• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrol Sosial Masyarakat Terhadap Seks Bebas Sebagai Gaya Hidup Remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kontrol Sosial Masyarakat Terhadap Seks Bebas Sebagai Gaya Hidup Remaja"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fenomena kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di

berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus globalisasi dan teknologi yang semakin

berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya hidup

modernisasi, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai

media, di sisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai

lapisan masyarakat.

Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan

jumlah remaja di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah penduduk, jadi sekitar 1,2

juta jiwa. Hal ini tentunya dapat menjadi asset bangsa jika remaja dapat

menunjukkan potensi diri yang positif namun sebaliknya akan menjadi petaka jika

remaja tersebut menunjukkan perilaku yang negatif bahkan sampai terlibat dalam

kenakalan remaja.

Kondisi remaja di Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut

bedasarkan (SDKI 2007):

1. Pernikahan usia remaja

2. Sex pra nikah dan Kehamilan tidak dinginkan

(2)

4. MMR 343/100.000 (17.000/th, 1417/bln, 47/hr perempuan meninggal)

karena komplikasi kehamilan dan persalinan

5. HIV/AIDS: 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi, 70% remaja

6. Miras dan Narkoba.

Adapun Hasil Penelitian BNN bekerja sama dengan UI menunjukkan :

1. Jumlah penyalahguna narkoba sebesar 1,5% dari populasi atau 3,2 juta

orang, terdiri dari 69% kelompok teratur pakai dan 31% kelompok

pecandu dengan proporsi laki-laki sebesar 79%, perempuan 21%.

2. Kelompok teratur pakai terdiri dari penyalahguna ganja 71%, shabu 50%,

ekstasi 42% dan obat penenang 22%.

3. Kelompok pecandu terdiri dari penyalahguna ganja 75%, heroin / putaw

62%, shabu 57%, ekstasi 34% dan obat penenang 25%.

4. Penyalahguna Narkoba Dengan Suntikan (IDU) sebesar 56% (572.000

orang) dengan kisaran 515.000 sampai 630.000 orang.

5. Beban ekonomi terbesar adalah untuk pembelian / konsumsi narkoba yaitu

sebesar Rp. 11,3 triliun.

6. Angka kematian (Mortality) pecandu 15.00 orang meninggal dalam 1

tahun.

Dalam pembahasan yang dilakukan Jumiatun menemukan fakta bahwa

ternyata dari 327 responden yang pernah melakukan hubungan seks pranikah

3,1% lebih beresiko mengalami KTD (kehamilan tidak diinginkan). Dalam

(3)

namun komunikasi yang baik juga harus dibangun. Ada 72,2% orang tua yang

kurang terbuka jika berbicara tentang seks dan reproduksi, sedangkan yang

kurang mengkomunikasikan tentang kesehatan reproduksi ada sekitar 70,9%, dan

ada 63,6% orang tua yang tidak pernah mendiskusikan program televisi yang di

tonton oleh remaja. Sedangkan dari intensitas komunikasi yang dilakukan orang

tua dan remaja, ada 85% orang tua memberi tahukan kepada remaja hal-hal apa

yang tidak boleh dilakukan, 79,5% orang tua memberitahukan batasan antara

lawan jenis, namun ada 62,7% orang tua kurang berperan dalm penyelesaian

masalah yang dihadapi oleh remaja. Kurangnya informasi yang didapat remaja

dari orang tua menjadikan remaja cenderung mencari jawaban dari media yang

ada. 71,6% remaja memilih media cetak majalah sebagai sumber informasi,

68,8% memilih koran, dan 50,5% memilih tabloid (Jumiatun, 2012).

Aspek perkembangan yang menonjol pada usia ini adalah adanya

perubahan bentuk tubuh, meningkatnya tuntutan dan harapan sosial, tuntutan

kemandirian dari orang tua, meningkatnya kebutuhan akan berhubungan dengan

kelompok sebaya, mampu bersikap sesuai dengan norma sekitar, kompeten secara

intelektual, mengembangkan tanggung jawab pribadi dan sosial, sertabelajar

mengambil sebuah keputusan. Hubungan sosial yang dikembangkan pada masa

remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus

dengan lawan jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus pada tindakan

penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga

(4)

norma yang ada. Jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik

nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.Melihat banyaknya kasus-kasus

yang muncul berkaitan dengan perilaku remaja, misalnya kasus narkoba,

mabuk-mabukan, perjudian, tawuran, hamil pranikah, aborsi, maupun pembuangan

anak hasil hubungan gelap yang dilakukan remaja, menandakan bahwa telah terjadi

penyimpangan perilaku seksual dan pola pergaulan pada sebagian remaja di

Indonesia. Hal ini merupakan salah satu bentuk gaya hidup yang dijalani dan menjadi

pilihan bagi sebagian remaja.

Bersamaan dengan ini kita juga melihat pertumbuhan kuantitatif tempat-

tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan yang semakin berkembang.

Fenomena tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi

budaya dan pola hidup kaum remaja sekarang. Seperti yang telah diketahui,

remaja merupakan sasaran potensial bagi para produsen dalam memasarkan

produknya. Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan uang hanya

untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman,

pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan

perwujudan dari naluri mempertahankan diri, karena setiap orang ingin dianggap

eksis dalam lingkungan pergaulannya.

Gaya hidup dapat diidentikkan dengan suatu ekspresi dan simbol untuk

menampakkan identitas diri atau identitas kelompok. Gaya hidup dipengaruhi oleh

(5)

identitas diri melalui ekspresi tertentu yang mencerminkan perasaan.Gaya hidup

saat ini telah menghilangkan batas-batas budaya lokal, daerah, maupun nasional

karena arus gelombang gaya hidup global dengan mudahnya berpindah-pindah

tempat melalui perantara media massa. Gaya hidup yang berkembang lebih

beragam, tidak hanya dimiliki oleh suatu masyarakat saja. Hal tersebut karena

gaya hidup dapat ditularkan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalui

media komunikasi (Rasyid, 2005 dalam Sudarwati & Hastuti, 2007).

Pergeseran yang paling menonjol dari gaya hidup yang melanda kalangan

remaja Indonesia ialah gaya hidup mereka yang secara umum cenderung

dipengaruhi oleh budaya Barat. Pengaruh tersebut dapat terlihat dari cara

berpakaian serba minim yang dianggap sebagai trend berpakaian modern;

penggunaan berbagai aksesorisbuatan luar negeri yang branded seperti tas,

pakaian, make up, parfum, dan sepatu; kegemaran terhadap musik dan film yang

berasal dari Barat, serta mulai diterapkannya nilai-nilai pergaulan ala Barat dalam

keseharian. Perubahan gaya hidup yang mempengaruhi kalangan remaja terjadi

melalui media, dimana sekarang remaja dapat mengetahui semua yang terjadi di

bagian dunia lain dengan mudah. Dengan cara mengakses informasi dari media

televisi, internet, maupun majalah, mereka menyaksikan gaya hidup yang

dipertontonkan oleh kalangan selebriti atau idola-idola remaja masa kini yang

kerap kali menjadi simbolidentitas atau identifikasi jati diri remaja masa kini.

Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia di mana ia tengah mencari

(6)

terikut dan terimbas hal-hal yang tengah terjadi di sekitarnya, sehingga turut

membentuk sikap dan pribadi mereka.

Perubahan gaya hidup pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila

melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin

diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan

itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu

menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut gaya hidup. (Sudarwati

& Hastuti, 2007)

Masalah seksual mungkin sama panjangnya dengan perjalanan hidup

manusia, karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini.

Meskipun demikian masalah seksual seakan-akan tidak pernah habis dan tuntas

dibahas orang dari masa ke masa. Seiring dengan kemajuan teknologi dan

perubahan zaman yang semakin cepat, kini siapapun termasuk para remaja

tersebut bisa dengan mudah memperoleh tontonan seksual yang selama ini dilarang

atau ditabukan untuk dibahas secara transparan, dan yang tadinya hanya dijelaskan dari

mulut ke mulut secara bisik-bisik.

Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar

antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak

menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara

fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi

tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan

(7)

menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993).

Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif

dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai

penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar

aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan

kenakalan remaja.

Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan

kedalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang

masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai

aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.

Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat

membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku

menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang

harus ditempuh.

Perkembangan kepribadian identitas diri seseorang remaja merupakan

hasil hubungan dan pengaruh timbal balik secara terus menerus antara pribadi

dengan lingkungannya, lingkungan sosial bagi kelompok remaja merupakan

sumber inspirasi yang dapat memberikan kekuatan dan kekuatan fisik maupun

kesehatan mental yang dapat merupakan upaya mencegah timbulnya gangguan

perkembangan kepribadian. Sebaliknya lingkungan sosial yang tidak sehat, dapat

(8)

diharapkan dapat mengatasi berbagai kesulitan remaja sehingga perkembangan

kepribadiannya dapat berlangsung dengan baik.

Kegagalan remaja dalam melakukan tugas perkembangannya termasuk

dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya sering menimbulkan

konflik-konflik internal maupun konflik yang terjadi antar individu dan kelompok

yang mengarah pada munculnya perilaku menyimpang atau kenakalan remaja.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pada dasarnya perilaku menyimpang atau

kenakalan yang sering muncul pada kelompok remaja sebenarnya merupakan

kompensasi dari segala kekurangan dan kegagalan yang dialaminya.

Faktor-faktor negatif seperti merebaknya informasi bertema pornografi di media

masa, kurangnya penanaman moral agama dan adanya pengaruh pergaulan bebas,

masuknya film dan VCD biru dari luar negeri ataupun dalam negeri yang bisa dengan

mudah diperoleh dimana-mana. Bagi remaja yang selama ini terkungkung

pengetahuannya, dan yang pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual

secara lengkap dari orang tuanya, ini adalah saat yang tepat untuk memuaskan rasa ingin

tahu remaja tersebut dan beberapa penyebab remaja melakukan hubungan seks

(Pangkahila, 2000).

Pada sisi lain para remaja tidak menerima pendidikan seks yang benar dan

bertanggung jawab. Bahkan informasi ilmiah tentang sekspun seolah-olah tertutup

untuk remaja dengan berbagai alasan yang tidak benar. Oleh karena itu, tidak

mengherankan bila pornografi diterima begitu saja oleh remaja sebagai pengganti

(9)

makin banyaknya kasus-kasus hubungan seks bebas di masyarakat. Seks bebas (free

sex) sendiri merupakan perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, dimana kebebasan

tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan sistem regulasi tradisional dan

bertentangan dengan sistem norma yang berlaku dalam masyarakat. Banyaknya

remaja yang melakukan seks bebas terlihat dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari

khususnya di kota-kota besar.

Kota Binjai merupakan kota kecil yang hanya berjarak 45 menit dari pusat

kota Medan, sehingga banyak informasi yang datang dengan cepat menuju kota

binjai dan juga mempengaruhi aspek kehidupan yang ada dikota binjai.

Khususnya kehidupan para remaja yang ada di kota Binjai.Dengan banyaknya

informasi yang mempengaruhi kehidupan para remaja ini mulai terjadi perubahan

dengan cara mereka berinteraksi dengan remaja lainnya, seperti remaja sekarang

lebih mudah menemukan teman yang baru dengan menggunakan media sosial

yang sebenarnya belum tentu teman yang baru tersebut baik untuk mereka

sehingga dari teman yang baru ini dapat memberikan contoh yang tidak baik

untuk kehidupan mereka. Kemudian ketika beberapa remaja ini tidak mampu

menyaring informasi yang baik untuk mereka maka mereka akan terbawa pada

perilaku menyimpang yang dibawa oleh teman-teman yang baru mereka kenal

tersebut. Lalu beberapa remaja di kota binjai lebih cenderung memaksakan untuk

berpenampilan seperti anak orang dari kalangan atas agar mereka lebih mudah

(10)

Kehidupan remaja dikota Binjai pada saat sekarang ini cenderung hampir

kearah barat-baratan dan selalu ingin mengikuti perkembangan zaman dalam

segala aspek kehidupan remaja yang saya temui dikota Binjai istilahnya “anak

zaman”, seperti dalam pergaulan mereka yang lebih senang dibebaskan dalam

pengendalian dari orang tua setelah mereka berusia diatas 16 tahun sehingga

setiap perilaku yang menurut mereka hal tersebut itu menyenangkan tetapi

memiliki dampak yang negative akan mereka lakukan dan kemudian dalam

pergaulan mereka yang lebih senang dengan trend style yang update juga

mempengaruhi kehidupan remaja khususnya yang berada dikota Binjai dan

cenderung memaksakan keadaan dalam kehidupannya tidak mengingat apabila

status mereka adalah seorang pelajar yang tugasnya untuk belajar, belum bekerja

dan hanya mengandalkan uang dari orang tuanya tetapi hal itu masih mungkin

bias diikuti oleh kalangan remaja yang memiliki kedua orang tua dengan

perekonomian yang lumayan tapi apabila untuk beberapa kalangan yang ingin

dengan trend style yang update maka mereka akan berusaha untuk memnuhi

keinginannya dengan jalan apapun teta[pi sesuai dengan kemampuan untuk

bekerja yang sangat terbatas atau pun bahkan tidak memiliki kemampuan bekerja

sama sekali.

Untuk remaja dengan kemampuan terbatas tetapi ingin mengikuti zaman

biasa melakukan penipuan terhadap orang tua dengan alasan hal pembiayaan

dalam pendidikan,mencuri,menipu kepada sesame teman bergaul ataupun mereka

(11)

menghasilkan uang dengan proses mudah tetapi tidak menyita waktu belajar

sehingga orang tua tidak curiga. Khususnya bagi remaja putri yang melacurkan

diri kehidupannya sudah sangat trend dikalangan remaja putri di Ksota Binjai atau

istilahnya untuk “Betubang atau Betemong” yang artinya menjual diri(melacurkan

diri) kepada om-om atau pria hidung belang untuk menghasilkan uang.

Nongkrong di tempat-tempat karaokean,ktv,diskotik dan di salon kecantikan biasa

mereka lakukan untuk menjajakan dirinya kepada pria hidung belang, karena

hampir remaja yang “melacur” tidak ingin terlalu mencolok jika ingin bergaul

ditempat-tempat yang hampir semua kalangan bias masuk untuk bergaul sehingga

mereka memilih tempat-tempat seperti itu.

Dari hasil observasi awal yang saya lakukan untuk beberapa sekolah

negeri dan swasta menemukan 8-12 remaja yang melacur, bahkan remaja yang

melacur paling banyak ditemukan untuk sekolah negeri. Hal ini mempengaruhi

bagaimana beberapa remaja ini berprilaku seperti memaksakan keuangan keluarga

untuk menunjang pergaulannya dan ketika keuangan yang terbatas tidak dapat

memenuhi pergaulannya maka beberapa remaja khususnya remaja wanita

melakukan penyimpangan sosial seperti “melacurkan diri” untuk memenuhibiaya

remaja tersebut dalam bergaul. Karena beberapa remaja ini hidup dikalangan

menengah dan proteksi yang dilakukan orang tua pada keuangan anak juga sangat

(12)

1.2. Per umusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks bebas sebagai gaya

hidup remaja?

2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan remaja melakukan seks bebas?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana kontrol sosial masyarakat terhadap seks

bebas sebagai gaya hidup remaja?

2. Untuk menganalisis faktor-faktor apa yang menyebabkan remaja

melakukan seks bebas?

1.4. Manfaat Penelitian

Setiap penelitian diharapkan mampu memberikan manfaat baik untuk diri sendiri

ataupun orang lain, terlebih lagi untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun

manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Manfaat teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan

konstribusi baik secara langsung ataupun tidak langsung bagi

(13)

tentang Pengembangan Masyarakat, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi

Keluarga serta kajian Norma dan Nilai Sosial.

2. Manfaat praktis, diharapkan penelitian ini dapat

meningkatkankemampuan penulis dalam membuat suatu karya ilmiah dan

dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya, serta

diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada pemerintah untuk

mengatasi masalah seks bebas dikalangan remaja.

1.5. Definisi Konsep

Dalam penelitian ilmiah, disamping berfungsi untuk memfokuskan dan

mempermudah suatau penelitian, konsep juga berfungsi sebagai panduan yang

nantinya digunakan peneliti untuk menindak lanjuti sebuah kasus yang di teliti

dan menghindari terjadinya kekacauan akibat kesalahan penafsiran dalam sebuah

penelitian. Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian ini,

antara lain adalah :

1. Tr end

Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang

saat ini dan kejadiannya berdasarkan fakta. Istilah “trend” dalam

kehidupan sehari-sehari sering digunakan untuk mengungkapkan

keadaan dimana suatu hal sedang digemari atau sedang menjadi

(14)

2. Melacur atau Pelacur an

Pelacuran atau melacur adalah penjualan jasa seksual, seperti seks

oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa

seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja

seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang

yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga

disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang

bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil.

Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut

sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku

perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh

masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak

ketertiban. Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak

berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan seputar mereka

dari masa kemasa.

3. Penyimpangan

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama

penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-

nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang

(15)

bagian daripada makhluk sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku,

perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang

bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam

masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakanmanusia dibatasi

oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan

sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di

tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai

tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang

berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat

ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.

Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat

disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang

melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari

perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang

sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk

interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan

(16)

4. Gaya Hidup

Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan

oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang

mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang

mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya

(pendapat) .

Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen

secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana

seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang

mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang

menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja,

melakukan kativitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan

waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Gaya

hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya

menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang .

5. Seks Bebas

Seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan

pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.

Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang

telah berumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang

(17)

seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan. Seks bebas

sangat tidak layak dilakukan mengingat resiko yang sangat besar. Pada

remaja biasanya akan mengalami kehamilan diluar nikah yang memicu

terjadinya aborsi. Ingat aborsi itu sangatlah berbahaya dan beresiko

kemandulan bahkan kematian. Selain itu tentu saja para pelaku seks bebas

sangat beresiko terinfeksi virus HIV yang menyebabkan AIDS, ataupun

penyakit menular seksual lainnya.

Pada orang yang telah menikah, seks bebas dilakukan karena

mereka mungkin hanya sekedar having fun. Biasanya mereka

melakukan perselingkuhan denga orang lain yang bukan pasangan

resminya, bahkan ada juga pasangan suami istri yang mencari orang ketiga

sebagai variasi seks mereka. Ada juga yang bertukar pasangan. Semua

kelakuan diatas dapat dikategorikan seks bebas dan para pelakunya

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang. Pembagian Urusan Pemerintahan antara

a) The goal of house construction systems is to complete the conical roof. b) The radius rafter is supported at numerous points on conical top, the peripheral beams

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XL-5/W7, 2015 25th International CIPA Symposium 2015, 31 August – 04

tahun ajaran baru, maka perlu memberikan tambahan penghasilan untuk tahun ajaran baru kepada Pegawai Negeri Sipil/Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan

Transistor PMOS terbuat dari substrat dasar tipe-n dengan daerah source dan drain didifusikan tipe p + dan deerah kanal terbentuk pada permukaan tipe p. Positif MOS

1) Menetapkan materi layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan atau permasalahan siswa yang akan dikenai layanan. 2) Menetapkan tujuan atau hasil yang ingin dicapai. 3)

Untuk menggambarkan hal ini dengan tangan kanan Fleming aturan, ibu jari dan dua jari pertama dari tangan kanan diperluas pada sudut yang tepat untuk satu sama lain, ibu jari

Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotifasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik