• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI SUB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI SUB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI SUBMODEL BERMAIN PERAN (ROLE PLAY) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN

PRONUNCIATION DALAM MATERI COMPLIMENTING AND SHOWING CARE PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X DI SMAN 1

LAMPUNG UTARA

Proposal Penelitian

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Penelitian Pendidikan yang diampu oleh dosen Dr. Toto Fathoni, M.Pd dan Dadi Mulyadi, M.Pd

Oleh:

Dhia Rahadatul Aisy NIM. 1504629

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

DEPARTEMEN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKUKTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI SUBMODEL BERMAIN PERAN (ROLE PLAY) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN

PRONUNCIATION DALAM MATERI COMPLIMENTING AND SHOWING CARE PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X DI SMAN 1

LAMPUNG UTARA

ABSTRAK

Model pembelajaran bermain peran atau role play merupakan salah satu jenis dari model pembelajaran simulasi. Sebagaimana pengertian simulasi, model pembelajaran bermain peran adalah menirukan sebuah peristiwa dengan mengangkat topik tertentu yang memiliki penokohan sehingga siswa dapat berperan didalamnya agar lebih mudah dalam memahami materi pada proses pembelajaran. Beberapa manfaat model pembelajaran bermain peran adalah siswa mengalami proses pembelajaran secara langsung dengan bimbingan guru sehingga siswa dapat menerima evaluasi secara langsung dari pengawasan guru terhadap penampilan mereka di kelas.

(3)

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, sekolah-sekolah di kota besar telah mengembangkan proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai model dan media pembelajaran. Hal ini membuat beberapa sekolah di daerah atau desa nampak tertinggal. Model pembelajaran konvensional seperti ceramah masih banyak sekali digunakan karena sifat guru yang konserfatif atau siswa yang belum bisa menerima model dan media pembelajaran yang beragam saat ini. Keterampilan-keterampilan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris tidak bisa hanya menggunakan model pembelajaran ceramah, pengalaman langsung pada materi sangat diperlukan untuk meminimalisir kesalahan dalam memahami materi, khususnya pronunciation.

(4)

Selain kesulitan yang disebabkan oleh sistem tata bunyi yang berbeda, ada juga sumber kesulitan yang lain yaitu masalah ejaan. Dalam bahasa Indonesia ejaan sangat dekat dengan ucapan, sehingga mengucapkan bahasa Indonesia yang ditulis sangatlah mudah, Bahasa seperti ini juga disebut bahasa fonetis. Bahasa Inggris bukanlah bahasa fonetis, karena hubungan antara ejaan dan ucapan sangat kompleks, sehingga dapat menjadi sumber kesulitan tersendiri dalam belajar pronunciation bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang mengenal bahasa Inggris berawal dari bahasa tulis (Kelly, 2000, tanpa hlm.)

Oleh karena itu, peneliti ingin menguji apakah dengan menggunakan model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) dapat meningkatkan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa.

B. Pembatasan Masalah

Agar penelitian lebih terarah dan memberikan gambaran yang jelas, maka penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut:

Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas X di SMAN 1 Lampung Utara tahun ajaran 2016-2017. Siswa yang dijadikan subjek penelitian berjumlah 30 orang yang berdistribusi dalam lima kelas dengan pengambilan sampel secara acak. Mata pelajaran yang dijadikan penelitian adalah mata pelajaran Bahasa Inggris dengan materi complimenting and showing care.

C. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronuncation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa?”

(5)

1. Apakah model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa?

2. Bagaimana pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa kelas X di SMAN 1 Lampung Utara.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa kelas X di SMAN 1 Lampung Utara.

E. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi guru Bahasa Inggris SMA kelas X dapat menjadi bahan pertimbangan proses mengajar materi complimenting and showing care.

2. Bagi peneliti lain dapat dijadikan bahan pertimbangan ntuk mengembangkan model pembelajaran bermain peran (role play) pada pokok bahasan lain dalam pelajaran Bahasa Inggris SMA.

3. Bagi siswa dapat memudahkan proses pembelajaran pada materi complimenting and showing care.

F. Anggapan Dasar

(6)

pembelajaran terkini yaitu kaya akan sumber belajar dan strategi serta model pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berbagai inovasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris sudah banyak dilakukan, akan tetapi kebanyakan di daerah kota besar. Sedangkan daerah marginal karena keterbatasan sumber daya pengajar dan keterbatasan kompetensi masih belum banyak dilakukan inovasi pembelajaran.

G. Hipotesis

“Adanya pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronuncation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa”.

H. Definisi Operasional 1. Simulasi

Simulasi berasal dari kata “simulate” yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Menurut Sanjaya (2010, hlm. 159) simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.

2. Bermain Peran (role play)

Role playing, yaitu metode pembelajaran sebagai bagian simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi eristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang. (Sanjaya, 2010, hlm.160)

3. Pronunciation

(7)

4. Complimenting and Showing Care

Complimenting adalah sebuah ekspresi untuk mengapresiasi atau memuji orang lain. Showing care adalah ekspresi simpati dimana kita menunjukkan perasaan kasihan dan dukacita ketika seseorang dalam keadakan kurang beruntung, sedang ditimpa masalah, atau kondisi buruk lainnya. (Tanpa Nama, Tanpa Tahun, hlm.21)

I. Ringkasan Tinjauan Teori 1. Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010, hlm. 51). Sedangkan menurut Joyce & Weil dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999, hlm. 42) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Dr. Barufaldi (2002) mengatakan lima definisi yang menggambarkan model pembelajaran,yaitu Engage (menarik), Explore (mengeksplorasi), Explain (menjelaskan), Extend/Elaborate (memperluas) dan Evaluate (Evaluasi). Berdasarkan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran adalah sebuah pola atau kerangka konseptual sebagai perencanaan dan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dikelas.

(8)

mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan ini, diantaranya pembukaan dan penutupan pembelajaran yang berbeda antara satu dengan yang lain. (Trianto, 2010, hlm. 53).

Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.

2. Simulasi dan Bermain Peran

Simulasi berasal dari kata “simulate” yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Menurut Sanjaya (2009:159) simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Pengertian lainnya menurut Sudjana (2010:89) simulasi merupakan metode pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya (state of affaris) atau proses. Simulasi juga berarti memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan atau keterbatasan untuk melakukan praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa simulasi adalah pengalaman pembelajaran dengan menggunakan peniruan terhadap suatu situasi yang nyata untuk memudahkan proses pembelajaran.

Sanjaya (2009:160) membagi simulasi ke dalam beberapa jenis, di antaranya sosiodrama, psikodrama dan bermain peran atau role play. Role playing, yaitu metode pembelajaran sebagai bagian simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi eristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.

(9)

pemeranan simulasi; 2). Pelaksanaan simulasi; a) simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran, b) para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian, c) guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan, c) simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak; 3). Penutup; a) melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan, b) merumuskan kesimpulan. 3. Keterampilan Pengucapan (pronunciation)

Keterampilan atau penguasaan pronunciation meliputi kemampuan memahami sistem tata bunyi atau fonologi bahasa Inggis dan kemampuan memproduksi bunyi bahasa Inggris dengan baik dan benar, yang meliputi kata-kata lepas, frase, kalimat dan dialog atau wacana bahasa Inggris.

Menurut Kenworthy (dalam Jamilah, tanpa tahun, hlm.6) pronunciation memiliki dua tujuan, yaitu pertama untuk mencapai kemampuan memproduksi bunyi bahasa mendekati kualitas native speaker (penutur asli) dan yang kedua untuk bisa menghasilkan bahasa yang bisa dipahami dengan mudah dan benar, meskipun aksennya tidak begitu sempurna. Paulston dan Bruder (dalam Jamilah, tanpa tahun, hlm.6) mengatakan bahwa tujuan belajar Pronunciation adalah kemampuan memproduksi bunyi bahasa kedua atau bahasa asing yang tidak menghambat jalannya komunikasi, baik dari sisi pembicara maupun pendengar. Berdasarkan pendapat ini, tujuan minimal belajar pronunciation adalah agar bahasa yang di ucapkan dapat mudah dipahami (intelligible).

Materi yang tercakup dalam pembelajaran Pronunciation meliputi tiga hal, yaitu : 1) Segmental features of phonology(consonants-voiced, unvoiced-, vowels-long and short-and diphtongs), 2) Suprasegmental features of phonology (stress, intonation), dan 3) Other aspects of connected speech (assimilation, elision, linking and intrusion, junctures and contractions).

J. Metodologi Penelitian

1. Langkah-langkah Penelitian

(10)

instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.(Sugiyono:2016, hlm. 14)

(11)

Bagan 10.1 Bagan Langkah Penelitian

(12)

digunakan di sekolah, Guru mata pelajaran, dan Dosen. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Instrumen Observasi

2. Desain langkah-langkah pembelajaran 3. Validasi isi

4. Validasi konstruk

Pengujian hipotesis menggunakan uji t two tale untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran simulasi submodel bermain peran (role play) terhadap peningkatan kemampuan pronunciation dalam materi complimenting and showing care pada mata pelajaran bahasa inggris siswa. Jika hasil uji t menghasilkan harga thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Rumus yang digunakan untuk mengolah data dengan uji t two tale adalah sebagai berikut:

Analisis penelitian uji hipotesis juga dapat menggunakan aplikasi software SPSS untuk mempermudah pengolahan data.

(13)

Barufaldi, Dr. Jim. (2002). The 5E Model of Instruction, Based on the 5E Instructional Model presented by Dr. Jim Barufaldi at the Eisenhower Science Collaborative Conference in Austin. Texas. Downloaded from http://www.wisd.org/users/0001/docs/GVC/5E %20Model.pdf

Hatimah, Ihat. (Tanpa Tahun) . Pengertian Pendekatan.(Online).Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/195404021980112

001-IHAT_HATIMAH/Pengertian_Pendekatan,_strategi,_metode,_teknik,_taktik_dan.pdf

Jamilah.(Tanpa Tahun). Pengembangan Multi Media untuk Pembelajaran Matakuliah Pronunciation di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNY.(Artikel Penelitian).Jogjakarta:Tanpa Penerbit

Kelly, Gerald, 2000. How to Teach Pronunciation, Longman Pearson Education Limited, England

Sanjaya, Wina.(2010).Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta:Kencana

Sudjana, Nana.(2010). Dasar-dasar Proses Belajar.Bandung:Sinar Baru Bandung

Sugiyono.(2016). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitataif, dan R&D.Bandung:Alfabeta Bandung.

Tanpa Nama.(Tanpa Tahun). Bahasa Inggris kelas X, chapter 2 complimenting and showing care.Diunduh dari http://bukupaket.com

Tanpa Nama.Tanpa Tahun. BAB II KAJIAN PUSTAKA.Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/7784/3/bab%202%20-%2008108241020.pdf

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Di daerah pejaten jakarta selatan dimana peneliti tinggal dulu ada sebuah realita kehidupan dimana antara pengikut ajaran islam syiah dengan pengikut ajaran wahabi saling

This research was to investigate the dominant causes of student‟s reluctance in English oral performance in classroom activities. Based on the topic the appropriate

Secara historis, forum bahtsul masa‟il sudah ada sebelum NU berdiri.Saat itu sudah ada tradisi diskusi di kalangan pesantren yang melibatkan kiai dan santri yang hasilnya

Penempatan karyawan pada posisi yang tepat sesuai dengan kemampuannya ditentukan oleh perencanaan pengembangan karir yang merupakan fungsi pembinaan sumber daya

DAFTAR NAMA PESERTA KULIAH MAGANG TAHUN 2016... Baharuddin Lopa No.2 Mamuju

Illustration 5.3: Searched Node Comparison Graph Based on Difficulty Level. 0 200 400 600 800 1000 1200

Ada kecenderungan pada semiotika struktural untuk melihat relasi antara sistem tanda dan penggunaannya secara sosial sebagai sebuah continuum , yaitu sebuah relasi