DAFTAR ISI
Cover
i
Daftar Isi
ii
Kata Pengantar
iii
I. Pendahuluan
1
A. Latar Belakang Thailand
1
B. Kondisi Perekonomian Thailand
3
C. Profil Komoditi
5
1. Penangkapan Udang
6
2. Pengembangbiakan/tambak udang
7
II. Pasar Udang Thailand
10
A.
Latar Belakang Industri Udang Thailand
10
B.
Perdagangan Udang di Thailand
10
1. Ekspor
12
2. Impor
15
III. Informasi Pasar Thailand
19
A.
Kecenderungan Pasar Thailand
19
B.
Distribusi Udang dan Produk Olahannya
20
C.
Prospek Udang dan Produk Olahannya Asal Indonesia di Thailand
22
IV. Informasi Perdagangan
24
A.
Kebijakan
24
B.
Prosedur Impor
24
C.
Standar Kualitas untuk Perdagangan Produk Kelautan di Thailand
25
V. Strategi dan Rekomendasi Infiltrasi Pasar Udang dan Olahannya di Pasar Thailand
27
VI. Informasi Penting
28
A.
Asosiasi
28
B.
Instansi Terkait
28
C.
Perwakilan Perdagangan
28
D.
Pameran Potensial
29
E.
Importir Udang dan Perusahaan Manufaktur Processed Seafood Thailand
30
KATA PENGANTAR
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang melimpah untuk hasil lautnya,
khususnya pada produksi udang dan produk olahan udang. Hasil udang Indonesia telah terkenal
di pasar internasional dan Indonesia merupakan salah satu eksportir udang terbesar di Dunia.
Potensi Indonesia untuk mengembangkan pasarnya selain tujuan utama seperti Jepang dan
Amerika sangatlah besar, Thailand merupakan salah satu negara yang sangat berpotensi
sebagai salah satu negara tujuan ekspor udang dan produk olahan udang dari Indonesia
walaupun Thailand juga merupakan salah satu negara pengekspor udang di Dunia, namun
dengan berbagai celah bisnis dan kondisi pasar udang dan produk olahannya di Thailand
diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi untuk pengembangan pasar ekspor
udang Indonesia ke pasar Thailand.
Laporan market brief ini membahas mengenai pasar udang dan produk olahannya yang
mencakup kajian data pasar meliputi impor, ekspor dan konsumsi domestic Thailand dengan
tujuan mengidentifikasi peluang dan celah pasar Thailand. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi pihak – pihak terkait dengan produksi maupun pengolahan udang di Indonesia
serta institusi terkait lainnya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Thailand
- Geografis
Thailand merupakan salah
satu negara di Asia Tenggara
yang berbatasan langsung
dengan
Laut
Andaman,
Burma, Kamboja, Laos, dan
Malaysia dengan area total
seluas 513,120 km2 yang
terbagi dalam luas daratan
seluas 510,890 km2 dan
perairan 2,230 km2. Thailand
memiliki iklim tropis dengan
musim hujan, hangat dan
berawan pada daerah selatan
mulai pertengahan Mei hingga
September; sedangkan musim
kering atau dingin di daerah
utara mulai November hingga
awal Maret.
Thailand
terbagi
menjadi
beberapa bagian yang terdiri
dari grup provinsi berdasarkan
letaknya.
Bagian
utara
Thailand merupakan daerah pegunungan; daerah timur laut terdiri dari plato Khorat
dan berbatasan dengan Sungai Mekong; daerah pusat/tengah didominasi oleh dataran
lembah Chao Phraya; dan bagian selatan Thailand terletak pada semenanjung Melayu,
dan berbatasan langsung dengan Malaysia. Pada daerah selatan ini berbatasan dengan
Laut Andaman yang merupakan daerah penghasil sumber daya laut terbesar serta
pusat tempat pariwisata dengan pantai – pantainya yang banyak dikenal hingga
mancanegara seperti Phuket, Krabi, dan lain – lain.
- Profil Ekonomi Thailand
Populasi (Juli 2013): 67,448,120 (jiwa) 0-14 th : 19.2% 15-24 th : 15.1% 25-54 th : 45.6% 55-64 th : 10.4% ≥ 65 th : 9.8%Pengangguran Tingkat pengangguran: 0.8% (2013) Total pengangguran: 248,180 (Q3 2013) GDP 2013 USD 365.56 miliar; tumbuh 0.6% (yoy)
Ekspor 2013 US$ 228.53 Miliar (menurun: -0.31%)
Ekspor Utama 2013 Motor cars, parts and accessories US$ 24.4 miliar (+6.5%);
Automatic data processing US$ 17.76 miliar menyumbang (- 6.82%);
Refine fuels (Produk Olahan Minyak) US$ 12.73 miliar (-1.18%);
Impor 2013 US$ 250.722 Miliar (pertumbuhan: 0.29%) Impor Utama 2013 Minyak mentah, US$ 38.92 miliar (+8.58%);
Mesin dan komponen/ bagian terkait, US$ 23.18 miliar (-11.44%);
Jewellery termasuk perak dan emas batangan, US$ 17.71 miliar, (+12.06%);
Electrical machinery dan part, US$ 15.17 miliar (-10.79%); Iron & Steel & products (Besi, baja dan produk), US$ 14.8
Miliar (-2.41%);
Inflasi 1.96% (2013)
- Demografi
Populasi Thailand diperkirakan 67,448,120 jiwa pada Juli 2013, menduduki peringkat ke 20. Sekitar 75% dari populasi adalah Thai; China (14%); Melayu (3%) dan etnis lainnya (8%). Agama resmi di Thailand adalah Budha (94.6%); agama lain adalah Muslim (4.6%); Kristen (0.7%) dan lain-lain (0.1%).
B. Kondisi Perekonomian Thailand
Untuk tahun 2013 secara keseluruhan, kegiatan ekonomi melambat. Konsumsi swasta menurun setelah percepatan selama tahun sebelumnya. Beberapa bisnis menunda investasi menunggu membaiknya prospek ekonomi dan politik. Ekspor barang dagangan sedikit meningkat karena kendala kekurangan bahan baku dan mengingat kendala dalam teknologi produksi dalam industri tertentu untuk memenuhi perubahan preferensi global. Dorongan fiskal melunak akibat pencairan yang lebih rendah dari belanja modal biasanya. Namun, sektor pariwisata, diperluas dengan kokoh dan merupakan pendorong utama ekonomi tahun 2013.
Mengenai stabilitas ekonomi, tingkat pengangguran tetap rendah. Perlambatan inflasi sejalan dengan harga energi dan perlambatan ekonomi. Transaksi berjalan mencatat defisit terutama karena impor emas dan repatriasi keuntungan dan dividen, sedangkan neraca modal mencatat
surplus berkat pinjaman lembaga keuangan luar negeri dan investasi asing langsung. Secara keseluruhan, neraca pembayaran mengalami defisit.
Perekonomian Thailand pada kuartal keempat tahun 2013 meningkat sebesar 0.6%, mengalami perlambatan dari kenaikan 2.7% pada kuartal sebelumnya, akibat kontraksi permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga dan investasi mengalami penurunan sebesar 4.5% dan 11.3% masing-masing. Konsumsi pemerintah tumbuh pada tingkat lebih lambat sedangkan tingkat persediaan meningkat. Ekspor barang dan jasa netto tumbuh sebesar 25.3% karena ekspor barang dan jasa diperluas sedangkan impor menurun.
Konsumsi rumah tangga mencatat penurunan sebesar 4.5% akibat konsumsi pada barang tahan lama mencatat kontraksi menyusul berakhirnya skema rabat pajak untuk pembelian mobil pertama. Konsumsi barang tidak tahan lama juga menurun sementara barang semi-tahan lama melambat. Sektor jasa diperluas sedikit.
Sementara, konsumsi pemerintah melambat sebesar 0.9%, akibat penurunan 1.1% pada kompensasi karyawan dan perlambatan 3.5% pada pembelian netto barang dan jasa.
Pembentukan Modal Tetap Bruto atau total investasi turun 11.3% dibandingkan dengan penurunan 6.3% pada kuartal sebelumnya, karena penurunan investasi swasta dan publik sebesar 4.7% dan 13.1% masing-masing. Investasi swasta mencatat kontraksi baik dalam investasi mesin dan peralatan maupun konstruksi. Investasi publik juga turun karena pembangunan pemerintah menurun sementara investasi untuk mesin dan peralatan oleh Perusahaan negara meningkat.
Perubahan persediaan pada harga pasar saat ini naik sebesar 155,827 Baht juta, disumbangkan oleh peningkatan stok produk pertanian serta beberapa produk manufaktur, terutama karet & plastik dan peralatan kantor.
Di sektor eksternal, neraca perdagangan barang dan jasa mencatat surplus sebesar 172 miliar baht. Neraca perdagangan barang mencatat defisit sebesar 59.6 miliar baht, sedangkan neraca perdagangan jasa mencatat surplus sebesar 231.4 miliar baht.
perikanan ini dikarenakan terdapat wabah Early Mortality Sindrome (EMS) pada udang, namun pada kuartal ke 4 tahun 2013 isu ini telah mulai menurun, sehingga produksi udang meningkat kembali.
Sektor pertanian tumbuh sebesar 2.3% didukung peningkatan 3.7% di sektor pertanian, perburuan dan kehutanan dibandingkan dengan kenaikan 0.9% pada kuartal sebelumnya. Produksi tanaman pangan naik 4.2%, khususnya padi karena kondisi cuaca yang menguntungkan serta ekspansi lamban dalam karet, sebaliknya, produksi ubi kayu, tebu, nanas, dan kelapa sawit menurun.
Sektor non-pertanian tumbuh pada tingkat lebih lambat sebesar 0.4%. Sektor manufaktur mencatat penurunan sebesar 2.9% karena penurunan tajam pada permintaan domestik, menyebabkan kontraksi di hampir semua jenis produk. Produksi barang manufaktur yang mencatat penurunan pertumbuhan adalah industri makanan dan minuman, mesin dan peralatan, dan kendaraan bermotor.
Produksi konstruksi dan listrik, pasokan air dan gas menurun. Di sisi lain, transportasi dan komunikasi, perdagangan grosir dan eceran, hotel dan restoran dan intermediasi keuangan melambat.
Sektor utama lainnya dengan penurunan adalah sektor pertambangan dan penggalian (-2.6%), listrik, gas dan air bersih (-3.2%), dan konstruksi (-7.7%). Di sisi lain, sektor jasa menunjukkan pertumbuhan yang lamban termasuk perdagangan besar dan eceran (2.2%); hotel dan restoran (5.4%); transportasi dan komunikasi (7.0%), dan intermediasi keuangan (9.1%).
C. Profil Komoditi Udang
Sebagaian besar komoditi udang yang diperjual belikan di dunia adalah hasil dari tambak udang yaitu tercatat sebesar 55% dari komoditi udang yang dihasilkan di dunia. Penambakan udang merupakan bagian dari aquaculture; aquaculture banyak dilaksanakan di Cina, Thailand, Indonesia, India, Vietnam, Brazil, Equador dan Bangladesh. Komoditi ini juga merupakan salah satu sumber pendapatan bagi negara – negara berkembang.
Dalam produksi komoditi udang ini, terdapat beberapa macam cara untuk memperoleh udang yaitu:
1. Penangkapan Udang
Dalam penangkapan udang liar untuk tujuan komersial banyak tergantung pada spesies: a. Akiami paste shrimp/
pandalus
a. Northern prawn
b. Southern rough shrimp
c. Giant tiger prawn
Namun penangkapan udang di alam liar telah banyak berkurang dikarenakan alasan perusakan lingkungan dan peningkatan teknologi pada pengembangbiakan/penambakan udang, sehingga hasil dari panen udang lebih maksimal dibandingkan dengan penangkapan liar.
2. Pengembangbiakan/tambak udang
Amerika dan Jepang merupakan dua negara konsumen udang terbesar yang mendukung perkembangan komoditi udang dan sebagai investor terbesar untuk pengembangan penambakan udang.
a. Penambakan Udang Air Asin
Dalam penambakan udang air asin, terdapat beberapa jenis udang yang biasa dikembangbiakkan atau diternakkan adalah Family Penaeidae yang diternakkan lebih dari 80% dari seluruh produksi udang yang terdiri dari:
b. Tiger prawn
c. White leg shrimp
d. Atlantic White shrimp
e. Indian Prawn
g. Crangon crangon
Selain itu terdapat juga spesies air asin lain yang diternakkan untuk dikonsumsi namun masih dengan jumlah terbatas, yaitu:
a. Western blue shrimp
b. Chinese white shrimp
c. Kuruma Shrimp
e. Banana shrimp
b. Penambakan Udang Air Tawar
Untuk udang air tawar spesies yang banyak dikembang biakkan adalah udang dari genus Macrobachium. Hingga tahun 2000, spesies yang dikembangbiakkan hanyalah jenis giant river prawn (Macribachium rosenbergii/Udang Malaysia); dan kemudian hingga saat ini terdapat beberapa jenis yang mulai banyak dikembangbiakkan seperti jenis oriental river prawn (M. nipponense); dan monsoon river prawn (M. Malcomsonii).
Giant river prawn
Oriental river prawn
BAB II
PASAR UDANG THAILAND
A. Latar Belakang Industri Udang Thailand
Thailand merupakan salah satu produsen udang terbesar di dunia, keadaan geografis Thailand merupakan salah satu penunjang produksi udang, dengan garis pantai sepanjang 2600 km. Daerah penangkapan udang berada pada semenanjung Thailand dan Laut Andaman, dalam Exclusive Economic Zone Thailand yang memiliki luas area sebesar 316000 km2 yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai aquaculture. Sedangkan untuk perairan pada daratan Thailand mencakup luas wilayah 3,750 km2.
Walaupun dengan potensi produksi yang tinggi pada tahun 2012 produksi udang Thailand menurun secara drastis dikarenakan oleh wabah Early Mortality Syndrome (EMS). Hingga 50 – 70 Penambakan udang menutup operasinya secara semebtara karena produksinya yang melambat diakibatkan EMS ini. Pada akhir tahun 2013 ilmuwan Thailand bekerjasama dengan peneliti Taiwan telah mengembangkan tes yang mendeteksi bakteri AHPND yang menyebabkan wabah ini, sehingga pada akhir tahun 2013, dan awal tahun 2014, produksi udang di Thailand telah membaik. Selama penurunan produksi udang tersebut, Indonesia diperkirakan dapat menggantikan posisi Thailand sebagai pengekspor udang terbesar di Dunia.
Thailand berharap untuk dapat memproduksi sebesar 350,000 metrik ton di tahun 2014, dimana produksi pada tahun 2013 hanyalah sebesar sekitar 240,000 ton. Mayoritas produksi udang Thailand adalah untuk ekspor, dimana harga udang di Thailand untuk Januari/Februari 2014 sebesar US$6.79 – 7.26/Kg; harga ini merupakan penurunan dari harga pada bulan desember 2013 sebesar US$ 12.44/kg; sedangkan untuk harga ekspor udang Thailand rata – rata senilai US$ 10.81/Kg; dimana Amerika dan Jepang merupakan pembeli utama udang Thailand. Sedangkan rata - rata harga impor pada bulan desember 2013 sebesar US$ 9.06/kg.
B. Perdagangan Udang di Thailand
or by boiling in water, whether or not chilled, frozen, dried, salted or in brine; flours, meals and pellets of crustaceans, fit for human consumption; selain itu juga dalam group HS 1605, yaitu Crustaceans, mollusks and other aquatic invertebrates, prepared or preserved. Namun secara spesifik, udang (shrimp and prawn) segar maupun olahan jatuh pada nomor HS sebagai berikut:
Kode HS Udang (shrimp/prawn)
No Kode HS Deskripsi
Grup HS 0306
1 0306.16.00 Coldwater shrimps and prawns (Pandalus spp., Crangon crangon) 0306.17 Other shrimps and prawns:
2 0306.17.10 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 3 0306.17.20 White leg shrimps (Liptopenaeus vannamei) 4 0306.17.30 Giant river prawns (Macrobrachium rosenbergii)
0306.26 Coldwater shrimps and prawns (Pandalus spp., Crangon crangon): 5 0306.26.10 Breeding 6 0306.26.20 Other, live 7 0306.26.30 Fresh or chilled - - - Dried: 8 0306.26.41 In airtight containers 9 0306.26.49 Other - - - Other: 10 0306.26.91 In airtight containers 11 0306.26.99 Other
0306.27 Other shrimps and prawns: - - - Breeding:
12 0306.27.11 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 13 0306.27.12 White leg shrimps (Litopenaeus vannamei) 14 0306.27.19 Other
- - - Other, live:
15 0306.27.21 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 16 0306.27.22 White leg shrimps (Litopenaeus vannamei) 17 0306.27.29 Other
--- Dried
18 0306.27.41 In Airtight containers 19 0306.27.49 Other
Grup HS 1605 - Shrimps and prawns:
1605.21 - - Not in airtight container: 20 1605.21.10 - - - Shrimp paste
21 1605.21.90 - - - Other
1605.29 - - Other:
22 1605.29.10 - - - Shrimp paste 23 1605.29.90 - - - Other
Sumber: Information and Communication Technology Center with Cooperation of the Customs Department
Dapat dilihat dari data diatas bahwa udang dan olahannya banyak masuk ke dalam grup HS 0306, sedangkan pada grup 1605, hanya terdapat 6 grup HS yang merupakan produk olahan dari udang.
1. Ekspor
a. Ekspor Thailand ke Dunia
Thailand merupakan salah satu eksporter udang terbesar di dunia. Secara general pada kode HS 0306, Thailand mengekspor udang senilai US$1,020.2 Juta (103,475.72 Ton) di tahun 2013 dan menurun sebesar 33.39% dari tahun 2012 senilai US$ 1,531.5 Juta (191,605.89 Ton). sedangkan pada kode HS 1605 ekspor Thailand ke Dunia pada tahun 2013 senilai US$ 32.8 Juta (9,949.38 Ton), meningkat sebesar 30.16% dari tahun sebelumnya senilai US$25.2 Juta (10,094.95 Ton). Penurunan pada grup HS 0306 adalah disebabkan penurunan produksi udang Thailand pada Tahun 2013 dikarenakan penyakit Early Mortality Syndrome (EMS).
Pada tahun 2013, 10 Negara tujuan ekspor terbesar Thailand untuk kode HS 0306 adalah Amerika, Jepang, Inggris, Hongkong, Korea Selatan, Kanada, Australia, Cina, Vietnam, dan Taiwan; Sedangkan untuk grup kode HS 1605, 10 negara tujuan ekspor terbesar Thailand adalah Amerika, Jepang, Inggris, Kanada, Jerman, Australia, Italia, Korea Selatan, Hongkong dan Selandia Baru
Secara spesifik dengan kode HS 8 digit, ekspor udang Thailand ke dunia adalah sebagai berikut:
No Kode HS 2012 2013
Kuantitas (KG) Nilai (US$) Kuantitas (KG) Nilai (US$) 1 03061600 1,064,339.00 18,400,000.00 1,149,867.00 21,500,000.00 2 03061710 5,881,768.00 63,000,000.00 4,704,023.00 52,200,000.00 3 03061720 153,571,622.00 1,251,500,000.00 78,578,778.00 805,400,000.00 4 03061730 2,477,260.00 24,100,000.00 1,800,621.00 16,700,000.00 5 03062610 2,797.00 120,225.00 0.00 0.00 6 03062620 12,475.00 126,198.00 1,997.00 40,366.00 7 03062630 759,464.00 2,800,000.00 36,921.00 500,000.00 8 03062641 65,937.00 400,000.00 27,310.00 128,315.00 9 03062649 153,812.00 1,200,000.00 162,101.00 1,700,000.00
No Kode HS 2012 2013
Kuantitas (KG) Nilai (US$) Kuantitas (KG) Nilai (US$)
14 03062719 4,789.00 13,589.00 5,046.00 53,355.00 15 03062721 6,364,393.00 23,800,000.00 6,799,965.00 31,700,000.00 16 03062722 1,040,618 3,237,026 78,741 361,127 17 03062729 417,489.00 600,000.00 60,083.00 500,000.00 18 03062741 19,505.00 300,000.00 137,977.00 2,700,000.00 19 03062749 178,293.00 2,500,000.00 227,923.00 4,400,000.00 20 16052110 3,428,273.00 32,S900,000.00 333,214.00 2,300,000.00 21 16052190 144,960,401.00 1,430,838,198.00 99,823,090.00 1,152,545,016.00 22 16052910 366,079.00 1,455,250.00 66,916.00 386,251.00 23 16052990 17,027,258.00 158,900,000.00 13,289,474.00 141,600,000.00
Sumber: Information and Communication Technology Center with Cooperation of the Customs Department
Dari data diatas dapat dilihat bahwa ekspor Thailand terbesar adalah:
1. Kode HS 16052190 (other) dimana pada tahun 2013 senilai US$1,152.5 juta yang
merupakan penurunan sebesar 24.15% dibandingkan tahun sebelumnya senilai
US$1,430.9. Dalam group kode HS ini, dapat dijabarkan dalam 10 digit kode
menjadi:
- 16052190001 Giant black tiger prawn, not in airtight containers
- 16052190002 Giant freshwater prawn, not in airtight containers
- 16052190003 White Shrimp (p.vannamei), not in airtight containers
- 16052190090 Other shrimps and prawn, not in airtight containers
2. Kode HS 03061720 (Whiteleg shrimp/liptopenaeus vannamei) dengan ekspor pada
tahun 2013 senilai US$805.4 Juta menurun sebesar 55.4% dari tahun 2012 senilai
US$1,251.5 juta.
3. Kode HS 16052990 (others) , dimana pada tahun 2013 ekspor Thailand ke dunia
senilai US$141.6 juta yang juga merupakan penurunan dari tahun sebelumnya
sebesar 12.2% dari ekspor senilai US$158.9 juta di tahun 2012. Dengan 10 digit,
grup kode HS ini dijabarkan sebagai berikut:
- 16052990001 Giant black tiger prawn, in airtight containers
- 16052990002 Giant freshwater prawn, in airtight containers
- 16052990003 White Shrimp (p.vannamei), in airtight containers
- 16052990090 Other shrimps and prawn, in airtight containers
4. Kode HS 03061710 (
Giant tiger prawns (Penaeus monodon) mengalami penurunan
ekspor sebesar 17.14% dari tahun 2012 senilai US$62 Juta menjadi uS$52.2 Juta di
tahun 2013.
5. Kode HS 03062721 (
Giant tiger prawns (Penaeus monodon)-Live) pada tahun 2013 nilai
ekspor yaitu US$31.7 Juta yang merupakan hasi peningkatan sebesar 33.19% dari
tahun 2012 senilai US$ 23.8 Juta.
b. Ekspor Thailand ke Indonesia
Secara general pada group kode HS 0306, Thailand mengekspor ke Indonesia senilai
US$645 pada tahun 2013, merupakan penurunan besar dari tahun 2012 sebesar 92.99%
dimana Thailand masih mengekspor senilai US$9,211. Kemudian untuk grup kode HS
1605, pada tahun 2013 Thailand mengekspor senilai US$18,678 yang juga merupakan
penurunan sebesar 96.42% dari US$521,018 pada tahun 2012.
Produk Udang dan Olahannya yang di ekspor ke Indonesia adalah:
No Kode HS Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah (Kg) Nilai (USD) Jumlah (Kg) Nilai (USD)
1 16052990 (Others) 764 12,009 1,182 14,181
1605.29.90.001 (Giant Black Tiger Prawn, in airtight Containers) 0 0 0 0 1605.29.90.002 (Giant Freshwater prawn, in airtight containers) 0 0 0 0 1605.29.90.003 (White Shrimp (p.vannamei), in airtight containers) 763 12,007 182 3,132 1605.29.90.090 (Other shrimps and prawn, in airtight containers)
1 2 1,000 11,049
2 16052110 (Shrimp Paste) 0 0 288 1,365
3 03062729 (Other) 0 0 2 60
Berdasarkan data diatas bahwa ekspor Thailand ke Indonesia hanya dalam jumlah kecil
dimana nilai terbesar ada pada kode HS 1605.29.90 yaitu masuk dalam deskripsi
“others” yang mengalami peningkatan sebesar 18.08% dari tahun 2012 senilai
US$12,009 menjadi US$14,181 pada tahun 2013. Sedangkan produk ekspor Thailand ke
Indonesia yang jatuh pada grup HS tersebut adalah dalam bentuk White Shrimp
(p.vannamei), in airtight containers dan Other shrimps and prawn, in airtight containers.
Sedangkan peningkatan signifikan terdapat pada kode HS 16052110 (shrimp paste)
dimana pada tahun 2012 Indonesia belum mengimpor shrimp paste, dan pada tahun
2013 Indonesia mengimpor senilai US$1,365.
2. Impor
a. Impor Thailand dari Dunia
Walaupun Thailand merupakan salah satu eksportir terbesar untuk udang dan
olahannya di dunia, namun untuk memenuhi permintaan domestik, industry produk
olahan udang dan re-ekspor, Thailand tetap mengimpor beberapa jenis udang dari
Dunia. Secara general impor Thailand pada kode HS 0306 (Frozen) pda tahun 2013
senilai US$127,034,861 meningkat sebesar 38.28% dari tahun 2012 senilai
US$91,869,576. Namun untuk produk dalam kode HS 1605 (Crustaceans, mollusks and
other aquatic invertebrates, prepared or preserved) Thailand mengimpor dari Dunia
pada tahun 2013 senilai US$32,785,056 yang merupakan penurunan sebesar 30.22%
dari tahun 2012 senilai US$25,175,669.
Pada tahun 2013, 10 negara asal impor Thailand untuk kode HS 0306 adalah India,
Argentina, Kanada, Pakistan, Myanmar, Amerika, Vietnam, Australia, Ekuador,Malaysia;
Indonesia berada pada urutan ke 32 pada impor Thailand untuk kode HS 0306 ini.
Sedangkan untuk grup kode HS 1605 adalah Cina, Selandia Baru, Chili, Amerika,
Vietnam, India, Indonesia, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.
Sedangkan impor Thailand pada komoditi udang dan olahannya berdasarkan grup kode
HS 8 digit adalah sebagai berikut:
No Kode HS 2012 2013
Kuantitas (KG) Nilai (US$) Kuantitas (KG) Nilai (US$) 1 03061600 3,088,052 20,807,523 1,714,658 9,915,220 2 03061710 112,682 972,195 195,174 2,570,183 3 03061720 1,166,753 10,774,320 5,504,893 50,623,146 4 03061730 10,986 149,111 45,031 194,178 5 03062610 0 0 0 0 6 03062620 0 0 5 141 7 03062630 5,013 112,908 3,263 87,100 8 03062641 0 0 0 0 9 03062649 114 1,730 309 4,077 10 03062691 0 0 0 0 11 03062699 72,190 57,566 0 0 12 03062711 42 3,308 638 51,602 13 03062712 170 17,319 530 695,509 14 03062719 53,856 701,041 90,881 1,234,683 15 03062721 34 11,898 226 103,218 16 03062722 0 0 26 132 17 03062729 19,625 110,837 621 16,331 18 03062741 3,000 1,950 0 0 19 03062749 204,366 419,722 239,987 984,509 20 16052110 6,625,353 1,069,031 2,828,763 522,071 21 16052190 788,943 7,088,572 623,249 4,762,058 22 16052910 1,445 8,230 1 11 23 16052990 110,133 570,878 73,467 429,411
Sumber: Information and Communication Technology Center with Cooperation of the Customs Department
Dari ke 23 grup kode HS, impor terbesar Thailand dari Dunia adalah:
1. Kode HS 03061720 (White leg Shrimps/Liptopenaeus vannamei), pada tahun 2013,
Thailand impor senilai US$50.6 juta meningkat sebesar 369.85% dari tahun 2012
senilai US$10.78 Juta.
2. Kode HS 03061600 (
Coldwater shrimps and prawns (Pandalus spp., Crangon crangon) pada tahun 2012 senilai US$20.81 Juta, menurun 52.35% menjadi hanya US$9.92 Juta di tahun3. Kode HS 16052190 (Shrimp Paste) menurun sebesar 32.8% dari tahun 2012 senilai
US$7.09 Juta menjadi US$4.76 Juta di tahun 2013.
4.
Kode HS 03061710 (Giant tiger prawns (Penaeus monodon)) yang mengalami peningkatan 164.4% dari tahun 2012 senilai US$972,195 menjadi US$2.57 juta di tahun 2013.5. Kode HS 03062719 (Other) pada tahun 2012 senilai US$701,401 meningkat 76.12%
menjadi US$1.23 Juta pada tahun 2013.
b. Impor Thailand dari Indonesia
Secara general, Thailand mengimpor dari Indonesia dalam kode HS 0306 pada tahun
2013 senilai US$93,001 yang merupakan penurunan dari sebesar 81.87 % dari tahun
2012 senilai US$513,029; sedangkan untuk kode HS 1605, impor Thailand dari Indonesia
pada tahun 2013 senilai US$511,542 merupakan penurunan sebesar 54.2% dari tahun
2012 senilai US$1,116,915.
Sedangkan secara khusus untuk produk udang dan olahannya dalam kode HS 8 Digit,
Thailand mengimpor dari Indonesia sebagai berikut:
No Kode HS Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah (Kg) Nilai (USD) Jumlah (Kg) Nilai (USD) 1 16052110 (Shrimp Paste) 6,625,350 1,068,038 2,804,504 477,180
2 16052190 (Other) - 109 2,400 12,892
1605.21.90.001 (Giant Black Tiger Prawn, not in airtight Containers)
0 0 0 0
1605.21.90.002 (Giant Freshwater prawn, not in airtight containers) 0 0 0 0 1605.21.90.003 (White Shrimp (p.vannamei), not in airtight containers) 0 0 0 0 1605.21.90.090 (Other shrimps and prawn, not in airtight containers)
- 109 2,400 12,892
3 03062729 (Other) 8 173 4 69
4 16052990 (Other) 1 30 2 63
Sumber: Information and Communication Technology Center with Cooperation of the Customs Department
Berdasarkan data diatas, impor Thailand dari Indonesia terbanyak adalah pada Shrimp
Paste (HS 16052110) yang mengalami penurunan sebesar 55.32% dari tahun 2012
sebesar US$1,068,038 menjadi hanya US$477,180 pada tahun 2013. Kemudian impor
terbesar kedua Thailand dari Indonesia pada thaun 2013 adalah kode HS 16052190;
dimana pada kode HS yang lebih spesifik menunjukkan impor Thailand pada produk
Other shrimps and prawn, not in airtight containers (HS1605.21.90.90) mengalami
peningkatan signifikan sebesar 11,727.52% dari tahun 2012 Thailand mengimpor senilai
US$109 menjadi senilai US$12,892 di tahun 2013.
BAB III
INFORMASI PASAR THAILAND
A. KECENDERUNGAN PASAR THAILAND
Thailand merupakan salah satu negara pengkonsumsi udang dan produk olahannya
terbesar di Dunia. Selain sebagai salah satu produsen dan eksporter udang, Thailand
masih mengimpor udang karena besarnya permintaan pada konsumsi udang di Thailand
untuk restauran, hotel, atau untuk proses produksi makanan olahan udang. Budaya
penggunaan udang maupun olahannya di Thailand sangatlah bergantung pada budaya
masakan Thailand yang banyak menggunakan udang, seperti pada salah satu masakan
Thailand yang populer, yaitu Tom Yum Kung, yang merupakan salah satu ikon masakan
Thailand yang banyak dikenal Dunia.
Jenis udang yang banyak beredar di Thailand seperti pada restauran dan hotel adalah
Macrobrchium, distribusi dari jenis udang ini lebih banyak masuk ke restauran atau
hotel dibandingkan sebagai konsumsi rumah tangga. Produk udang di Thailand di
distribusikan dalam 3 jenis yaitu hidup, segar, dan beku. Terdapat banyak restauran
yang menawarkan dan mengkhususkan diri pada udang hidup, namun lebih banyak yang
menggunakan dalam bentuk segar.
Pada tahun 2012 hingga akhir tahun 2013, produksi udang Thailand khususnya untuk
species vannamei menurun dikarenakan Early Mortality Syndrome (EMS), namun
Indonesia tidak terkena dampak dari wabah EMS. Hal ini menyebabkan harga udang di
pasar internasional untuk meningkat, walaupun tidak terdapat peningkatan pada
permintaan dari pasar tradisional. Peningkatan harga untuk black tiger shrimp lebih
tinggi dari vannamei shrimp karena negara – negara produsen udang seperti India dan
Vietnam beralih untuk meningkatkan produksinya pada udang vannamei.
Walaupun wabah EMS di Thailand telah terselesaikan, namun banyak peternak udang di
Thailand mengurangi kepadatan stok udang untuk menghindari terjadinya kembali
wabah EMS.
B. DISTRIBUSI UDANG DAN PRODUK OLAHANNYA
Dalam rantai distribusi udang di Thailand secara umum untuk ekspor dan konsumsi
domestik yaitu sebagai berikut:
Namun, secara spesifik untuk industri Udang di Thailand, memiliki rantai distribusi
sebagai berikut:
Sedangkan untuk udang dan produk olahannya yang diimpor biasanya masuk dari tahap
international Wholesaler & Retailers & Specialty Shops yang selain terdiri dari eksportir
namun juga importir untuk produk yang akan masuk ke Thailand maupun untuk di
re-ekspor ke negara lainnya.
Untuk konsumsi domestik di Thailand, mayoritas udang masuk ke pasar tradisional
maupun department store dalam bentuk bahan mentah dari udang yang dibekukan
maupun segar sebagai berikut:
C. PROSPEK UDANG DAN PRODUK OLAHANNYA ASAL INDONESIA DI THAILAND
Pengembangbiakan udang pertama di Indonesia adalah di daerha Paotere ujung
pandang, sedangkan pengembangbiakan udang swasta pertama adalah di Bandengan,
Jepara setelah teknik eyestalk ablation berhasil dikembangkan. Seiring dengan
peningkatan permintaan udang, jumlah tambak udang di Indonesia semakin meningkat,
walaupun banyak dari distribusi dari hasil tambak tersebut masih dalam lingkup daerah
local. Mayoritas dari tambak di Indonesia merupakan modifikasi sistem dari jeapng dan
Galveston. Masalah yang hingga saat ini masih dihadapi oleh tambak di Indonesia yang
banyak mempengaruhi kapasitas produksi udang di Indonesia adalah penyakit,
ketersediaan induk ketersediaan makanan alami, pekerja terampil dan pengembangan
pasar.
Namun, walaupun demikian, produk udang dan olahannya dari Indonesia memiliki
banyak potensi untuk memasuki pasar udang di Thailand karena jenis udang dan produk
udang olahannya dari Indonesia memilki lebih banyak variets dari Thailand. Selain itu,
produksi udang di Thailand rentan dengan penyakit, karena keadaan geografis Thailand
yang menyebabkan wabah penyakit udang seperti EMS cepat menyebar, sedangkan
untuk Indonesia daerah penambakan udang dan penangkapan udang tersebar di
seluruh kepulauan Indonesia, sehingga wabah penyakit EMS sulit menyebar.
Sehingga produksi udang di Indonesia lebih konstan dibandingkan dengan Thailand,
walaupun optimalisasi produksi di Indonesia masih lebih sedikit dari Thailand, namun
dengan peningkatan teknologi dan peningkatan investasi pada produksi udang di
Indonesia serta pengolahan lebih lanjut dari bahan baku udang tersebut dapat
meningkatkan kelemahan Indonesia dalam kapasitas produksi.
Keadaan geografis dan iklim Indonesia yang mendukung perkembang biakan udang, selain itu Indonesia memiliki berbagai varietas pada jenis hasil oalahan udang yang dapat meningkatkan nilai tambah pada produk udang. Peningkatan investasi pada teknologi dan usaha peningkatan
Ekspor Indonesia ke Dunia
No Nomor HS Deskripsi HS 2012 2013 Perubahan
Nilai (US$)
Kuantitas (KG)
Nilai (US$) Kuantitas (KG)
Nilai (%)
Kuantit as (%) 1 306160000 Cold water shrimps and
prawns, frozen
53,994, 138
5,388,950 38,306,120 3,475,701 -29.06 -35.50 2 306171010 Giant tiger prawns with
head, frozen
21,655, 315
1,854,566 21,962,125 1,799,681 1.42 -2.96 3 306171020 Giant tiger prawns
headless, frozen, fit
57,121, 577
4,175,288 91,054,808 5,949,874 59.41 42.50 4 306171090 Other giant tiger
prawns, frozen, fit
229,259 ,735
22,233,239 271,467,567 24,436,253 18.41 9.91 5 306172010 Whiteleg shrimps with
head, frozen,
1,778,1 35
595,925 926,310 162,324 -47.91 -72.76 6 306172020 Whiteleg shrimps
headless with tail,
262,827 ,310
32,367,833 283,338,830 26,641,395 7.80 -17.69 7 306172030 Whiteleg shrimps
headless without tail,
83,359, 854
9,790,317 98,915,586 8,851,939 18.66 -9.58 8 306172090 Other whiteleg shrimps,
frozen,
172,969 ,989
25,356,501 304,162,235 31,976,049 75.85 26.11 9 306173000 Giant river prawns,
frozen,
323,403 33,715 1,015,477 84,598 214 150.92 10 306179000 Other shrimps and
prawns, frozzen, 87,276, 999 8,317,133 108,385,242 9,954,968 24.19 19.69 21 16052110 Shrimps paste,not in airtight containers 74,285, 612 13,478,066 98,804,646 9,822,537 33.01 -27.12 22 16052190 Shrimp breaded, other
prepared shrimps & prawn in airtight containers 161,595 ,358 17,920,140 201,922,852 19,771,721 24.96 10.33 23 16052910 Shrimps paste, in airtight containers 4,545,1 76 617,122 23,412,735 2,061,556 415.1 234.06 24 16052990 Shrimp breaded, other
prepared shrimps & prawn in airtight containers
12,709, 627
1,972,465 24,425,755 1,965,148 92.18 -0.37
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia
Berdasarkan data ekspor udang dan olahannya diatas dapat dilihat bahwa Indonesia dan
Thailand memiliki kemiripan dalam beberapa kode HS untuk produk ekspornya namun
Indonesia memiliki varietas, namun dapat dilihat dari mayoritas ekspor Indonesia ke
Dunia mengalami peningkatan signifikan, sehingga hal ini menunjukkan stabilitas
potensi ekspor Indonesia untuk produk udang dan olahannya.
BAB IV
INFORMASI PERDAGANGAN
A. KEBIJAKAN
Tarif dalam AFTA (Asean Free Trade Agrement)
AFTA diluncurkan pada tahun 1992 untuk menghapuskan tarif dan mengintegrasikan negara anggota menjadi basis produksi tunggal dan pasar regional dari 550 juta orang. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Tarif dikurangi menjadi 0-5% pada tahun 2003 untuk ASEAN 6 (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei) dan akan dihilangkan pada tahun 2015 untuk semua anggota ASEAN (Kamboja, Myanmar, Laos dan Vietnam). Karena tarif lebih dari 99% dari barang yang diperdagangkan gratis atau dikenakan bea maksimum hanya 5%, perdagangan di semua negara ASEAN sudah bisa dikatakan relatif bebas.
Beberapa produk dikategorikan dalam General Exception yaitu produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA, karena alasan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Produk-produk dalam kelompok tersebut antara lain senjata dan amunisi, obat terlarang dan benda purbakala.
Tarif impor untuk produk udang dan olahannya berdasarkan AFTA untuk kode HS 1605 dan 0306 adalah 0%, dimana produk tersebut yang masuk ke Thailand tidak dikenai pajak impor.
B. PROSEDUR IMPOR
Prosedur impor barang secara umum di Thailand adalah ketika barang tiba di Thailand, importir diwajibkan untuk mengajukan Deklarasi Barang dan dokumen pendukung impor kepada petugas Bea Cukai di pelabuhan masuk. Kargo impor secara hukum tidak diperbolehkan memasuki Thailand sampai setelah pengiriman barang masuk dan telah disahkan oleh Bea Cukai, dan pajak yang berlaku dan bea
mendapatkan izin untuk memfasilitasi clearance impor. Beberapa barang memerlukan izin, dan izin lembaga penerbitan yang relevan harus dihubungi sebelum melakukan importasi.
Prosedur impor barang di Thailand secara lengkap dan detail dapat dilihat di website Custom Department.
Gb. 4.1 Prosedur Importasi di Thailand
Sumber: Thai Custom Department
C. Standar Kualitas untuk Perdagangan Produk Kelautan di Thailand
Untuk produk makanan yang masuk ke Thailand diatur oleh The Food Act tahun 1979 yang mengatur dan melindungi konsumen dari dampak yang membahayakan kesehatan dari konsumsi makanan. Tanggung jawab dari keamanan makanan dibagi dalam berbagai institusi dan kementerian, termasuk Food and Drug Administration (FDA) pada Ministry of Public Health. Untuk udang dan produk olahannya yang masuk dalam produk fish and fishery product memerlukan Fish Inspection and Quality Control Division dalam Department of Fisheries (DOF) yang bertanggung jawab untuk mengontrol kualitas, penanganan pasca panen dan pengembangan pengolahan lebih lanjut. DOF mengoperasikan inspeksi produk kelautan
berbasis HACCP dan program pengontrolan yang melibatkan pengaturan dari bahan baku hingga produk akhir. The Fish Inspection and Control Program sertifikat untuk persetujuan prosesor yang fasilitas dan produknya memenuhi persyaratan keamanan dan kualitas internasional. Fisheries Act memberdayakan MAC untuk membuat pengumuman yang mewajibkan seluruh pihak yang terlibat dalam penangkapan ikan atau perdagangan produk perikanan untuk terdaftar dan mengajukan ijin sebelum melakukan kegiatan perdagangan terkait produk kelautan. Terdapat pengumuman terkait kondisi dan pedoman untuk pengolahan produk kelautan di Thailand.
BAB V
STRATEGI DAN REKOMENDASI INFILTRASI PASAR UDANG DAN OLAHANNYA DI PASAR THAILAND
Berdasarkan analisa dari data ekspor dan Impor Udang serta produk olahnnya, walaupun Indonesia dan Thailand merupakan negara produsen dan eksportir komoditi tersebut, namun dengan potensi dan peningkatan teknologi penangkapan udang dan pengembangbiakan udang yang ramah lingkingan, ekspor produk udang dan olahannya ke pasar Thailand dapat lebih ditingkatkan dengan rekomendasi strategi yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Media link and match yang dapat menghubungkan kebutuhan Thailand dan suplai dari Indonesia
b. Survey pasar
- Mencari alternatif pasar baru di Thailand yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi - Menentukan target pasar udang untuk menyesuaikan jenis udang dan olahannya yang
lebih sesuai dari jenis udang yang dapat diproduksi di Indonesia. c. Promosi
- Berpartipasi dalam pameran terkait seafood atau produk makanan di Thailand.
- Melakukan promosi yang menonjolkan kualitas dan variasi udang serta olahannya dari Indonesia.
d. Proaktif dengan Perwakilan Dagang Luar Negeri.
e. Menjalin kerjasama yang baik dengan asosiasi setempat. f. Produk
- Menjaga harga untuk tetap kompetitif dengan tetap mengedepankan kualitas
- Meningkatkan value added dari olahan udang serta variasinya untuk dapat memperkenalkan jenis produksi olahan udang baru di Thailand untuk bersaing di luar pasar udang yang telah jenuh.
BAB VI
INFORMASI PENTING
A. ASOSIASI
The Thai Shrimp Association (TSA)
TSA merupakan asosiasi sebagai wadah untuk berkolaborasi dalam berdiskusi maupun bekerjasama dalam bidang produk udang dan olahnnya di Thailand dengan tujuan untuk mengembangkan industri udang di Thailand.
Alamat : 193/43 Lake Rajada Office Complex, 12th Floor, Ratchadapisek Road Klongtoey, Bangkok 10110 Telepon : +66266182136 Fax : +6626618196 Email : [email protected] Website : www.thaishrimp.org B. INSTANSI TERKAIT Bea Cukai
The Custom Department – Ministry of Finance Thailand Suntornkosa Road, Klong Toey Bangkok 10110
Tel: +66 2249-4339, +66 2249-1122’ +66 2249-1431 Fax: +66 2249-4097
C. PERWAKILAN PERDAGANGAN
1. Kedutaan Besar Kerajaan Thailand di Indonesia
Tel. (62-21) 29328190 - 94
VoIP: 520500,520501,520502,520503,520504, 520505,520506,520507 Fax. (62-21) 2932-8199, 2932-8201,2932-8213
www.thaiembassy.org/jakarta/en/ Email. [email protected]
2. Kamar Dagang Thailand
150 Rajbopit Road, Pranakhon District, Bangkok 10200, Thailand Tel. +66(0)2622-1860-75
Fax. +66(0)2622-1879, +66(0)2225-3372 www.thaichamber.org
Email: [email protected]
3. Perwakilan Indonesia di Thailand KBRI Bangkok
600-602 Petchburi Road, Ratchatewi, Bangkok 10400, Thailand Tel. +66 (2) 252.3135
Fax. +66 (2) 255.1267 www.kbri-bangkok.com [email protected]
Kantor Atase Perdagangan Bangkok Tel: +6622523135 ext. 123, 120, dan 178 Fax: +6622551264
Email: [email protected] Konsulat Jenderal Songkhla
19, Sadao Road, Amphur Muang, Songkhla 90000, Thailand Tel. +66 (74) 311-544, 312-219, 441-867
Fax. +66 (74) 441-094 www.indonesiasongkhla.com
D. Pameran Potensial
Pameran potensial yang dapat diikuti untuk mempromosikan produk udang dan
olahannya di Thailand adalah:
- World of Seafood Seafood 2014 (
www.worldofseafood.com
)
Pameran ini didukung dan diadakan bersama THAIFEX
World Food Asia 2014 yang akan dilaksanakan pada
tanggal 21 – 24 Mei 2014 di IMPACT Muangthong Thani.
Pameran ini merupakan platfor untuk business
networking dalam industri seafood, frozen seafood
industry, chilled seafood, fresh seafood, processed seafood, ready-to-eat seafood
dan dried seafood. Penyelenggara dari pameran ini adalah Koelnmesse Pte Ltd.
Bersama dengan Department of International Trade Promotion, Ministry of
Commerce Thailand dan Thai Chamber of Commerce.
Penhunjung untuk pameran ini adalah dari perhotelan, restauran dan bar,
supermarket, grocery and convenience stores, department store, catering
makanan, importer, distributor, wholesaler dan retailer, manufaktur makanan,
fast food, jasa makanan, airlines, Clubs and Resorts, Packaging and Distribution
Centers, dan institusi lainnya dari Thailand dan negara – negara lain.
E. Importir Udang dan Perusahaan Manufaktur Processed Seafood Thailand
S.L. Intermarine
Alamat : 55/155 M.6 T, Tsrai E. Muang, Samutsakon 74000 – Thailand
Telepon/Fax : +6634815707
Email :
[email protected]
Omoshiroi (Thailand) Co., Ltd
Email :
[email protected]
Website :
www.omoshiroitrade.com
SPK Frozen Product Co., Ltd
Alamat : 22 Ramintra 58, Juntion 3-8, Ramintra Rd., Kanayao, Bangkok
10230 – Thailand
Telepon/Fax : +6629449034
Email :
[email protected]
Golden Frozenfoods Co., Ltd
Alamat
: 1277 Vichienchodok Rd., Mahachai, Samutsakon 74000 – Thailand
Telepon
: +6634820 841 – 2
Fax
: +66 34820 695 – 6
:
[email protected]
Website
:
www.goldenseafrozenfoods.com
PT. Foods Processing Co., Ltd
Alamat
: 148 Mu 5 T. Thasai Mueng Samutsakorn Samutsakorn Province
74000
Telepon
: +66 26723 990 - 2
Fax
: +66 26 72 399 - 3
:
[email protected]
Website
:
www.pitisakol.co.th
LAMPIRAN
Kode HS Udang pada Kelompok HS 0306 serta Deskripsinya
No Kode HS Deskripsi
1 03.06 Crustaceans, whether in shell or not, live, fresh, chilled, frozen, dried, salted or in brine; smoked crustaceans, whether in shell or not, whether or not cooked before or during the smoking process; crustaceans, in shell, cooked by steaming or by boiling in water, whether or not chilled, frozen, dried, salted or in brine; flours, meals and pellets of crustaceans, fit for human consumption.
---Frozen:
3 0306.11.00 Rock lobster and other sea crawfish (Palinurus spp., Panulirus spp., Jasus spp.) 4 0306.12.00 Lobsters (Homarus spp.)
5 0306.14 Crabs:
6 0306.14.10 Soft shell crabs 7 0306.14.90 Other
8 0306.15.00 Norway lobsters (Nephrops norvegicus)
9 0306.16.00 Coldwater shrimps and prawns (Pandalus spp., Crangon crangon) 10 0306.17 Other shrimps and prawns:
11 0306.17.10 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 12 0306.17.20 White leg shrimps (Liptopenaeus vannamei) 13 0306.17.30 Giant river prawns (Macrobrachium rosenbergii) 14 0306.17.90 Other
15 0306.19.00 Other, including flours, meals and pellets of crustaceans, fit for human consumption
---Not frozen:
16 0306.21 Rock lobster and other sea crawfish (Palinurus spp., Panulirus spp., Jasus spp.): 17 0306.21.10 Breeding 18 0306.21.20 Other, live 19 0306.21.30 Fresh or chilled - - - Other: 20 0306.21.91 In airtight containers 21 0306.21.99 Other 22 0306.22 Lobsters (Homarus spp.): 23 0306.22.10 Breeding 24 0306.22.20 Other, live 25 0306.22.30 Fresh or chilled
No Kode HS Deskripsi 28 0306.24 Crabs: 29 0306.24.10 Live 30 0306.24.20 Fresh or chilled - - - Other: 31 0306.24.91 In airtight containers 32 0306.24.99 Other
33 0306.25.00 Norway lobsters (Nephrops norvegicus)
34 0306.26 Coldwater shrimps and prawns (Pandalus spp., Crangon crangon): 35 0306.26.10 Breeding 36 0306.26.20 Other, live 37 0306.26.30 Fresh or chilled - - - Dried: 38 0306.26.41 In airtight containers 39 0306.26.49 Other - - - Other: 40 0306.26.91 In airtight containers 41 0306.26.99 Other
42 0306.27 Other shrimps and prawns: - - - Breeding:
43 0306.27.11 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 44 0306.27.12 White leg shrimps (Litopenaeus vannamei) 45 0306.27.19 Other
- - - Other, live:
46 0306.27.21 Giant tiger prawns (Penaeus monodon) 47 0306.27.22 White leg shrimps (Litopenaeus vannamei) 48 0306.27.29 Other --- Dried 49 0306.27.41 In Airtight containers 50 0306.27.49 Other --- Other 51 0306.27.91 In airtight containers 52 0306.27.99 Other
53 0306.29 Other, including flours, meals and pellets of crustaceans, fit for human consumption
54 0306.29.10 Live
55 0306.29.20 Fresh or chilled
56 0306.29.30 Flours, meals and pellets --- Other
No Kode HS Deskripsi 58 0306.29.99 Other
Kode HS Udang pada Kelompok HS 1605 serta Deskripsinya
No Kode HS Deskripsi
1 16.05 Crustaceans, mollusks and other aquatic invertebrates prepared or preserved. 2 1605.10 - Crab:
3 1605.10.10 - - In airtight containers 4 1605.10.90 - - Other
- Shrimps and prawns: 5 1605.21 - - Not in airtight container: 6 1605.21.10 - - - Shrimp paste 7 1605.21.90 - - - Other 8 1605.29 - - Other: 9 1605.29.10 - - - Shrimp paste 10 1605.29.90 - - - Other 11 1605.30.00 - Lobster 12 1605.40.00 - Other crustaceans - Mollusks : 13 1605.51.00 - - Oysters
14 1605.52.00 - - Scallops, including queen scallops 15 1605.53.00 - - Mussels
16 1605.54.00 - - Cuttle fish and squid 17 1605.55.00 - - Octopus
18 1605.56.00 - - Clams, cockles and ark shells 19 1605.57.00 - - Abalone
20 1605.58.00 - - Snails, other than sea snails 21 1605.59.00 - - Other
- Other aquatic invertebrates : 22 1605.61.00 - - Sea cucumbers
23 1605.62.00 - - Sea urchins 24 1605.63.00 - - Jellyfish 25 1605.69.00 - - Other