PELAPORAN KORPORAT PELAPORAN KORPORAT
Pelaporan Keuangan SAK ETAP dan SAK EMKM Pelaporan Keuangan SAK ETAP dan SAK EMKM
DISUSUN OLEH: DISUSUN OLEH:
DITA
DITA PRIANDINI PRIANDINI 17 17 158 158 010010
ELVIRHA
ELVIRHA DWI DWI KARTIKA KARTIKA 17 17 158 158 011011
PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAK) PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAK)
FAKULTAS EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS UNIVERSITAS ANDALAS 2018 2018
BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
1.1
1.1 Latar Latar BelakangBelakang
IFRS merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan keuangannya IFRS merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan keuangannya berdasarkan
berdasarkan standar standar yang yang bisa bisa diterima diterima secara secara global. global. Jika Jika sebuah sebuah negara negara beralih beralih keke IFRS, artinya negara tersebut sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global IFRS, artinya negara tersebut sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan (bisnis) bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun, yang akan membuat perusahaan (bisnis) bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun, beralih
beralih ke ke IFRS IFRS bukanlah bukanlah sekedar sekedar pekerjaan pekerjaan mengganti mengganti angka-angka angka-angka di di laporanlaporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. (Sumber: Akuntan I
perusahaan. (Sumber: Akuntan Indonesia, edisi no 17, Juni, 2009.)ndonesia, edisi no 17, Juni, 2009.)
Ada berbagai jenis perusahaan yang ada di dunia ini, mulai dari sekala paling besar Ada berbagai jenis perusahaan yang ada di dunia ini, mulai dari sekala paling besar hingga skala paling kecil. Karena aturan pada PSAK terlalu kompleks untuk diterapkan hingga skala paling kecil. Karena aturan pada PSAK terlalu kompleks untuk diterapkan oleh perusahaan skala kecil. Maka dari itu, Ikatan Akuntan Indonesia pada Juli 2009 oleh perusahaan skala kecil. Maka dari itu, Ikatan Akuntan Indonesia pada Juli 2009 meluncurkan SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa meluncurkan SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik). Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka Standar ini Akuntabilitas Publik). Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan lapo
publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (geran keuangan untuk tujuan umum (generalneral purpose financial statement) bagi pengguna eksternal (Mandira, dkk.,
purpose financial statement) bagi pengguna eksternal (Mandira, dkk., 2017)2017)
Permasalahan yang kemudian muncul dan menarik untuk dibahas yaitu, tidak semua Permasalahan yang kemudian muncul dan menarik untuk dibahas yaitu, tidak semua entitas bisnis melaksanakan akuntabilitas publik. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah entitas bisnis melaksanakan akuntabilitas publik. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu entitas yang menghadapi dilema yang berhubungan (UMKM) merupakan salah satu entitas yang menghadapi dilema yang berhubungan dengan akuntabilitas publik, khusunya mengenai penyusunan laporan keuangan entitas. dengan akuntabilitas publik, khusunya mengenai penyusunan laporan keuangan entitas. Di satu sisi, managemen UMKM berharap mampu menyusun laporan keuangan Di satu sisi, managemen UMKM berharap mampu menyusun laporan keuangan organisasi yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum (SAK), yang akan organisasi yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum (SAK), yang akan digunakan untuk kepentingan pengajuan kredit (pembiayaan) dan pembayaran pajak digunakan untuk kepentingan pengajuan kredit (pembiayaan) dan pembayaran pajak kepentingan internal. Namun, di sisi yang lain, manajemen UMKM menghadapi kepentingan internal. Namun, di sisi yang lain, manajemen UMKM menghadapi masalah kompleksitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
masalah kompleksitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK) umum. Apabila managemenumum. Apabila managemen menerapkan hal ini, maka biaya yang akan dikeluarkan oleh entitas tersebut sangat menerapkan hal ini, maka biaya yang akan dikeluarkan oleh entitas tersebut sangat besar (Abdillah, dkk., 2017
Pada akhirnya terdapat dua jenis standar akuntansi dalam menyelenggarakan pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan, yaitu SAK berbasis IFRS serta SAK ETAP. Di tahun mendatang, akan diterapkan satu jenis SAK lagi yang dapat menjadi pilihan bagi enttas bisnis di Indonesia yaitu SAK EMKM, dimana Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Enttas Mikro, Kecil, dan Menengah (ED SAK EMKM) telah disahkan oleh DSAK IAI dalam rapatnya pada tanggal 18 Mei 2016. Seperti yang dipublikasikan di situs resmi IAI pada tanggal 8 Juni 2016 kemarin, IAI menyatakan bahwa dengan disahkannya ED SAK EMKM ini, maka standar akuntansi keuangan di Indonesia nantnya akan menjadi lengkap dengan tga pilar standar akuntansi keuangan, yakni SAK Umum yang berbasis IFRS, SAK ETAP, dan SAK EMKM.
BAB II PEMBAHASAN
Laporan Keuangan Menurut PSAK 1
PSAK adalah standar yang digunakan untuk pelaporan keuangan di Indonesia.PSAK digunakan untuk pedoman akuntan dalam membuat laporan keuangan.Menurut PSAK 1 (revisi 2009) menyatakan bahwa “Pernyataan ini menetapkan dasar -dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum ( general purpose financialstatements) yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnyamaupun dengan laporan keuangan entitas lain.Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan
minimum isi laporan keuangan”. ( paragraf 1) SAK UMUM
Standar Akuntansi Keuangan menciptakan metode yang seragam untuk menyajikan informasi, sehingga laporan keuangan dari berbagai perusahaan yang berbeda dapat dibandingkan dengan lebih mudah. Kumpulan konsep, standar, prosedur,metode, konvensi, kebiasaan dan praktik yang dipilih dan dianggap berterima umum disebut: Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).
Pengaturan akuntansi di Indonesia sebelum konvergensi IFRS merupakan pengaturan yang kebanyakan diambil dari US GAAP (standar akuntansi Amerika). US GAAP merupakan standar akuntansi yang rule based dan cukup powerful di negaranya. Hal ini dikarenakan standar ini memang diciptakan dengan tujuan untuk mengatur berbagai praktik akuntansi dan instrumen keuangan yang muncul di Amerika. Kita tahu bahwa amerika adalah negarayang perekonomiannya menggunakan liberalisme pasar (kapitalisme murni) yang mana perekonomiannya dikendalikan oleh pasar (entitas penjualdan pembeli).Supaya perekonomian dan sumber daya di Amerika dapat dikelola secara efektif dan efisien, maka entitas- entitas yang menguasai pasar ini harus dikendalikan. Pengendalian ini menggunakan standar akuntansi. Hal inilah yang menyebabkan Amerika memiliki pengaturan standar akuntansi yang rigid dan powerful untuk praktik di negaranya, dan enggan untuk
melakukan konvergensi dengan IFRS (namun Amerika akhirnya setuju untuk konvergensi pada tahun 2014).
SAK yang dikonvergensikan dengan IFRS ini diterapkan padaentitas- entitas yang memiliki fungsi fidusia (memegang kepentingan orang banyak)atau disebut juga dengan berakuntabilitas publik. Contoh entitasyangmemiliki fungsi fidusia adalah entitas perbankan, BUMN, dan entitas yang menjual saham dipasar modal. Komponen utama dari SAK adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan(PSAK)yangdiadopsi dari International AccountingStandard (IAS) dan International Financial Reporting Standard (IFRS),danIntepretasi atas Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diadopsi dari SIC (Standard Intepretation Committee) dan IFRIC ( International Financial Reporting Intepretation Committee). Hal ini berarti bahwa IFRS terdiri dari IAS, IFRS, SIC, dan IFRIC. Perbedaannya, IAS dibuat oleh International Accounting Standards Committee (IASC) organisasi pendahulu iASB yang berdiri pada tahun 1973. IASC ini kemudian direstrukturisasi menjadi IASB pada tahun1999.
Perbedaan SAK Umum dengan SAK ETAP
No Elemen PSAK SAK ETAP
1 Penyajian Laporan Keuangan
Laporan posisi keuangan
Informasi yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan
Pembedaan asset lancar dan tidak lancar
dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang
Aset lancar
Laibilitas jangka pendek
Informasi yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan
(Perubahan istilah di ED PSAK 1:
Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability) menjadi laibilitas)
Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos:
Aset keuangan
Properti investasi yang
diukur pada nilai wajar (ED PSAK 1)
Aset biolojik yang diukur
pada biaya perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1)
Kewajiban berbunga jangka
panjang
Aset dan kewajiban pajak
tangguhan
Kepentingan
2 Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi komprehensif
Informasi yang disajikan dalam laporan
Laba Rugi Komprehensif
Laba rugi selama periode
Pendapatan komprehensif lain selama
periode
Informasi yang disajikan dalam laporan
laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan
Tidak sama dengan PSAK yang menggunakan istilah laporan laba rugi
komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi.
3 Penyajian Perubahan Ekuitas
Sama dengan PSAK,
kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain. 4 Catatan
Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan Struktur
Pengungkapan kebijakan Akuntansi Sumber estimasi ketidakpastian Modal (ED PSAK 1)
Pengungkapan lain
Sama dengan PSAK, kecuali pengungkapan modal.
5 Laporan Arus Kas
Arus kas aktivitas operasi: metode
langsung dan tidak langsung
Arus kas aktivitas investasi Arus kas aktivitas pendanaan Arus kas mata uang asing
Arus kas bunga dan dividen, pajak
penghasilan, transaksi non-kas
Sama dengan PSAK kecuali:
Arus kas aktivitas operasi:
metode tidak langsung
Arus kas mata uang asing,
tidak diatur.
6 Laporan keuangan konsolidasi dan terpisah
Persyaratan penyajian lapkeu konsolidasi Entitas bertujuan khusus
Prosedur konsolidasi Lapkeu tersendiri Lapkeu gabungan
Tidak diatur (Lihat Bab 12 SAK ETAP).
7 Kebijakan PSAK 25 (Laba atau
Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi)
kebijakan akuntansi
Rugi Bersih untuk periode Pemilihan dan penerapan akuntansi, estimasi, dan kesalahan
Laba atau rugi bersih untuk Periode
berjalan
Pos luar biasa
Laba atau rugi dari aktivitas normal Operasi yang tidak dilanjutkan Perubahan estimasi Akuntansi
Kesalahan Mendasar
Perubahan kebijakan Akuntansi
Penerapan suatu standar Akuntansi
keuangan
Perubahan kebijakan Akuntansi yang
lain
kebijakan akuntansi
Perubahan Estimasi
akuntansi
Kesalahan.
SAK ETAP sudah maju satu langkah dibandingkan PSAK (tidak ada “kesalahan
mendasar” dan “laba atau rugi luar biasa”).
8 Instrumen Keuangan Dasar
Ruang lingkup: aset dan kewajiban
keuangan
Instrumen keuangan dasar:
Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui
laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan pinjaman yang diberikan
Impairment menggunakan incurred loss
concept
Derecognition
Hedging dan derivatif
Ruang lingkup: investasi
pada efek tertentu
Klasifikasi trading, held to
maturity, dan available for sale. Hal tsb mengacu ke PSAK 50 (1998).
9 Persediaan Pengukuran persediaan Biaya persediaan
Biaya pembelian Biaya konversi Biaya lain-lain
Biaya persediaan pemberian jasa Teknik pengukuran biaya
Rumus biaya
Nilai realisasi bersih Pengakuan sebagai beban
Pengungkapan 10 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
Ruang lingkup: entitas asosiasi Metode akuntansi
Metode biaya Metode ekuitas
Model nilai wajar (ED PSAK 15)
Ruang lingkup: entitas
asosiasi dan entitas anak
Metode akuntansi
Entitas asosiasi : metode
biaya Entitas anak : metode ekuitas 11 Investasi pada perusahaan asosiasi dan entitas anak
Jointly controlled operation, asset, and
entity
Metode akuntansi
Metode konsolidasi proporsional Metode ekuitas
Model nilai wajar (ED PSAK 12 :
PBA/PBO/PBE)
Sama dengan PSAK kecuali metode akuntansi hanya menggunakan metode biaya.
12 Property Investasi
Metode akuntansi
Model nilai wajar Model biaya
Metode akuntansi: model biaya
13 Aset Tetap Menggunakan pendekatan komponenisasi Pengukuran menggunakan model biaya
atau model revaluasi
Pengukuran biaya perolehan
Pengakuan pengeluaran selanjutnya Penyusutan
Tidak perlu review nilai residu, metode
penyusutan, dan umur manfaat setiap akhir periode pelaporan, tetapi jika ada indikasi perubahan saja
Sama dengan PSAK kecuali:
Tidak menggunakan
pendekatan komponenisasi.
Revaluasi diijinkan jika
dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Hal ini mengacu ke PSAK 16 (1994)
Tidak perlu review nilai
residu. 14 Asset Tidak
Berwujud
Prinsip umum untuk pengakuan
Pengakuan awal, pengukuran selanjutnya Amortisasi selama umur manfaat atau 10
tahun
Sama dengan PSAK,
kecuali aset tidak berwujud yang diperoleh dari
Penurunan nilai
Menggunakan metode pembelian
Goodwill dimaortisasi 5 tahun atau 20
tahun dengan justifikasi manajemen
Tidak diatur
15 Sewa Mengatur perjanjian yang mengandung
sewa
Klasifikasi bersifat principle based Laporan keuangan lessee dan
Lessor
Tidak mengatur perjanjian
yang mengandung sewa (ISAK 8)
Klasifikasi sewa: kombinasi
IFRS for SMEs dan SFAS 13
Laporan keuangan lessee
dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi SewaGuna Usaha
Kewajiban diestimasi Kewajiban kontinjensi Aset kontinjensi
Sama dengan PSAK
16 Ekuitas Penjelasan
Akuntasi ekuitas untuk badan usaha bukan
PT
Akuntansi ekuitas untuk badan usaha
berbentuk PT
Reorganisasi
Selisih penilaian kembali
Sama dengan PSAK, kecuali :
? Reorganisasi ? Selisih penilaian kembali
17 Pendapatan Penjualan barang Penjualan jasa Kontrak konstruksi
Bunga, dividen dan royalti Lampiran kasus pengakuan
pendapatan (ED PSAK 23)
Sama dengan PSAK.
18 Biaya Pinjaman
Komponen biaya pinjaman
Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman
Biaya pinjaman langsung dibebankan 19 Penurunan Penurunan nilai persediaan Sama dengan PSAK,
Nilai Aset Penurunan nilai non-persediaan Penurunan nilai goodwill
kecuali:
Ruang lingkup yang
meliputi semua jenis aset.
Tidak mengatur penurunan
nilai goodwill
Ada tambahan penurunan
nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31: AkuntansiPerbankan
paragraf 16 dan 17. 20 Imbalan
Kerja
Imbalan kerja jangka pendek
Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti
menggunakan PUC
Imbalan jangka panjang lainnya
Pesangon pemutusan kerja
Sama dengan PSAK, kecuali untuk manfaat
pasti menggunakan PUC dan jika tidak bisa, menggunakan
metode yang disederhanakan 21 Pajak
Penghasilan
Menggunakan deferred tax concept Pengakuan dan pengukuran pajakkini
Pengakuan dan pengukuran
pajaktangguhan
Menggunakan tax payable
concept
Tidak ada pengakuan dan
pengukuran pajak tangguhan
22 Mata Uang Pelaporan
Mata uang pencatatan dan pelaporan Mata uang fungsional
Penentuan saldo awal Penyajian komparatif
Perubahan mata uang pencatatan dan
pelaporan
Sama dengan PSAK Mata Uang Pelaporan
Mata uang fungsional
Pelaporan transaksi mata
uang asing dalam mata uang fungsional
Perubahan mata uang
fungsional (Pada prinsipnya sama)
23 Peristiwa setelah akhir
Peristiwa yang memerlukan penyesuaian Peristiwa yang tidak memerlukan
penyesuaian
periode pelaporan 24 Pengungkap an pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa
Pengertian pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa
Pengungkapan
Sama dengan PSAK 7
25 Aktivitas Khusus
Akuntansi perkoperasian
Akuntansi minyak dan gas bumi Akuntansi pertambangan umum Akuntansi perusahaan efek Akuntansi reksa dana
Akuntansi perbankan dan asuransi
Tidak diatur
26 Ketentuan Transisi
Retrospektif atau prospektif
(jika tidak praktis) yang diterapkan secara prospective catchup
(dampak ke saldo laba)
Perpindahan dari dan ke
SAK ETAP 27 Tanggal
Efektif
pada tanggal 1 Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010
1. Ruang Lingkup
1.1 Ruang lingkup SAK ETAP
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang :
1. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
2. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:
1) Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau
2) Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP. 1.2 Ruang lingkup SAK EMKM
SAK EMKM dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas mikro, kecil, dan menengah. Entitas mikro, kecil, dan menengah adalah entitas tanpa akuntabilitas publik yang signifikan, sebagaimana didefinisikan dalam Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), yang memenuhi definisi dan kriteria usaha mikro, kecil, dan menengahsebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, setidaktidaknya selama dua tahun berturut-turut.
SAK EMKM dapat digunakan oleh entitas yang tidak memenuhi definisi dan kriteria , jika otoritas mengizinkan entitas tersebut untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM.
2. Konsep Dan Prinsip Pervasif
2.1 Tujuan Laporan Keuangan Sak ETAP
Tujuan laporan keuangan adalah menyediakaninformasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya
2.2 Tujuan Laporan Keuangan Sak EMKM
Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Pengguna tersebut meliputi penyedia sumber daya bagi entitas seperti kreditor maupun investor. Dalam memenuhi tujuannya, laporan keuangan juga menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
3. Pengukuran Unsur laporan Keuangan 3.1 SAK ETAP
Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar:
(a) Biaya historis. Asetadalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari pembayaran yang diberikan untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai wajar
dari aset non-kas yang diterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat terjadinya kewajiban.
(b) Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset, atau untuk menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar
3.2 SAK EMKM
Dasar pengukuran unsur laporan keuangan dalam SAK EMKM adalah biaya historis. Biaya historis suatu aset adalah sebesar jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Biaya historis suatu liabilitas adalah sebesarjumlah kas atau setara kas yang diterima atau jumlah kas yang diperkirakan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal.
4. Laporan Keuangan 4.1 SAK ETAP
Laporan keuangan entitasmeliputi: (a) neraca;
(b) laporan laba rugi;
(c) laporan perubahan ekuitas yang juga menunjukkan: (i) seluruh perubahan dalam ekuitas, atau
(ii) perubahan ekuitas selain perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik;
(d) laporan arus kas; dan
(e) catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasipenjelasan lainnya.
4.2 SAK EMKM
Laporan keuangan minimum terdiri dari:
(a) Laporan posisi keuangan pada akhir periode; (b) Laporan laba rugi selama periode;
(c) Catatan atas laporan keuangan, yang berisi tambahan dan rincian akun-akun tertentu yang relevan.
5. Informasi yang disajikan 5.1 SAK ETAP
Neraca minimal mencakup pos-pos berikut: (a) kas dan setara kas;
(b) piutang usaha dan piutang lainnya; (c) persediaan;
(d) properti investasi; (e) aset tetap;
(f) aset tidak berwujud;
(g) utang usaha dan utang lainnya; (h) aset dan kewajiban pajak; (i) kewajiban diestimasi; (j) ekuitas.
Entitas menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnyadalam neraca jika penyajian seperti itu relevan dalam rangka pemahaman terhadap posisi keuangan entitas.SAK ETAP tidak menentukan format atau urutan terhadap pos-pos yang disajikan.
5.2 SAK EMKM
Laporan posisi keuangan entitas dapat mencakup akun-akun berikut: (a) kas dan setara kas;
(b) piutang; (c) persediaan; (d) aset tetap; (e) utang usaha; (f) utang bank; (g) ekuitas.
Entitas menyajikan akun dan bagian dari akun dalam laporan posisi keuangan jika penyajian tersebut relevan untuk memahami posisi keuangan entitas. SAK EMKM
tidak menentukan format atau urutan terhadap akun-akun yang disajikan. Meskipun demikian, entitas dapat menyajikan akun-akun aset berdasarkan urutan likuiditas dan akun-akun liabilitas berdasarkan urutan jatuh tempo.
6. Laba Rugi 6.1 SAK ETAP
Mensyaratkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi untuk suatu periode yang merupakan kinerja keuangannya selama periode tersebut. Bab ini juga mengatur informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi dan bagaimana penyajiannya. Laporan laba rugi menyajikan penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode
Informasi yang disajikan di laporan laba rugi Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagaiberikut:
(a) pendapatan; (b) beban keuangan;
(c) bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas; (d) beban pajak;
(e) laba atau rugi neto. 6.2 SAK EMKM
Mensyaratkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi yang merupakan kinerja keuangan entitas untuk suatu periode. Bab ini juga mengatur informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi dan bagaimana penyajiannya.
Informasi yang disajikan Laporan laba rugi entitas dapat mencakup akun-akun sebagai berikut:
(a) pendapatan; (b) beban keuangan; (c) beban pajak;
Entitas menyajikan akun dan bagian dari akun dalam laporan laba rugi jika penyajian tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas
7. Laporan Perubahan Ekuitas Dan Laporan Laba Rugi Dan Saldo Laba Ruang Lingkup Etap
Mengatur persyaratan untuk penyajian perubahan dalam ekuitas entitas selama suatu periode, baik dalam laporan perubahan ekuitas dan laporan laba rugi dan saldo laba
(jika memenuhi kondisi tertentu). Laporan perubahan ekuitas
Tujuan Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode, pos pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode tersebut, dan (tergantung pada format laporan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas) jumlah investasi oleh, dan dividen dan distribusi lain ke, pemilik ekuitas selama periode tersebut
Laporan laba rugi dan saldo laba
Tujuan Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entitas dan perubahan saldo laba untuk suatu periode pelaporan. Paragraf 3.13 mengijinkan entitas untuk menyajikan laporan laba rugi dan saldo laba menggantikan laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas jika perubahan pada ekuitas hanya berasal dari laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan periode lalu, dan perubahan kebijakan akuntansi
SAK EMKM Tidak mengatur 8. Laporan Arus Kas 8.1 SAK ETAP
Mengatur informasi yang disajikan dalam laporan arus kas dan bagaimana penyajiannya. Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi, investasi, danpendanaan
8.2 SAK EMKM Tidak mengatur 9. Persediaan 9.1 SAK ETAP
Mengatur prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran persediaan. Persediaan adalah aset:
(a) untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
(b) dalam proses produksi untuk kemudian dijual; atau
(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Diterapkan untuk semua jenis persediaan, kecuali:
(a) persediaan dalam proses (work in progress) dalam kontrak konstruksi termasuk kontrak jasa yang terkait secara langsung
(b) efek tertentu (lihat Bab 10 Investasi pada Efek Tertentu). Pengukuran
Entitas harus mengukur nilai persediaan pada nilai mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual.
Biaya perolehan persediaan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya yang terjadi untuk membawa persediaan ke kondisi dan lokasi sekarang
9.2 SAK EMKM
Mengatur prinsip-prinsip pengakuan, pengukuran, dan penyajian persediaan. Persediaan adalah aset:
(a) untuk dijual dalam kegiatan normal;
(b) dalam proses produksi untuk kemudian dijual; atau
(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Pengakuan Dan Pengukuran
Entitas mengakui persediaan ketika diperoleh, sebesar biaya perolehannya.
Biaya perolehan persediaan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lainnya yang terjadi untuk membawa persediaan ke kondisi dan lokasi siap digunakan. Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran, demi kemudahan, dapat digunakan jika hasilnya mendekati biaya perolehan. Entitas dapat memilih menggunakan rumus biaya masuk-pertama keluar- pertama (MPKP) atau rata-rata tertimbang dalam menentukan biaya perolehan persediaan.
10. Ketentuan transisi 10.1 SAK ETAP
Entitas menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif.
Entitas yang menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan maka:
(a) mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam SAK ETAP;
(b) tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan tersebut;
(c) mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban, atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP;
(d) menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui. Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhipersyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK nonETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK nonETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.
10.2 SAK EMKM
Entitas yang menerapkan SAK EMKM untuk pertama kalinya, menyusun laporan keuangannya sesuai dengan SAK EMKM dengan mengikuti ketentuan dalam Bab ini.
Laporan keuangan pertama yang sesuai dengan SAK EMKM adalah laporan keuangan pertama di mana entitas membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa terkecuali tentang kepatuhan terhadap SAK EMKM dalam catatan atas laporan keuangannya. Laporan keuangan pertama disusun sesuai dengan SAK EMKM, sebagai contoh, jika entitas:
(a) belum atau tidak menyusun laporan keuangan pada periode sebelumnya; atau (b) menyajikan laporan keuangan periode sebelumnya dengan menggunakan SAK lain sehingga tidak konsisten dengan SAK EMKM.
Mensyaratkan agar entitas menyajikan, dalam laporan keuangan lengkap, informasi komparatif periode sebelumnya untuk seluruh jumlah yang disajikan dalam laporan keuangannya. Tanggal transisi entitas ke SAK EMKM adalah awal periode paling awal di mana entitas menyajikan informasi komparatif secara penuh sesuai dengan SAK EMKM dalam laporan keuangannya, kecuali untuk entitas yang belum atau tidak menyusun laporan keuangan pada periode sebelumnya.
Entitas menerapkan SAK EMKM secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK EMKM secara prospektif.
Jika entitas menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan, maka entitas:
(a) mengakui seluruh aset dan liabilitas yang pengakuannya disyaratkan oleh SAK EMKM;
(b) tidak mengakui akun-akun sebagai aset atau liabilitas jika SAK EMKM tidak
mengizinkan pengakuan tersebut;
(c) mereklasifikasikan akun-akun dalam kelompok aset, liabilitas, atau komponen ekuitas berdasarkan rerangka pelaporan sebelumnya agar sesuai dengan aset, liabilitas, atau komponen ekuitas berdasarkan SAK EMKM;
(d) menerapkan SAK EMKM dalam pengukuran seluruh aset dan liabilitas yang diakui.
Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal laporan posisi keuangannya berdasarkan SAK EMKM mungkin berbeda dari yang digunakan pada tanggal yang sama dengan berdasarkan rerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi, kejadian, atau kondisi lainnya sebelum tanggal efektif SAK EMKM diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal penerapan SAK EMKM.
Entitas dapat menggunakan satu atau lebih pengecualian di bawah ini dalam menyusun laporan keuangan pertama kalinya yang sesuai dengan SAK EMKM.
(a) nilai revaluasian dianggap sebagai biaya perolehan. Jika suatu aset tetap atau aset Tak berwujud sebelumnya diukur dengan metode revaluasian, maka pada tanggal penerapan pertama SAK EMKM, nilai revaluasian tersebut dianggap sebagai biaya perolehan.
(b) nilai tercatat sesuai metode ekuitas dianggap sebagai biaya perolehan. Jika suatu investasi pada ventura bersama sebelumnya diukur dengan menggunakan metode ekuitas, maka pada tanggal penerapan pertama kali SAK EMKM, nilai tercatat sesuai metode ekuitas tersebut dianggap sebagai biaya perolehan.
Pada tahun awal penerapan SAK EMKM, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK EMKM dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK EMKM, tetapi berdasarkan SAK lain sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK EMKM untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK EMKM, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM. Entitas
tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK lain dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK EMKM kembali
Entitas yang sebelumnya menggunakan SAK lain dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK EMKM, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK EMKM dalam menyusun laporan keuangannya.
SAK ETAP SAK EMKM
Bab 1 Ruang Lingkup
Bab 2 Konsep dan Prinsip Pervasif Bab 3 Penyajian Laporan Keuangan Bab 4 Neraca
Bab 5 Laporan Laba Rugi
Bab 6 Laporan Perubahan Ekuitas dan Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba
Bab 7 Laporan Arus Kas
Bab 8 Catatan atas Laporan Keuangan
Bab 9 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, danKesalahan
Bab 10 Investasi pada Efek Tertentu Bab 11 Persediaan
Bab 12 Investasi pada Entitas Asosiasi dan EntitasAnak
Bab 13 Investasi pada Joint Venture Bab 14 Properti Investasi
Bab 1 Ruang Lingkup
Bab 2 Konsep dan Prinsip Pervasif Bab 3 Penyajian Laporan Keuangan Bab 4 Laporan Posisi Keuangan Bab 5 Laporan Laba Rugi
Bab 6 Catatan atas Laporan Keuangan Bab 7 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan
Bab 8 Aset dan Liabilitas Keuangan Bab 9 Persediaan
Bab 10 Investasi pada Ventura Bersama Bab 11 Aset Tetap
Bab 12 Aset Takberwujud Bab 13 Liabilitas dan Ekuitas Bab 14 Pendapatan dan Beban Bab 15 Pajak Penghasilan
Bab 15 Aset Tetap
Bab 16 Aset Tidak Berwujud Bab 17 Sewa
Bab 18 Kewajiban Diestimasi dan Kontinjensi
Bab 19 Ekuitas Bab 20 Pendapatan Bab 21 Biaya Pinjaman
Bab 22 Penurunan Nilai Aset Bab 23 Imbalan Kerja
Bab 24 Pajak Penghasilan Bab 25 Mata Uang Pelaporan
Bab 26 Transaksi dalam Mata Uang Asing Bab 27 Peristiwa setelah Akhir Periode Pelaporan
Bab 28 Pengungkapan Pihak -pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa
Bab 29 Ketentuan Transisi Bab 30 Tanggal Efektif
Bab 17 Ketentuan Transisi Bab 18 Tanggal Efektif
Daftar Pustaka
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-1.pdf