• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI GAYA DAN MAGNET MELALUI METODE EKSPERIMEN SISWA KELAS VI C SDN 6 KENDARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI GAYA DAN MAGNET MELALUI METODE EKSPERIMEN SISWA KELAS VI C SDN 6 KENDARI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

24

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA MATERI GAYA DAN MAGNET MELALUI METODE EKSPERIMEN

SISWA KELAS VI C SDN 6 KENDARI

Uddin SD Negeri 6 Kendari [email protected]

Abstract: The aim of this research is to improve learning outcomes of Natural Sciences on magnetic force material through the experimental method of grade VI.C students. State Elementary School 6 Kendari. This type of research is Classroom Action Research (CAR), a distinctive characteristic of Classroom Action Research (CAR) is the existence of certain actions or actions that aim to improve the learning process in the classroom. The subjects in this study were all students of grade VIC.

Kendari 6 Public Elementary School, which consists of 26 students consisting of 11 boys and 15 girls.

Types of data: quantitative data obtained from learning outcomes tests and qualitative data obtained through observation sheets. The method of data collection is the data of the situation of the implementation of learning with the experimental method taken using an observation sheet. Data about students' learning outcomes in Natural Sciences is taken using the learning outcomes test tes.

Keyword : Activities, Learning Outcomes, Experiments Method

Abstrak : Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada materi gaya magnet melalui metode eksperimen siswa kelas VI.C. Sekolah Dasar Negeri 6 Kendari. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karakteristik khas dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah adanya tindakan atau aksi tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VI.C. Sekolah Dasar Negeri 6 Kendari yang berjumlah 26 orang yang terdiri dari 11 orang laki- laki dan 15 orang perempuan. Jenis data: data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi. Cara pengumpulan data adalah data situasi pelaksanaan pembelajaran dengan metode eksperimen diambil dengan menggunakan lembar observasi. Data tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa diambil dengan menggunakan tes hasil belajar.

Kata Kunci : Aktivitas, Hasil Belajar, Metode Eksperimen

(2)

25 PENDAHULUAN

Guru dalam proses pembelajaran harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya. Menurut Rahayu (2010), mengajar bukan sekedar proses menyampaikan ilmu pengetahuan melainkan mengandung makna yang lebih luas yakni terjadinya proses interaksi manusiawi dengan aspeknya yang cukup kompleks.

Dari keseluruhan proses pendidikan diharapkan mampu menyumbangkan dan berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, yang menjadikan siswa jenuh, bosan dan pasif.

Hal ini menyebabkan belum tercapainya hasil belajar yang sesuai dengan standar ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah.

Padahal, dalam membahas materi Ilmu Pengetahuan Alam harus diikuti perilaku pembuktian maupun penemuan dari anak itu sendiri.

Timbulnya kesalahan konsep, terjadi karena adanya teori tanpa dipraktekkan dalam eksperimen. Oleh karena itu, suatu

metode pembelajaran tertentu untuk menjelaskan Ilmu Pengetahuan Alam sangat diperlukan untuk menanamkan dan mengembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap ilmiah pada siswa.

Peneliti berupaya melakukan perubahan dan perbaikan pembelajaran khususnya berkaitan dengan metode dan teknik-teknik belajar yang digunakan guru supaya lebih interaktif dan diterapkan dengan tepat sehingga pembelajaran lebih efektif dan berhasil serta siswa mengembangkan keterampilan berpikirnya untuk membangun sendiri pengetahuannya agar lebih bermakna bagi diri siswa. Peneliti berusaha menerapkan salah satu metode belajar dengan memilih metode eksperimen.

Dengan metode eksperimen, siswa dapat membuktikan sendiri konsep yang mereka terima karena peserta didik melakukan percobaan secara langsung, sehingga kemampuan anak-anak meningkat baik pada aspek kognitif maupun aspek psikomotornya. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tidak bisa hanya dengan metode ceramah tanpa ada demonstrasi dan yang lebih mengena dengan pembuktian adalah eksperimen.

Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa, ilmu pengetahuan alam dapat berkembang pesat berkat metode

(3)

26 ilmiah. Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat melatih siswa mengembangkan keterampilan intelektualnya. Diharapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan dapat meningkatkan presentasi belajar dan semangat belajar secara aktif pada siswa

METODE

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karakteristik khas dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah adanya tindakan atau aksi tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru yang mengajar di kelas sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani, 2007).

HASIL

Masalah dan kendala yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang magnet tersebut disebabkan guru kurang kreatif memilih

model atau pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung sehingga siswa tidak dapat mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimilikinya. Jadi dengan melihat hasil belajar siswa yang masih rendah maka guru melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengunakan Pendekatan Pembelajaran eksperimen yang melibatkan siswa secara langsung dengan memperhatikan kemampuan yang bervariasi, yang pintar atau yang kurang dipadukan menjadi satu sehingga mereka saling mengisi pengetahuan dan pengalaman

Hasil observasi terhadap guru pertemuan 1 & 2 siklus 1 adalah sebagai berikut

Gambar 1 Diagram Aktivitas Kegiatan Guru Siklus I

Selanjutnya data Data hasil observasi kegiatan guru pada siklus I selengkapnya

0%

50%

100%

Pertemuan I Pertemuan II 50%

66,60%

Aktivitas Guru Siklus I

(4)

27 dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Gambar 2 Diagram Aktivitas Kegiatan Siswa Siklus I

Setelah pelaksanaan tindakan siklus I sebanyak 2 kali pertemuan selesai dilaksanakan, maka diadakan evaluasi atau tes siklus I:

Gambar 3 Hasil Tes Siswa Siklus I

Hasil observasi terhadap guru pertemuan 1 & 2 siklus 2 adalah sebagai berikut

Gambar 4 Diagram Aktivitas Kegiatan Guru Siklus II

Selanjutnya data Data hasil observasi kegiatan guru pada siklus I selengkapnya dapat dilihat pada grafik berikut ini

Gambar 5 Diagram Aktivitas Kegiatan Siswa Siklus II

Setelah pelaksanaan tindakan siklus II sebanyak 2 kali pertemuan selesai dilaksanakan, maka diadakan evaluasi atau tes siklus II:

0%

20%

40%

60%

80%

Tutas

Tidak

Tuntas Rata-rata 64%

36%

74.4

Nilai Siklus I

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Pertemuan I Pertemuan II 83,33% 100%

Aktivitas Siswa Siklus II

(5)

28 Gambar 6 Hasil Tes Siswa Siklus II

PEMBAHASAN Hasil Belajar Siswa

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada materi magnet di kelas VI.C. Sekolah Dasar Negeri 6 Kendari. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Rata-rata hasil tes siklus I adalah 74,4 dengan persentase ketuntasan 64%, hal tersebut menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai indikator yang direncanakan. Kemudian pada siklus II, rata-rata hasil tes siklus II adalah 91,2 dengan persentase ketuntasan 96%. Hal tersebut menunjukan bahwa hasil belajar siswa telah mencapai indikator yang

direncanakan yaitu 85% siswa telah memperoleh nilai ≥ 70.

Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Hasil observasi kegiatan guru dalam pembelajaran menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan kualitas kegiatan guru. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan kualitas aktifitas guru pada setiap pertemuan. Pada siklus I, persentase kegiatan mengajar guru yaitu 50% pada pertemuan pertama dan 66,6% pada pertemuan kedua. Namun disadari masih terdapat kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki

Kekurangan adalah guru tidak memotivasi siswa agar siswa lebih bersemangat dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam, Guru tidak bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan, dan yang tidak mau berkerja sama dengan teman kelompoknya, guru tidak memberikan kesempata seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak mengerti.

Berdasarkan kekurangan tersebut, pada siklus II peneliti lebih menitik beratkan kekurangan tersebut agar pembelajaran 0%

20%

40%

60%

80%

100%

Tutas Tidak Tuntas

Rata-rata 96%

4%

91,20

%

Nilai Evaluasi Siklus II

(6)

29 berjalan dengan lebih baik. Adapun persentase hasil observasi kegiatan mengajar guru pada siklus II yaitu mencapai 83,33%

pertemuan pertama dan pertemuan kedua 100%. Adanya peningkatan kualitas kegiatan guru dalam pembelajaran juga memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Kegiatan Siswa dalam pembelajaran Hasil observasi kegiatan siswa dalam pembelajaran menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan kegiatan belajar siswa dalam pembelajaran.

Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan kualitas belajar siswa pada setiap pertemuan. Pada siklus I hasil observasi kegiatan belajar siswa belum mencapai indikator kinerja yaitu 58,33%

pada pertemuan pertama dan 66,66% pada pertemuan kedua.

Berdasarkan kekurangan-kekurangan tersebut, maka penelitian dilanjutkan pada siklus II dimana siswa sudah dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih baik, hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya hasil observasi siswa, yaitu mencapai 83,33% pada pertemuan pertama dan 100%

pada pertemuan kedua. Adanya peningkatan kualitas kegiatan belajar siswa dalam

pembelajaran juga memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa

KESIMPULAN

Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa pada materi magnet , pada siklus I siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 16 orang dimana ketuntasan siswa mencapai 64% dengan nilai rata-rata 74,4. Hal ini menunjukkan indikator kinerja terhadap tindakan yang telah ditetapkan belum tercapai pada siklus I. Setelah dilakukan beberapa perbaikan dalam proses pembelajaran, hasil belajar pada siklus II menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu, siswa yang memperoleh nilai

≥ 70 sebanyak 26 orang dimana ketuntasan siswa mencapai 96% dengan nilai rata-rata 91,2. Dengan demikian indikator kinerja terhadap tindakan telah tercapai yakni minimal 85% siswa telah memperoleh nilai

≥ 70.

Aktivitas guru, pada siklus I pertemuan pertama hanya 50% sedangkan pertemuan kedua pada siklus I yaitu sekitar 66,6% proses pelaksanaan pembelajaran, keterlaksanaan skenario pembelajaran yang terjadi pada aktivitas guru ini belum mencapai 85% yang telah ditentukan.

Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama 83,33% dan pertemuan kedua meningkat

(7)

30 lagi menjadi 100%. Hal ini menunjukkan bahwa indikator kinerja terhadap tindakan telah tercapai yakni minimal 85% skenario pembelajaran terlaksana dengan baik.

Aktivitas siswa, pada siklus I pertemuan pertama hanya 58,33%

sedangkan pertemuan kedua pada siklus I yaitu sekitar 66,66% proses pelaksanaan pembelajaran, keterlaksanaan skenario pembelajaran yang terjadi pada aktivitas siswa dan ini belum mencapai 85% yang telah ditentukan. Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama 83,33% dan pertemuan kedua meningkat menjadi 100%. Hal ini menunjukkan bahwa indikator kinerja terhadap tindakan aktivitas siswa telah tercapai yakni minimal 85% skenario pembelajaran terlaksana dengan baik

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1983. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Gagne, Robert M. 1990. The Conditions of Learning and Theory of Instruction.

Http://Gagne, Robert M. The Conditions of Learning and Theory of Instruction.

Fourt Edition. Holt-Saunders International Edition. Html. Diakses tanggal 12 Januari 2011.

Rahayu, W. S. 2010. Metode Eksperimen Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada Sub Pokok Bahasan Pertumbuhan Pada Tumbuhan Siswa Kelas II SD Negeri 01 Sumberejo Kecamatan Kerjo Kabupaten Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pelajaran IPA.

Sulamah. 2003. Meningkatkan Keterampilan Proses Melalui Penggunaan Metode Eksperimen Pada Siswa Kelas VI SDN Purwoyoso. Ngaliyan, Semarang. PTK Peningkatan Pembelajaran IPA SD.

Suparno, P. 2008. Riset Tindakan Untuk Pendidik. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana.

Thurber dan Collete. 1968. Prinsip

Pengajaran Eksperimen.

Http://www.Engr.Psu.Edu/Mp.Htm.

Diakses tanggal 9 Oktober 2010.

Tim Pelatih PGSM. 1999. Riset Tindakan Penelitian Kelas. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana.

Uzer Usman dan Lilis Setyawati. 1993.

Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Wardhani, IGAK. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Referensi

Dokumen terkait

Tahap aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama perikanan. Dengan luas perairan melebihi 70% dari luas Indonesia sendiri, potensi perikanan ini

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh corporate governance , seperti, komposisi Dewan Komisaris Independen, ukuran Dewan Komisaris, keberadaan Komite Audit, dan

Dapat disimpulkan bahwa citra Institusi Kepolisian Republik Indonesia dalam film “ENIGMA” serial “Kematian. Al ana” merupakan

(2008) yang menyebutkan bahwa dengan adanya peningkatan suhu dari 16°C.. Oleh karena faktor suhu dan cairan penyari akuades berperan penting dalam proses isolasi ekstraksi

Pengaruh Latar Belakang Pendidikan Dan Organisasi Intra Kampus Terhadap Akhlak Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Nikah sebagai ikatan yang ditentukan oleh pembuat hukum syara’ (Allah) yang memungkinkan laki-laki untuk istimta; (mendapat kesenangan seksual) dari istri dan demikian juga,

The findings obtained from classroom observations, students ’ writing tests, students’ text analys es and a focus group interview prove that GBA can help improve students ’