• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemupukan Nitrogen Dan Aplikasi Rhizobium Terhadap Efisiensi Serapan Nitrogen, Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Kedelai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Pemupukan Nitrogen Dan Aplikasi Rhizobium Terhadap Efisiensi Serapan Nitrogen, Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Kedelai"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Botani Kedelai

Kedelai merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan

oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan

antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedalai

juga ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang,

Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di

Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai

yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan

pulau-pulau lainnya. Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu

Glycine soja dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama

botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill

(Adisarwanto, 2005).

Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan anggota dari famili

Leguminosae, subfamili Papilionideae, dan termasuk ke dalam genus Glycine L.

(Johnson dan Bernard, 1963). Bibit kedelai berkecambah dengan tipe

perkecambahan epigeal dengan kotiledon tebal dan berdaging, berwarna kuning

atau hijau. Tanaman ini biasanya tegak dan merupakan herba tahunan yang lebat

dengan tinggi mencapai dua meter dan dalam beberapa kondisi agak merambat.

Sistem perakaran tunggang bercabang dengan panjang akar mencapai dua meter

(Adisarwanto, 2005).

Bunga kedelai termasuk bunga sempurna, artinya dalam satu bunga

(2)

sendiri, yaitu kepala putik diserbuki oleh tepung sari dari bunga yang sama.

Penyerbukan terjadi sebelum bunga mekar sehingga disebut penyerbukan

kleistogami (penyerbukan tertutup). Karena cara penyerbukannya tertutup,

kemungkinan terjadinya persilangan alami kurang dari 0,5%. Akibatnya suatu

varietas dapat dipertahankan kemurniannya hingga bertahun-tahun (Sumarno

1983).

SyaratTumbuh

Tanaman kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Suhu

tanah yang optimal dalam proses perkecambahan yaitu 30 oC. Bila tumbuh pada

suhu tanah yang rendah (<15 oC), proses perkecambahan menjadi sangat lambat,

bisa mencapai 2 minggu. Hal ini juga dikarenakan perkecambahan biji tertekan

pada kondisi kelembapan tanah tinggi. Sementara pada suhu tinggi (>30 oC),

banyak biji yang mati akibat respirasi air dari dalam biji yang terlalu cepat.

Disamping itu suhu tanah, suhu lingkungan juga berpengaruh terhadap

perkembangan tanaman kedelai. Bila suhu lingkungan sekitar 40 oC pada masa

tanaman berbunga, bunga tersebut akan rontok sehingga jumlah polong dan biji

kedelai yang terbentuk menjadi berkurang. Suhu yang terlalu rendah (10 oC),

seperti pada daerah subtropik, dapat menghambat proses pembungaan dan

pembentukan polong kedelai. Suhu lingkungan optimal untuk pembentukan bunga

yaitu 24 – 25 oC (Adisarwanto, 2005).

Pada umumnya kedelai menghendaki tanah yang berstruktur remah

dengan keasaman sedang (pH 5-7). Nilai pH ideal bagi pertumbuhan kedelai

6.0-6.8. Apabila pH diatas 7.0 kedelai mengalami klorosis sehingga tanaman menjadi

(3)

mengalami keracunan Al, Fe, dan Mn, sehingga pertumbuhannya terganggu

(Baharsjah, 1992).

Varietas Kedelai

Varitas unggul kedelai mempunyai keunggulan tertentu dibanding dengan

varietas lokal, keunggulan dapat berupa hasil yang lebih tinggi, batang lebih

pendek (genjah) lebih tahan terhadap hama/penyakit dan lain-lain. Kedelai yang

unggul untuk suatu daerah belum tentu unggul didaerah lain tergantung pada

topografi, iklim dan cara tanam (Litbang Deptan, 2004).

Tingkat hasil suatu tanaman ditentukan oleh interaksi faktor genetis

varietas unggul dengan lingkungan tumbuhnya seperti kesuburan tanah,

ketersediaan air, dan pengelolaan tanaman. Tingkat hasil varietas unggul yang

tercantum dalam deskripsi umumnya berupa angka rata-rata dari hasil yang

terendah dan tertinggi pada beberapa lokasi dan musim. Potensi hasil varietas

unggul dapat saja lebih tinggi atau lebih rendah pada lokasi tertentu dengan

penggunaan masukan dan pengelolaan tertentu pula (Gani, 2000)

Varietas kedelai toleran lahan kering masam yaitu Tanggamus, Nanti,

Sibayak, Seulawah dan Ratai dengan ukuran biji varietas yang dilepas tergolong

berbiji kecil dan sedang. Ukuran biji varietas yang dilepas kecil karena kedelai

toleran lahan kering masam umumnya berbiji kecil sampai sedang. Sedangkan

varietas yang memiliki produksi biji yang besar yaitu varietas Anjasmoro,

Argomulyo, Burangrang, Sibayak, Seulawah, Panderman, Ijen, Tanggamus,

(4)

Varietas atau klon introduksi perlu diuji adaptabilitasnya pada suatu

lingkungan untuk mendapatkan genotip unggul pada lingkungan tersebut. Pada

umumnya suatu daerah memiliki kondisi lingkungan yang berbeda terhadap

genotip. Respon genotip terhadap faktor lingkungan ini biasanya terlihat dalam

penampilan fenotipe dari tanaman bersangkutan (Darliah et. al, 2001)

Nitrogen

Nitrogen merupakan unsur hara esensial yang terdapat dalam jaringan

tumbuhan. Nitrogen merupakan penyusun dari banyak senyawa esensial bagi

tumbuhan, misalnya asam amino. Hal ini karena setiap molekul protein tersusun

dari asam-asam amino dan setiap enzim adalah protein, maka nitrogen juga

merupakan unsur penyusun protein dan enzim. Selain itu nitrogen juga

terkandung dalam klorofil, hormon sitokinin, dan auksin (Marschner 1995).

Ada dua bentuk utama ion nitrogen yang diserap dari tanah yaitu nitrat

(NO3-) dan ammonium (NH4+). Nitrogen terdapat dalam banyak senyawa penting

sehingga tidak mengherankan jika pertumbuhan akan lambat tanpa nitrogen.

Tumbuhan yang mengandung cukup nitrogen untuk pertumbuhan saja akan

menunjukkan gejala kekahatan yaitu klorosis yang biasa terjadi pada daun tua

(Salisbury dan Ross, 1995)

Pupuk nitrogen yang biasa digunakan adalah urea yang berbentuk butiran

kecil dan berwarna putih. Pupuk urea mudah dilarutkan dalam air sehingga sesuai

jika diaplikasikan melalui daun. Kelebihan pupuk daun adalah penyerapan

haranya lebih cepat dibandingkan melalui akar di tanah sehingga lebih cepat

menumbuhkan tunas. Hal ini bisa terjadi karena daun memiliki stomata yang

(5)

membuka jika tekanan turgor meningkat, dan sebaliknya stomata akan menutup

jika tekanan turgor menurun. Salah satu faktor yang mempengaruhi tekanan turgor

adalah terik matahari dan angin. Pada saat daun mengalami penguapan, tekanan

turgor menurun dan stomata menutup. Pada saat daun mendapatkan semprotan air,

tekanan turgor akan meningkat dan stomata membuka untuk menyerap cairan. Hal

ini sangat bermanfaat bagi penyerapan hara jika hara diberikan dalam bentuk

cairan yang disemprotkan ke daun tanaman. Manfaat pupuk daun lainnya adalah

dosisnya rendah dengan aplikasi yang kontinu (Jones, 1982).

Pembungaan dan pembentukan biji terlambat pada beberapa tanaman

pertanian karena kelebihan nitrogen. Adapun gejala yang seringkali ditemui pada

beberapa tanaman yang kekurangan hara nitrogen yaitu tumbuhan berwarna hijau

muda, dedaunan yang terletak lebih bawah berwarna kuning, mengering, sampai

berwarna coklat terang, tangkai pendek dan pipih bila kekahatan unsur terjadi

pada taraf pertumbuhan lanjut (Salisbury dan Ross 1995).

Kadar gas nitrogen di atmosfir bumi sekitar 79% dari volumenya.

Walaupun jumlahnya sangat besar tetapi belum dapat dimanfaatkan oleh tanaman

tingkat tinggi, kecuali telah menjadi bentuk yang tersedia. Nitrogen diserap oleh

tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3) dan ion ammonium (NH4). Sebagian besar

nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan negatif

sehingga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah diserap oleh akar. Ion

nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air dan mengarah menuju lapisan di bawah

daerah perakaran sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Sebaliknya

ion amonium bermuatan positif tidak mudah hilang oleh proses pencucian

(6)

Nitrogen yang ada di dalam tanah dapat hilang karena terjadinya

penguapan, pencucian oleh air, atau terbawa bersama tanaman pada saat panen.

Tanah yang sangat basah atau sangat padat penyebab terjadinya kondisi anaerob

(tidak terdapat cukup oksigen di dalam tanah), maka akibatnya terjadi reaksi yang

mengubah nitrat menjadi gas nitrogen (Jones, 1982)

Pencucian nitrat sering terjadi pada tanah berpasir atau tanah sangat

gembur. Saat pencucian terjadi, air memindahkan nitrat menuju lapisan bawah

daerah perakaran. Erosi pada tanah akan membawa nitrogen ke sungai yang

akhirnya bermuara ke laut. Selanjutnya akan terjadi proses pengembalian nitrogen

ke tanah. Proses ini terjadi secara berkesinambungan yang dikenal dengan siklus

nitrogen. Tanah yang kekurangan nitrogen menyebabkan pertumbuhan tanaman

lamban dan kecil yang ditandai dengan perubahan warna pada daun menjadi pucat

dan layu serta menguning sebelum waktunya tiba. Selanjutnya daun pada tanaman

akan mengering mulai dari bawah ke bagian atas daun. Jaringan-jaringan tanaman

tersebut mati lalu mengering. Bila tanaman sempat berbuah, buahnya akan

tumbuh kerdil kekuningan dan lekas matang (Jones, 1982).

Nitrogen memasuki sistem tanah melalui perantaraan jasad renik

penambatan N, hujan dan kilat. Jasad renik penambatan N bebas ini akan

mengubah bentuk N2 menjadi senyawa N asam amino dan N protein. Jika jasad

renik itu mati maka bakteri pembusuk akan melepaskan asam amino dari protein,

dan bakteri amonifikasi melepaskan ammonium dari gugus amino, yang

selanjutnya akan larut dalam larutan tanah. Ammonium ini dapat diserap oleh

(7)

oleh bakteri nitrifikasi dan dapat langsung diserap tanaman (Poerwowidodo,

1993).

Jones (1982) menambahkan nitrogen ini penting bagi tanaman karena

merupakan bagian dari asam amino yang membentuk protein dan asam nukleat,

dimana sebagian dari protein merupakan enzim yang amat penting bagi

kelancaran proses metabolisme tumbuhan.

Rhizobium

Rhizobium merupakan bakteri gram negatif, bersifat aerob, tidak

membentuk spora, berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,5-0,9 μm. Bakteri ini

termasuk famili Rhizobiaceae. Bakteri ini banyak terdapat di daerah perakaran

(rizosfer) tanaman legum dan membentuk hubungan simbiotik dengan inang

khusus (Yuwono, 2006).

Bakteri Rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang

berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan

tanaman legum, kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan

membentuk bintil akar didalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen

atmosfer bila berada di dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan Rhizobium

terhadap pertumbuhan tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersediaan

nitrogen bagi tanaman inangnya. Suatu pigmen merah yang disebut

leghemoglobin dijumpai dalam bintil akar antara bakteroid dan selubung membran

yang mengelilinginya. Jumlah leghemoglobin di dalam bintil akar memiliki

(8)

Bakteri Rhizobium bekerja dengan menambahkan unsur-unsur hara

melalui proses alami dengan memfiksasi atau mengikat unsur nitrogen dari udara,

mengubahnya menjadi nitrogen diazotropik yang dapat diserap oleh akar tanaman,

dan menstimulasi pertumbuhan tanaman melalui proses sintesa dari unsur-unsur

pertumbuhan tersebut. Bakteri Rhizobium aktif dapat diketahui secara visual dari

bintil-bintil bundar di akar tanaman. Bila akar dibelah, di dalamnya akan tampak

warna kemerahan dan bila bagian ini ditekan, akan keluar cairan kemerahan.

Bakteri Rhizobium akan giat mengadakan fiksasi N pada tanah yang kandungan

nitrogennya rendah dan akan berkurang pada tanah yang kandungan nitrogennya

tinggi. Bakteri Rhizobium mampu bertahan di dalam tanah selama 5 - 10 tahun

(Fageria, 2009).

Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu memfiksasi

100–300 kg N/ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk

tanaman berikutnya. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada

kondisi tanah dan efektivitas populasi asli (Sutanto, 2002 dalam Rahmawati,

2005).

Beberapa keuntungan dengan memanfaatkan Rhizobium adalah (Fageria,

2009) : (1) Tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan; (2) Efisiensi

penggunaan yang dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran lingkungan

dapat dihindari; (3) Harganya yang relatif murah; dan (3) Teknologinya yang

(9)

Pembentukan Bintil Akar dan Fiksasi Nitrogen

Simbiosis antara Rhizobium dan tanaman kacang kedelai merupakan

simbiosis mutualisme sebab Rhizobium mendapat tempat hidup di dalam bintil

akar, sedangkan tanaman kedelai sendiri mendapatkan N dari hasil penambatan

oleh bakteri (Dwijoseputro, 1985).

Tahap pembentukan bintil akar (Hidayat, 1993) : Brandyrhizobium masuk

kedalam akar rambut atau sel epidermis (0 hari); benang infeksi mencapai dasar

sel epidermis dan memasuki korteks (1-2 hari); suatu massa kecil sel-sel terinfeksi

dalam primordium bintil (3-4 hari); pembagian pesat dari sel bakteri dan

sel-sel akar inang (5 hari); bintil mulai tampak (7-9 hari); pertumbuhan lanjut dari

jaringan bintil, jaringan bakteroid berwarna merah muda, mulai terjadi fiksasi

nitrogen (12-18 hari); sebagian besar pembagian sel dari bakteri dan sel inang

terhenti, tetapi pembesaran bintil tetap berlanjut karena pembesaran sel,

merupakan periode aktif fiksasi nitrogen (23 hari); bintil mencapai besar

maksimum, fiksasi nitrogen berlanjut sampai pelapukan bintil (28-37 hari); dan

pelapukan bintil (50-60 hari).

Secara umum, fiksasi nitrogen biologis sebagai bagian dari input nitrogen

untuk mendukung pertumbuhan tanaman telah menurun akibat intensifikasi

pemupukan anorganik. Penurunan penggunaan pupuk nitrogen yang nyata

agaknya hanya dapat dicapai jika agen biologis pemfiksasi nitrogen diintegrasikan

dalam sistem produksi tanaman (Noortasiah, 2005).

Bakteri penambat nitrogen yang terdapat didalam akar kacang-kacangan

(10)

menetap dalam akar tersebut dan membentuk bintil pada akar yang bersifat khas

pada kacang-kacangan. Untuk menambat nitrogen, bakteri ini menggunakan

enzim nitrogenase, dimana enzim ini akan menambat gas nitrogen di udara dan

merubahnya menjadi gas amoniak dan kemudian asetylen menjadi ethylen. Gen

yang mengatur proses penambatan ini adalah gen nif (Singkatan nitrogen–

fixation) (Fageria, 2009).

Pemanfaatan kelompok mikroorganisme ini telah diterapkan di

negara-negara maju dan beberapa negara-negara berkembang. Jumlah nitrogen yang ditambat

oleh Rhizobia sangat bervariasi tergantung strain, tanaman inang serta

lingkungannya termasuk ketersediaan unsur hara yang diperlukan. Selandia Baru

merupakan negara yang sangat mementingkan penggunaan pupuk nitrogen berasal

dari penambatan N dari atmosfir. Banyak genus rhizobia yang hanya dapat hidup

menumpang pada tanaman inang tertentu (spesifik). Sebagai contoh bakteri yang

bersimbiosis dengan kedelai (Soybean) umumnya tidak dapat bersimbiosis dengan

dengan tanaman alfalfa (Medicago). Agar kemampuan menambat nitrogen tinggi

maka tanaman inang harus dinokulasi dengan inokulan yang sesuai (Fageria,

2009).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fiksasi N

Inokulasi Rhizobium pada lahan yang telah mengandung bakteri ini

merupakan usaha untuk menambah atau mengganti bakteri Rhizobium yang telah

ada dan telah beradaptasi didalam tanah. Setiap jenis tanaman kedelai

menghendaki Rhizobium untuk keserasian simbiosisnya sehingga inokulasi sering

tetap diperlukan agar pembentukan bintil akar yang efektif dapat tercapai.

(11)

tanaman inang yang sesuai, derajat keasaman tanah, ketersediaan hara, kondisi

fisik tanah dan adanya seranga virus bakteri (bacteriophage) yang dapat

menyebabkan berkurangnya populasi Rhizobium dalam tanah (Fageria, 2009).

Simbiosis antara strain-strain Rhizobium dengan spesies leguminosa

terdapat perbedaan dalam keserasiannya, bahkan keserasian dalam hubungan

simbiosis itu terdapat antara strain-strain Rhizobium dengan varietas-varietas

tanaman leguminosa. Hubungan yang serasi akan menghasilkan bintil akar yang

sangat efektif dalam fiksasi nitrogen. Salah satu sifat penting dalam pola

pembentukan bintil akar adalah waktu yang dibutuhkan untuk membentuk bintil

akar dan memulai fiksasi N2 Jumlah senyawa N yang diberikan atau yang terdapat

didalam tanah akan menghalangi pembentukan bintil akar dan penambatan N.

Tingkat penghambatan ini tergantung dari konsentrasi dan bentuk N, periode

penggunaan dan strain Rhizobium yang digunakan, aktifitas fotosintesis,

kebutuhan N tanaman atau unsur tanaman (Yutono, 1985).

Campbell et al. (2003) menjelaskan terjadinya proses nodulasi dan fiksasi

nitrogen adalah hasil komunikasi dua arah antara tanaman inang dan

Brandyrhizobium. Komunikasi tersebut terjadi karena tanaman inang

mengeluarkan senyawa organik (flavonoid) yang dikenali oleh Brandyrhizobium.

Setiap jenis tanaman mengeksudasi senyawa flavonoid yang berbeda, sehingga

hanya dikenali oleh protein dari gen nodD tertentu. Gen nodD ini berfungsi untuk

mengaktifkan transkripsi dari gen-gen nodulasi, jadi jika strain suatu bakteri tidak

kompatibel untuk suatu jenis tanaman, maka komunikasi intim tersebut juga tidak

(12)

Efisiensi Serapan Nitrogen

Isfan (1983) mendefinisikan efisien serapan N melalui Physiological

Efficiency Indeks Nitrogen (PEN) merupakan indeks rasio hasil biji dengan

jumlah N yang diserap dalam memproduksi bahan kering bagian atas tanaman

pada fase tertentu. Menurut Jipelos (1989), dalam praktek pemupukan nitrogen

yang diserap tanaman hanya berkisar antara 22 – 65% dan rata-rata efisiensi

serapan nitrogen pada lahan beririgasi hanya bisa mencapai 45%. Efisiensi

serapan N perlu dilakukan agar diketahui jumlah serapan N yang termanfaatkan

oleh tanaman untuk menghasilkan economic yield. Efisiensi serapan N tergantung

kepada tipe tanah, takaran N, musim dan kombinasi dengan hara lain. Tipe tanah

sangat erat kaitannya dengan efisiensi, sebab ketersediaan N tergantung dengan

tekstur, N total tanah, kandungan liat dan KTK tanah (Roehan dan Partohardjono,

1994).

Strategi pengelolaan hara N yang optimal bertujuan agar pemupukan

dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga dapat mengurangi

kehilangan N dan meningkatkan serapan N oleh tanaman. Pemberian pupuk yang

tepat tidak saja akan menurunkan biaya penggunaan pupuk, tetapi dengan takaran

pupuk yang lebih rendah, hasil relatif sama, tanaman lebih sehat, serta

mengurangi hara yang terlarut dalam air dan penimbunan N dalam air atau bahan

makanan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia (Anonim dalam Salam,

2003).

Upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N dapat dilakukan

dengan menanam varietas unggul yang tanggap terhadap pemberian N serta

(13)

tanaman, pengairan yang tepat, serta pemberian pupuk N secara tepat baik

takaran, cara dan waktu pemberian maupun sumber N (Salam, 2003). Menurut

Parto hardjono dan Fitts (1974), penggunaan pupuk urea berlapis belerang yang

dapat melepas N secara lambat dapat meningkatkan efisiensi penggunaan N pada

padi sawah. Lebih lanjut Partohardjono (1981) menyatakan bahwa efisiensi

penggunaan N meningkat bila pupuk N diberikan secara bertahap atau

memberikan unsur N dalam bentuk tablet.

Kerusakan lingkungan akibat pemupukan N yang berlebihan disebabkan

adanya emisi gas N2O pada proses amonifikasi, nitrifikasi, dan denitrifikasi.

Menurut Partohardjono (1999), emisi gas N2O dipengaruhi oleh takaran pupuk N

yang diberikan, makin tinggi takaran N makin besar emisi gas N2O. Lebih

lanjutdinyatakan bahwa emisi gas N2O berkaitan erat dengan bentuk pupuk N.

Hardy et al. (1975) dan Mertz (1976) dalam Isfan (1993) menekankan

bahwa meningkatkan efisiensi nitrogen kultivar merupakan tujuan penting dalam

program pemuliaan. Banyak peneliti yang menemukan perbedaan yang signifikan

untuk efisiensi nitrogen pada genotipe tanaman sereal. Efisiensi Serapan Nitrogen

(ESN) pada tanaman kedelai juga telah dilaporkan Totok (2009) dan Ahdiyat

Referensi

Dokumen terkait

Contohnya pada program keahlian teknik kendaraan ringan, selain mempelajari semua sistem, bisa manambah jam pelajaran yang mempelajari konsentrasi lebih khusus,

 Menurut Mustopadidjaja: Kebijakan adalah keputusan suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan tertentu sebagai keputusan atau untuk mencapai tujuan

Program “ Mindful Parenting ” dalam penelitian ini terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif bagi partisipan, sehingga intervensi ini dapat digunakan oleh para

rasa manis, membantu pektin untuk membentuk gel yang mengental dan dapat pula sebagai pengawet, yaitu dalam konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Studi Penggunaan ACE Inhibitor Pada Pasien Infark Miokard Akut

Upaya pengembangan industri kecil dan kerajinan rumah tangga alas kaki dipengaruhi secara langsung oleh motivasi usaha dari para pengusaha dan kebijakan pemerintah yang

Hasil perhitungan aspek finansial meliputi perhitungan nilai operating profit (OP) sebesar Rp.60.435.500, dapat digunakan untuk biaya produksi berikutnya, net profit

Tingkat motivasi atlet renang pemusatan latihan daerah (PELATDA) Jawa Tengah Tahun 2016 secara keseluruhan adalah sangat tinggi. Berdasarkan penelitian penulis memberikan