• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM SIARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM SIARAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM

SIARAN

(Studi Analisis Isi Pada Kasus Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang

Dimuat Di Website kpi.go.id) RisaRiskayanti

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id”

Sebuah studi analisis isi kasus pelanggaran yang dimuat dalam website KPI, terhitung dari bulan juli sampai dengan desember tahun 2014. Kasus pelanggaran ini dianalisis berdasarkan penggolongan data yang akan dikelompokkan menjadi penggolongan berdasarkan program acara faktua dan non-faktua, stasiun televisi, pasal dan sanksi pelanggaran., dan kemudian digunakan untuk melihat adanyakecenderungan media televisidalam melakukan pelanggarn pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran.Dalam website kpi.go.id telah dimuat kasus-kasus pelanggaran televisi dan telah di deskripsikan pelanggaran dan pasal yang dilanggar. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan paradigma positivis dan pisau analisis isiEriyanto. Melalui analisis tersebut, dapat dilihat kecenderungan pelanggaranP3SPS yang dilakukan media televisi berdasarkan program acara, sanksi dan pasal. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan pelanggaran P3SPS oleh media televisi melalui program acara dan adanya kecenderungan pelanggaran terhadap pasal tertentu yang dilakukan oleh media televisi.

Kata Kunci: P3SPS, Analisis Isi, Media, Televisi, Website.

Latar Belakang Masalah

Media penyiaran, yaitu radio dan televisi merupakan salah satu bentuk media massa yang dianggap sebagai sarana penyampaian pesan yang efisien untuk mencapai audiens dalam jumlah yang sangat banyak. Sehingga media massa memegang peranan yang sangat penting dalam ilmu komunikasi, khusunya dalam komunikasi massa (Morissan, 2008 : 13).

Istilah televisi (television) merupakan suatu kata yang berasal dari gabungan kata tele (bahasa Yunani) yang artinya jauh dan vision (bahasa latin Videra) yang artinya melihat/memandang. Jadi secara harfiah televisi berarti memandang peristiwa dari jauh dalam waktu yang bersamaan (Sofiah, 1993 : 47)

Maraknya perindustrian penyiaran di tanah air, sehingga diperlukan adanya sebuah peraturan untuk menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran serta mengawasi penyelenggaraan penyiaran yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Maka dibuatlah sebuah peraturan

(2)

2

perundang-undangan yang dimuat dalam buku Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Standar Pedoman Siaran (SPS) yang disah kan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) oleh lembaga negara independen pada tahun 2002.

P3SPS ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, control, perangkat sosial dan pemersatu bangsa. Standar program siaran ini sendiri diarahkan agar program siaran dapat menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik Indonesia.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembanga independen negara yang mengawasi, menetapkan dan mengatur penyiaran melalui P3SPS. KPI memiliki kewenangan menyusun dan mengawasi berbagai peraturan penyiaran yang menghubungkan antara lembaga penyiaran, pemerintah dan masyarakat.

Kecenderungan adanya pelanggaran yang dibuat media televisi soalah tidak mengindahkan kaidah-kaidah yang telah di berlakukan oleh KPI melalui P3SPS. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir telah terjadi pelanggaran lebih dari 200 kasus pelanggaran yang di muat dalam situs Komisi Penyiaran Indonesia melalui website kpi.go.id yang menjadi bukti bahwa media televisi cenderung melakukan pelanggaran P3SPS.

Kasus-kasus pelanggaran yang telah terjadi tersebut akan dimuat di website resmi KPI dan telah di deskripsikan secara jelas sangsi yang diberikan dan pelanggaran yang dilakukan. Banyaknya kasus pelanggaran yang dimuat pada website kpi.go.id seolah menjadi sebuah fenomena tersendiri sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada website kpi.go.id.

Banyaknya nama stasiun televisi di indonesia yang tercantuh dalam website kpi.go.id sebagai media yang melakukan pelanggaran, peneliti tertarik untuk mengangkat judul skripsi “kecenderungan pelanggaran pedoman perilaku penyiaran dan stadar program siaran di media televisi”. Karakteristik televisi yang memiliki jangkauan siar luas dan dapat memberikan efek yang besar pula menjadi daya tarik untuk diteleti. Dimana peneliti ingin melihat bentuk dari pelanggaran yang terjadi pada media televisi dan pasal yang paling sering dilanggar.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimana kecenderungan pelanggaran P3SPS media televisi yang dimuat di website kpi.go.id”

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui kecenderungan pelanggaran penyiaran program faktual dan non faktual yang terjadi di media televisi.

2. Mengetahui stasiun televisi yang paling sering melakukan pelanggaran.

3. Mengetahui kecenderungan pasal dalam P3SPS yang sering dilanggar oleh media televisi.

4. Mengetahui sangsi yang di berikan oleh KPI terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh media televisi.

(3)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Struktural Fungsional

Masyarakat dilihat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan atau sub-sistem. Setiap subsistem tersebut memiliki peran yang berarti. Salah satu sub-sistem tersebut adalah media. Media diharapkan dapat menjamin integritas ke dalam ketertiban dan memiliki kemampuan memberikan respon terhadap kemungkinan baru yang didasarkan pada realitas yang sebenarnya.

Teori Normatif Media

Teori normatif media mengasumsikan bagaimana seharusnya media tersebut berperan dalam realita sosial atau bagaimana sebenarnya media berfungsi. Jenis teori normatif media ini

Analisis Isi

Analisis isi adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan salih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar komunikasi bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verba maupun nonverba.

Komunikasi Massa

Wiriyanto (2000) “komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat- alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi”.

Komunikasi massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi dan film (Cangara, 2002 : 36).

Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran

Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum, perannya sangat sentris terutama dalam mengembangkan alam demokrasi di negara Indonesia. Oleh karena itu ditetapkanlah undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran dengan total XII BAB pokok pembahasan dan 64 pasal, untuk menjadi dasar dalam menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran di Indonesia.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptifkuantitatif, dengan pendekatan analisis isi (content analysis) yaitu penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa.

Populasi

(4)

4

Populasi dalam penelitian ini adalah website kpi.go.id yang memuat kasus pelanggaran P3SPS. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 111 kasus pelanggaran terhitung dari juli-desember 2014.

Sampel Penelitian

Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 kasus pelanggaran. Sampel tersebut telah memenuhi kriteria sampel dalam penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Adapun hasil penelitian ini adalah :

Tabel 4.1.

Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Program Acara

No Bulan Program

Faktual Non Faktual

1 Juli 8 12

2 Agustus 4 4

3 September 7 17

4 Oktober 3 5

5 November 2 8

6 Desember 5 0

Total Jumlah 29 46

Tabel 4.2.

Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

No Stasiun Televisi Frekuensi Persentase (%)

1 RCTI 15 20

2 SCTV 11 14.7

3 ANTV 8 10.7

4 TRANS TV 10 13.3

5 TRANS7 6 8

6 TVRI 1 1.3

7 METRO TV 1 1.3

8 TV ONE 3 4

9 GLOBAL TV 4 5.3

10 MNC 8 10.7

11 INDOSIAR 7 9.4

(5)

5

12 NET TV 1 1.3

Total Jumlah 75 100

Sumber : Data Sekunder, 2014

Tabel 4.3.

Pelanggaran Stasiun Televisi Berdasarkan Pasal No Stasiun

Televisi

Pasal Pedoman Perilaku

Penyiaran Standar Program Siaran 1 RCTI Pasal 9, Pasal 11 ayat (1)

Pasal 14, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1), Pasal 22 ayat (2), Pasal 43, Pasal 50 ayat (5),

Pasal 9, Pasal 11 ayat (1), Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (2) huruf b, Pasal 18 huruf g, Pasal 36 ayat (1), (2) dan (4) huruf a dan d, Pasal 37 ayat 4 huruf (a), Pasal 40 huruf b, Pasal 58 ayat (1), Pasal 59 (3), Pasal 71 (6) 2 SCTV Pasal 6, Pasal 9, Pasal 13,

Pasal 14, Pasal 17, Pasal 16, Pasal 21 ayat (1), Pasal 43,

Pasal 6, Pasal 9, Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 14 huruf a, b, e, g dan h, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (2) huruf b, Pasal 17, Pasal 18 huruf g, dan h, Pasal 23, Pasal 37 ayat (4) huruf a, Pasal 58 ayat (1),

3 ANTV Pasal 9, Pasal 14 dan Pasal 21 ayat (1), Pasal 43,

Pasal 9, Pasal 15 ayat (1), Pasl 36 ayat (1), (2) dan (4) huruf a dan d, Pasal 37 ayat (4) huruf a, Pasal 58 ayat (1), Pasal 59 ayat (3),

4 TRANS TV Pasal 9, Pasal 11 ayat (1), Pasal 13, Pasal 14 ayat (2), Pasal 17 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 43

Pasal 9, Pasal 11 ayat (1), Pasal 13 ayat (1), dan (2), Pasal 14 huruf a, b, e, g dan h, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (2) huruf b, Pasal 37 ayat (4) huruf a, Pasal 58 ayat (1), Pasal 59 (3) 5 TRANS 7 Pasal 9, Pasal 14 ayat (2),

Pasal 21 ayat (1), Pasal 43

Pasal 9 ayat (1) dan (2), Pasal 15 ayat (1), Pasal 32, Pasal 37 ayat (4) huruf a, Pasal 58 ayat (1), Pasal 59 ayat (3)

6 TVRI Pasal 9 ayat (1) dan (2) Pasal 15 (1) dan Pasal 26 (1) dan (2)

7 METRO TV Pasal 11 dan Pasal 22 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3)

Pasal 11 ayat (1) dan (2), Pasal 40 huruf a

8 TV ONE Pasal 9, Pasal 11, Pasal 14, Pasal 16, dan Pasal 22 ayat

Pasal 9, Pasal 11 ayat (1), Pasal 15 ayat (1), Pasal 18 huruf g,

(6)

6

(1), ayat (2) dan ayat (3), Pasal 25 huruh a, b dan c

Pasal 40 huruf a dan b, Pasal 49, Pasal 50 huruf d.

9 GLOBAL TV Pasal 9, Pasal 14 ayat (2) Pasal 16, Pasal 21 ayat (1), Pasal 50 ayat (5),

Pasal 9, Pasal 15 ayat (1), Pasal 18 huruf h, Pasal 30 ayat (1) huruf f, Pasal 37 ayat (1), (2) dan (4) huruf a, Pasal 71 ayat (6),

10 MNC Pasal 9, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 16 , Pasal 17, Pasal 21 ayat (1), Pasal 27 ayat (4), Pasal 50 ayat (5),

Pasal 9, Pasal 13 (1) dan (2), Pasal 14 huruf a, b, e, g dan h, Pasal 15 (1), Pasal 18 huruf h, Pasal 37 ayat (4) huruf (a), Pasal 71 (6)

11 INDOSIAR Pasal 9, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 17, Pasal 21 ayat (1), Pasal 22 ayat (2), Pasal 43

Pasal 9, Pasal 13 (1) dan (2), Pasal 14 huruf a, b, e, g dan h, Pasal 15 (1), Pasal 17 ayat (1) dan (2) huruf c, Pasal 19 ayat (1), Pasal 37 (4) huruf a, Pasal 40 huruf b, Pasal 58 (1) Pasal 59 (3).

12 NET TV Pasal 14 dan Pasal 21 (1) Pasal 15 (1) dan Pasal 37 (4) huruf a

Sumber : Data Sekunder, 2014 Pembahasan

Program acara faktual merupakan program acara siaran yang menyediakan fakta non fiksi yang terdiri dari program berita, features, dokumentari, program realita (reality program/ reality show), konsultasi on-air dengan mengundang narasumber dan atau penelepon, pembahasan masalah melalui diskusi, talk show, jajak pendapat, pidato/ceramah, program editorial, kuis, perlombaan, pertandingan olahraga, dan program-program sejenis lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang mengambil populasi sebanyak 111 kasus pelanggaran terhitung dari Bulan Juli-Desember 2014 yang dimuat dalam website kpi.go.id, program acara faktual menjadi program acara yang paling sedikit melakukan pelanggaran yakni hanya sebesar 39% atau sebanyak 29 kasus pelanggaran dari total sampel 75 kasus pelanggaran.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa program acara faktual masih lebih mengindahkan pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran hal ini terbukti bahwa adanya pelanggaran yang terjadi oleh program faktual lebih banyak melakukan pelanggaran yang mengarah kepada ketentuan jam tayang dan perinsip-prinsip jurnalistik mengenai ketentuan liputan pemberitaan.

Program acara non-faktual menjadi program acara yang paling banyak melakukan pelanggaran terhitung dari bulan Juli-Desember tahun 2014 yakni sebesar 46 kasus atau 61%. Program faktual merupakan program siaran yang menyajikan fiksi (seperti drama, film, sinetron, komedi, dan kartun) yang berisi seni dan budaya serta rekayasa dan/ atau imajinasi dari pengalaman individu dan/atau kelompok tertentu.

(7)

7

Berdasarkan hasil penelitian yang mengambil populasi dan sampel dalam website kpi.go.id program acara non faktual yang paling banyak melakukan pelanggaran ada program acara sinetron dan animasi anak.Program sinetron paling banyak melakukan pelanggaran dengan muatan yang banyak menampilkan ekspresi dari pemainya seperti ada adegan dalam beberapa tayangan sinetron yang memunculkan adegan kekerasan yang dinilai kurang pantas untuk ditayangkan dibawah jam 10 malam hal ini dikarenakan anak-anak masih menonton televisi dan dikhawatirkan anak-anak akan meniru adegan tersebut. Selain itu animasi yang dikhusukan untuk klasifikasi anak juga banyak melakukan pelanggaran dengan adegan-adegan kekerasan yang sangat riskan ditiru oleh anak-anak yang melihatnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan adapun nama stasiun televisi yang tercantum sebagai stasiun yang melakukan pelanggaran paling banyak dilakukan oleh stasiun televisi RCTI dengan jumlah kasus pelanggaran sebanyak 15 kasus pelanggaran atau 20%, Stasiun televisi SCTV menjadi stasiun televisi kedua yang paling banyak melakukan pelanggaran setelah stasiun televisi RCTI, yakni sebanyak 11 kasus pelanggaran atau 14.7% dari total keseluruhan kasus pelanggaran yang berjumlah 75 kasus pelanggaran.

Stasiun televisi TRANS TV berada diurutan ke-3 (tiga) yang melakukan kasus pelanggaran terbanyak dengan jumlah 10 kasus pelanggaran atau 13.3%

dari total keseluruhan. Selanjutnya stasiun televisi ANTV dan MNC berada diurutan ke-4 (empat) dan ke-5 (lima) dengan jumlah kasus pelanggaran sebanyak 8 (delapan) kasus pelanggaran atau 10.7%. INDOSIAR menjadi stasiun televisi diurutan ke-6 (enam) yang melakukan pelanggaran terbanyak yaitu sebanyak 7 kasus pelanggaran atau 9.4% dari total keseluruhan.

TRANS 7 berada diurutan ke-7 (tujuh) dengan jumlah kasus pelanggaran sebanyak 6 kasus pelanggaran atau 8%, diurutan ke-8 (delapan) terbanyak yang melakukan pelanggaran adalah stasiun televisi GLOBAL TV dengan jumlah kasus pelanggaran sebanyak 4 kasus pelanggaran atau 5.3% dan TV ONE berada diurutan ke-9 (sembilan) stasiun televisi yang melakukan pelanggaran dengan jumlah kasus pelanggaran sebanyak 3 kasus pelanggaran. Stasiun televisi yang paling sedikit melakukan pelanggaran adalah stasiun televisi TVRI yaitu sebanyak 1 kasus pelanggaran atau 1.3%, Stasiun Televisi METRO TV yaitu sebanyak 1 kasus pelanggaran atau 1.3% dan stasiun televisi NET TV juga melakukan pelanggaran sebanyak 1 kasus pelanggaran atau 1.3% dari total keseluruhan kasus pelanggaran dari bulan Juli-Desember tahun 2014.

Stasiun televisi RCTI merupakan stasiun televisi swasta yang telah menyelenggarakan penyiaran selama 25 tahun. Banyaknya program acara yang di tayangkan oleh stasiun televisi RCTI seolah memungkinkan untuk terjadinya pelanggaran. Hal ini terbukti dengan adanya data yang dimuat di website kpi.go.id, stasiun televisi RCTI menjadi stasiun televisi terbanyak yang melakukan pelanggaran terhitung dari bulan Juli-Desember 2014, yakni sebanyak 20 kasus pelanggaran atau sekitar 20% dari total keseluran kasus pelanggaran.

Stasin televisi yang paling sedikit melakukan pelanggaran adalah TVRI, METRO TV dan NET TV. Ketiga stasiun televisi ini masing – masing melakukan pelanggaran sebanyak 1 kali terhitung dari Juli-Desember 2014. Stasiun televisi

(8)

8

TVRI merupakan stasiun televisi pemerintah, stasiun televisi METRO TV merupakan stasiun televisi swasta yang banyak menayangkan program acara faktual berupa jurnalistik, talk show dan program sejenis lainya, dan stasiun televisi NET TV merupakan stasiun televisi swasta yan tergolong masih baru dan baru menayangkan beberapa program acara sehingga kemungkinan untuk melakukan pelanggaran masih dapat di golongkan rendah.

Jenis pelanggaran yang paling banyak melakukan pelanggaran adalah perlindungan terhadap anak-anak dan remaja dimana banyak program acara faktual maupun non faktual yang menampilkan adengan kekerasa, ungkapan kata- kata kasar, muatan seksualitas yang sangat rentan ditiru oleh anak-anak dan dianggap tidak mendidik serta tidak mendukung perkembangan psikologi anak sebagaimana yang telah diatur dalam pedoman perilaku penyiara. Selain itu penggolongan program siaran dan ketentuan jam tayang juga perlu diperhatikan dalam setiap program acara dengan memperhatikan isi dari program acara tersebut.

Adapun pasal yang cendenrung dilanggar oleh media televisi adalah .Pasal 6, Pasal 9 yang berbunyi “lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat, Pasal 11 , Pasal 13 mengenai penghormatan terhadap hak privasi, Pasal 14 mengenai perlindungan kepada anak. Pasal 16 mengenai pembatasan program seksual, Pasal 17 mengenai pembatasan program siaran bermuatan kekerasan, Pasal 21 ayat (1) mengenai penggolongan program siaran, Pasal 22 ayat (1), (2), dan (3) mengenai prinsip- prinsip jurnalisik.Pasal 25 huruh a, b, dan c mengenai peliputan bencana, Pasal 27 ayat (4) mengenai narasumber dan sumber informasi, Pasal 43 mengenai siaran iklan. Pasal 50 ayat (5) mengenai siaran pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah.

Pelanggaran terhadap pasal dalam Standar Program Siaran juga cenderung dilakukan oleh stasiun televisi, adapun pasal-pasal yang dilanggra yaitu pasal 6 mengenai penghormatan terhadap nilai-nilai kesusilaan, agama, ras, dan antar golongan, Pasal 9 mengenai penghormatan terhadap nilai kesopanan dan kesusilaan. Pasal 11 mengenai perlindungan kepentingan public, Pasal 13 mengenai penghormatan terhadap hak privasi, Pasal 14 huruf a, b, e, g, dan h yang juga masih mengatur ketentuan mengenai perlindungan hak, Pasal 15 mengenai perlindungan kepada anak-anak/atau remaja.

Pasal 16 mengenai program siaran lingkungan, Pasal 17 mengenai pelarangan menampilkan muatan yang melecehkan, Pasal 18 mengenai pembatasan adegan seksualitas, Pasal 19 mengenai pembenaran seks diluar nikah, aborsi dan pemerkosaan, Pasal 23 mengenai pelarangan muatan adegan, Pasal 26 mengenai pelarangan dan pembatasan rokok, napza,

Pasal 30 mengenai pelarangan dan pembatasan program siaran mistis, horor dan supranatural, Pasal 32 mengenai pembatasan program siaran mistik, Pasal 36 mengenai penggolongan program acara klasifikasi A, Pasal 37 mengenai penggolonggan program acara klasifikasi R.

Pasal 40 mengenai prinsip-prinsip jurnalistik dilanggar, Pasal 49 mengenai peliputan, Pasal 50 mengenai pelarangan dan batasan peliputan bencana, Pasal 58

(9)

9

mengenai siaran iklan, Pasal 59 mengenai iklan rokok, jasa, Pasal 70 mengenai program kuis, undian berhadiah dan permainan berhadiah.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Adapun simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa adanya kecenderungan pelanggaran pedoman perilaku penyiaran dalam program acara di media televisi. Program acara yang paling banyak melakukan pelanggaran adalah program acara non faktual yakni sebanyak 46 kasus atau 61% sementara untuk program acara faktual sebanyak 29 kasus atau 39% dari total keseluruhan kasus yakni 75 kasus pelanggaran yang dimuat dalam website kpi.go.id.Program acara non faktual yang paling banyak melakukan pelanggaran merupakan program sinetron, FTV dan animasi dimana program tersebut banyak menampilkan muatan adegan yang dianggap berbahaya serta tidak mendidik.

2. Jenis pelanggaran yang paling banyak terjadi adalah perlindungan terhadap anak-anak dan remaja, penggolongan program siaran, pembatasan adegan kekerasan serta norma kesopanan dan kesusilaan.

3. Masing-masing program acara paling sedikit melakukan satu jenis pelanggaran dan paling banyak melakukan empat jenis pelanggaran sekaligus dalam satu program acara yang sama.

4. Sanksi administratif yang paling banyak diberikan adalah sanksi administratif teguran tertulis pertama dan kedua semntara untuk sanksi administratif berupa penghentian sementara program acara yang bermasalah hanya terjadi satu kali terhitung dari bulan Juli-Desember tahun 2014.

Saran

Adapun sarannya adalah sebagai berikut :

1. Lembaga penyiaran harusnya lebih banyak memperhatikan muatan dalam program siaran yang akan ditampilkan, apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah dan ketentuan yang berlaku sebagaimana yang diatur dalam undang-undang penyiaran dan khususnya pedoman perilaku penyiaran yang berlaku mengenai standar isi program siaran.

2. Program acara yang menampilkan adegan-adegan berbahaya seharusnya lebih memperhatikan jam untuk penayanganya agar program tersebut tidak dilihat oleh anak-anak dan membahayakan anak.

3. Penggolongan program siaran harus lebih memperhatikan muatan dalam ketentuan klasifikasi program siaran dikarenakan banyaknya program siaran yang diklasifikasikan untuk golongan tertentu seperti anak-anak dan remaja, tetapi program siaran tersebut tidak menampilkan muatan yang dapat mendukung untuk perkembangan psikologi anak-anak dan remaja malah cenderung membahayakan.

(10)

10 DAFTAR PUSTAKA

Buku

Cangara, Hafid. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Komisi Penyiaran Indonesia. 2002. Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS). Jakarta : Lembaga Negara Independen Nawawi, Hadari. 2001. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : UGM

Press.

Wirianto. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sumber Lain

http://www.scribd.com/doc/50989964/sejarah-penyiaran-indonesiadiakses tanggal 08 November 2014 jam 11:37

http://nyaklaa.blogspot.in/2012/12analisis-isi_600.html?m=1#!/2012/12/analisis isi_600.html di akses tanggal 08 November 2014 jam 15 : 49.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem tersebut dapat diakses 4 jenis user yaitu Admin sebagai user utama untuk mengelola fungsi utama sistem dan data master, user HRD untuk mengelola pelanggaran serta

Penelitian kali ini, untuk faktor demografi hanya pada bagian jumlah uang saku yang memiliki beda dengan perilaku konsumtif mahasiswa. Semakin banyak uang yang

Melalui kerja sama dengan Pemda DKI Jakarta disusun Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang menetapkan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen, ini

Era digital saat ini mendorong media online detikawanua.com pada PT Media Sahabat Rakyat menitik beratkan pelatihan dan pengembangan pada bidang pengembangan berupa

Bila dibandingakan dengan hasil penelitian dari Mezuan (2007) Perairan Marina Teluk Jakarta dan Sutisna (2007) Pelabuhan Sunda Kelapa Teluk Jakarta maka kapasitas

Proyek Akhir ini bertujuan untuk membuat sistem tenaga listrik hybrid untuk suplay beban penerangan jalan umum type led sebagai energi alternatif yang terbaharukan

Sedangkan dilihat dari karaktersitik perilaku remaja dengan status tempat tinggal tidak bersama orang tua sebelum diberikan intervensi pada kelompok intervensi