• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS PERAN PEMADAM KEBAKARAN BP BATAM TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS PERAN PEMADAM KEBAKARAN BP BATAM TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 565 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

TINJAUAN YURIDIS PERAN PEMADAM KEBAKARAN BP

BATAM TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Tofan Hendra Surya Gemilang1, Lenny Husna2 1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Putera Batam 2

Dosen Program Studi Ilmu Hukum Universitas Putera Batam Jalan R. Soeprapto Muka Kuning, Kibing, Kec. Batu Aji, Kota Batam,

Kepulauan Riau 29434 email: [email protected]

ABSTRACT

The purpose of writing this journal is to describe and analyze the role of the BP Batam Sub Directorate in mitigating and mitigating fire hazards against forest and land fires, then using the theory of effectiveness, the theory of usefulness of the law, and the theory of good governance. Collecting data obtained is by interviewing directly to the head of the fire department of BP Batam itself, as well as obtaining actual and official data. The document used is a recorded conversation that is relevant to this research, field data obtained directly from the BP Batam Fire Department Headquarters. The output of this study will explain the role of the Sub Directorate of mitigation and overcoming fire hazards against forest and land fires based on Perka BP Batam number 19 of 2019 which is reviewed based on the above law namely Permen PU Number 20 / PRT / M / 2009 concerning technical management guidelines fire protection in urban areas as a national standard reference for fire fighting

Keywords: Pemadam Kebakaran, Pencegahan, Penanggulangan

PENDAHULUAN

Kota Batam kini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor asing yang ingin mencurahkan investasi nya di Batam. Dengan alasan bahwa Batam adalah kota yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Untuk itu, Batam di dandani sedemikian rupa dengan berbagai fasilitas lengkap oleh pemerintah Indonesia termasuk di dalamnya dibuatlah sebuah lembaga yang berwenang secara utuh untuk mengelola kota Batam khususnya di bagian investasi. Demi menarik investor agar mereka percaya untuk menanamkan investasi nya, BP Batam pula menyiapkan divisi lengkap terutama di bidang pengamanan aset. Dan hutan termasuk aset yang sangat penting untuk di jaga. Untuk itu terbentuklah subdirektorat mitigasi dan Penanggulangan bahaya kebakaran dalam naungan direktorat pengamanan BP Batam.

Data jumlah kebakaran hutan dan lahan:

2016 194 kasus 2017 113 kasus 2018 216 kasus 2019 354 kasus 2020 205 kasus (sampai mei 2020)

(2)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 566 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

Tercatat dalam 5 tahun terakhir masih sangat banyak terjadi bencana kebakaran di kota Batam. Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerusakan ekosistem dan menyebabkan kerusakan pada flora dan fauna yang tumbuh dan menghuni hutan. Efek samping lain dari peradangan dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung dan iritasi mata, tenggorokan, dan hidung. Bahaya kebakaran hutan juga dapat mengganggu transportasi, terutama transportasi udara.

Penyebaran asap dan emisi karbon dioksida dan gas-gas lain di udara juga akan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Kebakaran hutan menyebabkan deforestasi, sehingga mereka tidak dapat lagi menerima cadangan air selama musim hujan, yang dapat menyebabkan tanah longsor atau banjir. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga mengakibatkan berkurangnya sumber daya air bersih dan kekeringan, karena tidak ada lagi pohon yang menyimpan cadangan air.

Jika terjadi kebakaran, petugas pemadam kebakaran selalu ada di depan untuk melindungi kehidupan seseorang dan meminimalkan kerugian sekecil mungkin dari efek berbahaya kebakaran. Tugas pemadam kebakaran bukan hanya memadamkan api selama aksi. Seorang petugas pemadam kebakaran diminta untuk melakukan penanganan dan penyelamatan bahkan jika ia ditempatkan dalam kelompok sosialisasi dan pencegahan. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan mendidik masyarakat tentang cara mengidentifikasi potensi kebakaran. Sementara itu, untuk mengasah keterampilan petugas pemadam kebakaran, ada simulasi bahaya kebakaran umum. Selain itu, persiapan kebakaran tidak hanya diperlukan jika terjadi kebakaran, tetapi juga kapan saja ketika terjadi bencana. Pemadam kebakaran juga bertanggung jawab untuk menangani korban banjir, gempa bumi, dan lainnya. Bahkan, tidak jarang petugas pemadam kebakaran juga diminta membantu menyelamatkan hewan.

Kewenangan Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran dalam hal pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan penting di kaji, termasuk dalam pembahasan mengenai pengawasan yang dilakukan sebagai upaya penegakkan hukum. Pada penanganan terjadinya kebakaran hutan dan lahan nampaknya perlu diperbaiki agar tidak berakibat fatal. Dengan demikian, penegakkan hukum yang sudah tertuang jelas akan mencapai kepastian, kemanfaatan, dan keadilan hukum.

Dengan kata lain, peranan damkar BP Batam ternyata sangat dominan dan penting dalam menangani kasus kebakaran di kota Batam. Atas alasan inilah penulis tertarik untuk mengangkat pembahasan tentang "Tinjauan yuridis peran direktorat pemadam kebakaran BP Batam terhadap kebakaran hutan dan lahan. Kajian ini terfokus pada Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 sebagai pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran di perkotaan dan Perka BP Batam Nomor 19 tahun 2019 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Di Bawah Anggota Di Lingkungan Badan pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

KAJIAN TEORI

Teori yang digunakan dalam penelitian kali ini ada 3. 1. Teori distribusi kekuasaan

2. Teori efektivitas 3. Teori good governance

(3)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 567 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

1. Teori distribusi kekuasaan

Dalam hal penyelenggaraan negara, penting adanya distribusi kekuasaan, dimana peranan pemerintah daerah dalam mengelola daerah yang dipercayakan oleh pusat untuknya haruslah dikelola dengan semaksimal mungkin. Pada tahun 1970-an, dengan tujuan awal menjadikan Batam Singapura nya Indonesia, menurut Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan industri yang didukung oleh Otoritas Pengembangan Industri Pulau Batam atau lebih dikenal sebagai Badan Otorita Batam (BOB) sebagai ruang mengemudi bagi Generasi Batam. Sekarang bernama Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam perkembangan pesat Pulau Batam, pada 1980-an, menurut Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1983, kecamatan Batam yang merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau, ditingkatkan menjadi Kota Batam dengan tugas melaksanakan pengelolaan dan pengelolaan masyarakat dan mendukung pembentukan Otorita Batam (BP Batam).

Pada akhir 1990-an, dengan diberlakukannya Undang-Undang 53 tahun 1999, Pemerintah Batam mengubah statusnya menjadi daerah otonom, Pemerintah Kota Batam untuk menjalankan fungsi dan pengembangan pemerintahan melalui keterlibatan Batam, Badan Pengusahaan Batam (BP Batam).

Meskipun demikian, negara juga membatasi kekuasaan daerah dengan konstitusi. Selain pembatasan kekuasaan, penting pula kita membahas tentang pemisahan kekuasaan, dimana pemerintah pusat memberikan kekuasaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerah nya masing-masing.(Asshiddiqie, 2019) Kenapa peneliti mengkaji di sini, karena berdasarkan peraturan pemerintah nomor 46 tahun 2007, BP Batam atau yang sebelumnya bernama otorita Batam diberikan kepercayaan oleh pusat berupa atribusi untuk mengelola Batam dengan melakukan berbagai upaya yang tentunya tidak bertentangan dengan undang-undang untuk menarik minat investor untuk berinvestasi di kota Batam

2. Teori validitas dan efektivitas hukum

Jika suatu aturan hukum ingin diterima oleh masyarakat, maka hukum tersebut haruslah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di tinjau dari beberapa aspek penting di antaranya aspek yuridis, aspek sosiologis, dan aspek filosofis dari suatu daerah. Dengan kata lain, efektivitas suatu aturan sebenarnya harus diperhatikan lebih dalam lagi tentang keadaan aktual suatu daerah dan kondisi masyarakatnya, karena kita semua tau, hukum itu dinamis mengikuti perkembangan masyarakat.

Kemudian menjadi permasalahan yang serius adalah, apakah aturan hukum tersebut akan berlaku sementara terjadi revolusi dalam masyarakat? Karena dalam masyarakat bisa saja terjadi perubahan sewaktu-waktu karena masyarakat lah yang menanggung resiko sekaligus sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Tentu saja jika terjadi seperti itu, hukum tetaplah tidak boleh mengalami kekosongan. Oleh sebabnya, aturan hukum yang lama masihlah berlaku sembari menunggu produk hukum yang terbaru.

Adapun syarat agar hukum tersebut berlaku efektif dan dapat diterapkan di masyarakat harus memenuhi dua syarat. Pertama kaidah hukum yang dibuat haruslah dapat diterapkan. Kedua kaidah hukum tersebut dapat diterima oleh masyarakat. Berdasarkan penjabaran di atas, penting kita mengangkat teori validitas

(4)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 568 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

dan efektivitas hukum dikarenakan perkembangan kota Batam yang pesat serta arus perubahan yang menonjol sehingga memunculkan pertanyaan bahwa apakah suatu aturan dapat diterima di masyarakat dan berlaku efektif (Munir, 2014)

3. Teori good governance.

Indonesia adalah negara hukum, dan di dalam negara hukum terdapat pembatasan kekuasaan dalam penyelenggaraan negara. Pembatasan itu diatur dalam hukum dalam bentuk konsep konstitusional modern. Dan karenanya lah Indonesia juga disebut sebagai negara konstitusi. Upaya ini untuk mencegah terjadinya pemusatan kekuasaan yang akan mengakibatkan monarki konstitusional. Dengan mengadakan pemisahan kekuasaan, pelaksanaan fungsi lembaga yang berbeda-beda berdasarkan sifat antar lembaga berjalan lebih optimal dan tidak memusat sesuai kondisi yuridis, sosiologis, dan filosofis suatu daerah (Asshiddiqie, 2019).

Bicara tentang pemerintahan daerah, tak luput dari konsepsi otonomi daerah yang didasarkan pada asas, sistem, landasan hukum, serta tujuan dari suatu daerah. Pemberian otonomi daerah sebenarnya dilakukan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam daerah tersebut. Sehingga diperlukan lah distribusi kekuasaan.

Teori ini erat kaitannya dengan transparansi dan demokrasi dengan tujuan menciptakan pemerintahan yang bersih. Pelayanan publik penting untuk menentukan kinerja pemerintah sebagai tolok ukur kualitas pelayanan publik sehingga pemerintah dapat memberikan kualitas yang maksimal kepada masyarakat. Dengan teori ini diharapkan nantinya penelitian ini akan menghasilkan masukan untuk pelayanan yang maksimal dari Pemadam kebakaran BP Batam dalam menyelenggarakan pelayanan sehingga memberikan kepuasan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan negara yang transparan, bersih, dan efektif. (Penyelenggaraan et al., 2016)

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam dapatkan data dalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif, dimana ini merupakan metode baru yang digunakan. Dimnamakan metode baru karena metode ini baru saja digunakan. Bentuk metode ini adalah metode postpositivistik. Karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Disebut juga sebagai metode artistik, karena penelitian lebih mengarah ke seni atau kurang terstruktur. Serta merupakan penelitian terapan, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis sekaligus memberikan solusi berdasarkan undang-undang ketika ada kendala.(Sugiyono 2016)

Dengan menjabarkan aktifitas (pola kerja) budaya yang nyata dan aktual peranan direktorat pemadam kebakaran BP Batam. Sedangkan data yang didapat adalah aktual dan valid melalui proses penelitian empiris. Valid berarti kejadian yang di bahas itu benar adanya terjadi dan tepat sasaran sesuai dengan apa yang dikumpulkan oleh peneliti di lapangan. Lokasi penelitian ada di markas besar subdirektorat mitigasi dan Penanggulangan bahaya kebakaran milik BP Batam yang berada di Jl Ahmad Yani, Duriangkang, kecamatan Batam kota

Bicara soal pemerintahan daerah, berarti pembahasan kita tak luput dari konsepsi otonomi daerah dimana dalam menyelenggarakan pemerintahan berdasarkan

(5)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 569 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

pada asas, tujuan, sistem dan dasar hukum sebagai acuan. Dan pada dasarnya, pemberian wewenang untuk mengelola suatu daerah dimaksudkan untuk mencurahkan keinginan daerah untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

PEMBAHASAN

kebakaran adalah peristiwa yang tidak dikehendaki dan selalu berbahaya. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan oleh setiap divisi dan unit kerja sehingga jumlah insiden kebakaran, penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaan dapat dikurangi sesedikit mungkin oleh perencanaan yang baik. Faktor terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi dikelompokkan menjadi dua, yaitu penyebab pemicu kebakaran dan kondisi pendukung. Faktor pemicu kebakaran bisa karena petir, gesekkan benda-benda yang mudah terbakar, dan lain-lain. Faktor selanjutnya yang bisa menyebabkan kebakaran hutan adalah karena kelalaian dan kesengajaan manusia itu sendiri seperti sengaja membuang putung rokok ke bahan yang mudah terbakar, meninggalkan sisa api unggun yang masih membara, atau dengan sengaja membakar hutan untuk kepentingan membuka lahan. (Jurnal pengurangan resiko kebakaran hutan dan lahan melalui pemetaan HGU) Kebakaran hutan dan lahan berdampak pula pada lingkungan hidup yang menyebabkan rusaknya ekosistem sekitar sebagai peranan penting dalam kehidupan baik flora, fauna, maupun manusia itu sendiri.

Menurut undang-undang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pasal 21 ayat 3 huruf c, kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan adalah pengaruh lingkungan hidup berupa kerusakan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh suatu kegiatan atau usaha. (Uupplh) Dampak pencemaran yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan yaitu berupa pencemaran udara. Pencemaran udara juga bisa sampai mempengaruhi penerbangan. Menyebarnya asap melalui udara yang membawa emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain yang akan mempengaruhi iklim dan pemanasan global. Kebakaran hutan dan lahan juga mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga tidak bisa menyerap air yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir. Dan dengan gundulnya hutan, dapat mengakibatkan daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan tersebut akan kehilangan sumber air karena diakibatkan hilangnya sumber penyerapan air alami dikarenakan tidak ada lagi pohon sebagai media penyerap air paling berpengaruh.

Kebakaran terjadi karena pertemuan 3 elemen atau yang lebih dikenal dengan sebutan segitiga api :

1. Bahan yang mudah terbakar 2. Suhu (panas)

3. Udara

Untuk mencegah kebakaran, salah satu dari tiga elemen lainnya harus dihindari. Berdasarkan hasil wawancara dan mendapatkan data yang aktual dari kantor markas besar subdirektorat mitigasi dan Penanggulangan bahaya kebakaran (PBK) BP Batam, terdapat beberapa temuan tentang peranan penting pemadam kebakaran BP Batam yang cukup signifikan pada kebakaran hutan dan lahan di kota Batam. Dalam rangka mengembangkan daerah Batam menjadi daerah investasi yang bisa di percaya oleh investor, terutama dalam hal pengamanan aset, maka BP Batam berupaya memenuhi

(6)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 570 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

fasilitas-fasilitas yang memadai, memerintahkan direktorat pengamanan BP Batam untuk mempercayai subdirektorat mitigasi dan Penanggulangan bahaya kebakaran menjaga aset-aset yang dimiliki oleh BP Batam dari bahaya kebakaran, dan hutan juga merupakan aset yang penting untuk di jaga. Pertimbangan utama mengapa upaya pencegahan kebakaran diperlukan adalah karena potensi risiko kebakaran di mana-mana.

Berdasarkan teori distribusi kekuasaan yang menjelaskan bahwa pembagian kekuasaan dipercayakan dan diemban dalam bentuk wewenang melakukan tugas sesuai yang diamanatkan oleh undang-undang yang dipercayakan pada suatu instansi.

Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran memperoleh wewenang untuk menjaga aset dari bahaya kebakaran. Dan hutan adalah salah satu aset yang dilindungi berdasarkan Perka Nomor 19 tahun 2019 tentang Susunan Organisasi dan Tata kerja Di Bawah Anggota di Lingkungan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan dan Pelabuhan Bebas Batam dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.

Dalam teori efektivitas dan validitas hukum, keefektivan suatu aturan yang dibuat menjadi tolok ukur apakah aturan tersebut telah efektiv dan berjalan seperti yang tertuang didalamnya. Untuk itu, peneliti menyorot bagaimana peranan Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Kebakaran BP Batam terhadap kebakaran hutan dan lahan.

terkait pelaksanaan tugas di lapangan dari sudut pandang yang tidak terlihat oleh masyarakat berdasarkan peraturan kepala BP Batam pasal 199 sampai 200.

Peran Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran BP Batam Berdasarkan Perka Nomor 19 tahun 2019

Peranan dan wewenang Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran BP Batam terdapat pada pasal 199 Perka BP Batam nomor nomor 19 tahun 2019 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Di Bawah Anggota Di Lingkungan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Batam. Dalam tugasnya, petugas pemadam kebakaran BP Batam bertugas menyelenggarakan fungsi berupa

1. Seksi penyuluhan dan mitigasi bertugas menyiapkan keperluan penyuluhan dan melakukan penyuluhan serta pembekalan kepada masyarakat mengenai kesiapan menghadapi bencana atau di sebut dengan Mitigasi.

2. Seksi penanggulangan dan penyelamatan bahaya kebakaran bertugas menyiapkan bahan pelaksanaan serta melakukan penanggulangan dan penyelamatan bahaya kebakaran.

Peran Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran Berdasarkan Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009

Pedoman teknis pelaksanaannya terdapat dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 tentang pedoman teknis manajemen proteksi kebakaran di perkotaan yang menjadi panduan teknis tentang peran pemadam kebakaran BP Batam

(7)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 571 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

2. Peran berdasarkan panduan teknis manajemen proteksi kebakaran berdasarkan Permen PU Nomor 20 PRT M 2009

1. Seksi pencegahan dan mitigasi

Peranan petugas pemadam kebakaran berdasarkan Permen PU Nomor 20 PRT M 2009 berupa upaya pencegahan melalui pemeriksaan berkala sarana dan prasarana pengendalian kebakaran, selain itu juga memberikan edukasi ke publik, pencegahan, dan sosialisasi konsekuensi hukum yang akan di tanggung jika melanggar aturan hukum yang berlaku. Selain itu juga kegiatan mitigasi dan resiko kebakaran berupa pengumpulan data dan penilaian resiko kebakaran, dan menyiapkan peralatan kesiapan kebakaran yang meliputi persiapan dan peringatan kepada petugas pemadam kebakaran, informasi lahan, peralatan teknis, Sistem ketahanan kebakaran lingkungan, sampai menyediakan hidran.

Selanjutnya mengadakan sertifikasi sumberdaya manusia sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan yang unggul, setiap sumber daya manusia yang mumpuni tentunya memiliki standarisasi tersendiri melalui proses sertifikasi sehingga kualitas SDM memiliki daya saing, kreativitas dan inovatif(Sutrisno, 2017). Sertifikasi ini tertuang pada bab 5 Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009.

2. Seksi penanggulangan dan penyelamatan kebakaran.

Peran seksi penanggulangan dan penyelamatan bahaya kebakaran yang terdapat dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 ini yaitu mengelola fungsi manajemen penanggulangan kebakaran, melakukan pelayanan yang akurat, cepat dan efisien dari laporan kebakaran yang diterima. Kegiatan nya terdiri dari penerapan perencanaan kebakaran, yang disiapkan dan diajarkan saat simulasi sesuai dengan prosedur penanganan kebakaran yang diajarkan.

Komandan lapangan harus memiliki strategi pemadaman kebakaran yang optimal dan petugas juga harus mendapatkan fungsi pendukung yang diperlukan untuk menuju titik api seperti rute yang efektif untuk menjangkau titik api agar tidak semakin meluas yang dikoordinasikan bersama dengan polisi lalu lintas saat di jalan raya, dan mensterilkan sekitaran yang berpotensi menimbulkan kobaran api semakin meluas.

Penerapan kegiatan pemadaman kebakaran juga memberdayakan masyarakat sekitaran dengan membentuk satuan relawan kebakaran atau SATLAKAR yang dikoordinasikan melalui program pemberdayaan masyarakat.

Dalam hal yurisdiksi, pelaksana pemadaman kebakaran harus didukung oleh rancangan perjanjian antar instansi yang tertuang dalam nota kesepahaman atau MOU yang berisi pertanggungjawaban untuk menyelesaikan masalah dalam wilayah yang dipercayakan kepada instansi tersebut, pertanggungan asuransi, sistem protokol komunikasi, tanggungjawab hukum dan langkah-langkah keamanan.

Standar sarana dan prasarana pengendalian kebakaran yang diatur dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 berupa :

1. Peralatan tangan,

2. Perlengkapan perorangan,

(8)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 572 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

4. Perlengkapan komunikasi portabel

5. Perlengkapan pompa portabel bertekanan tinggi 6. Perlengkapan mekanik 7. Akomodasi 8. Logistik 9. P3K 10. SAR 11. Dan gedung.

Selain kelengkapan di atas, hal yang perlu dipertimbangkan saat proses pemadaman api adalah

1. Ketercukupan air untuk memadamkan api, pasokan air bisa diperoleh melalui sungai, kolam, sumur, danau atau bisa juga melalui saluran irigasi. Selain dari alam, pasokan air berasal dari tandon air yang dibuat dan disalurkan menggunakan pipa.

2. Ketersediaan pasokan air tersebut harus dipastikan tersedia meskipun saat kemarau

3. Ketersediaan pasokan air tersebut keberadaan nya harus di tandai dan mudah terlihat oleh petugas dengan memberikan tanda-tanda yang mencolok.

Model bangunan stasiun kebakaran juga tertuang dalam aturan ini, luas tanah yang disediakan setidaknya berluas 200 meter² termasuk peralatan untuk

1. Ruang garasi, 2. Ruang siaga

3. Ruang administrasi 4. Ruang tunggu 5. Loker ganti pakaian 6. Gudang peralatan

7. Tangki air berkapasitas 12.000 liter 8. Lapangan untuk latihan rutin

Model bangunan sektor pemadam kebakaran memiliki luas tanah minimal 400 meter², meliputi kebutuhan untuk

1. Garasi untuk 2 mobil, 2. Ruang siaga untuk 4 regu 3. Ruang administrasi 4. Ruang tunggu 5. Ruang rapat

6. Ruang ganti pakaian 7. Gudang peralatan 8. Tandon air 24.000 liter 9. Halaman latihan rutin

(9)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 573 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

Model bangunan markas besar memiliki luas tanah minimal 1.600 meter ² dengan kelengkapan di antaranya

1. Gudang untuk perlengkapan pemadaman kebakaran, 2. Ruang komando dan ruang pusat informasi,

3. Ruang siaga 4. Ruang administrasi 5. Ruang tunggu 6. Ruang pertemuan, 7. Ruang ganti 8. Gudang penyimpanan,

9. Dan tandon air berkapasitas 24.000 Liter.

Peran Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan bahaya kebakaran di lapangan

1. Seksi pencegahan dan Mitigasi. Berdasarkan penerapan di lapangan,

Upaya pencegahan dilakukan melalui proses sosialisasi untuk menanamkan atau mentransmisikan kebiasaan atau nilai dari kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Menurut sosiolog, menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peran. Karena dalam proses sosialisasi, kita di ajarkan peran yang seharusnya dilakukan oleh individu(Budaya, n.d.).

Dalam upaya pencegahan juga mengajarkan tentang mitigasi. Mitigasi atau kesiapan bencana adalah seperangkat doktrin untuk mempersiapkan orang untuk tindakan alami. bagian dari doktrin ini yang berpusat pada upaya pertolongan, Biasanya kebijakan pemerintah diambil dari pertahanan sipil untuk mempersiapkan masyarakat sipil dalam persiapan sebelum bencana terjadi. persiapan sipil lebih murah dan hemat biaya, meskipun lebih sulit untuk direncanakan(Rusilowati & Binadja, 2012) mitigasi merupakan bagian dari penanganan bencana, terbagi empat tindakan yaitu : mitigasi, persiapan, respon atau ketanggapan, dan normalisasi.

Dalam pelaksanaan nya di lapangan, pemadam kebakaran BP Batam yang ditempatkan di seksi penyuluhan dan mitigasi telah memiliki kemampuan untuk mempengaruhi sikap masyarakat agar lebih positif seperti yang di inginkan. Penyuluh juga berpesan membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan masyarakat. Di sinilah peran penting komunikator dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Komunikator adalah orang yang menyampaikan maksud dari pencegahan dan mitigasi selama proses sosialisasi. Dengan kata lain, komunikator berperan penting dalam melakukan konseling kepada masyarakat dan sebagai sumber informasi.

Materi penyuluhan berisi tentang efek dari kebakaran hutan dan lahan yang dapat dirasakan secara langsung dan tidak langsung kepada masyarakat di antaranya kerusakan ekosistem, terbunuhnya flora dan fauna, kerusakan saluran pernapasan, hancurnya rantai makanan, hilangnya daerah resapan air, menipisnya ozon, masuknya hewan liar ke pemukiman masyarakat, dan lain-lain. Maka dari itu, lebih baik mencegah daripada menanggulangi. Proses pencegahan yang dilakukan tidak saja melalui sosialisasi tatap muka, tetapi juga melalui media elektronik seperti TV, dan siaran radio.

(10)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 574 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

Selain itu juga melalui media cetak seperti koran, spanduk, pamflet, brosur, dan lain-lain.

Namun dalam pelaksanaan sosialisasi di lapangan memiliki kendala, yaitu petugas pemadam kebakaran BP Batam hanya melakukan penyuluhan ketika ada permintaan dari suatu lembaga atau instansi. Hal ini dikarenakan Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran tidak berwenang dalam melakukan sosialisasi dengan inisiatif sendiri karena ini adalah ranah nya Manggala Agni yang merupakan instansi dari kementerian lingkungan hidup. Sedangkan dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 dan Perka BP Batam nomor 19 tahun 2019 dituang tentang penyuluhan dan mitigasi kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan kebakaran. Upaya pencegahan ini sangatlah penting untuk menekan kerugian aset yang akan di alami jika terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan karena tujuan pembentukan Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran BP Batam ini adalah melindungi aset dan hutan termasuk aset yang di lindungi. Kendala seperti ini seharusnya tidak terjadi jika ada yurisdiksi yang jelas yang tertuang dalam nota kesepahaman atau MOU yang dibuat antar instansi sesuai dengan gang tertuang dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009.

2. Seksi penanggulangan dan penyelamatan.

Seksi penanggulangan dan penyelamatan kebakaran bertugas menyiapkan perlengkapan pemadaman kebakaran sehingga ketika terjadi kebakaran kapan saja, petugas selalu siap. Selain itu juga membangun tandon air di tempat-tempat yang tercatat rawan kebakaran hutan. Tandon ini diharapkan dapat menjadi sumber air ketika sumber air lain jauh dari jangkauan ketika kebakaran hutan terjadi.

Dalam hal pembekalan kesiapan menghadapi bencana kebakaran kepada masyarakat, petugas penanggulangan dan penyelamatan kebakaran juga memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang proses penanganan di lapangan guna meningkatkan kesadaran kepada masyarakat. Konseling ini juga dilakukan dengan mempraktekkan keterampilan serta kemampuan menangani kebakaran di lapangan.

Selain itu, memberikan peringatan dini kepada masyarakat untuk tidak membakar hutan dengan mudahnya, memastikan api sudah benar-benar padam setelah api padam, selalu siaga untuk memberitahu masyarakat ketika ada kebakaran, dan meninjau aturan yang mengatur tentang kebakaran hutan.

Aturan mengenai kebakaran hutan dalam undang-undang di antaranya di atur dalam : 1. Undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan,

2. Undang-undang nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan,

3. Dan Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,

Petugas di lapangan juga menetapkan rentang minimum jarak pembakaran dengan benda-benda yang mudah terbakar, yaitu 50 meter dari bangunan dan 500 meter dari hutan. Petugas juga memetakan area yang rawan kebakaran, dan menyediakan informasi kebakaran hutan dan lahan.

Tak hanya sampai di situ saja, peranan pemadam kebakaran BP Batam dalam hal penanggulangan dan penyelamatan kebakaran hutan adalah melakukan aksi setelah

(11)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 575 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

kebakaran hutan yaitu mengadakan pertemua antar instansi dan meningkatkan koordinasi dengan lembaga terkait.

Beberapa jenis alat pemadaman yang dilakukan saat proses penanganan kebakaran hutan dan lahan yang digunakan oleh pemadam kebakaran BP Batam di antaranya adalah dengan menggunakan air. Teknik ini dilakukan dengan menekan suhu benda yang terkobar api. Bentuk sederhana teknik ini adalah menggunakan selang air, dan ember. Namun ada yang menggunakan pompa portabel yang digunakan untuk menampung air. Tabung ini berisikan sekitar 10 liter air yang dibawa oleh 2 orang.

Selain dengan menggunakan air, teknik lain juga biasa dilakukan dengan cara konvensional. Yaitu dengan memukul-mukul api menggunakan ranting untuk memutus oksigen yang membuat api terus membakar. Cara ini juga cukup sederhana dan sering dilakukan di tempat yang tidak memadai untuk mendapatkan air.

Dan cara terakhir adalah membersihkan arena sekitaran kebakaran dari bahan-bahan yang mudah terbakar, membuat celah agar rambatan api tidak meluas, dan menebang pohon untuk membatasi jangkauan api.

Kendala yang terjadi di lapangan

Setelah mengetahui peranan Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran BP Batam berdasarkan Perka BP Batam Nomor 19 tahun 2019 berdasarkan hasil wawancara, maka ditemukan beberapa kendala dalam penerapan itu di antaranya adalah:

Dalam hal sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan, peralatan yang digunakan sangatlah minim. Proses pemadaman hanya sekedar menggunakan air yang diperoleh dari sumber air maupun yang di bawa di dalam mobil tangki, pemadaman secara konvensional yang seadanya, dan dengan membersihkan arena sekitar kebakaran dari bahan-bahan yang mudah terbakar,

Selain itu juga dalam hal akses menuju titik api, petugas kesulitan menjangkau titik api mulai dari jalan raya, hingga masuk menuju titik api. Dalam hal pembagian wilayah tugas, tidak adanya pembagian wilayah tugas yang jelas sesuai dengan yang tertuang dalam pembahasan distribusi kekuasaan yang di angkat pada bagian teori. Ini mengakibatkan tumpang tindih dan tidak maksimal nya tugas yang dijalani oleh petugas pemadam kebakaran BP Batam.

Dalam hal penindakkan, petugas tidak berwenang menindak pemadam kebakaran tidak berwenang melakukan penindakan jika tertangkap tangan ada yang membakar hutan, ini dikarenakan tugas penindakan adalah wewenang direktorat pengamanan dan polri. Sehingga, petugas tidak bisa berbuat apa-apa padahal sangsi sudah jelas tertulis, ini tentu tidak sejalan dengan teori validitas dan efektivitas hukum.

Dalam hal keterlibatan masyarakat, peran serta masyarakat yang kurang sekali. Padahal peran masyarakat dalam bentuk upaya pencegahan sangatlah diperlukan dan sudah jelas tertuang dalam aturan hukum yang sudah di buat. Petugas hanya mengandalkan laporan dari masyarakat ketika terjadi kebakaran.

Dalam hal melakukan sosialisasi, petugas jarang sekali melakukan sosialisasi. Ini di karenakan adanya berbenturan kewenangan di dalamnya. Petugas tidak melakukan inisiatif untuk melakukan sosialisasi dengan alasan bahwa itu adalah ranah nya Manggala Agni dari kementerian lingkungan hidup.

(12)

Volume 3, Nomor 3, September 2020 576 ejournal.ymbz.or.id

Berazam

Dalam hal kerjasama dengan BMKG, petugas tidak mendapatkan informasi titik api dan daerah kebakaran melalui BMKG, petugas hanya mengobservasi langsung ke lapangan dan menandai daerah tersebut saja.

Dalam hal anggaran tahunan. berdasarkan wawancara langsung,anggaran yang disediakan sangat minim adanya, ini sangat berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan teori good governance.

Penerapan sangsi yang tegas Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran kepada pembakar hutan.

Dalam hal penerapan sangsi tegas, petugas pemadam kebakaran BP Batam tidak berwenang melakukan penindakan pada pembakar hutan, dikarenakan wewenang ini diemban oleh direktorat pengamanan serta polri sehingga ketika menemukan pembakar hutan, petugas tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada wewenang untuk melakukan penindakan.

SIMPULAN

Peran Subdirektorat Mitigasi dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran BP Batam masih belum maksimal, walaupun sudah di atur dalam Perka BP Batam Nomor 19 tahun 2019 dan di atur lebih teknis dalam Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009. kendala yang dihadapi oleh petugas pemadam kebakaran BP Batam di antaranya adalah sarana dan prasarana yang seadanya, mobilitas menuju titik api, pembagian yurisdiksi, penindakan, minim nya anggaran, dan penerapan sangsi tegas.

DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, J. (2019). PENGANTAR ILMU HUKUM TATA NEGARA. jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Budaya, D. (n.d.). Sosialisasi dan Dampak Budaya Organisasi 1. (1982), 1–40.

Munir, F. (2014). Teori Teori besar dalam hukum (Grand Theory). jakarta: KENCANA.

Penyelenggaraan, D., Publik, P., Penelitian, B., Hukum, H., Rasuna, J. H. R., Kav, S., & Jakarta, K. (2016). De Jure. 16(740), 231–244.

Rusilowati, A., & Binadja, A. (2012). MITIGASI BENCANA ALAM BERBASIS PEMBELAJARAN BERVISI SCIENCE ENVIRONMENT. 8, 51–60.

Sugiyono. (2016). METODE PENELITIAN KUANTITATIF, KUALITATIF, dan R&D. bandung: ALFABETA.

Referensi

Dokumen terkait

5 Faktor manusia Kebakaran Hutan Data Spasial Cara pencegahan/ peringatan dinin Kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan Prediksi kebakaran/ pemodelan Faktor paling

Dalam menangani kebakaran hutan dan lahan yang tentunya tida mudah dilakukan, pegawai harus memiliki motivasi tinggi agar tugas yang diemban dapat berjalan dengan

Darurat Penanggulangan Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Tahun 2017 Menetapkan Perpanjangan Status Siaga Darurat Penanggulangan

Penelitian selanjutnya adalah membangun model hutan tanaman berisiko kecil kebakaran, pencegahan kebakaran hutan rawa gambut berbasis masyarakat, dan menentukan indikator

- Tim patroli terpadu melakukan sosialisasi tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta sangsi hukum bagi pelaku pembakaran di desa lomu Rt 5 pada masyarakat

LAPORAN PELAKSANAAN PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN Tanggal 24 Juli 2016 NO PROVINSI DAOPS/ KABUPATEN/ KOTA LOKASI SASARAN.. HASIL KEGIATAN PATROLI

LAPORAN PELAKSANAAN PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN Tanggal 13 Juli 2016 LOKASI SASARAN NO PROVINSI DAOPS/ KABUPATEN/ KOTA KECAMATAN DESA/

Kecamatan Cintapuri Darussalam merupakan daerah yang paling vital terkena dampak bencana kebakaran hutan dan lahan terutama di Desa Alalak Padang, Benua Anyar, dan Makmur Karya ketiga