• Tidak ada hasil yang ditemukan

LP Penggunaan Walker Dan Tongkat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LP Penggunaan Walker Dan Tongkat"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM

PENGUKURAN KEKUATAN OTOT PENGUKURAN KEKUATAN OTOT

Keperawatan Gerontik III Keperawatan Gerontik III

Kelas C Kelas C

Anindini Winda Amalia (0906510634) Anindini Winda Amalia (0906510634)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA

2013 2013

(2)

A. Pengertian Tindakan

Alat bantu gerak yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien supaya dapat  berjalan dan bergerak. Jenis-jenis alat bantu gerak yaitu walker, tongkat, kruk, dan kursi roda. Walker  merupakan suatu alat yang ringan, mudah dipindahkan, setinggi pinggang, terbuat dari pipa dan logam. Walker digunakan bertahap pada

klien setelah kursi roda. Walker mempunyai empat  penyangga dan kaki yang kokoh, klien memegang pemegang tangan pada bagian diatas dan melangkah dengan memindahkan walker lebih lanjut, dan melangkah lagi. Walker mempunyai empat penyangga dan kaki yang kokoh. Klien memegang pemegang tangan pada bagian atas, melangkah, memindahkan walker lebih lanjut, dan

melangkah lagi. Walker memperbaiki keseimbangan dengan meningkatkan area dasar  penunjang berat badan dan meningkatkan keseimbangan lateral. Walker mempunyai  beberapa kelemahan yaitu sulit digunakan bila melewati pintu dan tempat yang sempit,

mengurangi ayunan lengan dan terjadi abnormal fleksi punggung ketika berjalan. Secara umum, walker tidak dapat digunakan di tangga.

Tongkat   atau cane adalah alat yang ringan, dapat dipindahkan, setinggi pinggang dan terbuat dari kayu atau logam. Tongkat ini harus dipakai di sisi tubuh yang terkuat. Cane memperluas area untuk menunjang berat badan sehingga dapat meningkatkan keseimbangan tubuh. Cane tradisional yang hanya digunakan untuk keseimbangan tidak dapat menunjang berat badan. Cane sekarang dapat digunakan untuk menunjang berat badan dan  biasanya digunakan bila memerlukan salah satu ekstremitas atas

untuk mencapai keseimbangan dan menunjang berat badan.

B. Tujuan Tindakan Walker

- Dapat menopang dan memberikan rasa aman pada pasien. - Membantu mempercepat pengembalian kebugaran

- Menjaga pasien pada saat melakukan latihan berjalan. Tongkat

(3)

- Mencegah kelainan bentuk, seperti kaki menjadi bengkok - Menjaga keseimbangan badan

- Memelihara dan meningkatkan kekuatan otot

- Untuk menurunkan ketegangan karena kumpulan beban yang berat - Mencegah komplikasi, seperti otot mengecil dan kekakuan sendi.

C. Indikasi, Kontraindikasi dan Komplikasi

 Indikasi

Walker

Pasien tirah baring lama, pasien yang masih lemah, pasien yang terdapat fraktur  pada kaki, dll.

Tongkat

Klien post-operasi, klien stroke, klien hemiparesis (kelemahan pada satu sisi), dan klien hemiplegia (paralisis pada satu sisi).

 Kontraindikasi

- Klien dengan penurunan kesadaran

- Klien dengan fraktur yang parah dan belum ada penyatuan tulang - Klien yang mengalami kelemahan (malaise)

- Klien dengan kekuatan otot yang sangat lemah

- Tongkat tidak direkomendasikan untuk klien dengan kelemahan kaki bilateral.

 Komplikasi

Apabila tidak menggunakan alat bantu gerak, komplikasi yang akan terjadi seperti otot mengecil dan kekakuan sendi. Walker sulit digunakan bila melewati pintu dan tempat yang sempit, mengurangi ayunan lengan dan terjadi abnormal fleksi punggung ketika berjalan

D. Kompetensi Dasar Lain yang Harus Dimiliki

Perawat berperan besar membantu klien dalam penggunaan alat bantu gerak.  Namun, disini perawat perlu mengetahui dan memahami apa saja alat bantu gerak yang dapat digunakan serta fungsi dari alat tersebut. Alat bantu gerak yang akan di bahas di sini, diantarnya walker dan tongkat.

(4)

 Walker

Walker  adalah sebuah alat untuk berjalan yang kerangkanya terbuat dari bahan logam, ringan, mudah dipindahkan, dan setinggi pinggang. Walker  mempunyai dua gagang, empat penyangga dan kaki yang kokoh. Klien memegang pemegang tangan  pada bagian diatas, melangkah dengan memindahkan walker

lebih lanjut, dan melangkah lagi. Secara umum walker  terbagi menjadi dua jenis, yaitu walker standar dan walker rolling . Walker   standar biasanya digunakan untuk orang tua yang masih kuat mengangkat alat ini untuk berjalan, biasanya orang yang menggunakan alat ini didampingi oleh orang lain.

Walker rolling   menggunakan roda yang berfungsi untuk mempermudah  pengguna tanpa harus mengangkat-angkat alat ini. Alat ini hanya digerakan dengan cara didorong ke depan maupun ke belakang. Walker rolling  ini dibagi menjadi dua tipe, yaitu  front wheels dan  front and back wheels. Pada  front wheels  di bagian  belakang terdapat dua karet, yang berfungsi sebagai tumpuan agar walker   menjadi stabil, sedangkan bagian depannya terdapat dua roda yang berfungsi untuk mempermudah pengguna dalam bergerak. Pada  front and back wheels terdapat empat roda pada keempat bagian penopangnya, sehingga walker   ini mudah bergerak dan kurang stabil, sehingga dipasang rem yang akan membuat walker tersebut satbil saat digunakan untuk berjalan.

Walker  memperbaiki keseimbangan dengan meningkatkan area dasar penunjang  berat badan dan meningkatkan keseimbangan lateral. Walker   mempunyai beberapa kelemahan yaitu sulit digunakan bila melewati pintu dan tempat yang sempit, mengurangi ayunan lengan dan terjadi abnormal fleksi  punggung ketika berjalan. Secara umum, walker tidak dapat digunakan di tangga.

(5)

 Tongkat

Tongkat adalah alat yang ringan, mudah dipindahkan, setinggi pinggang, dapat membantu pergerakan yang terbuat dari kayu atau logam. Tongkat dapat membantu menjaga keseimbangan badan, diberikan bagi klien dengan hemiparesi dan digunakan untuk menurunkan ketegangan karena kumpulan beban yang berat. Tongkat tidak direkomendasikan untuk klien dengan kelemahan kaki bilateral. Dua tipe tongkat umum adalah tongkat berkaki panjang lurus ( single straight-legged ) dan tongkat  berkaki segi empat (quad cane).

Tongkat berkaki lurus lebih umum digunakan untuk sokongan dan keseimbangan klien yang kekuatan kakinya menurun. Tongkat ini harus dipakai di sisi tubuh yang terkuat. Untuk sokongan maksimum ketika berjalan, klien menempatkan tongkat berada di depan 15 sampai 25 cm, menjaga berat badan pada kedua kaki klien. Kaki yang terlemah bergerak maju dengan tongkat dan kaki yang terkuat maju setelah yang terlemah. Tongkat memberi keluhan paralisis ataupun hemiplegia. Tiga tahap yang sama digunakan oleh tongkat berkaki lurus. Tongkat segi empat mempunyai 4 kaki yang memberikan dukungan keseimbangan lebih besar. Alat ini berguna bagi klien dengan parsial unilateral atau paralisis penuh pada kaki.

E. Anatomi Daerah Target

Sistem tubuh yang berkaitan dengan tindakan ini adalah sistem muskoloskeletal. Sistem muskoloskeletal yang akan dijelaskan mengenai tulang, otot, dan sendi. Namun,  pada dasarnya mengenai fungsi diantara tulang, sendi, dan otot lansia masih sama dengan

usia dewasa. Hanya saja terjadi perubahan terkait fisiologinya.

Tulang menyediakan kerangka kerja untuk seluruh sistem muskuloskeletal dan  bekerja dalam hubungannya dengan sistem otot untuk memfasilitasi suatu gerakan.

Fungsi lain tulang dalam tubuh manusia mencakup sebagai tempat penyimpanan kalsium, memproduksi sel darah, juga sebagai pendukung dan pelindung organ tubuh dan lingkungan (Miller, 2004). Tulang tersusun oleh lapisan luar yang keras yang disebut

(6)

kortikal dan lapisan dalam berbentuk sponge yang disebut trabekular . Daerah yang memiliki dampak besar akibat tekanan terjadi pada bagian trabekular (Stanley & Beare, 2006).

Pertumbuhan tulang mencapai kematangan pada masa dewasa awal. Tetapi remodeling tulang berlanjut sepanjang rentang kehidupan. Remodeling berkaitan dengan  penyimpananan kembali kalsium yang telah diserap dari tulang untuk membentuk tulang  baru. Perubahan berkaitan dengan usia yang mempengaruhi proses remodeling meliputi  peningkatan resorpsi tulang, penurunan absorpsi kalsium, peningkatan serum hormon  paratiroid, gangguan regulasi aktivitas osteoblas, gangguan pembentukan tulang sekunder untuk mengurangi produksi osteoblas tulang matriks, dan penurunan sejumlah sel sumsum fungsional sebagai hasil dari penggantian sumsum dengan sel lemak (Miller, 2004). Sejalan dengan pertambahan usia, kecepatan formasi tulang baru mengalami  perlambatan sedangkan kecepatan absorbsi kalsium tidak mengalami perubahan.

Keadaan tersebut menyebabkan hilangnya massa total tulang pada lansia.

Faktor resiko lain yang mempengaruhi perubahan struktur tulang pada lansia yaitu  penurunan sekresi esterogen pada wanita dan testosteron pada laki-laki. Faktor

hormomal tersebut berkaitan dengan integritas tulang, apabila kadar hormon tersebut turun maka unsur-unsur tulang juga akan mengalami degenerasi (Stanley & Beare, 2006). Laju penurunan kadar hormon laki-laki memberikan dampak yang lebih kecil  pada kehilangan unsur tulang setelah mencapai usia lansia jika dibandingkan dengan  penurunan hormon pada wanita.

Adanya perubahan fisiologis pada tulang lansia menyebabkan kondisi seperti  postur tubuh menjadi bungkuk dengan penampilan barrel-chest sehingga terlihat lansia mengalami penurunan tinggi badan secara progresif, keadaan ini disebabkan karena terjadi penyempitan diskus invertebra (Stanley & Beare, 2006). Selain terjadi perubahan

(7)

 postur tubuh menjadi bungkuk atau kifosis, juga terdapat sebagian lansia yang mengalami postur lordosis yang umumnya berkaitan dengan kebiasaan duduk sewaktu muda. Kondisi lain yang terlihat pada tulang berhubungan dengan penuaan adalah terlihat tonjolan tulang yang jelas di sekitar vertebra, krista iliaka, tulang rusuk, skapula. Keadaan tersebut berhubungan dengan jumlah massa otot yang mengalami penurunan dan hilangnya lemak subkutan perifer di area tersebut.

Secara alamiah aliran darah ke otot berkurang sebanding dengan bertambahnya umur seseorang. Hal ini menyebabkan jumlah oksigen, nutrisi, dan energi yang tersedia untuk otot ikut menurun, sehingga menurunkan kekuatan otot manusia. Penurunan  pencapaian suplai tersebut juga dipengaruhi oleh serat otot rangka yang berdegenerasi,

sehingga terjadinya fibrosis ketika kolagen menggantikan otot. Penurunan massa tonus dan kekuatan otot menyebabkan otot lebih menonjol di ekstremitas yang juga menjadi kecil dan lemah.

Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi, yaitu terjadinya atrofi dan menurunnya jumlah beberapa serabut otot dan fibril, meningkatnya jaringan lemak, degenerasi miofibril, dan sklerosis pada otot. Perubahan-perubahan tersebut dapat menjadi dampak negatif, yaitu menurunnya kekuatan otot, menurunnya fleksibilitas, meningkatkan waktu reaksi dan menurunkan kemampuan fungsional otot yang dapat mengakibatkan perlambatan respon selama tes refleks tendon.

Usia 60 tahun terjadi kehilangan kekuatan otot total sebesar 10-20% dari kekuatan yang dimiliki pada umur 30 tahunan. Pemerosotan ini dimulai sekitar umur 40 tahun, dan semakin dipercepat di tahun ke-60 usia seseorang. Penurunan kekuatan otot

 – 

 otot pada tungkai bawah dapat dilihat pada orangtua ketika sedang melakukan gerakan aktifitas naik tangga (kesulitan dalam melakukannya), kekakuan tungkai pada saat berlari atau  jogging .

Jaringan ikat di sekitar sendi (tendon, ligament, dan fasia) elastisitasnya menjadi menurun. Penuruan luas gerak pada sendi mengakibatkan sendi kehilangan fleksibililtasnya. Selain itu perubahan yang terjadi pada sendi, yaitu viskositas cairan synovial berkurang, degernarasi kolagen dan sel elastin, pembentukan jaringan skar, dan kalsifikasi pada persendian dan jaringan penghubung.

F. Alat dan Bahan yang Digunakan

- Walker - Kruk

(8)

G. Protokol atau Prosedur Tindakan

Pemilihan alat bantu jalan harus disesuaikan dengan kondisi klien. Dalam membantu klien dalam berjalan membutuhkan suatu prosedur, yakni:

1. Perawat mengkaji toleransi aktivitas, kekuatan nyeri, koordinasi, dan keseimbangan klien untuk menentukan jumlah bantuan yang diberikan.

2. Perawat memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak ada rintangan di jalan klien. Kursi, penutup meja tempat tidur, kursi roda disingkirkan dari jalan sehingga klien memiliki ruangan yang luas untuk berjalan.

3. Sebelum memulai, menentukan tempat beristirahat pada kasus dengan perkiraan kurang toleransi aktivitas atau klien menjadi pusing.

4. Untuk mencegah hipotensi ortostatik, klien harus dibantu untuk duduk di sisi tempat tidur dan harus istirahat selam 1-2 menit sebelum berjalan. Keseimbangan klien harus stabil sebelum berjalan.

5. Perawat harus memberikan sokongan pada pinggang sehingga pusat gravitasi klien tetap berada di garis tengah. Hal ini dapat dicapai ketka perawat menempatkan kedua tangannya pada pinggang klien atau menggunakan ikat pinggang berjalan. 6. Klien yang terlihat tidak siap atau pusing harus dikembalikan ke tempat tidur atau

kursi terdekat. Jika klien mulai pingsan atau mulai jatuh, perawat harus memberi sokongan dengan dasar lebar yaitu satu kaki di depan yang lain sehingga menyangga berat badan klien.

Selanjutnya adalah penjelasan beberapa alat bantu gerak yang bisa digunakan oleh klien dengan gangguan mobilisasi yang dapat membantu mobilisasi:

 Walk er s (alat bantu j alan)

Alat ini memiliki dasar yang lebar sehingga member keseimbangan dan keamanan. Terdiri dari tangkai besi dengan pegangan tangan, 4 kaki yang kuat dan satu tempat/permukaan terbuka. Alat bantu ini dapat digunakan bagi klein yang mengalami masalah keseimbangan. Pengguanan ambulasi dengan walker:

a. Berdiri ditengah-tengah walker dan pegang hand grips (pegangan pada batang yang lebih atas)

 b. Lakukan langkah kedepan dengan walker

c. Gerakkan walker 6-8 in (kurang lebih 15 cm) dan lakukan langkah ke depan dengan tungkai yang lain

(9)

 Ton gkat (Can es) 

Tongkat merupakan alat ringan, membantu pergerakan dengan mudah, terbuat dari kayu atau besi. Tongkat dapat membantu menjaga keseimbangan badan, biasanya diberikan pada klien dengan hemiparesi. Tongkat tidak direkomendasikan untuk klien dengan kelemahan kaki bilateral. Terdapat tiga tipe tongkat yang umum digunakan, meliputi:

- Tongkat standar, memberi dukungan minimal dan digunakan oleh klien yang membutukan sedikit bantuan untuk berjalan

- Tongkat bertangkai, terdapat pegangan atau gagang untuk dipegang sehingga memudahkan untuk memberikan stabilitas lebih besar dari tongkat standar, khususnya berguna untuk klien dengan kelemahan tangan

- Tongkat segiempat yang mempunyai 3 atau 4 kaki yang memberikan dukungan keseimbangan lebih besar. Alat ini digunakan bagi klien dengan parsial unilateral atau paralisis penuh pada kaki.

Pada penggunaan tongkat, klien harus diajari mengenai sokongan dan keseimbangan tubuh. Klien diajarkan tahap-tahap melangkah (berjalan) dengan tongkat. Klien harus menempatkan tongkat berada di depan dengan jarak 15 sampai 25 cm, menjaga berat badan pada kedua kaki klien, untuk sokongan maksimum ketika  berjalan. Kaki yang terlemah bergerak maju dengan tongkat sehingga berat badan

dibagi atara tongkat dan kaki yang terkuat. Kaki yang terkuat maju setelah tongkat sehingga kaki terlemah dan berat badan disokong oleh tongkat dan kaki terlemah. Langkah penggunaan alat bantu jalan dengan alat bantu gerak tongkat:

a. Mulai dengan penempatan tongkat pada sisi yang lemah

 b. Tempatkan tongkat kedepan 15-25 cm, jaga beban BB pada kedua tungkai c. Gerakkan sisi yang lebih maju

d. Majukan tungkai melewati tongkat dengan kuat

e. Gerakkan tungkai yang lemah ke depan rata dengan tungkai yang kuat f. Ulangi langkah langkah di atas

 Tongkat penopang (kru k) 

Terbuat dari kayu atau besi sepanjang ujung mencapai aksila. Kruk digunakan untuk memindahkan berat dari satu atau kedua kaki. Terdapat 3 macam atau jenis kruk, yaitu: kruk aksila, lofstrand, dan kruk platform. Kruk aksila kebanyakan digunakan oleh klien dengan semua golongan umur, kruk lofstrand mempunyai suatu  pegangan tangan diatur sesuai dengan ketinggian klien. Kruk tipe ini sangat berguna

(10)

untuk klien yang mengalami ketidakmampuan permanen seperti paraplegia. Kruk  platform digunakan oleh klien yang tidak dapat menahan berat dipergelangan tangannya. Terdapat beberapa teknik ketika klien menggunakan alat bantu kruk,  beberapa teknik adalah sebagai berikut:

- Teknik 4 langkah

a. Mulai dengan posisi tripod. Krik ditempatkan 15 cm didepn atau 18 cm disamping masing-masing telapak kaki

 b. Gerakkan maju kruk kanan 14-15 cm

c. Gerakkan maju kaki kiri sejajar dengan kruk kiri d. Gerakkan maju kruk 14-15 cm

e. Gerakkan kaki kanan maju sejajar dengan kruk kanan f. Ulangi langkah diatas

- Teknik 3 langkah

a. Mulai dengan posisi tripod

 b. Majukan kedua kruk atau kaki yang cedera c. Gerakkan kaki dengan kuat ke depan

- Teknik 2 langkah

a. Mulai dengan posisi tripod

 b. Gerakan kruk kiri dan kaki kanan kedepan c. Gerakkan kruk kanan dan kaki kiri kedepan d. Ulangi langkah langkah diatas

- Teknik langkah mengayun dan teknik langkah mengayun berlebih Teknik langkah mengayun

a. Gerakkan kedua kruk ke depan

 b. Angkat dan ayunkan tungkai ke kruk, biarkan kruk menahan berat badan c. Ulangi langkah 1 dan u secara berulang0ulang

Teknik langkah mengayun berlebih a. Gerakkan kedua kruk kedepan

 b. Angkat dan ayunkan kedua tungkai melalui dan melebihi kedua kruk.

Berikut prosedur membantu klien dalam menaiki tangga dengan menggunakan kruk:

a. Mulai dengan posisi tripod

 b. Pindahkan berap badan pada kedua kruk c. Majukan kaki yang tidak cedera ke tangga

(11)

d. Posisikan kedua kruk dan kaki tidak cedera pada tangga e. Ulangi gerakan hingga klien mencapai tangga tertinggi

Berikut prosedur membantu klien dalam menuruni tangga dengan menggunakan kruk:

a. Mulai dengan posisi tripod

 b. Klien memindahkan beban BB pada tungkai yang tidak mengalami cedera c. Gerakkan kruk ke tangga dan intruksikan klien untuk memulai memindahkan

 beban BB ke kruk dan gerakan tungkai yang mengalami cedera ke depan d. Gerakkan tungkai yang tidak cedera ke tangga dan posisikan sejajar kruk. e. Ulangi gerakan ampai tangga terakhir.

H. Aspek Keamanan dan Keselamatan yang Harus Diperhatikan

 Aspek keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan walker

Perawat harus menyesuaikan tinggi walker yaitu penyangga tangan berada dibawah  pinggang klien dan siku klien agak fleksi. Walker yang terlalu rendah dapat menyebabkan klien membungkung, sementara walker yang tinggi dapat membuat klien tidak dapat meluruskan lengannya.

 Aspek keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan tongkat/kruk

- Ajarkan pada klien yang menggunakan kruk aksila tentang penekanan diaksila yang terjadi ketika bersandar pada kruk untuk menyongkong berat badan - Gunakan tongkat/kruk yang diukur sesuai tinggi pada klien

- Ajarkan pada klien bagaimana cara memeriksa ujung kruk secara rutin. Ujung karet harus terikat aman pada kruk.

- Ujung tongkat/kruk harus tetap kering. Air menurunkan friksi pada permukaan dan meningkatkan resiko terpleset.

- Ajarkan pada klien bagaimana mengeringkan ujung tongkat/kruk jika basah, klien dapat menggunakan kain handuk untuk membantu mengeringkan.

- Ajarkan bagaimana memeriksa struktur tongkat/kruk. Keretakan di tongkat/kruk menurunkan kemampuan menyokong berat badan.

I. Hal Penting yang Harus Diperhatikan

 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan walker

- Pastikan klien dalam keadaan seimbang sebelum melakukan mobilisasi - Gunakan kaki terkuat sebagai tumpuan

(12)

- Ayunkan walker kedepan sejauh 15 cm sejajar dengan kaki terkuat dan diikuti dengan kaki yang lemah

 Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan tongkat/kruk

- Perawat atau keluarga harus memperhatikan ketika klien akan menggunakan tongkat/kruk

- Monitor klien saat memeriksa penggunaan tongkat/kruk - Perhatikan kondisi klien saat mulai berjalan

- Sebelum digunakan cek dahulu tongkat untuk persiapan - Perhatikan lingkungan sekitar

- Lakukan secara bertahap

J. Evaluasi

- Apakah klien sudah dapat menggunakan alat bantu walker dan tongkat dengan baik? - Apakah klien sempat terjatuh pada saat menggunakan walker dan tongkat?

- Apakah klien merasa aman dan nyaman dalam menggunakan walker dan tongkat?

Daftar Pustaka

Potter, P. A. & Perry, A. G. (1997).  Fundamental of Nursing: Concepts, Process, and  Practice. 4th Ed. St. Louise, MI: Elsevier Mosby, Inc.

Rouzier, Pierre. (2003). How to choose and use canes. Copyright © 2003 McKesson Health Solutions LLC. All rights reserved.

http://www.jasonpirozzolo.com/patientinfo/sma_caneuse_sha.htm (diunduh pada Senin 4 Maret 2013, pukul 16.35 WIB)

 _______. (2006). Clinical Nursing Skill & Technique. 6th Ed. St. Louis, MI: Elsevier Mosby, Inc.

 _______.(2010). How to use crutches, canes, and

walkers.http://www.yuefoundation.org/blog/posts/how-to-use-crutches-canes-and-walkers (diunduh pada Senin, 4 Maret 2013, pukul 16.48 WIB)

(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan apa yang diuraikan di atas, perlu dilakukan penelitian pada guru- guru sekolah dasar di Medan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku guru-guru tentang kesehatan gigi

Hal i ni sesuai dengan definisi kepuasan menurut Anderson (1994) mengatakan bahwa konsu men yang memperlihatkan berbagai pengalaman saat memakai produk atau jasa

Dilarang membunuh orang-orang lemah (wanita, anak-anak, orang tua). Nabi Muhammad selalu senantiasa mewasiatkan kepada para panglima perang untuk bertakwa dan merasa

Definisi wacana klasik yang diturunkan dari asumsi kaum formalis (dalam istilah Hyme “Struktural”) adalah bahwa wacana merupakan “bahasa di atas kalimat atau klausa” (Stubbs,

Filsafat Komunikasi, Tradisi dan Metode Fenomenologi.. Bandung: PT

PROFIL JUMLAH WAKTU AKTIF BELAJAR SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH TARUNA..

5 harapan yang dinyatakan adalah akan mungkin “untuk menyepakati suatu fondasi dari pertimbangan mendasar yang akan cenderung menghilangkan variasi acak dalam

Individu sebagai manusia perseorangan pada dasarnya dibentuk oleh tiga aspek yaitu aspek organis jasmaniah, psikis rohaniah, dan sosial. Dalam perkembangannya