GAYA KEPEMIMPINAN DI LINGKUNGAN KERJA PEMERINTAHAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT
RUKINI*1 E 1012161018
Dr. Hj Sri Haryaningsih, M.Si2 Martinus, S.Sos, M.Si2
*Email:[email protected]
1.Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak
2.Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak
ABSTRAK
Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji gaya kepemimpinan Kepala Biro Administrasi dalam meningkatkan disiplin kerja pegawai bagian Biro Administrasi Provinsi Kalimantan Barat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian yang penulis peroleh dilapangan diketahui bahwa Gaya motivasi dalam kepemimpinan Kepala Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat telah dilaksanakan, yaitu dengan memberikan motivasi dan pengarahan dengan baik kepada bawahan/aparatnya dalam tugasdi Provinsi kalimantan Barat. Selain itu pegawai sudah lama bekerja di bidang tersebut, sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan ritme kerja maupun orang-orang yang bekerja di kantor tersebut. Setiap petugas memang memiliki karakter masing-masing, tetapi dengan kedekatan tersebut menjadikan mereka dapat saling menyesuaikan diri. Kepala Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat tidak menggunakan pendekatan gaya kekuasan dalam memimpin bawahan, Kepala Biro Administrasi mengedepankan hubungan kerja kemanusiaan atau dengan istilah human relation. Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat sangat menyadari bahwa efektivitas organisasi akan tercapai karena adanya dukungan semua bawahan terhadap tujuan organisasi, sehingga beliau lebih menekankan pada pendekatan kemanusiaan dalam pelaksanaan tugasnya. Gaya Kepemimpinan pengawasan Kepala Biro Administrasi Provinsi kalimantan Baratbelum melakukan pengawasan dengan baik kepada bawahannya.
Sehingga hasil yang dicapai dalam penyelesaian pekerjaantidak sesuai dengan yang diharapkan. . Saran yang dapat dijadikan pertimbangan diharapkan untuk lebih meningkatkan disiplin kerja pegawai, hendaknya Kepala Biro Administrasidapat memberikan penghargaan kepada pada bawahannya yang berprestasi dalam menjalankan tugas-tugasnya sehingga akan memberikan semangat bagi para bawahan untuk menjalankan kinerja yang diembannya.
Kata Kunci : Gaya, Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Pemerintahan, ProvinsiKalimantan Barat.
Rukini E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
2 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
LEADERSHIP STYLE IN THE WORK ENVIRONMENT OF WEST KALIMANTAN GOVERNMENT
ABSTRACT
The research aims to find out and examine the leadership style the head of Administration Bureau in Improving employee discipline in administration bureau division of West Kalimantan Province. The method used in the research is qualitative with descriptive research type. Research results obtained in the field by the writer consist of implemented motivation style in the leadership of the head of Administration Bureau, namely by providing maotivation and direction well to subordinates/officials in their di=uties in West Kalimantan.
In addition, employees have been working in the field for a long time and as a result, they are able toadjust to the work rhythm and the people who work in the office. Each employee dose have their own character, but closeness makes them able to adjust to each other. The Head of West Kalimantan Adminsitration Bureau does not use authoritative style approach in leading subordinates. The Head of Administration Bureau promotes humanitarian work relations.
The Head is Fully aware that the effectitiveness of an organization will be achieved due to the support of all subordinates to organization goals, so he emphasizes on humanitarian approach in carrying out duties. The supervisory leadership style of the Head of of West Kalimantan Administration Bureau has not been implemented to the subordinates and consequently, the result achieved in work completionare not as expected. Suggestions that should be taken into consideration consist of improving employee work discipline the Head of Administration Bureau to give rewards to the performance of his duties that will encourage subordinates to perform the performance they require.
Keywords: Style, Leadership, Work Environment Government, West Kalimantan.
1 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
PENDAHULUAN
Kepemimpinan pada era globalisasi yang sarat dengan tantangan, persaingan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), harus memiliki keunggulan yang kompetitif dalam memimpin suatu organisasi. Pemimpin tersebut tidak akan dapat menjalankan organisasinya secara efektif dan efisien, apabila dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak mempunyai suatu keahlian.
Penyelenggaraan tugas pemerintahan dapat mencapai hasil yang baik, apabila adanya peningkatan kualitas profesionalisme pemimpin dan pegawainya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memegang teguh etika birokrasi, dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan tingkat kepuasan dan keinginan masyarakat.
Era globalisasi dan era reformasi, perubahan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan cepat mengikuti perkembangan dunia internasional.
Pemimpin dan kepemimpinan organisasi pemerintah pada umumnya dan pemerintah Provinsi kalimantan barat pada khususnya menjadi perhatian utama publik baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Seiring dengan tuntutan kebutuhan
masyarakat dan perkembangan zaman tersebut, diperlukan pemimpin yang berkualitas sehingga pelayanan publik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara cepat, efektif dan akuntabel. Namun demikian sampai saat ini sebagian opini masyarakat menyatakan bahwa manajemen pemerintah Provinsi kalimantan barat dinilai belum dapat melayani kebutuhan masyarakat secara optimal.
Penyatuan persepsi dan langkah terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi, seorang pemimpin perlu memperhatikan apa yang disebut budaya organisasi.
Budaya organisasi merupakan suatu hal yang dapat di rekayasa menuju perubahan budaya yang lebih baik.
Pemimpin dituntut memberikan tauladan kepada pegawai dan masyarakat di lingkungan organisasi tersebut tentang nilai–nilai yang di terapkan. Peranan pemimpin dalam menciptakan budaya organisasi harus direncanakan serta diarahkan untuk semua anggota organisasi.
Nilai–nilai budaya di lingkungan kerja pemerintahan provinsi kalimantan Barat masih banyak yang perlu diperbaiki, dikembangkan bahkan dihilangkan.
Hal ini memerlukan proses dan
2 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
memakan waktu yang relatif lama.
Perilaku para anggota organisasi merupakan pencerminan nilai–nilai budaya yang dianut oleh suatu organisasi. Membangun asumsi dasar, keyakinan dan norma–norma seperti sopan santun, cara berbicara, cara memberikan pelayanan kepada
masyarakat, membangun
kebersamaan, penataan ruang kerja dan lain–lain merupakan tuntutan sekaligus tantangan bagi seorang pemimpin untuk mewujudkannya.
Namun di sisi lain opini sebagian besar masyarakat menyatakan bahwa masih banyak pegawai pemerintah Provinsi kalimantan barat terkesan bukan sebagai pelayan masyarakat tetapi sebagai orang yang minta dilayani. Hal ini ditandai apabila masyarakat memerlukan pelayanan, harus melalui prosedur yang berbelit–
belit dan kadang-kadang melanggar norma–norma dan peraturan yang telah ditetapkan.
Sejalan dengan meningkatnya tuntutan akan hak–hak yang harus diterima oleh masyarakat, maka kinerja pegawai Pemerintah Provinsi kalimantan barat semakin banyak mendapatkan sorotan baik dari lembaga formal yang menjadi instansi atasnya, lembaga sosial
kemasyarakatan maupun masyarakat pada umumnya. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari pemerintah, karena pemerintah Provinsi kalimantan barat merupakan organisasi Pemerintah terdepan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Kegiatan apapun yang terjadi di wilayah Provinsi kalimantan barat dipandang masyarakat sebagai tanggung jawab pemerintah Provinsi kalimantan barat.
Pelayanan publik dengan segala aspeknya, pegawai pemerintah Provinsi kalimantan barat belum dapat merespon kebutuhan masyarakat secara optimal disebabkan berbagai faktor antara lain keterbatasan sumber daya manusia baik kuantitas maupun kualitas, sarana dan prasarana perkantoran yang belum memadai, keterbatasan dukungan anggaran dan wewenang dan lain sebagainya.
Pelayanan para pegawai pemerintah Provinsi kalimantan barat di wilayah Provinsi kalimantan Barat, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi masyarakat, yang membantu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat belum dilaksanakan secara maksimal. Hal ini disebabkan karena ketidaksiapan dan juga kemampuan para pegawai Provinsi
3 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
kalimantan barat belum dimiliki secara obyektif. Hal ini terlihat pada kedisiplinan para pegawai Provinsi kalimantan barat dalam menjalankan tugasnya juga belum diterapkan dengan baik oleh para pegawai.
TINJAUAN PUSTAKA
Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Istilah pemimpin, kepemimpinan dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar pimpin.
Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin.
Pemimpin atau leader merupakan inisiator, motivator, stimulator, dan innovator dalam organisasi, menurut Kartono (2006, 10),Pemimpin dapat dibedakan dalam 2 arti :
1. Pemimpin arti luas, seorang yang memimpin dengan cara mengambil inisiatif tingkah laku masyarakat secara mengarahkan, mengorganisir atau mengawasi usaha-usaha orang lain baik atas dasar prestasi, kekuasaan atau kedudukan.
2. Pemimpin arti sempit, seseorang yang memimpin dengan alat-alat yang meyakinkan, sehingga para pengikut menerimanya secara sukarela.
Kartono (2006, 51), menyatakan pemimpin adalah seseorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Dari berbagai definisi para ahli di atas, maka pemimpin dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan dalam menggerakkan seseorang atau sekelompok orang untuk mengikuti kehendaknya demi mencapai tujuan bersama yang spesifik.
Menurut Kartono (2006, 10), kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi.
Kepemimpinan adalah kekuatan
4 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi conform dengan keinginan pemimpin.
Dari berbagai definisi para ahli di atas, maka dapat dijadikan dasar untuk menambah pengertian kepemimpinan yakni kepemimpinan adalah suatu cara atau sikap yang digunakan seorang pemimpin yang mempengaruhi pengikut atau bawahannya agar dapat bekerja sama secara kooperatif demi tercapainya tujuan bersama yang telah ditentukan.
Menurut Thoha (2003,123).
dalam bukunya Kepemimpinan dalam Manajemen, yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dimana setiap perilaku yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan pasti mempengaruhi orang yang ada dalam pengawasannya, agar dapat mencapai tujuan yang dikehendakinya.
Pimpinan yang berhasil adalah pimpinan yang dapat memodifikasi dan mengidentifikasi gaya kepemimpinan agar sesuai dengan standar pelayanan kerja diantaranya adalah menyangkut
tentang panilaian yang dilakukan pada pimpinan oleh bawahanya tentang bagaimana ia memimpin. Apabila gaya kepemimpinan sesuai dengan apa yang dikehendaki maka semangat kerja akan meningkat dan akhirnya akan terjadi integrasi dengan jabatan dan badan itu sendiri.
Dari hubungan antara pemimpin dengan para pengikutnya, secara lambat laun akan berkembang metode teori kepemimpinan. Metode ialah prosedur yang sistematis dan khusus yang digunakan dalam upaya penyelidikan fakta dan konsep, dilihat dari satu pandangan tertentu. Metode juga disebut cara kerja, berbuat dan bertingkah laku khususnya dalam kegiatan-kegiatan kejiwaan/mental.
Metode kepemimpinan ialah cara bekerja dan bertingkah laku pemimpin dalam membimbing para pengikutnya untuk berbuat sesuatu. Maka metode kepemimpinan ini diharapkan bisa membantu keberhasilan pemimpin dalam tugas-tugasnya sekaligus juga dapat memperbaiki tingkah laku serta kualitas kepemimpinannya. Ordway Tead dalam bukunya (The Art pf Administration, 1951) mengemukakan metode kepemimpinan di bawah ini :
1) Memberi perintah
5 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
Perintah itu timbul dari situasi formal dan relasi kerja. Karena itu perintah adalah fakta fungsional pada organisasi, kedinasan atau jabatan pemerintah dan swasta, berbentuk intruksi, komando, peraturan tata tertib, standar praktik atau prilaku yang harus dipatuhi. Perintah biasanya sudah tercakup dalam tugas, kewajiban dan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh setiap individu anggota kelompok.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian perintah antara lain ialah :
a) Kondisi pribadi individu yang diberi perintah
b) Situasi lingkungan sekitar yang harus ikut dipertimbangkan dalam pemberian perintah.
c) Perintah harus jelas, ringkas, namun tegas, dan tidak mengandung kemajemukan arti sehingga bisa membingungkan; serta mudah dimengerti.
d) Penggunaan nada suara yang wajar, netral, tidak dipaksakan, cukup ramah, agar mudah dan enak ditangkap. Semua itu dilakukan dengan ekspresi wajah yang tenang, ringan, terbuka dan simpatik. Sebab raut muka dapat mempengaruhi nada perintah.
e) Kesopan santunan dalam menyampaikan perintah memberi pengaruh dalam pelaksanaan perintah agar bisa dipatuhi.
f) Perintah tidak terlalu banyak diberikan sekaligus, untuk tidak membingungkan dan tidak menghambat pengambilan keputusan
untuk memprioritaskan
tugas/perintah yang paling penting.
2) Memberkan celaan dan pujian
Celaan haus diberikan secara objektif dan tidak subjktif. Serta tidak disertai emosi-emosi yang negatif (benci, dendam, curiga, dan lain-lain). Celaan sebaiknya berupa teguran dan dilakukan secara rahasia, tidak secara terbuka dimuka orang banyak. Celaan diberikan dengan maksud agar orang yang melanggar atau berbuat kesalahan menyadai kekeliruannya, dan bersedia memperbaiki perilakunya. Celaan juga diberikan dengan nada suara yang
“menyenangkan” agar tidak menimbulkan rasa dendam dan sakit hati.
Sebaliknya, pujian supaya diberikan, sebab peribadi yang berangkutan telah melakukan tugasnya dengan baik, dan mampu berprestasi.
Pujian ini bisa memberikann semangat, kegairahan kerja, tenaga baru, dan dorongan emosional yang segar.
6 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
Sebaiknya bila celaan itu diberikan secara pribadi dan rahasia, maka pujian sebaliknya diberikan secar terbuka, terang-terangan dimuka umum.
Namun yang dipuji itu harus benar-benar luarbiasa sifatnya dan bukan bersifat biasa-biasa saja, supaya tidak menimbulkan cemohoan dan sinisme.
3) Memupuk tingkah laku pribadi pemimpin yang benar
Pemimpin harus bersifat objektif dan jujur. Ia harus menjauhkan diri dari rasa pilih-kasih atau favoritisme karena hal ini bisa menurunkan moral, anggota- anggota lainnya, menumbuhkan keraguan, kemukakan serta kecemburuan sosial. Juga bisa mengurangi respek anggota pada pemimpin.
Pemimpin itu juga bukan agen polisi atau tukan selidik mencari kesalaahan juga bukan penjaga yang selalu mengintip kelemahan orang.
Bukan pula sebagai pengontrol yang keras-kejam; juga bukan seorang diktator yang angkuh dan sok-kuasa. Maka kesuksesan pemimpin itu justru diukur dari perasaan para pengikut yang menghayati emosi-emosi senang, karena masing-masing diperlakukan secara sama, jujur, dan adil
4) Peka terhadap saran-saran
Sifat pemimpin itu harus luwe dan terbuka, dan peka pada saran-saran eksternal yang posotof siratnya. Diharus mengharagai pendapat-pendapat orang
lain, untuk kemudian
mengkombinasikannya dengan ide-ide sendiri. Dengan begitu dia bisa membangkitkan inisiatif kelompok untuk memberikan saran-saran yang baik.
Sedag orang akan merasa bangga dan senang hatinya apabila sarannya diterima.
Sebaliknya orang bisa mendongkol hati, apabila saran-sarannya selalu dianggap sebagai angin lalu saja dan tidak digubris.
Membangkikan keinginan anggota untuk memberikan saran itu mencerminkan sifat terbuka dan kejujuran dari pemimpin. Yaitu pemimpin menghargai ide-ide baru, mau menerapkan saran-saran yang baik, dan berani mengadakab inovasi.
5) Memperkuat rasa persatuan kelompok
Untuk menghadapi macam- macam tantangan luar, dan kekomplekan sitausi masyarakat modern, perlu pemimpin bisa menciptakan rasa kesatuan kelompoknya, dengan loyalitas tinggi dengan kekompakan yang utuh.
Hal ini bisa meningkatkan moral kelompok dan semangat kelompok.
7 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
Usaha menciptakan semangat kekuasaan ini antara lain, dengan pemberian pakaian seragam, lencana, emblim, peci, jaket, insigne (tanda kehormatan), dan lain-lain. Selanjutnya juga mengusahakan pengenalan para anggota-anggota baru kepada kelompok sendiri, agar orang-orang baru ini dengan cepat bisa mengantisipasikan diri rasa senang.
6) Menciptakan disiplin-diri dan disiplin kelompok
Setiap kelompok akan mengembangkan tata cara dan pola tingkah laku yang hanya berlaku dalam kelompok sendiri, yang harus di taati oleh seluruh anggota. Hal ini penting untuk membangkitkan rasa tanggung jawab anggota, uniformitas, dan disiplin kelompok. Sekaligus juga penting untuk menghi dari perselisihan, konkurensi, rasa permusuhan, perpecahan, kecerobohan, pemborosan dan lain-lain.
Disiplin kelompok bisa berhasil jika pemimpin bersifat arif bijaksana, memberikan teladan, berdisiplin dan menerapkan seluruh prosedur dengan konsekuen. Dia harus menghindari favoritisme yang bisa menelurkan prasangka buruk, rasa dendam, iri dan kecemburuan sosial.
7) Meredamkan kabar angin dan isu-isu yang tidak benar.
Kesatuan dan efektivitas kerja dari kelompok bisa diguncang oleh ganguan kabar-kabar angin dan desas- desus yang tidak benar, beserta fitnah- fitnah dari luar, yang diarahkaan pada perorangan atau pada organisasi pada keseluruhan. Semua itu ditujukan untuk mengacau dan mengganggu tatanan kerja yang sudah lancar.
Maka pemimpin bekewajiban mengusut untuk sapai tuntas sumber kabar angin tadi. Dan memberikan peringatan keras dan sangsi tajam pada orang-orang yang mempunyai rasa dendam, mengalami frustasi, dan mungkin tengah terganggu ingatannya, sehingga tanpa sadar menyebarkan kabar-kabar angin yang buruk.
Menurut Hasibuan (2005 : 193) Disiplin yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.Oleh karena itu, setiap pimpinan selalu berusaha agar para bawahannya mempunyai disiplin yang baik.Untuk memelihara dan meningkatkan kedisiplinan yang baik
8 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
adalah hal yang sulit, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Bagi pegawai Negeri Sipil ada peraturan pemerintah yang secara tegas mengatur larangan dan kewajiban Pegawai Negeri Sipil, sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No.53 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Undang-undang No.43 Tahun 1999 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian.
Menurut Prijodarminto (1999 : 23), yang dimana disiplin itu mempunyai tiga aspek, Yaitu :
1. Sikap mental (mental attitude), yang merupakan sikap taat dan tertib sebagaihasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
2. Pemahaman yang baik mengenai sistem aturan perilaku, norma, kriteria, dan standar yang sedekian rupa, sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran, bahwa ketaatan akan aturan; norma, kriteria dan standar yang merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan.
3. Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib.Berbicara masalah disiplin berkaitan dengan unsur perilaku, sikap, dan tingkah laku
seseorang.Karena disiplin itu sendiri merupakan wujud dari ketiga bentuk tersebut di dalam tersebut di dalam akvitas yang dilaksanakannya. Dari definisi tersebut, dapat simpulkan bahwa disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang atau pegawai untuk mematuhi dan mentaati segala norma peraturan yang berlaku pada sistim organisasi tersebut. Kedisiplinan harus ditegakkan dalam suatu organisasi.
Tanpa adanya dukungan disiplin kerja pegawai yang efektif organisasi akan sulit untuk mewujudkan fokus dan tujuannya. Jadi, kedisiplinan adalah salah satu kunci keberha silan suatu organisasi dalam mencapai produktifitas yang efektif dan efisien.
Setiap orang yang berkemampuan untuk memimpin baik dalam memimpin organisasi maupun suatu institusi kecil, setidaknya harus memiliki kepribadian yang cukup baik, serta menjalankan semua tugas yang diembannya dengan penuh tanggung jawab. Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan diatas maka menurut Rivai (2014, 42) dalam bukunya “kepemimpinan dan perilaku organisasi” mengemukakan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri
9 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi
Gaya kepemimpinan menurut Pamudji (2005, 123) sering dibedakan antara lain:
a) Gaya motivasi (motivational style), yaitu pemimpin dalam menggerakkan orang-orang dengan mempergunakan motivasi, baik yang berupa imbalan ekonomis dengan memberikan hadiah (reward) yang bersifat positif, maupun yang berupa ancaman hukuman (penalties) yang bersifat negative. Dalam pengertian ini kepemimpinan sedapat-dapatnya menekankan
pada pemberian motivasi yang bersifat positif.
Gaya motivasi
menekankan pada
kemampuan individu atau
pimpinan untuk
mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain
mampu memberikan
kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perorangan maupun kelompok dan untuk memotivasi agar bawahan
mau melakukan
tanggungjawabnya. seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin tipe ini lebih memperhatikan kebutuhan psikologis bawahan yakni harga diri dan aktualisasi diri bawahan dalam mengembangkan kemampuannya.
10 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
b) Gaya Kekuasaan (power style), pemimpin yang cenderung menggunakan
kekuasaan untuk
menggerakkan orang- orang..Kepemimpinan jenis ini
memusatkan kekuasaanpada dirinya sendiri. Ia membatasi inisiatif dan daya pikir dari
para anggotanya.
Pemimpin yang otoriter tidak akan memperhatikan kebutuhan dari bawahannya dan cenderung berkomunikasi satu arah yaitu dari atas (pemimpin) ke bawah.
Gaya kekuasaan terdiri dari, pertama yaitu gaya autokratik, yaitu pemimpin yang menggantungkan pada kekuasaan formalnya, organisasi dipandang sebagai
milik pribadi,
mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Yang kedua gaya partisipatif atau juga disebut gaya demokratif, yaitu pemimpin yang memandang manusia adalah makhluk yang bermartabat dan harus dihormati hak-haknya. Dalam menggerakkan pengikut lebih
banyak menggunakan persuasi dan memberikan contoh-contoh. Dan yang ketiga adalah gaya bebas, yaitu kepemimpinan yang hanya mengikuti kemauan pengikutnya, dan menghindari diri dari penggunaan paksaan atau tekanan.
c) Gaya pengawasan
(supervirory style), yaitu kepemimpinan yang dilandaskan kepada perhatian seorang pemimpin terhadap perilaku kelompok.
Kepemimpinan harus mengutamakan gaya perhatian terhadap pegawai (employee oriented style) dan sedapat mungkin tidak menekankan pada orientasi kepada produksi (production oriented) sekalipun sebenarnya tidak jelek .
Gaya pengawasan ditekankan dengan pemimpin melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlansung secara efesien.
Kepemimpinannya
berorientasi pada tugasnya masing-masing sesuai dengan yang ada pada struktur
11 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
organisasi dalam perusahaan tersebut. Pemimpin ini hanya berperan sebagai pemain tunggal dan sangat ingin menguasai, sikapnya selalu jauh dari bawahan sebab menganggap dirinya sebagai seseorang yang sangat istimewa dibandingkan dengan bawahannya.
Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir
Sumber: Data Olahan Penulis
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif, dimana menurut Kountur (2005:105) bahwa: “penelitian deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti”. Metode deskriptif dipilih karena peneliti ingin memperoleh gambaran dan deskripsi fenomena yang terjadi
Untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas penulis menggunakan teknik wawancara dan observasi guna mendukung data lapangan yang telah didapatkan.
Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkanya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. Miles and Huberman (Sugiyono, 2007: 91) mengemukakan bahwa “Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung
secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data diantaranya:
Permasalahan .
1. Kepala Biro Administrasi belum mampu meningkatkandisiplin pegawai di Bidang Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat
2. Kepala Biro Administrasi belum
mampu memberikan
ketauladanan di Bidang Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat
Teori
Gaya kepemimpinan menurut Pamudji (2005, 123) dibedakan antara lain:
a. Gaya motivasi
(motivational style), b. Gaya kekuasaan (power
style),
c. Gaya pengawasan (supervirory style)
Efektivitas gaya kepemimpinan Kepala Biro Administrasi dalam meningkatkan disiplin kerja pegawai bagian Biro AdministrasiProvinsi Kalimantan Barat.
12 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
1. Meringkas (reduksi), tujuannya agar data yang dianalisis merupakan data-data yang benar-benar berkaitan dengan masalah penelitian.
2. Memaparkan (display), Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut.
3. Penyimpulan (verifikasi), data-data yang diperolah yang telah diringkas dan dipresentasikan kemudian diambil beberapa kesimpulan yang paling relevan dengan masalah yang diteliti.
PEMBAHASAN
1. Gaya Kepemimpinan motivasi Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat terkait meningkatkan disiplin kerja pegawai
Perwujudan kepemimpinan yang baik, juga dapat diindikasikan dari bagaimana kepemimpinan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat dalam memberikan motivasi dan bimbingan untuk bekerja sama dalam pelaksanaan tugas aparat. Terkait dengan hal ini, Sekertaris Kepala Biro AdministrasiKantor Provinsi kalimantan Barat, menuturkan sebagai berikur:
“Beliau sering memberikan motivasi kepada anak buahnya agar dapat melaksanakan tugas sebaik- baiknya. Jadi, pengarahan atau bimbingan yang beliau lakukan bukan hanya dalam pertemuan formal seperti rapat tetapi juga secara langsung setiap hari kerja.”
Ungkapan di atas
memperlihatkan bahwa diantara wujud pelaksanaan bimbingan dan pengarahan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratsudah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing aparat/anak buahnya.
Selanjutnya, Kasubbag Pemerintahan Kantor Provinsi kalimantan barat Barat mengemukakan sebagai berikut:
“Kepemimpinan beliau mengandung tindakan- tindakan yang dapat merangsang bawahan untuk bekerja dengan disiplin dan berkarya sebaik-baiknya.
Dinyatakan pula bahwa beliau dalam memberikan bimbingan dan pengarahan mengenai tata kerja berupa keterangan-keterangan yang menunjukkan norma-norma atau prosedur pelaksanaan
13 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
pekerjaan kepada para pegawainya sehingga kepastian dan ketetapan dalam bertindak dan sikap bawahan yang semaunya sendiri dapat dicegah”
Wawancara tersebut
menunjukkan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barattelah memberikan penjelasan tentang tugas dan mampu bekerja sama dalam upaya memberikan pengarahan dan bimbingan pelaksanaan tugas aparat.
Semantara itu, dinyatakan oleh staf Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat bahwa:
“Sejauh ini beliautelah memberikan penjelasan tentang tugas dan mampu bekerja sama dengan aparat dalam upaya memberikan pengarahan dan bimbingan pelaksanaan tugastugas aparat. Pengalaman kerja aparat juga kan turut membantu memudahkan beliau untuk mengarahkan mereka. Istilahnya itu dikasih pengarahan sedikit mereka sudah mengerti.”
Tindakan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan barat Memberibimbingan dan pengarahan tugassebagaimana diuraikan di atas mengindikasikan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, telah mempunyai kecakapan sebagai pemimpin. Pemimpin yang cakap, lebih mudah mencapai tujuan organisasinya karena mengetahui banyak hal dari berbagai bidang. Pemimpin yang cakap menyadari bahwa efektivitas organisasi yang dipimpinnya bukan hanya ditentukan oleh keberhasilannya seorang diri.
Gaya motivasi menekankan pada kemampuan individu atau pimpinan untuk mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan organisasi adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia, baik perorangan maupun kelompok dan untuk memotivasi agar
bawahan mau melakukan
tanggungjawabnya. seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Pemimpin tipe ini lebih memperhatikan kebutuhan psikologis bawahan yakni harga diri dan
14 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
aktualisasi diri bawahan dalam mengembangkan kemampuannya.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat digambarkan bahwa para aparat di Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barattelah mampu memotivasi dan bekerjasama dengan baik, baik bekerjasama dengan pimpinan maupun bekerjasama dengan rekan-rekan aparat yang lainnya. Selain itu, mereka rata-rata sudah lama bekerja di Bagian Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan ritme kerja maupun orang-orang yang bekerja di kantor tersebut. Setiap petugas memang memiliki karakter masing-masing, tetapi dengan kedekatan tersebut menjadikan mereka dapat saling menyesuaikan diri.
Tentu saja hal ini harus dimusyawarahkan dengan pegawai lainnya. Namun hal ini berarti menunjukkan adanya perhatian pimpinan kepada bawahan. Seorang pimpinan yang tidak perhatian pada bawahan akan mudah tidak menyetujui sesuatu dari bawahan berdasar emosinya, tanpa harus dipertimbangkan obyektivitas pendapat tersebut pada pegawai lainnya.
Mengenai sejauhmana perhatian yang diberikan oleh Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat terhadap lingkungan. Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan
Barat menghargai pendapat bawahannya, justru hal itu nantinya menjadi feedback bagi Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratagar lebih meningkatkan lingkup dan intensitas
perhatiannya kepada
bawahannya/aparatnya.
2. Gaya Kepemimpinan Kekuasaan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat
Gaya kekuasaan adalah pemimpin yang menggantungkan pada kekuasaan formalnya, organisasi dipandang sebagai milik pribadi, mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Yang kedua gaya partisipatif atau juga disebut gaya demokratif, yaitu pemimpin yang memandang manusia adalah makhluk yang bermartabat dan harus dihormati hak-haknya. Dalam menggerakkan pengikut lebih banyak menggunakan persuasi dan memberikan contoh-contoh.
Dan yang ketiga adalah gaya bebas, yaitu kepemimpinan yang hanya kemauan pengikutnya menghindari diri dari penggunaan paksaan atau tekanan.
Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barattidak menggunakan pendekatan gaya kekuasan dalam memimpin bawahan, beliau mengedepankan hubungan kerja
15 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
kemanusiaan atau dengan istilah human relation.
Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat sangat menyadari bahwa efektivitas organisasi akan tercapai karena adanya dukungan semua bawahan terhadap tujuan organisasi, yaitu dengan bersedia melakukan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu segala pengetahuan yang dimilikinya yang terkait dengan pencapaian tujuan organisasi dan ditularkan semaksimal mungkin kepada anak buahnya. Mengenai kecakapan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat seorang staf memberi keterangan sebagai berikut:
“Beliau sudah sangat baik dalam bekerja, kalau ada masalah atau pekerjaan, Dia tidak ingin ada pekerjaan yang ketinggalan belum dikerjaan. Jadi walaupun telah didelegasikan, pasti dia juga ikut bekerja.”
Salah satu pendapat dari seorang staf menyebutkan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, memiliki ciri-ciri kepemimpinan baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam melakukan control serta
dapat mengatur staf sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Staf lainnya menyatakan bahwa:
“Beliau adalah pemimpin yang sangat cakap dan pandai, baik secara formal edukatif maupun berdasarkan pengalaman, beliau memiliki kecakapan yang baik sebagai”
Sementara itu staf lainnya Bagian Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratmengatakan:
“Sebagai Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratsangat pintar dalam mengelola organisasi dapat mengambil keputusan secara obyektif dan adil.”
Kutipan wawancara di atas menunjukkan bahwa kepandaian Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, yang tinggi karena mengusasi banyak bidang sehingga dapat secara kreatif dan cepat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah organisasi atas dasar pertimbangan yang obyektif dan sesuai pedoman yang berlaku.
Kondisi kepemimpinan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, ,juga dapat
16 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
diindikasikan dari sikap ketegasan dan tanggung jawab beliau terhadap keputusan yang diambil. Seorang staf Bagian Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratberpendapat:
“Beliau memiliki tanggung jawab yang bagus. Setiap keputusan yang dibuat harus dilaksanakan. Kalau pun tidak bisa atau gagal, pasti dicari sebabnya dan dia berani mengakui itu.”
Keterangan di atas memperlihatkan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, sangat tegas dan konsisten dengan apa yang diputuskan. Ini berarti bila Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratsudah mengambil suatu keputusan, ia ingin memperjuangkan agar keputusan tersebut dapat dilaksanakan. Tentu saja tidak mungkin ia bekerja sendirian, melainkan membutuhkan dukungan segenap bawahannya. Apabila keputusan tersebut menyangkut rencana-rencana baru ataupun inovasi tentang pengembangan bawahan atau organisasi maupun masyarakat, selama komunikasi dalam organisasi berlangsung efektif, bawahan pasti secara sukarela mendukung keputusan tersebut. Hal tersebut bisa ditafsirkan lain oleh bawahan yang berbeda sifat/kondisinya.
Ungkapan serupa juga disampaikan oleh seorang staf berikut ini:
“Menurut saya pak Kepala Biro Administrasi memiliki sikap ketegasan, disiplin dan tanggung jawab yang cukup baik terhadap keputusan yang diambil. Beliau bersikap bijaksana dengan meminta pendapat kami selaku aparatnya. Setiap keputusan juga senantiasa diambil dengan penuh pertimbangan dan setahu saya beliau juga senantiasa siap dengan segala resikonya. Jika terjadi sesuatu diluar perkiraan atau perencanaan, maka beliau siap bertanggung-jawab.”
Wawancara di atas
mencerminkan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat, memiliki sikap ketegasan, disiplin dan tanggung jawab yang cukup baik terhadap keputusan yang diambil maupun dalam mengawasi staf Provinsi kalimantan barat. Beliau juga bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, yakni dengan meminta pendapat kami selaku aparatnya. Setiap keputusan juga senantiasa diambil dengan penuh pertimbangan dan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratsenantiasa siap dengan segala
17 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
resikonya. Jika terjadi sesuatu diluar perkiraan atau perencanaan, maka beliau siap bertanggung-jawab.
Dalam pemenuhan suatu kebutuhan layanan, hendaknya pelayanan itu dipandang sebagai suatu kewajiban oleh pihak penyelenggara, sehingga dengan demikian penerima layanan publik akan memperoleh kepuasan. Karena kepuasan para penerima layanan inilah yang berkorelasi dengan kualitas pelayanan.
Oleh sebab itu, berkualitasnya suatu bentuk layanan sangat berpengaruh pada persepsi masyarakat. Masyarakat adalah konsumen yang terlibat langsung dengan pihak pemberi layanan, karena itu masyarakat mampu untuk menilai apakah layanan yang diberikan itu telah sesuai dengan kebutuhan dan harapannya ataukah belum.
3. Gaya Kepemimpinan Pengawasan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat
Pimpinan harus mampu memahami dengan pikiran yang jernih terhadap seluruh pegawai yang diawasi.
Apabila terjadi masalah dalam pekerjaan yang ditetapkan dalam rencana dengan kinerja yang ditampilkan oleh para pelaksana tugas. Dalam hal mengkoreksi penyimpangan-penyimpangan, ini dapat dianggap sebagai tindakan memaksa agar
dilakukan usaha-usaha untuk mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Seorang pimpinan harus mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan dan dengan pengawasan untuk menghindari dan mengetahui kelemahan-kelemahan, serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas. Dengan mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut dapat diambil tindakan-tindakan perbaikan untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Pengawasan bertujuan untuk mengusahakan apa yang telah direncanakan dapat terwujud.
Pengawasan yang dilakukan bukan bermaksud untuk mencari-cari kesalahan seseorang akan tetapi bermaksud untuk mencegah terjadinya penyimpangan- penyimpangan. Oleh karena itu, maka pimpinan harus mengetahui fungsi pengawasan yang dilakukan.
Dalam melaksanakan
pengawasan seorang pemimpin atau petugas hendaknya memperhatikan cara- cara pengawasan yang efektif, hal ini dimaksudkan supaya kegiatan pengawasan itu tidak menyimpang dari jalur yang sudah ada. Seiring dengan perjalanan waktu, makin lama masa kerja pegawai diharapkan makin banyak pengalaman terakumulasi sehingga makin meningkat pula kemampuan
18 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
kerjanya. Pada tingkat tertentu, kemampuan kerja pegawai yang memadai menunjang tercapainya penyelesaian tugas/pekerjaan secara lebih tepat waktu, dengan kualitas dan kuantitas pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan oleh pimpinan. Jika setiap pegawai dalam organisasi mempunyai kemampuan kerja yang memadai dalam posisinya masing-masing, maka hal ini sangat menunjang ditegakkannya disiplin kerja pegawai.
Dalam rangka mencapai tujuan organisasi, penting sekali diwujudkan suatu budaya disiplin kerja pegawai.
Seorang pimpinan formal seperti Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat memiliki kewenangan untuk mewujudkan disiplin kerja bawahannya. Misalnya dengan memberlakukan tata tertib bagi para pegawai/bawahan di lingkungan instansi yang dipimpinnya. Agar disiplin kerja dapat ditegakkan dalam lingkungan Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat seorang Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratharus mampu memberikan contoh dalam pelaksanaan disiplin kerja. Selain itu, bagi pelanggaran tata tertib hendaknya dikenakan sanksi, namun dalam rangka pembinaan disiplin pegawai. Sehingga, perlu diperhatikan pertimbangan kemanusiaan. Pada gilirannya, jika
kemampuan kerja pegawai dan disiplin kerja dapat ditingkatkan, hal ini sangat menunjang ditingkatkannya prestasi dan produktivitas pegawai. Dengan kata lain kepemimpinan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat berperanan penting dalam peningkatan disiplin aparat bagianBiro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat.
Mengenai apakah Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barattelah melaksanakan atau mewujudkan kepemimpinan yang baik, salah satunya dapat diindikasikan dari sejuhmana kepemimpinan Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat dalam mengawasi aparat. Terkait dengan hal ini, sekretaris Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratmengatakan:
“Pak Kepala sehari-hari jarang mengawasi kegiatan kami. sebagai pimpinan beliau sudah mempercayakan kepada kami dalam melakukan segala kegiatan pelayanan.”
Ungakapan di atas menunjukkan bahwa pimpinan (Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat) belum melakukan pengawasan dengan baik kepada bawahannya.
Sehingga hasil yang dicapai dalam penyelesaian pekerjaan tidak sesuai
19 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
dengan yang diharapkan. Ungkapan serupa juga disampaikan oleh seorang staf berikut ini:
“Selama saya menjadi anak buah beliau saya merasa kurang diawasi beliau selaku pimpinan, ya intinya beliau tidak meragukan kemampuan kami dalam pelaksanakan pekerjaan.”
Wawancara di atas menunjukkan bahwa Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat sangat lemah dalam melakukan pengawasan terhadap proses maupun hasil pelayanan bawahannya
PENUTUP KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan diantaranya sebagai berikut:
1. Gaya motivasi dalam kepemimpinan Kepala Biro AdministrasiProvinsi kalimantan Barat telah dilaksanakan, yaitu dengan memberikan motivasi dan pengarahan dengan baik kepada bawahan/aparatnya dalam tugasdi Provinsi kalimantan Barat. Selain itu pegawai sudah lama bekerja di bidang tersebut, sehingga sudah dapat menyesuaikan diri dengan
ritme kerja maupun orang-orang yang bekerja di kantor tersebut.
Setiap petugas memang memiliki karakter masing-masing, tetapi dengan kedekatan tersebut menjadikan mereka dapat saling menyesuaikan diri
2. Kepala Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat tidak menggunakan pendekatan gaya kekuasan dalam memimpin bawahan, Kepala Biro Administrasimengedepankan hubungan kerja kemanusiaan atau dengan istilah human relation.
Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Baratsangat menyadari bahwa efektivitas organisasi akan tercapai karena adanya dukungan semua bawahan terhadap tujuan organisasi, sehingga beliau lebih menekankan pada pendekatan kemanusiaan dalam pelaksanaan tugasnya.
3. Gaya Kepemimpinan pengawasan Kepala Biro Administrasi Provinsi kalimantan Barat belum melakukan pengawasan dengan baik kepada bawahannya. Sehingga hasil yang dicapai dalam penyelesaian pekerjaantidak sesuai dengan yang diharapkan.
20 Rukini
E 1012161018
Ilmu Administrasi Publik Universitas Tanjungpura
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Kepala Biro Administrasi Kantor Provinsi kalimantan Barat perlu memperhatikan dan memberikan motivasi yang bersifat nonmaterial, dengan intensitas yang seimbang dibandingkan dengan motivasi yang bersifat materi terhadap para pegawainya, hal ini dapat dimulai dengan menciptakan suasana kerja yang komunikatif, dengan menumbuh kembangkan kerjasama yang baik antara pimpinan dan bawahan. Jika hal ini coba untuk dilaksanakan penulis optimis lambat laun pelayanan yang diberikan kepada masyarakat akan lebih baik dan masyarakat pun dapat merasa puas akan layanan yang diterimanya.
2. Kepala Biro Administrasisebagai pemimpin perlu meningkatkan bimbingan dan pembinaan untuk memaksimalkan prilaku bawahan demi mewujudkan pelayanan yang baik kepada masyarakat sehingga peran dan kinerja dalam upaya pemenuhan pelayanan
kepada masyarakat lebih optimal dan lebih di utamakan.
3. Sebagai upaya untuk lebih meningkatkan disiplin kerja pegawai, hendaknya Kepala Biro Administrasidapat memberikan penghargaan kepada pada bawahannya yang berprestasi dalam menjalankan tugas- tugasnya sehingga akan memberikan semangat bagi para bawahan untuk menjalankan kinerja yang diembannya.
Daftar Pustaka
Pamudji S, 2005, Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta.
Poerwadarminta,W.J.S.1995. Kamus Bahasa Indonesia. PT. Balai Pustaka. Jakarta
Moleong J, Lexy. 2000. Metodelogi Penelitian Kualitatif PT.
Remaja Rosdakarya.
Nawawi, Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial.
Yogyakarta Gajah Mada University
Syafiie, Inu Kencana. 1998. Manajemen Pemerintahan. PT. Pertija.
Jakarta.
Sugiono. 2014. Metode Penelitian Kualitatif R&D. Bandung : ALFABET