MAKALAH KONSEP KEPERAWATAN JIWA
MASYARAKAT
DISUSUN OLEH :
Haifa Alya Azahra (211115017) Gusti Dwi Lingga ( Sinta Karika Sari (211115021)
Merliani (
Regita Agustina (211115025) Peggy Pebriani (211115031) Tira Nur Aprilliana (211115034)
Fitri Laelasari (211115012) Violeta Regina Kalitow (211115028)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES
JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kita panjatkan tahmid bagi keagungan asma Allah SWT
dalam shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau yang memberikan
inspirasi dan sumber keteladanan bagi orang-orang yang mengharapkan
keridhaan-nya, dan semoga kita semua menjadi golongan hamba yang sholih amiin.
Sebagai ungkapan rasa syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat beserta karunia-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan tugas
tentang “Konsep Keperawatan Jiwa Masyarakat” semoga tugas ini dapat
bermanfaat bagi kita semua dunia akhirat.
Cimahi, September 2017
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kesehatan jiwa masyarakat telah menjadi bagian dari masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai masalah multi-dimensional yang masih dan akan terus dihadapi masyarakat menyangkut masalah ekonomi, bencana alam, wabah penyakit merupakan factor pencetus terjadinya masalah pada kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Masalah kesehatan jiwa di masyarakat dampaknya sangat luas dan kompleks. Meskipun secara tidak langsung menyebabkan kematian, namun akan mengakibatkan si penderita gangguan jiwa menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga dan lingkungan masyarakat di sekitarnya
Definisi kesehatan jiwa menurut UU no.3 1966 tersebut adalah keadaan jiwa yang sehat . mengenai usaha- usaha kesehatan jiwa dan penanganan penakit jiwa diusahakan oleh pemerintah atau badan swasta dengan mengikutsertakan masyarakat dalam usaha- usaha kesehatan jiwa (promotif , preventif, kuratif, rehabilitative)
Masalah kesehatan mental sering terjadi di masyarakat. Masalah kesehatan mental yang terjadi di masyarakat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor makrososial dan makroekonomi. Pemerintah terus melakukan dan memperbaiki peraturan yang berkaitan dengan faktor-faktor tersebut. Hanya saja terkadang pemerintah sebagai pembuat dan perancang peraturan tidak sadar akan konsekuensi peraturan yang mereka buat terhadap kesehatan mental masyarakat. Faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi kesehatan mental masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, terjadinya konflik yang berkepanjangan, dll. Faktor kemiskinan mempengaruhi kesehatan mental masyarakat dikarenakan tekanan-tekanan dalam menjalani hidup, seperti kesulitan untuk memenuhi keperluan hidup, tekanan dari lingkungan sosial terkait dengan penerimaan dari lingkungan sekitarnya, kemudian dari segi kesehatan, kesulitan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak bagi mereka juga membuat semakin parahnya gangguan yang mereka alami.
Pengangguran juga menjadi salah satu hal yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan mental. Hal ini disebabkan oleh penilaian negatif dari masyarakat terhadap orang-orang yang belum memperoleh pekerjaan, selain itu juga tuntutan atau desakan dari orang-orang terdekat yang membuat orang tersebut semakin tertekan dan menimbulkan gangguan psikologis dalam dirinya. Untuk mengatasinya diperlukan program preventif dan promosi kesehatan mental kepada masyarakat.
B. Tujuan penulisan
1. Untuk memenuhi tugas pada matakuliah Keperawatan Komunitas III dan untuk mengetahui
pengertian atau definisi Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat
2. Untuk mengetahui Faktor- factor yang mempengaruhi Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat
3. Untuk mengetahui masalah- masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan Konsep Kesehatan Jiwa
Masyarakat
4. Untuk mengetahui upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan Konsep Kesehatan Jiwa
Mayarakat
C. Manfaat penulisan
1. Untuk mahasiswa menambah pengetahuan mahasiswa tentang kesehatan jiwa masyarakat
2. Untuk intitusi sebagai bahan referensi
BAB II
KONSEP KESEHATAN JIWA MASYARAKAT
A. Definisi
Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari fisik mental dan social yang memungkinka setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan menurut WHO (2005) kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang lengkap dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Dari dua defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk dikatakan sehat, seseorang harus berada pada suatu kondisi fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan,seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stres yang terjadi sehari-hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas.
Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan atau bagian integral dan merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Kesehatan jiwa menurut UU No 23 tahun 1996 tentang kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan secara selaras dengan keadaan orang lain. Selain dengan itu pakar lain mengemukakan bahwa kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia. Dengan kata lain, kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang, mempunyai perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Sumiati dkk, 2009)
Kesehatan jiwa meliputi :
1) Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
2) Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
3) Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari – hari
Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa & sosial yang berorientasi kepada masyarakat dengan mengutamakan pendekatan masyarakat.
Pelayanan Keperawatan yang komprehensif yaitu pelayanan yang difokuskan pada: a. Pencegahan primer pada anggota masyarakat yang sehat.
b. Pencegahan sekunder pada anggota masyarakat yang mengalami masalah psikososial &
gangguan jiwa.
c. Pencegahan tersier pada klien gangguan jiwa dengan proses pemulihan
Pelayanan keperawatan yang holistic yaitu pelayanan yang difokuskan pada aspek bio-psiko-sosio-kultural & spiritual. Perawatan mandiri Individu dan keluarga :
a. Masyarakat baik individu maupun keluarga diharapkan dapat secara mandiri memelihara
kesehatan jiwanya.
b. Pada saat ini sangat penting pemberdayaan keluarga
c. Perawat dan petugas kesehatan lain dapat mengelompokkan masyarakat dalam masyarakat sehat
jiwa, masyarakat yang mempunyai masalah psikososial, masyarakat yang mengalami gangguan jiwa
Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitative.
B. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat
Beberapa factor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat
1. Faktor Kesadaran masyarakat
Keikutsertaan dalam suatu kegiatan pembangunan bukan timbul begitu saja akan tetapi karena adanya yang mendorong untuk berpartisipasi . salah satu adalah factor kesadaran masyarakat itu sendiri
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik , durasi dan tujuan yang baik disadari ataupun tidak disadari . Kesadaran dari diri sendiri untuk tetap mempertahankan kesehatan merupakan hal penting untuk meningkatkan kesejahteraan hidup seseorang individu agar dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk masyarakat .
2. Factor pendidikan
Salah satu factor yang menyebabkan terjadinya perubahan adalah factor pendidikan . jika dihubungkan tingkat pendidikan dengan partisipasi masyarakat , maka kenyataan menunjukan adanya hubungan yang erat . masyarakat yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki tingkat kemauan yang tinggi untuk melakukan kegiatan –kegiatan pembangunan .
3. Faktor pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan berperan penting untuk menjalankan konsep kesehatan jiwa masyarakat . Tujuan pelayanan kesehatan jiwa yaitu untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan klien dan dalam memelihara kesehatan jiwa . Pelayanan Kesehatan Jiwa Masyarakat :
Ø Tim kesehatan terdiri atas : psikiater, psikolok klinik dan perawat jiwa
Ø Tim berkedudukan di tingkat Dinas Kesehatan kabupaten / kota
Ø Tim bertanggung jawab terhadap program pelayanan kesehatan jiwa di daerah pelayanan
kesehatan kabupaten / kota
Ø Tim bergerak secara periodik ke tiap puskesmas untuk konsultasi, surveisi, monitoring dan
evaluasi
Ø Pada saat tim mengunjungi puskesmas, maka penanggung jawab pelayanan kesehatan jiwa &
komunitas di puskesmas akan : mengkonsultasikan kasus-kasus yang tidak berhasil atau melaporkan hasil dan kemajuan pelayanan yang telah dilakukan
Unit pelayanan Kesehatan Jiwa di RSU :
a. Rumah sakit Umum daerah pada tingkat kabupaten / kota diharapkan mampu menyediakan
pelayanan rawat inap bagi klien gangguan jiwa dengan jumlah tempat tidur terbatas sesuai dengan kemampuan
b. Sistem rujukan dari puskesmas / tim kesehatan jiwa masyarakat kabupaten / kota ke rumah sakit
umum harus jelas Rumah Sakit Jiwa :
a. Rumah sakit jiwa merupakan pelayanan spesialistik kesehatan jiwa yang difokuskan pada klien
gangguan jiwa yang tidak berhasil di rawat di keluarga/puskesmas/ RSU
b. Pasien yang telah selesai di rawat di RSJ dirujuk lagi ke puskesmas. Penanggung jawab
pelayanan kesehatan jiwa masyarakat di puskesmas bertanggung jawab terhadap lanjutan asuhan di keluarga
Upaya promotif yang dimaksud merupakan suatu rangkaian atau kegiatan penyelenggaraan pelayanan kesehatan jiwa yang bersifat promosi kesehatan jiwa .
Upaya promotif dilaksanakan dilingkungan : a. Keluarga
Upaya promotif di lingkungan keluarga dilaksanakan dalam bentuk pola asuh dan pola komunikasi dalam keluarga yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang sehat a. lembaga pendidikan dilakukan untuk
Ø menciptakan suasana belajar-mengajar yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan
jiwa; dan
Ø keterampilan hidup terkait Kesehatan Jiwa bagi peserta didik sesuai dengan tahap
perkembangannya b. tempat kerja
Dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai Kesehatan Jiwa, serta menciptakan tempat kerja yang kondusif untuk perkembangan jiwa yang sehat agar tercapai kinerja yang optimal.
c. Masyarakat
Dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai Kesehatan Jiwa, serta menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan jiwa yang sehat
penanganan gangguan jiwa di masyarakat dan fasilitas pelayanan di bidang Kesehatan Jiwa; Ø pemahaman yang positif mengenai gangguan jiwa dan ODGJ dengan tidak membuat program
pemberitaan, penyiaran, artikel, dan/atau materi yang mengarah pada stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODGJ; dan
Ø pemberitaan, penyiaran, program, artikel, dan/atau materi yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan Kesehatan Jiwa
f. lembaga keagamaan dan tempat ibadah; dan
g. lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan
a. keluarga;
b. lembaga; dan
c. masyarakat
4. Faktor keadaaan Sosial
Pemerintah telah menyediakan konsep kesehatan jiwa masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan mutu kesehatan jiwa masyarakat . Namun upaya pemerintah tidak akan terealisasi jika keadaan lingkungan tersebut tidak bisa dijangkau . untuk itu Lingkungan tempat tinggal berpengaruh dalam pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat . Status kesehatan masyarakat dan cakupan pelayanan kesehatan masih rendah . Masyarakat secara umum belum mempunyai pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan kondisi lingkungan yang kurang baik .Penggunaan fasilitas kesehatan di daerah terpencil yang tidak memadai yang dipengaruhi oleh askses jarak . namun bukan hanya disebabkan oleh jarak tapi terdapat dua factor yaitu determinan penyediaan yang merupakan factor pelayanan dan determinan permintaan yang merupakan factor pengguna . Determinan penyediaan meliputi infrastruktur fisik , tempat pelayanan, ketersediaan ,pemanfaatan dan distribusi petugas , biaya pelayanan serta mutu pelayanan . sedangkan determinan permintaan meliputi rendahnya pendidikan dan factor social budaya masyarakat serta tingkat pendapatan yang rendah atau miskin
Pemerintah Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur tentang kesehatan mental, yaitu Undang-Undang Nomor 3 tahun 1966 mengenai kesehatan jiwa. Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan pengertian kesehatan jiwa adalah satu kondisi yang memungkinkan perkembangan physik, intelektuil dan emosionil yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang-orang lain. Dalam pasal 2, juga ditegaskan bahwa usaha-usaha kuratif maupun preventif demi kepentingan penderita penyakit jiwa adalah tugas pemerintah.
Pemeliharaan kesehatan jiwa, disebutkan bahwa usaha-usaha pemeliharaan kesehatan jiwa pemerintah meliputi:
a) Memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak;
b) menggunakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan
bakat dan kemampuannya;
c) perbaikan tempat kerja dan suasana kerja dalam perusahaan dan sebagainya sesuai dengan ilmu
kesehatan jiwa
d) mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan
masyarakat
Dalam penerapannya di masyarakat, program preventif dalam kesehatan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut Commission on Chronic Illness (1957) dalam Psikologi Klinis (2007) terdapat tiga tingkat program prevensi yaitu: prevensi primer, prevensi sekunder, dan prevensi tersier.
- Prevensi primer bertujuan untuk mengurangi terjadi gangguan mental pada masyarakat secara
umum atau individu.
- Prevensi sekunder bertujuan untuk mengurangi durasi atau meringankan gangguan yang sudah
mulai terjadi.
- Prevensi tersier bertujuan untuk mengurangi efek dari gangguan yang sudah berkembang dan
mencegah kekambuhan. (Sundberg, 2007)
Upaya kuratif merupakan kegiatan pemberian pelayanan kesehatan terhadap ODGJ yang mencakup proses diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat sehingga ODGJ dapat berfungsi kembali secara wajar di lingkungan keluarga, lembaga, dan masyarakat.
C. Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan konsep kesehatan jiwa pada masyarakat 1. Kurangnya pengetahuan masyarakat
Keberadaan pasien gangguan jiwa di tengah- tengah masyarakat sampai saat ini masih belum mendapat tempat seperti orang normal . penderita gangguan jiwa sering dianggap mengganggu keberadaan orang lain . kondisi tersebut dapat disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan serta sikap individu maupun masyarakat dalam menilai pasien gangguan jiwa . Akibatnya keterlambatan dalam penanganan pasien gangguan jiwa terjadi dan menyebabkan bertambahnya jumlah penderita sakit jiwa dimasyarakat
2. Minimnya fasilitas penunjang kesehatan
Kesehatan jiwa masih menjadi persoalan serius di Indonesia . data riset kesehatan 2013 mencatat prevelensi gangguan jwa berat di Indonesia mencapai 1,7 miliar . artinya 1-2 orang dari 1000 penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat . hal ini diperburuk dengan minimnya pelayanan kesehatan jiwa di Negara Indonesia sehingga banyak penderita gangguan kesehatan mental yang belum tertangani dengan baik .
3. Fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau
Keterjangkauan fasilitas kesehatan atau pelayanan kesehatan dan jaringannya di daerah terpencil masih rendah meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pemenuhan sarana prasarana . Masalahnya berada pada jarak tempat tinggal pengguna dari tempat pelayanan, kekurangan alat-alat dan persediaan di tempat pelayanan , kekurangan dana dan biaya transportasi dan kekurangan dana untuk biaya pengobatan
D. Upaya pemecahan masalah pada pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat 1. Dilakukannya pemberdayaan untuk masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan untuk lebih meningkatkan mutu kesehatan jiwa masyrakat . baik pemberdayaan untuk masyarakat sendiri , tokoh masyarkat maupun profesi kesehatan .
2. Pelatihan kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan jiwa
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup
semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitative
2. Faktor- factor yang mempangaruhi pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat yaitu
Ø Factor kesadaran masyarakat
Ø Factor pendidikan
Ø Factor pelayanan kesehatan
Ø Faktor keadaan social
3. Masalah – masalah yang dihadapi pada pelaksanaan konsep kesehatan jiwa masyarakat
Ø Kurangnya pengetahuan masyarakat
Ø Minimnya fasilitas penunjang pengobatan
Ø Fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau
4. Upaya pemecahan masalah pada pelaksanaan konsep kesehatan jiwa
Masyarakat
Ø Pemberdayaan masyarakat
Ø Pelatihan kesehatan jiwa bagi tenaga kesehatan masyarakat
B. Saran
1. Untuk mahasiswa diharapkan bisa menguasai materi tentang konsep kesehatan jiwa masyarakat
2. Untuk institusi
3. Untuk pemerintah melalui tenaga ahlinya diharapkan tidak hanya membuat programnya tetapi
harus ada realisasi yang benar- benar nyata transparan dantepat sasaran
4. Untuk dosen mata kuliah kiranya dapat selalu membimbing mahasiwa dalam pembelajaran
mengenai mutu kesehatan jiwa pada masyarakat