dan HTI yang sebagian besar diselenggarakan oleh perusahaan-perusahan skala besar telah memberikan nilai positif pembangunan, termasuk konstribusinya bagi pendapatan daerah.
Namun demikian, selagi intervensi program dan investasi skala besar seperti itu tidak diiringi perhatian pembangunan terhadap berbagai aktivitas ekonomi mikro dan tradisional yang biasanya menjadi tumpuan kehidupan mayoritas masyarakat perdesaan di sekitarnya, maka tujuan pertumbuhan ekonomi daerah dan pemerataan pembangunan yang berkesinambungan dipastikan juga akan sulit dicapai. Hal ini tercermin dari masih beratnya masalah kemiskinan yang dihadapi masyarakat perdesaan sekitar lokasi kegiatan akumulasi kapital perusahaan- perusahaan besar kontraktor perkebunan dan HTI tersebut.
Keadaan yang lebih menghawatirkan biasanya terjadi di daerah perdesaan yang berbatasan dengan kawasan hutan. Perusahaan-perusahaan skala besar pemegang konsesi HPH dan HTI seringkali masih dominan menganut orientasi pandangan arus utama (mainstream) memanfaatkan hutan dan lahan dengan tujuan mengeksploitasi kayu. Dalam praktek eksploitasi sumberdaya alam seperti ini, perhatian terhadap nilai ekonomi berupa hasil hutan non-kayu (HHNK) beserta fungsi ekologis dan sosial dari keberadaan hutan seringkali diabaikan.
Pemberian hak konsesi kepada perusahaan-perusahaan skala besar dan konversi lahan yang dilangsungkan bahkan sering menimbulkan ancaman kerusakan lingkungan, fungsi ekologis hutan menjadi terganggu, lahan garapan para petani perdesaan semakin sempit dan tekanan penduduk terhadap hutan pun semakin meningkat. Kehadiran aktivitas akumulasi kapital skala besar ternyata juga belum
2 memberikan kontribusi yang nyata terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pilihan-pilihan sumber pendapatan bagi masyarakat perdesaan di sekitarnya yang masih tergantung dari sektor pertanian dan ekonomi skala kecil lainnya. Ironisnya lagi, di beberapa penjuru daerah perdesaan yang dahulunya dikenal dengan kehidupan tradisionalnya yang harmonis, kemudian juga mengalami perubahan sosial seperti nilai-nilai tradisional menjadi longgar, peranan lembaga-lembaga tradisional memudar ataupun berkurangnya legitimasi pemimpin tradisional.
Situasi ini tidak terkecuali juga terjadi di kawasan hutan Tesso Nilo di Provinsi Riau. Di kawasan hutan tropis dataran rendah terbesar di Pulau Sumatra ini telah berlangsung proses pengalihan fungsi hutan yang semula sebagai sumber kekayaan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, habitat satwa khas, penghasil oksigen, mengatur iklim mikro maupun makro, menyerap gas-gas perusak lapisan ozon penyebab efek rumah kaca yang menaikan suhu bumi, melindungi tanah serta air tanah, penghasil produk hutan seperti getah, madu, buah-buahan, obat-obatan, protein hewani, rotan, damar dan kayu serta sumber mata pencaharian penduduk perdesaan sekitar kini mengalami berbagai benturan kepentingan. Rantai panjang proses benturan kepentingan tersebut meliputi fakta penebangan hutan secara besar-besaran untuk industri kayu, pengalihan fungsi hutan primer yang heterogen menjadi hutan tanaman homogen dan pembukaan perkebunan besar sangat tidak hanya mengancam pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga telah menimbulkan dampak negatif bagi eksistensi masyarakat lokal. Secara bersamaan dewasa ini berlangsung pula pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebih oleh masyarakat yang berada di sekitar hutan akibat menyempitnya lahan sebagai tiang utama mata pencaharian mereka. Bukan hanya akibat pertumbuhan penduduk secara alamiah di kawasan itu, tetapi juga akibat peningkatan migrasi yang menyertai laju okupasi lahan dan pengalihan fungsi hutan menjadi fungsi-fungsi lain, termasuk untuk permukiman permanen.
Berdasarkan krusialitas dan kompleksnya persoalan pembangunan di kawasan hutan Tesso Nilo ini wajarlah jika banyak pihak menunjukkan keprihatinannya, utamanya kalangan pemerhati dan aktivis lingkungan. Sejak tahun 2000 beberapa NGO, terutama diprakarsai oleh WWF Indonesia mulai memikirkan langkah-langkah ke depan mengenai kawasan hutan Tesso Nilo yang
3 dititik beratkan pada usaha-usaha untuk menjaga supaya dapat seluas mungkin mempertahankan daerah tersebut tetap berupa hutan dan membuatnya menjadi kawasan lindung. Pandangan ini dituangkan dalam apa yang di Riau dikenal sebagai Tesso Nilo Bukit Tigapuluh Landscape (TNBTL) atau Lansekap (Kawasan) Bukit Tigapuluh Tesso Nilo yang meliputi daerah seluas kira-kira 2 juta hektar termasuk blok terbesar hutan dataran rendah yang masih tersisa, yang ketika itu dikenal sebagai Usulan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Dalam dokumen perencanaan konservasi kawasan hutan Tesso Nilo tahun 2000 disebutkan bahwa TNBTL tersebut mencakup Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang sudah lebih dulu diresmikan; Lansekap TNBT terletak di dalam sebuah wilayah multi guna seluas 2 juta hektar yang dibatasi oleh empat kawasan lindung yang sudah ada yaitu Bukit Rimbang, Bukit Baling, Bukit Bungkuk dan Kerumutan, dan kawasan lindung yang diusulkan menjadi taman nasional yaitu Tesso Nilo. Total area hutan dalam kawasan lindung ini adalah 600.000 hektar.
Upaya pembangunan konservasi kawasan hutan Tesso Nilo itu selanjutnya mulai mendapatkan dukungan formal. Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) telah diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 255/Menhut-II/2004 bertanggal 15 Maret 2004 seluas 38.576 hektar. Lebih dari 120.000 hektar sisa hutan alam di Tesso Nilo untuk saat ini masih digunakan sebagai kawasan hutan produksi hingga 15-20 tahun ke depan selanjutnya juga diharapkan untuk dimasukkan ke dalam areal taman nasional tersebut.
TNTN berbatasan dengan 22 desa dengan lokasi yang tersebar di 4 kabupaten di Provinsi Riau, yakni: Pelalawan, Indragiri Hulu, Kampar dan Kuantan Singingi. Menurut laporan WWF Indonesia, desa-desa yang berbatasan dengan TNTN di Provinsi Riau ini hingga kini masih mengalami berbagai masalah pembangunan, utamanya dalam bidang sosial ekonomi. Masalah ini meliputi persoalan ketimpangan ekonomi internal antar desa dan kompleksitas konflik kepentingan antar para pihak. Tingkat perekonomian desa-desa transmigrasi misalnya digambarkan cenderung lebih baik dibandingkan dengan desa-desa yang didiami oleh mayoritas penduduk tempatan.
Salah satu persoalan utama masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Tesso Nilo adalah kurangnya pilihan-pilihan ekonomi secara berkelanjutan yang
4 memungkinkan mereka hidup berdampingan secara harmonis dengan hutan Tesso Nilo. Persoalan lain yang juga mengemuka saat ini adalah munculnya konflik pemanfaatan lahan antara masyarakat adat dengan perusahaan-perusahaan pemegang konsesi di kawasan tersebut. Belum lagi konflik antara masyarakat dengan hidupan liar yang ada di hutan Tesso Nilo terutama konflik dengan gajah dan harimau Sumatra masih berlangsung hingga saat ini.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan diatas, maka diajukan beberapa pemasalahan kajian pada penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana kehidupan ekonomi masyarakat desa dan ketergantungannya terhadap sumber daya hutan?
2. Bagaimana konflik antar para pemangku kepentingan (stakeholders/actors) yang berhubungan dengan potensi dan peluang pengembangan pilihan-pilihan pembangunan sosial ekonomi perdesaan?
1.3 Tujuan
1. Mempelajari kehidupan ekonomi masyarakat desa dan ketergantungannya kerhadap sumber daya hutan. Telaahan ini terutama difokuskan terhadap pemahaman tentang ketersediaan sumber daya alam termasuk hasil hutan non-kayu (non timber forest product), pola mata pencaharian, masalah kemiskinan dan strategi survival keluarga dan masyarakat di desa-desa di sekitar hutan Tesso Nilo.
2. Mengenali dan menganalisis konflik antar para pemangku kepentingan (stakeholders/actors) yang berhubungan dengan potensi dan peluang pengembangan pilihan-pilihan pembangunan sosial ekonomi perdesaan.
Telaahan ini difokuskan terhadap tata hubungan dan konflik antara manusia dengan gajah, antara masyarakat dengan TNTN, antara masyarakat desa dengan perusahaan, antara masyarakat dengan pemerintahan daerah, serta resolusi konflik yang relevan dengan upaya mengembangkan pilihan-pilihan pembangunan sosial ekonomi perdesaan sekitar hutan Tesso Nilo.
5
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi teknis situasi dan kondisi serta dinamika masyarakat perdesaan sekitar kawasan hutan Tesso Nilo. Memberikan pemetaan konflik social terkait dengan masyarakat, otoritas pemerintah pengelola kawasan, perusahaan dan pemerintahan daerah. Serta memberikan masukan mengenai resolusi konflik yang relevan dengan kondisi sosial ekonomi perdesaan sekitar hutan Tesso Nilo.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Strukturalisme Konflik
Konflik berasal dari kata kerja configere yang maknanya adalah saling memukul. Sementara istilah conflict dalam bahasa Inggris berarti suatu perkelahian, peperanangan, atau perjuangan yang berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Istilah tersebut memberikan penjelasan bahawa sebuah konflik berlaku kerana adanya interaksi fizikal oleh dua pihak atau lebih. Hal ini menunjukkan bahawa konflik merupakan interaksi sosial yang melibatkan hubungan antara individu (Pruitt 2004). Konflik menjadi sebuah fakta kehidupan yang tak dapat dihindari, yang melekat pada jaringan kehidupan. Konflik atau perlawanan antara kumpulan atau komuniti merupakan bentuk dari pada interaksi sosial, yang dapat berlaku pada masyarakat manapun, yang mana pelbagai perbezaan kepentingan saling berbenturan sehingga menciptakan konflik dalam pelbagai derajatnya.
Berkaitan dengan kondisi integrasi di dalam sebuah sistem sosial, Talcott Parsons menyatakan bahawa tidak ada sistem sosial yang terintegrasi secara sempurna, kerana selalu ada kemungkinan berlaku: a) ketidaksesuaian dalam prioritas bagi nilai-nilai yang berbeza ; b) interpretasi yang saling bertentangan mengenai nilai-nilai bersama ; c) konflik peranan ; d) motivasi ambivalen atau negatif ; e) ketegangan antara kebutuhan individu dan peranan yang ditentukan secara budaya ; f) harapan individu yang tidak tetap. Konflik sosial merupakan gejala ketegangan yang harus diatasi oleh sistem untuk mempertahankan keseimbangan keperluan atau kepentingan individu. Hubungan antara individu yang mengalami ketegangan secara konsisten tunduk pada persyaratan sistem keseluruhan untuk mempertahankan keseimbangan dan stabilitas sosialnya (Johnson 1986; Ritzer 1988).
Beberapa proposisi penting mengenai konflik menurut pemikiran Marx menjelaskan hubungan kepentingan antara kumpulan dominan yang kuat dan
7 memiliki power, dengan kumpulan subordinat yang lemah dan tidak memiliki power. Marx menggambarkan tingkat inequality didalam distribusi sumberdaya langka, menentukan konflik kepentingan antara kumpulan yang menguasai power dengan yang tidak menguasainya. Proposisi-proposisi penting yang dimaksudkan iaitu sebagai berikut (Turner 1978; Wirawan 2012) :
1. Semakin tidak merata distribusi sumberdaya langka dalam suatu sistem, semakin besar konflik kepentingan antara segmen dominan (kumpulan kuat) dan segmen subordinat (kumpulan lemah) dalam sistem tersebut.
2. Semakin menyadari segmen subordinat akan kepentingan kolektif, semakin besar kemungkinan mereka mempertanyakan keabsahan distribusi sumber yang tidak merata.
A. Perubahan sosial yang diciptakan oleh segmen dominan semakin mengacaukan hubungan yang ada di antara para subordinat, maka semakin besar kemungkinannya segmen subordinat menyadari kepentingan kolektif mereka.
B. Semakin praktik-praktik segmen dominan menimbulkan disposisi keterasingan di antara segmen subordinat, maka semakin besar kemungkinan kumpulan lemah tersebut menyadari kepentingan kolektif mereka.
C. Semakin segmen subordinat dapat saling berkomunikasi mengenai keluhan-keluhan mereka, maka semakin besar kemungkinan kumpulan lemah tersebut menyadari kepentingan kolektif mereka.
1) Semakin konsentrasi anggota dari pada kumpulan subordinat bersifat spasial, maka semakin besar kemungkinan mereka akan menyampaikan (berkomunikasi tentang) keluhan-keluhan mereka.
2) Semakin kumpulan subordinat memiliki akses kepada media pendidikan, semakin beraneka-ragam cara komunikasi mereka, maka semakin besar kemungkinan menyampaikan (berkomunikasi tentang) keluhan-keluhan mereka.
D. Semakin segmen subordinat dapat mengembangkan kesatuan sistem keyakinan, maka semakin besar kemungkinan mereka menjadi sadar kepada kepentingan kolektif mereka yang sesungguhnya.
8 1) Semakin besar kemampuan untuk mendapatkan (to recruit) juru bicara ideologis, maka semakin besar kemungkinan berlakunya penyatuan ideology mereka
2) Semakin kecil kemampuan kumpulan dominan mengatur proses sosialisasi dan jaringan komunikasi di dalam suatu sistem, maka semakin besar kemungkinan berlakunya penyatuan ideologis pada kumpulan subordinat
3. Semakin segmen subordinat dalam suatu sistem menyadari kepentingan kolektif mereka, semakin kuat mereka mempertanyakan keabsahan (legitimacy) distribusi sumberdaya langka, maka semakin besar kemungkinan mereka mengorganisir untuk memulai konflik terbuka dengan segmen dominan.
a. Semakin besar kemerosotan (deprivation) kumpulan subordinat bergerak dari dasar absolut ke dasar relative, maka semakin besar kemungkinan mereka menyusun dan memulai konflik
b. Semakin kumpulan dominan kehilangan kemampuan untuk menyatakan kepentingan kolektif mereka, semakin besar kemungkinan kumpulan subordinat menyusun dan memulai konflik c. Semakin besar kemampuan kumpulan subordinat mengembangkan
struktur kepemimpinan, semakin besar kemungkinan mereka menyusun dan memulai konflik
4. Semakin segmen subordinat disatukan oleh keyakinan bersama dan semakin berkembang struktur kepemimpinan politik mereka, maka segmen dominan dan segmen-segmen yang dikuasai dalam sistem tersebut akan mengalami polarisasi.
5. Semakin besar polarisasi antara segmen dominan dengan segmen yang dikuasai, maka akan semakin keras konflik yang berlaku.
6. Semakin keras suatu konflik, maka semakin besar perubahan struktur sebuah sistem dan redistribusi sumberdaya langka.
Penjelasan struktural terhadap fenomena konflik sosial merujuk kepada perspektif konflik Ralf Dahrendorf yang mementingkan elemen-elemen struktur sosial sebagai dasar terciptanya konflik sosial. Konflik didasari oleh susunan-
9 susunan struktural tertentu, yang oleh kerananya selalu cenderung melahirkan susunan struktural sebagai yang telah ada. Dengan demikian Dahrendorf menghubungkan konflik dengan struktur sosial tertentu, dan bukan menganggapnya berhubungan dengan variabel-variabel psikologis (sifat-sifat agresif) atau variabel historis deskriptif dan variabel kebetulan (Poloma 2003)
Selanjutnya Dahrendorf menyatakan bahawa pendekatan konflik berpangkal pada anggapan-anggapan dasar sebagai berikut :
1. Setiap masyarakat sentiasa berada dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir atau dengan kata lain perubahan sosial merupakan gejala yang melekat pada setiap masyarakat. Masyarakat merupakan suatu proses sosial dan memiliki sifat yang dinamis, dimana keadaan masyarakat selalu berubah sesuai dengan fenomena-fenomena yang berlaku di dalam masyarakat tersebut dalam waktu yang terus berterusan.
2. Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik didalam dirinya atau dengan kata lain konflik ialah merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat, salah satu yang dapat mempengaruhi perubahan ditengah-tengah masyarakat adalah konflik di masyarakat tersebut.
3. Setiap unsur di dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi berlakunya disintegrasi dan perubahan sosial.
4. Setiap masyarakat terintegrasi diatasi penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang.
Dahrendorf melihat kumpulan-kumpulan yang bertentangan sebagai kumpulan yang lahir dari kepentingan-kepentingan bersama para individu yang mampu berorganisasi. Pada asosiasi yang ditandai oleh pertentangan, terdapat ketegangan antara mereka yang ikut dalam struktur kekuasaan dan yang tunduk pada struktur itu. Secara empiris, pertentangan kumpulan mungkin paling mudah dianalisis jika dilihat sebagai pertentangan mengenai legitimasi hubungan- hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kepentingan kumpulan penguasa merupakan nilai-nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasaannya, sementara kepentingan-kepentingan kumpulan bawah melahirkan ancaman bagi ideologi ini serta hubungan-hubungan sosial yang terkandung di dalamnya. Setiap kumpulan atau sistem sosial terbagi ke dalam berbagai kepentingan, yakni :
10 kepentingan orang-orang yang menguasai kepemilikan material, dan orang-orang yang tidak menguasainya (institusi ekonomi), dan kepentingan mereka yang memiliki dominasi otoritatif dan mereka yang harus tunduk pada penggunaan otoritas tersebut. Setiap perbezaan kepentingan menempatkan anggota masyarakat pada posisi dominan dan subordinat (Poloma 2003).
Setiap fenomena konflik memiliki intensitasnya masing-masing. Sumber- sumber konflik tertentu menghasilkan konflik dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan konflik yang dihasilkan oleh sumber konflik yang lain.
Intensitas, merujuk pada pengeluaran energi dan keterlibatan kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik. Dua variabel utama yang mempengaruhi intensitas adalah tingkat keserupaan (konsistensi) konflik di pelbagai asosiasi yang berbeza serta tingkat mobilitas. Tingkat konsistensi yang tinggi bermakna, para anggota dari kumpulan konflik saling berkonfrontasi dalam berbagai hubungan asosiasional. Hal ini berlaku kerana orang yang dominan pada satu asosiasi, juga dominan dalam asosiasi yang lain, sedangkan yang subordinat pada satu asosiasi juga demikian pada asosiasi yang lain. Selain itu, kesempatan untuk konflik yang luas dan mendalam akan semakin besar kalau tak satupun dari asosiasi yang terlibat mampu menyediakan peluang untuk mobilitas keatas. Semakin besar konsistensi antara persebaran penghargaan ekonomis, status sosial atau prestise, dan sebagainya, dengan persebaran otoritas, maka semakin besar pula intensitas konflik kelas (Johnson 1986; Poloma 2003).
Berbeda dengan intensitas konflik, maka kekerasan merujuk pada alat yang digunakan oleh pihak yang saling bertentangan untuk mengejar kepentingan.
Tingkat kekerasan boleh sangat bervariasi, mulai dari negosiasi yang penuh ketenangan sampai pada kekerasan terbuka, termasuk serangan fisik atas manusia dan miliknya. Tingkat deprivasi sosio ekonomis daripada mereka yang berada dalam posisi subordinat, merupakan faktor yang dapat membawa impak pada munculnya konflik yang keras.
Sehubungan dengan konflik sosial, George Simmel (Turner 1978;
Wirawan 2012) mengembangkan tiga perangkat proposisi tentang intensitas konflik bagi pihak yang terlibat dan fungsi konflik bagi sistem keseluruhan, dalam rangkaian proposisi tentang intensitas konflik. George Simmelmengemukakan
11 bahawa semakin tinggi derajat keterlibatan emosional pihak yang terlibat dalam suatu konflik, maka semakin kuat kecenderungan untuk mengarah pada kekerasan. Dalam konteks ini ada korelatif positif antara solidaritas antar anggota dalam suatu kumpulan dengan derajat keterlibatan emosional. Demikian pula ada korelasi positif antara harmoni awal (pervious harmony) antara anggota kumpulan yang bertikai dengan derajat keterlibatan emosional mereka. Selanjutnya, semakin suatu konflik dianggap telah merintangi pencapaian tujuan dan kepentingan individu oleh para anggota kumpulan yang bertikai, maka konflik itu cenderung menjadi kekerasan.
2.1.2 Teori Galtung tentang Munculnya Konflik dalam Masyarakat
Kajian ini merujuk kepada teori kekerasan struktural dan kultural dari Johan Galtung. Johan Galtung mengatakan bahawa konflik dapat dilihat sebagai sebuah segitiga, dengan kontradiksi (Contradiction = C), sikap (Attitude = A),perilaku (Behaviour = B) pada puncak-puncaknya. Kontradiksi merujuk pada dasar situasi konflik, termasuk “ketidakcocokan tujuan” yang ada atau dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, yang disebabkan oleh ”ketidakcocokan antara nilai sosial dan struktur sosial”. Kontradiksi ditentukan oleh pihak-pihak yang bertikai, hubungan mereka, dan benturan kepentingan inheren di antara mereka (Galtung 1973; Liliweri 2009).
Sikap ialah persepsi pihak-pihak yang bertikai dan kesalahan persepsi antara mereka dan dalam diri mereka sendiri, merupakan persepsi tentang isu-isu tertentu yang berkaitan dengan kumpulan lain. Dalam konflik dan kekerasan, pihak-pihak yang bertikai cenderung mengembangkan stereotip yang merendahkan satu sama lain. Sikap ini sering dipengaruhi oleh emosi seperti takut, marah, kepahitan, atau kebencian. Sikap tersebut termasuk elemen emotif (perasaan), kognitif (keyakinan) dan konatif (kehendak). Perilaku yang merupakan kerjasama atau pemaksaan, gerak tangan atau tubuh yang menunjukkan persahabatan atau permusuhan. Perilaku konflik dengan kekerasan dicirikan oleh ancaman, pemaksaan, dan serangan yang merusak.
Kontradiksi ialah kemunculan situasi yang melibatkan masalah sikap dan perilaku sebagai suatu proses. Dalam hal ini kontradiksi diciptakan oleh unsur
12 persepsi dan gerak kumpulan yang terlibat, yang hidup dalam persekitaran sosial.
Secara sederhana, sikap melahirkan perilaku, kemudian melahirkan kontradiksi atau situasi. Sebaliknya, situasi boleh melahirkan sikap dan perilaku. Konsep mengenai situasi kontradiksi yang didahului oleh sikap dan perilaku ini digambarkan pada skema segitiga ABC Galtung (lihat Rajah 2.1). Galtung berpendapat bahawa tiga komponen harus muncul dalam sebuah konflik total.
Struktur konflik tanpa sikap atau perilaku konfliktual merupakan sebuah konflik laten. Galtung melihat konflik sebagai proses dinamis, dimana struktur, sikap, dan perilaku secara konstan berubah dan saling mempengaruhi. Ketika konflik muncul, kepentingan pihak-pihak yang bertikai masuk ke dalam konflik atau hubungan dimana mereka berada. Kemudian pihak-pihak yang bertikai mengorganisasi diri di sekitar struktur ini untuk mengejar kepentingan mereka.
Mereka mengembangkan sikap yang membahayakan dan perilaku konfliktual, sehingga formasi konflik mulai tumbuh dan berkembang.
Gambar 2.1: Segitiga ABC Galtung Sumber : Johan Galtung (1973)
Konflik dapat melebar, menimbulkan konflik sekunder pada pihak-pihak utama, atau pihak-pihak yang terseret masuk. Hal ini akan merumitkan tugas menyelesaikan konflik intinya, dan pada akhirnya penyelesaian konflik harus melibatkan seperanangkat perubahan dinamis, yang melibatkan penurunan perilaku konflik, perubahan sikap, dan transformasi hubungan atau kepentingan yang berbenturan, yang berada dalam inti struktur konflik (Liliweri 2009; Susan 2009).
Contradiction (kontradiksi)
Behaviour (Perilaku) Attitude
(Sikap)
13 Pembahasan tentang konflik selalu mengarah pada upaya penyelesaiannya serta analisis mengenai sumber-sumber penyebab munculnya konflik tersebut.
Salah satu penjelasan mengenai sumber konflik yang diajukan oleh para pemerhati konflik adalah, adanya kelangkaan sumber daya untuk pemenuhan keinginan dan keperluan hidup individu dan masyarakat. Keadaan ini akan membuat banyak orang merasa tidak puas atas ketidakadilan distribusi sumber daya tersebut, dan ketika berlaku ketidakpuasan, maka akan berlaku konflik (Liliweri 2009).
Sehubungan dengan kelangkaan sumber pemenuhan keperluan hidup, maka setidaknya terdapat tiga faktor yang menjadi sumber konflik antara dua pihak, yaitu kepentingan (interest), kekuasaan (power), dan hak (right), yang mana :
1) Kepentingan sebagai obyek keperluan dan keinginan yang menjadi sumber konflik. Kedua pihak mempunyai keperluan dan keinginan yang sama terhadap obyek yang disengketakan, misalnya barang, uang, jasa layanan, dan lain-lain
2) Kekuasaan sebagai obyek keperluan dan keinginan yang menjadi sumber konflik. Kedua pihak mempunyai keperluan dan keinginan yang sama untuk memperoleh status dan peranan sehingga memiliki kewenangan yang dominan
3) Hak sebagai obyek keperluan dan keinginan yang menjadi sumber konflik.
Kedua pihak mempunyai keperluan dan keinginan yang sama untuk memperoleh tuntutannya, kerana masing-masing merasa bahawa tuntutan itu berkaitan dengan hak dan tanggungjawabnya.
Salah satu bentuk penyelesaian konflik yang mungkin ditawarkan ialah dengan memenuhi kepentingan semua pihak. Akan tetapi penyelesaian ini hanya menghentikan konflik untuk sementara waktu. Apabila sumber daya yang diperebutkan telah habis, maka situasi konflik akan muncul kembali. Cara yang lain, yaitu menyerahkan kekuasaan atau hak kepada salah satu pihak merupakan solusi konflik yang tidak berdampak kepada integrasi sosial. Cara ini adalah sebuah bentuk penyelesaian yang bersifat zero-sum solution, dan akan diikuti oleh penyalahgunaan wewenang dan hak oleh pihak dominan, yang kemudian akan
14 menimbulkan konflik yang baru. Oleh kerana itu, konflik sosial seringkali memiliki sifat berulang sesudah beberapa tahun mereda. Konflik sedemikian adalah kerana sumber konflik yang sebenarnya sulit terungkap, dan konflik tidak dapat diselesaikan dengan sepenuhnya. Selalu masih tersisa perbezaan-perbezaan yang akan memicu konflik pada masa-masa mendatang.
Johan Galtung menciptakan tiga dimensi kekerasan, yaitu kekerasan struktural, kekerasan kultural, dan kekerasan langsung. Kekerasan langsung seringkali didasarkan atas penggunaan kekuatan sumberdaya (resource power).
Kekuatan sumberdaya boleh dibagi menjadi kekuatan punitive yaitu kekuatan yang menghancurkan. Kemudian, kekuatan ideologis, kekuatan remuneratif yang cenderung menciptakan kekerasan budaya. Galtung mendefinisikan kekerasan budaya sebagai aspek budaya , iaitu ruang simbolik keberadaan manusia seperti agama dan ideologi, bahasa dan seni, ilmu empirik dan ilmu formal (logika, matematika), yang dapat dipakai untuk melegitimasi kekerasan langsung atau kekerasan struktural. Sedangkan kekerasan struktural tercipta dari penggunaan kekuasaan struktural atau penggunaan otoritas (wewenang) untuk menciptakan sebuah kebijakan. Jadual 2.2 ialah tipologi kekerasan yang disebutkan oleh Galtung (Galtung 1990).
Tabel 2.1: Tipologi kekerasan Galtung (Galtung’s typology of violence) Survival
needs
Well-being needs
Identity needs Freedom needs Kekerasan
langsung
Killing Maiming, siege, misery, sanction
Desocialization resocialization second citizen
Repression detention expulsion Kekerasan
struktural
exploitation exploitation Penetration segmentation
Marginalization fragmentation Sumber : Johan Galtung (1990)
Kekuatan sumberdaya dan kekuasaan struktural saling memperkuat.
Galtung mengungkapkan bahawa kekerasan struktural, kultural, dan langsung dapat menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan-kebutuhan dasar ini adalah kelestarian dan keberlangsungan hidup (survival needs), kesejahteraan (well-being needs), kebebasan (freedom needs), dan identitas (identity needs). Jika empat kebutuhan dasar ini mengalami tekanan atau kekerasan dari kekuasaan
15 personal dan struktural, maka konflik kekerasan akan muncul (Galtung 1973;
Susan 2009)
2.1.3 Pengendalian Konflik
Kemampuan sebuah masyarakat mengelola perselisihan kepentingan dan konflik erat kaitannya dengan mutu dan legitimasi struktur, lembaga, dan tata aturannya. Kunci untuk penyelesaian konflik secara damai ialah dengan mengembangkan lembaga-lembaga demokrasi yang stabil dan menghormati hak asasi manusia (Anwar 2005). Katup penyelamat (savety-valve) merupakan salah satu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kumpulan dari kemungkinan konflik sosial, membiarkan luapan permusuhan tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur, dan membersihkan suasana dalam kumpulan yang sedang kacau. Sebagaimana yang dikatakan oleh Lewis A. Coser melihat katup penyelamat itu sebagai jalan keluar yang dapat meredakan permusuhan antara dua pihak yang berlawanan. Lewat katup penyelamat (savety-valve) permusuhan dihambat dan diungkapkan dengan cara-cara yang tidak mengancam atau merusakkan solidaritas. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biaya bagi sistem sosial maupun bagi individu : mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif (Johnson 1986, Poloma 2003).
Secara umum, ada tiga macam bentuk pengendalian konflik, yakni : a) Konsiliasi, iaitu pengendalian konflik yang dilakukan dengan melalui lembaga- lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak bertikai ; b) Mediasi, iaitu pengendalian yang dilakukan apabila kedua-dua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator ; c) Arbritasi, iaitu pengendalian yang dilakukan apabila kedua- dua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan-keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik (Kerr dalam Dahrendorf 1986). Ketiga mekanisme pengendalian konflik ini banyak digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyelesaikan pelbagai konflik sosial yang berlaku.
16 Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Kerr sebelumnya, mengenai konsiliasi, mediasi, dan arbitrasi, berikut ini terdapat beberapa bentuk akomodasi lainnya. Akomodasi, ialah keadaan yang merupakan hasil dari interaksi yang bersifat damai (Summerdalam Narwoko 2010). Akomodasi sebagai proses sosial berlangsung dalam beberapa bentuk, masing-masing dapat disebutkan dan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemaksaan (coercion) proses akomodasi yang berlangsung melalui cara paksaan sepihak dan yang dilakukan dengan mengancam sanksi.
2. Kompromi (compromise) proses akomodasi yang berlangsung dalam bentuk usaha pendekatan oleh kedua belah pihak yang sadar menghendaki akomodasi, kedua belah pihak bersedia mengurangi tuntutan masing- masing sehingga dapat diperoleh kata sepakat mengenai titik tengah penyelesaian.
3. Pengguna jasa perantara (mediation) suatu usaha kompromi yang dilakukan sendiri secara langsung, melainkan dilakukan dengan bantuan pihak ketiga, dan tidak memihak, mencuba mempertemukan dan mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa atas dasar itikat kompromi kedua belah pihak.
4. Pengguna jasa penengah (arbitrate) suatu usaha penyelesaian sengketa yang dilakukan dengan bantuan pihak ketiga. Seperti halnya dengan perantara, penengah ini juga dipilih oleh kedua belah pihak yang bertikai.
Tetapi perantara itu sekedar mempertemukan kehendak kompromistis kedua-dua pihak, penengah ini menyelesaikan sengketa dengan membuat keputusan-keputusan penyelesaian atas dasar ketentuan-ketentuan yang ada.
5. Peradilan (adjudication) suatu usaha penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh pihak ketiga yang memang mempunyai authoriti untuk menyelesaikan konflik. Pengadilan (hakim) tidaklah dipilih oleh pihak- pihak yang bertikai seperti apa yang berlaku pada proses akomodasi melalui penengah. Akan tetapi, seperti halnya para penengah, para pengadilan (adjudication, khusus hakim) itu selalu menggunakan aturan- aturan tertentu sebagai standar penyelesaian sengketa.
17 6. Toleration, suatu bentuk akomodasi yang berlangsung tanpa manifestasi persetujuan formal macam apapun. Pertentangan berlaku kerana individu- individu bersedia menerima perbezaan-perbezaan yang ada sebagai suatu kenyataan, dan dengan kerelaan membiarkan perbezaan itu, serta menghindari diri dari pertelingkahan-pertelingkahan yang mungkin timbul.
7. Stalemat, adalah suatu bentuk akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan tiba pada suatu posisi “maju tidak boleh dan mundur tidak boleh”. Stalemate adalah suatu situasi kemacetan yang stabil, sehingga beberapa pihak mengatakan bahawa stalemate bukanlah proses akomodasi melainkan resultant suatu proses akomodasi
Beberapa cara lain yang digunakan dalam usaha mengendalikan konflik, dinyatakan oleh Moore Christopher (Susan 2009). Bentuk-bentuk pengendalian dan proses pengurusan konflik yang dimaksud iaitu:
a. Avoidance ialah pihak-pihak berkonflik saling menghindari dan mengharap konflik boleh terselesaikan dengan sendirinya.
b. Informan problem solving ialah pihak-pihak yang berkonflik setuju dengan pemecahan masalah yang diperoleh secara informal.
c. Negotiation ketika konflik masih terus berlanjut, maka para pihak berkonflik perlu melakukan negosiasi. Artinya mencari jalan keluar dan pemecahan masalah secara formal. Hasil dari negosiasi bersifat prosedural yang meningkat semua pihak yang terlibat dalam negosiasi.
d. Mediation ialah munculnya pihak ketiga yang diterima oleh kedua pihak kerana dipandang boleh membantu parah pihak berkonflik dalam penyelesaian konflik secara damai.
e. Executivedispute resolution approach iaitu kemunculan pihak lain yang memberi suatu bentuk penyelesaian konflik.
f. Arbitration suatu proses tanpa paksaan dari para pihak berkonflik untuk mencari pihak ketiga dipandang netral atau imparsial.
g. Judicial approach berlakunya intervensi yang dilakukan oleh lembaga- lembaga berwenang dalam memberi kepastian hukum.
18 Langkah-langkah penyelesaian konflik dan pertikaian sosial mana yang sesuai tentunya sangat bergantung kepada sumber konflik, pencetus konflik, keterlibatan pihak-pihak yang berkonflik serta tingkat intensitas konflik. Faktor pencetus konflik dan pertikaian kerapkali bukan merupakan sumber konflik yang sebenarnya. Pencetus konflik ialah suatu tindakan atau kejadian yang langsung mencetuskan pertikaian antara kedua-dua pihak. Sedangkan sumber konflik merupakan akar permasalahan yang harus ditarik jauh ke belakang secara historis, yang akan memberikan penjelasan secara substansi mengenai asal-muasal kebencian antara pihak-pihak yang bertikai.
Pengendalian atau penyelesaian konflik yang hanya berasas kepada faktor pencetus konflik, tidak akan menghasilkan sebuah solusi yang menyeluruh dan mendalam, namun mungkin hanya akan meredam pertikaian atau kekerasan pada masa yang singkat sahaja, dan tidak lama kemudian akan muncul pertikaian yang serupa, bahkan mungkin dengan intensitas yang lebih kuat. Oleh itu, beberapa konflik yang berlaku tidak dapat benar-benar dihapuskan, dan akan berulang pada bilangan masa tertentu. Sumber setiap pertikaian ialah kebencian yang tersimpan.
Apabila kebencian kepada pihak yang berkuasa tidak mampu diungkapkan, maka akan berlaku transfer of hate, iaitu kebencian yang dialihkan kepada pihak lain yang mewakili kepentingan lawan yang berkuasa tersebut. Pada keadaan seperti ini tentu konflik dan pertikaian menjadi fenomena yang sangat sukar untuk diselesaikan, terutama untuk mendapatkan sumber konfliknya, kerana sebenarnya pada setiap pertikaian memiliki nilai pembenarannya sendiri.
Dalam rangka upaya pembangunan sosial ekonomi perdesaan sekitar hutan Tesso Nilo saat ini dibutuhkan strategi khusus yang mampu mengintegrasikan tujuan konservasi alam, perbaikan sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan dan penguatan fiskal bagi pembangunan daerah secara terpadu. Untuk itulah diperlukan suatu pendekatan pengelolaan pembangunan perdesaan sekitar kawasan hutan Tesso Nilo (yang sebagaimana kini sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional Tesso Nilo) yang menganut prinsip “dari pembangunan konservasi untuk pembangunan ekonomi ke arah pembangunan ekonomi untuk pembangunan berkelanjutan”.
19 Upaya mengembangkan pembangunan konservasi ini membutuhkan strategi yang integral dengan pembangunan sosial ekonomi masyarakat desa-desa di sekitar hutan mengingat sejatinya masyarakat perdesaan sekitar hutan adalah bagian tidak terpisahkan dari pemangku kepentingan utama pembangunan itu sendiri. Secara khusus dalam upaya pembangunan TNTN, persepktif ini menjadi sangat relevan karena sesuai pula dengan visi pembangunan daerah Provinsi Riau yang memprioritaskan penanggulangan K2I (kemiskinan, kebodohan dan infrastruktur) yang antara lain dengan memberikan perhatian khusus terhadap upaya untuk membangun otonomi desa. Inilah momentum untuk membuktikan komitmen berbagai pihak dalam menyelaraskan pembangunan daerah yang mampu mengakomodasi asas-asas fungsi ekologis, ekonomis dan sosial budaya dalam membangun kehidupan yang lebih berkualitas di perdesaan sekitar kawasan hutan Tesso Nilo Provinsi Riau.
Secara teoritik, masalah pembangunan perdesaan di sekitar hutan dapat dijelaskan sebagai masalah persaingan yang kompleks antara kepentingan konservasi untuk pelestarian lingkungan alam dengan kepentingan ekonomi dan sosial dalam pemanfaatan sumber daya hutan. Hal ini meliputi kepentingan yang terkait dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa dalam tradisi dan pengalaman praktek-praktek pemanfaatan sumberdaya hutan maupun yang terkait dengan persaingan antara usaha ekonomi “kapitalistik” dengan usaha ekonomi “rakyat” yang tidak seimbang. Hal yang disebutkan terkahir bisanya juga dilingkupi pula masalah struktural dalam pembangunan yang tidak terpisahkan dalam proses pembangunan yang bersifat sentralistik dan uniformitas yang juga sudah cukup lama berlangsung.
Berkenaan dengan ini diperlukan suatu pendekatan terpadu dalam kelola kawasan, kelola usaha dan kelola sosial yang hendaknya mampu mengupayakan rekonsiliasi antara para pemangku kepentingan dalam pembangunan.
Pembangunan perdesaan di sekitar hutan dengan sendirinya secara khas juga membutuhkan perhatian penyesuaian terhadap keadaan ekologi, ekonomi, sosial dan budaya setempat dengan memposisikan masyarakat perdesaan sebagai pemangku utama pembangunan.
20 2.2 KERANGKA PEMIKIRAN
Gambar 2.2 : Kerangka Pemikiran“Konflik Antar Pemangku Kepentingan di Taman Nasional Tesso Nilo Provinsi Riau”
KONFLIK
Masyarakat Pemerintah Pengelola TNTN Perusahaan
Daerah
Sumber
Kepentingan (interest)
Kekuasaan (power)
Hak (right) Taman Nasional
Tesso Nilo (TNTN)
RESOLUSI:
Konsiliasi
Mediasi
Arbritasi
21
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dalam rangka penyusunan rekomendasi teknis pembangunan sosial ekonomi masyarakat perdesaan di sekitar hutan Tesso Nilo Provinsi Riau.
Daerah sasaran penelitian ini meliputi 22 desa sekitar kawasan TNTN yang tersebar di empat kabupaten di Provinsi Riau, yakni: Pelalawan, Indragiri Hulu, Kampar dan Kuantan Singingi.
3.2 Informan
Karena penelitian ini merupakan studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif, maka pengambilan informan dilakukan berdasarkan tujuan tertentu, yaitu untuk memperoleh gambaran seluas-luasnya tentang konflik antar pemangku kepentingan di seputar Taman Nasional Tesi Nilo. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh terkait dengan masyarakat, otoritas pemerintah pengelola kawasan, perusahaan dan pemerintahan daerah.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan dengan menerapkan metode dan teknik pengumpulan data untuk masing-masing tahapannya adalah sebagai berikut.
Tahap I. Pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan intervensi kebijakan dan program pembangunan yang pernah dilakukan pemerintah serta pihak lain, baik tingkat nasional maupun daerah. Bersamaan dengan ini dilakukan pengumpulan data tentang keadaan demografis, peta wilayah, potensi sumber daya, keadaan ekonomi perdesaan, tingkat kemiskinan, kategori dan intervensi pembangunan yang pernah dilakukan terkait dengan keberadaan perusahaan- perusahan besar yang melakukan akumulasi kapital di sekitar kawasan hutan Tesso Nilo ini. Data sekunder dikumpulkan melalui laporan penelitian terdahulu, dinas dan instansi terkait serta berbagai dokumen yang relevan.
22
Tahap II. Pengumpulan data primer tentang struktur sosial, kehidupan sosial budaya, pola mata pencaharian, seluk beluk aktivitas ekonomi menurut jenis-jenis usaha perdesaan, konflik antar para pemangku kepentingan dan strategi survival keluarga perdesaan di sekitar hutan. Data dikumpulkan dengan metode pengamatan langsung (direct observation), wawancara mendalam (depth interview) dan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) melalui kunjungan lapangan dan transek ke desa-desa sasaran penelitian. Dalam melaksanakan wawancara mendalam dan FGD, antara 5-10 orang terdiri dari pemimpin formal, pemimpin informal dan warga petani di setiap desa-desa sasaran penelitian yang dikunjungi telah menjadi informan kunci dalam penelitian ini. Pada tahap ini juga dilakukan verifikasi data sekunder dan temuan-temuan data primer awal secara langsung dengan pemerintah (dinas/instansi terkait di tingkat provinsi Riau dan keempat kabupaten yang mewilayahi TNTN), peneliti dari perguruan tinggi setempat, praktisi NGO dan Forum Masyarakat Tesso Nilo.
Melalui tahapan ini, didapatkan kategorisasi masyarakat menurut tingkat kemiskinannya, kategorisasi dan karakteristik usaha ekonomi perdesaan di sekitar hutan serta peta konflik dan resolusi konflik antar para pemangku kepentingan pembangunan. Banyak data penting dan relevan berupa kekayaan informasi kualitatif yang telah didalami sesuai dengan tujuan penelitian ini.
Tahap III. Melakukan crosscheck melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama para pihak (multi-steakholders/actors) dengan tujuan melakukan pembahasan partisipatif dan multi-pihak dalam rangka menemukan usulan pilihan-pilihan strategi pembangunan berkelanjutan yang tepat dan layak terap oleh pemerintah daerah dalam rangka pembangunan sosial ekonomi masyarakat perdesaan di sekitar hutan Tesso Nilo Provinsi Riau.
3.4 Teknik Analisis Data
Sesuai dengan prinsip pendekatan penelitian yang digunakan, penelitian ini tidak berpretensi untuk mencapai tujuan generalisasi ataupun representatifitas yang dapat dilengkapi melalui pelaksanaan survei opini publik dan respon masyarakat desa serta evaluasi kebijakan publik dalam studi-studi lanjutan di masa akan datang.
23
Teknik analisa data dalam penelitian ini mengacu pada model interaktif Huberman dan Miles (dalam Bungin, 2003:69). Teknik analisis data model interaktif huberman dan Miles menyatakan adanya sifat interaktif antara kolektif data atau pengumpulan data dengan analisis data. Analisis data yang dimaksud yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan.
Gambar 3.1 Analisis Data Model Interaktif Huberman dan Miles
Reduksi data adalah mengelola data dengan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan dan membuang data yang tidak diperlukan serta mengorganisir data tersebut. Dengan mengorganisir data maka dapat dengan mudah menyajikan atau memaparkan data-data yang diperlukan untuk disimpulkan dengan cara induktif pada penelitian, dengan demikian dapat ditarik kesimpulan atau verifikasi dalam menganalisis data penelitian (Bungin, 2003).
Reduksi Data
Pengumpul Data
Penyajian Data
Penarikan Kesimpulan (Penarikan/ Verifikasi)
24
BAB IV
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DESA SEKITAR TESSO NILO
Di dalam peta wilayah Provinsi Riau antara lain dapat ditemukan adanya dua buah sungai bernama Sungai Tesso dan Sungai Nilo yang melintasi empat daerah kabupaten yakni Pelalawan, Indragiri Hulu, Kampar dan Kuantan Singingi, tepat di bagian inti dan masing-masingnya membelah di bagian tengah wilayah Riau ibaratkan jantungnya provinsi ini. Kedua sungai ini hingga sekarang masih dikitari kawasan hutan alam paru-paru penghasil oksigen terpenting dari kawasan hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatra. Secara hidrologis, kedua sungai ini juga memiliki fungsi tata air yang penting sebagai kawasan tangkapan air dan menjadi kesatuan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tidak terpisahkan dengan Sub-DAS Kampar DAS Indragiri Rokan.
Bagi kalangan komunitas peneliti dan praktisi konservasi, kawasan sekitar Sungai Tesso dan Sungai Nilo ini kemudian lebih populer disebut dengan nama kawasan hutan Tesso Nilo dan sejak Tahun 2004 telah dikukuhkan pula secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
4.1 Letak Administratif dan Sebaran Desa
Menurut pembagian wilayah administratif, 22 desa sekitar kawasan hutan Tesso Nilo ini tersebar di 4 kabupaten di Provinsi Riau, yaitu: Pelalawan, Indragiri Hulu, Kampar dan Kuantan Singingi. Menurut pembagian wilayah Kecamatannya, Desa-desa ini terbagi lagi ke dalam 9 Kecamatan, masing-masing 3 Kecamatan di Kabupaten Pelalawan, 1 Kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu, 2 Kecamatan di Kabupaten Kampar dan 3 Kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi.
Secara terperinci daftar desa sekitar TNTN menurut pembagian wilayah administratif kecamatan dan kabupaten yang menaungi selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini:
25 Tabel 4.1 Nama Desa Sekitar TNTN Menurut Pembagian Wilayah Administratif
KABUPATEN KECAMATAN DESA
Pelalawan
Langgam 1. Pangkalan Gondai
Langgam 2. Segati
Pangkalan Kuras 3. Kesuma/Sei Medang
Ukui 4. Lubuk Kembang Bunga
Ukui 5. Air Hitam
Indragiri Hulu
Pasir Penyu 6. Pontian Mekar
Pasir Penyu 7. Tasik Juang
Pasir Penyu 8. Sei. Beras-beras
Kelayang 9. Air Putih
Kampar
Kampar Kiri 10. Gunung Sari
Kampar Kiri 11. Suka Makmur
Kampar Kiri 12. Gunung Sahilan
Kampar Kiri Hilir 13. Rantau Kasih
Kuantan Singingi
Kuantan Hilir 14. Gunung Melintang Logas Tanah Darat 15. Situgal
Logas Tanah Darat 16. Rambahan Logas Tanah Darat 17. Perhentian Luas Logas Tanah Darat 18. Giri Sako Logas Tanah Darat 19. Lubuk Kebun Logas Tanah Darat 20. Hulu Tesso Logas Tanah Darat 21. Logas Tanah Darat Singingi Hilir 22. Suka Maju Sumber: WWF Riau, 2015
Pengidentifikasian 22 desa sekitar TNTN ini tidak terlepas dari langkah yang lebih awal dilakukan WWF Indonesia, Ada 3 kriteria yang digunakan sebagai acuan penentuan desa-desa perbatasan TNTN ini, yaitu:
1) Letak geografis desa dekat/berdekatan dengan kawasan TNTN dan kawasan yang masih diusulkan untuk menjadi kawasan perluasan TNTN, 2) Desa sering mengalami gangguan serangan gajah, dan
3) Desa memiliki hak ulayat di kawasan TNTN dan kawasan yang masih diusulkan untuk menjadi kawasan perluasan TNTN.
4.2 Tipologi Desa dan Keadaan Demografi
Secara demografis, desa-desa sekitar kawasan TNTN ini dapat dibagi ke dalam 3 tipologi desa, yakni: desa asli, desa transmigrasi dan desa campuran (mix).
26
Pertama, tipologi desa asli dengan ciri-ciri utamanya mayoritas penduduk desa adalah penduduk tempatan atau penduduk asal setempat yang mengklaim diri secara umum bersuku bangsa Melayu Riau. Sebagian besar desa bertipologi ini merupakan desa-desa dengan sejarah pembentukan desanya lebih tua atau lebih dahulu dibandingkan dua kategori desa yang lainnya. Namun demikian ditemukan juga adanya desa-desa asli dengan riwayat pembentukannya relatif baru sebagai hasil ekspansi penerukaan penduduk tempatan.
Kedua, tipologi desa transmigrasi dengan ciri-ciri utamanya mayoritas penduduk desa terdiri dari warga transmigran asal Pulau Jawa. Sebagai desa yang dibentuk secara resmi menjadi desa permanen dengan sendirinya warga desa-desa transmigrasi ini juga telah menjadi penduduk permanen di daerah ini dari hasil program nasional transmigrasi sejak tahun 1970an. Umumnya keluarga kaum transmigran asal Pulau Jawa di daerah ini kini telah terdiri atas 2-3 generasi.
Ketiga, tipologi desa campuran (mix) dengan ciri-ciri utama komposisi penduduknya terdiri atas beragam latar belakang suku bangsa yang merupakan campuran antara penduduk yang berasal dari desa-desa asli sekitarnya dan penduduk pendatang yang berasal dari daerah seprovinsi dan dari luar provinsi Riau. Selain penduduk asal Melayu Riau, di perdesaan ini dapat ditemui juga warga suku bangsa lainnya seperti Batak, Jawa, Nias, Minangkabau dan lain-lain.
Desa-desa tipologi ketiga ini umumnya berdiri lebih akhir dibandingkan desa-desa dari kedua tipologi desa lainnya. Desa-desa campuran ini umumnya berdiri melalui proses transmigrasi swakarsa yang mengikuti berlangsungnya pembukaan hutan dan lahan yang telah meningkat sangat pesat di kawasan ini di era akhir tahun 1970an dan 1980an. Dapat dipastikan bahwa pendirian desa-desa ini terkait erat dengan hadirnya aktivitas-aktivitas akumulasi kapital skala besar yang diselenggarakan kontraktor-kontraktor HPH, perkebunan kelapa sawit, HTI dan pengembangan industri pulp, serta tidak terkecuali juga karena adanya program transmigrasi resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah nasional.
Menurut data BPS (2014) desa-desa sekitar TNTN ini didiami oleh lebih dari 41.181 jiwa penduduk yang terdiri dari 9.775 KK. Adapun gambaran
27
terperinci mengenai jumlah penduduk di 22 desa sekitar TNTN ini dapat dilihat dari Tabel 4.2 di bawah ini:
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk dan Jumlah KK di Desa-Desa Sekitar TNTN
KABUPATEN KECAMATAN DESA JUMLAH
PENDUDUK
JUMLAH KK
Pelalawan
Langgam 1. Pangkalan
Gondai 2.114 497
Langgam 2. Segati 1.918 460
Pangkalan Kuras 3. Kesuma/Sei
Medang 1.515 341
Ukui 4. Lubuk Kembang
Bunga 1.792 392
Ukui 5. Air Hitam 2.022 484
Indragiri Hulu
Pasir Penyu 6. Pontian Mekar 1.796 476
Pasir Penyu 7. Tasik Juang 1.239 272
Pasir Penyu 8. Sei. Beras-beras 1.633 392
Kelayang 9. Air Putih 3.963 963
Kampar
Kampar Kiri 10. Gunung Sari 3.977 844
Kampar Kiri 11. Suka Makmur 2.851 709
Kampar Kiri 12. Gunung Sahilan 1.569 325
Kampar Kiri Hilir 13. Rantau Kasih 596 146
Kuantan Singingi
Kuantan Hilir 14. Gunung
Melintang 2.650 701
Logas Tanah Darat 15. Situgal 215 51
Logas Tanah Darat 16. Rambahan 687 160
Logas Tanah Darat 17. Perhentian Luas 2.056 463
Logas Tanah Darat 18. Giri Sako 1.921 480
Logas Tanah Darat 19. Lubuk Kebun 364 96
Logas Tanah Darat 20. Hulu Tesso 1.284 311 Logas Tanah Darat 21. Logas Tanah
Darat 569 139
Singingi Hilir 22. Suka Maju 4.450 1.073
JUMLAH 41.181 9.775
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2015
Gambaran data penduduk yang dipaparkan di atas memperlihatkan bahwa jumlah penduduk antar desa bervariasi besarnya dan secara umum menunjukkan proporsi seimbang antara jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa pertumbuhan penduduk di daerah ini sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh faktor tingginya tingkat migrasi penduduk pendatang dibandingkan pertumbuhan alamiah dari penduduk asal di daerah ini sendiri.
Adapun keadaan sumber daya manusia di desa-desa sekitar TNTN dapat dikatakan masih memprihatinkan sehingga perlu perhatian dan terobosan untuk mengatasinya. Dari sumber resmi kependudukan tingkat provinsi yang tersedia di
28
BPS (2014) ditunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk di desa-desa sekitar TNTN ini tergolong rendah dengan ciri-ciri mayoritas penduduk maupun Kepala Keluarga di desa-desa ini hanya berpendidikan terakhir tidak tamat dan tamat Sekolah Dasar.
Sebagian besar penduduk desa sekitar hutan Tesso Nilo mata pencahariannya bergerak dalam sektor pertanian perdesaan. Pertanian tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit serta mencari kayu ke kawasan hutan masih merupakan mata pencaharian utama masyarakat desa sekitar kawasan hutan Tesso Nilo. Sebagian kecil masyarakat seperti di Desa Gunung Sahilan dan Rantau Kasih di Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar, Hulu Tesso Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi, Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan dan desa-desa di pinggiran sungai lainnya juga memiliki mata pencaharian sebagai nelayan mencari ikan di sungai- sungai utama di sekitar permukiman mereka. Kegiatan berternak sapi dan kerbau serta memelihara ayam juga dijumpai di sejumlah desa, tetapi umumnya masih kurang berkembang. Cara berternak sapi misalnya secara umum masih dilakukan dengan sistem dilepas dan biasanya memang belum dijadikan andalan pendapatan keluarga. Desa Perhentian Luas, Desa Rambahan, Desa Situgal dan Desa Logas di Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi, Desa Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui dan Desa Pangkalan Gondai Kecamatan Langgam di Kabupaten Pelalawan mengandalkan juga lebah madu sebagai mata pencaharian sampingan penduduk. Sementara itu, kehadiran banyaknya perusahaan besar yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan dan industri pengolahan hasil hutan di daerah ini tampaknya belum memberi kontribusi berarti dalam menampung tenaga kerja di sektor jasa dan formal dari kalangan penduduk asal desa-desa sekitarnya. Penyerapan tenaga kerja lokal mulai dari pekerja buruh harian hingga pekerja terampil dan profesional relatif sangat rendah. Tingkat penyerapan tenaga kerja lokal yang terbesar hanya untuk buruh harian perkebunan, sedangkan untuk tenaga kerja terampil dan profesional di perusahaan sangatlah kecil.
29
4.3 Sistem Organisasi Sosial
Kehidupan masyarakat desa sekitar kawasan hutan Tesso Nilo antara lain juga perlu dipahami dari sudut pandang sosial budaya yang meliputi sistem organisasi sosial tradisional masyarakat desa sekitar kawasan ini. Secara sosio- kultural, khususnya apabila merujuk pada pembagian sosio-kultural masyarakat tempatan, desa-desa sekitar kawasan hutan Tesso Nilo dapat pula dibagi ke dalam dua varian sistem organisasi sosial tradisional. Pertama, desa-desa yang secara organisasi sosial dominan mengikuti sistem perbatinan atau dalam istilah setempat biasa juga disebut menganut adat Melayu Petalangan. Desa-desa yang menganut sistem organisasi sosial tradisional seperti ini terutama dapat ditemukan di daerah perdesaan sekitar TNTN di kabupaten Pelalawan dan kabupaten Indragiri hulu, seperti:
1. Desa Pangkalan Gondai 2. Desa Segati
3. Desa Desa Kesuma/Sungai Medang 4. Desa Lubuk Kembang Bunga 5. Desa Air Hitam
6. Desa Pontian Mekar 7. Desa Tasik Juang 8. Desa Sei. Beras-Beras 9. Air Putih
Kedua, desa-desa sekitar TNTN yang menganut sistem kepenghuluan dengan sistem organisasi sosial dan kekerabatan yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau. Dalam penggolongan sosial-budaya Minangkabau memang dikenal adanya pengkategorian mengenai daerah rantau, yang wilayahnya meliputi beberapa daerah di Provinsi Riau, seperti di kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi. Dalam hal ini patut dicatat meskipun dinyatakan mendapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau, tetapi pada hakikatnya terdapat cukup banyak juga perbedaan dan kekhasan yang menjadikan sistem kehidupan sosial budaya masyarakat desa-desa ini unik dan tidak dapat digeneralisasi sebagaimana kedudayaan Minangkabau sendiri yang sejatinya juga
30
bersifat plural. Adapun desa-desa sekitar TNTN yang dominan menganut sistem kepenghuluan ini secara administratif berada di kabupaten Kampar dan kabupaten Kuantan Singingi, seperti:
1. Desa Gunung Melintang 2. Desa Situgal
3. Desa Ramabahan 4. Desa Perhentian luas 5. Desa Giri Sako 6. Desa Lubuk Kebun 7. Desa Hulu Tesso
8. Desa Logas Tanah Darat 9. Desa Suka Maju
10. Desa Gunung Sari 11. Desa Suka Makmur 12. Desa Gunung Sahilan 13. Desa Rantau Kasih
Secara tradisional, baik sistem pebatinan maupun sistem kepenghuluan merupakan kesatuan kelompok masyarakat yang tersusun berdasarkan struktur dan hubungan hubungan kekerabatan. Dari para tetua adat disebutkan bahwa terdapat perbedaan sistem adat antara kedua masyarakat yang menganut sistem organisasi sosial ini. Perbedaan itu terutama terlihat dalam pola kepemimpinan pada sistem perbatinan yang dinyatakan lebih bersifat otokrasi dengan undang adat “lantak luka”, sedangkan sistem kepenghuluan lebih bersifat demokratis, dengan undang adat “lantak bane”.
Hubungan antara anggota-anggota suku atau kerabat dengan pemimpin tradisional pada masing-masing masyarakat ini dilukiskan bahwa dalam sistem pebatinan agak lebih longgar dibandingkan pada masyarakat yang menganut sistem kepenghuluan. Longgar dalam pengertian lemahnya solidaritas sosial pada tingkat kesatuan komunitas wilayah pebatinan. Solidaritas sosial biasanya masih terpelihara pada tingkat keluarga luas ataupun kesatuan sosial berdasarkan territorial yang terikat oleh kerja sama aktivitas mata pencaharian seperti dalam
31
pembukaan ladang, berburu dan dalam melawan serangan-serangan dari binatang atau dari warga masyarakat lainnya. Sifat individualistik, sebagai konsekuensi dari pola okupasi yang kurang berkembang (tetap bertahan sebagai petani peladang) dalam masyarakat pebatinan, dalam banyak hal tidak menguntungkan dalam usaha melakukan perbaikan kualitas hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Pada masyarakat desa-desa pertalangan yang biasanya hidup lebih di daerah pedalaman terdapat kecenderungan untuk hidup mengelompok berdasarkan ikatan kekerabatan dan memberi corak terhadap pola pembentukan pemukiman. Menurut Parsudi Suparlan (1993), ada beberapa pola pengelompokan tempat tinggal pada masyarakat Melayu yang menganut sistem pebatinan ini seperti ini, seperti: 1) ada kecenderungan memilih tempat tinggal berdekatan dengan orang tua, mertua, saudara sekandung; 2) ada kecenderungan memilih tempat tinggal berdekatan dengan saudara sepupu, saudara angkat, saudara laki- laki dari ibu, saudara-saudara kandung ibu atau bapak; 3) memilih tempat tinggal dengan orang-orang yang berasal dari pebatinan yang sama. Pola seperti ini sampai sekarang juga kami temui di sejumlah desa pertalangan, termasuk di kampong-kampung daerah penerukaan baru yang dipelopori oleh penduduk tempatan di desa-desa sekitar TNTN di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu.
Di desa-desa yang masyarakatnya mengklaim menganut pengaruh kebudayaan matrilineal Minangkabau seperti di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi ditemukan susunan kekerabatan yang ditarik berdasarkan garis keturunan ibu. Setiap individu adalah anggota dari kaum dan suku ibunya. Keluarga matrilineal ini tersusun dalam struktur keluarga luas (extended family) yang dipimpin oleh ninik mamak. Di antara sesama anggota sekerabat matrilineal ini tidak diperkenankan menjalin tali perkawinan karena melanggar prinsip perkawinan eksogami suku. Namun demikian terdapat perbedaan yang mendasar dibandingkan dari praktek-praktek umum adat yang masih berlaku di tanah Minangkabau, misalnya dalam pola kepemilikan komunal, sistem pewarisan dan pola pengambilan keputusan yang di dalam praktek di desa-
32
desa sekitar Tesso Nilo ini ternyata lebih meniru prinsip-prinsip sistem patrilineal yang secara struktural lebih cenderung menguntungkan posisi kaum laki-laki.
Meskipun terdapat perbedaan ideasional mengenai sistem organisasi sosial dan struktur kepemimpinan tradisional antara sistem pebatinan dengan sistem kepenghuluan, namun di dalam kenyataannya perbedaan ini juga tidaklah selalu menonjol terlihat dalam tataran praktek kehidupan sosial budaya masyarakat desa sekitar kawasan Tesso Nilo. Struktur kepemimpinan tradisional dalam masyarakat yang menganut sistem pebatinan di desa-desa sekitar kawasan Tesso Nilo biasanya terdiri dari: Batin, Ninik Mamak dan kepala keluarga inti atau kepala rumah tangga. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kepenghuluan struktur kepemimpinannya terdiri dari atas: Penghulu, Mamak nan Barompek, Mamak Sako dan Tungganai. Di desa-desa ataupun di kampung-kampung yang menganut sistem pebatinan maupun kepenghuluan terdapat pengelompokan kekerabatan yang disebut suku. Nama-nama suku pada kedua sistem ini ternyata juga tidak memperlihatkan banyak perbedaan, seperti pada beberapa desa dengan sistem pebatinan terdapat beberapa nama-nama suku seperti: Melayu, Mandahiling, Palabi dan Piliang. Hanya saja di dalam masyarakat yang menganut sistem kepenghuluan, nama-nama suku ini biasanya lebih banyak, seperti:
Mandahiling, Melayu, Kampuang Salapan, Piliang, Pitopang, Melayu Darek, Melayu Kepalo Koto, Domo, Caniago dan lain-lain.
Dalam kenyataannnya di banyak desa sekitar kawasan Tesso Nilo pengaruh sistem organisasi sosial dan kepemimpinan tradisional umumnya semakin memudar. Bahkan ada sejumlah desa yang sebenarnya sistem organisasi sosialnya tidak lagi dapat dikategorikan ke dalam kedua sistem organisasi sosial berbasis kebudayaan penduduk tempatan tersebut. Hal ini terutama dapat dijumpai di sebagian besar desa-desa bentukan baru melalui transmigrasi yang diprakarsai pemerintah nasional maupun transmigrasi swakarsa. Desa-desa ini biasanya mayoritas penduduknya adalah warga pendatang. Desa-desa ini meliputi daerah perdesaan sekitar TNTN bertipologi desa transmigrasi dan desa campuran (mix), seperti:
1. Desa Pontian Mekar
33
2. Desa Tasik Juang 3. Desa Sei. Beras-Beras 4. Desa Air Putih
5. Desa Gunung Sari 6. Desa Suka Makmur 7. Desa Giri Sako 8. Desa Hulu Tesso 9. Desa Suka Maju
4.4 Sistem Kepemilikan dan Hak-hak Tradisional atas Tanah
Sistem pemilikan tanah dalam masyarakat perdesaan sekitar kawasan hutan Tesso Nilo baik yang menganut sistem organisasi sosial pebatinan maupun kepenghuluan bersifat komunal. Menurut klasifikasi beberapa tipe pemilikan tanah yang dikemukakan oleh World Bank, pola penguasaan dan pemilikan tanah seperti ini masih dapat digolongkan ke dalam tipe komunal tradisional dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. konsentrasi pemilikan yang rendah – dimana hak kedaulatan berada pada komunitas,
2. pengolahan tanah tidak terpusat dan hak pengelolaan berada pada anggota-anggota kelompok,
3. kesama-rataan sosial ekonomi yang tinggi, 4. produktifitas tenaga kerja rendah,
5. produktifitas tanah rendah, 6. intensitas tenaga kerja rendah, 7. intensitas modal rendah,
8. produksi lebih berorientasi subsistensi, dan
9. struktur jasa dan pelayanan pendukung masih terkebelakang.
Hampir semua informan pemuka adat yang ditemui, menyatakan bahwa seluruh tanah dan hutan Tesso Nilo beserta semua tanaman yang ada di atasnya dikenai hak ulayat milik komunal dari suku ataupun pebatinan yang ada di daerah tersebut. Adapun otoritas tertinggi atas hak ulayat ini, dalam masyarakat yang
34
menganut sistem pebatinan otoritasnya dipegang oleh Batin sedangkan pada desa- desa yang menganut sistem kepenghuluan otoritasnya dipegang oleh Datuk/Penghulu.
Sistem kepemilikan tanah secara komunal tradisional seperti ini sampai sekarang umumnya masih tetap dipertahankan oleh masyarakat tempatan di sekitar kawasan hutan Tesso Nilo. Dalam contoh kasus adanya penebangan pohon sialang (jenis pohon tempat lebah menghasilkan madunya) yang dilakukan oleh pihak perusahaan pemegang HPH, maka suku ulayat pemilik lahan tersebut mengajukan keberatan kepada perusahaan dan menuntut denda ganti rugi sesuai dengan adat yang berlaku. Setelah melalui proses yang cukup panjang, dan ketika tidak dapat diselesaikan melalui jalur penegakan hukum adat, perkaranya bahkan dilanjutkan hingga ke pengadilan negara. Hasilnya keputusan pengadilan mengabulkan tuntutan komunitas adat, sehingga meskipun perusahaan melakukan penebangan di areal konsesi HPHnya, pihak perusahaan yang melakukan penebangan pohon sialang itu tetap dikenai denda membayar ganti rugi kepada suku pemegang ulayat atas tanah tersebut.
Tetapi, walaupun pengakuan hak ulayat dan kepemilikan komunal atas lahan dan hutan diakui dan tetap dipegang dengan teguh oleh masyarakat tempatan, terdapat pemandangan umum bahwa pengaturan penggunaan dan penguasaan atas lahan dan hutan di kawasan ini ternyata relatif longgar. Pada suatu lahan atau hutan yang dimiliki oleh suku atau batin tertentu misalnya, tidak berarti hanya anggota suku atau batin bersangkutan itu saja yang berhak menggunakan dan menguasainya. Anggota dari suku atau batin lain di daerah itu juga dapat meminta dan menerima hak untuk membuka ladang, mengambil kayu, mendirikan rumah, memetik buah-buahan yang ada di dalamnya dan berburu hewan. Urusannya tidaklah rumit, cukup dengan mengurusnya kepada batin, atau datuk, atau penghulu atau ninik mamak pemegang otoritas hak ulayat untuk meminta izin. Dalam kehidupan tradisional dahulunya dikenal adanya syarat mengisi adat.
Dengan perkataan lain, ini berarti bahwa adanya pola kememilikan atas tanah dan hutan oleh batin atau suku tertentu, sifatnya tidak terlalu mengikat