• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN LIABILI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN LIABILI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN

LIABILITAS DAN EKUITAS

Kelompok :

Gilang Cita Pradana / 13/35884/EE/06553

Pendidikan Profesi Akuntansi

Universitas Gadjah Mada

(2)

1. LIABILITAS 1.1 Pengertian

Menurut FASB (Financial Accounting Standards Board) liabilitas adalah sebagai pengorbanan manfaat ekonomik yang cukup pasti di masa depan yang timbul dari kewajiban sekarang suatu entitas usaha untuk menyerahkan aset atau menyerahkan jasa kepada pihak lain yang terjadi sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Sedangkan menurut IAI Liabilitas merupakan kewajiban perusahaan masa kini yg timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Liabilitas memiliki tiga karakteristik utama :

1. Menjadi pengorbanan sumber ekonomik yang cukup pasti di masa depan (probable future sacrifices of economic benefits).

2. Menjadi kewajiban saat ini atau perioda ini (present obligation) untuk menyerahkan kas, barang, atau jasa di masa datang.

3. Terjadi karena transaksi masa lalu.

1.2 Penggolongan Liabilitas

1.2.1 Liabilitas Lancar (current liabilities)

Liabilitas lancar adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu tidak lebih dari satu tahun atau satu siklus normal operasi perusahaan. Menurut PSAK No.1 paragraf 67 suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai liabilitas jangka pendek jika :

a. Entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam silklus operasi normal.

b. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan

c. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jk waktu 12 bln setelah periode pelaporan.

(3)

Liabilitas lancar antara lain sebagai berikut : 1. Utang Usaha

Utang usaha (account payable) yaitu kewajiban yang harus dilunasi karena pembelian barang/jasa secara kredit.

2. Utang Wesel

Utang wesel / wesel bayar (notes payable) adalah janji tertulis untuk membayar kepada pihak lain dalam jumlah tertentu dan pada tanggal yang telah ditetapkan.

3. Utang Beban

Utang beban adalah kewajiban membayar karena perusahaan sudah menerima manfaatnya, seperti utang bunga (interest payable), utang gaji (salaries payable), utang sewa (rent payable).

4. Pendapatan Diterima di Muka

Pendapatan diterima di muka adalah pendapatan yang belum merupakan hak, tetapi sudah diterima pembayarannya. Contoh: sewa diterima di muka, bunga diterima di muka

.

1.2.2. Liabilitas Jangka Panjang (long-term liabilities)

Liabilitas jangka panjang adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu lebih dari satu tahun atau siklus normal operasi perusahaan. Jenis-jenis hutang jangka panjang

(4)

1.3 Pengakuan dan Pengukuran Liabilitas

Mengacu pada IFRS, metode pengukuran liabilitas yang umum digunakan adalah historical cost (atau modified cost historis). Pengukuran dengan metode fair value digunakan pada awal pengukuran yang melibatkan liabilitas yang berhubungan dengan leases (IAS 17), dan IFRS 3 mengenai kombinasi bisnis (business combination). Nilai wajar adalah (IAS 17 par.4) adalah jumlah asset yang bisa ditukar atau kewajiban diselesaikan antara pihak terkait, pihak yang bersedia dalam transaksi. Sehingga kewajiban yang timbul dari financial lease diakui awalnya dengan metode fair value atau dengan nilai sekarang dari pembayaran lease minimum (IAS 17, para. 20) pada tahun berikutnya, liabilitas diukur dengan metode kos yang diamortisasi (amortized cost).

1.4 Penyajian dan Pengungkapan Liabilitas

Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan urutan kelancarannya sejalan dengan aset. PSAK No. 1 mengatur bahwa aset lancar disajikan menurut urutan likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini berarti kewajiban jangka pendek disajikan lebih dahulu dari kewajiban jangka panjang . Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan. PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban jangka pendek diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Kriteria tersebut adalah

a. Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan, atau

b. Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.

Penyajian akun kewajiban lancar biasanya disajikan sebagai klasifikasi pertama dalam kelompok kewajiban dan ekuitas pemegang saham di neraca. Dalam kelompok kewajiban lancar akun-akun itu dapat dicantumkan menurut jatuh temponya, dalam jumlah yang menurun, atau menurut likuiditasnya.

(5)

neraca dan mendukungnya dengan catatan atas laporan keuangan. Pengungkapan catatan umumnya berisi dari kewajiban, tanggal jatuh tempo, suku bunga, provisi penarikan, pembatasan yang dilakukan oleh kreditor, dan aktiva yang disepakati atau digadaikan sebagai jaminan.

1.5 Provisi

Provisi adalah liabilitas yang waktu dan jumlahnya belum pasti (PSAK No.57 paragraf 10). Provisi dapat dibedakan dari liabilitas lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada provisi terdapat ketidakpastian waktu atau jumlah yang harus dikeluarkan pada masa datang untuk menyelesaikan provisi tersebut (PSAK No.57 paragraf 11 dan Kieso 2011 hal. 677). Utang dagang adalah liabilitas untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok dan telah ditagih melalui faktur atau secara formal sudah disepakati dengan pemasok. Sedangkan akrual adalah liabilitas membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok, tetapi belum dibayar, ditagih atau secara formal disepakati dengan pemasok, termasuk jumlah yang masih harus dibayar kepada pegawai (misalnya jumlah tunjangan cuti). Meskipun sering kali perlu dilakukan estimasi atau penaksiran jumlah dan waktu akrual, tingkat ketidakpastian akrual pada umumnya lebih rendah dari pada tingkat ketidakpastian provisi. Akrual sering dilaporkan sebagai bagian dari utang dagang atau utang lain, sedangkan provisi dilaporkan secara terpisah.

1.5.1 Pengakuan Provisi

Provisi diakui jika (PSAK No. 57 paragraf 14):

a. Entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu

b. Kemungkinan besar (probable) penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi

c. Estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat.

1.5.2 Pengungkapan Provisi

Dalam PSAK 57 Paragraf 84, untuk setiap jenis provisi, entitas mengungkapkan :

(6)

 Provisi tambahan yang dibuat dalam periode bersangkutan, termasuk peningkatan jumlah pada provisi yang ada

 Jumlah yang digunakan yaitu jumlah yang terjadi dan dibebankan pada provisi selama periode bersangkutan

 Jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan selama periode bersangkutan

 Peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam nilai kini yang timbul karena berlalunya waktu dan dampak dari setiap perubahan tingkat diskonto.

Contoh 1 :

Perusahaan X memberikan garansi kepada pelanggannya dalam penjualan barang elektronik. Garansi yang diberikan berlaku tiga tahun dari barang yang dijual. Berdasarkan pengalaman masa lalu, ada kemungkinan klaim dari pelanggan yang membeli barang-barang elektronik tersebut.

Q: Apakah Perusahaan X seharusnya mengakui biaya garansi pada laporan posisi keuangannya?

A: Garansi ini merupakan kewajiban masakini sebagai akibat peristiwa masa lalu. Peristiwa masa lalu tersebut adalah penjualan barang-barang elektronik dengan garansi yang disertakan. Garansi mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi, sehingga adanya kemungkinan besar (probable) kalim dari para pelanggan terhadap garansi yang telah didapatkan dari pembelian barang-baran elektronik tersebut.

Maka, Perusahaan X harus mengakui provisi tersebut. Contoh 2:

(7)

Q: Apakah seharusnya perusahaan tersebut mengakui provisi tersebut pada akhir periode?

A: Meskipun kecelakaan tersebut dari peristiwa masa lalu, namun perusahaan tersebut tidak harus membayar kerugian kepada karyawannya karena pengacara telah melakukan penyelidikan dan kecil kemungkinan untuk kalah.

Perusahan tidak perlu mengakui provisi tersebut, kecuali jika pegacaranya menyatakan bahwa kemungkinan besar perusahaan akan kalah dalam tuntutan tersebut, maka perusahaan harus mengakui provisi tersebut pada akhir periode.

1.5.3 Pengukuran Provisi

IFRS menjelaskan bahwa jumlah yang seharusnya diakui adalah dari estimasi terbaik dari sebuah pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban masa kini. Estimasi terbaik harus sesuai dengan jumlah besaran yang akan entitas bayarkan untuk menyelesaikan kewajbannya pada laporan posisi keuangan (Kieso, 2011, hal 680). PSAK No. 57 paragraf 37 juga menyatakan bahwa estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini adalah jumlah yang rasional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan kewajibannya pada akhir periode pelaporan atau untuk mengalihkan kewajibannya kepada pihak ketiga pada saat itu.

(8)

1.6 Liabilitas Kontinjensi

1.6.1 Pengertian Liabilitas Kontinjensi

Liabilitas kontinjensi adalah (PSAK No. 57 paragraf 10)

1. Kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa lalu, dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa atau lebih pada masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas

2. Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena:

a. Tidak terdapat kemungkinan entitas mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi untuk menyelesaikan kewajibannya

b. Jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.

1.6.2 Pengakuan Liabilitas Kontinjensi

Menurut PSAK 57 paragraf 28, entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi karena (Kieso, 2011, hal 691):

1. Sebuah kewajban yang mungkin atau possible (belum dipastikan sebagai kewajiban masa kini)

2. Sebuah kewajiban maa kini yang kemungkinan besar tidak dapat dilakukan pembayaran (peyelesaiannya)

3. Sebuah kewajiban masa kini yang tidak dapat diukur estimasinya secara andal.

(9)

Karena kemungkinan arus keluar dalam sebuah penyelesaian kecil, maka entitas harus mengungkapkan liabilitas kontinjensi pada akhir periode pelaporan, menyediakan deskripsi yang singkat darimana asal liabilitas kontinjensi itu berasal dan di mana secara praktis (Kieso, 2011, hal. 691):

1. Estimasi dari dampak keuangannya

2. Sebuah indikasi dari ketidkpastian yang berhubungan dengan jumlah atau waktu arus keluar

3. Kemungkinan dari penggantian tersebut.

Hubungan atara Provisi dan Liabilitas Kontinjensi

Secara umum, provisi juga bersifat kontinjensi karena tidak pasti dalam jumlah dan waktu (PSAK No. 57 paragraf 12). Perbedaan mendasar dari kedua liabilitas tersebut adalah (PSAK No. 57 paragraf 13):

1. Provisi yang diakui sebagai liabilitas (dengan asumsi dapat dibuat estimasi andal) karena merupakan kewajiban masa kini dan kemungkinan besar (probable) mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi 2. Sedangkan liabilitas kontinjensi yang tidak diakui sebagai liabilitas karena

liabilitas kontinjensi tersebut merupaka salah satu dari berikut ini:

a. Kewajiban potensial karena belum pasti apakah entitas memiliki kewajiban kini yang akan menimbulkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi

b. Kewajiban kini yang tidak memiliki criteria pengakuan secara probable karena estimasi yang memadai dan andal tidak dapat dibuat.

1.7 Aset Kontinjensi

1.7.1 Pengertian Aset Kontinjensi

Aset kontinjensi adalah aset potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam entitas kendali entitas (PSAK No. 57 paragraf 10).

Kieso (2011, hal 692) menyebutkan beberapa karakteristik dari aset kontinjensi: 1. Kemungkinan penerimaan dana dari hibah, donasi, bonus, hadiah

(10)

1.7.2 Pengakuan Aset Kontinjensi

Menurut PSAK 57 paragraf 31, entitas tidak diperkenankan mengakui aset kontinjensi. Hal ini disebabkan karena dapat menimbulkan pengakua peghasilan yang mungkin tidak pernah terealisasikan, namun jika realisasi penghasilan sudah dapat dipastikan, maka aset tersebut bukan merupakan aset kontinjensi, melainkan diakui sebagai aset.

2. EKUITAS

Empat bentuk utama organisasi bisnis yaitu :

(11)

Entitas Perorangan bukan suatu badan hukum, dan modalnya tidak terbagi atas saham. Harta kekayaan pribadi pemilik entitas terikat pada utang piutang usaha perorangan.

b. Partnership atau persekutuan

 Modal firma tidak terbagi atas saham dan para anggota Firma bertanggung jawab renteng atas kewajiban Firma sebagai suatu persekutuan perorangan.

 Modal suatu persekutuan CV harus dipisahkan antara Modal Pesero Aktif dan Modal Pesero Komanditer. Pesero aktif adalah pesero yang bertindak aktif sebagai pengurus CV. Pesero Komanditer adalah pesero tidak aktif sebagai pengurus CV dan hanya bertanggung jawab sebatas modal CV yang menjadi bagiannya.

c. Corporation atau perseroan

Perseroan Terbatas (PT), Modal Perseroan Terbatas terdiri atas saham. Tanggungjawab persero terbatas pada jumlah modal saham yang disetor jika PT telah disahkan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

d. Koperasi

Koperasi adalah badan hukum. Modal pokok koperasi adalah simpanan pokok anggota, mirip saham atas nama, tak dapat dipindah tangankan dan dapat diambil kembali bila anggota keluar dari keanggotaan koperasi. Ekuitas koperasi atau kekayaan bersih koperasi adalah simpanan pokok, simpanan lain, pinjaman-pinjaman, penyisihan hasil usaha termasuk cadangan. Dari empat bentuk organisasi bisnis diatas, corporation atau perseroan merupakan bentuk organisasi yang mampu menarik dan mengumpulkan modal dalam jumlah besar.

Karakteristik khusus dari bentuk corporation yang mempengaruhi akuntansi termasuk :

(12)

Siapapun yang ingin mendirikan perusahaan harus melengkapi ketentuan-ketentuan ataupun aspek legalitas yang telah ditentukan oleh pemerintah. Setiap pemerintahan memiliki undang-undang perseroan yang berbeda. Akuntansi untuk permodalan perseroan mengikuti ketentuan undang-undang yang ada.

 Sistem saham

Modal perseroan umumnya terdiri atas sejumlah besar saham. Jumlah saham yang dimiliki menentukan kepemilikan masing-masing pemilik.

 Berbagai kepentingan pemilik.

Salah satu sumber modal perseroan adalah saham, saham biasa dan saham preferen. Saham biasa melambangkan kepemilikan perusahaan. Pemilik saham biasa memiliki hak untuk mengendalikan manajemen perusahaan. Sedangkan saham preferen memiliki hak awal untuk mengklaim bagian keuntungan perusahaan. Berbagai kepentingan ini hanya terdapat di perseroan yang salah satu sumber modalnya adalah saham.

2.1 Pengertian Ekuitas

Menurut PSAK (2002) pasal 49, ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Ekuitas didefinisi sebagai hak residual untuk menunjukkan bahwa ekuitas bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomik masa datang. Karena didefinisi atas dasar aset dan kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana aset dan kewajiban diukur.

2.2 Penggolongan Ekuitas

Ekuitas pemegang saham dipisahkan dalam dua komponen penting yaitu modal setoran dan laba ditahan. Modal setoran dipecah menjadi modal saham sebagai modal yuridis dan modal setoran tambahan, dan komponen lain yang merefleksi transaksi pemilik (misalnya saham treasuri atau modal sumbangan). Modal perseroan dipisahkan antara modal setoran dan laba ditahan.Modal setoran dapat digolongkan menjadi:

A. Modal Setoran

(13)

Saham biasa adalah saham yang pelunasannya dilakukan dalam urutan yang paling akhir saat perusahaan dilikuidasi, sehingga resikonya adalah yang paling besar.

2. Share Premium

Agio Saham merupakan selisih antara nilai nominal dengan nilai pasar. 3. Accumulated Other Comprehensive Income

Seluruh perubahan modal selama periode tertentu kecuali yang berasal dari investasi pemilik dan distribusi ke pemilik.

4. Treasury Shares

Treasury Shares adalah saham perusahaan yang dibeli kembali dari peredaran untuk sementara waktu.

5. Non-Controlling Interest

Hak non pengendali merupakan pemegang saham minoritas, kepimilikannya tidak signifikan.

B. Laba ditahan

Akumulasi perolehan laba ( rugi ) yang tidak dibagi sebagai deviden .

2.3 Pengakuan dan Pengukuran Ekuitas

Dasar pengukuran yang lazim digunakan perusahaan dalam penyusunan laporan keuangan adalah biaya historis.

2.4 Penyajian dan Pengungkapan Ekuitas

Berdasarkan PSAK No.1 paragraf 77, disebutkan bahwa entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut dalam laporan posisi keuangan atau laporan perubahan ekuitas, atau catatan atas laporan keuangan:

(14)

(i) jumlah saham modal dasar;

(ii) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh, dan yang diterbitkan tetapi tidak disetor penuh;

(iii) nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang tidak memiliki nilai nominal;

(iv) rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan akhir periode;

(v) hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal;

(vi) saham entitas yang dikuasai oleh entitas itu sendiri atau oleh entitas anak atau entitas asosiasi; dan

(vii) saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan hak opsi dan kontrak penjualan saham, termasuk jumlah dan persyaratan;

b. Penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas.

Berdasarkan PSAK No.1 paragraf 78 bagi entitas yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan atau trust, mengungkapkan informasi yang setara sesuai dengan paragraf 77 (a), yang memperlihatkan perubahan selama suatu periode dari setiap jenis penyertaan, hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis penyertaan.

Pada PSAK No.1 paragraf 104 mengenai laporan perubahan ekuitas disebutkan bahwa entitas harus menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:

(a) total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-pengendali;

(b) untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25;

(15)

(i) laba rugi;

(ii) masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan

(iii) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.

105. Entitas menyajikan, baik dalam laporan perubahan ekuitas atau dalam catatan atas laporan keuangan, jumlah dividen yang diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode, dan nilai dividen per saham.

106. Pada paragraf 104, komponen ekuitas termasuk, misalnya, masing-masing jenis modal disetor, saldo akumulasi dari masing-masing jenis pendapatan komprehensif lain dan saldo laba.

107. Perubahan ekuitas entitas di antara awal dan akhir periode pelaporan mencerminkan naik turunnya aset neto entitas selama periode. Kecuali untuk perubahan yang timbul dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik (seperti kontribusi modal, akuisisi kembali instrumen ekuitas entitas dan dividen) dan biaya transaksi yang secara langsung berkaitan dengan tranksaksi tersebut, perubahan keseluruhan atas ekuitas selama periode yang menggambarkan jumlah total pendapatan dan beban (termasuk keuntungan dan kerugian) yang diakibatkan oleh aktivitas entitas selama periode tersebut.

REFERENCES

(16)

PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan Keuangan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pokok permasalahan yang dibahas yang didukung oleh teori yang ada, maka hipotesis penelitian ini adalah profitabilitas, resiko keuangan, ukuran

e). Untuk mengembangkan dan mengelola jaringan dan sistem pembelajaran, diperlukan sejumlah sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. Dalam hal

Dari hasil pengujian terlihat bahwa perangkat lunak yang dibangun memperlihatkan unjuk kerja yang lebih baik dibanding sistem yang berjalan, sehingga dapat

Setelah itu, aturan Fuzzy tertentu dirancang berbasiskan pendekatan aturan konteks Fuzzy fleksibel ( flexible Fuzzy context rule , FFCR). FFCR digunakan pada

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan signifikan antara kemampuan menulis antara siswa kelas sebelas SMA 1 Mejobo Kudus yang belajar di

Kelompok pengertian yang pertama berasal dari pengertian yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (1985), lebih diperjelas oleh Stake (1994 dan 2005), kemudian dikembangkan oleh

Gambar 2.1. Halaman Utama Web UMK ... Tampilan Registrasi Pada Web. Tampilan Awal ... Registrasi pada Aplikasi Android ... Masukan Username dan Password ... Tampilan Menu Utama ...

Manajemen modern mulai berkembang sejak tahun 1940 an dan banyak menggunakan manajemen sains atau manajemen operasi atau riset operasi sebagai pendekatan ilmu