• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Askep Post Partum Hiv Aids

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab I Askep Post Partum Hiv Aids"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A.latar belakang

Adapun yang menjadi latar belakang penulisan makalah ini adalah; masa nifas adalah masa pemulihan alat reproduksi setelah proses persalinan (2 jam setelah kala iv sampai 6-8 minggu kemudian).kurangnya pengetahuan ibu dengan hiv aids tentang perawatan setelah melahirkan.Kurangnya dukungan dari berbagai kelompok terhadap ibu post partum dengan hiv aids.

Hanya sedikit diketahui tentang kondisi klinis wanita yang terinfeksi HIV selama periode pascapartum. Walaupun periode pascapartum awal tidak signifikan, follow-up yang lebih lama menunjukkan frekuensi penyakit klinis yang tinggi pada ibu yang anaknya menderita penyakit. Konseling tentang pengalihan pengasuhan anak dibutuhkan jika orang tua tidak lagi mampu merawat diri mereka.

Terlepas dari apakah infeksi terdiagnosis, roses keperawatan diterapkan dengan cara yang peka terhadap latar belakang budaya individu dan dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Infeksi HIV merupakan suatu peristiwa biologi, bukan suatu komentarmoral. Sangat penting untuk diingat, ditiru, dan diajarkan bahwa reaksi (pribadi) terhadap gaya hidup, praktik, atau perilaku tidak boleh mempengaruhi kemampuan perawat dalam member perawatan kesehatan yang efektif, penuh kasih sayang, dan obyektif kepada semua individu.

Bayi baru lahir dapat bersama ibunya, tetapi tidak boleh disusui. Tindakan kewaspadaan universal harus diterapkan, baik untuk ibu maupun bayinya, sebagaimana yang dilakukan pada semua pasien. Wanita dan bayinya dirujuk ke tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam terapi AIDS dan kondisi terkait.

B. Tujuan penulisan

1.tujuan umum

mampu melakukan asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan hiv aids.

(2)

a. Dapat menggambarkan pengkajian asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan hiv aids

b. Dapat menggambarkan perencanaan asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan hiv

aids.

c. Dapat menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan hiv aid

aids.

d. Dapat menggambarkan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada ibu post

partum dengan hiv aids. C. Metode penulisan

dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan tehnik pendekatan sebagai berikut;study kepustakaan, study kasus, tehnik wawancara, pemeriksaan fisik, tehnik observasi dan study dokumentasi. D. Sistematika penulisan

Penulisan makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri 3 bab yaitu; Bab I : pendahuluan yang meliputi : a.latar belakang, b.tujuan penulisan, c. Metode penulisan

d. Sistematika penulisan. BAB II : Landasan Teori Hiv Aids

A. Konsep medis : defenisi, anatomi fisiologi , patofisiologi, etiologi dan gejala klinis.

B. Konsep dasar keperawatan: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

(3)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A.Konsep medis 1. Defenisi

Asuhan ibu postpartum adalah suatu bentuk manajemen kesehatan yang dilakukan pada ibu nifas dimasyarakat. Pemberian asuhan secara menyeluruh, tidak hanya kepada ibu nifas, akan tetapi pemberian asuhan melibatkan seluruh keluarga dan anggota masyarakat disekitaranya

HIV (Human Immunodeficiency Virus), adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV tergolong dalam kelompok retrovirus yaitu kelompok virus yang mempunyai kemampuan untuk mengkopi-cetak materi genetik diri di dalam materi genetik sel-sel yang ditumpanginya. Melalui proses ini HIV dapat mematikan sel-sel T-4.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh HIV. Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan Timur. HIV-2

terutama ditemukan di Afrika Barat.

(4)

Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. Diperkirakan sekitar 50% orang yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala AIDS dalam 5 tahun pertama, dan mencapai 70% dalam sepuluh tahun akan mendapat AIDS. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIVmenyerang sel target dalam jangka waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.

Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.

Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada

(5)

orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.

Setelah virus HIVmasuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu selama 3-6 bulan sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Fase ini disebut periode jendela (window period). Setelah itu penyakit seakan berhenti berkembang selama lebih kurang 1-20 bulan, namun apabila diperiksa titer antibodinya terhadap HIVtetap positif (fase ini disebut fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran klinik AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). Perjalanan penyakit infeksi HIVsampai menjadi AIDS membutuhkan waktu sedikitnya 26 bulan, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah

diketahui atau terindikasi HIV positif.

3. Etiologi dan Gejala

(6)

Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah infeksi oleh virus HIV, yang menyerang system kekebalan tubuh sehingga sel-sel pertahanan tubuh makin lama makin banyak yang rusak. Penderita infeksi HIV menjadi sangat rentan terhadap semua bentuk infeksi. Pada tahap akhir, penderita tidak bisa tahan terhadap kuman-kuman yang secara normal bisa dilawannya dengan mudah.

Infeksi HIV ditularkan melalui hubungan badan baik vagina, anus, dan kontak dengan darah penderita HIV, seperti lewat jarum suntik, bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV, menerima transfusi darah yang terinfeksi, serta transplantasi organ tubuh.

Apabila anda merasa telah terkena infeksi HIV segeralah periksa ke dokter. Hindari tempat-tempat yang banyak serangan penyakit. Tidak melakukan hubungan badan dan mencegah kehamilan, serta jangan menjadi donor darah , sperma, ataupun organ tubuh.

Sebagai tambahan : infeksi HIV/AIDS tidak bisa ditularkan lewat kontak sosial biasa seperti berjabat tangan dan berpelukan. Makanan atau alat-alat makan. Toilet dan kolam renang. Gigitan nyamuk atau serangga lain serta donor darah yang bebas virus HIV.

b. Gejala infeksi HIV/AIDS

Gejala infeksi HIV/AIDS tahap awal

Sebagian besar orang yang terkena infeksi HIV tidak menyadari adanya gejala infeksi HIV tahap awal. Karena, tidak ada gejala mencolok yang tampak segera setelah terjadi infeksi awal, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun kemudian. Meskipun infeksi HIV tidak disertai gejala awal, seseorang yang terinfeksi HIV akan membawa virus HIV dalam darahnya. Orang yang terinfeksi tersebut akan sangat mudah menularkan virus HIV kepada orang lain, terlepas dari apakah penderita tersebut kemudian terkena AIDS atau tidak . Untuk menentukan apakah virus HIV ada di dalam tubuh seseorang adalah dengan tes HIV.

Gejala infeksi HIV/AIDS tahap menengah

Gejala infeksi HIV pada tahap menengah sudah lebih jelas, misalnya flu yang berulang-ulang

: lesu, demam, berkeringat, otot sakit, pembesaran kelenjar limfe, batuk.

Gejala infeksi HIV lainnya yaitu infeksi mulut dan kulit yang berulang-ulang, seperti sariawan, atau gejala-gejala dari infeksi umum lain yang selalu kambuh karena penurunan kekebalan tubuh.

Gejala infeksi HIV/AIDS tahap akhir

Gejala infeksi HIV tahap akhir disebut juga gejala AIDS, yaitu berat badan menurun dengan cepat, diare kronis, batuk, sesak nafas (infeksi paru-paru, tuberculosis yang telah meluas), bintik-bintik atau bisul berwarna merah muda atau ungu (kanker kulit yang disebut sarcoma kaposi), pusing-pusing, bingung, infeksi otak.

B. Konsep dasar Keperawatan 1. Pengkajian

(7)

Pengkajian/ Pengumpulan data

Didasarkan pada data subjektif daan juga Objektif. Data subjektif yaitu data yang didapatkan langsung daari pasien atau Pasien atau keluarganya langsung yang berbicara. Sedangkan data Objektif adalah data yang dihasilkan dari hasil pemeriksaan bidan atau tenaga kesehatan. a. Melakukan pengkajian dgn mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu.

b. Melakukan pemeriksaan awal post partum.

1) Keadaan suhu, nadi, respirasi dan Tekanan Darah postpartum 2) Pemeriksaan laboratorium & laporan pemeriksaan tambahan 3) Catatan obat-obat

4) Catatan bidan/ perawat

c. Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu,seperti : 1) Mobilisasi

2) BAK dan BAB

3) Keadaan Nafsu makan 4) Ketidaknyamana/ rasa sakit 5) Kekhawatiran

6) Makanan bayi 7) Reaksi pada bayi Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik meliputi : a. Tekanan Darah, Suhu, nadi

b. Kepala, wajah, mulut dan Tenggorokan, jika diperlukan c. Payudara & putting susu

d. Auskultasi paru2, jika diperlukan

e. Abdomen yang di lihat adalah kandung kencing, keadaan uterus (perkembangannya) f. Lochea yang dilihat adalah warna, jumlah dan bau

g. Perineum : edema, inflamasi, hematoma, pus, bekas luka episiotomi/robek, jahitan, memar,hemorrhoid (wasir/ambeien).

h. Ekstremitas : varises, betis apakah lemah dan panas,edema, reflek.

2. Diagnosa keperawatan 1.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.

2.Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

3.Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.

4.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.

5.Diare berhubungan dengan infeksi GI

6.Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.

3. Perencencanaan keperawatan Diagnosa 1

(8)

pola hidup yang

beresiko.

Intervensi Keperawatan : 1.Monitor tanda-tanda infeksi baru.

2.gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.

3.Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. 4.Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.

5.Atur pemberian antiinfeksi sesuai order

Rasional 1.Untuk pengobatan dini

2.Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit.

3.Mencegah bertambahnya infeksi

4.Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan 5.Mempertahankan kadar darah yang terapeutik Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan

Kriteria hasil; komplikasinya dengan kriteria tak ada tanda-tanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat.

Diagnosa 2

Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan.

Intervensi 1.Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.

2.Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Rasional

1.Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini 2.Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain

Kriteria Hasil : Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteriaa kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC.

(9)

Diagnosa 3

Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan.

Intervensi :

1.Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas

2.Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu

3.Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. Rasional 1.Respon bervariasi dari hari ke hari 2.Mengurangi kebutuhan energi 3.Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik

Kriteri Hasil :

Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas.

Diagnosa 4

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.

Intervensi :

1.Monitor kemampuan mengunyah dan menelan. 2.Monitor BB, intake dan ouput

3.Atur antiemetik sesuai order

4.Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya. Rasional :

1.Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut 2.Menentukan data dasar

3.Mengurangi muntah

4Meyakinkan bahwa makanan sesuai dengan keinginan pasien Krtiteria Hasil :

Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya dengan kriteria mual dan muntah dikontrol, pasien makan TKTP, serum albumin dan protein dalam batas n ormal, BB mendekati seperti sebelum sakit.

(10)

Diare berhubungan dengan infeksi GI Intervensi

1.Kaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah. 2.Auskultasi bunyi usus

3.Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order 4.Berikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside

Rasional

1.Mendeteksi adanya darah dalam feses 2..Hipermotiliti mumnya dengan diare

3.Mengurangi motilitas usus, yang pelan, emperburuk perforasi pada intestinal 4.menghilangkan distensi

Kriteriaa hasil :

Pasien merasa nyaman dan mengnontrol diare, komplikasi minimal dengan kriteria perut lunak, tidak tegang, feses lunak dan warna normal, kram perut hilang, Diagnosa 6

Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai.

Intervensi :

1.Kaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya 2.Biarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal 3.Ajarkan kepada keluaraga tentang penyakit dan transmisinya. Rasional :

1.Memulai suatu hubungan dalam bekerja secara konstruktif dengan keluarga. 2.Mereka tak menyadari bahwa mereka berbicara secara bebas

3.Menghilangkan kecemasan tentang transmisi melalui kontak sederhana. Krtiteria Hasil :

Keluarga atau orang penting lain mempertahankan suport sistem dan adaptasi terhadap perubahan akan kebutuhannya dengan kriteria pasien dan keluarga berinteraksi dengan cara yang konstruktif

4. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan

DX. 1 1.Memonitor tanda-tanda infeksi baru. 2.Menggunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum

(11)

memberikan tindakan.

3.Menganjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. 4.Mengumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.

5.Mengatur pemberian antiinfeksi sesuai order

DX.2

1.Menganjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.

2.Menggunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. DX.3

1.Memonitor respon fisiologis terhadap aktivitas

2.Memberikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu

3.Menjadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. DX.4

1.Memonitor kemampuan mengunyah dan menelan. 2.Memonitor BB, intake dan ouput

3.Mengatur antiemetik sesuai order

4.Merencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya. DX.5

1.Mengkaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah. 2.Mengauskultasi bunyi usus

3.Mengatur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order 4.Memberikan ointment A dan D, vaselin atau zinc oside

DX.6

1.Mengkaji koping keluarga terhadap sakit pasein dan perawatannya 2.Membiarkan keluarga mengungkapkana perasaan secara verbal 3.Mengajarkan kepada keluaraga tentang penyakit dan transmisinya.

5. Evaluasi

Setelah di berikan asuhan keperawatan kepada klien, kebutuhan klien sedikit demi sedikit terpenuhi. ; masa nifas adalah masa pemulihan alat reproduksi setelah proses persalinan (2 jam setelah kala iv sampai 6-8 minggu kemudian).kurangnya pengetahuan ibu

(12)

dengan hiv aids tentang perawatan setelah melahirkan.Kurangnya dukungan dari berbagai kelompok terhadap ibu post partum dengan hiv aids.

Ibu memahami cara perawatan post partum secara mandiri dan mendapat dukungan yang positif dari keluarga dan lingkungan.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.

Tindakan kewaspadaan universal harus diterapkan, baaik untuk ibu maupun bayinya, sebagaimana yang dilakukan pada semua pasien. Wanita dan bayinya dirujuk ke tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam terapi AIDS dan kondisi terkait

Walaupun periode pascapartum awal tidak signifikan, follow-up yang lebih lama menunjukkan frekuensi penyakit klinis yang tinggi pada ibu yang anaknya menderita penyakit. Konseling tentang pengalihan pengasuhan anak dibutuhkan jika orang tua tidak lagi mampu merawat diri mereka

B. Saran

1.Semoga Makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Hartati Nyoman, Suratiah, Mayuni IGA Oka. Ibu Hamil dan HIV-AIDS. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol. 2 No.1 Juni 2009.

2. Doku Paul Narh. Parental HIV/AIDS status and death, and Children’s Phychological

Wellbeing. International Journal of Mental Health system 2009;3(26):1-8

3. Siregar FA. Pengenalan dan Pencegahan HIV-AIDS. Medan. Universitas Sumatera Utara, 2004.

4. Heemanides HS, Lonneke AVV, Ralph V, Fred DM, Aimee D, Gerard VO, et all. Developinh quality indicators for the care of HIV-infected pregnant women in the Dutch Caribbean. Aids Research and Therapy 2011; 8(32) : 1-9.

5. Wamoyi J, Martin M, Janet S, Josephine B, Shabbar J. Changes in sexual desires and

behaviours of people living with HIV after initiation of ART: Implications for HIV prevention and health promotion. BMC Public Health 2011; 11(633): 1-11.

6. Bradley-Springer L, Lyn S, Adele W. Every Nurse Is an HIV Nurse. AJN 2010;110(3):33-39.

7. Bastien S, LJ Kajula, WW Muhwezi. A review of studies of parent-child communication

about sexuality and HIV/AIDS in sub-Saharan Africa. Reproductive Health 2011;8(25):1-17.

8. Anonymous. HIV/ AIDS. WHO. 2010

9. Dorland WAN. 2010. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. Jakarta: EGC.

10. Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison: Prinsip- Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Vol. 1 (Edisi 13). 1995.

11. Walter J, Linda F, Melanie JO, William DD, Theresa G, Alice S, et all.

Immunomodulatory factors in cervicovaginal secretions from pregnant and non-pregnant women: A cross-sectional. BMC Infectious Disease 2011; 11(263): 1-7.

12. Anonymous. 2007. Rencana Nasional Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia 2007-2010. Jakarta: Komisi Penanggulangan AIDS.

(14)

14. Hanafiah MJ, Amir A. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan Edisi 4. EGC: Jakarta. 2007.

15. Hartati N, Suratiah, Iga OM. Ibu hamil dengan HIV-AIDS. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan. 2009:2:1.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM DENGAN HIV AIDS

D I S U S U N O L E H

1. Rosma Yusta Simanihuruk 1202068

(15)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUMATERA UTARA MEDAN

2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena atas rahmat dan izin-Nya peneliti dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum dengan HIV AIDS “.

Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mengalami hambatan, namun dengan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik dari berbagai pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah ini . Penulis sangat mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Medan, 18 Mei 2013 Penulis

Rosma Yusta Simanihuruk Pitra Lestari Pandia

(16)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISI...ii BAB I PENDAHULUAN...1 A. Latar belakang...1 B. Tujuan Penulisan...1 C. Metode Penulisan...2 D. Sistematika Penulisan ...2

BAB II : TINJAUN TEORETIS...3

A. Konsep Medis ...3

1. Defenisi ...3

2. Fatofisiologi ...3

3. Etiologi dan Gejala ...4

B. Konsep Dasar Keperawatan ...6

1. Pengkajian ...6

2. Diagnosa Keperawatan ...7

3. Perencanaan keperawatan ...7

4. Pelaksanaan...10

5. Evaluasi ...11

BAB III : KESIMPULAN DAN SARAN ...12

A. Kesimpulan ...12

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan dengan menumbuhkan tanaman kangkung pada media tanah berair yang mengandung 134 Cs dengan konsentrasi 80 Bq/g, kemudian diukur banyaknya 134 Cs yang

Berawal dari ketertarikan akan karya Sapardi Djoko Damono dalam membuat karya sastra puisi dengan kata yang sederhana tetapi memiliki makna terutama tentang

69.217.500,- (Enam Puluh Sembilan Juta Dua Ratus Tujuh Belas Ribu Lima Ratus Rupiah) pada Tahun Anggaran 2015 sebagai berikut :. NO NAMA PERUSAHAAN ALAMAT

Pada kesempatan ini saya meng- ucapkan terima kasih kepada (1) para pengurus yayasan dan para pendiri Pendidikan Islam Abu Bakar Yogya- karta; (2) para pimpinan

Lampiran 1 Deskripsi kailan varietas Tropica sensation.. Asal : Technisem

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena taufik dan hidayah- Nya dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “ Flypaper Effect Pada Belanja Pegawai

Dari hasil visualisasi sistem ADSL yang dilakukan dengan teknik modulasi QPSK pada Kanal AWGN dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:. Pada transmitter,

Pada penulisan ini akan dibahas penentuan invers Drazin dari matriks Sirkulan (4 x 4) dengan menggunakan matriks kanonik Jordan. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam makalah