• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pemberdayaan Masyarakat Alam Pembangunan Desa Tlogoweru D 902007005 BAB V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pemberdayaan Masyarakat Alam Pembangunan Desa Tlogoweru D 902007005 BAB V"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Bab V

Pilar Pendukung Pemberdayaan Masyarakat

Desa Tlogoweru

(2)

Program Pelatihan Ketrampilan di Lembaga Pelatihan Kerja

Swasta

(LPKS)

Sebagai

Jawaban

Atas

Kebutuhan

Pengembangan SDM di Desa Tlogoweru

Sebagaimana diuraikan dalam Bab Pendahuluan, bahwa pemberdayaan masyarakat yang efektif merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan masyarakat, sebagaimana telah diungkapkan Ife dan Tesoriero (2008) bahwa suatu pembangunan masyarakat (Community Development) dapat disebut berhasil dengan efektif apabila masyarakat dimana pembangunan tersebut berlangsung telah dilengkapi pula dengan pendidikan atau pembelajaran berupa ketrampilan-ketrampilan yang akan melengkapi dan memampukan masyarakat setempat untuk berpartisipasi aktif dalam menjalankan pembangunan masyarakat tersebut. Gouzali (2000:596) lebih lanjut menegaskan bahwa:

“Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) merupakan

bagian yang harus dilaksanakan organisasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), dan ketrampilan (skill) mereka sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan. Dengan kegiatan pengembangan ini, maka diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang digunakan

oleh organisasi.”

(3)
(4)

terhadap stress; pelatihan lainnya adalah pembinaan kepribadian, seperti memahami pola dari keseluruhan kemampuan, perbuatan dan kebiasaan serta pengenalan pada temperamen dan karakter pribadi.

Dalam kasus pemberdayaan masyarakat di desa Tlogoweru, kepentingan adanya pengembangan SDM menjadi isu yang serius dalam proses pembangunan masyarakatnya. Hal ini terlihat dari

keberadaan gedung “Santosa” yang diresmikan oleh Bupati Demak, H. Tafna Zani, pada 19 Juni 2010, sebagai tempat dimana LPKS “Sejahtera Bersama” beroperasi.

Pembangunan gedung “Sentosa” sebenarnya merupakan sebagai pemenuhan kebutuhan akan sebuah tempat pelatihan bagi program pemberdayaan bagi para ibu-ibu desa Tlogoweru yang telah diadakan pada pertengahan tahun 2009 yang disponsori oleh ibu Elisabeth dengan mendatangkan seorang dua orang guru menjahit dari Semarang. Tujuan dari pelatihan tersebut adalah memberi ketrampilan bagi ibu-ibu agar dapat membuat pakaian bagi anak-anak mereka sehingga bisa menghemat pengeluaran biaya keluarga. Pelatihan ini pada awalnya diikuti oleh empat orang ibu kemudian setelah berjalan sekitar tiga bulan mulai menarik minat dan diikuti oleh dua belas peserta yang meliputi para ibu dan wanita muda, kemudian pelatihan ditambah dengan pelatihan membaca menulis bagi anak-anak pra SD, kemudian pelatihan komputer sebagai respon atas kebutuhan pengembangan perkantoran desa. Dan oleh karena semakin banyaknya peminat dalam pelatihan-pelatihan sebagai upaya pengembangan SDM bagi pembangunan masyarakat desa Tlogoweru, maka pada akhir tahun 2009 dimulailah program pembelian lahan dan pembangunan gedung

“Santosa.” Dan proyek pembangunan tersebut dipercayakan kepada Pak Hizkia Totok dibantu oleh pak Philip (alm), suami ibu Elisabeth dan didukung oleh pak Soetedjo selaku kepada desa sebagai pelaksana pembangunan hingga selesai dengan dana 120 juta rupiah yang didapat dari donatur melalui tim Putri Sion Semarang.

(5)

Komputer, 3) Pelatihan Ketrampilan Pertanian, 4) Pelatihan Ketrampilan Peternakan, 5) Pelatihan Ketrampilan Pembudidayaan burung Tyto Alba (Burung Hantu Jawa Serak), dan 6) Pelatihan Ketrampilan Penyablonan.

Sumber: brosur LPKS

Gambar 5.1 Logo LPKS Desa Tlogoweru

Pelatihan Ketrampilan Menjahit

Pelatihan ketrampilan jahit-menjahit pada mulanya harus dilaksanakan setiap hari Senin dan Rabu mulai dari pukul 9 pagi hingga jam 2 siang bahkan seringkali hingga menjelang sore hari. Hal ini disebabkan karena antusiasme warga masyarakat, khususnya remaja putri dan ibu-ibu yang amat berhasrat untuk mampu terampil dalam membuat baju-baju mencapai jumlah peserta sebanyak 97 orang. Semua bahan dan peralatan jahit telah disediakan oleh ibu Elisabeth dan timnya, sedangkan ibu Sri Suwarti memegang peranan sebagai koordinator lapangannya.

(6)

peserta telah mampu membuat baju tidur, celana pendek, seragam sekolah, seragam dinas, dan ketrampilan pengoperasian mesin obras.

Para pengajar atau tutor pelatihan jahit ini adalah para sukarelawan dari anggota jemaat gereja-gereja di Semarang yang berkompetensi dalam bidang ketrampilan jahit-menjahit, bahkan ada dari antara pengajar adalah merupakan staff ahli utusan dari kalangan pengusaha garmen untuk memberi pelatihan secara intensif. Adapun materi pelatihan menjahit meliputi pengetahuan dasar menjahit: Pola dasar wanita, Pembuatan busana wanita, seperti daster, blus, rok, kulot, busana kerja wanita, baby dol.

Kemudian ketrampilan dasar menjahit, meliputi menjahit: busana anak wanita, busana anak pria, pantalon, kemeja pria, busana wanita, piyama. Pada pelatihan tingkat mahir, meliputi ketrampilan menjahit: busana pesta wanita, pembuatan jas sederhana pria, pembuatan busana kerja wanita sistem tailoring, dan pembuatan busana daerah.

Sumber: Yusuf

Gambar 5.2 Suasana salah satu sudut pelatihan menjahit

(7)

Pelatihan Ketrampilan Komputer

Program kurikulum awal yang diterapkan di LPKS adalah pelatihan dasar menjahit dan komputer. Namun pelatihan komputer menyedot perhatian masyarakat secara spektakuler, yakni ada 143 warga yang mendaftarkan diri sebagai peserta didik untuk program pendidikan kommputer yang terdiri dari pak kades Soetedjo pribadi bersama hampir seluruh aparat anggota perangkat desa mulai dari camat, kodim, danrem, segenap staff kantor kepala desa dan puluhan kaum pemuda-pemudi. Sdr. Erik dipercaya sebagai koordinator bidang pelatihan komputer sempat kewalahan berpontang-panting mengatur jalannya pelatihan komputer, ungkapnya:

“saya sampai bingung bagaimana cara mengaturnya … ya

jalan apa adanya, karena komputer ketika itu masih cuman 6

biji”.

Para pengajar atau tutor adalah sukarelawan dari anggota jemaat beberapa gereja di Semarang yang memang mumpuni tentang masalah perkomputeran. Sarana fisik berupa hardware komputer meja semuanya disediakan dan didanai oleh ibu Elisabeth dan tim pelayanannya. Adapun kurikulum dasar yang diterapkan adalah: Modul 1: Pengenalan Komputer, meliputi; mengenal dasar-dasar perangkat komputer, apa itu Sistem Operasi? (Windows), apa itu File, Folder dan Directories, mengenal Port-port pada komputer.

Modul 2: pengenalan tentang Network dan Akses Internet, memahami mesin pencari situs atau Website (misalnya: Google), bagaiman men-Download dan meng-Instal Program, belajar Picture Editor (2 sesi).

Modul 3: pengenalan tentang apa dan teknik-teknik Email, membuat pesan baru pada Email.

(8)

Pelatihan komputer merupakan pelatihan yang transformatif, karena dari hasil pelatihan inilah terlahirkanlah momentum baru bagi pembangunan masyarakat desa Tlogoweru, karena dari pelatihan pengetahuan dan aplikasi komputer tentang apa dan bagaimana menjelajah dunia internet, pak kades Soetedjo berhasil menemukan suatu terobosan dalam pemecahan masalah laten wabah hama tikus yang sudah puluhan tahun menghantui masyarakat pertanian desa Tlogoweru, yakni dengan ditemukannya situs tentang burung Tyto Alba sebagai predator hama tikus.

Dari hasil pelatihan komputer ini pula, sistim kerja kantor kepala desa mengalami pembenahan cara kerja administrasi ke arah yang lebih efisien, karena semua data, pembuatan surat dan dokumen dikerjakan dengan komputer. Dan oleh karena memiliki kemampuan membuat presentasi dengan power point, maka pak Sumanto, selaku sekretaris desa sering diundang untuk membawakan presentasi laporan pembangunan di dusun-dusun sekitar. Pak Sumanto juga mulai mahir dalam pembuatan desain situs blogspot Desa Tlogoweru (lihat: tlogoweru.blogspot.com) sehingga mempermudah sosialisasi dan publikasi berkenaan dengan program-program pembangunan desa Tlogoweru.

Sumber: Yusuf

(9)

Pelatihan Ketrampilan Pertanian

Masyarakat pertanian terutama anggota tani dari kelompok-kelompok tani menerima pelatihan dan pendidikan intensif tentang metode pertanian yang terbaru agar bisa mengolah tanah pertanian dengan lebih benar dan lebih berproduktif secara maksimal. Pelatihan-pelatihan yang diprogramkan berupa pendidikan intensif pengetahuan dasar pertanian dari para pakar pertanian dari beberapa universitas di Indonesia, termasuk salah satunya adalah dari UKSW Salatiga.

Pelatihan juga dijalankan melalui studi banding, program lainnya adalah mendatangkan prakstisi pertanian dari lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan pertanian baik dari instansi pemerintah maupun swasta yang berkompeten di bidang pertanian, salah satunya adalah dari PT Sido Muncul.

Tujuan pelatihan, antara lain:

1) Menyediakan acuan pelaksanaan penanaman padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi panen padi dan jagung di desa Tlogoweru;

2) Meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan penanaman padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas, antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota;

3) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap petani guna mempercepat penerapan komponen teknologi tanaman padi dan jagung dalam usaha taninya agar replikasi/penyebarluasan teknologi ke petani sekitarnya berjalan lebih cepat;

(10)

Adapun sasaran pelatihan adalah:

1) Tersedianya acuan pelaksanaan tanaman padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas untuk mendukung kegiatan peningkatan produksi panen padi dan jagung di desa Tlogoweru;

2) Terkoordinasinya dan terpadunya pelaksanaan penanaman padi dan jagung melalui pola pertumbuhan, pengembangan dan pemantapan dengan pendekatan kawasan skala luas antara pusat, provinsi dan kabupaten / kota;

3) Meningkatnya pengetahuan, keterampilan dan sikap petani sehingga penerapan adopsi teknologi tanaman padi dan jagung berjalan lebih cepat, dan keberlanjutan serta replikasi ke areal yang lebih luas dapat terwujud.

Sumber: Sumanto

Gambar 5.4 Studi banding ke perkebunan Sido Muncul

Pelatihan Ketrampilan Peternakan

(11)

peternakan. Untuk memberi solusi permasalahan sosial inilah, maka salah satu program LPKS adalah mengusahakan pelatihan peternakan, yaitu dengan memberi sarana kepada para petani yang berkeinginan untuk mengembangkan bidang peternakan, khususnya untuk memelihara dan mengembangkan hewan ternak sapi.

Pak Kades Soetedjo dengan susah payah melakukan sosialisasi tentang program LPKS yang memiliki program kerjasama memelihara sapi milik LPKS dengan masyarakat, dimana nantinya dari hasil penjualan sapi hasil peternakan bisa untuk membantu kesejahteraan masyarakat.

Tujuan utama pelatihan peternakan LPKS adalah:

1) Meningkatkan penerapan teknologi tepat guna dalam usaha budidaya ternak sapi potong;

2) Memotovasi tampilnya jiwa kewirausahaan kelompok tani dalam pengembangan usaha ekonomi produktif yang berbasis sapi potong (agribisnis);

3) Meningkatkan kemampuan kelembagaan peternak dalam mengakses berbagai potensi sumber daya peternakan, sumber permodalan dan peluang usaha;

4) Meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha budidaya ternak sapi potong;

5) Meningkatkan kemampuan kelompok-kelompok tani dalam memfasilitasi kebutuhan modal usaha (modal keuangan) bagi para anggota kelompok-kelompok tani yang ada;

6) Meningkatkan produksi ternak sapi untuk memenuhi permintaan kebutuhan konsumsi daging lokal maupun daerah sekitar kabupaten;

(12)

8) Meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok dan masyarakat pada umumnya di wilayah desa Tlogoweru melalui penggemukan hewan ternak sapi;

9) Memberikan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha terhadap peternak dan masyarakat petani pada umumnya. Dari program pelatihan ini, LPKS memiliki sasaran yang hendak dapat dicapai dari pengembangan peternakan dan penggemukan ternak sapi potong melalui pola pemberdayaan kelompok masyarakat ini, antara lain:

1) Meningkatkan produksi dan produktifitas sapi potong;

2) Berkembangnya usaha kelompok-kelompok tani yang akan meningkatkan pendapatan dan tercapainya kesejahteraan kelompok-kelompok tani dan masyarakat pada umumnya; 3) Meningkatnya kemandirian kelompok-kelompok tani dan

masyarakat umum yang terlibat dalam pendidikan dan pelatihan ketrampilan;

4) Terciptanya peluang usaha dan peningkatan ekonomi perdesaan;

5) Terbangunnya lapangan kerja dan mengurangi angka pekerja angkatan muda yang keluar desa ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan.

Itulah sebabnya, LPKS berupaya dengan sekuat tenaga agar: 1) Peternak binaan LPKS akan lebih terampil dan profesional

dalam melakukan usaha budidaya hewan ternak sapi melalui penerapan program tepat guna;

2) Peternak akan lebih memiliki kiat-kiat praktis untuk meningkatkan populasi ternak sapi di wilayah pilot program dari populasi sebelumnya; dan

(13)

yang mandiri dan fungsional dalam konteks perdesaan yang berbasis sumber daya lokal.

Kurikurulun pelatihan peternakan antara lain; para peternak dibekali dengan ilmu pengetahuan dasar tentang susunan dan profil biologis sapi dan kemudian pelatihan motivasi diri dan pengenalan sistem peternakan yang lebih baru melalui pelatihan studi banding ke beberapa peternakan yang telah sukses dalam mengimplementasikan metode yang telah diajarkan. Di tempat studi banding ini, para peternak mendapat penyuluhan intensif, setelah pulang dari pelatihan studi banding, para peternak juga mendapat pelatihan tentang bagaimana peningkatan kualitas dan kuantitas daging sapi.

Sumber: Sumanto

Gambar 5.5 Pak Kades Soetedjo turun tangan sendiri memberi makan ternak sapi

Pelatihan Ketrampilan Penangkaran dan Pembudidayaan Burung Tyto Alba

(14)

Kurikulum pelatihan antara lain; pengenalan fisik biologis, habitat, dan kemampuan unik dari butung Tytto Alba. Kemudian tentang bagaimana mendeteksi, mencari, menangkap, memelihara, mengawinkan, membuat habitat sehingga bisa bertelor, merawat anakan, hingga di tempatkan di rubuha-rubuha yang dipancang di area persawahan agar bisa bisa berperan sebagai predator hama tikus.

Keberhasilan pelatihan pemberdayaan burung Tyto Alba di LPKS tidak lepas dari peran Pak Pujo Arto selaku ketua tim Tyto Alba sekaligus sebagai tutor dalam pelatihan di LPKS ini. Pak Pujo seorang yang autodidak dalam mengembangkan pengetahuan tentang penangkaran dan pembudidayaan burung Tyto Alba, berbekal dari pengetahuan dasar pelatihan di Ngrambe dan melalui pengunduhan pengetahuan pada situs-situs internet, ditambah dengan dedikasi total pribadi atas waktu dan tenaganya, pak Pujo hari ini diakui memiliki pengetahuan bukan hanya secara akademis namun terlebih lagi pengetahuan pratika tentang segala hal berkenaan dengan burung Tyto Alba.

“Saya pernah berdebat dengan seorang profesor biologi dari

universitas ……. di Bandung yang sudah menulis tentang burung Tyto Alba, bukunya ada dijual di toko buku Gramedia. Saya buktikan bahwa teorinya salah tentang

bagaimana mengenali jenis kelamin burung Tyto Alba …”1

Program pelatihan ini bukan saja bagi masyarakat setempat, namun juga telah diminati dan dijalankan untuk beberapa tim instasi baik dari swasta maupun pemerintahan daerah. Penulis pernah mendapati dari daftar tamu yang disediakan di meja teras kantor kepala desa, tercatat rombongan dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta, sudah

13 kali belajar di LPKS. “Ada juga dari Surabaya, Jakarta, Medan, dan paling jauh dari Kalimantan,” dijelaskan oleh pak Pujo ketika menyebutkan beberapa nama daerah mana saja yang telah berkunjung

1 Karena alasan privasi terhadap buku tersebut yang ternyata salah, penulis tidak

(15)

untuk menimba ilmu praktika tentang metode pembasmian hama tikus dengan predatornya adalah burung Tyto Alba.

Sumber: Soetedjo

Gambar 5.6 Sepasang burung Tyto Alba di Kandang Penangkaran

Pelatihan Ketrampilan Sablon

Salah satu bidang lain yang disentuh untuk peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa Tlogoweru yang dipikirkan oleh bu Elisabeth melalui LPKS adalah pelatihan ketrampilan sablon untuk diaplikasikan pada kaos dan media kertas.

Kurikulum pelatihan ketrampilan sablon yang diterapkan adalah: Pengenalan alat sablon, teknik dan trik sablon manual, pengetahuan dasar mengenali perbedaan sablon pada media (kaos, kain, kertas, karton), teknik mencampur obat afdruk, praktek membuat film sablon, penyinaran dengan lampu atau dengan matahari, teknik tusir, pencetakan ke media/ merackel ke media, pembersihan screen sablon, sablon dengan tinta timbul. Diawal penyelenggaraan pelatihan ini, pak Robby Trijono, bersama dengan temannya pak Refi dari Bandung sebagai tutor, selalu siap membantu dalam penyediaan segala macam peralatan sablon yang dibutuhkan,

“kita seringkali klabakan untuk pembuatan sablon, mulai dari masalah daya listrik, lalu alat cetak sablon yang tidak

(16)

Hasil karya ketrampilan sablon yang sudah jadi adalah membuat kaos seragam untuk kepanitian acara lokal dan memprosduksi 300 buah kaos oblong untuk souvenir dengan logo icon

burung Tyto Alba bertuliskan “Tlogoweru Desa Wisata”; “Tlogoweru

Desa Inovasi Burung Tyto alba” dan “Tlogoweru Owl Conservation.” Kaos-kaos souvenir Tlogoweru ternyata cukup diminati oleh khalayak pengunjung desa Tlogoweru, baik bagi mereka yang sedang dalam rangka tugas belajar, kegiatan pemerintahan atau mereka yang sekedar berwisata alam.

Sumber: LPKS

Gambar 5.7 Logo di kaos souvenir Tlogoweru

Catatan Penutup

(17)

penuh oleh pak kades Soetedjo beserta segenap perangkat pemerin-tahan desa, untuk meningkatkan harkat martabat setiap anggota masyarakat dari kondisi yang lemah mengangkat diri dari perangkap kemiskinan, sehingga pernah berpredikar sebagai Desa Tertinggal, sampai mampu untuk menjadi masyarakat yang mandiri.

Pengalaman proses dalam pemberdayaan masyarakat desa Tlogoweru menyatakan suatu dimensi lain dari suatu usaha pemberdayaan masyarakat, yaitu bahwa bukan saja hal ini meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, melainkan juga secara implisit membuka wawasan penegakan demokrasi ekonomi, yakni kedaulatan masyarakat di bidang ekonomi, dimana kegiatan ekonomi yang berlangsung adaah kegiatan ekonomi oleh rakyat dan untuk rakyat.

Dengan demikian, masyarakat adalah pelaku utama dari pembangunan masyarakatnya, sedangkan pihak pemeritah (birokrasi) berperan sebagai mitra masyarakat yang membantu untuk mengarahkan, membimbing dan menciptakan iklim sosial yang konduktif dalam membangun bersama melalui partsisipasi masyarakatnya.

Sumber: Yusuf

Gambar 5.8 Contoh jadwal pelatihan pada tahun 2012

(18)

sambutan pada Temu Penyuluh Tingkat Propinsi Jawa Tengah, pada 24 September 2012,

“Keberadaan LPKS amat strategis bagi pembangunan

Gambar

Gambar 5.1 Logo LPKS Desa Tlogoweru
Gambar 5.2 Suasana salah satu sudut pelatihan menjahit
Gambar 5.3 Ruangan LPKS pelatihan komputer
Gambar 5.4 Studi banding ke perkebunan Sido Muncul
+5

Referensi

Dokumen terkait

Demikian agar pengumuman ini diketahui oleh seluruh peserta pelelangan kemudian atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. POKJA ULP Kegiatan Pembangunan Gedung

Skema penilaian menjelaskan tentang aturan dan bagian yang akan dinilai dalam lomba melalui proyek uji yang dikerjakan peserta serta proses penilaian.. Skema penilaian dalam

Pokja ULP Kegiatan Optimalisasi SPAM BREGAS Pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan Pipa Jaringan Distribusi Bagi PVC RRJ S.12,5 DN 75 (3”) sepanjang 1157 meter dan PVC RRJ S.12,5

perbedaan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Head.. Together

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLI-B2, 2016 XXIII ISPRS Congress, 12–19 July 2016, Prague, Czech

Bagi kandidat dan partai politik, upaya mempengaruhi warga untuk berpartisipasi dalam pemilu dilakukan dengan menyusun visi misi dan program calon yang sesuai dengan isu..

Research based on the analysis of multitemporal aerial images from 1951-2004 made it possible to reconstruct the intermediate conditions of the Baltic Sea shoreline

IDM baru sebatas mengukur modal sosial dalam tataran yang visible atau kasat mata, atau masih sangat lemah, dan beberapa dapat dikatakan tidak tepat. Misalkan saja, tiga dari empat