BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Musik sejak dulu menjadi bagian dari kehidupan manusia (Sloboda, 2010).
Musik diyakini memiliki pengaruh kepada diri manusia yang kemudian digunakan
untuk tujuan tertentu. Menurut Schafer (2015) musik dapat berfungsi untuk
mengatur mood, mengekspresikan hubungan individu dengan kehidupan sosialnya,
bahkan juga untuk mencapai juga self awareness yang dapat membantu mengatur
perasaannya, serta membantu berpikir individu tersebut. Chamorro-Premuzic dan
Furham (dalam Rickard dan Chin, 2012) menyatakan bahwa fungsi musik adalah
untuk mencapai kepuasan intelektual (seperti ketika menganalisis komposisi musik
yang kompleks), mengontrol emosi, dan juga sebagai ‘teman’ dalam melaksanakan
aktifitas sehari-hari.
Keyakinan akan fungsi musik mendorong manusia untuk membentuk
keterlibatan yang erat dengan musik. Dvir (dalam Rickard dan Chin, 2012)
menyatakan bahwa keterlibatan tersebut dapat dilihat dari seberapa banyak waktu
individu yang dihabiskan untuk aktifitas bermusik, seberapa sering individu
melakukan aktifitas bermusik dan juga seberapa teratur individu menjalankan
Rickard dan Chin (2012) menggambarkan music engagement sebagai tingkat
keterlibatan individu dalam aktifitas bermusik yang dilihat berdasarkan frekuensi
keterlibatan individu dengan musik, keteraturan individu dalam aktifitas bermusik,
dan nilai yang hendak dicapai dari aktifitas bermusik seperti seperti nilai personal,
sosial, seni, kesehatan, kreativitas, dan pendidikan.
Setiap orang memiliki jenis engagement yang berbeda-beda dalam bermusik,
tergantung dari nilai apa yang ingin dicapai dari aktifitas bermusik dan berapa lama
waktu yang dihabiskan untuk aktifitas bermusik tersebut. Rickard dan Chin (2012)
juga menyatakan bahwa engagement setiap orang dengan musik memiliki keunikan
tersendiri, yang dapat menggambarkan jenis musik yang dianggap bermanfaat bagi
individu tersebut. Penelitiannya juga mendapati bahwa terdapat lima jenis music
engagement, yaitu: (1) cognitive and emotional regulation, (2) engaged production,
(3) social connection, (4) physical exercise, dan (5) dance.
Jenis cognitive and emotional regulation merefleksikan seseorang yang
engage dengan musik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya dan
juga mengelola emosinya pada kondisi emosi yang diinginkan. Engaged production
menggambarkan seseorang yang terlibat dengan musik bertujuan untuk
menghasilkan musik, melakukan improvisasi musik, menampilkan keahlian
bermusik, serta melakukan evaluasi diri mengenai kualitas musik yang dihasilkan.
Social connection merefleksikan seseorang membentuk engagement dengan musik
sekitarnya. Jenis physical practice menggambarkan keterlibatan seseorang dengan
musik untuk melakukan latihan fisik, dan juga untuk menjaga kesehatan tubuh,
sedangkan jenis dance menggambarkan seseorang terlibat dengan musik untuk
melakukan aktifitas fisik berupa kesenian seperti seni tari.
Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa saat ini fungsi yang paling
menonjol dalam penggunaan musik adalah untuk mengatur mood, atau mengelola
emosi. Hasil penelitian Schafer (2015) yang meneliti fungsi penggunaan musik pada
manusia menunjukkan bahwa mengatur mood dan arousal individu merupakan
yang lebih banyak digunakan dari fungsi lainnya. Claes (2009) juga menyatakan
bahwa meregulasi emosi dengan menggunakan musik menjadi strategi yang sangat
populer dilakukan. Sloboda (2010) mendapati bahwa emosi menjadi alasan utama
manusia dalam menggunakan musik. Selain itu terdapat pula temuan bahwa musik
menjadi salah satu cara yang paling berpengaruh meningkatkan pengalaman
emosional dan spiritual (Gabrielson, 2010).
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa saat ini penggunaan musik untuk
mengelola emosi menjadi cara yang populer dan dapat secara efektif pada manusia
untuk meregulasi emosinya. Individu yang terlibat dalam penggunaan musik untuk
mengelola kondisi emosinya termasuk kedalam jenis cognitive and emotional
regulation (Rickard dan Chin, 2012), atau yang selanjutnya disebut sebagai music
Music engagement untuk meregulasi emosi adalah keterlibatan individu
dengan aktivitis bermusik yang digunakan untuk mengelola kondisi emosinya dan
juga dapat membantu proses berpikir individu tersebut (Rickard dan Chin, 2012).
Individu yang mampu meregulasi emosi merupakan individu yang mampu
mengendalikan kondisi emosi (Gross, 2007); mengenal, mengevaluasi dan
membatasi respon emosi (Thompson, 2000); serta menerima, mempertahankan dan
mengendalikan instensitas dan lamanya emosi yang dirasakan (Gottman dalam
Wilson, 1999).
Music engagement untuk meregulasi emosi ditunjukkan dengan adanya
aktifitas bermusik yang dilakukan oleh pengguna musik untuk meregulasi emosinya
dan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk aktifitas bermusik tersebut
(Rickard dan Chin, 2012). Aktifitas bermusik yang dilakukan dapat berupa aktifitas
mendengarkan musik, menghayati sebuah lagu, memainkan alat musik, menulis
rangkaian nada atau bahkan dengan melakukan penampilan musik di depan orang
banyak.
Secara teoritis, menurut Rickard dan Chin (2012) terdapat dua proses dari
aktifitas bermusik untuk meregulasi emosi, yaitu proses menghasilkan musik
(productive) dan proses mendengarkan musik (receptive). Proses productive adalah
aktifitas mengasilkan musik, seperti menuliskan komposisi musik, memainkan
receptive adalah aktifitas mendengarkan musik dengan cara mendengarkan musik,
menikmati musik, dan membuat arti dari suatu lagu.
Pada dasarnya, kedua proses bermusik tersebut sama-sama berkemungkinan
dilakukan untuk meregulasi emosi. Akan tetapi, penelitian North, Hargreaves, dan
O’Neill (2000) mendapati bahwa aktifitas mendengarkan musik merupakan cara
yang lebih efektif dilakukan untuk meregulasi emosi. Rickard dan Chin (2012) juga
menyatakan bahwa aktifitas mendengarkan musik efektif meningkatkan afek positif
dan menurunkan afek negatif. Mendengarkan musik (proses receptive) lebih
memungkinkan seseorang menerima informasi dari musik bukan hanya sekedar
merasakan emosi dari musik yang didengar, namun juga untuk mendapatkan pesan
melalui emosi yang dirasakan dari musik tersebut (Elliot, 1995).
Dengan demikian Music engagement untuk meregulasi emosi yang dilakukan
melalui aktifitas mendengarkan musik merefleksikan individu yang terlibat dengan
penggunaan musik dengan cara mendengarkan musik dapat mengarahkan dan
mengelola kondisi emosinya. Gross dan John (2003) mengungkapkan bahwa
individu yang mampu melakukan strategi regulasi emosi dapat meningkatkan fungsi
interpersonal dan juga meningkatkan wellbeing. Sejalan dengan hasil tersebut,
Groarke (2015) juga dalam penelitiannya menemukan bahwa mendengarkan musik
juga berfungsi untuk meningkatkan wellbeing. Dengan kata lain dengan music
engagement untuk meregulasi emosi dapat pula berpengaruh terhadap kesehatan
music engagement untuk meregulasi emosi pada individu yang melakukan aktifitas
mendengarkan musik.
B. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dari penelitian ini adalah bagaimana gambaran music engagement
untuk meregulasi emosi?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran music engagement
untuk meregulasi emosi.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi informasi
terhadap ilmu Psikologi khususnya dalam Psikologi Musik.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi atau data tambahan
bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang berkaitan dengan
penelitian mengenai psikologi musik dan kaitannya dengan regulasi emosi. Hasil
penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan informasi kepada praktisi
psikologi musik baik untuk pendidikan maupun penggunaan klinis (terapi).
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
2. BAB II - Landasan Teori
Bab ini menjelaskan tentang pengertian musik music engagement untuk
meregulasi emosi; aspek-aspek, faktor yang mempengaruhi, Music Engagement
Style-I: Cognitive and Emotional Regulation, dan dinamika music engagement
untuk meregulasi emosi.
3. BAB III - Metodologi Penelitian
Bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian yang digunakan, partisipan
penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen dan alat ukur, validitas dan
reliabilitas alat ukur, dan metode analisis data.
4. BAB IV - Analisa dan Pembahasan Data
Bab ini menguraikan gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian
dan pembahasan hasil penelitian.
5. BAB V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini menguraikan kesimpulan dan saran dari penelitian yang telah