• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN BAHASA DAN PERILAKU KOGNITI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN BAHASA DAN PERILAKU KOGNITI (1)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN BAHASA DAN PERILAKU KOGNITIF PADA PESERTA DIDIK

Dwi Puji Lestari1, Luthfi Anisa2

1Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuhwaluh, PO BOX 202 Purwokerto 53182

2Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuhwaluh, PO BOX 202 Purwokerto 53182 2Email : [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan bahasa dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Begitu pun dengan proses pendidikan, bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu umur anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, dan kondisi fisik anak.

Terdapat hubungan yang amat erat antara perkembangan bahasa dan perilaku kognitif. Taraf-taraf penguasaan keterampilan berbahasa dipengaruhi, bahwa bergantung pada tingkat-tingkat kematangan dalam kemampuan intelektual. Sebaliknya, bahasa merupakan sarana dan alat yang strategis bagi lajunya perkembangan perilaku kognitif. Perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif itu menurut Loree (1970:77), dapat dideskripsikan dengan dua cara ialah secara kualitatif dan secara kuantitif. Intelegensi orang satu dengan yang lain cenderung berbeda-beda. Hal ini karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu pembawaan, minat, pembentukan, kematangan, dan kebebasan. Karena eratnya hubungan antara bahasa dan berpikir, Plato pernah mengatakan bahwa berbicara adalah berpikir keras (terdengar) dan berpikir itu adalah berbicara Jika begitu, maka dapat dipastikan bahwa seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis.

(2)

ABSTRACT

Language development is equipped and enriched by the society in which they live. This means forming the personality resulting from the social surrounding communities will give special

characteristics in behavioral language. So even with the educational process, instead of extending and deepening the horizon of science alone, but also plans to manipulate the development of culture systems, including the language behavior. Language development associated with cognitive

development, which means the intellect factor / cognition is very influential on the development of language skills. Speak closely related to the association. Therefore, development is influenced by several factors, such as age of children, the environment, children's intelligence, family

socioeconomic status, and physical condition of children.

There is a very close relationship between language development and cognitive behavior. Taraf-level mastery of language skills are affected, that depend upon the levels of maturity in intellectual abilities. Instead, language is a means and strategic tools for the speed of cognitive behavioral development. The development of functions and cognitive behavior, according Loree (1970: 77), can be described in two ways is a qualitative and quantitative basis. Intelligence people to one another tend to vary. This is due to several factors that influence it, namely nature, interest, formation, maturation, and freedom. Because of the close relationship between language and thought, Plato once said that talking is thinking out loud (sound) and thought it was talking If so, it is certain that someone is low capacity to think will have any difficulty in preparing good, logical, and

systematic sentences.

Keywords : Development, Language, Cognitive, Thinking

PENDAHULUAN

Bahasa yang digunakan oleh seseorang adalah bahasa yang telah banyak berkembang dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan anak mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang banyak dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya.

Perkembangan bahasa dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak mengutip proses belajar disekolah.

(3)

cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu

berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes.

Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan umumnya anak-anak juga berbahasa lebih baik

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya juga sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, meniru dan mengulang hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi bersuara, ‘mm mmm’, ibunya tersenyum mengulang menirukan dengan memperjelas dan memberi arti suara itu menjadi ‘maem-maem’. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarnya. Manusia dewasa (terutama ibunya) disekelilingnya membetulkan dan

(4)

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa

Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Umur anak

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman dan meningkatkan kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik dan ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual, anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.

2. Kondisi lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil untuk cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.

Pada dasarnya bahasa dipelajari dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan pergaulan dalam kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan kelompok sosial lainnya.

3. Kecerdasan anak

Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru,

memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

4. Status sosial ekonomi keluarga

Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain

(5)

Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan

mengganggu perkembangan alam berbahasa.

C. Indikator Perkembangan Bahasa

Kita dapat memahami perkembangan bahasa dengan mengidentifikasi bebrapa

indikatornya antara lain: jumlah perbendaharaan kata (vocabulary), jenis, struktur dan bentuk kalimat, isi yang dikandungnya; gambar atau lukisan bentuk gerakan-gerakan tertentu yang bersifat ekspresif. Dengan menggunakan berbagai indikator tersebut maka dapatlah

dideskripsikan perkembangan bahasa pada manusia itu, sebagai berikut:

1. Pada masa bulan pertama dari masa bayi, individu berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkunganya secara spontan dan instinktif secara positif (menerima, meraih, atau mendapat benda-benda atau suara yang menyenangkan,misalnya botol susu hangat, belaian suara ibu dan sebagainya), bahasa mimic (senyuman dan tawa): baha emosional ekspresif (menangis kalau lapar, kedinginan, atau mendengr suara kertas, meraba, dan sebagainya) 2. Pada masa enam bulan kedua dari masa bayi, bahasa sensori motorik tersebut beragsug berkurang, sedankan bahasa merabanya semakin terarah dan berbentuk dengan dapatnya meniru kata-kata tertentu yang diucapkan orang yang disekitarnya (meskipun mungkin ia sudah dapat membuatkalimat satu kata, misalnya: mama,mamam(kalau ia merasa lapar atau melihat botol susu tau makanan),dan sebagainya).

3. Pada masa kanak-kanak, individu sudah mengenal dan menuasai sejumlah

perbendaharaan kata-kata (vocabulary), usia sekitar 3-4 tahun perbendaharaanya sekitar 300 dan pada usia sekitar 6-7 tahun mencapai 2.500 kata, bahkan dapat diduga lebih dari jumlah tersebut (Lefrancois,1975:186;Crow &Crow,1956:65).

4. Pada masa anak sekolah, dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, maka pada periode 6-8 tahun ia dengan senang hati sekali membaca tau mendengar dongeng fantasi; 10-12 tahun gemar cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan, riwayat para pahlawan, dan sebagainya)).

5. Pada masa remaja awal mereka senang menggunakan bahasa sandi,atau bahasa rahasia yang berlaku pada gangnya sehinga banyak menimbulkan kepenasaraan (Curiousity) pihak luar mereka untuk berusaha memahaminya, perhatiannya kea rah mempelajari bahasa asing mulai berkembang.

D. Perkembangan Perilaku dan Fungsi-Fungsi Kognitif

(6)

pengetahuan, pembuatan perbandingan, berpikir, dan mengerti. Ia selanjutnya juga menjelaskan bahwa proses mental tersebut tidak lain adalah proses pengolahan informasi yang menjangkau kegiatan kognisi, intelegensia, belajar, pemecahan masalah, dan

pembentukan konsep. Secara lebih luas menjangkau kreatifitas, imajinasi, dan ingatan. Dalam pandangan Piaget, perkembangan mental pada hakekatnya adalah perkembangan kemampuan penalaran logis (development of ability to reason logically). Baginya, makna berpikir dalam proses mental tersebut jauh lebih penting dari sekadar prses mengerti. Proses perkembangan mental bersifat universal dalam tahapan yang umumnya sama, tetapi dengan berbagai cara ditemukan adanya perbedaan penampilan kognitif pada tiap kelompok manusia. System persekolahan dan keadaan social ekonomi mempengaruhi terjadinya perbedaan pada perkembangan anak, demikian pula dengan budaya, system nilai, dan harapan dalam

masyarakat masing-masing.

Pengaruh perkembanagan bahasa terhadap kognitif cukup menarik untuk dikaji. Pada usia dini, kemampuan berbahasa belum menjadi bagian penting dari perkembangan kognitif karena kemampuan bahasa sedikit sekali diperlakukan untuk kemampuan kognitif. Akan tetapi, pada tahp-tahap yang lebih lanjut, konsep perlu diklasifikasikan dan dikelompokkan. Kegiatan tersebut lebih mudah dilakukan dan hasilnya lebih mudah dimengerti dengan bantuan bahasa. Lebih-lebih dengan bertambahnya usia, kegiatan menulis, dan membaca merupakan bagian penting dari kegiatan kognitif. Dengan kata lain, bahasa merupakan salah satu alat vital untuk kegiatan kognitif.

Terdapat hubungan yang amat erat antara perkembangan bahasa dan perilaku kognitif. Taraf-taraf penguasaan keterampilan berbahasa dipengaruhi, bahwa bergantung pada tingkat-tingkat kematangan dalam kemampuan intelektual. Sebaliknya, bahasa merupakan sarana dan alat yang strategis bagi lajunya perkembangan perilaku kognitif. Perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif itu menurut Loree (1970:77), dapat dideskripsikan dengan dua cara ialah secara kualitatif dan secara kuantitif.

a. Perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif

Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes

intelegensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal terhadap

sekelompok subjek dari dan sampai ke tingkatan usia tertentu (3-5 tahun sampai usia 30-35 tahun, misalnya) secara tes retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensiel

( Stanford Revision Binet Test).

b. Perkembangan perilaku kognitif secara kualitatif

(7)

perilaku kogntif itu ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan menunjukan karakteristik yang berbeda-beda.

E. Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi dan Perilaku Kognitif

Intelegensi orang satu dengan yang lain cenderung berbeda-beda. Hal ini karena adanya beberapa factor yang mempengaruhinya. Adapun faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:

1. Faktor pembawaan, dimana factor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan maslah, antara lain

ditentukan oleh factor bawaan. Oleh Karen aitu, didalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar, dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.

2. Faktor minat dan pembawaan yang khas, dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dunia luar, sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik lagi.

3. Faktor pembentukan, dimana pembentukan adalah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Disini dapat dibedakan antara

pembentukan sengaja, seperti yang dilkukan di sekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya pengaruh lingkungan sekitarnya.

4. Factor kematangan, dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan

menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila anak-anak belummampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika dikelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan umur.

5. Factor kebebasan, yang berari manusia dapat memilih metode tertentu dalam

memecahkan masalah yang dihadapi. Di smaping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kelima faktor tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut.

F. Teori Belajar Kognitif

(8)

Teori ini memnitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial, karena pada hakikatnya masing-masing individu berada di dalam satu medan kekuatan, yng bersifat psikologis, yang disebut life space. Life Space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan onjek material yang dihadapi.

Jadi, tingkah laku merupakan hasil interaksi antarkekuatan, baik yang berasal dari dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari luar individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Menurut teori ini, belajar itu berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif.

Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal dari struktur medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi unternal individu. Dengan dmeikian, peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward atau hadiah.

2. Cognitive Development (Piaget)

Dalam teori ini, Piaget memandang bahwa proses berpikir merupakan aktivitas gradual dari fungsi intelektual, yaitu dari berpikir konkret menuju abstrak. Berarti perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada. Perkembangan intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Intelegensi itu terdiri atas tiga aspek, yaitu: - Struktur atau scheme ialah pola tingkah laku yang dapat diulang.

- Isi atau content ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah.

- Fungsi atau function adalah yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Function terdiri atas dua macam, fungsi invariant, yaitu organisasi dan

adaptasi.

Organisasi berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan psikis dalam bentuk system yang koheren, sedangkan adaptasi adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan dengan lingkungan. Adaptasi aterdiri atas dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggunaan struktur atau kemampuan invidu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya, sedangkan akomodasi adalah proses perubahan respons individu terhadap stimulasi.

(9)

3. Teori Benyamin S. Bloom

Benyamin S. Bloom telah mengembangkan “taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah metode untuk membut urutan pemikiran dari tahap dasar kea rah yang lebih tinggi dari kegiatan mental, dengan enam tahap sebagai berikut:

a. Pengetahuan (knowledge) ialah kemampuan untuk menghafal, mengingat, atau

mengulangi informs yang pernah diberikan. Contoh: sebutkan lima bagian utama kamera 35 mm.

b. Pemahaman (comprehension) ialah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri. Contoh; uraikan 6 tahapan dalam mengisi film untuk kamera 35 mm.

c. Aplikasi (application) ialah kemampuan menggunakan informasi, teori, dan aturan pada situasi baru. Contoh: pilih ekspose 3 kamera untuk pengambilan gambar yang berbeda. d. Analisis (analysis) ialah kemampuan menguarai pemikiran yang kompleks, dan mengenai

bagian-bagian serta hubungannya. Contoh: bandingkan cara kerja dua kamera 35 mm yang memiliki model yang berbeda.

e. Sintesis (synthesis) ialah kemampuan mengumpulakan omponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru. Contoh: susunlah urutan fotografi untuk 6 objek.

f. Evaluasi (evaluation) ialah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan criteria yang telah ditetapkan. Contoh: buatlah penilaian terhadap kualitas slide yang dihasilkan dalam lomba, dengan 4 urutan penilaian.

G. Hubungan Kemampuan Berbahasa dengan Kemampuan Berpikir dan Belajar Bahasa, menurut Purwanto (1989:43) adalah alat terpenting dalam berpikir. Karena memiliki bahasa dan mampu berbahasa, manusia dapat berpikir. Tanpa bahasa, manusia tidak berpikir. Karena eratnya hubungan antara bahasa dan berpikir, Plato pernah mengatakan bahwa berbicara adalah berpikir keras (terdengar) dan berpikir itu adalah berbicara. Jika begitu, maka dapat dipastikan bahwa seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis.

(10)

Dalam berbahasa seseorang pasti memerlukan suatu proses yaitu proses sosialisasi, dalam arti melakukan konteks dengan yang lain. Seseorang menyampaikan ide dan gagasanya dengan berbahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan pross berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidaktepatan dan kekaburan persepsiyang diperolehnya. Akibat lbih lanjut adalah hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil pemrosesan piker ini diakibatkan kekurang mampuan dalam berbahasa.

Pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kerja pikir memang tidak diragukan sehingga pada akhirnya sampai pada suatu simpul. Jika ingin memiliki kemampuan berpikir dengan baik maka kuasailah bahasa dengan baik. Dalam konteks realitas, ternyata setiap orang memiliki kemampuan berbahasa yang bervariasi. Oleh karena itulah, wajar saja kemampuan berpikir anak berbeda-beda. Pendapat yang hingga sekarang tidak prnah terbantah adalah ada korelasi yang tinggi antara kemampuan berpikir dan kemampuan berbahasa. Anak dengan IQ tinggi berpotensi memiliki kemampuan berbahasa yang tinggi. Hal ini disebabkan mereka dengan mudah menyerap dan menguasai perbendaharaan kosa kata yang dimiliki suatu bahasa. Bervariasinya nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak. Dengan demikian, siapapun tidak akan dapat membantah bahwa terbatasnya kemampuan anak dalam penguasaan bahasa berimplikasi terhadap kemampuan anak berpikir.

Persoalannya sekarang adalah adakah hubungan antara kemampuan berpikir dan kemampuan belajar anak? Jawabnya tentu saja ada. Hubungan antara berpikir dan

kemampuan belajar anak yaitu taraf berpikir yang bermacam-macam dihubungkan dengan macam-macam bntuk pelajarn. Simpul kata, bahwa ada hubungan yang signifikan antara taraf berpikir dan kemampuan belajar. Semakin tinggi taraf belajar seseorang semakin tinggi kerja piker yang diperlukan.

(11)

komunikasi yang baik dengan orang lain. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar.

KESIMPULAN

Bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar terutama pergaulan, jika pergaulan remaja dalam lingkup yang baik maka ia akan menggunakan bahasa yang baik pula dan begitu pula sebaliknya. Dan semakin bertambahnya umur maka bahasa yang dimiliki akan semakin berkembang, semakin dewasa seseorang maka pemilihan kata pun akan semakin ilmiah. Bahasa memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun setiap anak memiliki kemampuan untuk belajar bahasa, tetapi kemampuan anak dalam belajar bahasa berbeda-beda. Perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu faktor internal yang meliputi usia anak, kondisi fisik anak, kesehatan anak, dan inteligensi. Dan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang meliputi status sosial ekonomi keluarga, hubungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan bahasa pertama.

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Artinya kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Dalam upaya

mengembangkan perkembangan bahasa seorang anak dalam konteks pendidikan, kita harus memberikan suatu pengajaran yang baik dan dalam penggunaan model pengekspresian ini kita harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam hal itu, sarana perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah, dan lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun dirumah.

DAFTAR PUSTAKA

Djaali, H. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hartinah D.S., Sitti. 2008. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: PT Refika Aditama. L.N., Syamsu Yusuf, Sugandhi, Nani M. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT

Referensi

Dokumen terkait

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Perilaku Konsumtif, Skala Kontrol Diri dan Skala Rasa Syukur. Analisis data dilakukan dengan analisis

Contohnya, jika kita aktif dalam bidang sukan, masa lapang kita akan diisi dengan latihan yang diselia oleh guru-guru.. Selain itu, kegiatan kokurikulum dapat membentuk disiplin

Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih

menyediakan out-slip atau formulir peminjaman arsip, sehingga tidak diketahui arsip yang telah atau belum dikembalikan. Terlepas dari masalah di atas adapula permasalahan lain

Pada persiapan penelitian dilakukan survei awal ke wilayah studi. Survei awal ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi reaktor biogas dan pengomposan. Selanjutnya dilakukan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu penelitian pengaruh lama penggunaan mulsa dan dosis pupuk kandang terhadap

Membuat desain gantungan baju multifungsi dengan menggunakan software SolidWorks akan lebih mudah dalam membuat design 3D, sehingga bentuk dan tampilan sesuai

Dengan memberikan apresiasi lewat lomba film pendek diharapkan para sineas muda dapat terus memberikan karya yang menginspirasi lewat gagasan dan nilai social yang disampaikan