• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN MANDOR PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN MANDOR PEMBESIAN / PENULANGAN BETON"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

DAN PEMASANGAN PEMBESIAN / PENULANGAN

BETON

PELATIHAN

MANDOR PEMBESIAN /

PENULANGAN BETON

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

KATA PENGANTAR

Laporan UNDP tentang : Human Development Index (HDI) tertuang dalam Human Development Report, 2004, mencantumkan Indeks Pengembangan SDM Indonesia pada urutan 111, satu tingkat di atas Vietnam urutan 112 dan jauh di bawah dari Negara-negara ASEAN terutama Malaysia urutan 59, Singapura urutan 25, dan Australia urutan 3, merupakan sebuah gambaran kondisi pengembangan SDM kita.

Bagi para pemerhati dan khususnya bagi yang terlibat langsung dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), kondisi tersebut merupakan tantangan sekaligus sebagai modal untuk berpacu mengejar ketinggalan dan obsesi dalam meningkatkan kemampuan SDM paling tidak setara dengan Negara tetangga ASEAN, terutama menghadapi era globalisasi.

Untuk mengejar ketinggalan telah banyak daya upaya yang dilakukan termasuk perangkat pengaturan melalui penetapan undang-undang antara lain :

UU. No. 18 Tahun 1999, tentang : Jasa Konstruksi beserta peraturan

pelaksanaannya, mengamanatkan bahwa setiap tenaga : Perencana, Pelaksana, dan Pengawas harus memiliki sertifikat, dengan pengertian sertifikat kompetensi keahlian atau ketrampilan kerja. Untuk melaksanakan kegiatan sertifikasi berdasarkan kompetensi diperlukan tersedianya “Bakuan Kompetensi” untuk semua tingkatan kualifikasi dalam setiap klasifikasi di bidang Jasa Konstruksi.

UU. No. 13 Tahun 2003, tentang : Ketenagakerjaan, mengamanatkan (Pasal 10 Ayat

(2)). Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standard kompetensi kerja.

(3)

(2) Penyelenggaraan pendidikan bidang sumber daya air dapat dilaksanakan, baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah maupun swasta sesuai dengan standar pendidikan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Mengacu pada amanat undang-undang tersebut di atas, diimplementasikan kedalam konsep Pengembangan Sistem Pelatihan Jasa Konstruksi, yang oleh PUSBIN KPK (Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi) pelaksanaan programnya didahului dengan mengembangkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia), SLK (Standar Latih Kompetensi), dimana keduanya disusun melalui analisis struktur kompetensi sektor/sub-sektor konstruksi sampai mendetail, kemudian dituangkan dalam jabatan-jabatan kerja yang selanjutnya dimasukan ke dalam Katalog Jabatan Kerja.

Modul Pelatihan adalah salah satu unsur paket pelatihan sangat penting karena menyentuh langsung dan menentukan keberhasilan peningkatan kualitas SDM untuk mencapai tingkat kompetensi yang ditetapkan, disusun dari hasil inventarisasi jabatan kerja yang kemudian dikembangkan berdasarkan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan SLK (Standar Latih Kompetensi) yang sudah disepakati dalam suatu Konvensi Nasional, dimana modul-modulnya maupun materi uji kompetensinya disusun oleh Tim Penyusun/tenaga professional dalam bidangnya masing-masing, merupakan suatu produk yang akan dipergunakan untuk melatih, dan meningkatkan pengetahuan dan kecakapan agar dapat mencapai tingkat kompetensi yang dipersyaratkan dalam SKKNI, sehingga dapat menyentuh langsung sasaran pembinaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja konstruksi agar menjadi kompeten dalam melaksanakan tugas pada jabatan kerjanya.

Dengan penuh harapan modul pelatihan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, sehingga cita-cita peningkatan kualitas SDM khususnya di bidang jasa konstruksi dapat terwujud.

Jakarta, Nopember 2006 Kepala Pusat

Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi

Ir. Djoko Subarkah, Dipl. HE. NIP : 110016435

(4)

PRAKATA

Modul : Prosedur dan Teknik Pembuatan dan Pemasangan Pembesian / Penulangan Beton, merupakan uraian penjelasan serta prinsip – prinsip umum bagaimana seorang mandor melaksanakan tugas utamanya yaitu membuat dan memasang pembesian / Penulangan beton.

Modul ini merupakan representasi dari 3 unit kompetensi dari mandor pembesian / penulangan beton dimana unit-unit kompetensi tersebut merupakan tiga tahapan pelaksanaan pembuatan dan pemasangan pembesian yaitu Bagian A : Pekerjaan Persiapan, Bagian B : Pembuatan dan pemasangan pekerjaan pembesian dan Bagian C: Pemeriksaan, pelaporan dan Evaluasi pelaksanaan pekerjaan pembesian.

Diharapkan dengan modul ini, kompetensi dari para mandor dapat ditingkatkan menjadi lebih baik dalam rangka menunjang kesuksesan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dilapangan.

Perlu diketahui bahwa modul ini sebagai salah satu unsur dalam satu kesatuan paket pelatihan Mandor pembesian / penulangan beton berdasarkan metodologi pelatihan

berbasis kompetensi (Competency Based Training – CBT).

Biarpun telah dipersiapkan secara matang yang mengacu kepada SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan SLK (Standar Latih Kompetensi) yang sudah dibahas dalam konvensi nasional yang dihadiri para pakar atau ahlinya dan asosiasi profesi, dimaklumi bahwa materi pelatihan ini dimasa mendatang perlu terus disempurnakan.

(5)

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN :

MANDOR PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

JUDUL MODUL

:

PROSEDUR DAN TEKNIK PEMBUATAN DAN

PEMASANGAN PEMBESIAN / PENULANGAN

BETON

TUJUAN PELATIHAN

A.

Tujuan Umum Pelatihan

Setelah selesai mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu :

Menyiapkan, mengkoordinir dan memeriksa pembesian / penulangan pada pekerjaan konstruksi beton bertulang.

B. Tujuan Khusus Pelatihan

Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu :

1. Menerapkan UUJK, K3 dan ketentuan pengendalian lingkungan kerja 2. Menguasai rencana pembuatan pembesian/penulangan beton sesuai

spesifikasi pembesian, gambar kerja, Instruksi kerja (IK), jadwal (schedule) kerja proyek

3. Membuat jadwal (schedule) kerja harian dan mingguan

4. Melakukan pekerjaan persiapan pembesian/penulangan beton 5. Mengkoordinir dan mengawasi pembuatan dan pemasangan

pembesian/penulangan beton

6. Memeriksa, mengevaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan pembuatan dan pemasangan pembesian/penulangan beton.

(6)

NOMOR / JUDUL MODUL : RCF – 04 : PROSEDUR DAN TEKNIK

PEMBUATAN DAN PEMASANGAN

PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU)

Setelah modul ini dipelajari peserta mampu :

 Melakukan pekerjaan persiapan pembesian penulangan beton

 Mengkoordinir dan mengawasi pembuatan dan pemasangan pembesian/ penulangan beton.

 Memeriksa, mengevaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan pembuatan dan pemasangan pembesian / penulangan beton.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS (TPK)

Setelah modul ini selesai dipelajari, peserta mampu :

1. Melakukan pekerjaan persiapan pembesian / penulangan beton 2. Mengerti mengenai bahan untuk pembesian

3. Mengerti mengenai peralatan untuk pembesian

4. Membuat daftar pemotongan besi beton dan perhitungan volume pekerjaan 5. Mengkoordinir dan mengawasi pemotongan dan pembengkokkan besi beton

6. Mengkoordinir dan mengawasi perangkaian / penganyaman dan penyetelan besi beton.

7. Memeriksa pekerjaan pembesian / penulangan beton.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

PRAKATA ... iii

LEMBAR TUJUAN ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DESKRIPSI SINGKAT DAN DAFTAR MODUL ... x

PANDUAN PEMBELAJARAN ... xii

A. PEKERJAAN PERSIAPAN PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

BAB 1 SURVEY AREA PEKERJAAN DAN PERSIAPAN BAHAN,

TENAGA KERJA, DAN PERALATAN... 1 - 1 1.1. Survey area pekerjaan ...1 - 1

1.2. Pengajuan dan persiapan bahan ...1 - 4

1.3. Pengajuan dan penyiapan tenaga kerja ...1 - 6 1.4. Pengajuan dan penyiapan peralatan ...1 - 8 RANGKUMAN

LATIHAN

BAB 2 PENJELASAN STANDAR DAN PROSEDUR KERJA ...2 - 1

2.1. Penjelasan spesifikasi ... 2 - 1

2.2. Penjelasan standar pembesian ...2 - 3

2.3. Penjelasan Instruksi kerja ...2 - 8

2.4. Penjelasan gambar kerja dan jadwal kerja ...2 - 11 RANGKUMAN

LATIHAN

B. PEMBUATAN DAN PEMASANGAN PEKERJAAN PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

BAB 1 BAHAN PEMBESIAN / PENULANGAN BETON ... 1 - 1

1.1. Bahan ... 1 - 1

1.2. Jenis dan Mutu ...1 - 2

1.3. Macam baja beton ...1 - 4

1.4. Cara menentukan diameter batang ...1 - 5 1.5. Batas toleransi yang diizinkan pada batang baja tulangan ...1 - 6

(8)

1.6. Jaringan kawat baja las (wire mesh) ...1 - 7 1.7. Kawat pengikat baja tulangan ... 1 - 8 RANGKUMAN

LATIHAN

BAB 2 PERALATAN – PERALATAN PEKERJAAN PEMBESIAN ... 2 - 1

2.1. Alat Manual dan Mesin ...2 - 1

2.2. Pedoman Pemakaian dan Pemeliharaan Peralatan ...2 - 10

RANGKUMAN LATIHAN

BAB 3 PEMBUATAN DAFTAR PEMOTONGAN BESI DAN

PERHITUNGAN VOLUME PEKERJAAN ... 3 - 1

3.1. Daftar pembengkokkan dan daftar pemotongan besi beton ...3 - 1

3.2. Pembuatan Beug – Staat (daftar pemotongan besi dan

daftar pembengkokkan besi) ...3 - 5

3.3. Cara menghitung volume pekerjaan besi terpasang ...3 - 7 3.4. Contoh gambar kerja dan Bar Bending Schedule

(daftar pembengkokkan besi) ... 3 - 8 RANGKUMAN

LATIHAN

BAB 4 PEMOTONGAN, PEMBENGKOKKAN DAN

GANJAL TULANGAN ... 4 - 1

4.1. Standar Untuk Pelaksanaan pekerjaan pembesian ...4 - 1

4.1.1. Fungsi baja tulangan beton ...4 - 1

4.1.2. Bentuk-bentuk umum pembengkokkan tulangan ...4 - 2 4.1.3. Selimut beton ...4 - 4

(9)

4.2.5. Kait dan pembengkokkan ...4 - 24 4.2.6. Pemotongan dan pembengkokkan secara mekanis ...4 - 26 4.2.7. Pengelompokkan dan penyimpanan baja beton ...4 – 28 RANGKUMAN

LATIHAN

BAB 5 PENGANYAMAN / PERANGKAIAN DAN PEMASANGAN

PEMBESIAN / PENULANGAN BETON ... 5 - 1

5.1. Umum ...5 - 1

5.2. Pengikatan baja beton ...5 - 2

5.3. Tulangan Balok ...5 - 6 5.3.1. Metode kerja I ...5 - 6 5.3.2. Metode kerja II ...5 - 10 5.4. Tulangan Lantai ...5 - 14 5.4.1. Metode kerja I ...5 - 14 5.4.2. Metode kerja II ...5 - 17 5.5. Tulangan Dinding ...5 - 21 5.6. Tulangan Kolom ...5 - 23 5.7. Menganyam di industri (sentral) pembengkokkan

dan penganyaman ...5 - 27 RANGKUMAN

LATIHAN

C. PEMERIKSAAN, PELAPORAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

BAB 1 PEMERIKSAAN PEKERJAAN PEMBESIAN ... 1 - 1

1.1. Pemeriksaan ... 1 - 1

1.2. Check List ...1 - 3 1.3. Piket / Storing ...1 - 6

1.4. Bagan Penyelesaian pekerjaan ...1 - 7

1.5. Contoh kasus kegagalan pemasangan pembesian ...1 - 8

RANGKUMAN LATIHAN

(10)

BAB 2 PELAPORAN DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN

PEMBESIAN ... 2 - 1

2.1. Pelaporan hasil pelaksanaan pembesian ... 2 - 1

2.2. Evaluasi hasil pelaksanaan pembesian ...2 - 5

RANGKUMAN LATIHAN

(11)

DESKRIPSI SINGKAT

PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Mandor Pembesian /

Penulangan Beton dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

(SKKNI) yang didalamnya sudah dirumuskan uraian jabatan, unit-unit kompetensi yang harus dikuasai, elemen kompetensi lengkap dengan kriteria unjuk kerja dan batasan-batasan penilaian serta variable-variablenya.

2. SLK (Standar Latih Kompetensi) disusun dengan mengacu kepada SKKNI, dimana uraian jabatan dirumuskan sebagai Tujuan Umum Pelatihan dan Unit-unit kompetensi dirumuskan sebagai Tujuan Khusus Pelatihan, kemudian elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja (KUK) dikaji dan dianalisis unsur kompetensinya, yaitu : Pengetahuan, Ketrampilan dan sikap kerja, selanjutnya kurikulum, silabus dan indikator keberhasilan pembelajaran ditetapkan sesuai level kompetensinya.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan pelatihan tersebut, berdasarkan rumusan kurikulum, silabus dan indikator keberhasilan pembelajaran yang ditetapkan dalam SLK, disusunlah seperangkat modul-modul sebagai bahan pembelajaran pelatihan seperti tercantum dalam “ DAFTAR MODUL “ dibawah ini.

DAFTAR MODUL

PELATIHAN : Mandor Pembesian / Penulangan Beton

NO. KODE JUDUL NO. REPRESENTASI UNIT

KOMPETENSI

1. RCF - 01 UUJK, K3 dan Pengendalian

Dampak Lingkungan

1 Menerapkan UUJK, K3 dan

ketentuan pengendalian lingkungan kerja

2. RCF - 02 Standar dan Rencana Kerja

Pembuatan Pembesian / Penulangan Beton

2 Menguasai rencana

pembuatan pembesian / penulangan beton sesuai spesifikasi pembesian / penulangan beton, gambar kerja, Instruksi Kerja (IK) dan Schedule Kerja Proyek

3. RCF - 03 Jadwal kerja harian dan mingguan 3 Membuat jadwal (schedule)

kerja harian dan mingguan

4. RCF - 04 Prosedur dan teknik pembuatan dan pemasangan pembesian / penulangan beton

A. Pekerjaan Persiapan 4 Melakukan Pekerjaan Persiapan Pembesian / Penulangan Beton

(12)

B. Pembuatan dan Pemasangan Pekerjaan Pembesian / Penulangan Beton 5 Mengkoordinir dan mengawasi pembuatan dan pemasangan pembesian / penulangan beton

C. Pemeriksaan, Evaluasi dan Pelaporan Pelaksanaan Pekerjaan Pembesian

6 Memeriksa, mengevaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan pembuatan dan pemasangan

pembesian / penulangan beton

5. RCF - 05 Perjanjian Kerja dan Manajemen

Untuk Mandor

7 Menguasai dan

melaksanakan kontrak / perjanjian kerja

(13)

P A N D U A N P E M B E L A J A R A N

Pelatihan : Mandor Pembesian / Penulangan Beton

Judul : Prosedur dan Teknik Pembuatan dan Pemasangan Pembesian

/ Penulangan Beton

Deskripsi : Materi ini membahas mengenai pelaksanaan pekerjaan

pembesian yang dikerjakan seorang mandor dimana dimulai dengan pekerjaan persiapan dilanjutkan dengan pembuatan dan pemasangan pembesian dan diakhiri dengan pemeriksaan, pelaporan dan evaluasi hasil pelaksanaan pembesian.

Tempat kegiatan : Dalam ruang kelas

Waktu Kegiatan : 10 jam pelajaran (1 jam pelajaran = 45 menit)

No. Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah : Pembukaan

- Menjelaskan Tujuan Pembelajaran Umum dan Khusus (TPU & TPK)

- Mengikuti penjelasan TPU & TPK dengan tekun dan aktif

OHT No. 1.4 s/d 1.5 - Merangsang motivasi peserta dengan

pertanyaan atau pengalamannya dalam menguasai prosedur dan teknik pembuatan dan pemasangan

pembesian

- Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas

- Waktu : 5 menit

2. Ceramah : Survey area pekerjaan dan

persiapan bahan, tenaga kerja dan peralatan

- Sebelum melaksanakan pekerjaan dilapangan, mandor harus mensurvei dulu area pekerjaan (gudang,

workshop, site work) dan mengajukan dan mnyiapkan bahan, tenaga kerja dan peralatan.

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. A 1.1 s/d

A 1.9

- Waktu : 15 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian A Bab. 1 : Survey area pekerjaan dan persiapan bahan tenaga kerja dan peralatan )

(14)

3. Ceramah : Penjelasan standar dan prosedur kerja

- Sebelum memulai pekerjaan, mandor harus menjelaskan dulu tentang standar dan prosedur kerja kepada para tukang

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. A 2.1 s/d

A 2.7

- Waktu : 25 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian A Bab.2 : Penjelasan standar dan prosedur kerja)

4. Ceramah : Bahan pembesian /

penulangan beton

- Menjelaskan mengenai bahan yang dipakai untuk pembesian termasuk spesifikasinya

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. B 1.1 s/d

B 1.6

- Waktu : 20 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian B Bab.1 : Bahan pembesian / penulangan beton)

5. Ceramah : Peralatan pekerjaan

pembesian

- Menjelaskan mengenai peralatan yang dipakai untuk pekerjaan pembesian

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. B 2.1 s/d

B 2.5

- Waktu : 25 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian B Bab.2 : Peralatan pekerjaan pembesian)

(15)

- Bahan : Materi Serahan (Bagian B Bab.3 : Pembuatan daftar pemotongan dan perhitungan volume pekerjaan)

7. Ceramah : Pemotongan, pembengkokkan

dan ganjal tulangan

- Menjelaskan pelaksanaan pemotongan dan pembengkokkan tulangan dan pembuatan bermacam-macam ganjal tulangan

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. B 4.1 s/d

B 4.17

- Waktu : 90 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian B Bab.4 : Pemotongan pembengkokkan dan ganjal tulangan)

8. Ceramah : Penganyaman dan

pemasangan pembesian - Menjelaskan pelaksanaan

penganyaman / perangkaian dan pemasangan pembesian

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. B 5.1 s/d

B 5.12

- Waktu : 90 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian B Bab.5 : Penganyaman dan

pemasangan pembesian)

9. Ceramah : Pemeriksaan pekerjaan

pembesian

- Menjelaskan prosedur pemeriksaan pekerjaan pembesian sebelum dilakukan pengecoran beton

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. C 1.1 s/d

C 1.9

- Waktu : 30 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian C Bab.1 : Pemeriksaan pekerjaan pembesian)

(16)

10. Ceramah : Pelaporan dan evaluasi hasil pelaksanaan pembesian - Menjelaskan pelaporan pekerjaan

pembesian setelah selesai dan pelaksanaan evaluasinya

- Memperhatikan penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif

- Mencatat hal-hal yang perlu - Bertanya bila perlu

OHT No. C 2.1 s/d

C 2.6

- Waktu : 15 menit

- Bahan : Materi Serahan (Bagian C Bab.2 : Pelaporan dan evaluasi hasil pelaksanaan pembesian)

11. Praktek : Pembuatan dan pemasangan

pekerjaan pembesian / penulangan beton

- Menjelaskan kembali prosedur dan teknik pembuatan dan pemasangan pembesian

- Memberikan penjelasan atas pertanyaan peserta

- Memberikan soal latihan mengenai praktek pembuatan dan pemasangan pembesian

- Mengawasi pelaksanaan praktek pembuatan dan pemasangan pembesian

- Mengikuti penjelasan dengan tekun dan aktif - Melakukan latihan praktek

pembuatan dan

pemasangan pembesian - Mencatat hal-hal yang perlu - Mengajukan pertanyaan bila

perlu Peralatan : - Bar Bender - Bar Cutter - Alat manual - Alat Bantu Tempat : Workshop pelatihan - Waktu : 8 jam

12. Praktek : Melakukan pemeriksaan,

pelaporan dan evaluasi pelaksanaan pembesian - Menjelaskan kembali prosedur

pemeriksaan, pelaporan dan evaluasi

- Mengikuti penjelasan dengan tekun dan aktif

- OHT - Alat tulis

(17)
(18)

A. Pekerjaan Persiapan Pembesian / Penulangan Beton

BAB 1

SURVEI AREA PEKERJAAN DAN PERSIAPAN BAHAN,

TENAGA KERJA DAN PERALATAN

Apabila seorang mandor sudah menandatangani perjanjian kerja yang berisi harga borongan pelaksanaan pekerjaan pembesian, maka yang bersangkutan sudah harus mulai melaksanakan langkah-langkah didalam fungsi manajemen yaitu pertama kali harus merencanakan pekerjaan kemudian mengorganisasikan kerja, mengarahkan kerja serta mengendalikan kerja. Apabila pada modul terdahulu, mandor merencanakan pekerjaan dengan membuat skedul kerja harian dan mingguan, maka pada modul ini yang bersangkutan mulai pada tahap pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.

Pelaksanaan pekerjaan pembesian / penulangan beton dimulai dengan pekerjaan persiapan yang terdiri dari :

 Survei area pekerjaan

 Pengajuan dan persiapan bahan  Pengajuan dan penyiapan tenaga kerja  Pengajuan dan penyiapan peralatan  Penjelasan standar dan prosedur kerja. 1.1. Survei area pekerjaan

Apabila seseorang akan memulai suatu pekerjaan, maka pertama kali tentunya akan melihat atau mensurvei dulu tempat atau lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan nantinya. Dengan mensurvei area pekerjaan maka dapat dinilai aspek-aspek nya

(19)

Pada pekerjaan pembesian / penulangan beton biasanya ada tiga area pekerjaan yang meliputi gudang penyimpanan material, workshop pembesian dan tempat pelaksanaan pekerjaan atau site construction work.

 Gudang penyimpanan material

Apabila merupakan gudang terbuka, maka perlu diberi pembatas atau semacam pagar agar tidak tercampur dengan bahan / material yang lain.

- Penyimpanan besi beton harus bebas dari tanah (diatas balok / palang atas yang sejenis)

- Per diameter disimpan terpisah

- Hindarkan kelamaan waktu penyimpanan yang tidak perlu (jangan terlalu banyak memesan)

(20)

Tujuan penyimpanan baja beton adalah :  Mencegah terjadinya korosi

 Memudahkan pengambilan, mengingat baja beton terdiri dari berbagai diameter dan ukuran

 Mencegah kecerobohan tukang pasang baja beton, khususnya saat pengambilan dari tempat pemotongan / pembengkokkan baja tulangan  Memudahkan perhitungan stock / persediaan

Dengan mempertimbangkan hal tersebut diatas, maka cara penyimpanan baja adalah sebagai berikut :

 Tempat penyimpanan diberi lantai / floor dengan beton tumbuk dan diberi peletakan dari balok-balok kayu bulat diameter 15 cm. Alternatif lain adalah setelah permukaan tanah diratakan dan dipadatkan,dialas terpal kemudian diberi perletakan kayu dengan jarak maksimum 1.00 m. Lokasi harus ditempat yang mudah dikunjungi.

 Sedapat mungkin untuk tulangan dengan diameter besar (lebih dari 16 mm) disimpan dalam kondisi lonjoran lurus (12 meter).

 Penyimpanan dipisahkan sesuai dengan diameternya, dan diikat tiap jumlah tertentu (misalnya 10 batang) sehingga memudahkan pengambilan dan penghitungannya

 Apabila disimpan dialam terbuka, apalagi dekat laut / daerah pantai, maka tumpukan baja beton harus ditutup terpal.

 Beri tanda / tanggal kedatangan tiap baja beton agar pengambilannya bisa diutamakan yang datang lebih awal.

Balok kayu atau dolken

(21)

 Workshop Pembesian

Workshop pembesian merupakan tempat kerja tukang pembesian dimana akan ditempatkan peralatan - peralatan baik mekanis maupun manual

berupa mesin pembengkok besi (bar bender), mesin pemotong besi (bar

Cutter) dan alat-alat bantu lainnya.

Yang perlu diperhatikan adalah komposisi alat dan luasnya ruangan sehingga dapat diperkirakan berapa tukang dan pekerja yang dapat masuk disitu. Kemudian perlu dilihat mengenai kemudahan transport material dari dan ke workshop. Transport dari workshop ke site pekerjaan, bisa berupa alat angkut biasa (dump truck / truck) atau pada proyek high rise building tentunya harus memakai tower crane.

 Area pelaksanaan pekerjaan atau site construction work

Area pelaksanaan pekerjaan juga harus ditinjau terhadap kemudahan transport material dan secara berkala sebelum melakukan penyetelan besi beton maka harus dilihat kesiapan dari pekerjaan bekisting dan form work (perancah).

Aspek keamanan dan kesehatan lingkungan (K3) pada area pelaksanaan pekerjaan dimana tempat tersebut harus betul-betul sudah kuat menahan beban dari besi beton itu sendiri maupun tukang dan pekerja yang bekerja diatasnya.

1.2. Pengajuan dan Persiapan Bahan

Sesuai dengan rencana kerja harian dan mingguan, mandor beserta pelaksana kontraktor mencantumkan rencana volume pekerjaan pembesian perharinya.

Adapun urutan pembuatan rencana kerja harian dan mingguan adalah sebagai berikut :

- Dari gambar kerja pembesian pada lokasi pekerjaan tertentu, dibuat daftar pembengkokkan besi atau Bar Bending Schedule.

- Dari daftar pembengkokkan besi dapat dibuat daftar pemotongan besi.

- Dari kedua daftar tersebut dengan melihat gambar kerja pembesian, maka akan bisa dihitung volume pembesian pada lokasi tertentu.

- Hasil dari perhitungan volume pada lokasi tertentu tadi akan dibuat schedule harian dan mingguan.

(22)

- Pihak kontraktor / pemberi pekerjaan maupun pihak mandor harus selalu cross check agar kebutuhan volume material pada lokasi tertentu tadi dihitung dengan benar sehingga tercapai efisiensi bahan.

- Dari jadwal kerja harian / mingguan tadi, mandor akan mengajukan permintaan material dengan target pendatangan yang telah ditentukan.

Dalam rangka penyiapan bahan, apabila mandor juga mensupply besi beton, maka hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerimaan besi beton adalah sebagai berikut:

- Memeriksa apakah sejumlah besi beton tersebut sesuai dengan jenis / mutu baja, diameter dan panjang yang dipesan.

- Dilampiri sertifikat atau tanda pemeriksaan

- Pemeriksaan visual terhadap karatan, pelupasan dan sebagainya - Kelurusan batang – batang.

Untuk menghindari karatan, besi beton distok diatas palangan / alas sehingga tidak menyentuh permukaan tanah.

Besi beton kemudian disusun menurut kualitas dan ukurannya, agar : - Memudahkan penggantian

- Memudahkan pengontrolan (cek jumlahnya) - Mempercepat pekerjaan

Kemudian secara bertahap material digudang diatur pengangkutan nya ketempat workshop sesuai kebutuhan.

Adapun contoh dari rencana kerja mingguan adalah sebagai berikut :

SN/18 SL/19 RB/20 KM/21 JM/22 SB/23 MG/24 1 Plat Lantai 5 AP 11' - 12' / G-H - Bekisting 210 M2 - Pembesian 26.716 Kg RENCANA VOLUME TANGGAL MINGGU KE : III BULAN : SEPTEMBER ……... TAHUN : 2006 REALISASI

RENCANA KERJA MINGGUAN ANIS

JENIS PEKERJAAN

(23)

1.3. Pengajuan dan penyiapan tenaga kerja

Rencana kerja harian / mingguan pada contoh diatas merupakan pedoman di dalam kita membuat rencana kerja atau jadwal kebutuhan tenaga kerja dan peralatan. Pada modul pelatihan RCF – 03 – Jadwal kerja harian dan mingguan, telah diuraikan bagaimana membuat jadwal kebutuhan tenaga kerja.

Adapun proses pembuatan jadwal kebutuhan tenaga kerja adalah sebagai berikut : - Dari rencana kerja harian / mingguan, maka dapat dilihat berapa target / rencana

volume pembesian per hari selama satu minggu.

- Dari rencana volume pembesian per hari selama satu minggu tersebut akan dirinci kebutuhan peralatan yang meliputi komposisi dan jumlah alat.

- Bersamaan dengan itu dapat dihitung juga jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.

- Faktor terpenting dalam menentukan jumlah alat dan tenaga kerja adalah produktifitas alat dan produktifitas tenaga kerja. Seorang mandor yang berpengalaman akan sudah tahu mengenai produktifitas tersebut sehingga pelaksanaan pekerjaan menjadi efisien dan efektif.

- Apabila sudah dapat dihitung jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan per hari selama satu minggu maka dapat dibuat jadwal kebutuhan tenaga kerja. Jadwal tersebut bisa dibuat menempel pada jadwal kerja harian / mingguan atau dipisah merupakan jadwal sendiri. (lihat contoh)

- Dari hal tersebut dapat diajukan kepada pemberi pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan per minggu.

- Jangan dilupakan juga penyediaan sarana dan prasarana tenaga kerja antara lain barak kerja, biaya mendatangkan tenaga kerja dari daerah dan lain-lain sebagai berikut :

(24)

Contoh jadwal tenaga kerja menempel pada jadwal harian / mingguan.

(25)

1.4. Pengajuan dan penyiapan peralatan

Seperti pada bab 1.3 diatas maka rencana kerja harian / mingguan merupakan pedoman di dalam pembuatan jadwal pengadaan peralatan. Pada modul pelatihan RCF – 03 – Jadwal kerja harian dan mingguan telah diuraikan bagaimana membuat jadwal kebutuhan peralatan.

Adapun proses pembuatan jadwal kebutuhan peralatan sama seperti pembuatan jadwal kebutuhan tenaga seperti pada bab 1.3 diatas.

Apabila sudah dapat dihitung jumlah dan jenis peralatan yang dibutuhkan per hari selama satu minggu maka dapat dibuat jadwal kebutuhan peralatan.

Selanjutnya jadwal peralatan tersebut diajukan kepada pemberi pekerjaan untuk mendapat persetujuan.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada penyiapan peralatan pembesian dilapangan antara lain :

- Komposisi alat memegang peranan penting dalam peningkatan efisien kerja dilapangan, misalnya diperlukan satu pasang bar bender untuk membengkokkan besi beton yang berukuran cukup panjang sehingga besi beton tersebut tidak perlu dibalik. Dari hal tersebut komposisi yang efisien misalnya terdiri dari satu alat bar cutter dan dua alat bar bender untuk satu set pekerjaan.

- Peralatan ditata dan ditempatkan sedemikian rupa untuk kelancaran dan produktifitas pekerjaan.

- Kalau workshop sudah dibuat maka kita harus menyesuaikan dengan peralatan yang akan digunakan maupun tenaga kerja yang ditempatkan disitu.

(26)

RANGKUMAN

 Survei Area pekerjaan

a). Gudang penyimpanan material

- Besi beton disusun menurut kualitas dan ukuran - Penyimpanan besi beton harus bebas dari tanah - Per diameter disimpan terpisah

- Hindarkan kelamaan waktu penyimpanan - Kemudahan transport material

a). Workshop pembesian

- Luas ruangan harus sesuai dengan penempatan bahan, komposisi alat dan banyaknya tenaga kerja

- Kemudahan transport material

- Komposisi alat berupa bar bender, bar cutter, alat bantu dll. b). Area pelaksanaan pekerjaan

- Dilihat kesiapan pekerjaan sebelumnya yaitu pekerjaan bekisting dan form work / perancah

- Dilihat aspek keamanan dan kesehatan lingkungan - Kemudahan transport material

 Pengajuan dan persiapan bahan

- Apabila pihak pelaksana kontraktor memberikan jadwal kerja harian / mingguan yang berisi rencana volume pekerjaan pembesian (dalam kg) per hari maka mandor sebaiknya mengadakan pengecekan volume

- Pengecekan volume dari daftar pembengkokkan besi dan gambar lokasi pembesian

(27)

 Pengajuan dan penyiapan tenaga kerja

- Dari schedule harian dan mingguan, dapat dilihat target volume pembesian per hari selama satu minggu

- Dari rencana kerja pembesian baik jumlah proyek maupun target volume per

hari, dapat dihitung kebutuhan tenaga kerja baik jumlah maupun

kualifikasinya.

- Rencana penyiapan tenaga kerja diajukan kepada pemberi pekerjaan - Sarana dan prasarana pekerja termasuk biaya mobilisasi pekerja disiapkan.  Pengajuan dan penyiapan peralatan

- Dari schedule harian dan mingguan, dapat dilihat target volume pembesian per hari selama satu minggu.

- Dari rencana kerja pembesian baik seluruh proyek maupun target volume per hari, dapat dihitung jumlah dan jenis peralatan.

- Rencana persiapan peralatan diajukan kepada pemberi pekerjaan - Komposisi alat memegang peranan penting dalam efisiensi kerja

(28)

LATIHAN

a). Uraikan perlunya mandor survei ke gudang material !

b). Apa yang perlu diperhatikan pada workshop terutama luasnya ?

c). Uraikan cara pembuatan rencana kerja harian dan mingguan dan apa guna rencana kerja atau schedule tersebut ?

(29)

B.

Pembuatan dan Pemasangan Pekerjaan

Pembesian / Penulangan Beton

BAB 1

BAHAN PEMBESIAN / PENULANGAN BETON

Baja dalam struktur beton adalah merupakan suatu unsur yang penting, kemampuan daya dukung beton sendiri terhadap gaya tarik adalah kecil, sehingga untuk meningkatkan daya dukung struktur beton terhadap gaya tarik lebih mengandalkan pada baja tulangan. Kerja sama antara beton dan baja dari suatu struktur beton merupakan kekuatan yang menghasilkan daya dukung dari struktur beton bertulang tersebut.

1.1. Bahan

Dalam bahasa sehari-hari pengertian tentang besi dan baja sering tertukar. Sebutan besi hampir selalu dipakai untuk menyatakan barang yang ada unsur ferrumnya, padahal besi murni hampir tidak pernah dipakai. Biasanya selalu ada campuran karbon dan unsur-unsur lain. Unsur karbon (C) sangat mempengaruhi perilaku dari besi. Kadar karbon dipakai untuk membedakan antara besi tuang dan baja :

- Besi dengan kadar karbon > 2 % dinamakan besi tuang - Besi dengan kadar karbon < 2 % dinamakan baja

Besi tuang (dengan kadar karbon 4 %) pada umumnya getas / rapuh dan

mempunyai titik lebur yang lebih rendah yaitu 1150 0 C sedangkan baja (dengan

kadar karbon 0,2 %) sebesar 15000C.

(30)

Biji besi adalah suatu persenyawaan kimiawi antara unsur besi (Fe) dan unsur lain terutama oksigen (O) yang merupakan bahan tambang yang akan diolah menjadi

logam. Beberapa biji besi yang penting adalah magnetit (Fe3O4), Hematiet (Fe2O3)

dan siderite (Fe CO3) dimana kadar besi dari biji biji tersebut sekitar 50 – 70 %. Biji besi dimurnikan menjadi besi (Fe) di dalam tanur tinggi.

Komposisi Bahan Kimia Baja Beton

Baja beton adalah suatu bahan yang terdiri dari terutama dari persenyawaan unsur besi (Fe) dan unsur logam yang lain seperti : Mangan (Mn), tembaga (Cu), Vanadium (V), dan Niobium (Nb) serta bahan non logam seperti karbon (C), Silisium (Si), Fosfor (P) dan Belerang (S).

Sifat baja sangat tergantung dari kadar karbon, makin tinggi kadar karbon maka semakin kuat dan keras, akan tetapi sifat keliatannya makin berkurang sehingga baja makin getas. Bahan dengan kadar karbon lebih dari 0,3 % pengerjaannya lebih sukar. Kadar fosfor dan belerang yang lebih besar akan menambah kegetasan sehingga dibatasi hanya ± 0,6 %.

Disamping unsur karbon persenyawaan dengan unsur mangan, vanadium dan Silisium akan meningkatkan kekuatannya, sedangkan unsur tembaga meningkatkan daya tahan terhadap korosi.

1.2. Jenis dan Mutu

Baja beton yang dipakai harus memenuhi norma persyaratan terhadap metode pengujian dan pemeriksaan untuk macam mutu baja beton sebagai berikut :

Batas Ulur minimum Kuat Tarik minimum Mutu Baja Mpa / N/ mm2 Mpa / N/ mm2

(kg / cm2) (kg / cm2)

Bj TP 24 236 382 Catatan :

(31)

Ciri khas dari baja beton ditentukan : - Kuat tarik

- Batas ulur minimum

- Regangan pada batas maksimal

- Modulus elastisitas

Sifat-sifat tersebut diatas dapat ditentukan dengan pengujian tarik

Grafik hasil pengujian tarik dapat digambarkan dalam suatu diagram sebagai berikut :

0 – 1 Daerah Elastis

1 – 2 Daerah dimana – (besar tegangan hampir tak berubah) – terjadi plastis deformasi yang besar (meluluh).

2 – 3 Di daerah ini, untuk memperbesar regangan dibutuhkan pertambahan tegangan (daerah penguatan).

3 – 4 Daerah dimana regangan membesar sampai 15 % - 20 % tanpa memberi

pertambahan tegangan yang berarti.

4 – 5 Terjadi penyempitan (kontraksi) – perubahan bentuk setempat yang besar

-dimana suatu penampang batang mengecil sedemikian, sehingga batang akan patah di tempat ini.

Regangan es =

l l

adalah perubahan panjang batang dibanding dengan panjang batang semula.

Tegangan

A P

adalah gaya tarik (P) dibagi luas penampang batang semula (A)

Beban Maksimal

Regangan Plastis Regangan elastis Regangan pada beban Maks

Regangan (%) Regangan (%) Regangan (%)

(32)

Pada awalnya batang yang ditarik merenggang elastis ( 0 – 1), apabila tegangan sedemikian besarnya maka akan terjadi perubahan bentuk batang yang tetap (deformasi). Baja akan berubah bentuk plastis yang dinamakan meleleh jika regangan batang membesar pada gaya tarik yang konstan (1 -2). Selanjutnya jika pertambahan regangan batang membesar diperlukan pertambahan gaya tarik (2 – 3), kemudian berikutnya ada daerah dimana regangan membesar tanpa adanya pertambahan tegangan yang berarti (3-4).

Apabila gayatarik ini lebih diperbesar sampai mencapai suatu titik dimana batang menunjuk pengecilan (kontraksi) dan apabila diteruskan maka batang akan patah (4-5), gaya tarik tersebut adalah gaya tarik maksimal yang dapat ditahan oleh batang tersebut.

Modulus elastisitas baja Esditentukan dari tegangans pada daerah elastis (0 -1) dibagi

dengan regangannya

s adalah

s s

Es

1.3. Macam Baja Beton

Ada dua jenis baja beton :

1. Baja beton polos / plain, umumnya dipasaran berukuran mulai diameter 6 mm s/d

25 mm ( 6 s/d  25) dengan mutu BJTP 24 (U 24) dan BJTP 32 (U 32).

2. Baja beton deform / ulir, umumnya berukuran diameter 10 mm s/d 38 mm, (D 10 s/d D 38) dengan mutu BjTP 40 (U39) keatas.

Kedua macam ini dapat ditemui dipasaran dalam bentuk batang maupun anyaman (wire mesh).

Baja Beton Polos

(33)

Baja beton deform / ulir

Baja beton ulir merupakan jenis baja beton yang direkomendasikan untuk tulangan pokok suatu struktur beton. Ada beberapa variasi baja beton seperti dilihat pada gambar.

Pada pemakaian baja ulir, pembengkokkan ujung tulangan cukup bentuk haak, itupun bila didaerah gempa. Haak juga diperlukan bila difungsikan untuk memperpendek panjang penyaluran gaya.

1.4. Cara Menentukan Diameter Batang

Untuk mengontrol diameter batang baja beton dilapangan pada baja polos dilakukan dengan cara mengukur penampangnya, sedangkan untuk diameter baja beton deform (ulir) garis tengah karakteristik dihitung dengan memakai rumus :

d = (12,74 s/d 12,8) B

dimana B = berat batang uji dibagi panjang batang uji (Kg / m, gr / mm)

Contoh : Suatu batang uji panjang 523 mm, massa 836 gram, maka garis tengah

karakteristiknya Dx = 12,74

523 836

(34)

1.5. Batas Toleransi Yang Diijinkan Pada Batang Baja Tulangan Toleransi untuk panjang batang :

Toleransi untuk diameter tulangan polos

Penyimpangan kebundaran adalah perbedaan antara diameter maksimal dan minimal dari hasil pengukuran pada penampang yang sama dari suatu baja

Toleransi minus 0 mm plus 40 mm minus 0 mm plus 50 mm Panjang dibawah 12 m

mulai dari 12 m ke atas

Penyimpangan kebundaran

sampai dengan 14 mm ± 0,4 mm Maksimum 70% dari 16 mm s/d 25 mm ± 0,5 mm batas toleransi 26 mm s/d 34 mm ± 0,6 mm

36 mm s/d 50 mm ± 0,8 mm

(35)

Toleransi untuk berat dari suatu lot (kelompok)

1.6. Jaringan Kawat Baja Las (Wire Mesh).

Jaringan kawat baja las (JKBL) untuk tulangan beton adalah jaringan dari kawat baja tulangan beton prefab, yang pada tiap titik pertemuan tulangan memanjang dan melintangnya dilas listrik untuk mendapatkan shear resistant.

Batang baja yang digunakan adalah dari baja keras U – 50 (batas ulur minimum 50 kg / mm2 atau 500 Mpa) sedangkan diameter batang yang ada dipasaran adalah 4 mm s/d 10 mm. Toleransi diameter kawat baja tulangan : 4,00 mm s/d 6,00 mm = ± 0,10 mm , 6,00 mm keatas = ± 0,13 mm.

Pemakaian jaringan tulangan beton adalah untuk lantai atau dinding atau pipa dengan catatan beban yang ditahan struktur tersebut adalah beban merata.

Beberapa keuntungan pemakaian jaringan kawat baja las : a. Menjamin ketepatan perhitungan

struktur beton karena JKBL diproduksi sesuai spec yang ditentukan pemesan serta mutu baja sesuai peraturan yang ditetapkan.

b. Mempercepat waktu pelaksanaan karena sudah tidak terlalu banyak lagi pengerjaan potong dan bengkok serta pemasangannya cepat. Program network planning bisa dilaksanakan dengan baik karena pengadaannya dan pemasangannya bisa diprogram sesuai jadwal.

Toleransi

± 6%

± 5%

± 4%

± 3,5%

d  28 mm

Diameter (mm)

d < 10 mm

10 mm  d < 16 mm

16 mm  d < 28 mm

(36)

c. Pengawasan mudah

d. Bisa menghemat biaya pasang dan biaya tak terduga

1.7. Kawat Pengikat Baja Tulangan

Kawat pengikat adalah kawat yang terbuat dari besi baja lunak yang digunakan untuk mengikat baja tulangan dalam struktur beton.

Persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

- Kawat pengikat harus terbuat dari besi baja lunak yang telah dipijarkan terlebih dahulu, diameter minimum 1 mm, tidak bersepuh seng.

- Pemakaian kawat pengikat untuk berkas tulangan yang terdiri dari 2, 3 atau 4 batang yang sejajar, maka diameter kawat pengikat minimum 2,5 mm dan jarak pengikatan tidak boleh lebih dari 24 kali diameter batang terkecil.

(37)

RANGKUMAN

 Ada 2 jenis baja beton :

1. Baja beton polos / plain, ukuran 6 mm s/d 25 mm ( 6 s/d  25) dengan mutu BjTP 24 (U 24) dan BjTP 32 (U 32).

2. Baja beton deform / ulir, ukuran 10 mm s/d 38 mm (D10 s/d D38) dengan mutu BjTP 40 (U39) keatas. Kedua macam ini dapat ditemui dipasar dalam bentuk batang maupun anyaman (wire mesh)

 Baja beton polos dipakai pada tulangan plat beton, angkur, sambungan perkerasan jalan, sengkang dan spiral kolom. Pada pemakaian, setiap ujung baja beton harus dibengkok seperti kait. Hal ini bertujuan untuk memperbesar daya lekat tulangan terhadap beton.

 Baja beton ulir dipakai untuk tulangan pokok suatu struktur beton pembengkokkan ujung tulangan cukup bentuk haak. Haak berfungsi memperpendek panjang penyaluran gaya.

 Wire mesh adalah jaringan kawat baja tulangan beton pre fab yang pada titik pertemuan tulangan dilas listrik untuk mendapatkan shear resistant, mutu baja U 50, diameter 4 mm s/d 10 mm. Toleransi diameter : 4 mm – 6 mm = ± 0,10 mm, 6 mm keatas = ± 0,13 mm. Pemakaian wire mesh untuk lantai, dinding atau pipa, dengan catatan beban yang ditahan struktur tersebut adalah beban merata.

 Kawat pengikat terbuat dari baja lunak, diameter minimum 1 mm, tidak bersepuh seng. Pemakaian kawat pengikat untuk berkas tulangan yang terdiri dari 2,3 dan 4 batang yang sejajar, diameternya minimum 2,5 mm dan jarak pengikatan tidak boleh lebih dari 24 kali diameter batang terkecil.

(38)

LATIHAN

a). Uraian jenis-jenis baja beton dan pemakaiannya ! b). Apa keuntungan pemakaian wire mesh ?

(39)

Bagian C :

Pemeriksaan, Pelaporan dan Evaluasi Pelaksanaan Pekerjaan

Pembesian / Penulangan Beton

BAB 1

PEMERIKSAAN PEKERJAAN PEMBESIAN

1.1 Pemeriksaan

Pemeriksaan baja beton dilakukan dalam lima jenis, yaitu :  Pada saat penerimaan baja beton

 Pada penyimpanan sebelum dibengkok

 Gambar pembengkokkan dan Pemotongan (bestaat)  Pada saat dipotong / dibengkok

 Pada saat dirakit Penerimaan Baja beton :

- Periksa, apakah jumlah dan diameternya sesuai dengan faktur

- Periksa juga jenis, mutu dan panjangnya apakah sesuai dengan yang dipesan. - Periksa apakah dilengkapi sertifikat atau tanda uji laboratoriumnya. Apabila

belum ada segera mintakan kepada pemasoknya.

- Periksa secara visual, apakah terjadi korosi atau pengelupasan dan sebagainya.

- Periksa kelurusan dan keseragaman ukuran, karena produk tertentu kadang-kadang memiliki ukuran yang berbeda antara ujung dan tengahnya.

Penyimpanan Baja beton sebelum dibengkok :

- Penyimpanan baja beton bebas dari tanah dan tertumpu balok atau yang sejenis.

- Penyimpanan dipisah sesuai diameternya.

- Penyimpanan tidak boleh terlalu lama, beri penandaan/kode tanggal penerimaannya.

- Pisahkan material afkir dari lokasi

- Perlindungan terhadap pengaruh cuaca apakah memakai atap atau cukup dengan ditutup terpal.

(40)

Gambar pembengkokkan dan pemotongan (bestaat) :

- Siapkan gambar kerja penulangan yang telah disetujui. - Pelajari penandaan / kode dari tulangan

- Periksa gambar pembengkokkan berdasarkan gambar kerja yang telah disetujui.

- Hitung jumlah baja beton yang akan dikerjakan.

- Periksa baja beton ekstra yang harus dikerjakan dan minta persetujuan ke pengawas termasuk beban pembayarannya.

- Periksa, apakah bestaat yang sudah disetujui direksi sama dengan yang dikirim ke tukang potong / bengkok

- Periksa pemanfaatan sisa potongan, apakah sudah efisien dan memungkinkan untuk dilakukan.

Pemotongan dan Pembengkokkan :

- Siapkan gambar bestaat yang sudah disetujui

- Periksa jumlah dan panjang batang lonjoran yang akan dipotong. - Luruskan baja beton yang akan dipotong dengan alat pelurus.

- Periksa, apakah panjang dan bentuk bengkokkan sesuai dengan bestaat - Periksa jari-jari bengkokkan apakah sudah sesuai persyaratan

- Periksa bentuk kait-kait

- Batang – batang perbagian struktur dibundel dan diberi label yang mudah dilihat.

- Lokasi penyimpanan mudah dikunjungi dan dapat dengan mudah untuk manuver peralatan angkut dan peralatan angkat.

- Sisa potongan yang tak terpakai harus dikeluarkan dari tempat pemotongan maupun pembengkokkan.

(41)

Perakitan dan pemasangan baja beton (sebelum pengecoran) : - Sediakan gambar kerja yang sudah disetujui

- Periksa ukuran bekisting

- Periksa ikatan anyaman, apakah cukup kuat. - Periksa mutu dan jenis baja yang dipakai. - Periksa bentuk bengkokkan

- Periksa diameter, panjang dan jarak tulangan maupun sengkang serta jumlahnya.

- Periksa penempatan baja tulangannya

- Periksa stek atau tulangan ekstra yang dibutuhkan.

- Periksa selimut betonnya, termasuk jenis dan jarak ganjal / beton dekking nya dan ketepatan elevasi tulangan atas.

- Periksa tempat-tempat pertemuan

- Periksa sambungan – sambungannya, apakah cukup overlappingnya. - Periksa sambungan lasnya.

- Periksa pemasangan alat penyambungnya

- Periksa tingkat korosinya apakah harus dibersihkan atau masih dalam toleransi.

- Pembersihan dari sisa-sisa kotoran sebelum pengecoran.

1.2 Check List

Sebelum beton dicor, pekerjaan pemasangan besi beton harus diperiksa lebih dahulu. Dengan check list, kita periksa hasil pekerjaan sebagai berikut :

Formulir check list (daftar simak) :  Jenis besi beton (polos, diform)  Diameter besi beton

 Jumlah besi beton  Jarak-jarak besi beton

 Sambungan besi beton / stek

 Posisi besi beton (berubah letaknya atau tidak)  Panjangnya besi beton, pengangkeran

 Tebal lindungan beton (batu tahu) pecah/ tidak, besi beton rapat dengan bekisting / cukup longgar.

(42)

 Tulangan atas bengkok / tidak (misalnya, terinjak pada tulangan – tulangan dengan dari Ǿ kecil) atau bergerak.

 Ada kotoran pada besi beton : - Tumpahan oli

- Ada Lumpur - Puntung rokok, dll  Adanya kayu / klos  Perkaratan yang lanjut

 Cukup support, cakar ayam, pemegang antara, dsb.

 Berhubung pembesian merupakan tulang punggung dari konstruksi beton, maka ketelitian kerja pembesian akan menentukan kekuatan konstruksi.

 Kesalahan – kesalahan dalam pekerjaan ini dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan : cacat konstruksi kegagalan konstruksi yang dapat membahayakan

(43)

Berikut contoh check list dari pembesian untuk slab (pelat) pada pekerjaan konstruksi High rise building

(44)

1.3 Piket / Storing

Setelah dilaksanakan pemeriksaan oleh konsultan / direksi lapangan, maka hasil pemasangan / penyetelan pembesian / penulangan beton dianggap benar dan pekerjaan beton siap untuk dicor.

Pada waktu pelaksanaan pengecoran maka mandor berkewajiban untuk melaksanakan piket atau storing dengan menyediakan satu atau beberapa orang petugas.

Adapun tugas dari piket / storing tersebut adalah memeriksa sekali lagi pembesian yang sudah terpasang, ikatan yang lepas diperbaiki, penulangan dirapikan dan sisa-sisa besi dan kawat beton dibersihkan dilokasi pekerjaan.

Diharapkan dengan adanya piket / storing tersebut maka posisi pemasangan pembesian adalah benar sesuai yang disyaratkan sehingga beton yang akan dicor tercapai mutu yang diharapkan.

(45)

1.4 Bagan Penyelesaian Pekerjaan

Berikut urutan pelaksanaan pekerjaan pembesian yang dilakukan mandor sebagai berikut :

Dengan adanya bagan tersebut, seorang mandor akan mengetahui urutan-urutan pekerjaan sehingga dapat dengan jelas melaksanakan pengendalian dilapangan baik waktu, mutu maupun biaya.

(46)

1.5 Contoh Kasus Kegagalan Pemasangan Pembesian

Mandor memegang peranan penting di dalam suksesnya pelaksanaan konstruksi terutama dari segi keamanannya. Apabila seorang mandor ceroboh dalam pemasangan pembesian dan menyalahi gambar kerja dan spesifikasi yang ada maka akibatnya akan sangat fatal dimana kemungkinan terjadi bangunan yang roboh.

Berikut contoh kasus kegagalan konstruksi pada luifel / konsol : 1. Posisi tulangan tarik tergeser ke posisi

yang menderita gaya tekan (kebawah). 2. Keropos pada pertemuan kolom, balok

dan luifel sehingga rekatan antara beton dan tulangan relatif kecil.

3. Beton dekking / kaki ayam yang berfungsi sebagai penahan elevasi tulangan, tidak dipasang dengan betul sehingga tulangan luifel turun akibat terinjak pekerja.

4. Kait / Haak tulangan luifel terlalu pendek sehingga tidak mampu menahan gaya yang disalurkan.

5. Kolom direncanakan mampu menahan luifel setelah struktur secara keseluruhan sudah selesai (plat lantai, atap dan kolom lainnya sudah menyatu), sedangkan saat luifel tersebut dikerjakan, kolom masih berdiri sendiri sehingga kolom tersebut tertarik oleh beban luifel.

(47)

RANGKUMAN

 Ada lima langkah dalam pemeriksaan pembesian / penulangan beton : - Penerimaan baja beton

- Penyimpanan baja beton sebelum dibengkok - Gambar pembengkokkan dan pemotongan - Pemotongan dan pembengkokkan

- Perakitan / Penganyaman dan pemasangan baja beton  Conton Check list untuk pemasangan baja beton :

- Jenis baja beton - Diameter

- Jumlah baja beton - Jarak-jarak baja beton

- Sambungan – sambungan letak - Posisi baja beton (berubah tidak ? ) - Panjang baja beton, pengangkuran - Tebal selimut beton

- Tulangan atas tidak bengkok / turun - Ada kotoran atau karat

- Cukup support / ganjal.

 Piket / storing penting dilaksanakan agar dilakukan check terakhir sebelum pengecoran yang meliputi ikatan yang lepas diperbaiki, penulangan dirapikan, sisa – sisa besi beton dan kawat beton dibersihkan.

 Kasus robohnya konsol karena tulangan atas turun kebawah (kemungkinan terinjak) dan hal-hal lain, menyebabkan perlunya ke hati-hatian seorang mandor dalam membuat dan memasang pembesian.

(48)

LATIHAN

a). Uraikan bagaimana kita menerima besi beton dilapanga b). Uraikan bagaimana menyimpan besi beton

(49)

BAB 2

PENJELASAN STANDAR DAN PROSEDUR KERJA

Pada pekerjaan persiapan maka sebelum mulai pekerjaan di lapangan, mandor harus memberikan penjelasan dulu kepada para tukang dan pekerja mengenai hal – hal yang penting pada pelaksanaan pekerjaan nantinya. Dengan memberikan penjelasan kepada tukang dan pekerja maka diharapkan proses pelaksanaan pekerjaan menjadi benar, koordinasi diantara pekerja menjadi baik, kekeliruan pekerjaan menjadi minimal dan tercapai efektifitas dan efisiensi dilapangan.

Penjelasan harus detail tetapi dengan cara yang sederhana, disesuaikan dengan level kemampuan seorang tukang dan mudah dimengerti dan dicerna.

2.1. Penjelasan spesifikasi

Spesifikasi pembesian biasanya singkat dengan isinya antara lain :

- Macam-macam bahan baja beton, terdiri dari tulangan baja polos dan tulangan baja ulir beserta persyaratan bahan-bahan tersebut.

- Syarat pemotongan dan pembengkokan besi beton, apabila proyek dari dana lokal biasanya mengacu standar sesuai PBI’ 71. Sedangkan proyek-proyek berskala besar dan dana dari luar negeri, standarnya juga berasal dari luar negeri. Karena cukup banyak maka standar-standar tersebut tidak dicantumkan pada spesifikasi tetapi kontraktor harus mengacu Buku Standar yang ada (misal PBI’71) atau diuraikan secara detail pada gambar kontrak.

- Syarat - syarat pemasangan dan penyetelan baja beton - Syarat - syarat selimut beton.

Inti dari spesifikasi tersebut (yang diperlukan tukang) sebaiknya dibuat secara singkat oleh mandor untuk dijelaskan kepada yang bersangkutan.

(50)

Contoh Spesifikasi Pembesian

Tulangan Baja (1) Umum

Tulangan baja terdiri atas dua jenis yang akan digunakan yaitu tulangan baja polos atau tulangan baja ulir, yang kebutuhannya harus disesuaikan dengan standar yang tersebut pada klausul pada spesifikasi umum, dan sesuai seperti yang dibawah ini :

Potongan melintang dari setiap tulangan baja yang akan digunakan harus mempunyai bentuk yang sama dan memiliki diameter yang spesifik pada setiap titik. Diameter rata-rata tulangan yang akan dipilih secara acak dari setiap pengiriman yang memiliki perbedaan diameter lebih atau kurang dari dua persen (2 %). Tulangan harus bersih dari sisik, oli, kotoran dan cacat produksi.

Apabila di minta oleh Direksi, kontraktor harus menyerahkan tiga (3) buah fotocopy dari brosur pabrik / lembaran spesifikasi pabrik untuk mendapat persetujuan sebelum pengiriman dilaksanakan dan pemeriksaan dilapangan harus dilakukan oleh Direksi berdasarkan spesifikasi dan berdasarkan brosur pabrik.

(2) Daftar Bengkokkan

Kontraktor harus memahami sendiri semua penjelasan yang diberikan dalam gambar dan spesifikasi, kebutuhan akan tulang yang tepat untuk dipakai dalam pekerjaan. Daftar bengkokkan yang mungkin diberikan oleh Direksi kepada

Bentuk Tulangan Bulat berulir Bulat polos

Kuat tarik, kg/ mm2 49 - 63 49 - 63

Tegangan leleh, kg / mm2 30 atau lebih 30 atau lebih

(51)

dipotong sesuai dengan gambar, tidak boleh menyambung tulang tanpa persetujuan Direksi.

(3) Pemasangan

Kontraktor harus menempatkan dan memasang tulang baja dengan tepat pada tempat kedudukan yang ditunjukkan dalam gambar dan harus ada jaminan bahwa tulangan itu akan tetap pada kedudukannya pada waktu pengecoran beton. Pengelasan tempel dengar, adanya persetujuan Direksi lebih dahulu dapat diijinkan untuk menyambung tulangan – tulangan yang saling tegak lurus, tetapi cara pengelasan lain tidak akan dibolehkan. Penggunaan ganjal, alat peregangan dan kawat harus mendapat persetujuan dari Direksi. Perenggangan dari beton harus dibuat dari beton dengan mutu yang sama seperti mutu beton yang akan dicor. Perenggang tulang dari besi beton dan kawat harus sepadan dengan bahan tulangannya. Selimut beton yang ditentukan harus terpelihara.

(4) Selimut Beton

Kecuali ditentukan lain dalam gambar, tulangan baja harus dipasang sedemikian, hingga terdapat selimut / penutup minimum sampai permukaan penyelesaian beton, sebagai berikut :

Kelas Beton Jenis pekerjaan Selimut Minimum

(mm)

K225 Pelat Beton Pra cetak Pipa Beton 25

K175 Beton Bertulang Umumnya 40

2.2. Penjelasan Standar pembesian

Sebagaimana tercantum pada spesifikasi, maka pelaksanaan pekerjaan penulangan beton harus mengacu kepada standar yang telah ditentukan. Standar bisa berasal dari dalam negeri misal PBI’ 71 atau SNI maupun dari luar negeri. Standar tersebut bisa berbeda karena kemungkinan adanya perbedaan angka keamanan untuk perhitungan konstruksi.

Inti dari standar pembesian yang diperlukan oleh tukang, sebaiknya dibuat secara singkat oleh mandor untuk dijelaskan kepada yang bersangkutan.

(52)

Contoh dari standar pembesian menurut PBI’ 71 adalah sebagai berikut :

PERSYARATAN UKURAN-UKURAN PEMBENGKOKAN

Dalam peraturan mengenai pembesian, rincian bentuk pembegkokan ya juga sering dibedakan antara besi polos dengan besi yang diprofilkan. Lengkung pembengkokan untuk besi yang diprofilkan biasanya lebih besar daripada untuk besi polos.

(53)

SAMBUNGAN TULANGAN

Sambungan pembesian ada aturan-aturannya, untuk balok atau pelat yang panjang, besi tulangan yang ada tidak cukup panjang, sehingga harus disambung.

 Ingat, penyambungan-penyambungan ini hanya dapat dilakukan di tempat yang ditunjukkan menurut gambar atau pada daftar pembengkokan.

 Jika pada penyambungan besi beton tidak boleh menentukan tempat sambungan itu menurut kehendak sendiri.

Penyambungan tulangan tidak boleh dilakukan di tengah-tengah bentang balok atau plat, karena pada umumnya di situ momennya besar.

(54)

Suatu penyambungan diperoleh dengan meletakkan bagian ujung batang yang satunya di samping bagian ujung yang lainnya, dengan memberi ruang antara sebesar 2-3 cm. Jadi gaya batang yang satu dipindahkan pada batang yang lainnya dengan melalui beton. Karena itu, maka penyambungan ini dinamakan penyambungan pelekatan.

Penyambungan tulangan dengan cara mengikat kedua ujung tulangan dengan kawat pengikat, tidak boleh dilakukan , sebab nantinya beton tidak dapat membungkus batang-batang dengan baik.

(55)

Panjangnya penyambungan, ialah panjangnya bagian ujung-ujung batang yang diletakkan berdampingan satu terhadap lainnya. Disebut juga dengan panjang lewatan.

Besarnya panjang lewatan, tergantung pada perhitungan yang dilakukan oleh ahli teknik. Factor-faktor yang mempengaruhi besarnya panjang lewatan tersebut seperti antara lain :  Tulang yang disambung merupakan tulang tarik atau tulang tekan.

 Ujung batang memakai kait atau tidak

 Penggunaan tulangan di bagian konstruksi apa  Mutu beton (kelas beton)

 Macam batang / tulangan : polos atau diprofilkan.

Sambungan dengan kait panjang penyambungan tidak boleh sekali-kali kurang daripada 25 kali tebal batang yang terkecil.

Pada beberapa spesifikasi sering dicantumkan panjang lewatan tulangan polos sekurang-kurangnya 40 kali diameter tulangan yang disambung. Jadi, hati-hati dengan sambungan-sambungan tulangan beton. Mandor agar berkonsultasi dengan pelaksana bila menghadapinya.

(56)

2.3. Penjelasan Instruksi Kerja

Instruksi kerja merupakan prosedur Quality Assurance atau sistem mutu proyek dimana konsep dasarnya adalah tulis apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda tulis. Dengan demikian semua langkah pekerjaan tercatat, tidak ada yang kelewatan. Selanjutnya akan dinilai apa syaratnya langkah pekerjaan itu diterima, apabila belum memenuhi syarat maka statusnya tidak baik dan perlu diadakan perbaikan.

Diharapkan dengan adanya check list instruksi kerja tersebut akan membuat pelaksanaan pekerjaan menjadi teratur, sistematis, terkontrol dapat mengetahui kesalahan pelaksanaan sehingga mengurangi pekerjaan ulang yang tentunya memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

(57)
(58)
(59)

2.4. Penjelasan gambar kerja dan jadwal kerja.

Rencana atau jadwal kerja kemudian dijelaskan kepada para tukang dan pekerja sesuai schedule kerja harian / mingguan yang telah dibuat. Dalam schedule kerja tersebut tercantum lokasi pekerjaan sesuai notasi pada gambar kerja, rencana, volume dan rencana waktu pelaksanaan.

Dengan demikian pegangan untuk mandor untuk pelaksanaan adalah gambar kerja pembesian sesuai lokasinya, bar bending schedule dan daftar pemotongan besi juga sesuai lokasinya serta rencana kerja harian tersebut diatas. Kesemua pelaksanaan pekerjaan tersebut harus sesuai spesifikasi dan standar pembesian yang telah ditetapkan oleh pemberi pekerjaan.

Contoh rencana kerja adalah sebagai berikut:

SN/18 SL/19 RB/20 KM/21 JM/22 SB/23 MG/24 1 Plat Lantai 5 AP 11' - 12' / G-H

- Bekisting 210 M2

- Pembesian 26.716 Kg

- Pengecoran 80 M3

2 Dinding kolam renang AP 14 - 16 / D - E

- Bekisting 81 M2 - Pembesian 1.25 Kg - Pengecoran 6 M3 3 Tangga core AP 12 - 13 / E 4 Lantai 3 AP 13 - 15 / G - H' - Bekisting 56 M2 - Pembesian 2.7 Kg - Pengecoran 15 M3

5 Dinding retaining wall AP 7 - 8 / G - H' 6 Lantai 3 AP 9 - 12 / G' - H' - Bekisting 37 M2 - Pembesian 3.74 Kg - Pengecoran 20 M3 Mengetahui Kepala Proyek RENCANA VOLUME TANGGAL MINGGU KE : III

BULAN : SEPTEMBER ……... TAHUN : 2006 REALISASI

RENCANA KERJA MINGGUAN

Jakarta, 18 September 2006 Dibuat oleh, Pelaksana Disetujui Kepala Lapangan ANIS JENIS PEKERJAAN NO. KETERANGAN

(60)

RANGKUMAN

 Penjelasan Spesifikasi :

- Macam-macam bahan untuk pembesian

- Syarat pemotongan dan pembengkokkan besi beton - Syarat-syarat pemasangan dan penyetelan besi beton - Syarat-syarat selimut beton

 Penjelasan Standar pembesian - Ukuran pembengkokkan - Sambungan tulangan

- Pemakaian ganjal / Spacers / Tahu beton

- Dan lain-lain sesuai standar yang dipakai (misal PBI’ 71)  Penjelasan Instruksi Kerja (IK)

- Merupakan prosedur sistem mutu diproyek

- Langkah-langkah pekerjaan yang tertulis di check list, harus betul-betul dilaksanakan dan dicek kebenarannya

- Kriteria keberterimaan harus dipedomani agar langkah pekerjaan tersebut dapat diterima.

 Penjelasan gambar dan jadwal / Rencana Kerja

- Jadwal kerja harian memuat lokasi pekerjaan sesuai gambar kerja, rencana volume dan rencana waktu pelaksanaan

- Pegangan untuk mandor dan tukang adalah : - Jadwal kerja harian

- Gambar kerja pembesian sesuai lokasi - Daftar pembengkokkan dan pemotongan besi - Spesifikasi dan standar pembesian.

(61)

LATIHAN

a). Uraikan detail spesifikasi apa yang perlu dijelaskan kepada tukang ?

b). Penjelasan standar pembesian merupakan hal pokok yang perlu diketahui tukang dan pekerja, jelaskan !

(62)

BAB 2

PERALATAN-PERALATAN PEKERJAAN

PEMBESIAN

2.1 Alat Manual dan Mesin

Ada alat-alat yang dikerjakan dengan tenaga orang atau manual, tetapi ada juga yang dengan mesin :

Alat pemotong besi yang dikerjakan dengan tangan.

(63)

Besi lengkung atau besi lipat

Tang anyam dengan cara mengikat

Ada juga alat-alat mekanik (mesin) yang menggunakan tenaga listrik :

- Mesin potong

- Mesin pembengkok

(64)

Pelat Pembengkok

Meja untuk membengkok dan memotong Besi Polos

Besi Ulir

Kunci Pembengkok

(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)

2.2 Pedoman Pemakaian dan Pemeliharaan Peralatan

- Pakai jenis peralatan yang cocok untuk setiap jenis pekerjaan - Jaga Peralatan selalu tajam

- Jaga peralatan selalu bersih

- Selalu memeriksa peralatan secara teratur untuk menjaga agar selalu pada kondisi yang baik.

- Segera perbaiki peralatan yang rusak.

- Buang peralatan yang rusak dan tidak dapat diperbaiki

- Penempatan peralatan agar bisa gampang diambil pada waktu pelaksanaan pekerjaan.

- Jangan menempatkan peralatan pada bagian pekerjaan yang sudah jadi - Jangan menempatkan peralatan ditempat yang gampang jatuh

- Pakailah alat keamanan apabila bekerja.

(72)

RANGKUMAN

 Alat mesin untuk pemotongan dan pembengkokkan baja beton : - Mesin Potong (Bar Cutter)

- Mesin Bengkok (Bar Bender) - Mesin Las

 Alat manual untuk pemotongan dan pembengkokkan baja beton : - Alat pemotong besi

- Alat Pembengkok besi (berupa meja dengan mal pembengkok) - Kunci Penekuk

- Gunting kawat - Meteran - Kapur

- Cetok (untuk membuat tahu beton)

 Beberapa tips untuk pemakaian dan pemeliharaan peralatan antara lain : - Jaga peralatan selalu tajam dan bersih

- Segera perbaiki alat yang rusak

- Alat ditempatkan agar pelaksanaan pekerjaan bisa lancar dan efisien - Pakai alat keamanan apabila bekerja.

(73)

LATIHAN

a). Sebutkan alat mesin untuk pekerjaan pembesian dan penggunaannya b). Sebutkan alat manual untuk pekerjaan pembesian dan penggunaannya c). Sebutkan alat-alat bantu untuk pekerjaan pembesian dan penggunaannya

(74)

BAB 2

PELAPORAN DAN EVALUASI HASIL

PELAKSANAAN PEMBESIAN

2.1 Pelaporan Hasil Pelaksanaan Pembesian

Pada bahan penyelesaian pekerjaan, diuraikan urutan pelaksanaan pekerjaan pembesian / penulangan beton, dimulai dari pekerjaan persiapan , dilanjutkan pada

pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Apabila pelaksanaan pemotongan,

pembengkokkan dan perangkaian serta penyetelan baja beton sudah selesai, maka diadakan pemeriksaan hasil kerjanya.

Pemeriksaan dilakukan pertama kali oleh mandor sendiri, kemudian dilanjutkan oleh pelaksana kontraktor dan direksi teknis atau konsultan, kesemuanya itu dengan lembar daftar simak atau check list.

Apabila hasilnya masih belum baik maka perlu direvisi sesuai persyaratan yang berlaku. Selanjutnya setelah pada check list dinyatakan pelaksanaan pekerjaan sudah baik dan memenuhi syarat maka pihak mandor akan membuat pelaporan hasil pelaksanaan pembesian sesuai hasil pengukuran volume pekerjaan. Pengukuran volume dilakukan oleh mandor yang kemudian di check kebenarannya oleh pelaksana kontraktor.

Apabila berita acara progress pekerjaan sudah ditandatangani bersama oleh mandor dan pelaksana kontraktor maka bisa dilanjutkan dengan membuat berita acara kemajuan pekerjaan dan berita acara pembayaran. Apabila proses pembayaran telah selesai sebaiknya mandor mencatatnya pada pembukuan mandor itu sendiri.

(75)

Tangerang, 09 februari 2006

Diperiksa dan disetujui oleh, Mandor,

PROGRESS KE : 1 PERIODE :

PEKERJAAN FABRIKASI DAN PEMASANGAN BESI BETON

S/D SAAT LALU SAAT INI S/D SAAT INI I AREA - A 1 PILE CAP 462,211.70 2 TIE BEAM 83,872.56 3 SLAB 533,708.82 4 KOLOM 430,170.03 5 CORE WALL 184,240.57 6 BALOK 599,428.69 7 DROP PANEL 105,170.88 II AREA - B 1 PILE CAP 462,211.70 2 TIE BEAM 83,872.58 3 SLAB 533,708.82 4 KOLOM 430,170.83 5 CORE WALL 184,240.57 6 BALOK 599,428.69 7 DROP PANEL 105,170.88 III AREA - C 1 PILE CAP 462,211.70 2 TIE BEAM 83,872.58 3 SLAB 533,708.82 4 KOLOM 430,170.03 5 CORE WALL 184,240.57 6 BALOK 599,428.69 7 DROP PANEL 105,170.88 IV AREA - D 1 PILE CAP 462,211.70 2 TIE BEAM 83,872.56 3 SLAB 533,708.82 4 KOLOM 430,170.03 5 CORE WALL 184,240.57 6 BALOK 599,428.69 7 DROP PANEL 105,170.88 V AREA - E 1 PILE CAP 462,211.70 2 TIE BEAM 83,872.58 3 SLAB 533,708.82 4 KOLOM 430,170.03 5 CORE WALL 184,240.57 6 BALOK 599,428.69 7 DROP PANEL 105,170.88 VI BANGUNAN UTILITIES 1 STP & GWT 93,038.40 2 DINDING (RETAINING WALL) 97,894.88 3 TANGGA 523,050.43 TOTAL = 12,708,000.82 KET VOLUME BBS JENIS PEKERJAAN NO PRESTASI

Gambar

Grafik hasil pengujian tarik dapat digambarkan dalam suatu diagram sebagai berikut :
GAMBAR RENCANA PEMBESIAN
Gambar 4.2.3 Pembagian lokasi bangunan
Gambar 4.2.5 Besi – Pelipat dan Pelat- pelipat
+7

Referensi

Dokumen terkait