• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Daring dengan Model Kolaboratif 3CM dan Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kreativitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pembelajaran Daring dengan Model Kolaboratif 3CM dan Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kreativitas"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

271

Rida Larasanti1, Erlina Prihatnani2

[email protected], [email protected]2

Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana1,2

Online Learning with ‘3CM’ Collaborative Model and Peer Tutors to Improve Learning Outcomes and Creativity

ABSTRACT

Design and application of learning models are important factors in achieving learning objectives. The purpose of this research is to apply online learning by collaborating the 3CM (Cool-Critical-Creative-Meaningful) model and peer tutors to improve learning outcomes and creativity of class IXA students of SMP Negeri 1 Batuwarno, applied for surface area of flat-sided shapes learning material. This Classroom Action Research uses the Kemmis & Mc Taggart model. The data collection techniques included documentation, observation, and test methods. The results showed that online learning using the collaboration of the 3CM learning model and peer tutors improved learning outcomes and creativity of class IXA students of SMP Negeri 1 Batuwarno. These results proved that the improvement of the learning process can still be done even though learning is carried out online, as long as it selects, prepares and implements the learning model appropriately.

Keywords: 3CM, Peer Tutoring, Learning Outcomes, Creativity Article Info

Received date: 5 Januari 2021 Revised date: 19 September 2021 Accepted date: 23 September 2021

PENDAHULUAN

“Mathematics is the one of the most importance subject in our human life and Mathematics is the body of knowledge in the area of science and technology“ (Acharya, 2017). Oleh karena matematika merupakan ilmu dasar dalam pengembangan sains dan teknologi yang penting dikuasi guna menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, maka tepatlah jika matematika dipelajari secara formal dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa pada semua jenjang pendidikan dengan tujuan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (BSNP, 2016).

Guna mencapai tujuan tersebut, proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung sesuai dengan Standar Proses. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses menuliskan beberapa prinsip pembelajaran diantaranya adalah (1) dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu; (2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis berbagai sumber; (3) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa selama proses pembelajaran (tut wuri handayani), (4) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru dan siapa saja adalah siswa, serta di mana saja adalah kelas. Meskipun prinsip tersebut sudah menjadi bagian dari kurikulum 2013 (yang telah diterapkan di Indonesia secara bertahap sejak tahun 2014), namun belum semua proses pembelajaran matematika telah menerapkan prinsip-prinsip tersebut secara optimal. Oleh karena itu diharapkan pembelajaran matematika dapat disiapkan semaksimal mungkin mengacu pada Standar Proses.

Hasil observasi pembelajaran matematika di kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno menunjukkan bahwa dengan berbekal kompetensi professional yang mumpuni, guru telah menyampaikan materi sesuai dengan konsep, menyajikan materi secara runtut dan menyampaikan materi dengan jelas. Proses

(2)

272

pembelajaran diawali dengan penyampian materi dan pemberian contoh soal oleh guru serta dilanjutkan dengan latihan soal. Dalam proses penyampaian materi, masih terdapat kecenderungan transfer knowledge dan pembelajaran belum didesain secara optimal untuk memberikan stimulus agar siswa dapat secara kreatif mengkonstruksi pengetahuan akan materi yang sedang dipelajari. Proses ini belum sejalan dengan prinsip pembelajaran “dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu”. Adapun dalam proses latihan soal, guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyelesaikan soal walaupun masih tampak ketergantungan terhadap guru. Hal ini terlihat dari ketika siswa mengalami kesulitan, siswa tidak berusaha mencari referensi lain namun langsung bertanya kepada guru. Tak jarang, guru harus berpindah dari meja yang satu ke meja yang lain untuk menjelaskan secara personal atau dalam kelompok-kelompok kecil. Hanya sedikit siswa yang bertanya kepada temannya, misalpun ada hanya sebatas meminta dan memberi jawaban dan bukan penjelasan. Selain itu, saat siswa telah mendapat jawaban, siswa masih harus memastikan kebenaran jawaban dari guru (siswa belum dapat membuktikan kebenaran dari jawaban yang diperoleh). Dari proses ini terlihat bagaimana dominasi guru juga masih berlanjut meski dalam tahap latihan soal.

Proses pembelajaran tersebut telah menghasilkan hasil belajar yang baik untuk sekelompok kecil siswa namun belum untuk sebagian besar siswa di kelas tersebut. Rata-rata hasil belajar siswa yang hanya mencapai 51,1. Rata-rata tersebut masih jauh di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 70 dan bahkan hanya 3 siswa dari 29 siswa yang mampu mencapai nilai KKM. Hampir di setiap materi, sebagian besar siswa di kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno harus mengikuti proses remedial terlebih dahulu agar dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Selain itu, ditemukan adanya fenomena permasalahan lain yaitu kurangnya kreativitas siswa. Kurangnya kreativitas tersebut terlihat dari (1) kecenderungan siswa untuk mengerjakan setiap soal yang ditemukan dengan cara yang telah diajarkan oleh guru, siswa tidak mempunyai inisiatif untuk berkreasi dengan mengerjakan menggunakan cara lain; (2) jika siswa diberikan soal yang belum pernah dijadikan contoh oleh guru, siswa cenderung tidak memiliki motivasi untuk mencoba mengerjakan namun menunggu penjelasan dari guru; (3) kecenderungan siswa yang puas hanya dengan satu jawaban benar, meskipun dihadapkan dengan soal-soal open ended (memiliki banyak jawaban).

Melihat permasalahan yang ada di kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno maka perlu adanya upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika agar pembelajaran dapat (1) lebih memberikan stimulus kepada siswa untuk secara aktif mengkonstruksi pengetahuan sehingga tumbuh budaya siswa mencari tahu dan bukan diberi tahu, (2) memfasilitasi siswa untuk belajar dari berbagai sumber (bahkan teman sebayanya) dan tidak hanya bergantung pada guru, (3) pembelajaran yang memfasilitasi siswa mengembangkan kreativitas. Guna mewujudkan hal tersebut, satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah bagaimana mendorong siswa untuk dapat menangkap dan merespon secara antusias segala stimulus dan kesempatan yang diberikan. Menurut Ausubel dan Novak (Baharuddin & Wahyuni, 2015), orang akan termotivasi untuk melakukan suatu hal hanya jika orang tersebut paham benar akan manfaat dari apa yang sedang dipelajari/ dikerjakan. Menurut (Wiratama, 2020), pembelajaran dapat menjadi bermakna ketika model pembelajaran yang digunakan membuat siswa sebagai pusat dari proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan sepenuhnya kepada siswa dalam mengeksplorasi kemampuannya.

Upaya mewujudkan pembelajaran seperti itu diperlukan meski saat pandemic Covid-19 ini pembelajaran harus dilaksanakan secara daring. Pembelajaran secara daring jika dirancang dengan baik maka dapat mengurangi dominasi guru sehingga siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk mengkonstruksi pengetahuan dari berbagai sumber dan tidak terbatas tempat. Menurut (Suciati, 2018) dan (Melania, 2020), melalui pembelajaran daring proses belajar dapat menjadi lebih fleksibel, berpusat pada siswa, konstruktivis dan kolaboratif, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat waktu, dan hemat tenaga.

Salah satu model pembelajaran yang menekankan akan kebermaknaan dalam proses belajar, pengkonstruksian pengetahuan, dan pengembangan kreativitas dan telah terbukti dapat diterapkan dalam pembelajaran daring adalah model pembelajaran 3CM (Cool-Critical-Creative-Meaningful). (Wahyudi et al., 2019a) menyatakan bahwa pembelajaran 3CM valid, praktis dan efektif diterapkan dalam blended learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah.

Model ini telah terbukti dapat diterapkan dalam blended learning terhadap mahasiswa PGSD untuk materi lingkaran (Wahyudi et al., 2019a), luas persegi (Wahyudi et al., 2019a) dan materi konsep dasar matematika (Wahyudi et al., 2020). Model ini baru terbukti dapat dilaksanakan dalam blended

(3)

273

learning terhadap mahasiswa. Oleh karena model ini diterapkan sebagai upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran daring di SMP, maka penelitian ini mengkolaborasikan penerapan model ini dengan model Tutor Sebaya.

Beberapa penelitian juga menyimpulkan bahwa penerapan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh (Ulfawati et al., 2017), (Ribowo, 2006), (Sari, 2006) yang berturut-turut diterapkan pada materi bentuk aljabar siswa kelas VII, segiempat pada siswa kelas VIII, dan Persamaan Garis lurus pada siswa kelas VIII. Pembelajaran Tutor Sebaya secara daring juga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar, misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh Butar-Butar (2020). Hasil penelitian Yawan et al. (2017) juga membuktikan bahwa penerapan Tutor Sebaya tidak hanya dapat berdampak positif pada hasil belajar namun juga dapat mengasah kreativitas siswa.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini memilih menerapkan pembelajaran daring dengan model pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya sebagai upaya untuk memperbaiki permasalahan yang ada. Diharapkan dengan menerapkan kolaborasi dari dua model pembelajaran tersebut, dapat menciptakan pembelajaran yang konstruktifis, mengasah kreativitas namun tetap meminimalkan peran guru dalam proses pembelajaran dan lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam proses belajar. Pembelajaran yang dilakukan secara daring diharapkan lebih dapat memfasilitasi proses tutoring Tutor Sebaya karena tidak terbatas waktu dan tempat pembelajaran. Melalui pewujudan proses pembelajaran yang sesuai prinsip pembelajaran pada Standar Proses, diharapkan dapat mewujudkan pencapaian tujuan pembelajaran matematika di kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno.

KAJIAN PUSTAKA 1. Hasil Belajar

Witherington (Rusman, 2017) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola- pola respon yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Menurut James O. Whitaker (Rusman, 2017) mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman. Menurut Slameto (Hamdani, 2011), belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan oleh seseorang sebagai hasil dari pengalamannya sendiri untuk memperoleh suatu pengetahuan dengan interaksi terhadap lingkungannya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah tingkah laku seorang individu sebagai pengalaman pribadi yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan.

2. Kreativitas

Menurut Downing (Sani, 2019), kreativitas dapat diartikan sebagai “proses” guna menghasilkan sesuatu yang baru dari elemen yang ada dengan cara menyusun kembali elemen tersebut. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat suatu kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada (Utami Munandar, 1990). Kemampuan siswa dalam mengajukan sebuah ide kreatif seharusnya dikembangkan dengan meminta mereka untuk memikirkan ide-ide lain atau pendapat yang berbeda dengan pendapat yang telah diajukan temannya (Sani, 2019). Diharapkan siswa dapat mempunyai kreativitas yang cukup baik agar dapat mengembangkan pemikiran mereka akan proses mengerjakan suatu soal matematika dan tidak hanya terpaku pada suatu cara yang diajarkan guru saja. Menurut Utami Munandar (1990) ciri- ciri kreativitas seperti yang dibahas terdahulu (kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, elaborasi atau perincian) merupakan ciri- ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang, dengan kemampuan berpikir kreatif. Semakin kreatif seseorang ciri- ciri tersebut makin dimiliki. Menurut Torrance (Sani, 2019), kriteria atau ciri- ciri utama kreativitas verbal adalah kelancaran berpikir (fluency), fleksibilitas berpikir (flexibility), dan orisinalitas (original thinking). Kelancaran (fluency) adalah jumlah ide- ide orisinal yang dihasilkan. Fleksibilitas (flexibility) adalah kemampuan membuat beberapa kreasi secara berbeda untuk satu tantangan. Orisinalitas dapat diinterpretasikan secara statistik sebagai jawaban yang jarang ditemukan dari suatu populasi tertentu.

3. 3CM (Cool-Critical-Creative-Meaningful)

Menurut Wahyudi et al. (2019b) pembelajaran 3CM mengadopsi dan menggabungkan pembelajaran kontekstual, matematika realistis, dan pembelajaran yang bermakna dari Brownel dan David

(4)

274

Ausubel. Wahyudi et al. (2019b) mengatakan bahwa pembelajaran 3CM terdiri dari empat aspek, yaitu aspek cool, critical, creative, dan meaningfull, serta ada tujuh sintaks (Tabel 1).

Tabel 1. Sintak 3CM (Cool-Critical-Creative-Meaningful)

Aspek Sintaks

Cool 1. Motivasi

2. Masalah kontekstual

Critical 3. Mengkritik masalah kontekstual 4. Pemecahan masalah

Creative 5. Implementasi konsep dengan produk kreatif Meaningful 6. Konfirmasi

7. Refleksi

Model ini diawali dengan memotivasi siswa untuk belajar dengan mengajukan permasalahan kontekstual agar siswa mendapat gambaran akan manfaat/ perlunya mempelajari materi. Pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa terjadi dari pada aspek critical dan creative, guru hanya melakukan konfirmasi (penguatan) akan konsep yang sudah dikonstruks dan di akhir pembelajaran, kembali siswa yang harus aktif untuk merefleksikan pencapaian belajarnya dan merasakan implementasi kebermanfaatan dari materi yang dipelajari. Menurut Harianja (2020), keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu aspek yang penting dalam pembelajaran matematika.

4. Tutor Sebaya

Pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara bersama-sama dengan teman yang berusia hampir sebaya (Djamarah & Zain, 1995). Menurut Suherman (2003), tutor dalam model tutor sebaya adalah kelompok siswa yang mampu memahami materi pelajaran secara tuntas, lalu diberi kesempatan untuk membantu siswa yang belum mampu memahami materi pelajaran secara tuntas. Menurut Martinis (2007), kriteria untuk menjadi tutor yaitu dapat diterima oleh anggota kelompoknya, dapat menerangkan bahan perbaikan, tidak tinggi hati, dan mempunyai kreativitas yang cukup.

Menurut Suherman (2003) tutor sebaya adalah kelompok siswa yang mampu memahami materi pelajaran secara tuntas, lalu diberi kesempatan untuk membantu siswa yang belum mampu memahami materi pelajaran secara tuntas. Menurut Suherman (2003) bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami, selain itu belajar dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya, sehingga diharapkan siswa yang kurang paham tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini temasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemmis dan MC Taggart, yaitu berupa siklus dimana setiap siklus terbagi atas 4 tahap (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi).

Penelitian ini dilaksanakan di kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno. Sekolah ini terletak di kabupaten Wonogiri namun jauh dari pusat kota dan terletak di pedesaan. Sekolah ini merupakan sekolah yang 3 tahun terakhir menduduki peringkat 47, 34, 27 di kabupaten Wonogiri dan peringkat 1271, 1047, 950 di tingkat Jawa Tengah (hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id). Subjek pada PTK ini adalah siswa kelas IXA yang berjumlah 29 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.

Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari 2020 hingga bulan Agustus 2020. Teknik pengumpulan data meliputi metode observasi dengan instrumen angket observasi pelaksanaan model pembelajaran kolaboratif 3CM dan Tutor Sebaya, metode dokumentasi untuk mendapat data hasil belajar sebelum dilakukan PTK, metode tes untuk mengukur hasil belajar dan kreativitas setelah penerapan model kolaborasi pembelajaran 3CM dan Tutor Sebaya dengan instrumen tes hasil belajar dan kreativitas yang telah divalidasi oleh guru matematika.

Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus dan berhenti saat mencapai indikator keberhasilan. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah untuk hasil belajar adalah (1) Rata-rata hasil belajar kelas IXA mencapai KKM, yaitu 70, (2) persentase siswa 1 kelas yang mencapai KKM

(5)

275

lebih dari 75%, dan (3) meningkatnya rata-rata kelas, sedangkan untuk kreativitas adalah terdapat minimal 80% siswa memiliki kreativitas yang masuk kategori kreatif atau sangat kreatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Siklus 1

Perencanaan (planning)

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap kurikulum yang meliputi analisis KI, KD, perumusan instrumen, penentuan cakupan materi dan penentuan alokasi waktu pembelajaran dan penyusunan perangkat pembelajaran termasuk LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) sebagai media pembelajaran. LKPD ini mempunyai beberapa komponen yaitu gambar berbagai macam kemasan produk tujuannya untuk mengajukan permasalahan kontekstual, Ayo Berpikir tujuannya untuk mengajak siswa mengkritisi suatu permasalahan, Ayo Berkreasi tujuannya untuk melatih kreativitas siswa, Simpulan tujuannya sebagai refleksi materi yang telah dipelajari, Tugas Proyek tujuannya untuk implementasi materi yang telah dipelajari, dan Ayo Berlatih yang berisi latihan soal. Hasil dari proses analisis ini adalah menyusun desain pembelajaran yang memuat empat aspek yaitu cool, critical, creative, dan meaningfull. Selain menganalisis kurikulum dan menyusun perangkat pembelajaran, pada tahap ini juga digunakan untuk menyusun lembar observasi guru dan siswa, instrumen tes beserta lembar validasinya.

Langkah pembelajaran disusun berdasarkan sintaks model 3CM. Cool (Motivasi dan Masalah kontekstual) dengan mengajukan permasalahan kontekstual terkait materi yang sedang dipelajari Contoh implementasi tahap ini bisa dilihat pada Gambar 1. Pada gambar tersebut tampak bagaimana guru menghadirkan permasalahan kontekstual yaitu arti penting desain kemasan produk untuk menarik konsumen.

Gambar 1. Contoh implementasi tahap Cool dari siklus 1

Untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut, dilakukan tahap selanjutnya yaitu Critical. Siswa diberi satu stimulus agar siswa dapat secara kritis mengkonstruksi pengetahuan ataupun konsep-konsep matematika yang harus dipelajari guna memecahkan masalah yang diajukan pada tahap sebelumnya. Contoh implementasi tahap ini pada siklus 1 dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Contoh implementasi tahap Critical dari siklus 1

Untuk mencapai Creative (Implementasi konsep dengan produk kreatif) siswa dilatih untuk berkreasi membuat jaring-jaring dapat dilihat pada Gambar 3. Sebelum siswa diminta untuk

(6)

276

menggambar berbagai macam jaring-jaring kubus terlebih dahulu siswa diminta untuk menggambar jaring-jaring kubus jika sudah ada irisan pada rusuk-rusuknya.

Gambar 3. Contoh implementasi tahap Creative dari siklus 1

Selanjutnya untuk menerapkan Meaningfull (Konfirmasi dan Refleksi) siswa diajak untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari dan diakhir pembelajaran siswa diberi tugas proyek. Tujuan memberikan tugas proyek yaitu untuk memastikan bahwa siswa sudah memahami materi yang dipelajari. Pada LKPD disediakan petunjuk seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Contoh implementasi tahap Meaningfull dari siklus 1

Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, nantinya akan dipilih tutor-tutor untuk membantu siswa-siswa yang kesulitan untuk memahami materi ataupun kesulitan dalam merespon segala bentuk stimulus guru baik yang berupa langkah kegiatan ataupun pertanyaan-pertanyaan yang bersifat memandu siswa untuk mempelajari materi. Pada tahap perencanaan ini guru juga mempersiapkan tutor dengan memberikan mereka penjelasan singkat guna memastikan bahwa tutor mampu memahami materi dengan baik. Selama proses persiapan tutor ini guru juga memperhatikan pemilihan anggota kelompok untuk masing-masing tutor.

Tindakan (acting)

Pada tahap ini peneliti berperan sebagai guru sedangkan guru matematika sebagai observer. Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 terbagi menjadi 3 pertemuan dengan total 8 JP dimana pada setiap pertemuan terbagi menjadi 3 kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup dengan menerapkan tutoring dalam setiap sintaks 3CM. Pada saat proses pembelajaran, ketika siswa diberi motivasi dan permasalahan konstektual sesuai rencana siswa tampak tertarik terlihat dari antusias siswa dalam berdiskusi secara daring. Siswa juga antusias dalam mengkritisi permasalahan konstekstual yang diberikan hal ini dapat terlihat dari respon siswa saat menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. Secara kreatif siswa juga berusaha menggambar sketsa jaring-jaring dan menghitung luas permukaannya dapat dilihat dari foto yang dikirim oleh siswa. Selama pembelajaran berlangsung siswa juga bisa mengikuti pembelajaran tanpa tertekan karena adanya tutor sebaya yang membantu mereka ketika mengalami kesulitan.

Pengamatan (observing)

Setiap proses pembelajaran dilakukan pengamatan dengan pengisian lembar observasi guru sebagai instrumen pengamatan. Hasil rekapitulasi observasi guru pada siklus 1 dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 tampak bahwa keempat aspek masuk kategori sangat baik. Hal itu dikarenakan adanya kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Namun masih ada beberapa hal yang belum mendapat nilai optimal, seperti keterlaksanaan perencanaan pembelajaran. Hal ini dikarenakan perlu adanya penyesuaian siswa selama pembelajaran daring dengan model pembelajaran yang belum pernah diterapkan di kelas tersebut sebelumnya. Contohnya masih terdapat beberapa siswa

(7)

277

yang belum tertib dalam belajar secara daring sehingga masih ada beberapa siswa yang telat dalam mengumpulkan tugas yang diberikan.

Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Guru Siklus 1 No Aspek yang Diamati Persentase Kategori 1 Kesesuaian perencanaan pembelajaran daring

dengan model 3CM dan Tutor Sebaya 89,74% Sangat Baik 2 Keterlaksanaan perencanaan pembelajaran 85,41% Sangat Baik

3 Penguasaan Materi 93,33% Sangat Baik

4 Managemen Kelas 93,75% Sangat Baik

Perolehan hasil belajar pada siklus 1 dapat dilihat pada Tabel 3. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1 menghasilkan rata- rata 66,6. Hasil tersebut masih di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 70. Selain itu persentase ketuntasan kelas baru mencapai 51,7% belum mencapai indikator kentutasan hasil belajar yang diharapkan yaitu 75%. Adapun rekapitulasi hasil tes kreativitas siswa dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 3. Hasil Belajar Siswa Siklus 1

Jumlah Nilai Rata- rata Tuntas Tidak Tuntas Max Min Jumlah Presentase (%) Jumlah Presentase (%)

29 96 40 66,6 15 51,7 14 48,3

Tabel 4. Hasil Kreativitas Siswa Siklus 1 Kategori Jumlah Siswa Presentase

Sangat Kreatif 2 6,90%

Kreatif 11 37,93%

Kurang Kreatif 16 55,17%

Pada Tabel 4 tampak bahwa sebagian besar siswa masih masuk kategori kurang kreatif. Siswa yang berhasil mencapai kategori minimal kreatif yaitu 44,83% berarti masih di bawah indikator keberhasilan yaitu 80% siswa mencapai kategori minimal kreatif.

Refleksi (Reflecting)

Pembelajaran tutor sebaya dengan model pembelajaran 3CM mampu memberikan semangat belajar lebih bagi siswa yang ditunjuk sebagai tutor, dapat dilihat dari antusias tutor selama proses pembelajaran baik dalam menjelaskan kepada temannya maupun mengerjakan soal-soal. Siswa bukan tutor juga dapat lebih antusias selama proses pembelajaran hal ini dikarenakan siswa cukup tertarik dengan pemberian motivasi maupun permasalahan konstekstual diawal yang dilanjutkan dengan mengkritisi masalah tersebut. Hal ini dapat membuat siswa tertarik untuk mempelajari materi yang disampaikan. Namun beberapa siswa masih terlihat masih belum membaca langkah penurunan rumus yang dituliskan pada LKPD selama proses pembelajaran daring berlangsung, hal ini dikarenakan beberapa siswa masih mengalami kendala sinyal maupun proses dalam mengunduh LKPD yang dikirim. Selain itu masih terdapat beberapa siswa yang belum tepat waktu dalam mengumpulkan tugas yang diberikan sehingga mempengaruhi proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

Siklus 2

Perencanaan (planning)

Seperti halnya pada siklus 1 pada siklus 2 ini juga disusun dengan menekankan pembelajaran tutor sebaya dengan model pembelajaran 3CM. Pada siklus 2 ini juga mempertahankan komponen yang ada pada LKPD yaitu tetap mempertahankan masalah konstekstual namun kemasan produk yang ditampilkan dibuat lebih beragam, Ayo Berpikir, Ayo Berkreasi, Simpulan, Tugas Proyek, dan Ayo Berlatih. Pada siklus 2 juga masih mempertahankan aspek yaitu cool, critical, creative, dan meaningfull. Aspek cool dan critical dapat dilihat pada Gambar 5.

(8)

278

Gambar 5. Contoh implementasi tahap Cool dan Critical dari siklus 2

Pada siklus 2 ini juga terdapat aspek creative yang dapat dilihat pada Gambar 6. Untuk memenuhi aspek creative siswa diminta untuk membuktikan bahwa rumus luas permukaan prisma juga berlaku pada balok. Dengan mengerjakan pembuktian tersebut diharapkan dapat melatih kreativitas siswa.

Gambar 6. Contoh implementasi tahap Creative dari siklus 2

Selain itu pada siklus 2 ini juga terdapat aspek meaningfull dapat dilihat pada Gambar 7. Seperti pada siklus 1 siswa diminta menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari dan pada akhir proses pembelajaran siswa diminta mengerjakan tugas proyek.

Gambar 7. Contoh implementasi tahap Meaningfull dari siklus 2

Akan tetapi berdasarkan hasil refleksi maka ada perencanaan yang berbeda dari siklus 1 yaitu guru menyiapkan LKPD yang sudah dicetak dan siswa yang membutuhkan diminta mengambil ke sekolah sehingga dapat dipastikan semua siswa sudah mempunyai LKPD. Selain itu guru juga mengingatkan kembali supaya siswa mengumpulkan tugas tepat waktu, jika tidak dikumpulkan tepat waktu maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh siswa.

Tindakan (acting)

Pada pelaksanaan siklus 2 terbagi menjadi 3 pertemuan dengan total 8 JP dimana seperti siklus 1 pada setiap pertemuan juga terbagi menjadi 3 kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup dengan menerapkan model pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya.

(9)

279

Pembelajaran yang dilaksanakan sudah terlihat sesuai perencanaan dengan melaksanakan setiap sintaks dengan baik dimana proses pembelajaran seperti pada siklus 1.

Pengamatan (observing)

Rekapitulasi lembar observasi guru dapat dilihat pada Tabel 5. Terlihat bahwa pada perencanaan, pelaksanaan, penguasaan materi, managemen kelas terdapat peningkatan jika dibandingkan pada siklus 1, bahkan kemampuan guru dalam penguasaan materi dan managemen kelas mendapat point maksimal yaitu 100%.

Tabel 5. Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi Guru Siklus 2 No Aspek yang Diamati Persentase Kategori 1 Kesesuaian perencanaan pembelajaran daring

dengan model 3CM dan Tutor Sebaya 98,07% Sangat Baik 2 Keterlaksanaan perencanaan pembelajaran 94,79% Sangat Baik

3 Penguasaan Materi 100% Sangat Baik

4 Managemen Kelas 100% Sangat Baik

Perolehan hasil belajar pada siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 6. Setelah melaksanakan pembelajaran pada siklus 2 menggunakan pembelajaran tutor sebaya dengan model pembelajaran 3CM, rata-rata hasil belajar telah mencapai 76,0. Hasil tersebut telah mencapai indikator keberhasilan untuk aspek ketuntasan kelas yaitu 75%. Perolehan rekapitulasi kreativitas siswa pada siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 6. Hasil Belajar Siswa Siklus 2

Jumlah Nilai Rata- rata Tuntas Tidak Tuntas Max Min Jumlah Presentase (%) Jumlah Presentase (%)

29 100 49 76,0 24 82,8 5 17,2

Tabel 7. Hasil Kreativitas Siswa Siklus 2 Kategori Jumlah Siswa Presentase

Sangat Kreatif 6 20,69%

Kreatif 18 62,07%

Kurang Kreatif 5 17,24%

Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa siswa dengan kategori minimal kreatif persentasenya yaitu 82,76%. Hal ini berarti kreativitas siswa pada siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan dan sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu 80% siswa mencapai kategori minimal kreatif.

Refleksi (reflecting)

Pelaksanaan siklus 2, telah menghasilkan peningkatan hasil belajar dan kreativitas siswa. Kelebihan pada siklus 2 ini adalah siswa sudah mulai nyaman dan terbiasa belajar secara berkelompok dengan anggota kelompoknya karena pembagian kelompok tidak diubah atau sama seperti pada siklus 1 sehingga bisa lebih optimal dalam berdiskusi dan memahami materi. Selain itu strategi guru untuk menyiapkan LKPD yang sudah dicetak juga berhasil. Penelitian ini baru berhasil pada siklus 2 karena pada siklus 1 siswa belum mengikuti proses pembelajaran dengan baik, terlihat dari LKPD yang belum dikerjakan sesuai petunjuk guru.

Deskripsi Antar Siklus

Hasil belajar dari siklus 1 dan siklus 2 tersebut mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 8, rata- rata kelas dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan.

Tabel 8. Hasil Belajar Siklus 1 dan Siklus 2

Siklus Jumlah Siswa Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata- Rata Kelas

Siklus 1 29 96 40 66,6

Siklus 2 29 100 49 76,0

Adapun perbandingan hasil belajar siswa siklus 1 dengan siklus 2 dapat dilihat pada Gambar 8. Berdasarkan hasil tersebut tampak bahwa persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus 1 adalah 51,7% sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 82,8% dan pencapaian ini telah mencapai indikator keberhasilan hasil belajar. Perbandingan kreativitas siswa dapat dilihat pada Gambar 9. Pada Gambar

(10)

280

8, terlihat bahwa persentase kreativitas siswa siklus 1 kategori kurang kreatif adalah 55,17% dan pada siklus 2 presentase siswa dengan kategori kurang kreatif adalah 17,24%. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa kreativitas siswa pada siklus 2 mengalami peningkatan dengan 82,76% siswa masuk kategori minimal kreatif.

Gambar 8. Perbandingan Hasil Belajar dan Perbandingan Kreativitas Siswa Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya dalam pembelajaran daring dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa. Menurut Nurhasanah & Gumiandari (2021), tutor sebaya dapat mendorong siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan membagikannya kepada siswa lain, dengan begitu siswa yang dipilih sebagai tutor akan lebih memahami materi karena ketika menjelaskan kepada temannya berarti ia sama saja mengulang belajar materi yang sama. Menurut Wakit (2016), proses pembelajaran matematika yang menerapkan sistem belajar individu sangat sulit bagi beberapa siswa untuk memahami materi, maka dari itu dibutuhkan bantuan dari tutor sebaya. Menurut Tsuei (2014) dan Grubbs & Boes (2009), tutor sebaya dapat memfasilitasi siswa dalam memahami konsep matematika meskipun dilaksanakan secara daring. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemilihan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa mampu memberikan hasil yang optimal meskipun dilaksanakan secara daring.

Salah satu faktor keberhasilan pembelajaran adalah kesiapan penyusunan perangkat pembelajaran, dengan menyusun perangkat pembelajaran yang menyesuaikan kondisi siswa maka akan memperlancar proses pembelajaran. Menurut Kusumaningrum et al. (2017), perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru akan berpengaruh terhadap implementasi kurikulum dan merupakan upaya untuk menentukan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan guna mencapai kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh siswa. Menurut Dewi (2020), kegiatan belajar dapat berjalan baik dan efektif sesuai dengan kreativitas guru dalam memberikan materi dan soal latihan kepada siswa. Pemberian LKPD kepada siswa merupakan salah satu upaya untuk mengasah kreativitas siswa, dimana LKPD tersebut sudah disesuaikan dengan sintaks 3CM yang dapat meningkatkan kreativitas siswa. Menurut Marliani (2015), agar dapat berpikir secara kreatif dibutuhkan stimulus sebagai pemicu siswa berpikir. Stimulus tersebut berupa pemberian masalah konstekstual di awal pembelajaran sesuai sintaks pembelajaran 3CM. Proses diskusi dalam kelompok juga berjalan dengan baik, setiap anggota kelompok dapat berdiskusi dengan baik berbantu media LKPD. Hal ini dikarenakan penerapan sintaks 3CM dan peran tutor yang baik sehingga bisa membantu teman satu kelompoknya selama proses diskusi. Menurut (Suherman, 2003), bahasa yang diutarakan teman sebaya akan lebih mudah dimengerti, selain itu belajar dengan teman sebaya akan mengurangi atau bahkan tidak ada rasa enggan, malu, rendah diri, dan lain sebagainya, sehingga diharapkan siswa yang kurang paham tidak segan dalam mengutarakan kesulitan yang dihadapinya. 6,90% 37,93% 55,17% 20,69% 62,07% 17,24%

Sangat Kreatif Kreatif Kurang

Kreatif

Perbandingan Kreativitas Siswa Siklus

1 dan Siklus 2

(11)

281 SIMPULAN DAN SARAN

Penerapan model pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya pada materi luas permukaan bangun ruang sisi datar terhadap siswa terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa kelas IXA SMP Negeri 1 Batuwarno. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian rata-rata kelas dan persentase ketuntasan yang mencapai batas minimal serta adanya peningkatan rata-rata kelas. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka beberapa saran yang dapat diberikan kepada guru dan peneliti selanjutnya, yaitu (1) pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa; (2) untuk menerapkan model pembelajaran yang mengkolaborasikan 3CM dan Tutor Sebaya secara daring, perlu mempersiapkan perangkat pembelajaran yang digunakan secara matang sehingga memperoleh hasil maksimal dan perlu memperhatikan karakteristik siswa sehingga dapat mengurangi kendala selama pembelajaran daring berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Acharya, B. R. (2017). Factors Affecting Difficulties in Learning Mathematics by Mathematics Learners. International Journal of Elementary Education, 6(2), 8. https://doi.org/10.11648/j.ijeedu.20170602.11

Baharuddin, B., & Wahyuni, E. N. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran. Ar-Ruzz Media.

Butar-Butar, C. I. (2020). Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Menumbuhkan Rasa Memiliki Siswa

SMP pada Pembelajaran Daring [Universitas Pelita Harapan].

http://repository.uph.edu/id/eprint/12147

Dewi, W. A. F. (2020). Dampak COVID-19 Terhadap Implementasi Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 55–61. https://doi.org/10.31004/edukatif.v2i1.89

Djamarah, S. B., & Zain, A. (1995). Strategi Belajar Mengajar. In Rineka Cipta.

Grubbs, N., & Boes, S. R. (2009). The Effects of the Peer Tutoring Program: An Action Research Study of the Effectiveness of the Peer Tutoring Program at One Suburban Middle School. Georgia School Counselors Association Journal, 16(1), 21–31.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. In Pustaka Setia.

Harianja, J. K. (2020). Implementasi Rally Coach Untuk Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis Pada Pelajaran Matematika. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(2), 162–170. https://doi.org/10.24246/j.js.2020.v10.i2.p162-170

Kusumaningrum, D. E., Arifin, I., & Gunawan, I. (2017). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbsasis Kurikulum 2013. Attadib: Journal of Elementary Education, 1(1), 16–21. https://doi.org/10.32507/attadib.v4i1.625

Marliani, N. (2015). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP). Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 5(1), 14–25. https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.166

Martinis, Y. (2007). Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. In Gaung Persada Press.

Melania, E. P. (2020). Pembelajaran Daring, Apakah Efektif untuk Indonesia. Diambil Dari Https://Muda. Kompas. Id/Baca/2020/04/06/Pembelajaran-Daring-Apakah-Efektif-Untuk-Indonesia.

Nurhasanah, L., & Gumiandari, S. (2021). Implementasi Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Siswa. Pedagogik Jurnal Pendidikan, 16(1), 62–68.

Ribowo, B. (2006). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II A SMP Negeri 2 Banjarharjo Brebes dalam Pokok Bahasan Segiempat Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya dalam Kelompok Kecil Tahun Pelajaran 2005/2006.

(12)

282

Rusman, M. P. (2017). Belajar & Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Prenada Media.

Sani, R. A. (2019). Pembelajaran Berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) (Vol. 1). Tira Smart. Sari, I. M. (2006). Keefektifan Model Pembelajaran Tutor Sebaya terhadap Hasil Belajar Matematika

Pokok Bahasan Persamaan Garis Lurus Siswa Kelas VIII SMP Negeri 36 Semarang.

Suciati, S. (2018). Pengembangan Kreativitas Inovatif Melalui Pembelajaran Digital. Jurnal Pendidikan, 19(2), 145. https://doi.org/10.33830/jp.v19i2.731.2018

Suherman, E. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. In Bandung: Jica.

Tsuei, M. (2014). Mathematics Synchronous Peer Tutoring System for Students with Learning Disabilities. Journal of Educational Technology & Society, 17(1), 115–127.

Ulfawati, D. P., Ardianik, & Legowati, E. (2017). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Metode Tutor Sebaya Siswa Kelas VII Pada Materi Bentuk Aljabar. Jurnal Ilmiah : SOULMATH, 5(2), 51–62.

Utami Munandar, S. . (1990). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. PT Gramedia. Wahyudi, W., Waluya, B., Suyitno, H., & Isnarto, I. (2019a). The Use Of 3CM

(Cool-Critical-Creative-Meaningful) Model In Blended Learning To Improve Creative Thinking Ability In Solving Mathematics Problem. Journal of Educational Science and Technology (EST), 5(1), 26–38. https://doi.org/10.26858/est.v5i1.7852

Wahyudi, W., Waluya, S. B., Suyitno, H., & Isnarto, I. (2020). The Impact of 3CM Model within Blended Learning to Enhance Students’ Creative Thinking Ability. Journal of Technology and Science Education, 10(1), 32–46. https://doi.org/10.3926/jotse.588

Wahyudi, Waluya, S. B., Suyitno, H., & Isnarto. (2019b). Development of 3CM (cool-critical-creative-meaningful) learning model to increase creative thinking skill. Journal of Physics: Conference Series, 1321(2), 1–9. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1321/2/022063

Wakit, A. (2016). Efektivitas Metode Sorogan Berbantuan Tutor Sebaya Terhadap Pemahaman Konsep Matematika. JES-MAT (Jurnal Edukasi Dan Sains Matematika), 2(1), 1–12. https://doi.org/10.25134/jes-mat.v2i1.278

Wiratama, W. M. P. (2020). Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Quick on The Draw. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(3), 187–197. https://doi.org/10.24246/j.js.2020.v10.i3.p187-197

Yawan, R. D., Suharno, & Nugroho, A. P. (2017). Upaya Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Tutor Sebaya (Peer Tutoring) Pada Sekolah. Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi, 2, 362–370.

Gambar

Gambar 2. Contoh implementasi tahap Critical dari siklus 1
Gambar 4. Contoh implementasi tahap Meaningfull dari siklus 1
Gambar 5. Contoh implementasi tahap Cool dan Critical dari siklus 2
Gambar 8. Perbandingan Hasil Belajar dan Perbandingan Kreativitas Siswa  Pembahasan

Referensi

Dokumen terkait

2 Apakah anda dalam menjalankan tugas dan fungsi anda sebagai petugas KIA untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal1. 3 Menurut anda target yang telah

Secara berangsur-angsur pasar tradisional mengalami penyusutan sehingga berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli

(1) Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan masyarakat mempunyai tugas pokok memberikan dukungan kepada Bupati dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan daerah

mudharabah oleh KSPPS BMT NU Sejahtera Cabang Blora, menurut hukum islam tidak sesuai karena dilihat dari segi rukun akad serta syarat yang terkait terhadap

Hasil penelitian menunjukkan belanja modal berpengaruh positif terhadap infrastruktur sedangkan pada pengembangan ekonomi berpengaruh negatif.Pengelolaan keuangan

Buton Utara surat izin belajar/pernyataan mengikuti studi lanjut 365 15201002710242 DARWIS SDN 5 Wakorumba Utara Kab... Peserta Nama Peserta

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka di dapat rumusan masalah yaitu, “Bagaimana menerapkan aplikasi data mining penjualan motor

Krakatau Steel (Persero) 16 Namun, agar pelayanan publik dalam masyarakat dapat terpenuhi maka pemerintah tetap harus memiliki pertimbangan yang matang cara apakah yang