• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI BEBERAPA METODE PENENTUAN

NILAI MODULUS DRAINASE PADA LAHAN SAWAH

DI DAERAH DESA SEI BERAS SEKATA

KECAMATAN SUNGGAL KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI

ZULHAKKI 080308001

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

EVALUASI BEBERAPA METODE PENENTUAN

NILAI MODULUS DRAINASE PADA LAHAN SAWAH

DI DAERAH DESA SEI BERAS SEKATA

KECAMATAN SUNGGAL KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI

OLEH:

ZULHAKKI

080308001/KETEKNIKAN PERTANIAN

Skripsisebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjanadiFakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

Judul Skripsi : Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus Drainase pada lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Nama : Zulhakki NIM : 080308001

Program Studi : Keteknikan Pertanian

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Mengetahui A.n Ketua

Sekretaris Program Studi Keteknikan Pertanian Ainun Rohanah, STP, M.Si

Tanggal Lulus :

(Lukman Adlin Harahap,STP,M.Si) Anggota

(4)

Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si Nazif Ichwan, STP, M.Si

(5)

ABSTRAK

ZULHAKKI: Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, dibimbing oleh SUMONO dan LUKMAN ADLIN HARAHAP.

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan membandingkan nilai modulus drainase pada lahan sawah di desa Sei Beras Sekata.

Nilai modulus drainase digunakan sebagai acuan untuk mengeluarkan kelebihan air dari petakan sawah.

Nilai modulus drainase dihitung dengan 3 metode yaitu memplotkan curah hujan maksimum harian, simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah, dan penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum.

Dari hasil penelitian, diperoleh nilai modulus drainase pada metode memplotkan curah hujan maksimum harian adalah 15 mm/hari, metode simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian dipetakan sawah adalah 40,3 mm/hari, dan peggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum adalah 44,6 mm/hari.

Kata Kunci: modulus drainase, sawah, Sei Beras Sekata

ABSTRACT

ZULHAKKI: Evaluation of Several Methodsof Determining Drainage ModulusinWetlandRicefieldSeiBerasSekataRegional SunggalDeli Serdang district, supervised bySUMONOandLUKMANADLINHARAHAP.

The aim wastoquantify andto compare themodulusvaluesof wetlandricefield drainageinthe village ofSeiBeras Sekata.

Drainagemodulusvalueis usedas a reference tothrow out waterfrom thewetland ricefield.

Drainagemodulusvalueswas calculated bythreemethods i.eplottingmaximum dailyrainfall, dailyinundationsimulationswitha dailywater balancein themappedfields, and usingthe formulaofthe Departmentof Public Works.

It was found from the research, thedrainagemodulusvalues ondaily maximumrainfallplottingmethodswas15 mm/day, the dailyinundationsimulation methodswithhighdailywater balancemappedfieldswas 40.3mm/day, andformulaof the Departmentof Public Workswas 44, 6 mm/day.

(6)

Penulis dilahirkan di Ujunggading pada tanggal 12 Oktober 1990dari

Ayah Namlis Lubis dan Ibu Hilmawati. Penulis merupakan anak pertama dari 3

bersaudara.

Tahun 2008 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Lembah Melintang

Ujunggading dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian USU

melalaui jalur Panduan Minat dan Prestasi (PMP). Penulis memilih Program Studi

Keteknikan Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif mengikuti beberapa

organisasi kampus, diantaranya sebagai Ketua Tim Mentoring Agama Islam FP

USU, Ketua Departemen Kaderisasi Badan Kenaziran Mushalla (BKM) Al

Mukhlisin FP USU, dan Ketua Departemen Humas Kesatuan Aksi Mahasiswa

Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat Nusantara USU. Penulis juga pernah

menjadi asisten laboratorium Mekanisasi Pertanian di Program Studi Keteknikan

Pertanian.

Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) diPT. Horti Jaya

Lestari kebun Dokandi Desa Dokan Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo pada

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat

rahmat dan limpahan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi

ini dengan judul “Evaluasi Beberapa Metode Penentuan Nilai Modulus

Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan

Sunggal Kabupaten Deli Serdang” yang merupakan salah satu syarat untuk

mendapat gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada

Bapak Prof. Dr. Ir. Sumono, MS selaku ketua pembimbing skripsi ini dan kepada

Bapak Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si selaku anggota pembimbing yang telah

membimbing dan memberi masukan, kritik, dan saran kepada penulis sehingga

skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Disamping itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf

pengajar dan pegawai di Program Studi Keteknikan Pertanian, serta semua rekan

mahasiswa yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga dengan adanya

penelitian ini nantinya dapat memberikan informasi bagi pihak-pihak yang

membutuhkan.

Medan, Januari 2013

(8)

Hal

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN ... 1

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Drainase ... 11

(9)

DAFTAR TABEL

No Hal

1. Jumlah kebutuhan air per hari tanaman padi sawah berdasarkan jenis Kebu-

tuhannya (mm/hari) ... 7

2. Curah hujan maksimum harian 2002 - 2012 ... 19

(10)

No Hal

1. Tabung pipa pengukur laju perkolasi ... 52

2. Tanaman padi pada derah penelitian ... 53

3. Alat penakar curah hujan ... 53

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No Hal

1. Flowchart Penelitian ... 28

2. Curah hujan maksimum harian ... 29

3. Grafik log normal curah hujan maksimum harian ... 32

4. Kurva kedalaman dan lama hujan ... 39

5. Data tinggi genangan air sawah dan perkolasi ... 40

6. Data hujan pada sawah desa suka beras sei kata ... 48

7.Mean daily percentage (P) of anual daytime hours for different lattitudes - dan Kc values for paddy rice ... 50

8. Perhitungan nilai evapotranspirasi ... 51

9. Metode simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian ... 51

10. Pengukuran laju perkolasi ... 52

(12)

Drainase pada Lahan Sawah di Daerah Desa Sei Beras Sekata Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, dibimbing oleh SUMONO dan LUKMAN ADLIN HARAHAP.

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan membandingkan nilai modulus drainase pada lahan sawah di desa Sei Beras Sekata.

Nilai modulus drainase digunakan sebagai acuan untuk mengeluarkan kelebihan air dari petakan sawah.

Nilai modulus drainase dihitung dengan 3 metode yaitu memplotkan curah hujan maksimum harian, simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah, dan penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum.

Dari hasil penelitian, diperoleh nilai modulus drainase pada metode memplotkan curah hujan maksimum harian adalah 15 mm/hari, metode simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian dipetakan sawah adalah 40,3 mm/hari, dan peggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum adalah 44,6 mm/hari.

Kata Kunci: modulus drainase, sawah, Sei Beras Sekata

ABSTRACT

ZULHAKKI: Evaluation of Several Methodsof Determining Drainage ModulusinWetlandRicefieldSeiBerasSekataRegional SunggalDeli Serdang district, supervised bySUMONOandLUKMANADLINHARAHAP.

The aim wastoquantify andto compare themodulusvaluesof wetlandricefield drainageinthe village ofSeiBeras Sekata.

Drainagemodulusvalueis usedas a reference tothrow out waterfrom thewetland ricefield.

Drainagemodulusvalueswas calculated bythreemethods i.eplottingmaximum dailyrainfall, dailyinundationsimulationswitha dailywater balancein themappedfields, and usingthe formulaofthe Departmentof Public Works.

It was found from the research, thedrainagemodulusvalues ondaily maximumrainfallplottingmethodswas15 mm/day, the dailyinundationsimulation methodswithhighdailywater balancemappedfieldswas 40.3mm/day, andformulaof the Departmentof Public Workswas 44, 6 mm/day.

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tumbuhan padi adalah tumbuhan yang tergolong tanaman air (water plant). Sebagai tanaman air bukanlah berarti bahwa tanaman padi dapat tumbuh

diatas tanah yang terus - menerus digenangi oleh air, baik penggenangan itu yang

terjadi secara alamiah sebagaimana yang terjadi pada tanah rawa - rawa, maupun

penggenangan yang terjadi pada tanah - tanah sawah (Siregar, 1981).

Bertambahnya permintaan akan bahan makanan menyebabkan

meningkatnya posisi penting irigasi dan drainase di daerah tropis. Pengendalian

air yang lebih baik memainkan peranan yang penting bagi pencapaian potensi

produksi maksimum dari varietas - varietas padi modern dan merupakan alat yang

paling menentukan dalam meningkatkan produksi bahan makanan

(Pasandaran dan Taylor, 1984).

Bagi kepentingan pertanian, drainase atau pembuangan/pengairan air

kelebihan tersebut sangat penting, tujuannya untuk mengatur tata air dalam tanah

terutama di daerah/zona perakaran tanaman, agar dengan demikian perkembangan

akar tanaman berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Pembuangan air kelebihan (air irigasi, air hujan, genangan-genangan)

perlu dilakukan, karena dengan tindakan atau perlakuan demikian banyak

diharapkan terjadinya perbaikan aerasi tanah, yang akan menjadikan lingkungan

kehidupan mikroorganisme tanah lebih baik. Lingkungan kehidupan

mikroorganisme yang baik dapat membantu kesuburan tanah, karena mikroba

dalam kegiatan-kegiatannya akan membentuk senyawa-senyawa yang diperlukan

(14)

yang diperlukan untuk kegiatan hidup mikroorganisme tanah tadi. Dengan

berlangsungnya proses kimia dan fisika tanah, maka kesuburan kimia dan fisika

tanah akan bertambah baik (Kartasapoetra dkk., 1994).

Untuk tanaman padi, keberadaan air dianggap sudah berlebih apabila

terjadi genangan di sawah melebihi 15 cm selama lebih dari 3 (tiga) hari.

Sedangkan untuk tanaman palawija, batas aman tanaman untuk tumbuh dengan

air berlebih adalah pada kapasitas lapang, kapasitas lapang adalah suatu keadaan

tanah yang merupakan tanah paling lembab dan mampu untuk menahan kadar air

terbanyak terhadap adanya gaya tarik bumi atau gaya grafitasi.Air berlebihan akan

dapat timbul apabila: (i) air mengalir di lahan dengan kemiringan sangat datar,(ii)

lahan dengan air tanah dangkal, (iii) terjadi hujan lebat melebihi kapasitas

infiltrasi ke dalam tanah, (iv) adanya banjir dari sungai terdekat (Proyek Irigasi

dan Rawa Jambi, 2002 dalam Ade Sumarna, 2005).

Berdasarkan hal tersebut maka penetuan jumlah air yang harus dibuang

persatuan waktu persatuan luas secara tepat perlu diperhitungkan dengan cermat.

Modulus Drainase sangat dibutuhkan untuk menjaga tinggi penggenangan agar

tetap dalam kisaran 15 cm. Sehingga kerugian yang diakibatkan oleh

penggenangan yang berlebihan akibat air irigasi dan air hujan dapat dikurangi dan

produktifitas lahan dapat ditingkatkan (Sumarna, 2005).

Dalam penentuan nilai modulus drainase ada tiga metode yang sudah biasa

digunakan yaitu: dengan memplotkan curah hujan maksimum harian, simulasi

tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah, dan

(15)

3

masing metode tersebut tergantung dari kondisi tempat dan data yang bisa

digunakan.

Untuk desa Sei Beras Sekata, bisa digunakan ketiga metode diatas karena

dilakukan penelitian secara langsung dilapangan dan dengan meminta data curah

hujan harian selama sepuluh tahun terakhir dari Badan Meteorologi, Klimatologi

dan Geofisika, sementara data - data pendukung lainnya diperoleh dengan

pengukuran secara langsung dilapangan.

Ketiga metode diatas sekaligus digunakan juga karena peneliti ingin

melihat perbandingan dari masing - masing metode meliputi: keakuratan hasil

yang diperoleh, kemudahan atau kesulitan dalam setiap metode, dan diharapkan

dapat menyimpulkan metode mana yang layak digunakan oleh masyarakat bila

ingin mengetahui nila modulus drainase dari areal persawahannya.

Desa sei Beras Sekata merupakan desa yang potensial dalam

menghasilkan beras karena memiliki areal pertanaman padi yang luas, dimana

lebih dari setengah luas daerah ini digunakan untuk areal persawahan. Rata - rata

penduduknya berprofesi sebagai petani padi, dan tanaman padi ditanam sepanjang

tahun.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menghitung dan membandingkan nilai

modulus drainase dengan beberapa metode pada lahan sawah di daerah Desa Sei

(16)

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai bahan bagi penulis untuk menyusun skripsi yang merupakan

syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi Keteknikan

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumtera Utara

2. Sebagai informasi bagi masyarakat pengguna lahan persawahan dan

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Lingkungan Tumbuh Tanaman Padi

Padi (Oryza sativa L.) tumbuh baik di daerah tropis maupun subtropis. Untuk padi sawah, ketersediaan air yang mampu menggenangi lahan tempat

penanaman sangat penting. Oleh karena air menggenang terus-menerus maka

tanah sawah harus memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, seperti tanah

lempung. Untuk kebutuhan air tersebut, diperlukan sumber mata air yang besar,

kemudian ditampung dalam bentuk waduk (danau). Dari waduk inilah

sewaktu-waktu air dapat dialirkan selama periode pertumbuhan padi sawah.

Taksonomi tanaman Padi adalah:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Class : Monocotiledonae

Ordo : Poales

Familia : Poaceae

Genus : Oryza

Species : Oryza sativa, L

Tanah yang baik untuk areal persawahan ialah tanah yang mampu

memberikan kondisi tumbuh tanaman padi. Kondisi yang baik untuk pertumbuhan

tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang

berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah dan tingkat

keasaman tanah yang netral, sumber air alam, serta kanopinas modifikasi sistem

(18)

Penggunaan Air Bagi Tanaman Padi

Air dalam kehidupan tanaman berfungsi sebagai penjamin kelangsungan

proses fisiologi dan biologi pertumbuhannya, yaitu:

1. Untuk pemakaian konsumtif (evapotranspirasi)

2. Untuk proses asimilasi

3. Sebagai pelarut unsur-unsur hara

4. Sebagai media pengangkut unsur-unsur di dalam tubuh tanaman

5. Sebagai pengatur tegangan sel (turgor)

6. Sebagai bagian dari tanaman itu sendiri

Air irigasi di areal pertanian, selain berfungsi sebagai penjamin

kelangsungan proses fisiologi dan biologi bagi tanaman, juga berfungsi untuk:

1. Memberikan kelembaban yang diperlukan pada tanah tempat tumbuhnya

tanaman

2. Pencucian garam-garam didalam tanah

3. Melindungi tanah terhadap bahaya kekeringan dimusim kemarau

4. Menyuburkan tanah dan memudahkan pengolahannya.

(Dumairy, 1992).

Kebutuhan Air Tanaman Padi

Kebutuhan air total dengan kata lain permintaan total akan air untuk suatu

daerah / areal pertanian terdiri dari banyaknya air yang diperlukan untuk

pertumbuhan tanaman, evapotranspirasi dari tanaman, evaporasi dari daratan, dan

(19)

7

Tabel 1. Jumlah Kebutuhan Air Per Hari Tanaman Padi Sawah Berdasarkan Jenis

Kebutuhannya (mm/hari)

Jenis Kebutuhan Jumlah Kebutuhan (mm/hari)

Evapotranspirasi

*Tergantung jenis tanah dan keadaan air tanah

(Dumairy, 1992).

Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air irigasi (Irrigation Water Requirement, IWR) adalah jumlah

air yang harus dimasukkan ke jaringan irigasi melalui pintu pengmabilan utama,

sesuai dengan kebutuhan/permintaan dan dengan memperhitungkan pula jumlah

air yang hilang. Kehilangan air dapat terjadi karena evaporasi dan perkolasi.

Perhitungan kebutuhan air irgasi dimaksudkan untuk mengetahui banyaknya air

yang harus dimasukkan melalui pintu pengambilan utama, untuk dialirkan ke

petak persawahan melalui saluran-saluran irigasi yang ada (Dumairy, 1992).

Evapotranspirasi

Evapotranspirasi merupakan kehilangan air melalui proses penguapan dari

tumbuh-tumbuhan, yang banyaknya berbeda-beda tergantung dari kadar

kelembaban tanah dan jenis tumbuhan. Pada daerah saluran yang tidak dilapisi

dimana banyak tumbuh berbagai tumbuh-tumbuhan air terjadinya

evapotranspirasi dapat dikatakan selalu besar. Jika air yang tersedia dalam tanah

(20)

Evapotranspirasi merupakan faktor dasar untuk menentukan kebutuhan air dalam

rencana pengairan bagi lahan-lahan pertanian dan merupakan proses yang penting

dalam siklus hidrologi (Kartasapoetra dkk, 1994).

Evapotranspirasi dipengaruhi oleh suhu, pelaksanaan pemberian air,

panjangnya musim tanam, presipitasi, dan faktor lainnya. Volume air yang

ditranspirasikan oleh tanam-tanaman tergantung dimana air dibuang dan juga

temperatur dan kelembaban udara, gerakan air, intensitas dan lamanya sinar

matahari, tahapan perkembangan tanaman, jenis dan keadaan alami daun-daunan

(Hansen dkk, 1992).

Nilai Evapotranspirasi dapat ditentukan dengan menggunakan metode

Blaney - Criddle:

Eto = p (0.46 T Mean + 8)...(1)

Dimana: p : rata - rata harian persentase siang

T mean: suhu rata - rata harian (oC)

Maka,

ETc = Kc x ETo...(2)

Dimana: ETc : Evapotranspirasi Aktual / Tanaman (mm/hari)

Kc : Koefisien tanaman

ETo : Evapotranspirasi Acuan (mm/hari)

Tahap I: Menghitung suhu rata-rata harian jika ada alat pengukur otomatis suhu

minimum dan maksimum harian

T max

=

Jumlah nilai T max selama satu bulan

Jumlah hari dalam satu bulan

T min

=

Jumlah nilai T min selama satu bulan

(21)

9

T mean

=

T max + T min

2

Tahap 2: Menentukan rata-rata harian persentase siang dengan menggunakan tabel

yang tersedia, dengan diketahui data :

• Letak Lintang (Utara atau Selatan)

• Latitude (berapa derajatgaris lintang daerah penelitian tersebut)

Perkolasi

Perkolasi adalah pembebasan air ke dalam lapisan tanah bagian dalam,

berlangsung secara vertikal dan horizontal, perembesan ini sangat dipengaruhi

oleh sifat-sifat fisik tanah (antara lain permeabilitas dan tekstur tanah),

pengendapan-pengendapan lumpur, dan kedalaman muka air tanah.

Berlangsungnya yaitu sebagai akibat dari gaya berat (Kartasapoetra dkk, 1994).

Pengukuran laju perkolasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode Silider dengan rumus:

Curah Hujan bagi Tanaman Padi

Untuk meteorologi pertanian yang paling banyak diamati di Indonesia

adalah curah hujan. Data curah hujan tahunan, bulanan, mingguan yang telah

terkumpul selama 10 tahun atau lebih di suatu daerah dapat digunakan untuk

(22)

bila kebutuhan air tanaman dari jenis - jenis tanaman telah diketahui

(Guslim, 1997).

Penggenangan

Penggenangan air dapat dilkukan dengan melihat keadaan misalnya,

apabila benih masih terlalu kecil, dan cuaca menunjukkan bahwa akan terjadi

hujan, maka penggenangan air perlu dilakukan agar benih tidak larut dan tidak

rusak oleh air hujan tersebut. Jika benih sudah agak besar, tumbuhnya sudah kuat,

genangan air tidak perlu banyak-banyak, 2 atau 3 hari sebelum benih akan

dicabut, persemaian harus digenangi air lagi, maksudnya agar tanah menjadi lunak

dan memudahkan pencabutan (Sugeng, 1998).

Agar produktifitas dan pertumbuhan tanaman menjadi baik, penggenangan

bukan dilakukan secara sembarangan. Ketinggian air genangan perlu disesuaikan

dengan fase pertumbuhan tanaman sebagai berikut.

a. Awal pertumbuhan

Setelah bibit ditanam, petakan sawah harus digenangi air setinggi 2-5 cm

dari permukaan tanah. Penggenangan air dilakukan selama 15 hari atau

saat tanaman mulai membentuk anakan.

b. Pembentukan Anakan

Pada fase pembentukan anakan, ketinggian air perlu ditingkatkan dan

dipertahankan antara 3-5 cm hingga tanaman terlihat bunting. Bila

ketinggian air lebih dari 5 cm, pembentukan anakan atau tunas akan

terhambat. Sebaliknya bila ketinggian air kuarang dari 3 cm, gulma akan

(23)

11

c. Masa Bunting

Pada masa bunting, air sangat dibutuhkan dalam jumlah yang banyak.

Oleh karena itu ketinggian genangan airnya pun harus cukup tinggi, yaitu

sekitar 10 cm

d. Pembungaan

Selama fase pembungaan, ketinggian air diperthankan antara 5-10 cm.

Kebutuhan air pada fase ini cukup banyak. Namun, bila mulai tampak

keluar bunga maka sawah perlu dikeringkan selama 4-7 hari. Ini dilakukan

agar pembungaan terjadi atau berlangsung secara serentak.

e. Pengeringan

Pengeringan dilkukan 10 hari sebelum panen agar semua bulir padi masak

secara merata (Andoko, 2002).

Tahapan pertumbuhan tanaman yang paling peka terhadap kelebihan

genangan adalah di persemaian, selama tanam (pemindahan bibit dari persemaian

ke lahan) dan permulaan masa berbunga (panicle). Secara umum dapat dikatakan apabila tanaman padi tergenang melebihi separuh tinggi tanaman selama lebih

dari 3 hari berurutan maka akan mengurangi produksi secara nyata. Apabila

kurang dari 3 hari maka pengurangan hasil tidak begitu nyata (Kalsim, 1995).

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Drainase

Sistem pengairan terputus-putus disebut juga sistem intermitten drainage

atau pengairan berkala. Dampak dari sistem pengairan berkala adalah pupuk tidak

banyak hilang, pertumbuhan tanaman rata, dan tanaman berbunga serempak

karena anakan baru tidak tumbuh. Dengan demikian zat hara digunakan secara

(24)

juga berdampak menekan beberapa penyakit penting, seperti hawar pelepah dan

busuk batang (Suprayono dan Setyono, 1997).

Tujuan drainase pertanian adalah reklamasi (pembukaan) lahan dan

pengawetan tanah untuk pertanian, menaikkan produktivitas tanaman dan

produktivitas lahan (menaikkan intensitas tanam dan memungkinkan diversifikasi

tanaman) serta mengurangi ongkos produksi. Tujuan tersebut di atas dicapai

melalui dua macam pengaruh langsung dan sejumlah besar pengaruh tidak

langsung. Pengaruh langsung terutama ditentukan oleh kondisi hidrologi,

karakterisitik hidrolik tanah, rancangan sistem drainase yakni: a. Penurunan muka

air tanah di atas atau di dalam tanah, b. Mengeluarkan sejumlah debit air dari

sistem. Pengaruh tak langsung ditentukan oleh iklim, tanah, tanaman, kultur teknis

aspek sosial dan lingkungan (Kalsim, 1995).

Drainase yang cukup meningkatkan susunan tanah dan menaikkan serta

menyempurnakan produksi tanah. Drainase adalah kepentingan utama dalam

reklamasi tanah yang beragam dan kerapkali yang terendam air. Bahkan jika

hanya daerah itu yang telah diusahakan pertaniannya dipertimbangkan, drainase

menguntungkan pertanian irigasi dan masyarakat umum dalam banyak cara.

Sebagai contoh drainase yang baik: (1) memberikan kemudahan pembajakan dan

penanaman seawal mungkin, (2) memperpanjang musim tumbuh tanaman, (3)

menyiapkan kelembaban tanah yang lebih berarti dan makanan untuk tanaman

dengan meningkatkan kedalaman tanah untuk daerah akar, (4) membantu ventilasi

(25)

13

bakteri tanah, (7) membersihkan penggaraman tanah, (8) menjamin suhu tanah

yang lebih tinggi (Hansen dkk, 1992).

Modulus Drainase

Tujuan dari drainase lahan adalah untuk membuang sejumlah air dalam

jangka waktu yang wajar. Drainase yang dibangun untuk membuang air kelebihan

yang berasal dari hujan umumnya direncanakan untuk membuang suatu jumlah

tertentu dalam 24 jam. Nilai - nilai yang disarankan adalah kira - kira 1 persen

dari curah hujan tahunan rata - rata. Modulus drainase seperti didefenisikan di atas

biasanya akan berada dalam kisaran antara seperempat dan seperdua kali curah

hujan 24 jam 1-tahunan dan dapat diambil sebagai pendekatan bagi peresapan dari

hujan 24 jam 1-tahunan dikurangi jumlah air yang dibutuhkan oleh tanah untuk

mencapai kapasitas lapang (Linsley dan Franzini, 1991).

Kelebihan genangan di petakan sawah disebabakan oleh: hujan lebat,

limpasan air irgasi atau drainase, rembesan dari saluran irigasi. Penentuan

modulus drainase untuk padi dapat dilakukan dengan cara:

1. Memplotkan hujan maksimum untuk beberapa hari berurutan pada berbagai

periode ulang dan penentuan tinggi genangan maksimum yang masih diizinkan

2. Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah.

Penentuan modulus drainase untuk padi sawah berdasarkan perhitungan neraca

air harian:

Wli = WLi-1 + Ri + IRi + Qini - Pi - ETi - Qoi...(4)

Dimana:

Wli : Tinggi genangan air di petakan sawah pada hari ke i (mm)

(26)

Qini : Limpasan dari petakan lain pada hari ke - i (mm)

3. Penentuan Modulus Drainase untuk padi sawah dapat dilakukan dengan

menggunakan persamaan:

Dn = RTn + n (I - ET - P) - ∆S...(5)

Dimana:

n : Jumlah hari hujan berurutan

Dn : Pengeluaran air permukaan selama n hari berurutan (mm)

RTn : Hujan maksimum n hari berurutan dengan periode ulang T tahun

(mm)

I : Air irigasi (mm/hari)

ET : Evapotranspirasi (mm/hari)

P : Perkolasi (mm/hari)

∆S : Tampungan tambahan di sawah pada 150 mm lapisan air maksimum,

tampungan ∆S pada akhir hari berurutan (n) diambil maksimum 50 mm.

Sehingga Modulus Drainase (Dm)

=

Dn (mm)

n (hari)

Untuk modulus pembuang rencana, dipilih curah hujan 3 hari dengan periode

(27)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakanpada bulanAgustus - September 2012,pada

sawah beririgasi di daerah Desa Sei Beras Sekata, Kecamatan Sunggal, Kabupaten

Deli Serdang, propinsi Sumatera Utara.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan yangdigunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

dari instansi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) meliputi: data curah hujan

harian selama 10 tahun terakhir dari tahun 2002 sampai tahun 2011, data suhu

harian daerah penelitian, dan kertas log normal.

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa alat hitung

yang akan digunakan untuk menganalisa data, Pipa sebagai penghitung laju

perkolasi, Penggaris sebagai pengukur tinggi genangan air, Meteran sebagai

pengukur luas petakan sawah, Alat penakar curah hujan, Kamera sebagai

dokumentasi, Lakban sebagai pelapis piva agar tidak pecah, Cutter sebagai alat

pemotong, dan alat pendukung lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini langsung dilakukan di lapangan dan juga dengan bantuan

penggunaan data sekunder.

Pelaksanaan Penelitian

Penentuan Modulus Drainase dilakukan dengan 3 metode yaitu:

(28)

a. Dari data curah hujan harian, dibuat tabel data curah hujan maksimum

harian (mm/hari) yang diperoleh dengan cara menjumlahkan curah hujan

harian yang berurutan menurut tanggal untuk 1, 2, 3, ... ,7 harian.

Tahun Curah hujan maksimum harian (mm/hari)

1 2 3 4 5 6 7

b. Ditentukan urutan frekuensi curah hujan maksimum untuk 1, 2, 3, ..., 7

harian dari yang terbesar sampai terkecil.

Tahun Urutan Rangking Peluang % Periode (T)

Ket: Peluang= m/(n+1) M = Rangking

(29)

17

c. Lalu digambar peluang curah hujan maksimum 1, 2, 3, ... , 7 harian pada

kertas Log Normal untuk memperoleh masa ulang 5 dan 10 tahun.

d. Setelah diperoleh lalu dicatat pada tabel curah hujan maksimum untuk

masa ulang 5 dan 10 tahun.

Hari hujan berurutan Curah hujan maksimum harian (mm) T = 5 Tahun T = 10 Tahun

1

2

3

4

5

6

7

e. Selanjutnya dibuat grafik untuk curah hujan dengan periode ulang 5 dan

10 tahun

f. Dari grafik dapat diperoleh nilai Dm (Modulus Drainase) dengan menarik

slope pada garis curah hujan masa ulang 5 dan 10 tahun.

2. Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian di petakan sawah

dengan penggunaan persamaan (4)

3. Penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum yaitu pada persamaan

(30)

Kondisi Daerah Penelitian

Desa Sei Beras Sekata terletak di Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli

Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Topografi desa ini adalah datar dengan

ketinggian tempat 20 m diatas permukaan laut. Desa ini terdiri dari 5 dusun

dengan luas wilayah 719 ha.

Desa Sei Beras Sekata ini berjarak 10 Km dari ibukota kecamatan dengan

jumlah penduduk sebanyak 7.151 jiwa. Secara administratif, batas-batas desa

adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Desa Sunggal Kanan

Sebalah Timur : Kota Medan

Sebelah Barat : Desa Suka Maju

Sebelah Selatan : Kecamatan Pancur Batu

Desa Sei Beras Sekata merupakan salah satu daerah yang dialiri oleh

jaringan irigasi Sei Krio. Luas lahan persawahan di desa ini adalah seluas 412 Ha.

Jenis tanaman yang umum ditanam masyarakat di desa Sei Beras Sekata adalah

tanaman padi sepanjang tahun. Pada umumnya varietas padi yang ditanam adalah

padi Mekongga, padi Serang, padi Cingendit, padi Impari, padi Ciherang, dan

padi Sebogo. Sebagian besar petani menanam varietas padi Ciherang dan

Cingendit karena varietas ini memiliki banyak keunggulan diantaranya: tahan

terhadap hama wereng, dapat ditanam pada musim hujan dan kemarau, tekstur

nasi yang dihasilkan lebih pulen, dan tahan terhadap bakteri daun. Masing -

masing varietas padi diatas memiliki umur tanam ± 3 bulan sampai tahap

(31)

19

Kebutuhan Air Bagi Tanaman Padi

Kebutuhan air tanaman atau Evapotranspirasi (ETc) berbeda menurut

umur dan fase pertumbuhan. Nilai ETc merupakan perkalian antara Koefisien

Tanaman (Kc) dengan nilai Evapotranspirasi Acuan (ETo). Nilai ETo dihitung

dengan persamaan Blaney - Criddle, rata - rata nilai Evapotranspirasi

Aktual/Tanaman pada bulan Agustus dan September adalah sebesar 0,68 cm/hari.

Nilai Modulus Drainase

Dari hasil penelitian yang dilakuakan dengan menggunakan 3 metode

diperoleh nilai modulus drainase sebagai berikut:

1. Memplotkan curah hujan maksimum harian

a) Nilai curah hujan maksimum harian yang diperoleh dari curah hujan

harian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2. Curah hujan maksimum harian tahun 2002 - 2011

Tahun Curah hujan maksimum harian (mm/hari)

1 2 3 4 5 6 7

b) Frekuensi curah hujan untuk 1, 2, 3,...,7 harian yang terbesar sampai yang

(32)

c) Setelah digambar nilai peluang curah hujan maksimum 1, 2, 3, ... , 7 harian

pada kertas Log Normal (lampiran 3) maka diperoleh nilai curah hujan

maksimum untuk masa ulang 5 dan 10 tahun pada tabeldibawah ini.

Tabel 3. Nilai curah hujan maksimum untuk masa ulang 5 dan 10 tahun

Hari hujan berurutan Curah hujan maksimum harian (mm) T = 5 Tahun T = 10 Tahun

d) Setelah dibuat grafik (Lampiran 3)dan ditarik Slope (kemiringannya) maka

didapat nilai modulus drainase dengan menggunakan metode memplotkan

curah hujan maksimum adalah sebesar 1,5 cm/hari.

2. Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian dipetakan sawah.

Metode ini menggunakan persamaan 4:

Wli = WLi-1 + Ri + IRi + Qini - Pi - ETi - Qoi

Untuk 3 hari hujan berurutan maka nilai modulus drainase nya:

Dm = (Qo 1 + Qo 2 + Qo 3) / 3 hari

Dm = (4,836 + 3,448 + 3,806) / 3 hari

(33)

21

3. Penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum

Dn = RTn + n (I - ET - P) - S

Untuk periode ulang (T) = 5 tahun

RTn

Pada hari pertama didapatkan hasil air irigasi yang diberikan sebesar -0,10

cm/hari. Air irigasi diperoleh dengan mengurangkan tinggi genangan pada hari ini

terhadap tinggi genangan pada hari sebelumnya. Tinggi genangan pada hari

pertama diketahui lebih rendah dari hari sebelumnya, sehingga menunjukkan

angka minus dalam nilai air irigasi yang diberikan. Terjadinya perbedaan tinggi

genangan air disetiap harinya disebabkan karena air yang masuk ke areal

persawahan tidak dapat dikontrol dengan baik atau terjaga agar tetap konstan. Hal

ini sesuai dengan literatur dari Kalsim (1995) yang menyatakan bahwa kelebihan

genangan di sawah dipengaruhi oleh: hujan lebat, limpasan air irigasi atau

drainase, dan rembesan dari saluran irigasi.

Nilai Modulus Drainase pada sawah desa Sei Beras Sekata setelah

dihitung dengan menggunakan metode memplotkan curah hujan maksimum

adalah sebesar 1,5 cm/hari, metode simulasi tinggi genangan harian dengan neraca

air harian dipetakan sawah sebesar 4,03 cm/hari, dan penggunaan rumus dari

Departemen Pekerjaan Umum sebesar 4,06 cm/hari. Dari ketiga metode yang

digunakan terlihat memberikan hasil yang berbeda - beda. Ini disebabkan karena

(34)

Dalam perhitungan nilai modulus drainase dengan ketiga metode terdapat

perbedaan dalam penggunaan data-data yanag akan dihitung. Pada metode

memplotkan curah hujan maksimum harian, nilai evapotranspirasi dan perkolasi

tidak diperhitungkan. Sementara pada metode simulasi tinggi genangan harian

dan penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan Umum digunakan nilai

evapotranspirasi sebesar 0,68 cm/hari dan nilai perkolasi sebesar 0,027 cm/hari.

Dari ketiga metode dalam penentuan nilai modulus drainase terdapat

kelemahan dan kelebihan masing - masing metodenya. Pada metode memplotkan

curah hujan maksimum harian kelemahannya adalah hasil yang diberikan kurang

akurat karena hanya faktor hujan saja yang diperhitungkan. Tanpa menghitung

faktor - faktor yang lainnya. Sementara kelebihannya adalah cocok digunakan

untuk daerah yang hanya menyediakan data curah hujan saja, bisa digunakan pada

waktu kapan pun, artinya walaupun sudah terjadi 5-50 tahun yang lalu pada

daerah tertentu, namun masih bisa ditentukan nilai modulus drainase yang terjadi

pada masa itu, dan hemat biaya.

Pada metode simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian

dipetakan sawah, kesulitannya adalah pengamat harus berada di sawah setiap

harinya, dan mengamati kejadian - kejadian yang terjadi. Seperti curah hujan yang

terjadi setiap harinya, tinggi genangan sawah setiap harinya, suhu harian, dan

banyak menghabiskan biaya karena banyak perlengkapan yang harus dibeli dalam

perhitungannya. Sementara kelebihan dari metode ini adalah hasil yang

didapatkan lebih akurat karena sudah menggunakan semua faktor yang

mempengaruhinnya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Kalsim (1995) yang

(35)

23

perhitungan neraca air harian seperti: tinggi genangan harian, hujan, air irigasi

yang diberikan, limpasan dari petakan lain, laju perkolasi, dan laju

evapotranspirasi.

Pada metode penggunaan persamaan dari Departemen Pekerjaan Umum,

kelemahannya adalah pengamat harus mengetahui data curah hujan maksimum

harian yang terjadi pada masa lampau, untuk mendapatkan nilai RTnpada periode 5

atau 10 tahun. Sementara kelebihannya adalah hasil yang diberikan keakuratanya

seperti pada metode simulasi tinggi genangan harian di petakan sawah.

Pada lokasi penelitian, metode yang paling cocok dilakukan adalah metode

simulasi tinggi genangan harian, karena memungkinkan untuk mengetahui semua

faktor-faktor dalam persamaan nya dan hasil yang didapatkan pun lebih akurat.

Ketika sesudah diketahui nilai Modulus Drainase yang terjadi pada suatu

petakan sawah tertentu, maka akan diketahui berapa kelebihan air yang harus

dibuang dari petakan sawah tersebut agar tidak menggangu hasil panen.

Kelebihan air bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Hal ini sesuai dengan

literatur dari Kartasapoetra, dkk (1994) yang menyatakan bahwa maksud drainase

ditinjau dari bidang pertanian telah dikemukakan yaitu untuk mengalirkan

kelebihan air hujan, air pengairan (irigasi) atau genangan air lain dari suatu lahan

usaha tani. Manfaat yang paling utama dengan diketahuinya nilai Modulus

Drainase adalah akan diketahui dan bisa dikendalikan berapa debit air yang

seharusnya dimasukkan ke petakan sawah, demi memperoleh hasil panen yang

maksimal.

Untuk desa Sei Beras Sekata, luas areal persawahannya adalah 412 Ha.

(36)

pada setiap harinya adalah sebesar 40,03 mm/hari. Sehingga secara keseluruhan

diperoleh nilai volume air yang harus dibuang untuk daerah desa Sei Beras Sekata

adalah sebesar 164.800 m3/hari atau nilai debit yang harus dikeluarkan adalah

sebesar 6866,67 m3/jam. Ini berarti ketika sudah diketahui berapa debit air sawah

yang harus dikeluarkan setiap harinya agar tetap berada pada tinggi genangan

yang dibutuhkan, maka bisa dirancang bentuk saluran irigasi atau drainase yang

harus dibuat pada daerah tersebut.

Dalam penelitian Sumarna (2005), pada metode memplotkan curah hujan

maksimum diperoleh hasil sebesar 11 mm/hari dan dengan penggunaan rumus

dari Departemen pekerjaan Umum diperoleh hasil sebesar 26,01 mm/hari. Dan

dalam penelitian Manurung (2004), pada metode memplotkan curah hujan

maksimum diperoleh hasil sebesar 10 mm/hari dan dengan penggunaan rumus

dari Departemen pekerjaan Umum diperoleh hasil sebesar 24,6 mm/hari.

Sementara dalam penelitian ini, pada metode memplotkan curah hujan maksimum

diperoleh hasil sebesar 15 mm/hari dan dengan penggunaan rumus dari

Departemen pekerjaan Umum diperoleh hasil sebesar 44,6 mm/hari.

Dari ketiga penelitian diatas dapat dilihat perbedaan hasil dalam setiap

metode yang dilakukan. Ini disebabkan karena perbedaan beberapa faktor antara

lain: lokasi penelitian, curah hujan harian yang terjadi, air irigasi yang diberikan,

evapotranspirasi tanaman, dan perkolasi yang terjadi.

Data curah hujan yang diambil dalam penelitian sebelumnya

menggunakan data curah hujan 15 tahun terakhir, sementara dalam penelitan ini

(37)

25

Air irigasi dalam penelitian sebelumnya dibuat nol karena penelitiannya

dilakukan ketika tanaman padi pada sawah sudah mulai menguning sehingga air

irigasi memang sengaja dihentikan dan hanya memanfaatkan air tadah hujan saja.

Sedangkan dalam penelitian ini tanaman padi masih baru ditanam dan air irgasi

nya masih mengalir lancar.

Nilai evapotranspirasi dalam penelitan sebelumnya didapatkan dari

instansi di sekitar daerah penelitian. Sedangkan dalam penelitian ini nilai

evapotranspirasi diperoleh dengan cara pengukuran langsung dilapangan dengan

menggunakan metode Blanney-Criddle.

Nilai perkolasi dalam penelitian sebelumnya juga didapatkan dari instansi

di sekitar daerah penelitian. Sedangkan dalam penelitian ini nilai perkolasi

(38)

Kesimpulan

1. Nilai Modulus Drainase dengan metode memplotkan curah hujan maksimum

harian adalah 15 mm/hari, Metode simulasi tinggi genangan harian dengan

neraca air harian dipetakan sawah adalah 40,3 mm/hari, Peggunaan

persamaan dari Departemen Pekerjaan Umum adalah 44,6 mm/hari.

2. Metode yang paling baik dari ketiga metode yang digunakan adalah metode

simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian dipetakan sawah,

karena sudah menggunakan semua faktor - faktor yang mempengaruhi dalam

persamaannya.

Saran

1. Dalam perhitungan nilai modulus drainase untuk daerah desa Suka Beras

Sekata sebaiknya menggunakan metode simulasi tinggi genangan harian

dengan neraca air harian dipetakan sawah, karena memungkinkan untuk

dilakukan dan mendapatkan data - data yang dibutuhkan, dan hasilnya pun

lebih akurat.

2. Perlu penelitian lanjutan untuk evaluasi saluran drainase pada sawah desa Sei

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, A., 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya: Jakarta.

Departemen Pekerjaan Umum, 1986. Direktorat Jenderal Pengairan. Standar Perencanaan Irigasi: Jakarta

Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air Pengantar ke Hidrolika. BPFE: Yogyakarta.

Guslim, 1997. Agroklimatolgi. USU Press: Medan.

Hansen, V.E., Israelsen, O.W. dan Stringham, G.E., 1992. Dasar-Dasar dan Praktek Irigasi. Penerjemah: Tachyan, E.P. Edisi ke-4. Erlangga: Jakarta.

Kalsim, D.K., 1995. Teknik Drainase Permukaan (Penentuan Debit Rancangan dan Debit Puncak). FATETA IPB: Bogor.

Kartasapoetra, A.G., Sutedjo, M.M., dan Pollein, E., 1994. Teknologi Pengairan Pertanian Irigasi. Bumi Aksara: Jakarta.

Linsley, R. K. dan J. B. Franzini, 1991. Teknik Sumber Daya Air. Erlangga: Jakarta.

Manurung, S.P., 2004. Penentuan Nilai Modulus Drainase pada Sawah Beririgasi di Daerah Irigasi Serba Jadi Kecamatan Talawi Kabupaten Asahan. Fakultas Pertanian USU: Medan.

Pasandaran, E. dan Taylor, D.C., 1984., Irigasi, Perencanaan dan Pengelolaan. Seri Pembangunan Pedesaan. Gramedia: Jakarta.

Siregar, H., 1981. Budidaya Tanaman Padi di indonesia. Sastra Hudaya: Bogor.

Sumarna, A., 2005. Kajian Drainase pada Padi Sawah Beririgasi di Jaringan Irigasi Langau dan Paya Lombang Kabupaten Serdang Bedagai. Fakultas Pertanian USU: Medan.

Sugeng, H.R., 1998. Bercocok Tanam Padi. Aneka Ilmu: Semarang.

(40)

Analisa data Data

Ditentukan Petakan sawah sebagai titik pengukuran

Simulasi tinggi genangan harian dengan neraca air harian

di petakan sawah

Penggunaan rumus dari Departemen Pekerjaan

Umum Memplotkan curah

hujan maksimum harian

Dibuat tabung Silinder pengukur Perkolasi

Mulai

Dihitung Modulus Drainasenya

Selesai

(41)

29

Lampiran 2. Curah hujan Maksimum 1 harian (mm)

Tahun Urutan Rangking Peluang % Periode (T)

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 2 harian (mm)

Tahun Urutan Rangking Peluang % Periode (T)

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 3 harian (mm)

(42)

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 4 harian (mm)

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 5 harian (mm)

Tahun Urutan Rangking Peluang % Periode (T)

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 6 harian (mm)

(43)

31

Lampiran 2. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 7 harian (mm)

Tahun Urutan Rangking Peluang % Periode (T)

2004 258 1 0,0625 6,25 16,00

2003 152 2 0,125 12,5 8,00

2009 133 3 0,1875 18,75 5,33

2010 64 4 0,25 25 4,00

2006 14 5 0,3125 31,25 3,20

2002 0 6 0,375 37,5 2,67

2005 0 7 0,4375 43,75 2,29

2007 0 8 0,5 50 2,00

2008 0 9 0,5625 56,25 1,78

(44)

Lampiran 3. Curah hujan Maksimum 1 Harian

Percentage

L O G

(45)

33

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 2 Harian

Percentage

L O G

(46)

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 3 Harian

Percentage

L O G

N O R M A

(47)

35

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 4 Harian

Percentage

L O G

(48)

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 5 Harian

Percentage

L O G

N O R M A

(49)

37

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 6 Harian

Percentage

L O G

(50)

Lampiran 3. (lanjutan) Curah hujan Maksimum 7 Harian

Percentage

L O G

(51)

39

(52)

Lampiran 5. Data tinggi genangan air sawah dan perkolasi pada Sawah Desa Sei Beras Sekata

Minggu, 12 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,4 8,9 2,6 3,3 2,1 3,86

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,6 9,3 3,6 4,3 2,2

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,5 8,5 2,4 3,5 1,7 3,72

Perkolasi 0,05 0,02 0,03 0,04 0,03

*Terjadi Hujan pada Pukul 12.30 - 13.00 WIB dan Irigasi Lancar

Senin, 13 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,8 7,1 2,2 3,1 1,9 3,42

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2 8,7 2,9 3,7 2,1

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,8 7,8 2,8 3,8 2,4 3,92

Perkolasi 0,03 0,02 0,05 0,01 0,02

*Tidak Ada Hujan dan Genangan Air pada Sore Hari Tiba-Tiba Tinggi (Irigasi Lancar)

Selasa, 14 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 0 3,1 0 1,5 0 0,92

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 1,8 8,4 2,3 3,2 2

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 0 2,2 0 0,9 0 0,62

Perkolasi 0,02 0,02 0,03 0,02 0,01

(53)

41

Rabu, 15 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,9 8,2 3,5 3,2 2,6 4,08

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2 8,2 2,2 3,4 2,1

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,1 8,2 3,3 3,2 2,4 4,04

Perkolasi 0,03 0,03 0,02 0,03 0,01

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Kamis, 16 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 3,3 7,9 3,4 4,6 2,6 4,36

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 1,8 7,5 2,2 3,5 1,4

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 7,6 3,3 4,5 2,6 4,26

Perkolasi 0,03 0,03 0,02 0,02 0,03

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 3 7,3 3,1 4,1 2,4 3,98

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7,9 2,5 3,5 1,8

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,7 6,9 2,8 3,7 2 3,62

Perkolasi 0,03 0,02 0,03 0,04 0,03

(54)

Minggu, 26 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,8 6,9 3,4 4,3 2,6 4

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7,6 2,3 3,5 1,6

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 6,8 3,3 4,5 2,8 4,14

Perkolasi 0,02 0,03 0,02 0,02 0,03

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Senin, 27 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 3,2 7,5 3,9 4,6 2,7 4,38

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,8 7,9 2,5 3,5 2,1

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 7,6 3,6 4,5 2,6 4,32

Perkolasi 0,03 0,03 0,02 0,01 0,02

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Selasa, 28 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 3,6 8,2 3,6 4,3 2,9 4,52

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,4 7,8 2,2 3,2 1,8

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 8,1 3,8 4,2 2,7 4,42

Perkolasi 0,03 0,02 0,03 0,02 0,03

(55)

43

Rabu, 29 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 1,1 3,1 2,1 2,4 1,3 2

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7,5 2,1 2,9 1,6

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 0,1 2,2 1,2 0,5 0,8 0,96

Perkolasi 0,04 0,02 0,01 0,02 0,02

* Tidak Ada Hujan dan Air Mati (Qin=Qout=0)

Kamis, 30 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,2 6,8 3,7 3,4 2,1 3,64

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7 1,8 3 1,9

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,5 7 3,5 3,9 2,6 3,9

Perkolasi 0,02 0,02 0,03 0,02 0,03

* Terjadi Hujan pada Pukul 14.10 - 15.10 dan Air Irigasi Lancar

Jum'at, 31 Agustus 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,3 6,9 4 3,1 1,9 3,64

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,4 7,3 2,3 3 2,4

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,5 7,4 4,3 3,5 2,3 4

Perkolasi 0,03 0,03 0,02 0,03 0,02

(56)

Sabtu, 1 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 3,1 7,1 4,3 3,7 2,6 4,16

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7,1 2 2,7 2,1

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 7,3 4,4 3,6 2,6 4,24

Perkolasi 0,03 0,02 0,01 0,04 0,02

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Senin, 3 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,5 6,7 2,3 3,5 2,2 3,44

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 1,8 6,8 1,5 2,6 2

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 7,6 3,3 4,5 2,6 4,26

Perkolasi 0,02 0,03 0,02 0,02 0,02

* Terjadi Hujan pada Pukul 13.55 - 14.10 dan Air Irigasi Lancar

Selasa, 4 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,4 6,8 3,2 3,7 2,8 3,78

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2 7,3 2 3,1 2,3

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 7 3,3 3,8 2,6 4

Perkolasi 0,02 0,02 0,01 0,01 0,02

(57)

45

Kamis, 6 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,1 7,3 2,6 3,4 2,8 3,64

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 3 8,8 3,2 4 2,3

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,2 7,1 2,8 3,2 2,7 3,6

Perkolasi 0,02 0,03 0,02 0,03 0,02

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Jum'at, 7 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,3 7,4 2,9 3,6 1,8 3,6

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,6 8,2 3,1 3,4 2

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,4 7,6 2,9 3,5 1,9 3,66

Perkolasi 0,03 0,04 0,01 0,03 0,01

* Terjadi Hujan pada Pukul 15.00 -16.00 WIB dan Air Irigasi Lancar

Sabtu, 8 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,5 7,3 3,4 3,3 2,2 3,74

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,1 7,6 2,5 3,1 1,5

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,2 7,1 3 3,4 2,4 3,62

Perkolasi 0,03 0,05 0,04 0,02 0,03

(58)

Minggu, 9 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 2,5 8,3 2,6 3,1 2,2 3,74

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 2,2 7,7 2,6 3,5 1,9

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,6 8,1 2,5 2,9 2,3 3,68

Perkolasi 0,02 0,04 0,03 0,01 0,01

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Jum'at, 21 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 1,2 1,5 0,3 2 1,3 1,26

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 4,5 7 5,1 6,1 6,4

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 0,9 1,3 0 1,9 1,1 1,04

Perkolasi 0,04 0,03 0,02 0,03 0,04

* Tidak Ada Hujan dan Air Irigasi Lancar

Sabtu, 22 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 1,1 1,2 0,2 1,7 1,3 1,1

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 4,5 6,8 4,5 5,9 6,2

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 0,8 1 0 1,6 1,3 0,94

Perkolasi 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03

(59)

47

Minggu, 23 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 0,8 0,9 0 1,8 1,5 1

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 4,6 6,9 4,4 5,8 6,1

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,3 5,5 3,5 3,7 3,3 3,86

Perkolasi 0,02 0,02 0,02 0,04 0,02

* Terjadi Hujan pada Pukul 15.10 - 16.30 dan Air Irigasi Lancar

Senin, 24 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 1,1 2,7 1,5 1,1 0,8 1,44

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 4,3 6,6 4,2 5,8 5,6

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 2,8 5,9 3,2 3,6 3,1 3,72

Perkolasi 0,02 0,02 0,02 0,02 0,03

* Terjadi Hujan pada Pukul 09.00 - 09.20 dan Pukul 16.30 - 18.00 dan Air Irigasi Lancar

Selasa, 25 September 2012

Pukul 07.00 WIB Perkolasi Rata-Rata

(cm/10 jam) Rata-Rata Pagi (cm)

Luar Piva 1,8 2,1 1,6 1,4 1,2 1,62

Pukul 17.00 WIB

Dalam Piva 4,5 6,3 4 5,7 5,5

Tinggi Genangan Rata-Rata Sore (cm)

Luar Piva 3,5 4,2 3,1 3,5 3,8 3,62

Perkolasi 0,03 0,04 0,03 0,04 0,03

(60)

Lampiran 6. Data hujan pada sawah desa Suka Beras Sekata

Minggu, 12 Agustus 2012

Waktu Volume Diameter

Tabung Luas Tabung (cm

2

) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

12.30 - 13.00 300 13 132,67 2,26

Selasa, 14 Agustus 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

16.00 - 16.20 690 13 132,67 5,20

Sabtu, 25 Agustus 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

16.15 - 16.45 245 13 132,67 1,85

Kamis, 30 Agustus 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

14.10 - 15.10 720 13 132,67 5,43

Senin, 3 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

13.55 - 14.10 100 13 132,67 0,75

Jum'at, 7 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

15.00 - 16.00 615 13 132,67 4,64

Sabtu, 8 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

(61)

49

Minggu, 23 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

15.10 - 16.30 735 13 132,67 5,54

Senin, 24 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

09.00 - 09.20 150 13 132,67 4,15

16.30 - 18.00 750

* Hujan Sampai jam 17.00 adalah 400 ml

Selasa, 25 September 2012

Waktu Volume

Diameter

Tabung Luas Tabung (cm2) Curah Hujan

(menit) (ml) (cm) L = πr2 (cm)

(62)

Lampiran 7. Mean Daily Percentage (P) Of Annual DaytimeHours For Different Latitudes

Lampiran 7. (lanjutan) Kc Values For Paddy Rice

Lat North Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Oct Nov Dec

South Jul Aug Sept Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May June

60° .15 .20 .26 .32 .38 .41 .40 .34 .28 .22 .17 .13

Climate Little wind Strong wind

Growth stage (days) dry humid dry humid

(63)

51

Lampiran 8. Perhitungan nilai Evapotranspirasi

Latitude Tanjung Selamat 3. 40o 54" LU, Suhu rata-rata harian bulan Agustus dan September 28o C (BMKG), Dari tabel (lampiran 6) diperoleh nilai rata-rata harian persentase siang untuk bulan Agustus dan September adalah,

P = (0,27 + 0,27) / 2 Eto = p (0.46 T Mean + 8 )

= 0,27 = 0.27 ( 0.46 x 28,01 + 8 )

= 5.64 mm/hari

Etc= Kc x Eto (nilai Kc untuk padi diperoleh dari lampiran 6)

= 1,2 x 5.64 mm/hari

= 6,768 mm/hari

= 0,68 cm/hari

(64)

Lampiran 10. Pengukuran Laju Perkolasi

(65)

53

Lampiran 11. Tanaman padi daerah penelitian, alat penakar hujan dan saluran tersier

Gambar 2. Tanaman padi pada daerah penelitian

Gambar

Tabel 1. Jumlah Kebutuhan Air Per Hari Tanaman Padi Sawah Berdasarkan Jenis
Tabel 2. Curah hujan maksimum harian tahun 2002 - 2011
Tabel 3. Nilai curah hujan maksimum untuk masa ulang 5 dan 10 tahun
Gambar 1. Tabung Piva pengukur laju Perkolasi
+2

Referensi

Dokumen terkait

Faktor- faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menggunakan benih dalam usahataninya adalah faktor produksi benih yang tinggi, faktor kualitas benih yang baik, faktor

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “kajian Nilai

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ kajian Nilai

Kecepatan aliran kritis merupakan kecepatan aliran yang diharapkan pada salura1n irigasi karena saat air mengalir dengan kecepatan sebesar kecepatan kritisnya maka