• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Lokasi penelitian terdiri dari lokasi pengambilan udang mantis contoh dan lokasi pengukuran sumber makanan potensial udang mantis melalui analisis isotop stabil. Lokasi pengambilan udang mantis contoh adalah di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi (Gambar 1), sedangkan analisis isotop stabil dilakukan di Departemen Kimia, Fakultas Sains, University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Waktu penelitian terdiri dari waktu pengambilan udang contoh (Juli dan Nopember 2009, Juni dan Agustus 2010) dan waktu untuk analisis isotop stabil pada September hingga Desember 2010.

Gambar 1. Lokasi pengambilan udang mantis contoh (ditunjukkan oleh anak

(2)

2.2. Metode Kerja

2.2.1. Pengumpulan Udang Mantis Contoh

Udang mantis contoh yang diambil di lokasi penelitian berasal dari daerah subtidal dan intertidal. Udang mantis contoh dari daerah subtidal diperoleh dari hasil tangkapan nelayan udang mantis menggunakan alat tangkap jaring insang (gillnet) yang didaratkan di penampungan. Sedangkan udang mantis contoh dari daerah intertidal diperoleh dari hasil penangkapan peneliti dengan metode penyapuan menggunakan jaring dasar (bottom net), baik yang pengoperasiannya didorong perahu (sondong) maupun ditarik perahu (trawl mini) (Gambar 2).

Gambar 2. Operasional alat tangkap udang mantis contoh dengan jaring dasar di

daerah intertidal (Kiri: sondong; Kanan: trawl mini)

2.2.2. Pengukuran Panjang dan Bobot Udang Mantis Contoh

Total jumlah udang mantis contoh yang terdata adalah 2.109 ekor, terdiri dari 1.294 ekor udang mantis yang didaratkan di penampungan dan 815 ekor udang mantis hasil tangkapan peneliti. Seluruh udang mantis contoh tersebut diukur panjang total dengan istilah panjang tubuh Kubo atau Kubo’s body length (BL), yaitu panjang tubuh yang diukur dari ujung rostrum hingga anterior (ujung bagian tengah telson) (Ohtomi et al. 1992; Kubo et al. 1959). BL udang mantis diukur dengan menggunakan kaliper dengan faktor ketelitian 0,1 cm; sedangkan berat udang mantis yang tertangkap ditimbang dengan menggunakan timbangan digital dengan faktor ketelitian 0,1 gram. Data panjang dan bobot udang mantis contoh digunakan sebagai dasar untuk menganalisa pola pertumbuhan udang mantis.

(3)

2.2.3. Persiapan Bahan untuk Analisis Isotop Stabil

Analisis isotop stabil digunakan sebagai dasar untuk menentukan sumber-sumber makanan potensial bagi udang mantis. Udang mantis contoh untuk analisis isotop stabil berjumlah 61 ekor (diluar udang mantis contoh untuk analisis pertumbuhan) hasil tangkapan peneliti menggunakan trawl mini di lokasi penelitian daerah intertidal pada bulan Agustus 2010. Untuk kebutuhan analisis, bahan diambil dari isi usus dan jaringan otot udang mantis contoh (masing-masing 61 sampel). Kemudian sebagai sampel standar digunakan serbuk alanina sejumlah 26 sampel dan sebagai blangko digunakan tin cup tanpa diisi bahan apapun sejumlah 4 sampel. Selain itu, pada saat perpindahan analisis isotop stabil per kelompok sampel digunakan sampel penetralisir dari campuran isi usus dan jaringan otot udang mantis sejumlah 30 sampel. Jadi, secara keseluruhan terdapat 182 sampel.

Proses pengukuran isotop stabil membutuhkan waktu sekitar 10 menit per sampel dan berlangsung secara simultan, berurutan tanpa henti atau terputus, termasuk untuk blanko dan sampel standar. Rincian prosedur dan gambaran proses analisis isotop stabil disajikan pada Lampiran 1 dan 2.

2.2.4. Pengukuran Kualitas Air

Sebagai data penunjang dilakukan pengukuran kondisi kualitas air di lokasi penelitian bersamaan dengan penangkapan udang mantis contoh. Pengukuran kualitas air dilakukan secara in situ di daerah penangkapan udang mantis dengan menggunakan beberapa alat pengukur. Parameter kualitas air yang diukur adalah pH, suhu, oksigen terlarut, dan salinitas.

2.3. Analisis Data

2.3.1. Sebaran Frekuensi

Analisis sebaran frekuensi digunakan untuk menentukan distribusi udang mantis berdasarkan kelompok ukuran. Analisis sebaran frekuensi ini dilakukan dengan metode Battacharya (Sparre & Venema 1999).

Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar kelompok ukuran, dilakukan uji t pada analisis beda dua regresi berdasarkan Fowler and Cohen (1992), sebagai berikut:

(4)

Langkah 1:

Tentukan nilai (b1 – b2); b = koefisien pertumbuhan

Langkah 2:

Tentukan nilai SE(b1-b2) (standard error) 2 2 2 1 ) 2 1 (b b SEb SEb SE   Langkah 3:

Tentukan nilai thitung

) 2 1 ( 2 1 ) ( b b itung h SE b b t    Langkah 4:

Tentukan nilai derajat bebas atau degree of freedom (df)

df = (n1 – 2)+(n2 – 2)

Langkah 5:

Tentukan nilai ttabel

Nilai ttabel pada Appendix 2 dengan nilai df sesuai hasil Langkah 4 pada selang

kepercayaan 95% Langkah 6:

Bandingkan nilai thitung dengan ttabel

Jika thitung > ttabel , maka berbeda nyata

Jika thitung < ttabel , maka tidak berbeda nyata 2.3.2. Hubungan Panjang Total dan Bobot

Analisis hubungan panjang bobot digunakan untuk menentukan pola pertumbuhan udang mantis dengan menggunakan uji regresi, dengan rumus sebagai berikut (Effendie 1997):

W = aLb

Keterangan: W = Berat tubuh udang mantis (gram)

L = Panjang udang mantis (mm)

(5)

Korelasi parameter dari hubungan panjang berat dapat dapat dilihat dari nilai konstanta b (sebagai penduga tingkat kedekatan hubungan kedua parameter), yaitu:

Nilai b = 3, menunjukkan pola pertumbuhan isometrik (pola pertumbuhan panjang sama dengan pola pertumbuhan berat)

Nilai b ≠ 3, menunjukkan pola pertumbuhan allometrik:

Jika b > 3, maka allometrik positif (pertumbuhan berat lebih dominan) Jika b < 3, maka allometrik negatif (pertumbuhan panjang lebih dominan)

Untuk lebih menguatkan pengujian dalam menentukan keeratan hubungan kedua parameter (nilai b), dilakukan uji t dengan rumus berikut (Walpole 1992):

1 1 Sb bo b Thit  Keterangan: Sb1 = Simpangan baku b1 b0 = Intercept b1 = Slope

sehingga diperoleh hipotesis: H0 : b = 3 (isometrik)

H1 : b ≠ 3 (allometrik)

Setelah itu, nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel sehingga keputusan

yang dapat diambil adalah sebagai berikut: thitung > ttabel, maka Tolak H0

thitung > ttabel, maka Gagal Tolak H0

Keeratan hubungan panjang berat udang mantis ditunjukkan oleh nilai koefesien korelasi (r). Nilai r yang mendekati 1 (r > 0,7) menggambarkan hubungan yang erat antara keduanya, dan nilai r yang menjauhi 1 (r > 0,7) menggambarkan hubungan yang tidak erat antara keduanya (Walpole 1992).

2.3.3. Pendugaan Parameter Pertumbuhan

Plot Ford-Walford merupakan salah satu metode paling sederhana dalam menduga parameter pertumbuhan L∞ dan K dari persamaan von Bertalanffy dengan interval waktu pengambilan contoh yang sama (King 1995). Berikut ini adalah persamaan pertumbuhan von Bertalanffy:

(6)

Lt = L∞ (1-e[-K(t-t0)])

Keterangan:

Lt : Panjang udang pada saat umur t (mm)

L∞ : Panjang maksimum secara teoritis (panjang asimtotik) (mm)

K : Koefisien pertumbuhan (per bulan)

t0 : umur teoritis pada saat panjang sama dengan nol (bulan)

Nilai L∞ dan K didapatkan dari hasil perhitungan dengan metode ELEFAN I (Electronic Length Frequencys Analysis) yang terdapat dalam program FISAT II. Sedangkan umur teoritis udang mantis pada saat panjang sama dengan nol (t0) diduga secara terpisah menggunakan persamaan empiris Pauly (Pauly

1984) sebagai berikut:

Log (-t0) = 0,3922 – 0,2752 (Log L∞) – 1,038 (Log K) 2.3.4. Laju Eksploitasi (E)

Analisis laju eksploitasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat penangkapan udang mantis di lokasi penelitian. Analisis laju eksploitasi dilakukan hanya terhadap udang mantis hasil tangkapan di daerah subtidal yang didapatkan dari penampungan. Laju eksploitasi ditentukan dengan membandingkan mortalitas penangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z) (Pauly 1984):

Z F M F F E    --- (Pauly 1984)

T

K

L

M

0

,

0152

0

,

279

ln

0

,

6543

ln

0

,

463

ln

ln

(Pauly 1980 in Sparre & Venema 1999)

) ' ( ) ( L L L L K Z  

  --- (Beverton & Holt 1957)

Keterangan:

M = mortalitas alami

F = mortalitas penangkapan (F=Z-M)

K = koefisien pertumbuhan

(7)

L = rata-rata panjang udang mantis dalam kelompok umur tertentu L’ = panjang udang mantis terkecil yang tertangkap.

T = rata-rata suhu permukaan air (oC)

Laju eksploitasi optimum menurut Gulland (1971) in Pauly (1984) adalah Eoptumum = 0,5.

2.3.5. Analisis Isotop Stabil

Penentuan rasio 13C/12C dan 15N/14 N dilakukan dengan analisis continuous

flow isotope ratio mass spectrometry (CF-IRMS) menggunakan a Europa

ScientificANCA-NT 20-20 Stable Isotope Analyzer. Rasio 13C/12C dan 15N/14 N yang didapatkan dari analisis ini digunakan untuk menghitung rasio isotop stabil contoh. Rasio isotop stabil dinyatakan secara konvensional dalam notasi delta (δ) dengan satuan per mil (0/00) berdasarkan persamaan berikut ini (Grall et al. 2006):

1000 1 x R R X stndard sample         

dimana X adalah 15N atau 13C, Rsample adalah rasio hubungan 15N/14N atau 13C/12C

dalam sampel dan Rstandard adalah rasio dari standar referensi internasional. Delta

() mempunyai unit per mil (0

/00) dan memungkinkan pengukuran rasio isotop

untuk tetap pada ukuran yang dapat dikelola.

Nilai δ15N dan δ13C pada isi usus dan jaringan otot udang mantis dibandingkan untuk mengetahui tingkat perbedaannya. Untuk mengetahui jenis-jenis sumber makanan potensial bagi udang mantis, dilakukan penelusuran hasil-hasil penelitian lain tentang analisis isotop stabil pada organisme-organisme yang hidup pada daerah intertidal.

Untuk analisis isotop stabil pada isi usus udang mantis ini hanya dianalisis 9 sampel dari total 61 sampel isi usus udang mantis yang diolah datanya. Dari hasil pengolahan data terlihat bahwa dari 61 sampel isi usus udang mantis, hanya 9 sampel isi usus yang nilai isotop stabilnya terpisah atau tidak tercampur dengan nilai isotop stabil pada sampel jaringan otot udang mantis. Dengan demikian, nilai isotop stabil biota-biota perairan yang habitatnya sejenis dengan habitat udang mantis yang didapatkan dari hasil penelusuran hasil-hasil penelitian dibandingkan dengan nilai isotop stabil 9 sampel isi usus udang mantis tersebut.

(8)

Dengan demikian, organisme atau biota perairan dengan nilai δ15N dan δ13

C mendekati atau berada pada kisaran nilai δ15N dan δ13C 9 sampel isi usus udang mantis tersebut dapat disimpulkan sebagai sumber makanan potensial bagi udang mantis.

2.3.6. Analisis Kualitas Air

Analisis kualitas air dan tanah dilakukan dengan membandingkan nilai parameter kualitas air hasil pengukuran di lokasi penelitian dengan baku mutu air laut berdasarkan Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut.

Gambar

Gambar 1.  Lokasi  pengambilan  udang  mantis  contoh  (ditunjukkan  oleh  anak  panah) (Diadopsi dari Wardiatno &amp; Mashar 2010)
Gambar 2.  Operasional alat tangkap udang mantis contoh dengan jaring dasar di  daerah intertidal (Kiri: sondong; Kanan: trawl mini)

Referensi

Dokumen terkait

Mata pelajaran AutoCAD adalah salah satu subjek yang sukar dipelajari oleh pelajar kerana ia memerlukan kepada latihan yang berterusan untuk membolehkan pelajar menguasai.. Oleh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inokulasi penyiraman dengan pelukaan akar paling tepat untuk digunakan dalam pengujian ketahanan nilam terhadap penyakit

Delphi versi 2.0 hanya dapat dijalankan pada komputer berbasis 32 bit, yaitu yang menggunakan Windows 9x, versi ini penyempurnaan dari versi 1.0 dengan menambah

Berdasarkan pengertian diatas, makapenelitian ini adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis

2.Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.. 3.Intolerans aktivitas

Menurut Fatah (2008: 73-75) kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang pendidik dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang dapat dilihat dari indikator

Untuk menunjang pelaksanaan akuntansi agar dapat menyajikan informasi yang benar mengenai kas yang dimiliki oleh perusahaan maka diperlukan suatu prosedur audit kas,

Dari hasil pengukuran geolistrik untuk air tanah dalam , akifer berada pada kedalaman 38,10 – &gt; 138,40 - 200 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya