8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori
1. Manajemen Proyek
Dalam membuat sebuah poyek, pelaksana proyek harus memahami bagaimana pengelolaan, perencanaan dan pengorganisasian atau dapat disebut sebagai manajemen proyek agar tujuan-tujuan proyek tersebut dapat tercapai serta mendapat hasil yang unik dan spesifik.
Penjadwalan proyek menurut (Haizer & Render, 2017) merupakan tantangan yang sulit bagi manajer operasi. Risiko pada manajemen proyek sangat tinggi. Sehingga, manajer proyek harus menjadi pelatih dan penghubung yang baik, serta mampu untuk mengorganisasi aktivitas-aktvitas dari berbagai disiplin. Terjadinya keterlambatan dan kelebihan biaya yang tidak diperlukan karena adanya pengendalian dan penjadwalan yang buruk. Proyek menghabiskan waktu bulanan hingga tahunan selesai biasanya dikembangkan. Organisasi proyek pada perusahaan dapat dibentuk untuk menangani pekerjaan semacam itu dan sering dibubarkan saat proyek selesai. Pada situasi lain manager memandang proyek sekedar sebagai bagian dari pekerjaan mereka.
Menurut (Haizer & Render, 2017) manajemen proyek meliputi tiga fase yaitu:
a. Perencanaan. Fase ini meliputi penentuan sebuah tujuan, menggambarkan proyek yang direncanakan, dan pengorganisasian tim.
b. Penentuan Jadwal. Fase ini menghubungkan orang, uang dan pasokan untuk aktivitas khusus dan menghubungkan setiap aktivitas satu dengan aktivitas lain.
c. Pengendalian. Disini perusahaan mengawasi sumber daya, biaya, kualitas dan anggaran. Perusahaan juga merevisi atau mengubah rencana dan menggeser atau mengelola kembali sumber daya agar dapat memenuhi kebutuhan waktu dan biaya.
Tujuan diadakannya proyek adalah mewujudkan gagasan yang timbul dari naluri manusia (seseorang, badan atau organisasi). Dengan demikian suatu proyek mempunyai sifat dan ciri khas yang berbeda dengan aktivitas lainnya. Menurut Mahendra (2010:12) suatu proyek biasanya bersifat: ciri khasnya menonjol, siklus kehidupannya khas, peranan manajer proyek dominan, peranan manajer proyek dominan dan adanya upaya pendekatan sistematis yang menguntungkan atau positif. Bidang utama manajemen proyek yaitu:
a. Memahami sifat dan ciri khas proyek.
b. Memahami rencana dan tujuan proyek yang paling khusus, paling rawan, dan paling kritis, agar dapat mengantisipasi lebih dini dan tepat.
c. Merencanakan pelaksanaan proyek.
d. Menentukan penggunaan peralatan sesuai kebutuhan.
f. Memahami dan mengembangkan kualitas pribadi seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang manajer proyek.
g. Mamahami dan melaksanakan peran manajer proyek, (Rakadhipa, 2013).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya keterlambatan dan kelebihan biaya yang tidak diperlukan pada suatu proyek disebabkan karena manajemen proyek yang buruk. Maka. Manajer proyek harus memperbaiki manajemen proyek nya agar mencapai tujuan tujuan proyek serta mendapatkan hasil yang spesifik dan unik. Manajemen Proyek meliputi 3 fase, yaitu: perencanaan, penentuan jadwal dan pengendalian.
2. Penjadwalan
Di dalam proses pembangunan proyek, suatu perusahaan harus mengetahui gambaran mengenai kegiatan produksi yang dilaksanakan agar perusahaan dapat memperkirakan mengenai kebutuhan waktu penyelesaian produksi dan biaya yang dikeluarkan. Untuk mengetahui gambaran kegiatan produksi, maka perusahaan membutuhkan Penjadwalan.
Menurut (Achyari, 2017) penjadwalan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam penentuan waktu dan urutan kegiatan produksi. Karena hanya melalui penjadwalan sebuah proyek dapat direncanakan dan dikoordinasi dengan baik. Dengan adanya penjadwalan maka perusahaan akan mendapatkan gambaran mengenai kegiatan produksi yang dilaksanakan sehingga perusahaan akan dapat
memperkirakan mengenai kebutuhan waktu penyelesaian produksi dan biaya yang dikeluarkan. Dengan begitu perusahaan dapat menghindari sedini mungkin apabila selama proses produksi terjadi penyimpangan dan kesalahan yang muncul serta kegiatan yang tidak sesuai rencana, sehingga dapat mengurangi resiko. Penjadwalan meliputi pembagian waktu dan pengurutan untuk semua aktivitas proyek. Pada penjadwalan uang, orang, dan bahan akan dihubungkan pada masing-masing kegiatan, (Pristiana & Narowi, 2016).
Dari penjelasan diatas, maka diperoleh kesimpulan bahwa Penjadwalan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam penentuan waktu dan urutan kegiatan produksi. Dengan begitu perusahaan dapat menghindari sedini mungkin apabila selama proses produksi terjadi penyimpangan dan kesalahan yang muncul serta kegiatan yang tidak sesuai rencana, sehingga dapat mengurangi resiko.
3. Network Planning
Dalam menyelesaikan suatu proyek, perusahaan harus memiliki penjadwalan dan perencanaan yang tepat. Karena hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari adanya permasalahan yang mungkin akan timbul pada saat proses penyelesaian. Metode yang dapat digunakan untuk mengatasi atau mengindari permasalahan keterlambatan yaitu dengan Network Planning.
Network Planning menurut (Dimyati & Nurjaman, 2014) merupakan suatu pengendalian dan perencanaan proyek yang menggambarkan
hubungan ketergantungan antara kegiatan satu dengan kegiatan lainnya yang telah digambarkan dalam diagram network. Network planning merupakan hubungan yang saling berkaitan antara bagian-bagian kegiatan yang digambarkan dalam bentuk diagram network. Sehingga, dapat diketahui bagian-bagian kegiatan yang harus didahulukan, tambah biaya, kegiatan yang menunggu kegiatan lainnya selesai, serta kegiatan yang pekerjaannya tidak perlu tergesa-gesa sehingga tenaga dan alat dapat digunakan oleh kegiatan lain agar efisien, (Vahlevy et al., 2018).
Menurut (Telaumbanua et al., 2017) manfaat penerapan network planning yaitu:
a. Penggambaran logika hubungan antar aktivitas, perencanaan proyek lebih detail dan rinci.
b. Dengan menghitung dan mengetahui waktu setiap aktivitas, maka masalah-masalah yang timbul dapat diketahui sehingga dapat melakukan pencegahan.
c. Dapat melihat aktivitas yang dapat didahulukan dan ditunda. d. Alat komunikasi yang efektif
e. Memungkinkan mencapai penyelenggaraan proyek yang ekonomis. f. Terdiri dari metode PDM (Activity On Node) dan CPM (Activity On
Arrow).
Dapat disimpulkan bahwa network planning merupakan suatu pengendalian dan perencanaan sebuah proyek yang menggambarkan
hubungan yang saling keterkaitan antara setiap kegiatan satu dengan lainnya yang digambarkan dalam diagram network.
4. Critical Path Method (CPM)
Dalam pembagunan sebuah proyek agar jangka waktu penyelesaian bisa dicapai yaitu dengan cara mengoptimumkan biaya proyek total (total project cost) dan jangka waktu proyek diperpendek (dengan memperpendek salah satu atau beberapa kegiatan dari proyek itu). Cara tersebut merupakan fugsi dari metode Critical Path Method (CPM).
Metode jalur kritis dikembangkan pada tahun 1950- an untuk membantu para manajer melakukan penjadwalan, pemantauan serta pengendalian proyek-proyek besar dan kompleks. Pertama kali CPM muncul pada tahun 1957 sebagai perangkat yang dikembangkan oleh J.E. Kelly dari Remington Rand dan M.R. Walker dari Dupont untuk membantu pemeliharaan dan pembangunan sebuah pabrik kimia yang berlokasi di Dupont, (Haizer & Render, 2017).
Critical Path Method (CPM) merupakan sebuah metode yang pertama kali dibuat oleh Du Pont Company dimana metode ini tidak meniru PERT, akan tetapi kedua metode tersebut memiliki konsep hampir sama. Langkah-langkah penyusunan metode CPM menurut (Widiasanti & Lenggogeni, 2013) sebagai berikut:
a. Menentukan kegiatan-kegiatan. Pada langkah ini dilakukan pengkajian dan identifikasi lingkup proyek, membagi dan menguraikan menjadi kegiatan yang merupakan komponen proyek.
b. Menentukan durasi kegiatan. Durasi merupakan waktu yang diperkirakan untuk menyelesaikan sebuah kegiatan.
c. Menyusun hubungan antar kegiatan. Pada langkah ini disusun kembali komponen-komponen pada butir pertama sesuai logika kebergantungan.
d. Membuat network diagram proyek yang menunjukkan keterkaitan antar kegiatan sehingga jaringan kerja dapat terbentuk menggunakan simbol-simbol dalam perancangannya berdasarkan metode: activity on arrow (AOA).
Tabel 2.1 Simbol yang Digunakan dalam Network Planning Activity
No. Simbol Arti
1. Kegiatan, dalam AOA merupakan anak panah.
2. Node, bentuknya merupakan lingkaran bulat
yang artinya saat peristiwa atau kejadian adalah permulaan atau akhir dari satu atau lebih kegiatan.
3. Double arrow, Anak panah sejajar,
merupakan kegiatan di lintasan kritis (Critical Path)
4. Dummy, Bentuknya merupakan anak panah
putus-putus yang artinya kegiatan semu, yaitu kegiatan yang tidak membutuhkan durasi tertentu.
Sumber: (Widiasanti & Lenggogeni, 2013)
i ES LS i LF EF Kegiatan Durasi
Gambar 2.1 Network Diagram Activity Sumber: (Widiasanti & Lenggogeni, 2013) Keterangan:
1) Kegiatan merupakan rangkaian kegiatan dari awal proyek hingga akhir sebuah proyek yang dimana dituliskan dengan activity A dan seterusnya.
2) Node-i dibutuhkan sebagai awal, dan node-j dibutuhkan sebagai akhir dalam setiap proyek.
3) Durasi merupakan rentang waktu yang diperlukan dalam setiap kegiatan.
4) Earliest Start merupakan waktu tercapai kegiatan dapat dimulai. 5) Earliest Finish merupkan waktu tercapai kegiatan dapat
diselesaikan.
6) Latest Start merupakan waktu terlama kegiatan dapat dimulai. 7) Latest Finish merupakan waktu terlama kegiatan dapat
diselesaikannya.
e. Perhitungan waktu kegiatan menggunakan tahap sebelumnya dimana dilakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur dari penggambaran jaringan kerja, maka dilanjutkan
f. Mengidentifikasi jalur kritis pada network diagram. Dilakukan perhitungan maju dan mundur. Dari kedua perhitungan tersebut maka dapat diidentifikasi jalur kritisnya.
Dengan CPM, jumlah waktu untuk menyelesaikan tahap sebuah proyek diketahui serta waktu yang digunakan untuk menyelesaikan sebuah proyek. Terdapat beberapa rumus-rumus untuk perhitungan proses identifikasi jalur kritis dalam metode CPM, sebagai berikut:
a. TE (Time Earliest) Waktu paling awal dari suatu kejadian terjadi. b. TL (Time Latest) Waktu paling akhir sebuah peristiwa boleh
terjadi.
c. ES (Earlest Start Time) Waktu paling awal sebyah kejadian. d. EF (Earliest Finish Time) Waktu selesai paling awal sebuah
kegiatan.
e. LS (Latest Allowable Start Time) Waktu paling akahir sebuah kegiatan boleh dimulai.
f. LF (Latest Allowable Finish Time) Waktu paling akhir sebuah kegiatan dapat selesai.
g. D (Duration) Waktu sebuah kegiatan yang umumnya menggunakan satuan waktu hari, minggu, bulan, dan lain-lain. h. S (Float) Jangka waktu untuk ukuran batas toleransi keterlambatan
kegiatan, (Pratama & Kartini, 2020).
Maka dapat disimpulkan bahwa, Critical Path Method adalah cara yang dipakai oleh pembangunan proyek untuk meyelesaikan pembangunan tepat waktu dengan memperpendek jangka waktu proyek dan dapat megoptimumkan biaya proyek.
5. Gantt Chart
Gantt chart berguna untuk proyek-proyek dengan anggota tim dengan jumlah yang sedikit. Gantt chart secara luas dikenal sebagai alat fundamental dan mudah diterapkan oleh para manajer proyek untuk memungkinkan seseorang melihat dengan mudah waktu dimulai dan selesainya tugas-tugas dan sub- sub tugas dari proyek. Dikarenakan sederhana, mudah dibuat dan dipahami, sehingga sangat bermanfaat sebagai alat komunikasi dalam penyelenggaraan proyek.
Salah satu metode penjadwalan pekerjaan untuk proyek adalah dengan mengguanakan diagram Gantt (Gantt Chart) penemu metode ini Henry Gantt. Menurut Budi kho (2016) Gantt Chart adalah sejenis grafik batang (Bar Chart) yang digunakan untuk menunjukan Tugas-tugas pada Proyek serta Jadwal dan waktu pelaksanaannya, seperti waktu dimulainya tugas tersebut dan juga batas waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tugas yang bersangkutan. Gantt Chart digunakan untuk penjadwalan sumber daya dan alokasi waktu. Dalam penentuan Gantt Chart, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat kegiatan seperti berikut :
a. Memecahkan proyek menjadi sejumlah kegiatan yang jadwal pelaksanaannya akan ditentukan.
b. Menentukan perkiraan waktu permulaan dan akhir bagi pelaksanaan masing-masing kegiatan.
c. Menggambarkan diagram yang mewakili masing-masing kegiatan yang harus dikerjakan berurutan.
6. Definisi Efisiensi
Setiap perusahaan konstruksi ingin menyelesaikan proyek pembangunan sesuai waktu yang direncanakan. Dalam pembangunan proyek konstruksi apabila menerapkan penjadwalan proyek dapat meningkatkan efisiensi waktu pembangunan proyek tersebut.
Menurut (KBBI, n.d.) efisiensi merupakan sebuah kemampuan yang dapat menjalankan tugasnya dengan tepat dan baik (tidak membuang biaya, tenaga dan waktu). Sedangkan, menurut P. Hasibuan (1984) efisensi merupakan perbandingan antara masukan dengan hasil yang diperoleh dari sumber-sumber yang digunakan.
Efisiensi sering kali dikaitkan dengan penghematan tenaga, biaya, dan waktu. Sehingga efisiensi memiliki tujuan dan manfaat, sebagai berikut:
a. Dapat mencapai hasil yang diharapkan.
b. Menghemat dan mengurangi penggunaan sumber daya. c. Dapat menggunakan sumber daya secara optimal. d. Meningkatkan kinerja sehingga output maksimal.
e. Dapat meningkatlan keuntungan yang didapatkan, (Pengetahuan, 2019)
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa efisiensi merupakan perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan sumber yang digunakan. Semakin sedikit penggunaan sumber daya untuk memperoleh sesuatu yang sudah direncanakan maka dapat diartikan semakin efisien.
7. Pengoptimalan Waktu dan Biaya
Dalam Pelaksanaan pembangunan proyek kontruksi sering mengalami keterlambatan akibat berbagai hal yang menyebabkan terjadinya kerugian materi dan waktu. Oleh karena itu, dilaksanakan optimalisasi sumber daya yang ada khususnya sumber daya biaya dan waktu.
Tujuan mengoptimalkan proyek adalah untuk memperoleh keuntungan yang lebih baik tanpa mengurangi kualitas (mutu) suatu kontruksi. Optimalisasi berasal dari kata dasar optimal yang berarti yang terbaik. Jadi optimalisasi adalah proses pencapaian suatu pekerjaan dengan hasil dan keuntungan yang besar tanpa harus mengurangi mutu dan kualitas dari sutau pekerjaan. Waktu dalam hal ini adalah lamanya suatu rangkaian ketika proses berlangsung, yang merupakan penjabaran perencanaan proyek menjadi urutan langkah-langkah kegiatan untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengertian biaya adalah anggaran yang dalam hal ini merupakan penggunaan dana untuk melaksanakan pekerjaan dalam kurun waktu tertentu, (Pristiana & Narowi, 2016).
Jadi optimalisasi waktu dan biaya bisa adalah usaha pemanfaatan waktu yang relatif singkat dengan biaya yang minimum untuk mencapai suatu pekerjaan dengan hasil dan keuntungan yang baik dengan tetap memperhatikan mutu dan kualitas suatu proyek, sehingga proyek tersebut mampu bersaing dengan proyek lain. Dimana optimalisai waktu dan biaya
bisa dilakukan dengan meminimalisir biaya material proyek serta mempercepat umur proyek sehingga mendapatkan waktu dan biaya yang optimal.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai acuan untuk sebuah penelitian skripsi. Oleh sebab itu, penelitian terdahulu dijadikan sebagai referensi penulis untuk menganalisis dan menulis suatu penelitian. Tujuannya yaitu untuk mengetahui langkah penulis benar atau salah. Beberapa penelitian terdahulu yang dipergunakan peneliti untuk tambahan dan referensi sebagai berikut:
Penelitian Network Planning yang menilai tentang metode Critical Path Method (CPM) dilakukan oleh Ezekiel R. M. Iwawo, Jermias Tjakra, Pingkan A. K. Pratasis (2016) yang berjudul Penerapan metode CPM pada proyek konstruksi (Studi kasus pembangunan gedung baru kompleks Eben Haezar Manado). Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apa sajakah hasil dari penerapan metode CPM dalam penjadwalan waktu dengan menggunakan metode CPM pada Proyek Pembangunan Gedung Baru Kompleks Persekolahan Eben Haezar Teling. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, maka peneliti menggunakan alat analisis Network Planning dengan metode CPM. Dari hasil penelitianya ditemukan bahwa analisis penjadwalan dengan menggunakan metode CPM diperoleh waktu 241 hari untuk menyelesaikan rangkaian aktivitas pekerjaan persiapan, tanah dan struktur dalam pelaksanaan pembangunan gedung gedung baru Kompleks
Persekolahan Eben Haezar Manado. Sedangkan penjadwalan yang sudah direncanakan pihak pelaksana pembangunan proyek gedung baru Kompleks Persekolahan Eben Haezar Manado yaitu 259 hari, (Iwawo et al., 2016)
Penelitian Muhammad Rhino Rakadhipa (2013) yang berjudul Analisis Jaringan Kerja Dengan Critical Path Method (Cpm) Pembangunan Rumah Type 36 Pada Pt. Arisko Di Sambutan Samarinda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui optimal 55 hari kerja waktu pembangunan rumah type 36 yang dibangun oleh PT. Arisko di Sambutan Samarinda. Dalam penelitian, metode yang digunakan untuk menganalisis yaitu metode Critical Path Method (CPM). Hasil dari penelitiannya menujukkan perencanaan waktu proyek pembangunan sudah cukup efisien. Hal ini diperoleh dari peluang tercapainya target waktu penyelesaian proyek yang diharapkan oleh perusahaan yaitu 55 hari menjadi 54 hari kerja dengan penambahan biaya sebesar Rp. 8.890.000. Hasil perhitungan CPM menunjukkan umur proyek yang lebih pendek 1 hari yaitu 54 hari kerja, (Rakadhipa, 2013).
Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lilyana (2020) yang berjudul Analisis Network Planning dengan Critical Path Method (CPM) Dalam Rangka Efisiensi Waktu dan Biaya Proyek Pembangunan Rumah Minimalis (Studi Kasus: Property Group Medan). Tujuan penelitian tersebut untuk menganalisa dan mengetahui waktu dan biaya penyelesaian proyek pembangunan rumah minimalis. Penelitian ini menggunakan alat analisis Network Planning dengan metode CPM. Hasil penelitian yang diperoleh penelitian ini yaitu waktu yang digunakan untuk menyelesaikan proyek adalah
55 hari dengan biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 13.500.000,- dengan menekan sebanyak mungkin kegiatan-kegiatan yang mempunyai slope terkecil, (Lilyana, 2020).
Penelitian tentang Penjadwalan Waktu juga pernah dilakukan oleh Firdaus Hidayatul Imam, Hadi Wahyono, Eka Bambang Gusminto (2018) dalam penelitiannya yang berjudul Evaluasi Penjadwalan Waktu Pada Proyek Pembangunan Rumah Type 30 di Istana Tegal Besar Kabupaten Jember dengan Metode CPM. Tujuan penelitiannya yaitu untuk Mengevaluasi Penjadwalan Waktu Pada Proyek Pembangunan Rumah Tipe 30 di Istana Tegal Besar Jember. Dari tujuan tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian ini menggunakan alat analisis metode CPM. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa pembangunan rumah tipe 30 di Istana Tegal Besar Jember metode CPM lebih efisien. Waktu penyelesaian proyek dari perusahaan selama 68 hari dan waktu penyelesaian proyek menggunakan metode CPM selama 54 hari terjadi selisih 20 hari. Sedangkan biaya yang keluar untuk membangun rumah tipe 30 berdasarkan jalur kritis metode CPM sebesar Rp. 43.983.403,-. Dari segi biaya penyelesaian proyek tidak terdapat perbedaan karena PT. Kinansyah Adi Jaya Land menggunakan sistem borongan dan rumah tipe 30 sudah mendapatkan subsidi pemerintah, (Iman et al., 2018).
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu para peneliti menggunakan metode Critical Path Method (CPM), metode ini digunakan untuk menentukan jalur kritis pada network diagram sehingga dapat mengetahui kegiatan yang dapat dikerjakan terlebih dahulu, kegiatan yang
dikerjakan secara bersama-sama, dan kegitan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu agar dapat mencapai efisiensi waktu.
Perbedaan penelitian terdahulu dari peneliti Ezekiel R. M. Iwawo, Jermias Tjakra, Pingkan A. K. Pratasis (2016) yang berjudul Penerapan metode CPM pada proyek konstruksi (Studi kasus pembangunan gedung baru kompleks Eben Haezar Manado dengan penelitian ini yaitu penelitian terdahulu hanya menganalisis waktu penyelesaian proyek, sedangkan penbelitian ini menganalisis waktu penyelesaian proyek dan biaya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek pembangunan perumahan PT. Notojoyo Nusantara di Malang.
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu No. Penulis Judul Alat
Analisis Hasil 1. Ezekiel R. M. Iwawo, Jermias Tjakra, Pingkan A. K. Pratasis (2016) Penerapan metode CPM pada proyek konstruksi (Studi kasus pembangunan gedung baru kompleks Eben Haezar Manado) Metode CPM
Dengan menggunakan metode CPM diperoleh waktu 241 hari untuk menyelesaikan pembangunan gedung baru Kompleks Persekolahan Eben Haezar Manado, sedangkan penjadwalan yang direncanakan oleh pihak perusahaan adalah 259 hari. 2. Rhino Rakadhipa (2013) Analisis Jaringan Kerja Dengan Critical Path Method (Cpm) Pembangunan Rumah Type 36 Pada Pt. Arisko Di Sambutan Samarinda Metode CPM
Perencanaan waktu proyek pembangunan sudah efisien yaitu tercapainya target waktu penyelesaian proyek yang diharapkan oleh perusahaan yaitu 55 hari menjadi 54 hari kerja dengan penambahan biaya sebesar Rp. 8.890.000. 3. Lilyana (2020) Analisis Network Planning dengan Critical Path Method (CPM) Dalam Rangka Efisiensi Waktu dan Biaya Proyek Pembangunan Rumah Minimalis (Studi Kasus: Property Group Medan) Metode CPM
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan proyek adalah 55 hari dengan biaya sebesar Rp. 13.500.000,- dengan menekan sebanyak mungkin kegiatan yang mempunyai
slope terkecil. 4. Firdaus H. Imam, Hadi Wahyono, Eka B. Gusminto (2018) Evaluasi Penjadwalan Waktu Pada Proyek Pembangunan Rumah Type 30 di Istana Tegal Besar Kabupaten Jember dengan Metode CPM
Metode CPM
Pembangunan rumah tipe 30 di Istana Tegal Besar Jember metode CPM lebih efisien. Waktu penyelesaian proyek dari perusahaan selama 68 hari dan waktu penyelesaian proyek menggunakan metode CPM selama 54 hari terjadi selisih 20 hari. Sedangkan, biaya yang yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp. 43.983.403,- Sumber: (Rakadhipa, 2013)
C. Kerangka Pemikiran
Seluruh rangkaian kegiatan penelitian mulai awal perencanaan sampai penyelesaian merupakan satu kesatuan pikiran yang ditunjukkan dalam suatu
perumusan masalah. Menurut (Sugiyono, 2013) kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai hal yang penting.
Berdasarkan perumusan kerangka pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk skema, maka akan diketahui secara jelas. Adapun kerangka pemikiran yang penulis gunakan secara sistematis dapat digambarkan pada gambar dibawah ini:
Gambar 2.2 Kerangka Pikir Sumber: (Haizer & Render, 2017)
Gambar 2.2 dapat menunjukkan penjadwalan proyek pembangunan perumahan PT. Notojoyo Nusantara secara efisien. Penjadwalan proyek ini
Keterlambatan Waktu Penyelesaian Pembangunan Perumahan
Penjadwalan Proyek
Identifikasi Aktivitas dan Hubungan antar Aktivitas ES (Earliest Start) LS (Latest Start) EF (Earliest Finish) LF (Latest Finish)
Efektivitas dan Efisiensi Waktu Lintasan Kritis Proyek
akan diukur menggunakan metode Critical Path Method (CPM). Dengan membuat perencanaan tersebut, dapat dilakukan untuk memaksimalkan diagram jaringan dan susunan kerja agar penjadwalan proyek dapat berjalan dengan baik yang mana akan dipadukan dengan teori penjadwalan proyek. (Sofyan, 2019)
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari perusahaan sebagaimana dijelaskan pada gambar diatas bahwa terdapat keterlambatan waktu penyelesaian pembangunan perumahan Green Stone City rumah type 50/60 oleh PT. Notojoyo Nusantara. Keterlambatan tersebut dianalisis menggunakan penjadwalan proyek yaitu dengan mengidentifikasi aktivitas proyek dan menentukan hubungan antar aktivitas sesuai logika kebergantungan. Kemudian menghitung Earliest Start (ES) yaitu waktu paling awal sebuah aktivitas bisa dimulai, Latest Start (LS) yaitu waktu paling lambat sebuah aktivitas bisa dimulai, Earliest Finish (EF) yaitu waktu paling awal sebuah kegiatan bisa diselesaikan, dan Latest Finish (LF) yaitu waktu paling lambat sebuah kegiatan bisa diselesaikan. Setelah melakukan perhitungan tersebut, maka dilanjutkan dengan menentukan lintasan kritis proyek untuk mencapai efektivitas dan efisiensi waktu.