Pengembangan Model Pembelajaran Atletik Nomor Lempar
untuk Anak Tunagrahita Ringan
Luthfie Lufthansa
IKIP Budi Utomo Malang. Jl Simpang Arjuno No.14B, Kauman, Kota Malang, 65119, Indonesia
Email: [email protected]
Received: 31January 2017; Revised:8 March 2017; Accepted: 28 April 2017
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menghasilkan model pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan. Penelitian pengembangan ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pengumpulan informasi di lapangan, (2) analisis terhadap informasi, (3) pengembangan produk awal, (4) validasi ahli dan revisi, (5) uji coba lapangan kelompok kecil dan revisi, (6) uji coba lapangan kelompok besar dan revisi, dan (7) pembuatan produk final. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu: (1) pedoman wawancara, (2) skala nilai, dan (3) pedoman observasi. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu teknik analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian menghasilkan buku panduan pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan yang berisikan delapan model, yaitu (1) model pembelajaran netting menolak, (2) model pembelajaran menolak peluru, (3) model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net, (4) model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan, (5) model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung, (6) model pembelajaran melempar roket ke bintang, (7) model pembelajaran bermain netting melontar, dan (8) model pembelajaran melontar komet ke matahari.
Kata Kunci: anak tunagrahita ringan, pembelajaran atletik, nomor lempar, pengembangan
Developing a Learning Model of Throwing Games in Athletics
for Slightly Mentally-Retarded Children
Abstract
This study aims to develop a learning model of throwing games in athletics for slightly mentally retarded children. The research and development study was conducted in the research and development steps as follows: (1) collecting information in the field, (2) analyzing the information, (3) developing the preliminary product, (4) conducting expert validation and revision, (5) conducting a small-group field tryout and revision, (6) conducting a large-group field tryout and revision, and (7) making the final product. The data collection instruments included: (1) an interview guideline, (2) a grade scale, and (3) an observation guideline. The data were analyzed by means of quantitative and qualitative descriptive techniques. The study produces a guidebook for the learning of throwing games in athletics for slightly mentally retarded children consisting of eight models, i.e.: (1) a learning model of the push netting, (2) a learning model of the shot put, (3) a learning model of swinging color rings over a net, (4) a learning model of swinging an UFO plate to the moon, (5) a learning model of throwing a tailed ball at a hanging hoop target, (6) a learning model of throwing a rocket to a star, (7) a learning of the throwing netting game, and (8) a learning model of throwing a comet to the sun.
Keywords: slightly mentally retarded children, athletics learning, development
How to Cite: Lufthansa, L. (2017). Pengembangan model pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan. Jurnal Keolahragaan, 5(1), 39-49. doi:http://dx.doi.org/10.21831/jk.v5i1.12803
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam pembangunan suatu bangsa dan negara. Pendidikan di sekolah mau-pun di luar sekolah haruslah selalu menuju kepada fungsi dan tujuan pendidikan nasional, seperti yang tertulis dalam Undang-Undang SIKDISNAS Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, yaitu mengembangkan kemampuan dan mem-bentuk watak serta peradaban bangsa yang ber-martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang ber-iman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab (Presiden Republik Indonesia, 2003).
Pendidikan jasmani merupakan salah satu pelajaran yang terkandung dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan jasmani merupakan pro-ses pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada siswa berupa aktivitas jasmani, bermain, dan olahraga yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik, keterampilan motorik, keterampilan berpikir, emosional, sosial, dan moral (Presiden Republik Indonesia, 2003, p. 16).
Pendidikan jasmani di sekolah luar biasa disebut juga pendidikan jasmani adaptif atau pendidikan jasmani yang telah disesuaikan dengan kondisi siswa. Pendidikan jasmani adap-tif merupakan suatu sistem penyampaian layan-an ylayan-ang bersifat menyeluruh (komprehensif) dlayan-an dirancang untuk mengetahui, menemukan, dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Untuk itu pendidikan jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progresif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar.
Penelitian ini mengkhususkan pada anak tunagrahita. Menurut Abdurrachman (1996, p. 19) anak tunagrahita adalah kata lain dari mental retardation, yang arti harfiahnya dari perkataan tuna adalah merugi sedangkan grahita artinya pikiran. Anak penyandang tunagrahita atau cacat mental bukan merupakan kelompok atau golongan sendiri yang mempunyai asal usul lain dalam suatu bangsa. Seperti anak-anak yang tumbuh secara normal, anak tunagrahita juga merupakan bagian dari suatu bangsa sekaligus sebagai generasi penerus perjuangan cita-cita bangsa. Oleh karena itu anak tunagrahita juga
mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan anak-anak normal lainnya. Untuk itu diperlukan pelayanan khusus terhadap anak-anak tunagrahita, pelayanan tersebut dimak-sudkan untuk mengembangkan keterampilan penyandang tunagrahita agar mereka dapat mandiri dalam kehidupan sehari-hari melalui penjas adaptif. Karena penyesuaian diri meru-pakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk dapat menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik.
Anak tunagrahita mengalami keterbatasan intelegensi, keterbatasan sosial, keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya seperti memer-lukan waktu yang lama untuk melaksanakan reaksi dengan situasi yang baru dikenalnya, keterbatasan penguasaan dalam bahasa, kurang mampu mempertimbangkan sesuatu. Semakin rendah intelektual seseorang, kemampuan motoriknya akan rendah pula (Somantri, 2006, p. 88).
Bukti yang menguatkan dugaan tentang kuatnya hubungan antara keterampilan motorik dan tingkat kemampuan mental anak tunagrahita dikemukakan oleh Kral dan Stein dalam (Somantri, 2006, p. 88) yang merangkum penelitian dari Amerika Serikat sejak tahun 1951-1963 berkaitan dengan motorik anak tuna-grahita, menyimpulkan bahwa secara umum penampilan anak tunagrahita kurang memadai hampir pada semua tes kecakapan motorik jika dibandingkan dengan anak normal yang memiliki cronologi age (CA) yang relatif sama. Perbedaan yang mencolok pada koordinasi gerak yang kompleks dan yang memerlukan pemahaman.
Menurut Kennedy, karakteristik anak tunagrahita mengalami keterbatasan dalam peri-laku sosial, konsep diri, proses belajar, koor-dinasi motorik, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan dalam mengikuti instruksi (Sumaryanti, Kushartanti, & Ambardini, 2010, p. 31). Menurut Robinson, anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk mengolah informasi, menyimpan, dan menggunakan kembali yang sebelumnya sudah disimpan, rentang perhatian yang sempit dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah (Sumaryanti et al., 2010, p. 31).
Pengklasifikasian anak tunagrahita berda-sarkan tingkat keterbelakangan mental menurut Ibrahim (2005, p.39) adalah Stanford Binet (a) ringan/debil 68-52, (b) sedang/embisil 51-36, (c) berat 32-20, (d) sangat berat/idiot <19, sedang-kan Wechsler (a) ringan/debil 69-55, (b)
sedang/embisil 64-40, (c) berat 39-25, (d) sangat berat/idiot <24.
Selain itu, tunagrahita dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: (a) debil dengan IQ 50-70 (mampu didik), (b) embisil dengan IQ 25-50 (mampu latih), (c) idiot dengan IQ <25 (mampu rawat) (Presiden Republik Indonesia, 2003).
Salah satu pembelajaran penjas di sekolah luar biasa adalah mata pelajaran atletik yang meliputi lari, jalan, lompat, dan lempar. Atletik adalah aktivitas jasmani yang kompetitif/dapat diadu, meliputi beberapa nomor lomba yang terpisah berdasarkan kemampuan gerak dasar manusia seperti berjalan, berlari, melompat, dan melempar. Pada awal mula bentuk atletik yang mulai terorganisasi/teratur umumnya diakui telah terjadi sejak zaman Yunani Kuno dan dikenal dalam Olimpiade Purba.
Atletik yang dikenal saat ini tergolong cabang olahraga yang paling tua di dunia. Gerakan gerak dasar yang terkandung di dalam atletik sudah dilakukan sejak adanya peradaban manusia di permukaan dunia ini. Gerak itu secara tidak disadari sudah dilakukan sejak manusia dilahirkan yang secara bertahap ber-kembang sejalan dengan tingkat perber-kembangan dan kematangan biologis mulai gerak yang sangat sederhana sampai kepada tingkat yang sangat kompleks.
Menurut Soegito, dkk (1991, p.18) istilah atletik yang dikenal dewasa ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘athlon’ yang berarti berlomba atau bertanding. Istilah lain yang mengandung kata atletik adalah athletics (bahasa Inggris), athetiek (bahasa Belanda), athletique (bahasa Perancis), dan athletik (bahasa Jerman). Walaupun berbeda dalam kata yang digunakan namun semua itu mempunyai istilah yang sama namun artinya yang tidak sama dengan istilah atletik yang digunakan di Indonesia.
Istilah atletik di Indonesia diartikan seba-gai cabang olahraga yang memperlombakan nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Istilah lain yang mempunyai arti sama dengan istilah yang digunakan di Indonesia adalah ‘leichtathletik’ (Jerman), ‘atletis mo’ (Spanyol), ‘olahraga’ (Malaysia), dan ‘track and field’ (USA). Jonath, Haag, Krempel, & Soeparmo (1987, p. 1) dalam bukunya menulis nomor-nomor dalam atletik adalah jalan, lari, loncat dan lempar yang sejak dahulu telah dimasukkan dalam pendidikan jasmani serta olimpiade.
Atletik merupakan salah satu pokok ba-hasan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan yang diberikan kepada peserta didik dari SD, SMP, SMA. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006, p. 648).
Mengapa atletik merupakan salah satu pokok bahasan wajib dalam pendidikan jasmani di sekolah-sekolah? Jawaban secara logis adalah karena atletik merupakan „mother atau ibu‟ dari semua cabang olahraga. Gerakan-gerakan yang ada di dalam atletik dimiliki oleh sebagian besar cabang olahraga. Menurut Widya (2004, p. vii) atletik merupakan salah satu unsur pendidikan jasmani dan kesehatan yang juga merupakan komponen pendidikan keseluruhan yang meng-utamakan aktivitas jasmani serta pembinaan hidup sehat dan pengembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi, selaras, seimbang.
Dampak diwajibkannya pokok bahasan atletik dalam mata pelajaran pendidikan jasmani membawa angin segar untuk meningkatkan motivasi peserta didik yang mengikuti pelajaran atletik. Kenyataannya masih banyak peserta didik yang belum meminati pelajaran atletik bahkan tidak menyukai.
Dalam proses belajar mengajar (PBM) atletik menekankan pada penguasaan teknik dan kebugaran jasmani sehingga diperlukan kreativitas guru pendidikan jasmani dengan memasukkan unsur bermain dan kesenangan. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi guru penjas maupun perguruan tinggi yang mendidik mahasiswa menjadi calon-calon guru penjas untuk mencari jalan dan berupaya agar pelajaran atletik menjadi kegiatan yang menyenangkan, membahagiakan, meningkatkan kebugaran jasmani, serta memperkaya pengalaman gerak manusia atau motorik peserta didik sebagai dasar gerak cabang-cabang olahraga lainnya.
Strategi pembelajaran atletik pada dasar-nya diarahkan agar pesera didik dapat menam-pilkan berbagai nomor cabang olahraga atletik secara maksimal. Agar peserta didik dapat menampilkan olahraga atletik secara maksimal, paling tidak ada tiga komponen yang perlu diperhatikan. Pertama, kualitas kebugaran jas-mani yang di dalamnya meliputi beberapa kom-ponen penting seperti daya tahan, kekuatan, dan flesibilitas. Kedua, kualitas keterampilan gerak (skill), dan ketiga, kualitas konsep geraknya. Pada dasarnya karakteristik dasar struktur pada gerak dalam atletik berdasar pada tiga hal
pokok, yaitu: (1) lari (termasuk jalan), (2) lompat, (3) lempar dan tolak.
Menurut Ballesteros & Alvarez (1993, p. 1) atletik mempunyai peranan untuk pengem-bangan kondisi jasmani dan mempertajam prestasi pribadi. Menurut Widya (2004, p. viii) tujuan pembelajaran atletik dimaksudkan untuk membantu peserta didik memperbaiki kualitas kesehatan dan kualitas jasmani melalui pemahaman, pengembangan sikap positif, serta keterampilan gerak dasar atletik. Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang cukup efektif untuk meningkatkan kemampuan gerak siswa atau anak. Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan atletik ini, baik secara fisik maupun mental. Olahraga atletik mengandung unsur gerak yang diperlukan dalam semua cabang olahraga, sehingga dapat dikatakan atletik merupakan induk dari semua cabang olahraga.
Riyadi (1995, p.6) mengemukakan bahwa, “Kegiatan atletik yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesegaran maupun kesehatan jasmani serta meningkatkan prestasi ternyata besar pula artinya bagi pembentukan mental.” Atletik merupakan salah satu unsur dari pendidikan jasmani dan kesehatan juga meru-pakan komponen-komponen pendidikan keselu-ruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani serta pembinaan hidup sehat dan pengembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi, selaras, dan seimbang (Widya, 2004, p. 56).
Pembelajaran atletik di sekolah luar biasa masih jarang diajarkan karena kurangnya fasi-litas olahraga, selain itu juga kurangnya model pembelajaran yang tepat bagi anak tunagrahita ringan karena untuk pembelajaran atletik seperti lari, jalan, lempar dan lompat dibutuhkan keterampilan gerak yang lebih komplek. Model pembelajaran pendidikan jasmani khususnya atletik yang kurang benar yang diterapkan di tingkat sekolah luar biasa dapat berdampak buruk bagi perkembangan anak di masa mendatang.
Kondisi lapangan dan alat yang tidak memadai merupakan salah satu penyebab tidak diajarkannya atletik secara baik, karena untuk mengajarkan salah satu nomor di dalam atletik dibutuhkan tempat dan alat yang memadai. Penggunaan alat selain memadai haruslah aman dan menarik bagi anak sehingga dibutuhkan pengembangan pembelajaran yang dengan menggunakan barang bekas, modifikasi dan kondisi lapangan, atau ketersediaan tempat yang
minim pembelajaran tersebut masih bisa dilaku-kan dengan baik. Pembelajaran olahraga khusus-nya atletik di sekolah luar biasa kurang begitu mencerminkan materi yang sesuai dengan SK dan KD karena pembelajaran olahraga (atletik) untuk kelas 4, 5, dan 6 masih sering digabung secara bersamaan. Padahal jika mengacu ke ku-rikulum yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pembelajaran tiap kelasnya mempunyai kompetensi yang berbeda sehingga pembelajaran yang digabungkan, akan membuat kompetensi anak tidak sesuai dengan karakteristiknya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tenaga pengajar penjas adaptif di Yogyakarta 94% berlatar belakang bukan dari pendidikan jasmani (Sumaryanti et al., 2010, p. 30). Hal ini menyebabkan munculnya kendala lain yaitu dalam pembelajaran atletik di sekolah luar biasa adalah masih minimnya pengetahuan guru penjas dalam menerapkan model atau metode yang tepat dalam proses belajar mengajar pembelajaran atletik. Faktor pengetahuan guru penjas yang kurang memadai tentang teknik atletik yang tepat bagi anak tunagrahita ringan juga merupakan penyebab jarangnya diberikan materi atletik. Terkadang guru penjas saat memberikan materi masih mengacu ke materi untuk anak normal padahal karakteristik anak tunagrahita ringan jelas berbeda. Dalam pembel-ajaran meskipun siswa itu berkebutuhan khusus hendaknya selalu diusahakan untuk paling tidak mendekati teknik yang benar. Atletik merupakan salah satu cabang yang dilombakan dalam Olimpiade-Olimpiade olahraga penyandang cacat yang paling besar peluangnya karena ada banyak nomor yang dilombakan seperti SOINA.
Berdasarkan uraian di atas perlu adanya pengembangan suatu model pembelajaran atletik melalui penelitian yang hanya dikhususkan pada nomor lempar yang sesuai dengan karakteristik anak tunagrahita ringan. Ini dikarenakan nomor lempar merupakan nomor yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang baik, bahkan membutuhkan koordinasi kaki sebagai awalan dalam melakukan gerakan nomor lempar pada-hal anak tunagrahita ringan mempunyai keter-batasan dalam motorik.
Model pembelajaran merupakan suatu strategi untuk melakukan pengajaran terhadap siswa/anak didik, disusun berdasarkan teori yang bertujuan memudahkan pengajaran me-nyampaian materi terhadap siswa. Proses pem-belajaran diawali dengan bagaimana menyusun materi yang akan disampaikan, kesesuaian
materi, kemudian dilanjutkan dengan bagaimana cara penyampaian materi yang terstruktur terhadap anak didik. Adanya model pembel-ajaran yang baik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik memudahkan pengajar dalam menyampaikan materi. Selain adanya model pembelajaran yang baik ada hal penting yang harus dimiliki oleh pengajar yakni penguasaan materi pembelajaran. Penguasaan pengajar ter-hadap materi yang disampaikan terter-hadap siswa merupakan penentu apakah model pembelajaran dapat dilakukan dengan baik atau tidak.
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang model pembelajar, Joyce, Weil, & Calhoun (2014, p. 7) menyatakan bahwa model of teaching are really. As we help students acquire information, ideas, skills, values, ways of thingking, and means expressing them, we are also teaching them how to learn. In fact, the most important longterm outcome of instruction may be the students increased capabilities to capabilities to learn more easily and effectiviely in the future, both because of knowledge and skill they have acquired and because they have mastered learning process.
Model-model pengajaran sebenarnya juga dapat diartikan sebagai model pembelajaran. Sa-at pendidik membantu peserta didik memperoleh informasi, gagasan, skill, nilai, cara berpikir, dan tujuan mengekspresikan diri, pendidik sebenar-nya tengah mengajari peserta didik untuk bel-ajar. Hakikatnya hasil instruksi jangka panjang yang paling penting adalah bagaimana peserta didik mampu meningkatkan kapabilitas untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif pada masa yang akan datang, baik karena penge-tahuan dan skill yang diperoleh maupun karena penguasaan peserta didik tentang proses belajar yang lebih baik.
Soekamto (1994, p. 78) menyatakan bah-wa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Pengembangan model pembelajaran ini diharapkan dapat membantu guru penjas SLB dalam pembelajaran atletik nomor lempar, menambah pengetahuan dan pengalaman guru penjas SLB dalam mengembangkan model-model permainan dan memacu kreativitas guru penjas SLB untuk mengembangkan model-model permainan serta dapat menyiasati
keterbatasan sarana dan prasarana. Selain itu, pembelajaran yang tepat secara tidak langsung dapat menjadikan siswa berkebutuhan khusus mempunyai keterampilan gerak yang lebih baik dan dengan pembelajaran atletik yang benar diharapkan anak tunagrahita ringan mempunyai kebugaran yang lebih baik.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan yang dalam istilah asingnya yaitu research and development (R & D) adalah proses yang digu-nakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan, baik produk yang berupa objek material seperti buku teks, film pengajaran, dan sebagainya maupun produk yang berupa proses dan prosedur yang ditemu-kan seperti metode mengajar atau metode mengorganisasi pengajaran (Gall, Gall, & Borg, 2007, p. 772). Adapun pengembangan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu untuk menghasilkan model pembelajaran atletik nomor lempar bagi anak tunagrahita yang sesuai karak-teristiknya. Pengembangan dilakukan berdasar-kan kajian terhadap muatan kurikulum SLB.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Sep-tember-Desember 2014 dan bertempat di SLBN 1 Yogyakarta, SLBN 2 Yogyakarta, SLBN 1 Sleman, dan SLBN Pembina. Subjek coba pada penelitian ini yaitu anak tunagrahita ringan kelas atas sekolah dasar di SLB Negeri 2 Yogyakarta dengan jumlah siswa 5. Di sisi lain, uji coba skala besar dilakukan terhadap siswa tunagrahita ringan kelas atas SLB Negeri 1 Yogyakarta dengan jumlah siswa 7, SLB Negeri 1 Sleman dengan jumlah siswa 10, SLB Pembina dengan jumlah siswa 10.
Prosedur
Prosedur pengembangan dalam penelitian ini sejalan dengan langkah-langkah penelitian pengembangan menurut Gall et al. (2007, p. 775) yang mengemukakan bahwa dalam melakukan penelitian pengembangan terdapat sepuluh langkah yang harus ditempuh, yaitu: (1) pengumpulan hasil riset dan informasi, (2) perencanaan, (3) mengembangkan produk awal, (4) uji coba awal, (5) revisi untuk menyusun produk utama, (6) uji coba lapangan utama, (7) revisi untuk menyusun produk operasional, (8) uji coba produk operasional, (9) revisi produk final, dan (10) diseminasi dan implementasi produk hasil pengembangan. Langkah-langkah tersebut diadaptasi menjadi tujuh rancangan
prosedur penelitian pengembangan sebagai berikut: (1) pengumpulan informasi di lapangan, pada tahap ini peneliti melakukan kajian awal mengenai kurikulum SLB, dan berasumsi bahwa terdapat permasalahan yang dihadapi guru penjas SLB dalam pelaksanaan pembelajaran atletik. Berdasarkan hal tersebut peneliti mela-kukan wawancara dengan tujuh guru penjas SLB dengan hasil bahwa memang terdapat per-masalahan di lapangan terkait dengan pembel-ajaran atletik. Proses selanjutnya, dilakukan pengumpulan informasi lebih lanjut dengan melakukan studi pendahuluan baik dengan cara studi pustaka maupun wawancara langsung de-ngan para guru penjas SLB. Hal yang dilakukan dalam studi pustaka yaitu mengumpulkan bahan mengenai teori-teori, data, dan hasil penelitian yang terkait dengan penelitian ini, (2) melaku-kan analisis terhadap informasi, pada tahap ini analisis dilakukan terhadap data hasil studi pustaka dan wawancara. Analisis terhadap hasil studi pustaka digunakan untuk memfokuskan masalah yang dikaji. Analisis dilakukan terha-dap wawancara dan studi pustaka. Analisis terhadap hasil pustaka digunakan untuk mem-fokuskan masalah atau variabel yang dikaji sementara analisis wawancara dilakukan untuk mengetahui kebenaran terhadap asumsi awal peneliti terhadap keadaan dan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Kemudian disimpulkan mengenai permasalahan yang ada dalam pem-belajaran atletik pada anak tunagrahita ringan yang menjadi kajian utama, (3) mengembangkan produk awal, pada tahap ini setelah proses analisis, peneliti mulai memfokuskan suatu produk guna membantu guru penjas SLB mengatasi permasalahan yang ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan, produk ini berupa produk awal dan dalam pengembangannya dila-kukan hal-hal sebagai berikut: (a) menganalisis muatan kognitif, afektif, dan psikomotor yang terkandung dalam kurikulum SLB agar produk yang dirancang tidak melenceng dari panduan kurikulum, (b) menganalisis pembelajaran atle-tik yang sesuai dengan karakterisatle-tik anak tuna-grahita ringan, (c) menganalisis karakteristik anak tunagrahita ringan, (d) menganalisis tujuan pengembangan, (e) mengembangkan model pembelajaran atletik yang sesuai dengan kuri-kulum SLB, (4) validasi ahli dan revisi, sebelum dilakukan uji coba skala kecil terhadap produk awal, produk harus mendapat validasi dari para ahli materi, yaitu pakar pendidikan jasmani adaptif dan pakar pembelajaran atletik. Pada
proses validasi, para ahli materi menilai dan memberikan masukan terhadap produk awal. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan revisi terhadap produk awal. Proses revisi ini terus dilakukan sampai produk awal men-capai niali yang telah ditentukan yang menunjukkan bahwa produk awal tersebut valid dan layak digunakan, (5) uji coba lapangan kelompok kecil dan revisi, pada tahap ini uji coba lapangan kelompok kecil dilakukan di SLBN 2 Yogyakarta dengan jum-lah siswa lima dan didokumentasikan dalam bentuk foto atau VCD, yang kemudian diobser-vasi oleh para ahli materi. Obserdiobser-vasi dilakukan terhadap substansi permainan, keefektifan model permainan, draf produk dengan menggunakan pedoman observasi yang disusun oleh peneliti. Masukan yang diterima dari para pakar atau guru kemudian ditindaklanjuti dengan merevisi produk, (6) uji coba lapangan kelompok besar dan revisi, pada tahap ini proses yang dilakukan pada tahap uji coba lapangan skala besar serupa dengan proses yang dilakukan pada tahap uji coba kelompok kecil. Hal yang membedakan terletak pada jumlah subjek uji coba skala besar yang lebih banyak daripada uji coba skala kecil. Subjek meliputi SLBN 1 Yogyakarta dengan jumlah siswa 7, SLBN 1 Sleman dengan jumlah siswa 10 dan SLBN Pembina dengan jumlah siswa 10, (7) pembuatan produk final, pada tahap ini setelah melalui berbagai proses revisi, dilakukan penyusunan dan pembuatan produk akhir atau produk final berupa buku panduan pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan.
Data, Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang diperoleh dalam peneliti-an ini yaitu data kualitatif dpeneliti-an data kupeneliti-antitatif. Data kualitatif berasal dari: (a) hasil wawancara dengan guru penjas SLB, (b) data kekurangan atau masukan model dari ahli materi dan guru pelaku uji coba. Data kuantitatif diperoleh dari: (a) penilaian ahli materi terhadap pembelajaran, (b) penilaian ahli materi terhadap keefektifan model, (c) penilaian ahli materi terhadap guru pelaku uji coba. Instrumen yang digunakan da-lam penelitian ini meliputi (1) pedoman wawan-cara yang digunakan untuk mewawanwawan-carai guru saat melakukan studi awal kepada tujuh guru penjas SLB, (2) skala rating, instrumen ini digunakan untuk menilai model pembelajaran atletik nomor lempar yang dikembangkan sebe-lum pelaksanaan uji coba skala kecil, (3) pedoman observasi, instumen ini digunakan
untuk mengobservasi keefektifan model, mengobservasi unjuk kerja anak.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis data-data yaitu: (1) data skala nilai berupa hasil penilaian para ahli/pakar terhadap model pembelajaran sebelum draf diujicobakan, (2) data hasil observasi para ahli/pakar terhadap model pembelajaran, (3) data hasil observasi pa-ra ahli materi keefektifan permainan. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan terhadap: (1) hasil wawancara terhadap guru pendidikan jasmani SLB, (2) data masukan dan kekurangan model pembelajaran baik sebelum dilakukan uji coba ataupun setelah uji coba.
HASIL DAN PEMBAHASAN Draft Pengembangan Produk Awal
Berikut ini dipaparkan draf awal model pembelajaran motorik berbasis permainan, yang terdiri atas delapan model pembelajaran motorik berbasis permainan, yaitu: (1) bermain netting menolak, (2) bermainan netting melontar, (3) melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung, (4) mengayun simpai melewati net, (5) menolak bola, (6) melontarkan komet ke matahari, (7) melemparkan roket ke bintang, (8) mengayun piring ufo ke bulan.
Data Validasi Ahli Materi
Draf awal model pembelajaran atletik no-mor lempar untuk anak tunagrahita ini diajukan ke ahli materi dan dari proses tersebut peneliti menerima masukan-masukan. Ahli materi menilai draf awal model pembelajaran dengan menggunakan instrumen skala penilaian sebagai bahan panduan untuk menilai permainan. Ter-dapat delapan belas item dalam skala nilai untuk pakar penjas adaptif dan atletik. Data hasil penelitian para pakar terhadap draf awal model pembelajaran dipaparkan pada Tabel 1.
Berdasarkan penilaian para ahli materi terhadap skala nilai, terlihat bahwa total nilai draf awal model pembelajaran telah memenuhi syarakat kelayakan untuk diujicobakan di lapangan. Para ahli materi juga memberikan validasi terhadap draf model pembelajaran atletik untuk anak tunagrahita ringan untuk diujicobakan di lapangan.
Tabel 1. Penilaian Skala Nilai oleh Pakar
Item Model Permainan
1 2 3 4 5 6 7 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 17 1 1 1 1 1 1 1 1 18 1 1 1 1 1 1 1 1 Total nilai 18 18 18 18 18 18 18 18
Data Uji Coba Skala Kecil
Setelah mendapat validasi para ahli materi terhadap draf awal delapan model pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita, peneliti melakukan uji coba lapangan skala kecil di SLBN 2 Yogyakarta dengan jumlah siswa lima.
Tabel 2. Data Hasil Uji Coba Kecil di SLBN 2 Yogyakarta Model Pembelajaran Data Hasil Observasi Data Penilaian Siswa 1 100% 93% 2 100% 91% 3 100% 91% 4 100% 93% 5 100% 89% 6 100% 91% 7 100% 96% 8 100% 91%
Dari Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa draf awal yang telah disusun kemudian diuji-cobakan berhasil dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai maksimal data hasil observasi yang hampir di 8 model pembelajaran mendapat nilai 100 %. Data penilaian anak untuk 8 model pembelajaran ini juga berhasil dengan sangat baik sehingga uji coba dilanjutkan ke tahap uji coba skala besar.
Data Uji Coba Skala Besar
Setelah dilakukan uji coba skala kecil dan kemudian mendapat masukan dan revisi, selanjutnya dilakukan uji coba skala besar di 3
SLB yaitu SLBN 1 Yogyakarta dengan jumlah siswa 7, SLBN 1 Sleman dengan jumlah siswa 10, dan SLBN Pembina dengan jumlah siswa 10.
Data hasil uji coba skala besar di SLBN 1 Yogyakarta dipaparkan Tabel 3.
Tabel 3. Data Hasil Uji Coba Skala Besar di SLBN 1 Yogyakarta Model Pembelajaran Data Hasil Observasi Data Penilaian Siswa 1 100% 96% 2 100% 91% 3 100% 93% 4 100% 93% 5 100% 91% 6 100% 91% 7 100% 89% 8 100% 87%
Dari Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa draf yang telah diujicobakan skala besar berhasil dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai maksimal data hasil observasi yang hampir di 8 model pembelajaran mendapat nilai 100 %. Data penilaian anak untuk 8 model pembelajaran ini juga berhasil dengan baik.
Data hasil uji coba skala besar di SLBN 1 Sleman dipaparkan Tabel 4.
Tabel 4. Data Hasil Uji Coba Skala Besar di SLBN 1 Sleman Model Pembelajaran Data Hasil Observasi Data Penilaian Siswa 1 100% 92% 2 100% 92% 3 100% 92% 4 100% 90% 5 100% 92% 6 100% 92% 7 100% 91% 8 100% 80%
Dari Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa draf yang telah diujicobakan skala besar berhasil dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai maksimal data hasil observasi yang hampir di 8 model pembelajaran mendapat nilai 100 %. Data penilaian anak untuk 8 model pembelajaran ini juga berhasil dengan baik.
Data hasil uji coba skala besar di SLBN Pembina dipaparkan Tabel 5. Dari Tabel 5 dapat disimpulkan bahwa draf yang telah diujicobakan skala besar berhasil dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai maksimal data hasil observasi yang hampir di 8 model pembelajaran mendapat nilai 100 %. Data
penilaian anak untuk 8 model pembelajaran ini juga berhasil dengan baik.
Tabel 5. Data Hasil Uji Coba Skala Besar di SLBN Pembina Model Pembelajaran Data Hasil Observasi Data Penilaian Siswa 1 100% 79% 2 100% 77% 3 100% 81% 4 100% 86% 5 100% 83% 6 100% 83% 7 100% 84% 8 100% 85% Revisi Produk
Selama melakukan uji coba skala kecil dan besar, draf menerima revisi dari para pakar. Berikut dipaparkan revisi kedelapan model pembelajaran sebagai berikut:
Pertama, revisi model pembelajaran
ber-main netting menolak. Revisi draf awal model pembelajaran bermain netting menolak berda-sarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu aturan dibuat lebih mengutamakan kerja sama dan anak tidak semrawut, menggunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran bermain netting meno-lak berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu permainan diberi skor agar siswa lebih bersemangat untuk mencapai skor tertinggi dan siswa mampu bekerja sama agar timnya memperoleh kemenangan. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajar-an bermain netting menolak termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pembelajaran bermain netting menolak berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instru-men observasi sependapat bahwa model pembel-ajaran bermain netting menolak termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Kedua, revisi model pembelajaran
ber-main netting melontar. Revisi draf awal model pembelajaran bermain netting melontar berda-sarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, aturan dibuat lebih mengutama-kan kerja sama dan anak tidak semrawut, menggunakan pembatas cone. Revisi data model
pembelajaran bermain netting melontar berda-sarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu permainan diberi skor agar siswa lebih bersemangat untuk mencapai skor tertinggi dan siswa mampu bekerja sama agar timnya memperoleh kemenangan. Saat melakukan lon-taran sebaiknya diberi jarak agar tidak mengenai siswa lain. Bola ayun yang digunakan diberi pemberat agar saat melontar lebih terasa berat. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran bermain netting melontar termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pem-belajaran bermain netting melontar berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran bermain netting melontar terma-suk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Ketiga, revisi model pembelajaran
me-lempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung. Revisi draf awal model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, diberi gradasi tingkat kesulitan agar siswa mampu menyesuai-kan kemampuan dengan penanda cone. Aturan dibuat lebih mengutamakan kerja sama agar anak tidak semrawut, menggunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pen-didikan jasmani yaitu simpai warna sebagai sasaran, diikat agar tidak goyang. Saat melaku-kan lemparan sebaiknya diberi jarak agar tidak mengenai siswa lain. Penilaian istrumen obser-vasi sependapat bahwa model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung termasuk dalam kategori per-mainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instrumen observasi sependa-pat bahwa model pembelajaran melempar bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung termasuk dalam kategori permainan sangat baik
dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Keempat, revisi model pembelajaran
mengayun gelang warna melewati net. Revisi draf awal model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, penyebutan bukan simpai melainkan gelang warna, ada gradasi tingkat kesulitan yang dise-suaikan dengan kemampuan siswa, dan penanda menggunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu saat melakukan ayunan sebaiknya diberi jarak agar tidak mengenai siswa lain, pita yang menjadi net itu diwarna agar lebih mena-rik. Penyebutan simpai di draf awal diubah menjadi gelang warna. Penilaian istrumen obser-vasi sependapat bahwa model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan peni-laian pelaksanaan siswa termasuk dalam kate-gori sangat baik. Revisi data model pembelajar-an mengayun gelpembelajar-ang warna melewati net berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instrumen observasi sependa-pat bahwa model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Kelima, revisi model pembelajaran
me-nolak peluru. Revisi draf awal model pembel-ajaran menolak peluru berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, sebaiknya siswa yang sangat kesulitan dalam melakukan urut bergantian agar dapat dikoreksi dengan baik. Revisi data model pembelajaran menolak peluru berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu sebaiknya lapangan steril dari siswa lain agar saat melakukan tolak-an itu amtolak-an, saat melakuktolak-an tolaktolak-an sebaiknya diberi jarak agar tidak mengeani siwa lain. Penyebutan menolak bola di draf awal diubah menjadi menolak peluru. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajar-an menolak peluru termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksana-an siswa termasuk dalam kategori spelaksana-angat baik. Revisi data model pembelajaran menolak peluru
berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jas-mani terhadap instrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran menolak peluru termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Keenam, revisi model pembelajaran
me-lontar komet ke matahari. Revisi draf awal model pembelajaran melontarkan komet ke matahari berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, menggunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran melontar komet ke matahari berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu saat melakukan lontaran sebaiknya diberi jarak agar tidak mengenai siswa lain, bola ayun yang digu-nakan untuk melontar diberi pemberat (grajen) agar bola tidak melayang. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajar-an melontar komet ke matahari termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pembelajaran melontar komet ke matahari berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran melontar komet ke matahari ter-masuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Ketujuh, revisi model pembelajaran
melemparkan roket ke bintang. Revisi draf awal model pembelajaran melemparkan roket ke bintang berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, tidak perlu meng-gunakan awalan, dan mengmeng-gunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran melem-parkan roket ke bintang berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu saat mela-kukan lemparan sebaiknya diberi jarak agar tidak mengenai siswa lain. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajar-an melempar roket ke bintpembelajar-ang termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pembelajaran melemparkan roket ke bintang berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap
instrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran melemparkan roket ke bintang termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Kedelapan, revisi model pembelajaran
mengayun piring ufo ke bulan. Revisi draf awal model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan berdasarkan hasil dari masukan ahli pembelajaran atletik dan penjas adaptif yaitu gambar harus diperjelas lagi, menggunakan pembatas cone. Revisi data model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan berdasarkan data hasil uji coba skala kecil dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani yaitu pi-ringan yang digunakan diberi pemberat sehingga tidak melayang saat diayun, saat melakukan ayunan sebaiknya diberi jarak agar tidak menge-nai siswa lain. Penilaian istrumen observasi sependapat bahwa model pembelajaran meng-ayun piring ufo ke bulan termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik. Revisi data model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan berdasarkan data hasil uji coba skala besar dari penilaian ahli adaptif serta ahli pendidikan jasmani terhadap instrumen observasi yaitu ufo atau piringan yang digunakan diganti menggunakan piringan yang lebih stabil dan berat sehingga saat diayun tidak melayang (gaber) sependapat bahwa model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan termasuk dalam kategori permainan sangat baik dan penilaian pelaksanaan siswa termasuk dalam kategori sangat baik.
Kajian Produk Akhir
Setelah mendapat penilaian dan masukan dari para ahli materi kemudia dilakukan revisi terhadap draf model permainan. Akhirnya dihasilkan model-model pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan yang tertuang dalam buku panduan pembel-ajaran dan layak digunakan. Buku panduan pembelajaran atletik nomor lempar ini terdiri atas delapan pembelajaran yang telah tersusun berdasarkan tingkat kesulitan yang diawali dari yang mudah dan bertahap ke yang sulit yaitu: (1) model pembelajaran bermain netting meno-lak, (2) model pembelajaran menolak peluru, (3) model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net, (4) model pembelajaran meng-ayun piring ufo ke bulan, (5) model pembelajar-an melemparkpembelajar-an bola berekor dengpembelajar-an sasarpembelajar-an simpai yang digantung, (6) model pembelajaran
melemparkan roket ke bintang, (7) model pembelajaran bermain netting melontarkan, (8) model pembelajaran melontar komet ke matahari.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penilaian para ahli dan uji coba terhadap model pembelajaran yang dikembang-kan bahwa model pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan ini mudah dilakukan karena siswa merasa mudah melaku-kan setiap model ini. Model ini juga aman dan menarik karena menggunakan alat yang baik digunakan untuk siswa tunagrahita. Model ini juga membantu siswa tunagrahita untuk melakukan gerak motorik karena model ini sesuai dengan karakteristik siswa tunagrahita dan model ini setelah diujicobakan juga sangat baik. Oleh karena itu, model pembelajaran ini layak untuk digunakan.
Produk dari penelitian pengembangan ini yaitu buku panduan pembelajaran atletik nomor lempar untuk anak tunagrahita ringan. Buku panduan ini berisi delapan model pembelajaran yaitu: (1) model pembelajaran bermain netting menolak, (2) model pembelajaran menolak pe-luru, (3) model pembelajaran mengayun gelang warna melewati net, (4) model pembelajaran mengayun piring ufo ke bulan, (5) model pembelajaran melemparkan bola berekor dengan sasaran simpai yang digantung, (6) model pembelajaran melemparkan roket ke bintang, (7) model pembelajaran bermain netting melontar, (8) model pembelajaran melontarkan komet ke matahari. Diharapkan guru pendidikan jasmani di sekolah hendaknya dapat menggunakan buku panduan model pembelajaran atletik nomor lempar ini sehingga materi pembelajaran untuk anak tunagrahita ringan dapat bervariasi sesuai dengan kreativitas masing-masing sehingga pembelajaran atletik untuk anak tunagrahita di sekolah dapat lebih tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrachman, M. (1996). Pendidikan luar biasa umum. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. http://doi.org/1996 Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006).
Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah: Standar kompetensi dan kompetensi dasar SMA/MA. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Ballesteros, J. M., & Alvarez, J. (1993). Track and field athletics: A basic coaching manual. London: International Amateur Athletic Federation.
Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. (2007). Educational research : An introduction. Pearson/Allyn & Bacon.
Jonath, U., Haag, E., Krempel, R., & Soeparmo. (1987). Atletik 1 : Lari dan loncat latihan-teknik-taktik. Jakarta: Rosda Jayaputra. Joyce, B. R., Weil, M., & Calhoun, E. (2014).
Models of teaching. London: Pearson Education Inc.
Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Pub. L. No. 20 (2003). Retrieved from http://sindikker.dikti.go.id/dok/UU/UU20-2003-Sisdiknas.pdf
Riyadi, T. (1995). Petunjuk atletik. Yogyakarta: FPOK-IKIP.
Soegito, dkk. (1991). Pendidikan atletik. Jakarta: Dep P&K.
Soekamto, T. (1994). Teori belajar dan model-model pembelajaran. Jakarta: Pusat Antar Universitas untuk Meningkatkan Aktivitas Instruksional.
Somantri, H. T. S. (2006). Psikologi anak luar biasa. Bandung: Refika Aditama. http://doi.org/2007
Sumaryanti, Kushartanti, W., & Ambardini, R. L. (2010). Pengembangan model pembelajaran jasmani adaptif untuk optimalisasi otak anak tunagrahita. Jurnal Kependidikan, 40(1). Retrieved from http://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article /view/404
Widya, M. D. A. (2004). Belajar berlatih gerak-gerak dasar atletik dalam bermain. Jakarta : Raja Grafindo Persada.