• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBANTUAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBANTUAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBANTUAN LINGKUNGAN

TERHADAP HASIL BELAJAR IPA

Ni Made Ayu Permita Budiani

1

, I Made Citra Wibawa

2

, I Nyoman Murda

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan eksperimen semu. Populasi penelitian seluruh kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada yang terdiri dari 5 SD dengan jumlah 101 siswa. Sampel penelitian yaitu kelas III SDN 1 Kayuputih Melaka dengan jumlah 26 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas III SDN 3 Kayuputih Melaka dengan jumlah 29 siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah tes pilihan ganda. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji-t sampel independent. Rata-rata hasil belajar IPA kelompok eksperimen (84,92) lebih tinggi dari pada kelompok kontrol (65,10). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA siswa.

Kata kunci: Hasil Belajar, Lingkungan, STAD,

Abstract

This study was aimed at finding the significant difference between the learning outcomes of science between a group of students who learnt through cooperative learning type STAD combined with environment and a group of students who learnt conventionally in third graders in SD at Gugus VIII Sukasada District in academic year 2016/2017. This study was quasi experiment. The population of this study was all the third graders SD at Gugus VIII Sukasada District which involved 5 SD with the total amount 101 students. The sample of this study was third graders in SDN 1 Kayuputih Melaka with the total amount 26 students as experiment class and third graders in SDN 3 Kayuputih Melaka with the total amount 29 students as control group. udy used the multiple choice test of science as the instrument. The data collected were analyzed by using descriptive statistic and t-test independent sample.

The results of the mean of students who learnt through STAD (84,92) was higher than the students who learnt conventionally (65,10). The results of this study showed that there was significant different in outcomes of students’ learning science.

Keywords : learning outcomes, environment, STAD.

(2)

2 PENDAHULUAN

Penyelenggaraan pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Terciptanya SDM yang berkualitas dapat terlahir melalui pendidikan. Pendidikan di sekolah dapat beroperasi dengan baik jika dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi dengan baik oleh kepala sekolah, guru maupun seluruh anggota sekolah. Hal ini juga berkaitan dengan proses pembelajaran yang terlaksana di sekolah.

Menurut Susanto (2014:165), “salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah”. Hal ini pula terjadi hampir pada semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran IPA. “Prestasi belajar IPA dari tahun ke tahun masih terbilang rendah”

(Parna, 2015:2). Sesungguhnya IPA merupakan pelajaran pokok dalam dunia pendidikan karena mempelajari tentang alam semesta beserta isinya. “IPA adalah usaha manusia untuk memahami alam semesta melalui pengamatan, menggunakan prosedur dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan” (Susanto, 2014:167).

Pentingnya pembelajaran IPA dalam kehidupan sehari-hari mewajibkan guru

untuk mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan agar siswa memiliki hasil belajar yang baik dalam mata pelajaran IPA.

Proses pembelajaran IPA di SD belum sesuai dengan harapan dan tujuan pembelajaran. Hasil observasi pada seluruh siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada, Buleleng menunjukkan bahwa pembelajaran IPA masih berpusat pada guru (teacher centered). Guru menjadi titik fokus, dan minimnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa cenderung mendengarkan, mencatat, dan kurangnya antusias siswa dalam menjawab pertanyaan guru.

Pembelajaran yang dilaksanakan menunjukan kurangnya aktivitas siswa dalam mempelajari IPA melalui pengamatan terhadap alam sekitarnya.

Hal tersebut akan berdampak buruk pada hasil belajar IPA siswa.

Selanjutnya, temuan tentang rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada diperkuat oleh nilai hasil belajar yang diberikan oleh guru kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada. Didapatkan nilai rata-rata siswa pada mata pelajaran IPA masih tergolong rendah seperti pada tabel 1 berik

ut.

Tabel 1. Rata-Rata Nilai Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada

Nama Sekolah Rata-Rata

SDN 1 Kayuputih Melaka 57,23

SDN 2 Kayuputih Melaka 56,76

SDN 3 Kayuputih Melaka 57,93

SDN 4 Kayuputih Melaka 56,85

SDN 5 Kayuputih Melaka 57,5

(Sumber : Dokumen Arsip Nilai Hasil Belajar IPA siswa Kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada)

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa rata-rata nilai hasil belajar IPA siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada relatif sama. Hasil belajar IPA memiliki kesetaraan, hal ini disebabkan pembelajaran yang dilaksanakan cenderung sama, seperti penggunaan metode penugasan,

ceramah, tanya jawab, dan minimnya aktivitas siswa.

Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 31 Januari 2017 yang dilakukan dengan guru kelas III serta beberapa siswa kelas III SD di Gugus VIIII Kecamatan Sukasada terdapat beberapa permasalahan yang

(3)

3 diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas III sebagai berikut. Pertama, proses pembelajaran di kelas masih berpusat pada guru (teacher centered). Kedua, siswa kurang diberikan kesempatan untuk bekerja dalam kelompok belajar.

Ketiga, kurangnya aktivitas fisik siswa dalam belajar. Keempat kurangnya pemberian motivasi berupa penghargaan atau reward terhadap siswa. Kelima dalam sistem evaluasi, guru kurang mengintensifkan pelaksanaan tes dalam bentuk kuis (tes kecil).

Menanggapi masalah diatas, perlunya suatu solusi agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang optimal dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang mampu membantu siswa agar aktif dan kreatif dalam pembelajaran serta mampu

membangun pengetahuannya

berdasarkan pengalaman nyata. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar IPA siswa adalah dengan penggunaan model kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD).

Model kooperatif tipe STAD adalah suatu model pembelajaran kelompok, siswa dapat saling berinteraksi, dan berbagi ide bersama dengan siswa lainnya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Menurut Sharan (2012:6),

“Gagasan utama di belakang STAD adalah memicu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru”. Melalui model kooperatif STAD diharapkan mampu memotivasi siswa dalam proses pembelajaran agar siswa lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dikombinasikan dengan media pembelajaran, permainan maupun sumber belajar yang relevan. “Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat menjadikan pembelajaran lebih menarik

dan kongkrit karena yang dipelajari siswa merupakan hal-hal yang ada di sekitar mereka” (Adnyasari, 2013:3). Lingkungan sebagai sumber belajar dapat memperkaya pengetahuan siswa, karena pengetahuan yang dimiliki dibangun sendiri melalui kegiatan pengamatan. Hal ini berdampak pada pengetahuan yang dimiliki siswa menjadi lebih bermakna.

Sesuai dengan uraian tersebut, tujuan yang dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan Kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada Tahun Pelajaran 2016/ 2017.

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah 1) Memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa, melalui pengamatan nyata terhadap lingkungan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa. 2) memberikan pemahaman tentang model Koopertif tipe STAD sebagai inovasi dalam pembelajaran IPA. 3) memberikan informasi dalam pengembangan model pembelajaran yang relevan sehingga berdampak pada peningkatkan prestasi sekolah. 4) memberikan pengalaman langsung bagi peneliti dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki tentang model Kooperatif tipe STAD yang diperoleh dalam perkuliahan.

METODE

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen. Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Gugus VIII Kecamatan Sukasada. Waktu penelitian adalah pada rentang waktu semester II (genap) tahun pelajaran 2016/2017.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada. Gugus VIII Kecamatan Sukasada terdiri dari 5 SD, yaitu Kelas III SDN 1 Kayuputih Melaka, SDN 2 Kayuputih Melaka, SDN 3

(4)

4 Kayuputih Melaka, SDN 4 Kayuputih Melaka dan SDN 5 Kayuputih Melaka.

Jumlah seluruh siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada adalah 101 siswa yang terdistribusi menjadi 5 kelas. Berdasarkan analisis ANAVA pada taraf signifikansi 5%, diperoleh nilai Fhitung= 0,036. Nilai Ftabel pada dbantar = 4 dan dbdal= 96 yaitu diperoleh Ftabel sebesar 2,45. Ini berarti bahwa harga Fhitung lebih kecil daripada Ftabel, yang berarti H0

diterima. Jadi, tidak terdapat perbedaan hasil belajar IPA siswa Kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada. Hal ini berarti, populasi penelitian dinyatakan memiliki kesetaraan. Selanjutnya, teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling. Dari 5 kelas III yang ada di Gugus VIII Kecamatan Sukasada pengundian tahap pertama dilakukan

untuk menentukan sampel penelitian yang terdiri dari 2 kelas. Pengundian tahap kedua dilakukan untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil dari proses pengundian dengan teknik random sampling didapatkan SDN 1 Kayuputih Melaka sebagai kelas eksperimen dan SDN 3 Kayuputih Melaka sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model Kooperatif tipe STAD berbabtuan lingkungan dan kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional.

Penelitian ini menggunakan rancangan non-equivalent post-test only control group design. Secara prosedural, desain ini mengikuti pola seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Design Non Equivalent Post-test Only Control Group Design

Kelompok Perlakuan Post Test

E X O1

K - O2

Sumber :(dimodifikasi dari Sugiyono, 2015) Berdasarkan desain diatas, dapat

diterangkan sebagai berikut.

E = Kelompok Eksperimen K = Kelompok Kontrol

X = Perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan - = Perlakuan dengan model

pembelajaran konvensional O1 = Post-test pada kelompok

eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

berbantuan lingkungan dengan ada perlakuan

O2 = Post-test pada kelompok kontrol tanpa ada perlakuan Adapun tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Meminta izin kepada kepala sekolah di Gugus VIII Kecamatan Sukasada untuk melaksanakan penelitian, 2) Melakukan observasi ke sekolah

mengenai proses belajar mengajar di kelas, dan jumlah siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada, 3) Menentukan sampel dari populasi yang tersedia, 4) Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan teknik random sampling, 5) Merancang perangkat pembelajaran seperti RPP, LKS, instrumen penelitian, dan media pembelajaran, 6) Mengonsultasikan perangkat pembelajaran dan instrument penelitian yang akan digunakan dengan Dosen dan Guru IPA, dilanjutkan dengan uji coba instrument. 7) Melakukan analisis validitas dan reliabilitas instrument hasil belajar setelah melakukan uji coba 8) Melakukan pembelajaran pada sampel penelitian yang telah ditentukan, yaitu pembelajaran dengan model Kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol, 9) Mengadakan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. 10)

(5)

5 Menganalisis data hasil belajar IPA siswa sesuai data yang diperoleh, dan 11) Menyusun laporan penelitian. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan pada penelitian ini sebanyak 7 kali pertemuan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian post-test.

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes hasil belajar IPA dengan bentuk pilihan ganda. Instrumen dalam penelitian ini terlebih dahulu divalidasi oleh dosen dan guru yang ahli dalam bidang IPA. Selanjutnya, instrumen diuji coba ke lapangan dan data hasil belajar yang diperoleh dianalisis berdasarkan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda tes. Hasil uji coba instrument dan validasi tes sebanyak 25 butir yang kemudian digunakan sebagai instrumen post-test untuk siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Metode analisis data yang akan digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif berupa mean, median, modus, dan varians data dari setiap variabel yang diteliti. Uji prasyarat analisis data penelitian ini mencakup uji normalitas dengan menggunakan analisis Chi- Kuadrat dan uji homogenitas varians dengan menggunakan Uji-F. Metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji-t

sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus :

  





 

2 1 2

1

2 2 2

1

2 1

1 1 2

1

n n n

n

X X

M

t M

(Agung, 2015) Keterangan:

M

1 = rata-rata skor post-test kelompok eksperimen

M

1 = rata-rata skor post-test kelompok kontrol

n1 = banyak siswa kelompok eksperimen

n2 = banyak siswa kelompok kontrol X1 = skor kelompok eksperimen X2 = skor kelompok kontrol

Kriteria pengujian, terima H0 jika thitung

 ttab dan tolak H0 jika thitung > ttab. Harga t pengganti ttab (dengan taraf signifikasi 5%) dengan dk = (n1 + n2) – 2.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil penelitian hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Data Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar IPA Siswa Data

Statistik

Hasil Belajar Kelompok

Eksperimen

Kelompok Kontrol

Mean 84,92 65,10

Median 87,5 63,91

Modus 89,8 61

Varians 63,11 116,45

Standar deviasi 7,94 10,79

Skor minimum 68 44

Skor maxsimum 96 84

Rentangan 28 40

Data hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dapat disajikan ke dalam bentuk histogram seperti pada gambar 1 berikut ini.

(6)

6 Gambar 1. Histogram Data Hasil Post-test Kelompok Eksperimen.

Berdasarkan gambar 1 di atas, diketahui bahwa modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo>Md>M). Dengan demikian, berarti sebagian besar skor cenderung tinggi.

Data hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam bentuk histogram seperti pada gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Histogram Data Hasil Post-test Kelompok Kontrol.

Berdasarkan gambar 2, diketahui bahwa mean lebih besar dari median dan median lebih besar dari modus (Mo<Md<M). Dengan demikian, berarti sebagian besar skor cenderung rendah.

Sebelum melakukan uji hipotesis maka harus dilakukan beberapa uji prasyarat meliputi uji normalitas dan uji homogentias varians.

Uji normalitas sebaran data dilakuan terhadap data hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol.

Normalitas sebaran data diuji dengan menggunakan rumus Chi-Square (

χ

2 ).

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh

χ

2hitung hasil belajar kelompok eksperimen (4,22) dan kontrol (4,40) lebih kecil dari

χ

2tabel (11,07) (

χ

2hitung

< χ

2tabel), sehingga data hasil belajar kelompok eksperimen dan control berdistribusi normal.

Setelah melakukan uji normalitas, maka dilanjutkan dengan uji homogenitas.

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok homogen atau tidak. Uji homogenitas dihitung dengan cara membagi varians terbesar dengan varians terkecil. Data dinyatakan homogen apabila Fhitung < Ftabel dengan taraf signifikansi 5%. Uji homogenitas varians menunjukkan bahwa Fhitung hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kontrol = 1,84, sedangkan Ftabel dengan db pembilang = 28, db penyebut = 25, pada taraf signifikansi 5% = 1,95. Hal tersebut berarti bahwa varians data hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen. Ringkasan hasil uji hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Rangkuman Hasil Penghitungan Uji-t Pemahaman Konsep IPA

Data Kelompok N

X

t

hitung

t

tabel

(t.s. 5%) Hasil Belajar

IPA

Eksperimen 26 84,92

3,53 2,000

Kontrol 29 65,10

(7)

7 Berdasarkan Tabel 4, diketahui thitung adalah 3,53. Sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5% dan db = (n1 + n2) – 2 = 26 + 29 – 2 = 53 adalah 2,000. Hal tersebut berarti, thitung lebih besar dari ttabel (thitung >

ttabel), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima dan hasilnya signifikan. Berdasarkan analisis data hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD bebantuan lingkungan dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Hal ini didasarkan pada rata-rata nilai hasil belajar IPA siswa dan hasil uji-t. Rata-rata nilai hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan adalah 84,92, sedangkan rata-rata nilai hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional adalah 65,10. Hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung = 3,53 dan ttabel pada taraf signifikansi 5% = 2,000. Hasil penghitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel). Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

Perbedaan hasil belajar IPA ini dapat diketahui dari meningkatnya kompetensi siswa pada setiap aspek hasil belajar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Adapun faktor yang pertama adalah langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Pada tahap penyampaian informasi, guru memberikan eksplorasi kepada siswa.

Pada tahap ini dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menyampaikan suatu pendapat atau pandangan awal atas materi yang akan dipelajari. Hal ini disebabkan karena adanya kesempatan yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk saling mengajukan gagasan maupun pandangan awal terhadap materi yang dipelajari. Dengan demikian tahap ini efektif

untuk meningkatkan kemampuan siswa pada aspek menjelaskan dan memberi contoh.

Pada tahap kelompok belajar, dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk saling berbagi pendapat dan pengetahuan.

Hal ini disebabkan oleh pemberian kesempatan yang luas kepada siswa untuk saling berbagi ide dan pengetahuan kepada teman sekelompoknya. Dengan adanya kelompok belajar dapat meningkatkan kinerja siswa dalam menyelesaikan tugas akademik, mampu membantu siswa lain dalam memahami suatu konsep, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis.

Proses pembelajaran dengan adanya kelompok belajar mendorong siswa melakukan penemuan atas masalah yang dihadapi (Sidiq, dkk., 2012). Peserta didik dalam pembelajaran ini dituntut aktif menyampaikan dan mengomunikasikan ide atau gagasan yang dimiliki, dan menyelesaikan tugas secara berkelompok.

Dengan demikian tahap ini efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa pada aspek menjelaskan, memberi contoh, menginterpretasi dan menganalisis.

Pada tahap scafolding, kemampuan siswa dalam melakukan pemecahan masalah terhadap materi yang diberikan mengalami peningkatan. Kemampuan yang dimaksud meliputi menginterpretasi, menduga, dan mengklasifikasi. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan kegiatan pengamatan terbimbing pada setiap pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar maupun benda-benda konkret. Hal ini juga dijelaskan oleh (Mamin, 2008) yang menyatakan bahwa scafolding merupakan sejumlah besar bantuan yang bertahap dalam pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut agar siswa mampu mandiri mengambil alih tanggung jawab dalam menyelesaikan maupun memecahkan masalah. Dengan demikian tahap ini efektif untuk meningkatkan aspek menginterpretasi, menduga, dan mengklasifikasi.

Pada tahap quizzes, kemampuan siswa dalam menjawab soal-soal latihan semakin meningkat. Hal ini disebabkan

(8)

8 karena dengan adanya kuis siswa terlibat aktif dalam proses belajar yang lebih kompetitif dan menyenangkan. Hal ini juga dijelaskan oleh (Umara,2016) yang menyatakan bahwa dengan adanya kuis di setiap pembelajaran dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang mereka pelajari dengan cara yang menyenangkan, tidak mengancam dan tidak membuat mereka merasa takut.

Berdasarkan paparan di atas, langkah- langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk membangun pengetahuanya terhadap suatu masalah melalui pembelajaran yang berfokus pada aktivitas siswa. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adnyasari (2013) hasil penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa.

Kedua, pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD sesuai dengan karakteristik IPA, yaitu memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber dan media pembelajaran. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat menarik minat belajar siswa karena hal-hal yang terkait dengan pembelajaran menarik dan dekat dengan siswa. Adanya masalah yang dekat dengan siswa menyebabkan pembelajaran menjadi lebih kontekstual.

Kemudian, pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati objek IPA secara langsung. Hal ini mengakibatkan tumbuh kembangnya antusiasme dan semangat siswa, sehigga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Dengan demikian, lingkungan sekitar sangat membantu dalam kelancaran proses belajar dan sebagai salah satu faktor pendukung dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Temuan ini sejalan dengan pendapat Sudana, dkk (2013) yang menyatakan bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar anak yang dapat dijadikan hal yang penting dalam proses pembelajaran sebagai

sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar.

Ketiga, dalam proses pembelajaran konvensional, guru berperan sebagai sumber informasi, pembelajaran didominasi dengan kegiatan ceramah, dan siswa cenderung dituntut untuk dapat menghafal materi yang disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran konvensional guru sangat memengaruhi proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi subjek pasif. Pada pembelajaran konvensial guru hanya menjelaskan materi di depan kelas, kemudian siswa diminta mencatat dan megingat materi yang sudah disampaikan oleh guru. Selanjutnya, guru melakukan tanya jawab pada siswa dan memberikan tugas sebagai evaluasi pembelajaran. Dari hal ini, tentu saja membuat akitivitas siswa menjadi sangat terbatas, dan siswa menjadi sangat sulit untuk mengembangkan hasil belajar mereka khususnya dalam pembelajaran IPA. Dengan demikian pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran dalam peyampaian materi didominasi oleh guru (teacher centered).

Temuan ini didukung oleh pendapat Rasana (2009), yang meyatakan bahwa penyampaian materi dalam pembelajaran konvensional tesebut lebih banyak dilakukan oleh guru melalui metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Peneliti lain yang mendukung penggunaan model kooperatif tipe STAD adalah penelitian yang dilakukan oleh Sutrisna (2013) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Pangkungparuk pada mata pelajaran IPA.

Peningkatan tersebut disebabkan oleh upaya-upaya penyempurnaan yang dilakukan dalam pembelajaran, antara lain sebagai berikut. 1) Pemberian motivasi kepada siswa, bahwa siswa yang berani berpendapat akan mendapat nilai tambahan, 2) adanya LKS yang membantu mengarahkan siswa agar saling berbagi ide dengan kelompoknya dan menemukan pengetahuan baru, 3) Pada saat diskusi, pemberian bimbingan dari guru yang lebih intensif kepada setiap kelompok, 4) Pemberian penghargaan atau reward

(9)

9 terhadap siswa maupun kelompok yang berhasil dan mendapatkan nilai kelompok maupun quizzes yang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Kooperatif tipe STAD layak diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Hasil penelitian Adnyasari (2013) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model kooperatif Tipe STAD dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPA. Pada kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model Kooperatif tipe STAD siswa diberikan perlakuan sebagai berikut. 1) Siswa difokuskan untuk aktif dalam pembelajaran sehingga pengetahuan yang didapat menjadi lebih bermakna dalam ingatan siswa. 2) Pembelajaran divariasikan dengan mengajak siswa belajar di luar kelas, mengisi kegiatan belajar dengan diskusi kelompok diselingi kuis menarik, dan 3) Membentuk kelompok belajar yang memfasilitasi siswa agar siswa mampu menyerap informasi dengan baik, serta pemberian penghargaan kepada siswa yang berhasil dan pemberian motivasi kepada siswa maupun kelompok yang belum berhasil.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus VIII Kecamatan Sukasada Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini dapat dilihat dari rata- rata nilai hasil belajar IPA siswa dan hasil uji-t. Rata-rata hasil belajar IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model Kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan (84,92) berada pada kategori sangat tinggi sedangkan rata-rata nilai hasil belajar IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran

konvensional (65,10) berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penghitungan uji-t, diketahui bahwa thitung = 3,25 dan ttabel dengan db = 53 pada taraf signifikansi 5% = 2,000. Hal ini berarti, thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat disampaikan sebagai berikut. 1) Bagi siswa SD agar terus meningkatkan hasil belajar IPA dengan cara aktif dan kreatif dalam mengembangkan gagasan dan ide-ide baru selama proses pembelajaran IPA berlangsung. 2) Bagi guru-guru di SD agar terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, hendaknya menggunakan dan mengembangkan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD berbantuan lingkungan dalam mata pelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa. 3) Bagi pihak sekolah hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan pengelolaan pembelajaran, hendaknya memberikan perhatian lebih dalam tiga hal pokok yaitu materi/sumber, aktivitas pembelajaran, dan pelaksanaan evaluasi. 4) Peneliti yang berminat untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang model Kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA maupun mata pelajaran lainnya yang sesuai, agar memperhatikan kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan dan penyempurnaan penelitian yang akan dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN

Adnyasari, A. D. 2013. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar terhadap Hasil Belajar IPA Siswa SD”.

Mimbar PGSD. 1. Tersedia pada http://ejournal.undiksha.ac.id

(diakses pada tanggal 29 Desember 2016).

Agung, A. A. Gede. 2015. Statistika Inferensial Disertai Aplikasi SPSS.

Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha

(10)

10 Mamin, Ratnawati. 2013. “Penerapan

Metode Pembelajaran Scaffolding Pada Pokok Bahasan Sistem Periodik Unsur”. CHEMICA 9.2: 55-

60. Tersedia pada

http://ojs.unm.ac.id/ (diakses pada tanggal 23 Mei 2017).

Parna, Ketut. 2015. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap motivasi berprestasi dan hasil belajar IPA Siswa Kelas V SD Gugus VII Kecamatan Kubu Tahun Pelajaran 2014/2015”. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. 5 (1):1-11.

Tersedia pada

http://pasca.undiksha.ac.id/e-journal (diakses pada tanggal 29 Desember 2016).

Rasana, Raka. 2009. Model-Model Pembelajaran. Singaraja: FIP Undiksha Singaraja.

Sharan, S. 2012. Handbook of Cooperative Learning: Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran untuk Memacu Keberhasilan Siswa di Kelas.

Yogyakarta: Imperium.

Sidiq, Yasir dkk. 2012. “Pengaruh Strategi Pembelajaran INSTAD Terhadap

Keterampilan Proses

Sains” Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi. Vol. 9. No. 1.

(halaman 305-309). Tersedia pada https://eprints.uns.ac.id/ (diakses pada tanggal 23 Mei 2017).

Sudana, dkk. 2016. Pendidikan IPA SD.

Singaraja: Undiksha Singaraja.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Bandung:ALFABETA

Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sutrisna, R. 2013. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbantuan Media Sederhana terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pangkungparuk”. Mimbar PGSD. 1.

Tersedia pada

http://ejournal.undiksha.ac.id.

(diakses Pada tanggal 29 Desember 2016).

Umara A. S. 2016 “Peningkatan Perhatian dan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Quis Team Pada Siswa Kelas V SDN 06 Sragen Tahun 2015/2016”. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tersedia pada https://eprints.uns.ac.id/.

(diakses pada tanggal 23 Mei 2017)

.

Gambar

Tabel 4. Rangkuman Hasil Penghitungan Uji-t Pemahaman Konsep IPA  Data   Kelompok  N  X t hitung t tabel  (t.s

Referensi

Dokumen terkait

Por otro lado, el servicio para esta empresa significa la comunicación y el contacto permanente con el cliente, así como la atención, que puede desarrollarse incluso a tal

Cara ini sering dikenal dengan cara klasik karena sudah dilakukan sejak dulu, bahkan dari semua informan yang mengaku telah menyontek sejak sekolah dasar telah

garam yang sukar larut dalam air berdasarkan nilai Ksp dan mengamati pengaruh penambahan ion sejenis terhadap kelarutan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak albumin ikan gabus (Channa striata) secara topikal terhadap percepatan kontraksi luka

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah di Semarang dengan perihal Lamaran sebagai Calon Peserta Program Pengembangan Kepedulian dan

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti (2015) yang menyatakan bahwa ada pengaruh peer group education tentang SADARI terhadap tingkat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikologis orang yang memiliki anak gangguan jiwa, mengetahui factor-faktor yang menyebabkan anak mengalami gangguan jiwa,

Dari pemaparan yang telah peneliti paparkan di atas, peneliti memiliki argumentasi utama yaitu terdapat suatu hal kuat yang mendasari Indonesia sehingga membuatnya