Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 1
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan Ketahanan Pangan dan Pertanian masih merupakan prioritas PembangunanDaerah Kabupaten Bandung dalam RPJMD 2011-2015 yang difokuskan pada peningkatan ketersediaan pangan, pemantapan distribusi pangan dan percepatan penganekaragaman pangan sesuai dengan karakteristik daerah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat petani melalui upaya pemberdayaan kelompok pelaku usaha dan pelaku utama pada bidang agribisnis khususnya komoditas-komoditas unggulan. Pembangunan ketahanan pangan dan pertanian juga dilaksanakan melalui berbagai upaya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan sebagai perwujudan pembangunan sosial-ekonomi sebagai bagian pembangunan daerah Kabupaten Bandung secara keseluruhan.
Implementasi program pembangunan ketahanan pangan dan pertanian dilaksanakan dengan memperhatikan sub sistem ketahanan pangan yaitu melalui upaya peningkatan produksi, ketersediaan dan penanganan kerawanan pangan, pemantapan distribusi dan cadangan pangan, serta peningkatan kualitas konsumsi dan keamanan pangan. Dengan demikian, program-program pembangunan ketahanan pangan dan pertanian tersebut diarahkan untuk mendorong terciptanya kondisi sosial-ekonomi yang kondusif, menuju ketahanan pangan masyarakat dan kesejahteraan petani yang mantap dan berkelanjutan.
Berbagai peraturan dan perundangan yang ditetapkan oleh Pemerintah, juga telah mengarahkan dan mendorong pemantapan ketahanan pangan yaitu: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan; Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan; Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan; Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan; Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 pada Pasal 2 dan Pasal 3, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membuat laporan mempertanggungjawabkan urusan ketahanan pangan; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, tentang Pembagian Urusan Pemerintahanantara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; Peraturan Presiden Nomor 83 tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan; Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.
Dalam kerangka mendorong dan mensinkronkan pembangunan ketahanan pangan dan pertanian untuk 5 (lima) tahun ke depan (2011-2015), dan menindaklanjuti Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bandung tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2011-2015, maka Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung sebagai salah satu Unit eselon II pada Pemerintah Kabupaten Bandung menyusun Rencana Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung Tahun 2011 – 2015.
Rencana Strategis (Renstra) SKPD Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Tahun Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015 merupakan dokumen perencanaan jangka menengah yang memuat visi, misi, kebijakan dan strategis organisasi serta rencana program kegiatan indikatif kurun waktu lima tahun.
Renstra Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung merupakan perangkat dokumen yang bertujuan untuk mencapai harmonisasi perencanaan pembangunan ketahanan pangan dan sumberdaya manusia pertanian kurun waktu 5(lima) tahun secara menyeluruh, terintegrasi, efisien dan sinergi dengan kebijakan pembangunan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 2
jangka menengah nasional, kebijakan pembangunan jangka menengah Provinsi Jawa Jawa Barat serta Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Bandung.
Renstra Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015 merupakan acuan, arahan kebijakan dan strategi pembangunan ketahanan pangan dan SDM pertanian dalam menyusun program dan kegiatan pembangunan Tahun 2011-2015.
1.2. Landasan Hukum
Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung Tahun 2008-2010 disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional;
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
9. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
10. Undang-Undang Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan; 13. Kepres RI Nomor 132 Tahun 2001 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 83 Tahun 2006
tentang Dewan Ketahanan Pangan;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan;
15. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 273 /Kpts/OT.160/4/2007, tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani;
16. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 25/Permentan/OT.140/5/2009 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Pertanian;
17. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Metode Penyuluhan Pertanian;
18. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Kebijakan dan Strategi Penyuluhan Pertanian;
19. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51/Permentan/OT.140/12/2009 tentang Pedoman Standar Minimal dan Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Penyuluhan Pertanian;
20. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01/Permentan/OT.140/1/2008 tentang Pedoman Pembinaan THL-TBPP;
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 3
21. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah (diantaranya pembentukan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung);
22. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung, Nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2010-2015;
23. Peraturan Bupati Bandung Nomor 6 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung;
24. Keputusan Bupati No 501/Kep.208-BKPPP/2008 Tentang Pembentukan Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung;
25. Keputusan Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Nomor581/SK.137A/BKPPP/2008 tentang Susunan Organisasi Kelompok Kerja pada Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung.
1.3. Maksud dan Tujuan
Rencana strategis ini disusun dengan maksud :
a) Dijadikan sebagai arah kebijakan dan program dalam pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan dan penyuluhan pertanian di Kabupaten Bandung selama lima tahun ke depan;
b) Sebagai penjabaran implementatif dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) pada sebagian bidang ketahanan dan pertanian, perikanan dan kehutanan di Kabupaten Bandung;
c) Menjadi salah satu pedoman dan bahan acuan bagi seluruh unsur pada Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan.
Penyusunanan Rencana Strategis BKP3 Kabupaten Bandung, bertujuan untuk :
a) Membantu seluruh jajaran petugas/aparatur Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung dalam pencapaian tujuan dan sasaran berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan bidang ketahanan pangan dan penyuluhan pertanian di Kabupaten Bandung;
b) Memudahkan bagi para pemangku kepentingan dalam pembangunan ketahanan pangan dan penyuluhan pertanian dalam memahami dan mensinergiskan dengan arah kebijakan dan program prioritas serta kegiatan operasional tahunan pada Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung;
c) Mengarahkan pembangunan bidang ketahanan pangan dan penyuluhan pertanian di Kabupaten Bandung pada tujuan dan sasaran yang ingin dicapai selama lima tahun ke depan.
1.4. Sistematika Penulisan
Rencana Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015 disusun berdasarkan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan, berisikan Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan, serta sistematika penulisan Renstra BKP3 Kabupaten Bandung.
BAB II menjelaskan Gambaran Umum pelayanan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung, meliputi :Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 4
BKP3, Sumberdaya yang dimiliki dan kinerja, Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan.
BAB III membahas Isu-isu Strategis berdasarkan tugas dan fungsi yang diemban oleh BKP3 Kabupaten Bandung. Pada bab ini dipaparkan identifikasi permasalahan, telaahan visi dan misi serta program Bupati dan Wakil Bupati Bandung, dan penentuan isu-isu strategis.
Pada BAB IV dijelaskan visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi dan kebijakan BKP3 Kabupaten Bandung.
BAB V menguraikan rencana program dan kegiatan sebagai penjabaran dari strategi kebijakan yang ditetapkan, serta indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif.
BAB VI menjelaskan indikator kinerja BKP3 yang mengacu pada tujuan dan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bandung.
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 5
BAB II. GAMBARAN PELAYANAN SKPD
2.1. Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi BKP3
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bandung Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang peningkatan ketahanan pangan dan koordinasi pelaksanaan penyuluhan yang meliputi ketahanan pangan, programa penyuluhan, ketenagaan, sarana dan prasarana penyuluhan serta melaksanakan ketatausahaan Badan.
Tugas pokok tersebut kemudian diperinci lagi melalui Peraturan Bupati Bandung (Perbup) Nomor 6 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung dan dinyatakan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang mempunyai tugas pokok memimpin, merumuskan, mengatur, membina, mengendalikan, mengkoordinasikan dan mempertanggungjawabkan kebijakan teknis penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik sebagian bidang pertanian dan ketahanan pangan.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
a) Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;
b) Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan lingkup tugasnya;
c) Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya;
d) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh bupati/walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bandung Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung, Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) memiliki Struktur Organisasi seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1.
Dari gambar tersebut terlihat, bahwa Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung memiliki 1 unit kerja eselon III A (sekretariat) yang membawahi 3 unit kerja eselon IV A, 3 unit kerja eselon III B (Bidang) masing-masing membawahi 2 unit eselon IV A, dan Unit Pelaksana Teknis Pengendali Program Penyuluhan (UPT-PPP) yang merupakan unit kerja yang dipimpin oleh seorang Kepala UPT eselon IV A dan membawahi Sub Bagian Tata Usaha UPT, eselon IV B. Terdapat 8 (delapan) UPT PPP, meliputi :
1. UPT Ciwidey 2. UPT Soreang 3. UPT Banjaran 4. UPT Bojongsoang 5. UPT Cilengkrang 6. UPT Pacet 7. UPT Solokanjeruk 8. UPT Cikancung
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 6 Kepala Badan Sekretaris Bidang Ketahanan Pangan Bidang Programa Penyuluhan Sub Bagian Penyusunan Program Sub Bagian Keuangan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bidang Keamanan Pangan
Unit Pelaksana Teknis Pengendali Program
Penyuluhan (UPT-PPP)
Sub Bidang Koordinasi Penyusunan Programa
Penyuluhan
Sub Bidang Kerjasama dan Kemitraan
Penyuluhan
Sub Bidang Koordinasi Ketenagaan Pneyuluhan
Sub Bidang Koordinasi Sarana dan Prasarana
Penyuluhan Sub Bidang Identifikasi
Infrastruktur Distribusi Pangan
Bidang Ketenagaan, Sarana dan Prasarana
Penyuluhan
Jabatan Fungsional
2.2. Sumberdaya SKPD
a. Kondisi Sumberdaya Manusia BKP3 Kabupaten Bandung
Saat ini BKP3 Kabupaten Bandung memiliki pegawai/personil PNS sebanyak 177 orang (per Desember 2011), terdiri dari :
• Pegawai yang bertugas di Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (Kabupaten) sebanyak 34 orang (termasuk 6 orang KJF/Penyuluh) • Pegawai yang bertugas di UPT Pengendali Program Penyuluhan sebanyak 17orang; • Petugas Penyuluh Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan yang bertugas di
lapangan sebanyak 132 orang.
Selain pegawai/personil PNS tersebut di atas juga dibantu oleh Penyuluh THL-TBPP di lapangan sebanyak 97 orang
Berdasarkan Golongan / Pangkat, pegawai BKP3 Kabupaten Bandung terdiri dari : - Pegawai golongan IV sebanyak 47 orang atau 26,554% dari jumlah keseluruhan
pegawai;
Gambar 1.Struktur Organisasi Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung (Perda No. 21 Tahun 2007)
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 7 SLTA : 54 D-3 : 11 D-4 :20 S-1 : 87 S-2 : 4
- Sebanyak 114 orang atau 81,36% dari jumlah pegawai BKP3 adalah pegawai dengan golongan III;
- Pegawai golongan II sebanyak 6 orang (3,39%); - Pegawai golongan I sebanyak 1 orang (0,56%).
Selengkapnya mengenai pegawai BKP3 Kabupaten Bandung berdasarkan Golongan/Pangkat bisa dilihat pada Tabel 1.berikut ini :
Tabel 1.Pegawai BKP3 Berdasarkan Golongan/Pangkat
Golongan / Pangkat a B c d Jumlah
IV 47 8 1 - 56
III 17 15 31 51 114
II 2 - - 4 6
I - - 1 - 1
Jumlah 177
Berdasarkan Tingkat Pendidikan terakhir yang berhasil diselesaikan, pegawai BKP3 Kabupaten Bandung lebih didominasi (49,15%) oleh pegawai dengan tingkat pendidikan S-1 (Sarjana), kemudian SLTA (30,51%), D-4 (11,30%), D-3 (6,21%) dan S-2 (2,26%). Dari komposisi ini dapat dilihat bahwa pegawai BKP3 yang berpendidikan S-1 cukup banyak, hal ini dimungkinkan karena banyak pegawai yang berpendidikan D-3 dan SLTA yang telah meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.
Berdasarkan jenis kelamin, pada Tahun 2010, jumlah pegawai pria yang bekerja sebagai PNS di lingkungan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung adalah sebanyak 137 orang (77,40%), dan jumlah pegawai wanita tercatat sebanyak 40 orang (22,60%).
Dengan demikian jumlah pegawai wanita di BKP3 Kabupaten Bandung telah memenuhi komposisi anjuran pemerintah sebesar 20% dari jumlah keseluruhan pegawai. Gambar 2.Komposisi Pegawai BKP3 Kabupaten Bandung berdasarkan Tingkat Pendidikan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 8
77,40
22,60%
Pria
Wanita
Pria : 137 orang Wanita:40 orangGambar 3.Komposisi Pegawai Pria dan Wanita BKP3 Kabupaten Bandung
Tabel 2. Petugas Penyuluh Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan di
Kabupaten Bandung
b. Petugas Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan di BKP3 Kabupaten Bandung.
Saat ini jumlah keseluruhan Penyuluh Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan yang bertugas di Kabupaten Bandung berjumlah 132 orang, terdiri dari Penyuluh PNS sebanyak 137 orang (termasuk 5 orang yang bertugas pada unit kerja Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) di kantor BKP3 Kabupaten Bandung dan Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sebanyak 97 orang.
1. Penyuluh Pertanian = 79 orang
2. Penyuluh Peternakan = 17 orang
3. Penyuluh Perikanan = 12 orang
4. Penyuluh Kehutanan = 24 orang
Jumlah Penyuluh PNS = 132 orang
5. Penyuluh THL-TBPP = 97 orang
Jumlah Total Petugas Penyuluh = 229 orang
c. Sumberdaya Sarana dan Prasarana.
1. Gedung Kantor
Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sebuah lembaga teknis daerah tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana yang dimilikinya. Sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh BKP3, baik yang berasal dari pembiayaan APBD Kabupaten Bandung, APBD Provinsi Jawa Barat maupun APBN meliputi : Gedung Kantor, Kendaraan Bermotor, Peralatan Elektronik dan Studio, sarana informasi dan sebagainya.
BKP3 Kabupaten Bandung memiliki 9 unit gedung kantor, terdiri dari 1 (satu) unit gedung kantor BKP3 yang terletak di kompleks perkantoran Pemkab Bandung, Jl. Raya Soreang Km. 17 Bandung, pada peta GPS berada pada posisi 701’13’’ LS; 107031’34’’ BT, dan 8 (delapan) unit gedung kantor UPT-PPP (Unit Pelaksana Teknis - Pengendali Program Penyuluhan) yang tersebar di 8 wilayah kerja UPT, meliputi : UPT Ciwidey, UPT Soreang, UPT Banjaran, UPT Bojongsoang, UPT Pacet, UPT Solokanjeruk, UPT Cilengkrang dan UPT Cikancung.
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 9
Gedung kantor yang sekarang digunakan oleh BKP3 adalah gedung kantor eks Dinas Sosial Kabupaten Bandung, bila dibandingkan dengan jumlah pegawai dan volume pekerjaan/kegiatan yang diselenggarakan oleh BKP3, kapasitas gedung ini (saat ini terdapat 11 unit ruangan) dapat dikatakan tidak memadai, karena belum memiliki ruangan rapat tersendiri, ruang rapat yang selama ini digunakan oleh BKP3 (meskipun kapasitasnya tidak mencukupi untuk menampung 200 orang lebih) adalah unit bangunan yang dikelola oleh Dinas Sosial.
Melalui kegiatan APBD Kabupaten Bandung Tahun 2010, telah dilaksanakan beberapa upaya pemeliharaan dan perbaikan gedung kantor BKP3, meliputi : pemeliharaan rutin (pengecatan), pembuatan tempat parkir motor, dan pemasangan paving blockpada sebagian halaman kantor.
Melihat kondisi tersebut, di masa mendatang perlu dipertimbangkan untuk membangun satu unit ruang rapat/pertemuan representatif yang dapat menampung peserta sebanyak 250 orang.
BKP3 Kabupaten Bandung juga mengelola 8 (delapan) unit gedung kantor UPT-PPP yang tersebar di 8 wilayah kerja UPT. Ke-8 gedung UPT-PPP tersebut umumnya telah mengalami pembangunan dan rehabilitasi, seperti; gedung pertemuan/rapat, bangunan kantor maupun rumah dinas, sehingga ke-8 bangunan UPT-PPP tersebut saat ini dapat dikatakan cukup representatif untuk menampung berbagai aktivitas khususnya dalam pelayanan kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan.
Gambar 4.Gedung Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 10 Selain bangunan / gedung-gedung tersebut, pada tahun 2010 di 3 UPT-PPP, yakni; UPT Banjaran, UPT Bojongsoang dan UPT Pacet telah selesai dibangun Pos Penyuluhan Perikanan (Posluhkan) yang dibiayai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perikanan dan Kelautan RI.
2. Kendaraan Bermotor
Untuk menunjang kegiatan operasional para petugas, BKP3 memiliki kendaraan bermotor sebanyak :
a. Roda 4, sebanyak 5 unit; b. Roda 2, sebanyak 155 unit;
Tabel 3.Kendaraan Bermotor pada BKP3 Kabupaten Bandung No Kendaraan
operasional
Merk Jumlah
(unit)
Tahun Ket. 1 Mobil - Isuzu panther
- Toyota kijang - SuzukiKatana 2 1 2 ’97 – ‘03 ’01 - ‘04 2 Sepeda motor 155 ’96 – ’04 – ‘10 Gambar 5.Beberapa Gedung UPT-PPP
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 11 3. Peralatan Elektronik / Studio
Peralatan elektronik dan studio yang dimiliki BKP3 Kabupaten Bandung meliputi : Komputer, LCD Projector, Telephone dan Faximile, Sarana Wi-Fi, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.di bawah ini :
Tabel 4.Peralatan Elektronik dan Studio di BKP3 Kabupaten Bandung
No Peralatan Jumlah Keterangan
1 Laptop 8 unit APBD 2008, 2010
2 Desktop 20 unit 2008, 2009, 2010
3 LCD Projector/ Infocus 10 unit 1 unit di BKP3, 3 unit di Posluhkan 4 Telepon 9 unit 1 unit di BKP3, 8 unit di UPT 5 Faximile 9 unit 1 unit di BKP3, 8 unit di UPT 6 Cybernet 4 unit 1 unit di BKP3, 3 unit di Posluhkan
7 Wi-fi 1 unit BKP3
8 Mesin pengisap debu 1 unit APBD 2008
9 Lemari es 1 unit
10 AC split 1 unit
11 Camera digital 12 unit 1 unit ex Distanbunhut 12 Handycam 2 unit 1 unit ex Distanbunhut 13 Computer PC 24 unit 1 unit ex Distanbunhut 14 Laptop/note book 12 unit 1 unit ex Distanbunhut
1 unit ex bag. Perekonomian 15 Printer 24 unit 1 unit ex Distanbunhut 16 Wireles/sound system 4 unit
17 Mesin absen 1 unit
18 Kipas angin 5 unit
19 TV 5 unit 20 Loudspeaker 3 unit 21 Dispenser 14 unit 22 DVD player 3 unit 23 UPS/stabilizer 1 unit 24 Scanner 1 unit d. Stakeholders
Hampir seluruh kegiatan BKP3 Kabupaten Bandung di tingkat lapangan dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif stakeholders, baik stakeholders penerima manfaat yang umumnya adalah kelompok-kelompok masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan, sertastakeholders pendukung, seperti :Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Kontak Tani Nelayan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 12 Andalan (KTNA), Kontak Tani Hutan Andalan (KTHA), Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S), Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan Perikanan (P2MKP), Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani), Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (Ipkani), Ikatan Penyuluh Kehutanan (IPK), Perum Bulog, dan Asosiasi Petani Ikan Air Tawar (Aspat), Asosiasi-asosiasi Komoditas, Penangkar Benih, Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS), KUD/Koperasi, dan sebagainya.
Stakeholderstersebut umumnya sudah berbentuk kelembagaan. Beberepa
kelembagaan pada kegiatan ketahanan pangan diantaranya : - Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM); - Lumbung Pangan;
- Kelompok Affinitas pada Desa Mandiri Pangan (Demapan).
Sedangkan pada kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan, kelembagaan-kelembagaan tersebut, di antaranya :
- Kelompok Tani (Poktan) Dewasadan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan); - Kelompok Wanita Tani;
- Kelompok Taruna Tani; - KelompokPeternakan; - Kelompok Perikanan;
- Kelompok Kehutanan (Kelompok Tani Penghijauan).
No Kelompok Bidang
JUMLAH
Kec. Desa Gapoktan Poktan Anggota Luas areal (ha) 1 Pertanian 31 276 276 1.782 55.829 36.398 2 Wanita Tani (KWT) 22 65 - 99 975 - 3 Taruna Tani 28 28 - 28 - - 4 Peternakan 31 276 1 640 11.372 9.106 5 Perikanan 11 62 - 220 1.743 1.014 6 Penghijauan 18 45 - 580 16.496 7.998 7 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) 22 - - 68 - - Jumlah 163 752 277 33.417 86.415 54.516
2.3. Kinerja Pelayanan SKPD
Kinerja Pelayanan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksanan Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi adalah membantu Kepala Daerah khususnya dalam pelaksanaan pembangunan ketahanan pangan dan pelaksanaan penyuluhan pertanian.
a. Situasi Ketahanan dan Kerentanan Pangan di Kabupaten Bandung
1. Ketersediaan energi dan protein per kapita
Terpenuhinya kebutuhan penyediaan pangan penduduk disuatu wilayah dapat ditunjukan oleh dimensi kuantitatif yaitu berdasarkan energi dan zat gizi tiap orang tian hari. Pangan yang tersedia dikatakan memenuhi kebutuhan penduduk jika energinya mencapai angka 2,200 kkal/Kapita/hari dan proteinnya 57 gram/kapita/hari, Menurut Situasi ketersediaan Tabel 5.Kelembagaan Stakeholders Penerima Manfaat pada BKP3 Kabupaten Bandung
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 13 Energi di Kabupaten Bandug pangan berdasarkan Perhitungan Analisa dan Penyusunan Pola Konsumsi dan Suplai Pangan Kabupaten Bandung kerjasama antara FEMA IPB dengan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan bahwa data Ketersediaan energi dan protein per kapita pada akhir Tahun 2010 mencapai 2.753/kkal/kapita/hari. 2. Penguatan cadangan pangan
Upaya mencapai ketahanan pangan berkelanjutan selama ini melalui pendekatan ketersediaan pangan. Ketahanan pangan tingkat rumah tangga atau individu tergantung aksesibilitasnya terhadap pangan. Kecukupan pangan pada tingkat makro belum menjamin kecukupan pangan setiap individu atau rumah tangga. Ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dapat dipenuhi dari produksi dan cadangan pangan sendiri. Penguatan Cadangan Pangan terdiri dari Cadangan Pangan Pemerintah dan Cadangan Pangan Masyarakat. Cadangan Pangan bertujuan untuk meningkatkan penyediaan pangan untuk menjamin pasokan pangan yang stabil antar waktu di setiap tingkatan wilayah, menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan akses pangan kelompok masyarakat rawan pangan transien khususnya pada daerah terisolir dan/dalam kondisi darurat karena bencana maupun masyarakat rawan pangan kronis. Cadangan Pangan Pemerintah Kabupaten Bandung pada Tahun 2010 sebanyak 30 ton. Cadangan Pangan Masyarakat adalah cadangan pangan yang dikuasai atau dikelola oleh masyarakat atau rumahtangga termasuk petani, koperasi, pedagang dan industri rumah tangga. Salah satu bentuk kelembagaan cadangan pangan masyarakat adalah Lumbung Pangan. Kabupaten Bandung sampai dengan akhir Tahun 2010 telah memiliki 10 kelompok Lumbung dan Pembangunan Lumbung DAK dan Lantai Jemur sebanyak 5 (lima) buah.
Pada Tahun 2008 Kabupaten Bandung telah mendapat bantuan keuangan untuk optimalisasi ketahanan pangan berupa fasilitasi lumbung pangan perdesaan yang merupakan dana bergulir antar anggota atau antar kelompok untuk pengembangan usaha lumbung pangan perdesaan dari APBD Provinsi Jawa Barat sebesar Rp. 100.000.000,- setiap lumbung mendapat Rp. 10.000.000,- meliputi usaha simpan pinjam dan atau tunda jual gabah/pangan pokok setempat sebagai upaya penyedia cadangan pangan paling rendah 80 % dan usaha eknomi produktif berbasis pangan paling tinggi sebesar 20 %, 10 (sepuluh) kelompok lumbung tersebut tersebar di 9 (sembilan) kecamatan dengan data sebagai berikut :
No. Kelompok Lumbung Desa Kecamatan Jumlah
Anggota
1. Lumbung Desa Sukapura Kertasari 50
2. Lumbung Desa Maruyung Pacet 36
3. Lumbung Desa Mekarwangi Ibun 80
4. Lumbung Desa Mekarwapitan Paseh 40
5. Lumbung Desa Bojongemas Solokanjeruk 90
6. Lumbung Desa Mandalawangi Nagreg 20
7. Lumbung Desa Sugihmukti Pasirjambu 24
8. Lumbung Pangan Mitra Tani 4 Tanjunglaya Cikancung 50 9. Lumbung Pangan Harapan
Mekar
Ciaro Nagreg 26
10. Lumbung Gotong Royong Simpan Pinjam (GORSIP)
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 14 Pada Tahun 2010 Kabupaten Bandung mendapat alokasi pembangunan fisik lumbung pangan masyarakat dan lantai jemur sumber dana DAK (Dana Alokasi Khusus) sebanyak 5 (lima ) buah diantaranya :
No. Kelompok Lumbung
Ketua Desa Kecamatan
Nilai Fisik Lumbung dan Lantai Jemur (Rp) 1. Subur Mukti E. Entin Cikalong Cimaung 102.552.000,- 2. Caralang A. Saefudin Cinanggela Pacet 102.502.000,-
3. Kenanga Samsu Dukuh Ibun 102.501.000,-
4. Tani Makmur Abu B. Sidik Mekarlaksana Cikancung 102.501.000,- 5. Jati Asih II Asep Lili Cipedes Paseh 102.574.000,-
1. Lumbung Subur Mukti Desa Cikalong Kecamatan Cimaung
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 15 3. Lumbung Kenanga Desa Dukuh Kecamatan Ibun
4. Lumbung Tani Makmur Desa Mekarlaksana Kecamatan Cikancung
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 16 3. Ketersediaan informasi harga dan akses pangan
Harga dan pasokan pangan merupakan indikator-indikator strategis yang saling terkait, yang dapat digunakan untuk mengetahui status distribusi pangan. Gejolak harga pangan dapat menunjukkan gejala terganggunya distribusi pangan yang mungkin disebabkan karena kurangnya pasokan atau meningkatnya permintaan. Gejolak harga pangan dapat menyebabkan timbulnya gejolak social dan mengakibatkan terganggunya kondisi social politik nasional. Untuk menghindari terjadinya gejolak harga pangan diperlukan suatu sistem deteksi dini serta kebijakan penanganan gejolak harga pangan yang cepat dan tepat. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan data dan informasi yang cepat, tepat, akurat dan berkesinambungan melalui ketersediaan informasi harga. Kabupaten Bandung memiliki 1 (satu) orang petugas pemantau harga yang harus mengumpulkan data harga dan pasokan komoditas pangan strategis di Kabupaten yang diperoleh dari pasar-pasar Kecamatan dan mengirimkan laporan harga 11 (sebelas) komoditas setiap minggu melalui SMS Center.
Harga Rata-rata Pangan Pokok Strategis Tahun 2010 adalah sebagai berikut :
No. Komoditas Harga Rata-Rata
1. Beras - IR 64 Kualitas 1 7.519 - IR 64 Kualitas 2 7.212 2. Daging - Sapi 59.082 - Ayam 23.797
3. Telur Ayam Ras 14.350
4. Terigu 8.215
5. Gula Pasir 11.840
6. Minyak Goreng Curah 12.396
7. Bawang Merah 17.353
8. Cabe
- Cabe Merah TW 21.529
- Cabe Merah Keriting 19.822 9. Jagung
- Jagung Manis -
- Jagung Pipilan -
10. Kacang Kedelai -
11. Kacang Tanah 11.694
Pada Tahun 2010 kegiatan analisis akses pangan di Kabupaten Bandung belum dilaksanakan. Analisis akses pangan tersebut merupakan gabungan atau komposit dari berbagai indikator yang sudah ditentukan, dimana indikator tersebut bersifat tahunan yang meliputi indikator fisik, ekonomi dan sosial. Analisis situasi akses pangan menggambarkan kondisi akses pangan di suatu wilayah tertentu, seperti provinsi, kabupaten, kecamatan maupun wilayah desa. Untuk itu tahun-tahun ke depan perlu dilakukan analisis akses pangan melalui pemantauan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 17 4. Stabilitas harga dan pasokan pangan
Terwujudnya Stabilitas harga dan pasokan pangan merupakan dampak dari kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) khususnya di wilayah gapoktan. Kabupaten Bandung melalui hingga akhir Tahun 2010 mendapatkan Dana Bantuan Sosial Kegiatan Penguatan LDPM sebanyak 4 Gapoktan adalah sebagai berikut :
No. Gapoktan Alamat Jumlah Bansos Tahapan
Desa Kecamatan Tahap I (Rp)
Tahap II (Rp)
LDPM
1. Mekarsari Tangsimekar Paseh 150.000.000 75.000.000 Pengembangan 2. Cibeet Cibeet Ibun 150.000.000 75.000.000 Pengembangan 3. Gumati Cikawao Pacet 150.000.000 75.000.000 Pengembangan 4. Wargisaluyu Sindangpanon Banjaran 150.000.000 75.000.000 Penumbuhan
Kegiatan Penguatan LDPM merupakan kegiatan stategis, karena dimaksudkan untuk menjaga stabilisasi harga di tingkat petani pada saat menghadapi panen raya dan meningkatkan akses pangan anggota Gapoktan pada saat musim paceklik. Pada kegiatan Penguatan LDPM pelaporan dilakukan secara berkala dan berjenjang mengenai perkembangan keuangan dan kegiatan dalam pengelolaan usaha distribusi (jual beli gabah/beras/jagung) dan pengelolaan cadangan pangan kepada Tim Teknis Kabupaten secara tertulis setiap bulan, sedangkan laporan untuk kegiatan pembelian/penjualan, harga, sisa barang dan pengadaan penyaluran cadangan pangan dilaporkan melalui SMS center setiap minggu pada hari Senin ke Nomor 0813 808 29 555. Tim Teknis Kabupaten membuat laporan kepada Tim Pembina BKPD Provinsi Jawa Barat setiap 2 bulan.
Hasil Kajian Rantai Pasokan dan Pemasaran Pangan Kabupaten Bandung Tahun 2010 kerjasama antara Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bandung dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB adalah sebagai berikut :
Indikator distribusi pangan mencakup persepsi pelaku pasar dan perubahan harga pangan. Pelaku pasar mempersepsikan adanya kendala distribusi karena infrastruktur jalan yang kurang baik, ketidakstabilan biaya operasional, persaingan harga, serta ketidakstabilan stok. Sementara itu perubahan harga pangan cenderung fluktuatif, khususnya pada daging ayam ras yang laju perubahan harganya lebih dari 25% ketika menjelang hari raya keagamaan. Kenaikan harga tertinggi pada komoditas beras terjadi antara bulan April-Mei dan antara bulan Agustus di tingkat pengecer, sedangkan di tingkat grosir terjadi antara bulan Juli-Agustus. Komoditas telur ayam ras mengalami kenaikan harga tertinggi antara bulan Maret-Mei dan antara bulan Juli-Agustus di tingkat pengecer maupun di tingkat grosir. Komoditas daging ayam ras mengalami kenaikan harga tertinggi antara bulan April-Mei dan antara bulan Juli-Agustus di tingkat pengecer maupun di tingkat grosir.
Rantai pasokan pada komoditas beras dimulai dari produsen yang menjual hasilnya ke pedagang pengumpul desa atau kecamatan. Kemudian pedagang pengumpul desa/ kecamatan menjual sebagian berasnya ke grosir (33,05 % dari total pasokan grosir), pasokan grosir sisanya dipenuhi dari grosir luar daerah (66,95%). Dari grosir, beras dijual ke pedagang pengecer (41,12%), swalayan/ toko (6,63%), konsumen (13%), dan sisanya dijual ke luar daerah (39,25%). Pada komoditas telur ayam ras, peternak bertindak sekaligus sebagai grosir
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 18 yang menjual telurnya ke grosir luar daerah (37%), pedagang besar (33,8%), pedagang pengecer/ toko/ swalayan (9,7%), dan lansung ke konsumen (19,5%). Kemudian dari pedagang besar, telur ayam ras dijual ke pedagang pengecer (43,7%) dan konsumen (56,3 %). Sedangkan pada komoditas daging ayam ras produsen menjual hasil ternaknya ke grosir/ pedagang besar, perusahaan pemotongan, dan pedagang pengecer berturut-turut sebanyak 64,8%, 6,06%, 29,13%. Setelah itu, daging ayam ras dari grosir/ pedagang besar dijual ke pedagang pengecer (52,6%) dan sisanya 47,4% dijual ke konsumen.
S a r a n
Para pelaku utama masing-masing komoditas pangan tersebut harus diajak bekerjasama untuk menjamin kelancaran pasokan pangan. Selain itu, perlu dilakukan antisipasi kenaikan tertinggi harga pangan yang terjadi pada bulan tertentu sehingga perlu adanya koordinasi dengan dinas perindustrian dan perdagangan serta asosiasi perdagangan Kabupaten Bandung. 5. Skor Pola Pangan Harapan (PPH).
Neraca Bahan Makanan (NBM) dan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) disusun setiap dua tahun sekali skor PPH pada tahun 2010 sebesar 86,7 ini berati masih belum mencapai maksimal 95 hal ini disebabkan kelompok padi-padian masih mendominasai kontribusi PPH. Sementara skor PPH untuk kelompok buah pangan hewani, buah biji/ berminyak serta sayur dan buah belum mencapai skor PPH ideal terlihat dalam tabel :
Sasaran Skor Pola Pangan Harapan Tahun 2010
No Kelompok Pangan Skor Pola Pangan Harapan
2008 2009 2010 2014 2015
1. Padi-padian 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0
2. Umbi-umbian 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
3. Pangan Hewani 14.4 15.8 17.1 22.6 29.0
4. Minyak dan Lemak 5.0 5.0 5.0 5.0 5.0
5. Buah/biji Berminyak 0.0 0.2 0.3 0.9 1.0
6. Kacang-kacang 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0
7. Gula 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5
8. Sayur dan Buah 26.1 26.6 27.2 29.4 30.0
9. Lai-lain 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
85.5 87.6 89.6 97.9 100
Terlaksanannya Program P2KP pada tahun 2010
Pelaksanaan P2KP di 5 kecamatan atau sebesar 16,13 persen dari target 31 kecamatan. Untuk memasyarakatkan melaksanakan pembinaan dan pelatihan bagi kelompok wanita tani di 10 Desa yang berada di Kecamatan tersebut diatas dalam rangka mengurangi mengkonsumsi beras masyarakat di Kabupaten Bandung dengan uraian sebagai berikut:
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 19
No. Kecamatan Desa/Kelurahan Nama
Kelompok Jumlah Demplot Tahap I (Rp.) pemanfaatan (Rp.) Tahap II Cilengkrang Girimekar Saluyu 2.000.000 16.000.000
Jatiendah Melati Jati 2.000.000 16.000.000
Arjasari Patrolsari Mawar 2.000.000 16.000.000
Ancol Mekar Melati 2.000.000 16.000.000 Solokanjeruk Padamukti Mitra Binangkit I 2.000.000 16.000.000 Bojong Emas Melati I 2.000.000 16.000.000 Pasirjambu Mekarsari Melati 2.000.000 16.000.000 Cisondari Sagabota I 2.000.000 16.000.000 Cicalengka Nagrog Giri Mekar 2.000.000 16.000.000 Narawita Mekarsari III 2.000.000 16.000.000
6. Pengawasan dan pembinaan keamanan pangan
TerlaksananMelaksanakan pembinaan mutu dan keamanan pangan skala kecil/rumahtangga pada kelompok produsen serta melaksanakan pembinaan penerapan standar Batas minimum Residu pada tahun 2010, yaitu 12 Komoditas yaitu Strowberry, Petsai, Kubis, Buncis, Brokoli, Mentimun, Bayam Jepang (Horinzo), Wortel, Salada, Blumkol,Sosin, Cabai Paprika;. 7. Penanganan daerah rawan pangan
Penanganan daerah rawan pangan dilaksanakan melalui pencegahan kerawanan pangan untuk menghindari terjadinya rawan pangan disuatu wilayah untuk itu perlu dilakukan pemetaan SKPG yang merupakan bahan untuk mengambil kebijakan penanganan daerah rawan pangan secara dini analisa hingga akhir tahun 2010 belum baru terlaksana 1 pemetaan ditingkat Kabupaten Bandung, terlaksana dari target 32 peta untuk pemetaan di tingkat kecamatan rawan pangan berdasarkan pemetaan 2010.
b. Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisir dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk
meningkatkan produktivitas, efesiensi usaha, perndapatan dan kesajahteraan, meningkatkan kesadaran serta pelestarian lingkungan.
1. Tersusunnya Programa Penyuluhan
Programa Penyuluhan pada mulai Tahun 2009 hingga 2010 dapat tersusun sebanyak 32 buku atau sebesar 100 persen dari target 32 buku. Programa Penyuluhan tersebut terdiri dari
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 20 programa penyuluhan tingkat kecamatan sebanyak 31 buku dan tingkat kabupaten sebanyak 1 buku.
2. Tersusunnya Rencana Kerja Tahunan (RKT) Penyuluhan
Rencana Kerja Tahunan pada Tahun 2009 mencapai 145 buku atau sebesar 100 persen, yaitu RKT penyuluhan yang disusun oleh 145 penyuluh PNS. Adapun Rencana Kerja Tahunan pada Tahun 2010 mencapai 240 buku atau sebesar 100 persen, yaitu RKT penyuluhan yang disusun oleh penyuluh PNS dan Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluhan Pertanian (THL-TBPP).
3. Tersusunnya data peta wilayah untuk pengembangan teknologi spesifik lokasi
Data peta wilayah untuk pengembangan teknologi spesifik lokasi pada Tahun 2009 mencapai 145 peta atau sebesar 100 persen, yaitu data peta wilayah yang disusun oleh 145 penyuluh PNS. Adapun pada Tahun 2010 data peta wilayah mencapai 240 peta atau sebesar 100 persen, yaitu data peta wilayah yang disusun oleh penyuluh PNS dan Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluhan Pertanian (THL-TBPP).
4. Terdesiminasinya informasi teknologi secara merata
Informasi teknologi perikanan yang terdesiminasi sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing sebanyak 3 buah, yaitu informasi teknologi pembenihan, pembesaran dan pengolahan atau mencapai 100 persen. Komoditas yang diusahakan yaitu ikan mas, lele, dan nila.
Informasi teknologi pertanian yang terdesiminasi sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing sebanyak 9 buah, yaitu informasi teknologi budidaya dan pengolahan atau mencapai 100 persen. Komoditas yang diusahakan yaitu padi, jagung, sayuran, buah-buahan, kopi, teh, cengkeh, tanaman hias dan tanaman obat-obatan.
Informasi teknologi peternakan yang terdesiminasi sejak Tahun 2008 dan Tahun 2009 masing-masing sebanyak 8 buah, dan Tahun 2010 sebanyak 10 buah, yaitu informasi teknologi budidaya dan pengolahan atau mencapai 100 persen. Komoditas yang diusahakan yaitu sapi perah, sapi potong, kerbau, domba, kambing, ayam ras, ayam buras, itik, puyuh, dan kelinci.
Informasi teknologi kehutanan yang terdesiminasi sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing sebanyak 3 buah, yaitu informasi teknologi vegetatif, sipil teknis dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu atau mencapai 100 persen. Komoditas yang diusahakan yaitu jamur kuping dan madu.
5. Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama dan pelaku usaha Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) pada Tahun 2008 mencapai 17 kelompok atau sebesar 34 persen dari target 50 kelompok, Tahun 2009 mencapai 28 kelompok atau sebesar 56 persen dari target 50 kelompok dan Tahun 2010 mencapai 53 kelompok atau sebesar 106 persen dari target 50 kelompok.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) mulai Tahun 2008 hingga Tahun 2009 masing-masing mencapai 53 kelompok atau sebesar 100 persen dari target 53 kelompok.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) pada Tahun 2010 mencapai 5 kelompok atau sebesar 50 persen dari target 10 kelompok.
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 21 Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) pada Tahun 2009 mencapai 3 desa atau sebesar 100 persen dari target 3 desa dan Tahun 2010 mencapai 1 desa atau sebesar 100 persen dari target 1 desa.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Desa Mandiri Pangan (Demapan) pada Tahun 2010 mencapai 8 desa atau sebesar 100 persen dari target 8 desa.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama melalui Lumbung Pangan hingga akhir Tahun 2010 belum terealisasi target 10 kecamatan.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama peternakan mulai Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing mencapai 32 kelompok atau sebesar 100 persen dari target 32 kelompok.
Tumbuh-kembangnya keberdayaan dan kemandirian pelaku utama perikanan mulai Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing mencapai 12 kelompok atau sebesar 100 persen dari target 12 kelompok.
6. Terwujudnya kemitraan usaha pelaku utama dan pelaku usaha yang menguntungkan
Terwujudnya kemitraan usaha perikanan yang menguntungkan mulai Tahun 2009 hingga Tahun 2010 belum terealisasi.
Terwujudnya kemitraan usaha pertanian yang menguntungkan mulai Tahun 2009 mencapai 1 kemitraan atau 100 persen dari target 1 kemitraan dan Tahun 2010 mencapai 5 kemitraan atau 100 persen dari target 5 kemitraan.
Terwujudnya kemitraan usaha peternakan yang menguntungkan mulai Tahun 2008 hingga Tahun 2010 masing-masing mencapai 1 kemitraan atau 100 persen dari target 1 kemitraan. Terwujudnya kemitraan usaha kehutanan yang menguntungkan Tahun 2009 mencapai 2 kemitraan atau mencapai 100 persen dari target 2 kemitraan dan Tahun 2010 mencapai 3 kemitraan atau 100 persen dari target 3 kemitraan.
7. Terwujudnya akses pelaku utama dan pelaku usaha ke lembaga keuangan, informasi dan sarana produksi
Terwujudnya akses pelaku utama dan pelaku usaha perikanan, pertanian, peternakan dan kehutanan ke lembaga keuangan, informasi dan sarana produksi Tahun 2008 mencapai 53 akses atau mencapai 117,78 persen dari target 45 akses, Tahun 2009 mencapai 53 akses atau mencapai 112,77 persen dari target 47 akses dan Tahun 2010 mencapai 53 akses atau mencapai 100 persen dari target 53 akses.
Tabel 6.Jenis dan Sumber Data Untuk Analisis Situasi Ketahanan dan Kerentanan
Pangan Kabupaten Bandung
No Indikator Jenis data Sumber data
1 Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih padi+jagung+ubi kayu+ubi jalar
Produksi padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar tahun 2007-2011
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan 2 Persentase penduduk hidup di
bawah garis kemiskinan
Perbandingan Jumlah Rumah Tangga dan RT Miksin (PPLS 2008)
Bappeda
3 Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai (untuk analisis tingkat kecamatan)
Panjang Jalan Menurut Kualitas dan Desa/Kelurahan
Kab. Bandung dalam Angka (BPS)
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 22
Persentase panjang jalan rusak di desa (untuk analisis tingkat desa) 4 Persentase rumah tangga tanpa
akses listrik
Keluarga Pengguna Listrik dan Telepon menurut Desa/kelurahan
Kab. Bandung dalam Angka (BPS) 5 Angka harapan hidup saat lahir Rekapitulasi PWS KIA Kab.
Bandung
Dinas Kesehatan 6 Berat badan balita di bawah standar
(underweight)
Balita dan Status Gizi menurut desa/kelurahan
Kab. Bandung dalam Angka (BPS)
7 Perempuan buta huruf Jumlah penduduk dan
penduduk yang buta huruf menurut desa Survei Sosial Ekonomi Kab. Bandung dan Kecamatan dalam Angka (BPS) 8 Rumah tangga tanpa akses ke air
bersih
Rekapan Hasil Survey Perumahan Lingkungan (SPL) Air Bersih di Kabupaten Bandung tahun 2009
Dinas Kesehatan
9 Persentase RT yang tinggal >5 km dari fasilitas kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan menurut Desa/kelurahan
Kab. Bandung dalam Angka (BPS)
10 Deforestasi hutan Kawasan Hutan di Kabupaten
Bandung dan Potensi hutan Rakyat di Kabupaten Bandung tahun 2009
Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan
11 Bencana alam Rekapitulasi Laporan Bencana
Alam Banjir, Longsor, Angin Putting Beliung dan Musibah Kebakaran di Wilayah Kabupaten Bandung tahun 2009
Badan
Penanggulangan Bencana Daerah
12 Penyimpangan curah hujan -
13 Persentase daerah puso Dinas Pertanian,
Perkebunan dan Kehutanan
d. Analisis Kerentanan terhadap Kerawanan Pangan Kronis 1) Berdasarkan Ratio Ketersediaan Pangan
Rasio ketersediaan pangan serealia menyatakan perbandingan konsumsi normatif penduduk (300 gram) dengan ketersediaan pangan serealia.Jika nilai tersebut lebih besar dari 1, maka daerah tersebut mengalami defisit pangan serealia.Rasio ketersediaan pangan terdapat pada Lampiran 3.Berikut disajikan Tabel 7 yang menunjukkan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas indikator ketersediaan pangan serealia.
Tabel 7 Jumlah dan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas indikator ketersediaan pangan serealia tahun 2009
Prioritas Kecamatan Desa
N % n % 1 11 35.48 115 41.67 2 1 3.23 14 5.07 3 5 16.13 14 5.07 4 4 12.90 29 10.51 5 6 19.35 41 14.86 6 4 12.90 59 21.38 Jumlah 31 100.00 272 98.56
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 23 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebanyak 17 kecamatan (54.84%) dengan jumlah penduduk 1,480,768 jiwa dan 143 desa (51.81%) tergolong prioritas utama (prioritas 1,2,3). Kecamatan tersebut adalah Pasir Jambu, Ciwidey, Rancabali, Dayeuhkolot, Margaasih, Bojongsoang, Kertasari, Cimenyan, Margahayu, Baleendah, Cimaung, Majalaya, Banjaran, Katapang, Ibun, Cileunyi, dan Cilengkrang. Untuk rincian kecamatan dan jumlah desa yang tergolong prioritas utama dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kategori Prioritas Kecamatan, Jumlah dan Nama Desa Prioritas Utama Berdasarkan Indikator Ketersediaan Pangan di Kabupaten Bandung Tahun 2009 No Kecamatan Indikator Ketersediaan Jumlah desa/kelurahan prioritas utama Nama Desa/Kelurahan Prioritas utama Rasio Priorita s
1 Soreang 0.86 4 5 (dari 10 desa) Soreang, Cingcin,Pamekaran,
Sekarwangi, Sadu
2 Pasir Jambu 34.17 1 10 Semua desa
3 Ciwidey 38.41 1 7 Semua desa
4 Nagreg 0.17 6 - -
5 Rancabali 56.08 1 3 (dari 5 desa) Alam Endah, Sukaresmi,
Cipelah
6 Margaasih 270.79 1 6 Semua desa
7 Bojongsoang 88.23 1 6 Semua desa
8 Dayeuhkolot 13.20 1 4 (dari 6 desa) Sukapura, Citeureup,
Cangkuang kulon & wetan
9 Banjaran 1.24 3 8 (dari 11 desa) Banjaran, Banjaran wetan,
Ciapus, Margahurip,
Kamasan, Tajursari,
Kiangroke, Sindangpanon
10 Pameungpeuk 0.86 4 3 (dari 6 desa) Sukasari, Langonsari,
Bojongmanggu
11 Pangalengan 0.94 4 7 (dari 13 desa) Pulosari, Sukamanah,
Banjarsari, Pangalengan, Margamukti, Wanasuka, Margamulya
12 Katapang 1.09 3 4 (dari 7 desa) Gandasari, Pangauban,
Katapang, Cilampeni
13 Majalaya 1.38 2 7 (dari 11 desa) Majalaya, Majasetra, Bojong,
Padamulya, Sukamukti, Sukamaju, Wangisagara
14 Ciparay 0.68 5 4 (dari 14 desa) Mekarsari, Mangunharja,
Serangmekar, Gunung leutik
15 Pacet 0.53 5 3 (dari 13 desa) Nagrak, Maruyung,
Girimulya
16 Kertasari 1.75 1 7 Semua desa
17 Cicalengka 0.64 5 5 (dari 12 desa) Panenjoan, Waluya,
Cicalengka wetan & Kulon, Tenjolaya
18 Cikancung 0.48 6 2 (dari 9 desa) Cikasungka, Tanjunglaya
19 Rancaekek 0.80 4 5 (dari 13 desa) Rancaekek wetan, Nanjung
Mekar, Rancaekek kulon, Bojongloa, Jelegong
20 Paseh 0.50 6 3 (dari 12 desa) Cipaku, Sukamanah,
Sukamantri
21 Ibun 1.07 3 6 (dari 12 desa) Karyalaksana, Talun,
Tangulun, Sudi, Cibeet, Lampegan
22 Cileunyi 1.19 3 4 (dari 6 desa) Cinunuk, Cibiru Hilir,
Cimekar, Cibiru wetan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 24
24 Margahayu 4.93 1 2 (dari 5 desa) Margahayu Selatan, Kel.
Sulaeman
25 Cilengkrang 1.22 3 2 (dari 6 desa) Giri Mekar, Jati Endah
26 Baleendah 2.80 1 8 Semua desa
27 Arjasari 0.33 6 - -
28 Cimaung 51.01 1 10 Semua desa
29 Solokanjeruk 0.65 5 - -
30 Cangkuang 0.67 5 1 (dari 7 desa) Ciluncat
31 Kutawaringin 0.69 5 2 (dari 11 desa) Padasuka, Jelegong
Kabupaten Bandung 0.99 4 143
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa rasio ketersediaan pangan Kabupaten Bandung adalah 0.99.Nilai tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Bandung berada dalam keadaan surplus rendah (prioritas 4). Hal tersebut berarti ketersediaan pangan serealia Kabupaten Bandung telah cukup memenuhi kebutuhan normatif penduduknya dengan produksi netto pangan serealia Kabupaten Bandung adalah 306,171.8 ton, yang berasal dari produksi netto jagung, ubi jalar dan ubi kayu berturut-turut adalah 164,855.3 ton, 51,098.8 ton, 11,632.5 ton, dan 7,8585.2 ton.
Meskipun demikian, ketersediaan pangan di beberapa kecamatan maupun desa/kelurahan masih belum dapat memenuhi kebutuhan normatif penduduknya.Hal itu ditunjukkan masih terdapat kecamatan dan desa/kelurahan yang memiliki nilai rasio ketersediaan pangan serealia yang tergolong defisit, baik itu defisit rendah (prioritas 3), defisit sedang (prioritas 2) ataupun defisit tinggi (prioritas 1) (Tabel 7).
Kecamatan yang ketersediaan pangan serealianya tergolong surplus (prioritas 6) belum tentu memiliki desa/kelurahan yang ketersediaan pangannya mencukupi.Hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 8 yang menunjukkan jumlah dan persentase desa/kelurahan berdasarkan tingkat prioritas.Kecamatan yang tergolong surplus pangan adalah Kecamatan Paseh namun masih memiliki desa/kelurahan yang tergolong defisit tinggi yaitu desa Cipaku dan Sukamanah.Kemudian di Kecamatan Cikancung terdapat 1 desa, yaitu desa Cikasungka. Kecamatan yang memiliki desa/kelurahannya tergolong prioritas 1 terbanyak adalah Kecamatan Pasir Jambu. Desa/kelurahan yang memiliki rasio ketersediaan pangannya tinggi (defisit tinggi) adalah Lengkong di kecamatan Margaasih.Skor prioritas setiap kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan indikator ketersediaan pangan serealia dapat dilihat pada lampiran.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa, meskipun ketersediaan di tingkat Kabupaten melimpah/surplus belum tentu terdistribusi dengan baik ke wilayah Kecamatan hingga desa/kelurahan.Hal ini diduga karena masih terdapat infrastuktur yang belum tersedia secara optimal untuk mendistribusikan pangan-pangan tersebut.Kecamatan, desa/kelurahan yang memiliki ketersediaan pangan yang surplus dapat mendistribusikan pangan tersebut kepada kecamatan, desa/kelurahan yang tergolong defisit.
2) Berdasarkan Indikator Kemiskinan
Kemiskinan merupakan indikator ketidakmampuan untuk mendapatkan cukup pangan, karena rendahnya kemampuan daya beli atau ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar,seperti, makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan lain-lain (BKP 2008).Data tentang indikator kemiskinan terdapat pada Lampiran 3.Daerah-daerah yang kemiskinannya tinggi harus segera ditangani, supaya tidak terjadi kerawanan pangan.Tabel 14 menunjukkan jumlah/ presentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas indikator kemiskinan.
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 25 Tabel 9. Jumlah dan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas indikator
kemiskinan di Kabupaten Bandung tahun 2009
Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa persentase kecamatan dan desa/kelurahan di Kabupaten Bandung yang tergolong prioritas utama sebanyak 21 kecamatan (67.74%) dengan jumlah penduduk 1,577,011 jiwa. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pasir Jambu, Nagreg, Rancabali, Banjaran, Pameungpeuk, Pangalengan, Majalaya, Ciparay, Pacet, Kertasari, Cicalengka, Cikancung, Rancaekek, Paseh, Ibun, Cimenyan, Cilengkrang, Arjasari, Cimaung, Solokanjeruk, dan Kutawaringin. Desa/kelurahan yang tergolong prioritas utama sebanyak 187 desa/kelurahan (67.75%).Skor prioritas setiap desa/kelurahan dapat dilihat pada Lampiran 4.Rincian jumlah desa/kelurahan yang tergolong tingkat prioritas utama per kecamatan di Kabupaten Bandung dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10.Kecamatan dan golongan prioritasnya serta jumlah desa yang tergolong prioritas utama berdasarkan indikator kemiskinan di Kabupaten Bandung tahun 2009
Prioritas Kecamatan Desa
N % N % 1 4 12.90 52 18.84 2 9 29.03 88 31.88 3 8 25.81 47 17.03 4 7 22.58 45 16.30 5 2 6.45 34 12.32 6 1 3.23 10 3.62 Jumlah 31 100.00 276 100.00
No. Kecamatan Prioritas Jumlah desa/kelurahan
prioritas utama
Nama Desa/Kelurahan Prioritas Utama
1 Soreang 4 5 (dari 10 desa) Sekarwangi, Parungserab,
Keramatmulya, Panyirapan,
Sukajadi
2 Pasir Jambu 3 5 (dari 10 desa) Tenjolaya, Cikoneng, Cisondari,
Cukang genteng, Mekar Sari
3 Ciwidey 4 1 (dari 7 desa) Sukawening
4 Nagreg 1 6 Semua desa
5 Rancabali 2 5 Semua desa
6 Margaasih 4 2 (dari 6 desa) Nanjung, Cigondewah
7 Bojongsoang 4 3 (dari 6 desa) Tagelluar, Bojongsari,
Bojongsoang
8 Dayeuhkolot 5 1 (dari 6 desa) Dayeuhkolot
9 Banjaran 3 5 (dari 11 desa) Banjaran wetan, Pasirmulya,
Neglasari, Kamasan, Mekar Jaya
10 Pameungpeuk 3 4 (dari 6 desa) Langonsari, Bojongkunci,
Rancatungku, rancamulya
11 Pangalengan 2 13 Semua desa
12 Katapang 4 2 (dari 7 desa) Sukamukti, Banyusari
13 Majalaya 2 8 (dari 11 desa) Majalaya, Majasetra, Majakerta,
Bojong, Padamulya, Sukamaju, Wangisagara, Neglasari
14 Ciparay 1 14 Semua desa
15 Pacet 1 13 Semua desa
16 Kertasari 2 7 Semua desa
17 Cicalengka 2 11 (dari 12 desa) Semua desa, kecuali Cicalengka
kulon
18 Cikancung 3 5 (dari 9 desa) Cikancung, Mandalasari, Cihanyir,
Mekarlaksana, Cikasungka
19 Rancaekek 2 9 (dari 13 desa) Sukamanah, Tegalsumedang,
Rancaekek kulon, Bojongloa, Sukamulya, Cangkuang, Haur
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 26 3) Berdasarkan Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Akses Listrik
Akses terhadap listrik merupakan suatu indikator pendekatan yang baik untuk kesejahteraan ekonomi dan peluang matapencaharian yang lebih tinggi (DKP & WFP 2005).Data tentang indikator rumah tangga yang tidak memiliki akses listrikterdapat pada Lampiran.Tabel 11 menunjukkan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas indikator rumah tangga tanpa listrik.
Tabel 11 Jumlah dan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan prioritas
indikator persentase rumah tangga tanpa listrik tahun 2009
Berdasarkan indikator persentase rumah tangga tanpa listrik, Kabupaten Bandung tergolong prioritas 6 (Tabel 11). Berdasarkan kecamatan, semua kecamatan di Kabupaten Bandung tergolong prioritas 6. Pada tingkat desa/kelurahan sebagian besar sudah mendapatkan akses listrik, sehingga termasuk prioritas 6 (95.65%), namun masih terdapat desa/kelurahan yang tergolong prioritas 4 (1.81%) dan prioritas 5 (2.54%). Desa yang penduduknya belum mempunyai akses terhadap listrik dapat dilihat pada Tabel 12.
Pugur,Bojongsalam, Sangiang
20 Paseh 2 12 Semua desa
21 Ibun 1 12 Semua desa
22 Cileunyi 5 - -
23 Cimenyan 3 4 (dari 9 desa) Sindanglaya, Mekarmanik,
Cikadut, Cimenyan
24 Margahayu 6 - -
25 Cilengkrang 2 5 (dari 6 desa) Giri mekar, Melatiwangi,
Ciporeat, Cipanjalu, Cilengkrang
26 Baleendah 4 3 (dari 8 desa) Wargamekar, Malakasari
27 Arjasari 3 7 (dari 11 desa) Baros, Mekarjaya, Mangunjaya,
Margaluyu, Patrolsari, Rancakole, Ancolmekar
28 Cimaung 2 8 (dari 10 desa) Cimaung, Campakamulya,
Mekarsari, Cipinang,Cikalong, Warjabakti, Malasari,Sukamaju
29 Solokanjeruk 3 5 (dari 7 desa) Padamukti, Panyadap, Cibodas,
Langensari, Bojongemas
30 Cangkuang 4 4 (dari 7 desa) Tanjungsari, Jatisari, Bandasari,
Pananjung
31 Kutawaringin 3 8 (dari 11 desa) Cilame, Sukamulya,
Buminagara, Padasuka, Kopo, Cibodas, Kutawaringin, Jatisari
Kabupaten Bandung 3 187 Prioritas Desa N % N % 1 - - - - 2 - - - - 3 - - - - 4 - - 5 1.81 5 - - 7 2.54 6 31 100.00 264 95.65 Jumlah 31 100.00 276 100.00
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 27 Tabel 12. Desa/kelurahan yang memiliki rumah tangga tanpa listrik
No. Kecamatan Desa/kelurahan Rumah tangga tanpa listrik (%)
N %
1 Soreang Sekarwangi 12 0.65
Sukajadi 350 18.62
Sukanagara 32 2.83
2 Pasir Jambu Tenjolaya 350 10
Mekar Maju 312 21.49 Sugih Mukti 932 24.32 3 Ciwidey Panundaan 20 0.59 Panyocokan 5 0.18 Sukawening 3 0.11 Nangkelan 60 3.85 Lebakmuncang 5 0.13 4 Rancabali Patengan ` 5.15 Indragiri 154 11.35 Sukaresmi 624 22.02 5 Bojongsoang Bojongsoang 600 11.25 6 Pangalengan Wanasari 5 0.21 Pulosari 40 1.23 Sukaluyu 84 3.34 6 Pangalengan Banjarsari 21 1.18 7 Ciparay Mekarsari 52 1.62 Ciheulang 52 1.51 8 Pacet Mekarjaya 84 5.03 Girimulya 3 0.15 9 Kertasari Sukapura 385 7.99 Cihawuk 91 5.67 Santosa 171 10.41 10 Cicalengka Nagrog 272 10 Margaasih 209 10.89 Babakan peuteuy 10 0.51 11 Cikancung Cikancung 480 25.53 Tanjunglaya 12 0.50 12 Paseh Cigentur 55 3.94 13 Ibun Ibun 458 20.6 Pangguh 92 3.85
14 Cimenyan Mandala Mekar 1 0.07
Cikadut 2 0.08 Padasuka 5 0.21 Mekarsaluyu 2 15 Cilengkrang Melatiwangi 2 0.22 Cilengkrang 2 0.22 16 Arjasari Lebakwangi 2 0.07 Mekarjaya 2 0.13 Mangunjaya 5 0.29 Margaluyu 16 0.29 Arjasari 3 0.12 17 Cimaung Malasari 15 0.97 18 Solokanjeruk Langensari 8 0.34 Rancakasumba 6 0.20 Bojongemas 4 0.14 19 Cangkuang Bandasari 215 9.81 Pananjung 72 3.01 20 Kutawaringin Cibodas 75 3.76 Gajahmekar 4 0.17 Jatisari 10 0.41 Kabupaten Bandung 6,554
Berdasarkan Tabel 12, terdapat 20 kecamatan dan 54 desa/kelurahan yang masih mempunyai rumah tangga tanpa akses listrik dengan jumlah 6,554 rumah tangga. Desa yang rumah tangga tanpa akses listriknya terbanyak adalah Desa Sugih Mukti dengan jumlah rumah tangga sebanyak 932. Hal tersebut akan mengganggu kegiatan
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 28 perekonomian maupun matapencaharian daerah tersebut. Jika kegiatan perekonomian kurang, maka akan berdampak pada kesejahteraan penduduknya. Jika kesejahteraan penduduk rendah maka akses terhadap pemenuhan kebutuhan dasar akan berkurang termasuk pangan, sehingga rentan terhadap kerawanan pangan. Kondisi kecamatan dan desa/kelurahan menurut rumah tangga tanpa akses listrik dapat dilihat pada Lampiran.
4) Indikator Persentase Desa yang Tidak Memiliki Akses Penghubung yang Memadai
Untuk indikator akses penghubung yang memadai dalam analisis digunakan data persentase jalan yang rusak di desa/kelurahan tersebut, sehingga didapatkan tingkat prioritas setiap desa/kelurahan.Untuk analisis di tingkat kecamatan digunakan persentase desa/kelurahan yang tergolong prioritas 1 di masing-masing kecamatan.Data desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai terdapat pada Lampiran.Tabel 13 menunjukkan persentase kecamatan dan prioritas indikator akses penghubung yang memadai di Kabupaten Bandung tahun 2009.
Tabel 13. Jumlah dan persentase kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan
Berdasarkan Tabel 13, banyaknya kecamatan yang tergolong prioritas utama adalah 5 kecamatan (9.68%) dengan jumlah penduduk 32,326 jiwa. Kecamatan tersebut adalah
Kecamatan Pasir Jambu, Rancabali, Kertasari, Ibun, dan Cimaung. Untuk tingkat
desa/kelurahan yang tergolong prioritas utama adalah sebanyak 103 desa/kelurahan (37.32%). Berikut disajikan Tabel 14 yang menunjukkan Kecamatan dan golongan prioritasnya serta jumlah desa yang tergolong prioritas utama berdasarkan indikator akses penghubung yang memadai.
Tabel 14. Kecamatan dan golongan prioritasnya serta jumlah desa yang tergolong prioritas utama berdasarkan indikator akses penghubung yang memadai di Kabupaten Bandung tahun 2009
No. Nama
Kecamatan Prioritas
Jumlah desa/kelurahan prioritas utama
Nama Desa/Kelurahan Prioritas Utama
1 Soreang 6 3 (dari 10 desa) Karamatmulya, Sukajadi, Sadu
2 Pasir Jambu 3 5 (dari 10 desa) Tenjolaya, Cisondari, Cibodas,
Mekarsari, Sugihmukti
3 Ciwidey 6 4 (dari 7 desa) Ciwidey, Panyocokan,
Sukawening, Nangkelan
4 Nagreg 4 1 (dari 6 desa) Citaman
5 Rancabali 3 3 (dari 5 desa) Alam Endah, Sukaresmi, Cipelah
6 Margaasih 6 - -
7 Bojongsoang 6 1 (dari 6 desa) Buahbatu
8 Dayeuhkolot 6 1 (dari 6 desa) Cangkuang Kulon
9 Banjaran 6 1 (dari 11 desa) Neglasari
10 Pameungpeuk 6 - -
11 Pangalengan 6 4 (dari 13 desa) Warnasari, Margaluyu,
Sukamanah, Wanasuka
12 Katapang 6 - -
13 Majalaya 6 2 (dari 11 desa) Sukamukti, Wangisagara
Prioritas Kecamatan Desa
N % N % 1 3 9.68 27 9.78 2 - 0.00 33 11.96 3 2 6.45 43 15.58 4 4 12.90 73 26.45 5 2 6.54 51 18.48 6 20 64.52 49 17.75 Jumlah 31 100.00 276 100.00
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 29
14 Ciparay 6 4 (dari 14 desa) Sarimahi, Babakan,
Mekarlaksana, Pakutandang
15 Pacet 6 1 (dari 13 desa) Girimulya
16 Kertasari 1 6 (dari 7 desa) Kecuali Cihawuk
17 Cicalengka 6 10 (dari 12 desa) Semua desa, Kecuali Cicalengka
wetan
18 Cikancung 6 3 (dari 9 desa) Mandalasari, Mekarlaksana,
Cikasungka
19 Rancaekek 6 7 (dari 13 desa) Tegal Sumedang, Jelegong,
Linggar, Sukamulya, Haur Pugur, Bojong Salam, Sangiang
20 Paseh 6 3 (dari 12 desa) Cijagra, Mekar Pawitan, Drawati
21 Ibun 1 9 (dari 12 desa) Semua desa, Kecuali Karya
Laksana, Laksana, Tanggulun
22 Cileunyi 4 2 (dari 6 desa) Cimekar, Cibiru Wetan
23 Cimenyan 5 4 (dari 10 desa) Sindanglaya, Mekarmanik,
Cikadut, Mekarsaluyu
24 Margahayu 6 - -
25 Cilengkrang 6 1 (dari 6 desa) Cipanjalu
26 Baleendah 5 2 (dari 8 desa) Manggahang, Bojongmalaka
27 Arjasari 4 6 (dari 11 desa) Baros, Mekarjaya, Margaluyu,
Pinggirsari, Patrolsari, Rancakole
28 Cimaung 1 5 (dari 10 desa) Mekarsari, Cikalong, Warja Bakti,
Sukamaju, Malasari
29 Solokanjeruk 6 5 (dari 7 desa) Padamukti, Cibodas, Langensari,
Solokanjeruk, Rancakasumba
30 Cangkuang 6 1 (dari 7 desa) Bandasari
31 Kutawaringin 4 7 (dari 11 desa) Cilame, Sukamulya, Buminagara,
Cibodas, Kutawaringin, Gajahmekar, Pameuntasan
Kabupaten Bandung 103
Kecamatan Cicalengka dan Ibun memiliki 9 desa yang menjadi prioritas utama dalam hal peningkatan akses jalan yang memadai.Secara lengkap kondisi kecamatan dan desa/kelurahan berdasarkan akses infrastruktur jalan dapat dilihat pada lampiran 4. Jalan yang rusak akan menghambat distribusi pangan sehingga berpengaruh pada harga pangan yang tinggi. Jika harga pangan tinggi maka akses maasyarakat terhadap pangan rendah..
Penyelenggaraan Pelayanan yang dilaksanakan oleh BKP3 Kabupaten Bandung kepada masyarakatpada dasarnya untuk memberikan kepuasan dan kepastian atas pelayanan yang diberikan.
Dalam hal ini BKP3 Kabupaten Bandung melakukan upaya dan langkah-langkah serta mensikapi respondan harapan masyarakat, diantaranya melalui :
1) Sosialisasi Undang-undang nomor. 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
2) Sosialisasi Peraturan Pemerintah nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan; 3) Mengkoordinasi pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan upaya
peningkatan ketahanan pangan masyarakat dan pelaksanaan penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan;
4) Penyelenggaraan penyuluhan, bimbingan dan pelatihan bagi pelaku utama dan pelaku usaha pertanian, perikanan dan kehutanan;
5) Penyediaan informasi penerapan teknologi pertanian, perikanan dan kehutanan tepat guna dan berkelanjutan;
Renstra BKP3 Tahun 2011-2015 30
2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD
Peluang (Opportunity)
a. Adanya teknologi yang selalu berkembang
b. Trend perubahan perilaku masyarakat konsumen terhadap produk olahan pangan c. Pangsa pasar yang semakin terbuka, terutama pasar domestik; makin
meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan yang beraneka, sehat, bergizi, dan berkualitas.
d. Potensi diversifikasi bahan pangan
Tantangan (Threat)
a. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi b. Berlangsungnya perubahan iklim
c. Masuknya produk pangan dari luar dan tingginya tingkat persaingan usaha.. d. Fluktuasi harga pangan.
e. Menurunnya kinerja penyuluh sebagai dampak dari kualitas dan kwantitas penyuluh.
f. Tingginya alih fungsi lahan dan menurunnya kualitas lahan produktif. g. Masih terbatasnya komsumsi pangan berimbang, beragam dan bergizi.