PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR
IPS SISWA KELAS IV SEMESTER II SD GUGUS VI KECAMATAN KINTAMANITAHUN PELAJARAN 2014/2015
Ni Nengah Arsini
1, Dr. Desak Putu Parmiti
2, Drs. Made Sumantri
31, 2, 3
Jurusan PGSD, FIP Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected]
2, [email protected]
3ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV semester genap di Gugus VI Kecamatan Kintamani tahun pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV di Gugus VI Kecamatan Kintamani tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 153 orang. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD Negeri Awan yang berjumlah 21 orang dan siswa kelas IV SD Negeri serai yang berjumlah 26 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes objektif pilihan ganda. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional kelas IV di SD Gugus VI Kecamatan Kintamani tahun pelajaran 2014/2015. Dari rata-rata (X ) hitung, diketahui X kelompok eksperimen yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah 17,62 lebih besar dari rata-rata (X ) hitung kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional adalah 8,35.
Hal ini berarti bahwa X eksperimen > X kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV semester genap di SD Gugus VI Kecamatan Kintamani.
Kata-kata kunci: model Numbered Head Together (NHT), hasil belajar IPS Abstract
This research purpose to know difference of result study IPS between students followed study with cooperative learning model type Number Head Together (NHT) and students followed study with conventional model in fourth class semester genap in Gugus VI Kecamatan Kintamani year of study 2014/2015. Kind of this research is appearance experiment. Population this research is students in the fourth class in Gugus VI Kecamatan Kintamani year of study 2014/2015 amount 153 students. The sample of this research is students in fourth class SD Negeri Awan amount 21 students and students in fourth class SD Negeri serai amount 26 students. Accumulation data in this research used multiple choice test. The data in this research analysis by analysis statistic description and statistic inferensial (uji-t). Result of this research showed that significant
difference result study IPS between students followed study with cooperative learning model type Number Head Together (NHT) with students followed study with conventional model in fourth class semester genap in Gugus VI Kecamatan Kintamani year of study 2014/2015. The average ( ), that is ( ) group experiment join study with cooperative learning model type Number Head Together (NHT) is 17,62 more bigger than average (
) control group join conventional model, that is 8, 35. Thai is meaning experiment >
control, with the result that application cooperative learning model type Number Head Together (NHT) is influential with the result study IPS students in fourth class semester genap in SD Gugus VI Kecamatan Kintamani.
Key words: Numbered Head Together (NHT) Model, result study IPS
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam membangun sumber daya manusia (SDM). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yaitu dengan adanya pendidikan sekolah dasar. Pada jenjang pendidikan sekolah dasar inilah kemampuan dan keterampilan dasar dikembangkan pada siswa. Dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki siswa, maka nantinya dapat mengembangkan rasa percaya diri, kreatif, bertanggung jawab, dan memiliki akhlak mulia. Sesuai dengan yang terdapat pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 disebutkan tentang fungsi pendidikan nasional sebagai berikut. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Terkait dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang sesuai dengan isi fungsi pendidikan, berbagai inovasi telah dilakukan oleh pemerintah. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah diantaranya dengan pengadaan sarana dan prasarana belajar, peningkatan kualitas pendidik, pembaharuan kurikulum, dan menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif dalam proses pembelajaran.
Selain itu, dalam proses pembelajaran diperlukan juga dukungan dari berbagai pihak untuk berperan aktif dalam usaha mencapai mutu pendidikan yang optimal.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, guru hendaknya ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran di SD, guru harus mampu memahami siswa yang masih berada pada tahap operasional konkret, yang belum bisa berpikir abstrak dan memiliki karakteristik yang beragam, seperti: senang bermain, suka meniru, bekerja dalam kelompok, dan senantiasa ingin melaksanakan atau merasakan sendiri. Oleh sebab itu, pembelajaran di SD hendaknya dirancang agar lebih bermakna sehingga dapat dipahami dan diingat oleh siswa. Namun saat ini, hal yang lebih ditekankan dalam pelaksanaan pembelajaran adalah hasil yang diperoleh siswa. Seharusnya yang dilakukan guru adalah melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat mengembangkan segala kreativitas dan pengetahuan yang dimilikinya untuk dibawa kearah yang positif, serta keterampilan yang didapat sehingga hasil belajar dapat tercapai secara optimal.
Kenyataannya, pembelajaran di SD masih belum dilaksanakan secara optimal khususnya mata pelajaran IPS SD.
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih terbatas pada penerimaan materi yang disampaikan dengan metode ceramah. Hal ini akan berdampak pada hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada tanggal 16 April 2015 di SD Gugus VI Kecamatan Kintamani, secara umum nilai rata-rata
X X
X X
X
siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS pada ulangan umum semester I tahun pelajaran 2014/2015 adalah 69,50.
Sementara itu, kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan untuk mata pelajaran IPS adalah 75. Berdasarkan hasil ulangan tersebut, 50% siswa masih di bawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru SD hendaknya dapat menerapkan pembelajaran yang memotivasi siswa untuk belajar dan dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam menemukan suatu konsep maupun memecahkan suatu permasalahan. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (dalam Trianto, 2009:82). Pada model pembelajaran NHT ini siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4-6 orang secara heterogen. Sehingga, model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk bekerjasama dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan suatu masalah yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan hal tersebut, penting dilaksanakan penilitian eksperimen yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Semester II SD Gugus VI Kecamatan Kintamani Tahun Pelajaran 2014/2015 sebagai bahan penelitian.
METODE
Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen (experiment research) pada umumnya menuntut kontrol yang ketat pada pengaruh variabel lain di luar variabel perlakuan (treatment) (Dantes, 2012:85).
Mengingat tidak semua variabel atau gejala yang muncul dan kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental). Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SD Gugus VI Kecamatan Kintamani, pada rentang waktu semester genap pada tahun pelajaran 2014/2015.
Populasi target pada penelitian ini adalah siswa kelas IV SD gugus VI Kecamatan Kintamani tahun ajaran 2014/2015. Sekolah dasar di gugus VI Kecamatan Kintamani berjumlah 9 sekolah dasar. Distribusi populasi dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Distribusi Populasi Penelitian
No. Nama Sekolah Jumlah Siswa KelasIV
1 SD Negeri Manikliyu 14
2 SD Negeri Bayung Cerik 16
3 SD Negeri Langgahan 20
4 SD Negeri Lembean 14
5 SD Negeri Bunutin 10
6 SD Negeri Ulian 14
7 SD Negeri Gunung Bau 18
8 SD Negeri Awan 21
9 SD Negeri Serai 26
Jumlah 153
Dalam pemilihan sampel untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, digunakan teknik “Random
Sampling”. Dengan teknik ini maka semua kelas yang termasuk dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk
menjadi sampel. Dari banyaknya kelas IV di Gugus VI Kecamatan Kintamani dilakukan pengundian untuk diambil dua kelas yang akan dijadikan subjek penelitian. Dari dua kelas tersebut diundi lagi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Berdasarkan hasil pengundian untuk menentukan kelas eksperimen dan kontrol, diperoleh sampel yaitu siswa kelas IV SD Negeri Awan sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas IV SD Negeri Serai sebagai kelas kontrol. Dari dua kelas sampel dipilih
satu kelas sampel untuk yang mendapat perlakuan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numered Head Together (NHT) (kelompok eksperimen) dan satu kelas sampel untuk yang mendapat perlakuan penerapan model pembelajaran konvensional (kelompok kontrol).
Desain penelitian yang digunakan dalam peneitian ini adalah post-test Only control group design. Desain penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Post-test Only Control Group Design
Kelas
Treatment Post-testR
eX O
1R
k– O
2(Sumber: Dantes, 2012: 96) Keterangan:
R
e= kelompok eksperimen, Rk = kelompok control,
X = perlakuan berupa model pembelajaran Kooperatif Tipe
Numbered Head Together (NHT),- = perlakuan berupa pembelajaran
model konvensional,
O
1= post-test untuk kelas eksperimen, O
2= post-test untuk kelas kelas control
Pada desain ini, kelompok kelas pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak. Kelompok kelas pertama merupakan kelas eksperimen yang diberikan treatment berupa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Nead Together (NHT). Kelompok kelas
kedua merupakan kelas kontrol yang mendapat perlakuan berupa model pembelajaran konvensional.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus VI Kecamatan Kintamani tahun pelajaran 2014/2015. Metode tes dilakukan dengan memberikan sejumlah tes untuk mengukur hasil belajar IPS. Data- data yang dikumpulkan diambil dari hasil post-test siswa kelompok eksperimen dan kontrol sesudah menerapkan model pembelajaran tipe NHT serta pembelajaran konvensional. Adapun metode pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3 Metode Pengumpulan Data
No. Variabel Metode Sumber Data Sifat
Data 1 Hasil Belajar
IPS
Tes Siswa kelompok eksperimen dan kontrol
Skor
Penyusunan instrumen tes hasil belajar IPS, berpedoman pada kisi-kisi tes yang telah disusun berdasarkan kompetensi yang akan dicapai. Kisi-kisi tes akan
menjadi pedoman yang sangat membantu pada saat penyusunan dan penulisan tes.
Jenis instrumen yang digunakan berupa tes objektif (pilihan ganda). Tes tersebut kemudian diuji coba lapangan
untuk mencari validitas, reabilitas, taraf kesukaran dan daya bedanya. Tes hasil belajar yang telah disusun kemudian diuji cobakan untuk mendapatkan gambaran secara empirik tentang kelayakan tes tersebut digunakan untuk sebagai instrumen penelitian. Sebelum instrumen ini digunakan, maka akan diuji tingkat validitas, realibilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda tes. Hasil uji coba dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas tes.
Validitas tes merupakan suatu tes yang mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebuah tes dikatakan valid atau sahih jika tes tersebut dapat mengukur dan mampu menyingkap objek yang hendak diukur (ketepatan alat ukur dengan hal yang diukur). Instrumen yang digunakan adalah tes objektif (pilihan ganda). Berdasarkan hasil uji validitas butir tes, diperoleh 25 butir tes yang valid dari 30 butir tes yang diujicobakan. Tes yang tidak valid adalah tes nomor 1, 4, 14, 22, dan 30.
Dari 25 butir tes yang valid, semua tes valid tersebut digunakan sebagai post-test.
Suatu tes dapat dikatakan mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap (ajeg). Selain itu, istilah keterandalan (reliabilitas) menunjukkan tingkat keterandalan atau kemantapan suatu tes (the level of consistency), yakni derajat sejauh mana suatu tes mampu menghasilkan skor-skor secara konsisten (Rakhmat dan Suherdi, 1999: 201).
Berdasarkan hasil uji reliabilitas tes, diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,79.
Hal ini berarti, tes yang diuji termasuk ke dalam kriteria reliabilitas tinggi.
Tingkat kesukaran butir tes merupakan bilangan yang menunjukkan proporsi peserta ujian (testee) yang dapat menjawab betul butir soal tersebut.
Sedangkan tingkat kesukaran perangkat tes adalah bilangan yang menunjukkan rata- rata proporsi testee yang dapat menjawab seluruh perangkat tes tersebut (Koyan, 2011:138). Fermandes (dalam Koyan, 2011:140), menyatakan “tes yang baik adalah tes yang memiliki taraf kesukaran antara 0,25-0,75”. Berdasarkan hasil uji taraf kesukaran tes, diperoleh Pp = 0,47
sehingga perangkat tes yang dugunakan termasuk kriteria sedang.
Daya beda tes adalah kemampuan tes untuk membedakan antara peserta didik yang pandai dan bodoh, artinya jika tes tersebut diberikan kepada siswa yang tergolong pandai maka akan lebih banyak dapat dijawab dengan benar, sedangkan jika diberikan kepada siswa yang tergolong bodoh maka akan lebih banyak dijawab salah (Koyan, 2011: 140). Berdasarkan hasil uji daya beda tes, diperoleh Dp = 0,32 sehingga perangkat tes yang digunakan termasuk kriteria cukup baik. Hasil tes uji lapangan akan diberikan kepada siswa kelas eksperimen dan kontrol. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial melalui Uji-t.
Data-data yang dikumpulkan diambil dari hasil post-test siswa kelompok eksperimen dan kontrol sesudah menerapkan model pembelajaran tipe NHT serta pembelajaran konvensional.
Kriteria pengujian hipotesis adalah jika thitung ≥ ttab maka H0 ditolak dan H1
diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus VI Kecamatan Kintamani antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Sedangkan jika thitung ttab maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Gugus VI Kecamatan Kintamani antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data penelitian ini adalah hasil belajar IPS yang diperoleh melalui post-test siswa sebagai akibat dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol.
Data hasil belajar IPS yang diperoleh oleh kelompok eksperimen melalui post-test terhadap 21 orang siswa menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah
23 dan skor terendah adalah 11. Sementara data hasil belajar IPS yang diperoleh kelompok kontrol melalui post-test terhadap 26 orang siswa menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 17 dan skor terendah adalah 3.
Berdasarkan hasil perhitungan diperolah pada kelompok eksperimen mean (M), modus (Mo), median (Md),
varians, dan standar deviasi (s) dari data hasil post-test kelompok eksperimen, yaitu mean (M) = 17,62, modus (Mo) = 18,19, median (Md) = 18, varians = 10,05, dan standar deviasi (s) = 3,17.
Rekapitulasi perhitungan data hasil penelitian tentang hasil belajar IPS siswa dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar IPS Siswa Data
Statistik
Hasil Belajar IPS Kelompok
Eksperimen
Kelompok Kontrol
Mean 17,62 8,35
Median 18 8,23
Modus 18,19 7
Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa mean data hasil belajar kelompok eksperimen = 17,62 lebih besar daripada kelompok kontrol = 8,35. Kemudian data hasil belajar IPS kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Poligon Data Hasil Post-test Kelompok Eksperimen
Berdasarkan grafik poligon di atas, diketahui modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo>Md>M), maka kurva juling negatif yang berarti sebagian besar skor cenderung tinggi.
Untuk mengetahui kualitas variabel hasil belajar IPS siswa, skor rata-rata hasil
belajar IPS siswa dikonversikan dengan menggunakan kriteria rata-rata ideal (Xi) dan standar deviasi ideal (SDi).
Berdasarkan hasil konversi, diperoleh bahwa skor rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen dengan M = 17,62 tergolong Tinggi.
Berdasarkan kriteria tersebut dan sesuai dengan hasil analisis data bahwa nilai mean pada hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooporatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah 17,62 oleh karena itu, hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Awan terletak pada kategori Tinggi.
Selanjutnya berdasarkan hasil perhitungan pada kelompok kontrol diperoleh hasil mean (M), modus (Mo), median (Md), varians, dan standar deviasi (s) dari data hasil post-test kelompok kontrol, yaitu mean (M) = 8,35, modus (Mo)
= 7, median (Md) = 8,23, varians = 12,64, dan standar deviasi (s) = 3,56. Data hasil belajar IPS kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 2.
0 2 4 6 8 10 12 14
12 15 18 21 24
Frekuensi
Titik Tengah
Gambar 2. Poligon Data Hasil Post-test Kelompok Kontrol
Berdasarkan grafik poligon di atas, diketahui mean lebih besar dari median dan median lebih besar dari modus (Mo<Md<M), maka kurva juling positif yang berarti sebagian besar skor cenderung rendah. Untuk mengetahui kualitas variabel hasil belajar IPS siswa, skor rata-rata hasil belajar IPS siswa dikonversikan dengan menggunakan kriteria rata-rata ideal (Xi)
dan standar deviasi ideal (SDi).
Berdasarkan hasil konversi, diperoleh bahwa skor rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok kontrol dengan M = 8,35 tergolong kriteria rendah.
Sebelum uji hipotesis, harus dikakukan uji normalitas dan homogenitas sebaran data. Uji normalitas dilakukan untuk suatu distribusi emperik yang mengikuti ciri-ciri distribusi normal atau untuk menyelidiki fo (frekuensi observasi)yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari fh (frekuensi harapan) dalam distribusi normal. Uji normalitas data dilakukan terhadap data post-test hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kontrol.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dapat disajikan hasil uji normalitas sebaran data post-test hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kontrol pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4 Hasil Uji Normalitas Sebaran Data Hasil Belajar IPS
No. Kelompok Data Hasil Belajar
χ
2Nilai Kritis dengan Taraf
Signifikansi 5% Status
1
Post-test Eksperimen4,24 5,59 Normal
2
Post-test Kontrol4,95 5,59 Normal
Kriteria pengujian, jika 2hit 2tab
dengan taraf signifikansi 5% (dk = jumlah kelas dikurangi parameter, dikurangi 1), maka data berdistribusi normal. Sementara, jika 2hit 2tab
, maka data tidak berdistribusi normal.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Chi-kuadrat diperoleh 2hit
hasil post-test kelompok eksperimen adalah 4,24 dan 2tab
dengan taraf signifikansi 5%dan db = 2 adalah 5,59.
Hal ini berarti, 2hit
hasil post-test kelompok eksperimen lebih kecil dari 2tab
( 2hit 2tab
) sehingga data hasil post-test
kelompok eksperimen berdistribusi normal.
Sementara 2hit
hasil post-test kelompok kontrol adalah 4,95 dan 2tab
dengan taraf signifikansi 5% dan db = 2 adalah 5,59. Hal ini berarti, 2hit
hasil post-test kelompok kontrol lebih kecil dari 2tab
( 2hit 2tab
) sehingga data hasil post-test kelompok kontrol berdistribusi normal.
Selanjutnya, dilakukan uji homogenitas dilakukan terhadap varians pasangan antar kelompok eksperimen dan kontrol. Uji yang dilakukan adalah uji-F dengan kriteria data homogen jika Fhit < Ftab
.
Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui data tersebut homogen atau tidak. Rangkuman hasil uji homogenitas 02 4 6 8 10 12
4 7 10 13 16
Frekuensi
Titik Tengah
varians antara kelompok eksperimen dan kontrol dapat disajikan pada tabel 5 berikut.
Tabel 5 Hasil Uji Homogenitas Varians antara Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Sumber Data F
hitF
tabdengan Taraf
Signifikansi 5% Status
Post-test KelompokEksperimen dan Kontrol 1,26 2,12 Homogen
Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhit hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah 1,26. Sementara Ftab dengan dbpembilang 25, dbpenyebut 20, dan taraf signifikansi 5% adalah 2,12. Hal ini berarti, varians data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Kemudian dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui pangaruh dari model pembelajaran yang diterapkan. Namun sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis data
yaitu normalitas dan homogenitas.
Berdasarkan hasil uji prasyarat analisis diperoleh bahwa data hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan varians kedua kelompok homogen. Untuk itu, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji-t dengan rumus polled varians. Rangkuman hasil perhitungan uji-t antara kelompok eksperimen dan kontrol disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji-t
Data Kelompok N X s2 thit ttab (t.s. 5%) Hasil Belajar Eksperimen 21 17,62 10,05
6,39 2,000
Kontrol 26 8,35 12,64
Keterangan: N = jumlah data, X = mean, s2 = varians Berdasarkan uji prasyarat analisis
data, diperoleh bahwa data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen. Setelah diperoleh hasil dari uji prasyarat analisis data, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0).
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus polled varians dengan kriteria pengujian jika thitung
≥ ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima.
Sementara jika thitung ≤ ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh thitung sebesar 6,39. Sementara, ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan db = n1 + n2 – 2 adalah 2,000. Hal ini berarti, thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.
Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
hasil belajar IPS antara siswa kelas IV SD Gugus VI Kecamatan Kintamani antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
PEMBAHASAN
Hasil belajar yang diperoleh siswa dalam suatu periode tertentu ditentukan oleh faktor keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran yang digunakan oleh guru juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan deskripsi hasil penelitian, kelompok yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Tinjauan
ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar siswa. rata-rata skor hasil belajar yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) adalah 17,62 dan rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional adalah 8,35. Berdasarkan analisis data menggunakan uji-t di atas, diketahui thitung = 6,39 dan ttabel (db = 45 dan taraf signifikansi 5%) = 2,000. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel) sehingga hasil penelitian adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
Adanya perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa. Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Konvensional, dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar IPS antara kedua kelompok.
Rata-rata hasil belajar IPS kelompok eksperimen adalah 17,62. Sementara rata- rata hasil belajar IPS kelompok kontrol adalah 8,35. Hal ini menunjukkan bahwa, rata-rata skor kelompok eksperimen lebih besar dari rata-rata skor kelompok kontrol (Meksperimen > Mkontrol). Dari rata-rata hasil post-test ini yang membedakan antara model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan model pembelajaran konvensional. Trianto (2009:82) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama,
“Merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional”.
Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) lebih menekankan siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat menemukan dan mengalami sendiri tentang materi yang dipelajari.
Berbeda dengan pembelajaran konvensional, guru yang lebih aktif dan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru. Selain itu, dalam proses pembelajaran siswa belajar dalam kelompok sehingga memungkinkan siswa untuk bertukar pikiran dengan teman sekelompoknya. Dengan penomoran pada setiap siswa inilah yang dapat memotivasi dan menarik minat siswa untuk belajar.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil dari beberapa penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yang dilaksanakan oleh Ni Luh Mardiani pada tahun 2012 dan wayan Sastrawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa.
Dengan demikian pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV semester genap tahun Pelajaran 2014/2015 SD gugus VI Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Gugus VI Kecamatan Kintamani dan telah ditentukan SD Negeri Awan sebagai kelas eksperimen dan SD Negeri Serai sebagai kelas kontrol. Setelah dilakukan analisis data dan berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh thitung sebesar 6,39. Sedangkan, ttabel dengan taraf signifikansi 5% adalah 2,000. Hal ini berarti, thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa kelas IV SD Gugus VI Kecamatan Kintamani antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
DAFTAR RUJUKAN
Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian.
Yogyakarta: Andi.
Koyan. 2011. Assement dalam Pendidikan.
Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Press.
Rakhmat, Cece dan Didi Suherdi. 1999.
Evaluasi Pengajaran. Depdikbud.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pemelajaran Inovatif Progesif.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta:
Cemerlang