PENEGAKAN HUKUM TERHADAP WANITA YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PERJUDIAN
DI KOTA LANGSA
M. Irsan1, Zuleha, S.H., M.H2, Andi Rachmad, S.H., M.H3
1Mahasiswi Fakultas Hukum,2,3Dosen Fakultas Hukum Unsam
Fakultas Hukum,Universitas Samudra
Jl. Meurandeh, Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh 24415
1[[email protected], 2[email protected],3[email protected]
Abstrak
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian menyebutkan bahwa semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan. dengaan ancaman pidana yaitu dengan hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun atau pidana denda sebanyak- banyaknya Rp. 25.000.000,- Dalam KUHP Pasal 303 menyebutkan bahwa Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling banyak dua puluh lima juta rupiah. sedangkan didalam Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Maisir dengan nilai taruhan dan/atau keuntungan paling banyak 2 (dua) gram emas murni, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 12 (dua belas) kali atau denda paling banyak 120 (seratus dua puluh) gram emas murni atau penjara paling lama 12 (dua belas) bulan. Pelaku perjudian yang baru- baru ini ditangkap oleh petugas Dinas Syariat Islam Kota Langsa dan Polisi Syariah Wilayatul Hisbah (WH) bersama anggota Polres Langsa terjadi di Gampong Paya Bujuk Tunong. Petugas menangkap 5 (lima) orang wanita yang sedang bermain judi di sebuah rumah barang bukti yang berhasil disita oleh petugas berupa uang taruhan sebesar Rp 265.000,- dan kartu remi. kasus sudah dilaporkan ke kantor polisi namun kemudian dikembalikan ke gampong untuk ditindaklanjuti sesuai dengan adat yang berlaku di gampong tersebut namun kenyataannya di lapangan sampai saat kelima wanita tersebut tidak ditinjaklanjuti.
Kata Kunci : Uang Receh Penegakan Hukum, Wanita, Tindak Pidana Perjudian Abstract
Article 1 of Law Number 7 of 1974 concerning the Control of Gambling states that all gambling crimes are crimes. with a criminal threat that is a maximum of 10 years imprisonment or a maximum fine of Rp. 25,000,000, - in KUHP Article 303 states that being threatened with a maximum imprisonment of ten years or a maximum fine of twenty-five million rupiah. whereas in Aceh Qanun Number 6 of 2014 concerning Jinayat Law which reads "Anyone who intentionally commits Jarimah Maisir with a bet value and / or profit of at most 2 (two) grams of pure gold, is threatened with 'Uqubat Ta'zir whip at most 12 (twelve) times or a maximum fine of 120 (one hundred and twenty) grams of pure gold or a maximum of 12 (twelve) months in prison. Gambling perpetrators who were recently arrested by Langsa City Islamic Sharia Service officers and Wilayatul Hisbah (WH) Sharia Police together with members of the Langsa Police Station occurred in Paya Bujuk Tunong Village. Officers arrested 5 (five) women who were playing gambling in a house of evidence which had been confiscated by officers in the form of a betting money of Rp. 265,000 and playing cards. the case has been reported to the police station but
then returned to the village to be followed up in accordance with the customs prevailing in the village but in reality on the ground until the time the five women were not followed up.
Keywords: Law Enforcement Receipts, Women, Gambling Crimes
A. PENDAHULUAN
Perjudian merupakan salah satu penyakit sosial. Perjudian adalah permainan adanya pihak yang saling bertaruh untuk memilih satu pilihan diantara beberapa pilihan dan hanya satu pilhan saja yang benar dan menjadi pemenang. Perjudian dalam hukum adalah salah satu tindak pidana atau disebut dengan delict yang meresahkan masyarakat. Perkembangan praktik perjudian tidak hanya dilakukan dengan judi secara konvensional seperti judi kartu, judi tebakan dan lain sebagainya, melainkan telah berkembang pula judi secara online (daring).1
Judi merupakan sebuah permasalahan sosial dikarenakan dampak yang ditimbulkan amat negatif bagi kepentingan nasional terutama bagi generasi muda karena menyebabkan para pemuda cenderung malas dalam bekerja dan dana yang mengalir dalam permainan ini cukup besar sehingga dana yang semula dapat digunakan untuk pembangunan malah mengalir untuk permainan judi, judi juga bertentangan dengan agama, moral dan kesusilan.2
Perjudian pada hakikatnya bertentangan dengan agama, kesusilaan dan moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan dan kehidupan masyarakat, bangsa dan bernegara.3 Perjudian merupakan salah satu penyakit masyarakat yang manunggal dengan kejahatan, yang dalam proses sejarah dari generasi ke generasi ternyata tidak mudah diberantas. Oleh karena itu perlu diupayakan agar masyarakat menjauhi perjudian, perjudian terbatas pada lingkungan sekecil-kecilnya dan terhindarnya ekses-ekses negatif yang lebih parah untuk akhirnya dapat berhenti melakukan perjudian.4
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian menyebutkan bahwa semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan. Ancaman pidana perjudian cukup berat, yaitu dengan hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun atau pidana denda sebanyak-banyaknya Rp. 25.000.000,- (Dua puluh lima juta
1Christy Prisilia Constansia Tuwo, Penerapan Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentang Perjudian, Lex Crimen, Vol. V/No. 1/Jan/2016, halaman 116
2Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, halaman 93
3Tim Visi Yustisia, 3 Kitab Utama Hukum Indonesia KUHP, KUHAP, dan KUH Perdata, Visimedia, Jakarta, 2014, halaman 271
4 Bambang Sutiyoso, Aktualitas Hukum dalam Era Reformasi, Grafindo, Jakarta, 2004, halaman. 96.
rupiah). Perjudian merupakan salah satu permainan tertua di dunia. Setiap negara mengenal sebagai sebuah permainan untung-untungan.
Larangan dan ancaman pidana terhadap perjudian menurut Pasal 303 KUHP telah dilakukan perubahannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian, yang telah dilengkapi dengan peraturan pelaksanaannya yakni Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.
Menurut Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Maisir dengan nilai taruhan dan/atau keuntungan paling banyak 2 (dua) gram emas murni, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 12 (dua belas) kali atau denda paling banyak 120 (seratus dua puluh) gram emas murni atau penjara paling lama 12 (dua belas) bulan”.5
Pelaku perjudian yang baru-baru ini ditangkap oleh petugas Dinas Syariat Islam Kota Langsa dan Polisi Syariah Wilayatul Hisbah (WH) bersama anggota Polres Langsa terjadi di Gampong Paya Bujuk Tunong. Petugas menangkap 5 (lima) orang wanita lanjut usia yang sedang bermain judi di sebuah rumah pada hari Jum’at tanggal 22 Februari 2019. Salah seorang pelaku adalah pemilik rumah yang berinisial AM berusia 50 (lima puluh) tahun yang ikut dalam permainan judi tersebut. Selain AM yang berusia 50 tahun pelaku lain yang ikut dalam permainan perjudian tersebut adalah SY, RS, DW dan NR. Barang bukti yang berhasil disita oleh petugas berupa uang taruhan sebesar Rp 265.000,- (dua ratus enam puluh lima ribu rupiah) dan kartu remi.
Berdasarkan penelitian awal dan hasil wawancara di lapangan bahwa kasus ini sudah dilaporkan ke kantor polisi namun kemudian dikembalikan ke gampong untuk ditindaklanjuti sesuai dengan adat yang berlaku di gampong tersebut namun kenyataannya di lapangan sampai saat kelima wanita tersebut tidak ditinjaklanjuti.
B. METODE PENELITIAN
Metode Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris.
Penelitian hukum empiris atau yang dengan istilah lain biasa digunakan adalah penelitian hukum sosiologis dan biasa pula disebut dengan penelitian lapangan.6 Penelitian ini berbasis pada ilmu hukum normatif (Peraturan Perundang-undangan), tetapi bukan mengkaji mengenai sistem norma dalam aturan perundangan, namun mengamati bagaimana reaksi dan interaksi yang terjadi ketika sisitem norma bekerja dalam
5Pasal 18 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat
6Ali Murthhado, Metodologi Penelitian Hukum (Suatu Pemikiran dan Penerapan), Wal Ashri Publishing, Medan, 2012, halaman 31
masyarakat.7 Pendekatan ini mengkaji konsep normatif/yuridis implementasi terhadap penegakan hukum terhadap wanita melakukan tindak pidana perjudian.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Proses Penegakan Hukum Terhadap Wanita Yang Melakukan Tindak Pidana Perjudian
Beberapa kasus perjudian yang memunculkan fakta menarik, yakni terlibatnya seorang perempuan di balik judi. Memang tidak sedikit perempuan di Indonesia yang terlibat dalam kasus pidana, seperti yang terjadi di Kota Langsa terhadap pelaku perjudian yang baru-baru ini ditangkap oleh petugas Dinas Syariat Islam Kota Langsa dan Polisi Syariah Wilayatul Hisbah (WH) bersama anggota Polres Langsa terjadi di Gampong Paya Bujuk Tunong. Petugas menangkap 5 (lima) orang wanita lanjut usia yang sedang bermain judi di sebuah rumah pada hari Jum’at tanggal 22 Februari 2019, salah seorang pelaku adalah pemilik rumah yang berinisial AM berusia 50 (lima puluh) tahun yang ikut dalam permainan judi tersebut. Selain AM yang berusia 50 tahun pelaku lain yang ikut dalam permainan perjudian tersebut adalah SY, RS, DW dan NR. Barang bukti yang berhasil disita oleh petugas berupa uang taruhan sebesar Rp 265.000,- (dua ratus enam puluh lima ribu rupiah) dan kartu remi.
Menurut Adin, AM adalah tetangganya dan di rumah AM selalu ramai dikunungi teman-temannya namun Adin tidak mengetahui kegiatan apa yang dilakukan teman-teman AM apalagi yang datang ke rumah AM adalah wanita jadi tidak menaruh curiga jika ada kegiatan perjudian di rumah tersebut.8Selain itu juga menurut Juliansyah Putra AM orangnya ramah dan muda bergaul dengan lingkungan sekitar apa lagi AM juga bekerja pada salah satu instansi di Kota Langsa.9 Menurut Zainab AM sering mengobrol dengannya namun tidak menangka bila AM suka melakukan atau bermain judi di rumah dengan teman-temannya10
Menurut Dedek AM adalah tetangga yang baik dan sering mengundang teman-teman wanitanya datang ke rumah. Namun Dedek tidak mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh AM dan teman-temannya di dalam rumah karena AM dan
7 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016, halaman 204
8Wawancara dengan Adin, tetangga pelaku, pada tanggal 3 Oktober 2019 (diolah)
9 Wawancara dengan Juliansyah Putra, tetangga pelaku, pada tanggal 3 Oktober 2019 (diolah)
10Wawancara dengan Zaenab, tetangga pelaku, pada tanggal 3 Oktober 2019 (diolah)
teman-temannya tidak pernah mengganggu lingkungan sekitar dan wajar saja jika tetangga AM tidak mengetahui kegiatan yang dilakukan di dalam rumah.11
Proses penegakan hukum yang dilakukan terhadap ke 5 (lima) wanita yang melakukan perjudian ini, oleh pihak aparat penegak hukum diserahkan ke Pemerintahan Gampong, sehingga pemerintah gampong yang akan menyelesaiakan permasalahan tersebut dan penyelesaiannya biasanya secara adat.12 Menurut keterangan Dede Saputra kasus perjudian ini sudah diserahkan ke gampong, dimana pelaku langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk diproses lebih lanjut oleh aparatur gampong dan dapat dibina sesuai dengan adat yang berlaku.13 Namun menurut Yusuf Rani secara admnistasi proses penyerahan pelaku oleh polisi ke gampong tidak ada melibatkan aparatur gampong sehingga aparatur gampong tidak mengetahui dengan jelas kapan kasus pelaku sudah dikembalikan ke gampong.14
Pemerintah gampong berdasarkan Pasal 2 Qanun Aceh Nomor 9 tahun 2008 tentang Lembaga adat, bahwa Lembaga adat berfungsi sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan penyelesaian masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Dari latar belakang diatas maka dapat disimpulkan bahwa proses penegakan hukum yang dilakukan terhadap ke 5 (lima) wanita yang melakukan perjudian belum berjalan dimana tidak adanya koordinasi antara pihak kepolisian dengan aparatur gampong terhadap pelaku perjudian yang dilakukan oleh wanita di gampong paya bujuk. Pihak kepolisian merasa sudah mengembalikan kasus ini ke gampong untuk diproses sesuai dengan adat yang berlaku. Namun aparatur gampong merasa tidak dilibatkan dalam proses penyerahan pelaku perjudian yang dilakukan oleh wanita sehingga proses penegakan hukumnya tidak berjalan. jadi disini terlihat bahwa belum adanya penegakan hukum dan adanya pembiaran terhadap pelaku perjudian yang dilakukan oleh wanita. Penyelesaian kasus perjudian ini ditingkat gampong belum ada kejelasan dan terkesan ada pembiaran sehingga pelaku masih bebas melakukan aktifitasnya dan merasa tidak pernah berbuat kesalahan.
2. Wewenang Aparatur Gampong Terhadap Perjudian Yang Dilakukan Wanita Di Kota Langsa
11Wawancara dengan Dedek, tetangga pelaku, pada tanggal 3 Oktober 2019
12 Wawancara dengan Dede Saputra, Kaur Min Satreskrim Polres Langsa tanggal 27 Oktober 2019 (diolah)
13 Wawancara dengan Dede Saputra, Kaur Min Satreskrim Polres Langsa tanggal 27 Oktober 2019 (diolah)
14Wawancara dengan Yusuf Rani, geuchik Paya Bujuk tunong tanggal 28 Oktober 2019 (diolah)
Dalam beberapa Qanun Aceh yang mengatur tentang prosedur peradilan adat secara prinsip hanya mengakomodir budaya dan kearifan lokal yang sudah lama hidup dan berkembang tersebut. Dalam hukum adat selama ini hanya mengenal satu prosedur dalam hal penuntutan baik pidana maupun perdata. Dalam hukum adat dikenal ada satu pejabat yaitu kepala Desa (Geuchik untuk tingkat Gampong), dan Imeum Mukim untuk tingkat Mukim.15
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dalam Pasal 103 telah diatur pula kewenangan desa adat dalam penyelesaian sengketa adat berdasarkan hukum adat yang berlaku yang selaras dengan prinsip hak asasi manusia dengan mengutamakan penyelesaian secara musyawarah. Penyelenggaraan sidang perdamaian peradilan Desa Adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut Sulaiman, bahwa kewenangan aparat gampong dalam memberantas perjudian sangat penting karena judi dapat merusak manusia dan menjadikan orang menjadi malas serta jauh dari agama. sehingga disini pemerintah gampong harus memantau setiap kegiatan yang dilakukan warga dan memberikan kegiatan yang bermanfaat seperti mengadakan pengajian rutin dan kegiatan lain yang bermanfaat dan menghibur khususnya bagi wanita yang tidak memiliki pekerjaan dan mempunyai waktu luang yang banyak.16
Secara teknis operasional tata cara penyelesaian sengketa/ perselisihan secara adat di gampong telah diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Gubernur, Kapolda, dan Majelis Adat Aceh tanggal 20 Desember 2011, yang dijabarkan dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa/ Perselisihan Adat dan Istiadat.17
Dari uraian di atas maka penulis meyimpulkan bahwa Wewenang Aparatur Gampong Terhadap Perjudian Yang Dilakukan Wanita Di Kota Langsa dimana berdasarkan Qanun Aceh Nomor 9 tahun 2008 tentang Lembaga adat, pada Pasal 2 bahwa Lembaga adat berfungsi sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan penyelesaian masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Pasal 4 Dalam menjalankan fungsinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) lembaga adat berwenang: menjaga keamanan, ketentraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat; membantu Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan; mengembangkan dan mendorong partisipasi masyarakat; menjaga eksistensi nilai-nilai adat dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam; menerapkan ketentuan adat; menyelesaikan masalah sosial
15 Kewenangan Desa, http://kedesa.id/id_ID/wiki/kedudukan-dan-kewenangan- desa/kewenangan-desa/ diakses tanggal 17 November 2019
16Wawancara dengan Sulaiman Imam Lorong A Paya Bujuk Tunong tanggal 28 Oktober 2019 (diolah)
17Wawancara dengan Bambang, Kepala Lorong Paya Bujuk Tunong tanggal 27 Oktober 2019 (diolah)
kemasyarakatan; mendamaikan sengketa yang timbul dalam masyarakat; dan menegakkan hukum adat.
3. Hambatan Dan Upaya Aparatur Gampong Terhadap Perjudian Yang Dilakukan Wanita Di Kota Langsa
Menurut Pasal 14 Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 jo. Pasal 16 Peraturan Gubenur Aceh Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa / Perselisihan Adat Istiadat. penyelesaian secara adat di gampong dilaksanakan oleh tokoh- tokoh adat yang terdiri atas: keuchik, imeum meunasah, tuha peut; sekretaris gampong, ulama, cendekiawan dan tokoh adat lainnya di gampong sesuai dengan kebutuhan. Sidang peradilan adat dilaksanakan di meunasah secara terbuka, tidak boleh di tempat lain, sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (4) Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008.
Menurut Pasal 16 ayat (8) Peraturan Gubenur Aceh Nomor 60 Tahun 2013, terhadap sidang musyawarah penyelesaian sengketa/perselisihan yang melibatkan perempuan dan anak, baik sebagai pelaku atau sebagai korban dilaksanakan secara tertutup di rumah salah satu pimpinan adat seperti rumah keuchik, imuem meunasah atau rumah anggota tuha peut.
Dalam Pasal 15 Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008, ditentukan bahwa “tata cara dan syarat-syarat penyelesaian perselisihan/ persengketaan, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan adat setempat”. Walaupun ketentuan ini sangat singkat dan tegas, namun maknanya sangat dalam dan luas. Ini merupakan salah satu khas lainnya (disamping bersifat communal) dari hukum adat yang bersifat fleksibilitas. Artinya, mengenai hukum materil dan hukum formil dalam proses penyelesaian perkara tersebut mengacu pada hukum adat setempat. Hal ini sesuai dengan pepatah adat “lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya”.
Menurut Bambang, kewenangan kepada gampong untuk melakukan peradilan adat guna menyelesaikan sengketa/perselisihan secara adat. Hak dan kewenangan ini tegas diatur dalam UUPA, Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008, Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008, PERGUB Nomor 60 Tahun 2013, dan menjadi lebih operasional dengan adanya Surat Keputusan Bersama Gubernur, Kapolda Aceh, dan Majelis Adat Aceh tahun 2012.18
Dari penjelasan diatas maka penulis menyimpulkan bahwa hambatan aparatur gampong terhadap perjudian yang dilakukan wanita di Kota Langsa dimana kurang adanya koordinasi antara pihak kepolisian dengan aparatur gampong. Aparatur gampong tidak pernah merasa ada pengembalian atau penyerahan kasus perjudian yang dilakukan wanita oleh pihak kepolisian sementara menurut kepolisian kasus perjudian ini sudah
18Wawancara dengan Bambang, Kepala Lorong tanggal 27 Oktober 2019 (diolah)
sudah dikembalikan dan diserahkan ke gampong melalui keluarganya. sehingga aparatur gampong tidak dapat menyelesaikan kasus perjudian ini karena tidak ada bukti dan administrasi penyerahan dari pihak kepolisian ke pihak aparatur gampong sehingga kasus perjudian ini terkesan ada pembiaran atau tidak ditinjaklanjuti.
Upaya penyelesaian aparatur gampong terhadap wanita yang melakukan perjudian dengan cara mengalukan koordnasi dengan baik antara pihak kepolisian dengan aparatur gampong sehingga aparatur gampong dapat menyelesaikan kasus perjudian dengan cara memberi pembinaan kepada pelaku perjudian dan memberikan nasehat agar tidak mengulangi kembali.
D. KESIMPULAN
Proses penegakan hukum yang dilakukan terhadap ke 5 (lima) wanita yang melakukan perjudian belum berjalan dan terkesan ada pembiaran sehingga pelaku masih bebas melakukan aktifitasnya dan merasa tidak pernah berbuat kesalahan.
Kewenangan aparatur gampong terhadap perjudian yang dilakukan wanita di Kota Langsa sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan penyelesaian masalah-masalah sosial kemasyarakatan. dimana berwenang menjaga keamanan, ketentraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat; membantu Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan;
mengembangkan dan mendorong partisipasi masyarakat; menjaga eksistensi nilai-nilai adat dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam; menerapkan ketentuan adat; menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan; mendamaikan sengketa yang timbul dalam masyarakat; dan menegakkan hukum adat.
Hambatan aparatur gampong terhadap perjudian yang dilakukan wanita di Kota Langsa tidak adanya koordinasi antara pihak kepolisian dengan aparatur gampong.
Aparatur gampong tidak pernah merasa ada pengembalian atau penyerahan kasus perjudian yang dilakukan wanita oleh pihak kepolisian sementara menurut kepolisian kasus perjudian ini sudah sudah dikembalikan dan diserahkan ke gampong melalui keluarganya. sehingga kasus perjudian ini terkesan ada pembiaran atau tidak ditinjaklanjuti. Upaya penyelesaian aparatur gampong terhadap wanita yang melakukan perjudian dengan cara mengalukan koordinasi dengan baik antara pihak kepolisian dengan aparatur gampong sehingga aparatur gampong dapat menyelesaikan kasus perjudian dengan cara memberi pembinaan kepada pelaku perjudian dan memberikan nasehat agar tidak mengulangi kembali.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku- Buku
Ali Murthhado, Metodologi Penelitian Hukum (Suatu Pemikiran dan Penerapan), Wal Ashri Publishing, Medan, 2012
Bambang Sutiyoso, Aktualitas Hukum dalam Era Reformasi, Grafindo, Jakarta, 2004 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2016
Tim Visi Yustisia, 3 Kitab Utama Hukum Indonesia KUHP, KUHAP, dan KUH Perdata, Visimedia, Jakarta, 2014
Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2009
2. Peraturan Perundang-Undangan
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat
3. Sumber Lain
Christy Prisilia Constansia Tuwo, Penerapan Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tentang Perjudian, Lex Crimen, Vol. V/No. 1/Jan/2016
Kewenangan Desa, http://kedesa.id/id_ID/wiki/kedudukan-dan-kewenangan- desa/kewenangan-desa/ diakses tanggal 17 November 2019