Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN: 2548-964X Vol. 4, No. 1, Januari 2020, hlm. 280-288 http://j-ptiik.ub.ac.id
Fakultas Ilmu Komputer
Pengembangan Sistem Travel Order Perjalanan Dinas Berbasis Android
(Studi Kasus Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan)
Anggit Chalilur Rahman1, Faizatul Amalia2, Fitra Abdurrachman Bachtiar3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Email: [email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Pengajuan perjalanan dinas Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan merupakan proses pengajuan yang dilakukan oleh pegawai kepada kepala divisi untuk melaksanakan perjalanan dinas. Pada saat ini, Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan menggunakan sistem informasi berbasis website dalam proses pengajuan perjalanan dinas. Namun terdapat permasalahan dalam penggunaan sistem tersebut yang hanya dapat diakses melalui server lokal, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengajuan dan persetujuan perjalanan dinas di luar kantor. Penetuan data akomodasi yang belum terintegrasi dengan dengan data maskapai secara langsung juga mengakibatkan sulitnya mengetahui maskapai yang tersedia. Maka diperlukan sebuah sistem pengajuan perjalanan dinas berbasis Android yang menggunakan teknologi Application Programming Interface (API) untuk memudahkan pegawai dalam menentukan maskapai yang akan digunakan. Selain itu pemilihan platform berbasis Android juga dapat meningkatkan fungsionalitas sistem sehari-hari karena terhubung langsung dengan gadget para pegawai. Metode pengembangan SDLC Waterfall digunakan dalam pengembangan sistem ini dikarenakan kebutuhan telah didefinisikan sedari awal. Hasil dari penelitian ini berupa sebuah sistem informasi travel order perjalanan dinas yang memiliki 27 kebutuhan fungsional, serta satu buah kebutuhan non-fungsional berupa usability. Sistem tersebut diperuntukkan untuk tiga jenis aktor yaitu petugas order, pejabat Approval, dan admin. Pengujian unit, integrasi, validasi, dan usability telah dilakukan pada sistem ini dengan hasil 100% valid dari 6 test case pada tingkat unit, 100% valid dari 2 test case pada tingkat integrasi, 100% valid dari 55 test case pada validalitasnya, rata-rata skor SUS dengan nilai 68,75 pada sisi petugas, dan 75 pada sisi pejabat approval dan admin. Skor tersebut telah mencapai batas acceptance SUS yang menunjukkan bahwa sistem telah diterima oleh pengguna.
Kata kunci : Sistem Pengajuan Perjalanan Dinas, BPJS Ketenagakerjaan, Waterfall, React Native, Android
Abstract
Submission of official travel BPJS Ketenagakerjaan Headquarters is a submission process carried out by employees to the head of the division. At this time, the BPJS Ketenagakerjaan Headquarters uses a website-based information system in the process of submitting official travel. However, there is the problem of the system which can only be accessed through a local server, so it is not possible to submit and approve official travel trips outside the office, and the systems that have not been directly integrated with the data in determining the accommodation to be used. Therefore, this research developed an android-based official travel application system that uses Application Programming Interface (API) technology to facilitate employees in determining the airline to be used. Also, the selection of an Android-based platform can also improve the functionality of the daily system because it is connected directly to the gadgets of employees. This development uses the waterfall development model, because the list of needs has been determined from the beginning. From this research, a travel information system for travel orders with 27 functional and one non-functional requirement was usability needs was produced. The system is intended for three types of actors namely order officers, Approval officials, and admins. This system has been tested by unit testing, validation testing, and usability testing using the System Usability Scale (SUS) questionnaire. Unit tests produce 100% valid status in six test cases and validation tests produce 100% valid status in 55 test cases, while usability testing results in an average SUS score of 68.75 on the order side, as well as an average SUS score with the number 75 on the official approval and admin.
1. PENDAHULUAN
BPJS Ketenagakerjaan ialah lembaga asuransi sosial yang dimiliki oleh negara dengan tujuan melindungi tenaga kerja dari resiko pekerjaan yang memiliki kantor di berbagai kota maupun provinsi (BPJS Ketenagakerjaan, 2017). Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan, dalam melakukan kegiatan di luar kota maupun provinsi harus memfasilitasi pimpinan dan karyawannya dalam melakukan perjalanan dinas. Dalam menyiapkan perjalanan dinas yang akan dilakukan tersebut, Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan perlu menyiapkan transportasi dan atau hotel yang akan digunakan, serta administrasi dari perjalanan dinas tersebut yang berkaitan dengan mata anggaran dan laporan pertanggung jawaban atas perjalanan dinas tersebut.
Pada saat ini, Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan menggunakan sistem pengajuan perjalanan dinas dan travel order berbasis website yang berjalan pada server lokal Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan demi keamanan penggunaan sistem yang bersifat internal, dimana terdapat beberapa permasalahan dalam fungsionalitasnya yang kurang efektif dan efisien. Permasalahan yang pertama adalah dengan berjalannya sistem hanya pada server lokal, terdapat kesulitan dalam mengajukan dan menyetuji pengajuan perjalanan dinas di luar kantor. Kedua, jadwal dan rute keberangkatan belum terintegrasi dengan data maskapai secara langsung untuk mengetahui pilihan dan ketersediaan maskapai. Dan yang terakhir, Sistem sebelumnya tidak dapat memberikan pemberitahuaan dan peringatan secara langsung terkait pengajuan perjalanan dinas.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka diperlukan pengembengan sistem dengan berbasis mobile, agar penggunaannya lebih praktis dan dapat diakses dimana saja karena terkoneksi dengan gadget masing-masing, dengan penggunaan teknologi Application Programming Interface (API) agar sistem dapat terintegrasi dengan service aplikasi yang dibutuhkan. Dalam memenuhi sistem informasi tersebut, dilakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Sistem Travel Order Perjalanan Dinas Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan Berbasis Mobile”.
2. LANDASAN KEPUSTAKAAN 2.1. Kajian Pustaka
Pada tahun 2016, terdapat penelitian yang berjudul “Sistem Informasi Perjalanan Dinas Pada PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) Surabaya” yang melakukan pengembangan sistem informasi terkait perjalanan dinas berbasiskan website dengan metode waterfall yang dibangun karena adanya permasalahan pada penyalahgunaan pengajuan perjalanan dinas yang diajukan karena tidak adanya pencatatan data yang terperinci dari proses pengajuan perjalanan dinas tersebut (Safi'i, et al., 2016).
Pada penelitian berjudul “Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Pengelolaan Perjalanan Dinas (Studi Kasus: Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Sidoarjo)” yang dilakukan oleh Risa Sekarningtyas pada tahun 2018, dilakukan analisis dan perancangan sebuah sistem pengelolaan perjalanan dinas dengan menggunakan metode Rapid Application Development (RAD). Sistem tersebut dirancang karena terdapat permasalahan pada pengelolaan dokumen yang dilaukan secara manual dan sulitnya mendapatkan approvall pejabat terkait dikarenakan pejabat tersebut yang kerap tidak berada ditempat.
Pada penelitian berjudul “Optimasi Sistem Informasi Perjalanan Dinas Dalam Meningkatkan Efisiensi Biaya Perusahaan” yang dilakukan oleh Susan Rachmawati, Tri Retnasari, dan Sunarto pada tahun 2018, dilakukan pengembangan sistem informasi perjalanan dinas dengan metode Unified Approach (UA). Sistem tersebut dikembangkan karena terdapat permasalahan pada proses pencatatan perjalanan dinas yang dilakukan secara manual sehingga menimbulkan kesalahan pada pencatatan tersebut, serta pencatatan tersebut tidak dapat dilakukan secara real-time.
2.2. Aplikasi Mobile
Aplikasi mobile ialah aplikasi yang dirancang khusus pada perangkat bergerak (Pressman, 2001) . Menurut Lim (2015), pada masa ini, tingkat kepopuleran perangkat mobile lebih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perangkat desk-based.
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
282
2.3. Android
Android adalah sebuah sistem operasi yang dikembangkan dengan berbasiskan linux untuk dapat digunakan pada berbagai smartphone dan gadget tertentu yang juga menyediakan platform pengembangan secara terbuka atau open source untuk digunakan oleh berbagai perangkat bergerak (Vavru & Ujbanyai, 2014).
2.4. React Native
Menurut Eisenman (2015), React Native merupakan sebuah cross-platfom framework yang memungkinkan untuk mengembangkan aplikasi berbasis mobile dengan menggunakan javascript sebagai bahasa pemrogramannya. walaupun menggunakan javascript sebagai bahasa pemrogramannya, aplikasi yang dibangun menggunakan React Native akan menghasilkan aplikasi yang terasa benar-benar seperti aplikasi native pada umumnya. Hal tersebut dimungkinkan karena React Native menggunakan native component pada Android dan Ios yang dikemas dalam javascript.
2.5. Redux
Redux adalah library back-end yang berfungsi sebagai manajemen state dalam membangun sebuah aplikasi. Menurut (Bugl, 2017), redux hadir karena dua permasalahan dalam penanganan state, yaitu asynchronity dan mutation. Asynchronity merupakan sifat pengeksekusian kode program yang dapat terjadi kapan saja tanpa melihat adanya urutan. Sedangkan mutation adalah perubahan sebuah state oleh suatu komponen sehingga permasalahan konsistensi data terjadi pada state.
2.6. Application Programming Interface (API)
Teknologi ini merupakan sebuah teknologi dari sisi server yang diintegrasikan dengan sistem dari segi client guna membantu dalam menyediakan dan mengolah data sehingga data tersebut dapat dicerna oleh sistem, dengan itu sistem dapat menampilkan dan mengedit data yang dibutuhkan tersebut. (Cooksey, 2014)
2.7. Model SDLC Waterfall
Model pengembangan ini merupakan model dalam mengembangkan perangkat lunak secara terurut mulai dari analisis, desain, pengodean, testing, dan tahap penunjang (support) (Sukamto & Shalahuddin, 2018). Model pengembangan ini dipilih ketika sebuah
perangkat lunak telah memiliki daftar spesifikasi kebutuhan yang telah ditetapkan sejak awal dan tidak memungkinkan untuk adanya perubahan kebutuhan saat proses pengembangan dilakukan.
3. METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode yang mengacu pada model SDLC Waterfall karena karena pada sistem travel order untuk perjalanan dinas di Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan telah memiliki daftar kebutuhan yang tetap yang telah ditetapkan oleh pihak Kantor Pusat BPJS Ketenagakerjaan. Metode SDLC Waterfall ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 1 Alur Metodologi Penelitian Tahapan yang pertama adalah studi literatur yang merupakan proses pengambilan landasan teori yang menunjang untuk penelitian yang dilakukan.
Tahapan yang kedua adalah analisis kebutuhan untuk menganalisis berbagai kebutuhan sistem dengan pendekatan berorientasi objek yang kemudian dimodelkan dalam bentuk Use Case Diagram dan Use Case Scenario.
Tahapan yang ketiga adalah merancang sistem dengan pendekatan berorientasi objek
sebagai bahan acuan pada proses implementasi yang dilakukan selanjutnya dengan menggunakan Sequence Diagram, Class Diagram, Perancangan Data, Perancangan Algoritme, dan Perancangan Antarmuka.
Tahapan yang keempat adalah
mengimplementasikan sistem dengan proses
pengodean yang mengacu kepada
pengembangan sistem aplikasi berbasis android yang menggunakan javascript sebagai dasar bahasanya, dan react native sebagai cross-platform framework-nya.
Pada tahapan yang kelima, sistem diuji dengan menggunakan pengujian white box pada tingkat unit sistem dan integrasi, pengujian black box untuk menguji validalitas sistem, dan pengujian usablity yang menggunakan pengujian System Usability Scale (SUS).
Pada tahapan yang terakhir, dilakukan proses penarikan kesimpulan yang berupa pernyataan atau proposisi, serta serta pemberian saran sebagai bahan perbaikan dari penelitian ini.
4. ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM
Tahapan ini menghasilkan beberapa komponen hasil yang dibutuhkan pada pengembangan sistem. Pertama ialah identifikasi aktor berjumlah tiga aktor yaitu petugas order (Seluruh Pegawai BPJS Ketenagakerjaan), pejabat approval (Kepala Divisi Seluruh Unit Kerja), dan admin (Penata Utama Pengelolaan Perjalanan Dinas). Kedua ialah daftar kebutuhan fungsional dengan jumlah 27 kebutuhan. Dan ketiga ialah kebutuhan non-fungsional berupa usability.
4.1. Kebutuhan Fungsional
Sampel kebutuhan yang diambil merupakan kebutuhan order pesawat yang ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 1 Sampel Kebutuhan Fungsional No Kode
Fungsi
Nama Fungsi Deskripsi Fungsional
1
ETOM-1-03
Order pesawat Sistem harus mampu menyediakan fitur order pesawat untuk mengajukan perjalanan dinas dengan akomodasi pesawat. 2 ETOM-1-10 Lihat Daftar Riwayat Order Sistem harus mampu menyediakan fitur tampilan order yang telah diajukan. 3 ETOM-1-22
Edit User Sistem harus
mampu
menyediakan fitur edit user.
4.2. Kebutuhan Non-Fungsional
Fungsi berikut menjadi acuan pada kualitas sistem tersebut yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2 Sampel Kebutuhan Non-Fungsional No Kode
Fungsi
Nama Fungsi Deskripsi Fungsional
1
ETOM-2-01
Usability Aplikasi didesain dengan acuan kemudahan bagi user saat menggunakan aplikasi dengan memperhatikan rancangan antarmuka.
4.3. Pemodelan Diagram Use Case
Pemodelan ini menunjukkan segala kemungkinan hubungan yang diberikan oleh sistem kepada aktor. Pada pemodelan ini terdapat tiga aktor dan 27 kebutuhan fungsional. Sampel dari pemodelan ini ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 2 Sampel Pemodelan Diagram Use Case
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
284
Pemodelan yang berupa tabel berikut akan menjelaskan bagaimana sebuah kebutuhan fungsional berjalan dalam urutan sintaksis pada sistem. Sampel dari pemodelan ini ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 3 Use Case Scenario Edit User
Kode Kebutuhan ETOM_1_22
Objective Menjelaskan aktifitas aktor
saat melakukan edit user
Aktor Admin
Pre-Condition Aktor sudah melakukan
kebutuhan fungsional lihat daftar user dengan nomor kebutuhan ETOM-1-20
Main Flow 1. Aktor melakukan tap
pada tombol edit. 2. Form edit user
ditampilkan oleh sistem. 3. Aktor mengedit data
user.
4. Aktor memilih tombol simpan.
5. Confirmation modal ditampilkan oleh sistem. 6. Aktor melakukan tap
pada tombol confirm.
Alternative Flow 1. Apabila pada form masih terdapat data yang masih kosong, maka pesan bintang merah pada label field yang kosong.
2. Apabila aktor menekan tombol cancel pada
confirmaton modal,
maka data user tidak diubah.
Post-Condition Data user pada database berhasil diperbarui.
5. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI
Dalam membangun sebuah sistem, diperlukan tahapan perancangan untuk kemudian nantinya diimplementasikan. Perancangan ini dilakukan agar pembangunan sistem tersebut menjadi matang dan mengurangi resiko kesalahan dalam implementasi.
5.1. Perancangan Sequence Diagram
Perancangan ini menggambarkan hubungan-hubungan yang terjadi antara objek-objek di dalam sistem. Gambar berikut menunjukkan sampel dari perancangan ini.
Gambar 3 Sampel Sequence Diagram
5.2. Perancangan Class Diagram
Perancangan class diagram ini akan menggambarkan bagaimana sistem terhubung antar kelas didalam sistem tersebut.. Pada perancangan class diagram ini, disesuaikan dengan konsep kerja react redux yang digunakan sebagai framework dari penelitian ini dengan membagi tiga package utama yaitu component (UI component), actions, dan. Sampel dari perancangan class diagram dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4 Sampel Perancangan Class Diagram
5.3. Perancangan Basis Data
Perancangan ini akan menggambarkan bagaimana data-data yang tersimpan untuk selanjutnya diolah menjadi informasi. Penelitian ini menggunakan firebase sebagai basis data, dimana basis data tersebut memiliki format JSON yang bersifat non-relasional, sehingga digunakan pohon JSON untuk melakukan perancangan. Sampel dari perancangan ini ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 5 Sampel Perancangan Pohon JSON
5.4. Perancangan Algoritme
Pada perancangan ini, akan diuraikan bagaimana sebuah proses dapat diselesaikan dengan beberapa langkah-langkah eksekusi.
Akan diberikan sampel method
openSessionFlight() sebagai contoh dari perancangan algoritme yang ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4 Sampel Perancangan Algoritme
Start
Inisialisasi variabel PlaceId_asal, PlaceId_tujuan, tanggal_berangkat, dan jumlah_traveler
IF tidak terdapat variabel yang kosong
Inisialisasi data dengan tipe data object, dengan isi data:
country: 'ID', currency: 'IDR', locale: 'en-US', originPlace: PlaceId_asal, destinationPlace: PlaceId_tujuan, outboundDate: tanggal_berangkat, adults: jumlah_traveler POST request ke Skyscanner API dengan data yang telah diinisalisasi
Inisialisasi session_key dengan nilai headers dari response POST request
GET request flight data ke Skyscanner API
Return flight data
ELSE
Jalankan tampilan pesan required field
END IF END
5.5. Perancangan Arsitektur Software
Perancangan ini akan menggambarkan bagaimana sistem pada penelitian ini bekerja dari sisi arsitektur perangkat lunaknya yang
dapat ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 6 Perancangan Arsitektur Software
5.6. Perancangan Antarmuka
Perancangan ini akan memberikan gambaran bagaimana tampilan aplikasi harus diimplementasikan. Antarmuka halaman form data perjalanan dinas menjadi sampel pada perancagngan ini yang ditunjukkan pada gambar 7.
Gambar 7 Sampel Perancangan Antarmuka
5.7. Spesifikasi Sistem
Pada bagian ini, akan diberikan penjelasan terkait spesifikasi yang dimiliki oleh perangkat keras dan perangkat lunak dalam melakukan implementasi sistem. Spesifikasi tersebut ditunjukkan pada Tabel 5 sampai dengan Tabel 8.
Tabel 5 Spesifikasi Perangkat Keras Laptop Perangkat
Keras
Spesifikasi
Processor Intel(R) Core(TM) i3-3217U CPU @ 1.80GHz (4 CPUs), ~1.8GHz Memory
(RAM)
6144MB
Grafis Card Intel(R) HD Graphics 4000 System
Model
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
286
Tabel 6 Spesifikasi Perangkat Keras Smartphone Perangkat
Keras
Spesifikasi
Processor Qualcom SDM450 Octa Core Memory (RAM) 6144MB System Model Realme RMX1811
Tabel 7 Spesifikasi Perangkat Lunak Laptop Perangkat
Keras
Spesifikasi
Operation System
Windows 10 Enterprise 64-bit Text Editor Sublime Text Version 3.1.1 Programming
Language
Javascript
DBMS Firebase
Tabel 8 Spesifikasi Perangkat Lunak Smartphone Perangkat Keras Spesifikasi Operation System Android ColorOS 6 Android Version 9 (Android Pie)
5.8. Implementasi Kode Program
Tahapan ini merupakan proses implementasi sistem berdasarkan perancangan komponen dalam bentuk algoritme yang sebelumnya telah dirancang. Implementasi kode program ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9 Kode Program 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
export const orderFetch = ({ kode_kantor }) => { const { currentUser } = firebase.auth(); returnL(dispatch) => { firebase.database().ref(`/orde rs/${kode_kantor}/${currentUser.uid}` ) .on('value', snapshot => { //dispatch({ type: ORDER_FETCH_SUCCESS, payload: snapshot.val() });
if (snapshot.val().length === 0) {
dispatch({
ORDER_FETCH_SUCCESS, payload: 'Riwayat Order Kosong'});
} else { dispatch({ ORDER_FETCH_SUCCESS, payload: snapshot.val() }) } }); }; 29 };
5.9. Implementasi Basis Data
Firebase sebagai DBMS digunakan pada sistem ini, sehingga basis data diimplementasikan kedalam bentuk data JSON yang ditujukkan pada tabel berikut.
Tabel 10 Implementasi Data JSON 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 "approval" : { "pti" : { "inbox" : { "{uid}" : { "date_order" : "", "date_time" : "", "day_order" : "", "kegiatan" : "", "kode_pegawai" : "", "month_order" : "", "no_sprin" : "", "official_booker" : "", "read" : "", "status" : "", "tanggal_order" : "", "time" : "", "year_order" : "" } } } } 5.10. Implementasi Antarmuka
Antarmuka yang telah dirancang kemudian diimplementasikan sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 8 Implementasi Antarmuka
6. PENGUJIAN
Pengujian dilakukan terhadap sistem untuk mengetahui apakah sistem telah berjalan sebagaimana mestinya.
6.1. Pengujian Unit
Unit dari sistem diuji untuk mengetahui apakah unit tersebut telah berjalan sesuai dengan fungsionalitasnya. Berikut merupakan pengujian terhadap fungsi openSessionFlight().
1. Algoritme
Tabel 10 Algoritme Fungsi openSessionFlight()
Start
Inisialisasi variabel PlaceId_asal, PlaceId_tujuan, tanggal_berangkat, dan jumlah_traveler
IF tidak terdapat variabel yang kosong
Inisialisasi data dengan tipe data object, dengan isi data:
country: 'ID', currency: 'IDR', locale: 'en-US', originPlace: PlaceId_asal, destinationPlace: PlaceId_tujuan, outboundDate: tanggal_berangkat, adults: jumlah_traveler POST request ke Skyscanner API dengan data yang telah diinisalisasi
Inisialisasi session_key dengan nilai headers dari response POST request
GET request flight data ke Skyscanner API
Return flight data
ELSE
Jalankan tampilan pesan required field END IF END 2. Flowgraph Gambar 9 Flowgraph 3. Cyclomatic Complexity - V(G) = jumlah region = 2
- V(G) = jumlah edge - jumlah node + 2 = 7 - 7 + 2 = 2
- V(G) = jumlah predicate node = 1 + 1 = 2
4. Jalur Independen
- Jalur 1 : 1-2-3-5-6-7 - Jalur 2: 1-2-3-4-6-7 5. Test Case
Kasus uji yang telah terbentuk diuji dengan menggunakan class driver dengan hasil status valid pada 6 kasus yang berbeda.
6.2. Pengujian Integrasi
Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahwa unit-unit yang telah teruji dapat terintegrasi satu sama lain. Pada penelitian ini, diberikan sampel pengujian antara fungsi OrderFetch() dari kelas OrderActions dan fungsi OrderReducer() dari kelas OrderReducer dengan hasil status valid pada dua kasus uji.
6.3. Pengujian Validasi
Pengujian validasi merupakan tahapan pengujian terhadap daftar kebutuhan yang telah ditetapkan pada tahap perancangan kebutuhan. Pada pengujian ini digunakan metode blackbox untuk semua kondisi yang terjadi pada saat menerima inputan pada semua kebutuhan. Pengujian validasi ini menghasilkan status valid pada 55 kasus uji.
6.4. Pengujian Usability
Pengujian usability menghasilkan rata-rata skor SUS dengan angka 68,75 pada sisi petugas order, rata-rata skor SUS dengan angka 75 pada sisi pejabat approval, dan rata-rata skor SUS dengan angka 75 pada sisi admin. Rata-rata skor tersebut telah mencapai batas acceptance yang dapat diartikan bahwa pengguna telah dapat menerima sistem yang telah dikembangkan.
7. PENUTUP 7.1. Kesimpulan
Penelitian yang telah dilakukan ini menghasilkan beberapa poin-poin kesimpulan berupa:
1. Pada tahap analisis kebutuhan dihasilkan sejumlah 27 kebutuhan fungsional dan 1 kebutuhan non-fungsional yang diperuntukkan untuk 3 jenis aktor.
2. Pada tahap perancangan sistem dilakukan proses pemodelan sequence diagram, pemodelan class diagram, perancangan komponen, perancangan data dan
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
288
perancangan antarmuka. Perancangan tersebut merupakan hasil dari analisis kebutuhan yang akan menjadi acuan dalam melakukan implementasi sistem.
3. Pada tahap implementasi dilakukan penerapan sesuai dengan rancangan yang sudah dilakukan pada tahap sebelumnya. Pada proses ini dilakukan dengan mendefinisikan spesifikasi perangkat keras dan perangkat lunak, implementasi kode program, dan implementasi antarmuka. 4. Pada tahap pengujian unit dilakukan dengan
¬basis path testing menghasilkan hasil 100% valid pada 6 kasus uji. Sedangkan pengujian validasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan black-box testing menghasilkan hasil 100% valid pada 55 kasus uji. Pengujian kebutuhan non-fungsional dilakukan pengujian usability dengan menggunakan kuisioner System Usability Scale (SUS) yang menghasilkan nilai rata-rata skor SUS dengan angka 68,75 pada sisi petugas order, angka 75 pada sisi pejabat approval, dan angka 75 pada sisi admin, dan rata-rata skor SUS tersebut telah mencapai batas acceptance yang dapat diartikan bahwa pengguna telah dapat menerima sistem yang telah dikembangkan.
7.2. Saran
Terdapat beberapa saran yang didapat setelah berbagai tahapan pada penelitian ini dilakukan, diantaranya adalah:
1. Penambah integrasi API untuk semua jenis akomodasi, sehingga penggunaan dalam menentukan rencana penggunaan akomodasi dapat dilakukan pada semua jenis akomodasi, bukan hanya pada maskapai pesawat
2. Peningkatan performa aplikasi, sehingga aplikasi dapat berjalan dengan lebih cepat. 3. Penambahan fungsional seleksi order perjalanan dinas secara otomatis berdasarkan mata anggaran yang tersedia
8. DAFTAR REFERENSI
BPJS Ketenagakerjaan, 2017. BPJS Ketenagakerjaan. [Online] Available at: https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/sej arah.html [Diakses Februari 2019].
Bugl, D., 2017. Learning Redux. Birmingham: Packt.
Cooksey, B., 2014. An Introduction to APIs. California: Zapier.
Eisenman, B., 2016. Learning React Native. Sebastopol: O'Reilly Media, Inc.
Lim & Seung-Ho, 2015. Experimental Comparison of Hybrid and Native Applications for Mobile Systems. International Journal of Multimedia and Ubiquitous Engineering, 10(3), pp. 1-12. Pressman, S. R., 2001. Software Engineering: A
Practitioner's Approach. 5th penyunt. New York: McGraw Hill.
Rachmawati, S., Retnasari, T. & S., 2018. Optimalisasi Sistem Informasi Perjalanan Dinas Dalam Meningkatkan Efisiensi Biaya Perusahaan. Jurnal Teknologi dan Ilmu Komputer Prima, 1(2).
Safi'i, I., Sudarmaningtyas, P. & Rahmawati, E., 2016. Sistem Informasi Perjalanan Dinas Pada PT Perkebunan Nusantara XII (Persero) Surabaya. Jurnal Sistem Informasi Kaputama, 5(9).
Sekarningtyas, R., 2018. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Pengelolaan Perjalalan Dinas (Studi Kasus: Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Sidoarjo). Jurnal Teknologi Informasi. Sukamto, R. A. & Shalahuddin, M., 2018.
Rekayasa Perangkat Lunak. 3rd penyunt. Bandung: Informatika.
Vavru, J. & Ujbanyai, M., 2014. Android Programming: Complete application programming guide. Prague: Grada Publishing.