• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PE"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU ANTENATAL CARE IBU HAMIL DI PUSKESMAS

BATUA RAYA MAKASSAR

Oleh :

Nur Alkadri Akbar1, Jamilah Kasim2, Sri Anggraeni3

1Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

2Dosen tetap Program Studi S1 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

3Dosen tetap Program Studi S1 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

(2)

NANI HASANUDDIN MAKASSAR

2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU ANTENATAL CARE IBU HAMIL DI PUSKESMAS

BATUA RAYA MAKASSAR

Nur Alkadri Akbar1, Jamilah Kasim2, Sri Anggraeni3

ABSTRAK

Antenatal care adalah perawatan fisik mental sebelum persalianan atau pada masa hamil. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Sosial Ekonomi merupakan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan tindakan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat seperti sandang, pangan dan papan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku antenatal care ibu hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar. Jenis penelitian ini adalah Analitik Correlatif menggunakan rancangan

Cross Sectional Study. Sampel berjumlah 92 orang responden yang didapatkan

menggunakan teknik Simple Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada

hubungan antara tingkat pendidikan (p = 0.018, OR: 28.26), motivasi (p = 0.000, OR :28.57), sosial ekonomi (p = 0.039, OR : 36.33) dengan perilaku antenatal care.

Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan, motivasi dan sosial ekonomi dengan perilaku Antenatal Care ibu hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar.

(3)

PENDAHULUAN

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, diseluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Sebuah kematian yang seharusnya tidak perlu terjadi dan sesungguhnya dapat dihindari. Bercermin dari realita di atas, sudah seyogyanya kita semua memperhatikan pentingnya kesehatan perempuan itu sendiri. (Anonim, 2012).

Besarnya masalah kematian ibu memang menjadi perhatian dunia internasional, sehingga ada ahli yang menyatakan bahwa setiap 4-5 jam jatuh sebuah jumbo jet yang seluruh penumpangnya adalah ibu hamil. satu jumlah yang sangat fantastis untuk menunjuukan tingginya angka kematian ibu diseluruh dunia. Di negara miskin, sekitar 25-50 persen kematian perempuan usia subur disebabkan oleh masalah terkait kehamilan, persalinan dan nifas.

Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor yakni faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat harus ditunjukan kepada 4 faktor di atas. Indikator kesehatan masyarakat dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Balita (AKBA), Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian Ibu (AKI). AKI merupakan angka yang dilihat dari banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau 42 hari sejak terminasi kehamilan yang disebabkan kehamilan dan pengelolaannya, per 100.000 kelahiran hidup. (Depkes, 2006).

Saat ini AKI di Negara-negara berkembang masih terbilang tinggi dimana setiap tahunnya terdapat sekitar 200 juta ibu hamil dan 500 ribu diantaranya akan meninggal akibat penyebab yang berkaitan dengan kehamilan serta 50 juta lainnya akan menderita akibat komplikasi pada kehamilannya (Depkes, 2007).

Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 AKI di Indonesia yaitu 116 per 100.000 Kelahiran Hidup. Menurut data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BBKBN) Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan Angka Kematian Ibu di Sulawesi Selatan masih tinggi, dalam kurun waktu 3 tahun (2003-2005) AKI di Provinsi Sulaswesi Selatan mencapai 321 kasus, sedangkan angka kematian bayi (AKB) berjumlah 844 kasus (Profil Kesehatan, 2007).

Berdasarkan data Human Development Indeks (HDI) atau indeks

(4)

nasional karena target penurunan AKI nasional dari 262 menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010 (Depkes, 2009).

Periode antenatal adalah suatu kondisi yang dipersiapkan secara fisik dan psikologis untuk kelahiran dan menjadi orang tua. Kunjungan antenatal biasanya dimulai segera setelah tidak mendapat haid atau menstruasi (Fauziah, 2012 :16).

Gambaran umum situasi Antenatal Care untuk wilayah Puskemas Batua Raya Makassar tiga tahun terakhir yaitu pada tahun 2010 terdapat kunjungan K1 tercatat sebanyak 1.187 kunjungan, sedangkan kunjungan K4 tercatat sebanyak 1228 kunjungan. Pada tahun 2011 terdapat kunjungan K1 sebanyak 1.363 kunjungan sedangkan kunjungan K4 sebanyank 1280 kunjungan. Pada tahun 2012 terdapat kunjungan K1 sebanyank 1.309 kunjungan sedangkan pada K4 sebanyak 1309 kunjungan ( Data Record Medical, 2012).

Bersdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku

Antenatal Care Ibu Hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar.

BAHAN DAN METODE

Lokasi, Populasi dan Sampel

Jenis penelitian ini adalah Analitik Correlatif menggunakan rancangan Cross Sectional Study. Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Batua Raya Makassar pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2013. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 1.309 orang dengan jumlah sampel sebanyak 92 orang responden. Tehnik pengambilan sampel yang dilakukan adalah simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.

Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang ditetapkan oleh peneliti sebagai berikut :

1) Kriteria Inklusi a) Ibu yang hamil

b) Dapat berkomunikasi secara verbal

c) Dapat membaca dan menulis serta sehat jasmani dan rohani

d) Bersedia untuk dijadikan sampel dan menandatangani informed concent.

2) Kriteria Ekslusi

a) Ibu yang tidak hamil

b) Ibu yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal

c) Ibu yang tidak dapat membaca dan menulis serta sehat jasmani

d) Ibu yang tidak bersedia untuk dijadikan sampel dan mendatangani Informed

(5)

Cara Pengumpulan Data a. Data Primer

Data yang diperoleh peneliti melalui wawancara langsung kepada responden dan kuesioner yang telah disediakan. Selama pengisian kuesioner peneliti mendampingi responden dan juga membantu dalam pengisian kuesioner apabila responden kurang memahaminya sehingga data yang diharapkan dapat terkumpul dengan lengkap dan akurat.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan melalui laporan puskesmas yang dibuat oleh tenaga puskesmas pada laporan bulanan.

Analisa Data

Proses pengolahan data dilakukan dengan analisa data. Analisa data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabulasi distribusi frekuensi yang terdiri dari kolom- kolom yang memuat frekuensi dan persentase untuk tiap kategori. Karena jenis data yang digunakan adalah deskriptif, maka tekhnik yang digunakan adalah :

a. Analisa univariat

Analisis univariat digunakan untuk menganalisis variabel yang ada secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsinya agar dapat diketahui kerakteristik dari subjek penelitian. Variabel yang dianalisis antara lain usia, pendidikan, pengetahuan dan pekerjaan.

b. Analisa bivariat

Analisis bivariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelsi. Dalam penelitian ini analisa bivariat digunakan untuk meneliti ada tidaknya hubungan antara variabel independen (usia, pendidikan, pengetahuan, dan pekerjaan) dengan variabel dependen (persepsi ibu). Pada penelitian ini analisa hubungan dilakukan dengan menggunakan uji chi square dengan tingkat kemaknaanα = 0,05

Pengolahan Data 1. Editing

Editing dilakukan untuk meneliti setiap daftar pertanyaan yang sudah diisi. Editing meliputi kelengkapan pengisian, kesalahan pengisian dan konsistensi relevansi dari setiap jawaban yang diberikan. Peneliti memeriksa kembali kelengkapan data sehingga semua data yang didapatkan terisi dengan lengkap dan benar.

2. Coding

(6)

jawaban dengan kode berupa angka. Kode- kode tersebut selanjutnya dimasukkan dalam tabel kerja untuk mempermudah pembacaan.

3. Tabulasi data

Tabulasi adalah kegiatan memasukkan data- data hasil penelitian kedalam tabel- tabel sesuai kinerja. Peneliti memasukkan skor jawaban responden dari tiap pertanyaan kedalam tabel.

4. Entri Data

Entry data adalah memasukkan data yang telah ditabulasikan kedalam program komputer dengan menggunakan SPSS.

HASIL PENELITIAN

1. Analisa Univariat

Tabel 5.1

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Umur Responden Frekuensi Persentase (%)

20 s/d 29 Tahun 27 29.3

30 s/d 39 Tahun 61 66.3

≥ 40 Tahun 4 4.3

Total 92 100

Sumber : Data Primer 2013

Dari Tabel 5.1, maka diketahui bahwa kelompok umur responden yang paling banyak adalah kelompok 30 s/d 39 tahun dengan jumlah responden sebanyak 61 orang (66.3%), sedangkan kelompok umur responden yang paling sedikit adalah ≥ 40 tahun dengan jumlah responden sebanyak 4 orang (4.3%).

Tabel 5.2

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Agama di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Agama Responden Frekuensi Persentase (%)

Islam 79 85.9

Non Islam 13 14.1

Total 92 100

Sumber : Data Primer 2013

(7)

Tabel 5.3

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Pekerjaan di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Pekerjaan Responden Frekuensi Persentase (%)

Pedangang 4 4.3

Pegawai Negeri Sipil 12 13

Swasta 35 38

Ibu Rumah Tangga 34 37

Lain-Lain 7 7.6

Total 92 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.3, maka diketahui bahwa kelompok pekerjaan responden yang paling banyak adalah Swasta dengan jumlah responden sebanyak 35 orang (38.5%), sedangkan kelompok pekerjaan responden yang paling sedikit adalah pedagang dengan jumlah responden sebanyak 4 orang (4.3%).

Tabel 5.4

Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Puskesmas Batua Raya Makassar tahun 2013

Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

Tinggi 49 53.3

Rendah 43 46.7

Total 92 100

Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.4, maka diketahui bahwa tingkat pendidikan responden yang tinggi sebanyak 49 orang (53.3%), sedangkan tingkat pendidikan responden yang rendah sebanyak 43 orang (46.7%) responden.

Tabel 5.5

Distribusi Responden Berdasarkan Motivasi di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Motivasi Frekuensi Persentase (%)

Baik 74 80.4

Kurang Baik 18 19.6

Total 92 100

(8)

Berdasarkan Tabel 5.5, maka diketahui bahwa responden dengan motivasi yang baik sebanyak 74 orang (80.4%), sedangkan responden dengan motivasi yang kurang baik sebanyak 18 orang (19.6%) responden.

Tabel 5.6

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Sosial Ekonomi di Puskesmas Batua Raya Makassar tahun 2013 sedangkan responden dengan kelompok sosial ekonomi yang rendah sebanyak 8 orang (8.7%) responden.

Tabel 5.7

Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Antenatal Care di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 5.7, maka diketahui bahwa perilaku Antenatal care

responden yang dalam kategori yang cukup adalah sebanyak 82 orang (89.1%) responden, sedangkan perilaku antenatal care responden yang dalam ketegori yang kurang sebanyak 10 orang respoden (10.9%).

2. Analisa Bivariat

a. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar

Tabel 5.8

Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Antenatal Care pada Ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

(9)

Total 82 89.1 10 10.9 92 100 Sumber : Data Primer 2013

Berdasarkan Tabel 5.8, maka diketahui bahwa dari total 49 orang (53.3%) responden dengan kategori tingkat pendidikan yang tinggi, 46 orang responden (50%) diantaranya dalam perilaku antenatal care yang cukup dan 3 orang responden (3.3%) lainnya dalam perilaku antenatal care yang kurang. Sedangkan dari total 43 orang (46.7%) responden dengan kategori tingkat pendidikan yang rendah, 36 orang (39.1%) responden dalam perilaku

antenatal care yang cukup dan 7 orang responden (7.6%) lainnya dalam perilaku antenatal care yang kurang.

Setelah dilakukan analisis uji statistic menggunakan uji Chi Square, maka berdasarkan nilai Fisher’s Exatc Test didapatkan nilai p = 0.018 dimana

p < α 0.05, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Dari nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi berpeluang 28.26 kali berperilaku Antenatal care yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

b. Hubungan Motivasi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Tabel 5.9

Hubungan Motivasi dengan Perilaku Antenatal Care pada Ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013 responden (80.4%) dalam ketegori motivasi yang tinggi, 71 orang responden (77.2%) dalam perilaku antenatal care yang baik, dan 3orang lainnya (3.3%) dalam perilaku antenatal care yang kurang. Sedangkan dari total 18 orang responden (19.6%) dalam kategori motivasi yang rendah, 11 orang responden (12%) dalam perilaku antenatal care yang cukup dan 7 orang lainnya (7.6%) dalam perilaku antenatal care yang kurang.

Setelah dilakukan analisis uji statistic menggunakan uji Chi Square, maka berdasarkan nilai Fisher’s Exatc Test didapatkan nilai p = 0.00 dimana

(10)

yang signifikan antara motivasi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Dari nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat motivasi yang tinggi berpeluang 28.57 kali berperilaku Antenatal care

yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat motivasi yang rendah.

c. Hubungan Sosial Ekonomi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Tabel 5.10

Hubungan Sosial Ekonomi dengan Perilaku Antenatal Care pada Ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar Tahun 2013

Bersadarkan Tabel 5.10, maka diketahui bahwa dari total 84 orang (91.3%) responden dengan kategori sosial ekonomi yang tinggi, 77 rang responden (83.7%) dalam perilaku antenatal care yang cukup dan 7 orang lainnya (7.6%) dalam perilaku antenatal care yang kurang. Sedangkan dari total 8 orang responden (8.7%) dengan kategori sosial ekonomi yang rendah, 5 orang responden (5.4%) dalam perilaku antenatal care yang cukup dan 3 orang (3.3%) responden lainnya dalam perilaku antenatal care yang kurang.

Setelah dilakukan analisis uji statistic menggunakan uji Chi Square, maka berdasarkan nilai Fisher’s Exatc Test didapatkan nilai p = 0.039 dimana

p < α 0.05, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Dari nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang tinggi berpeluang 36.33 kali berperilaku

Antenatal care yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah.

PEMBAHASAN

1. Hubungan tingkat pendidikan dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

(11)

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas batua Raya Makassar. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin baik dan semakin terbentuk perilakunya.

Maka hipotesa yang disajikan oleh peneliti dinyatakan diterima karena ada hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dengan perilaku antenatal care.

Demikian pula dengan nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi berpeluang 28.26 kali berperilaku

Antenatal care yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Sudrajat A (2009) yang mengatakan bahwa pendidikan adalah segala jenis pengalaman yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu, keadaan seperti itu berlangsung didalam segala jenis dan bentuk lingkungan sosial sepanjang kehidupan.

Juga pendapat yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010) yang megatakan bahwa pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.

Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Uniatin (2010) yang dalam penelitiannya berjudul “faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan antenatal care RSUD Unaaha Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara” yang menyatakan bahwa Berdasarkan uji statistic dengan jenis analisis tabulasi silang, menunjukkan bahwa responden yang berpendidikan tinggi yang memanfaatkan pelayanan antenatal care di RSUD Unaaha sebanyak 45 orang (56,3%) sedangkan yang tidak memanfaatkan sebanyak 11 responden (13,8%). Kemudian responden yang tingkat pendidikannya rendah yang memanfaatkan pelayanan antenatal care sebanyak 12 orang (15,0%) sedangkan yang tidak memanfaatkan pelayanan antenatal care sebanyak 12 orang (15,0%). Berdasarkan hasil uji statistic antar variabel dependent dan independent menunjukkan terdapat hubungan antara variable tingkat pendidikan dengan pemanfaatan antenatal care ini berarti tingginya tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pemanfaatan responden terhadap pelayanan antenatal care di RSUD Unaaha Kab. Konawe.

(12)

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti berasumsi bahwa Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin baik dan semakin terbentuk perilakunya karena pendidikan merupakan alat pemahaman diri untuk menajdi manusia yang lebih bermartabat.

2. Hubungan motivasi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Hasil analisa univariat menunjukkan bahwa dari total 92 orang responden didapatkan sebagian besar yaitu sebanyak 74 orang (80.4%) dengan motivasi yang tinggi, sedangkan responden dengan motivasi yang kurang baik sebanyak 18 orang (19.6%) responden.

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar. Semakin tinggi motivasi, maka semakin terdorong seseorang berperilaku yang baik.

Maka hipotesa yang disajikan oleh peneliti dinyatakan diterima, karena ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan perialku antenatal care

pada ibu. Demikian pula dengan nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat motivasi yang tinggi berpeluang 28.57 kali berperilaku

Antenatal care yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat motivasi yang rendah.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan, tindakan, tingkah laku atau perilaku.

Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Nurwahidah S, (2011) yang dalam penelitiannya berjudul “Hubungan kepuasan ibu hamil pada pelayanan antenatal care oleh bidan dengan motivasi melakukan

antenatal care” yang menyatakan bahwa Hasil analisa dari 12 responden dengan menggunakan analisis korelasi Spearman Rank, didapatkan hasil bahwa ρ hitung 0,67 dan harga ρ tabel 0,591 maka terlihat bahwa ρ hitung lebih besar dari ρ tabel yang berarti ada hubungan antara kepuasan ibu hamil pada pelayanan antenatal care oleh bidan dengan motivasi melakukan antenatal care di bidan tersebut.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti berasumsi bahwa semakin tinggi motivasi seseorang, maka semakin terdorong seseorang berperilaku yang baik berdasarkan dasar dari motivasinya.

3. Hubungan sosial ekonomi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar.

(13)

Dari hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan perilaku antenatal care pada ibu di Puskesmas Batua Raya Makassar. Semakin tinggi tingkat perekonomian seseorang maka semakin mudah mereka mendapatkan dan memenuhi kebutuhannya.

Maka hipotesa yang disajikan oleh peneliti dinyatakan diterima karena ada hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi dengan perilaku antenatal care

pada ibu. Demikian juga dengan nilai odds. Ratio menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang tinggi berpeluang 36.33 kali berperilaku Antenatal care yang baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah.

Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Soekanto (2008) yang menyatakan bahwa status sosial ekonomi orangtua sangat berdampak bagi pemenuhan kebutuhan keluarga dalam mencapai standar hidup yang sejahtera dan mencapai kesehatan yang maksimal. Status sosial ekonomi orangtua sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari untuk kepentingan tertentu, baik itu sandang, pangan, papan, kesehatan dan lain sebagainya.

Penelitian ini juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indiani Pratiwi (2012) yang dalam penelitiannya berjudul “Hubungan antara status ekonomi dengan keteraturan ANC di Puskesmas Batulenger Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang” yang menyatakan bahwa Hasil penelitian dari 57 responden hampir setengahnya (42,1%) berstatus ekonomi sedang, dan sebagian besar (52,6%) tidak teratur melakukan ANC. Hasil uji statistik korelasi

rank spearman didapatkan r = 0,000 < a sehingga H0 ditolak yang artinya ada hubungan antara status ekonomi dengan keteraturan kunjungan ante natal care.

Semakin rendah status ekonomi semakin tidak teratur ibu hamil melakukan kunjungan ANC.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti berasumsi bahwa perilaku

antenatal care sangat erat hubungannya dengan status sosial ekonomi seseorang. Apabila status ekonomi seseorang dalam keadaan yang baik, maka pemenuhan akan kebutuhan kesehatannya tidak akan menemui kesulitan.

KESIMPULAN

Kesimpulan

Berdasarkan tujuan penelitian dan hasil penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Batua Raya Makassar tentang “faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku antenatal care ibu hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar”, maka peneliti menarik kesimpulan antara lain sebagai berikut :

(14)

2. Ada hubungan antara motivasi dengan perilaku antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar

3. Ada hubungan antara status sosial ekonomi dengan perilaku antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Batua Raya Makassar.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan penelitian, maka peneliti memberikan saran antara lain sebagai berikut :

1. Kepada instansi terkait agar lebih meningkatkan lagi pelayanan kepada ibu hamil agar lebih termotivasi melakukan perilaku antental care.

2. Kepada pemberi layanan kesehatan seperti dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya agar tetap meningkatkan pemberian informasi kepada pasien khususnya dan masyarakat pada umumnya tentang antenatal care.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2012). Prepavelensi Ibu Hamil Menurut WHO.

(http://www.keperawatanindonesia.com), diakses tanggal 23 Maret 2013). Anonim. (2012). Human Development Indeks (http://www.depkes.go.id), diakses

tanggal 19 Maret 2013.

Anonim. (2009). Psikologi Pendidikan.(http:// Wordpress.com/ Sudrajat, A/Psikologi Pendidikan) di akses tanggal 13 Maret 2013.

Anonim, 2009. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (http :// sobatbaru.blogspot.com/2009) di akses tanggal 10 Maret 2013.

Depkes. (2009). Tentang Perngertian Perilaku. (http://www.skripsi.net), di akses tanggal 8 Maret 2013.

Depkes. (2006). Derajat Kesehatan Ibu Hamil. (http://www.skripsi.net), diaskes tanggal 10 Maret 2013.

Depkes. (2009). Pengertian Perilaku. (http://www.depkes.co.id), diakses tanggal 17 Maret 2013.

Depkes, 2008. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1). (http: // Ahmadsudrajat.wordpress.com/2009) diakses tanggal 13 Maret 2013.

Dora Desria, 2010. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Pemahaman

Ibu Hamil Terhadap Pesan Antenatal Care Yang Terdapat Dalam Buku KIA. Skirpsi tidak diterbitkan. Fakultas Kedokteran : Universitas Diponegoro.

Farrer, Helen. (2009). Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Fauziah, Siti. (2012). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Kehamilan. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Hutahean, Serri. (2011). Asuhan Keperawatan dalam Maternitas. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Hasbullah (2001), Penerapan Pendidikan. Jakarta: Salemba Medika.

Indriani Pratiwi, 2012. Hubungan antara status ekonomi dengan keteraturan ANC di Puskesmas Batulenger Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang.

Skripsi tidak diterbitkan. STIKES YARSIS.

Jannah, Nurul. (2012). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta: CV.

Andi Offset. (http:// Kemdiknas, Wikipedia Indonesia jenjang pendidikan) diakses tanggal 10 Maret 2013.

Marmi. (2011). Asuhan Kebidanan pada Masa Antenatal. Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Ngatimin (1987), Pengetahuan dan Komponen Perilaku, Yogyakarta.

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan

(16)

Nurwahidah, S. 2011. Hubungan Kepuasan Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care Oleh Bidan Dengan Motivasi Melakukan Antenatal Care. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Muhammadiyah Malang.

Purwaningsih, Wahyu. (2010). Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta.

Soekanto, 2008. Sosial, Ekonomi, Budaya & Kesehatan. PT Raja Grafindo persada : Jakarta

Sudrajat, A. 2009. Model Pendidikan Kesehatan. Fitramaya : Yogyakarta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Bandung : CV Alfabeta

Syardi, Muamar. (2010). Jenjang Pendidikan. (http: // Muamar syardi jenjang pendidikan). Diakses tanggal 20 Maret 2013.

Referensi

Dokumen terkait

KONTRIBUSI POWER TUNGKAI DAN KESEIMBANGAN DINAMIS TERHADAP HASIL DRIBBLE-SHOOT DALAM PERMAINAN FUTSAL.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

procurement of bOPV for use after the switch, conducting inventories of tOPV and adjusting procurement of tOPV supplies prior to the switch, developing and

The National Notifiable Disease Reporting System (NNDRS) collects basic information for all JE cases. Detailed epidemiological and laboratory testing results of JE

The measles elimination and rubella/CRS control goal may be reached if four strategic objectives are achieved: (1) achieve and maintain at least 95% population immunity with two

Berdasarkan fenomena di atas, peneliti merasa tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai “ studi komparasi pendidikan kesehatan multimedia pembelajaran dan metode

Pada bab ini penulis menjelaskan secara rinci metode penelitian yang digunakan, tahapan serta proses pengumpulan data yang berkaitan dengan judul ” seni lukis

Berdasarkan masalah yang sudah diuraikan, dikembangkanlah sistem informasi monitoring pekerjaan kantor konsultan pajak I Gede Arianta yang bisa digunakan oleh kantor

Pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) belum sepenuhnya 100% terealisasi khususnya untuk kawasan pesisir kabupaten Bantul, ini terlihat dari ada beberapa poros