pemikiran politik indonesia yang 1

16 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

NAMA : IBNU SYUJA’I SYAKURO FAKULTAS : FISIP

NIM : 130565201134 UNIVERSITAS : UMRAH

PRODI : ILMU PEMERINTAHAN

PEMIKIRAN POLITIK INDONESIA

Pemikiran politik soekarno

Pada tanggal 17 Mei 1956 Presiden Soekarno Mendapat Kehormatan Untuk Menyampaikan Pidato Di Depan Kongres Amerika Serikat Dalam Rangka Kunjungan Resminya Ke Negeri Tersebut. Sebagaimana Dilaporkan Dalam Halaman Pertama New York Times Pada Hari Berikutnya, Dalam Pidato Itu Dengan Gigih Soekarno Menyerang Kolonialisme. Perjuangan Dan Pengorbanan Yang Telah Kami Lakukan Demi Pembebasan Rakyat Kami Dari Belenggu Kolonialisme,” Kata Bung Karno, “Telah Berlangsung Dari Generasi Ke Generasi Selama Berabad-Abad.” Tetapi, Tambahnya, Perjuangan Itu Masih Belum Selesai. “Bagaimana Perjuangan Itu Bisa Dikatakan Selesai Jika Jutaan Manusia Di Asia Maupun Afrika Masih Berada Di Bawah Dominasi Kolonial, Masih Belum Bisa Menikmatikemerdekaan.

Menarik Untuk Disimak Bahwa Meskipun Pidato Itu Dengan Keras Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme, Serta Cukup Kritis Terhadap Negara-Negara Barat, Ia Mendapat Sambutan Luar Biasa Di Amerika Serikat (AS). Namun, Lebih Menarik Lagi Karena Pidato Itu Menunjukkan Konsistensi Pemikiran Dan Sikap-Sikap Bung Karno. Sebagaimana Kita Tahu, Kuatnya Semangat Antikolonialisme Dalam Pidato Itu Bukanlah Merupakan Hal Baru Bagi Bung Karno. Bahkan Sejak Masa Mudanya, Terutama Pada Periode Tahun 1926-1933, Semangat Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme Itu Sudah Jelas Tampak. Bisa Dikatakan Bahwa Sikap Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme Soekarno Pada Tahun 1950-An Dan Selanjutnya Hanyalah Merupakan Kelanjutan Dari Pemikiran-Pemikiran Dia Waktu Muda.Tulisan Berikut Dimaksudkan Untuk Secara Singkat Melihat Pemikiran Soekarno Muda Dalam Menentang Kolonialisme Dan Imperialisme-Dan Selanjutnya Elitisme-Serta Bagaimana Relevansinya Untuk Sekarang.

 Antikolonialisme Dan Anti-Imperialisme

(2)

Sebagai Sistem Yang Motivasi Utamanya Adalah Ekonomi, Soekarno Percaya, Kolonialisme Erat Terkait Dengan Kapitalisme, Yakni Suatu Sistem Ekonomi Yang Dikelola Oleh Sekelompok Kecil Pemilik Modal Yang Tujuan Pokoknya Adalah Memaksimalisasi Keuntungan. Dalam Upaya Memaksimalisasi Keuntungan Itu, Kaum Kapitalis Tak Segan-Segan Untuk Mengeksploitasi Orang Lain. Melalui Kolonialisme Para Kapitalis Eropa Memeras Tenaga Dan Kekayaan Alam Rakyat Negeri-Negeri Terjajah Demi Keuntungan Mereka. Melalui Kolonialisme Inilah Di Asia Dan Afrika, Termasuk Indonesia, Kapitalisme Mendorong Terjadinya Apa Yang Ia Sebut Sebagai Exploitation De L’homme Par L’homme Atau Eksploitasi Manusia Oleh Manusia Lain.

Soekarno Menentang Kolonialisme Dan Kapitalisme Itu. Keduanya Melahirkan Struktur Masyarakat Yang Eksploitatif. Sebagai Suatu Sistem Yang Eksploitatif, Kapitalisme Itu Mendorong Imperialisme, Baik Imperialisme Politik Maupun Imperialisme Ekonomi. Tetapi Soekarno Muda Tak Ingin Menyamakan Begitu Saja Imperialisme Dengan Pemerintah Kolonial. Imperialisme.

 Anti-Elitisme

Selain Kolonialisme Dan Imperialisme, Di Mata Soekarno Ada Tantangan Besar Lain Yang Tak Kalah Pentingnya Untuk Dilawan, Yakni Elitisme. Elitisme Mendorong Sekelompok Orang Merasa Diri Memiliki Status Sosial-Politik Yang Lebih Tinggi Daripada Orang-Orang Lain, Terutama Rakyat Kebanyakan. Elitisme Ini Tak Kalah Bahayanya, Menurut Soekarno, Karena Melalui Sistem Feodal Yang Ada Ia Bisa Dipraktikkan Oleh Tokoh-Tokoh Pribumi Terhadap Rakyat Negeri Sendiri.

Kalau Dibiarkan, Sikap Ini Tidak Hanya Bisa Memecah-Belah Masyarakat Terjajah, Tetapi Juga Memungkinkan Lestarinya Sistem Kolonial Maupun Sikap-Sikap Imperialis Yang Sedang Mau Dilawan Itu. Lebih Dari Itu, Elitisme Bisa Menjadi Penghambat Sikap-Sikap Demokratis Dalam Masyarakat Modern Yang Dicita-Citakan Bagi Indonesia Merdeka.

(3)

Pemikiran politik m. natsir

Agama, menurut menurut Natsir harus dijadikan pondasi dalam mendirikan suatu negara. Agama, bukanlah semata-mata suatu sistem peribadatan antara makhluk dengan Tuhan Yang Maha Esa. Islam itu adalah lebih dari sebuah sistem peribadatan. Ia adalah satu kebudayaan/peradaban yang lengkap dan sempurna.

Yang dituju oleh Islam ialah agar agama hidup dalam kehidupan tiap-tiap orang, hingga meresap dalam kehidupan masyarakat, ketatanegaraan, pemerintah dan perundang-undangan. Tapi adalah ajaran Islam juga, bahwa dalam soal-soal keduniawian, orang diberi kemerdekaan mengemukakan pendirian dan suaranya dalam musyawarah bersama, seperti dalam firman Allah SWT.: “Dan hendaklah urusan mereka diputuslan dengan musyawarah!”.

Natsir memang mencoba menjawab kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat Islam, dengan dasar pemikiran, bahwa ajaran Islam sangat dinamis untuk diterapkan pada setiap waktu dan zaman. Dari sudut ini, ia jauh melampaui pemikiran Maududi atupun Ibu Khaldun yang melihat sistem pemerintahan Nabi Muhammad SAW dan khalifah yang empat, sebagai satu-satunya alternatif sistem pemerintahan negara Islam.

Kedinamisan pemikiran-pemikirannya itu dituangkan dalam beberapa periode. Setidaknya ada tiga periode pemikiran yang menjadi pokok utama pemikiran Natsir. Yaitu periode 1930-1940, periode pasca kemerdekaan, dan periode konstituante. Berbicara tentang negara, Natsir berpendapat bahwa negara adalah suatu ‘institution’ yang mempunyai hak, tugas dan tujuan yang khusus. Institution adalah suatu badan, organisasi yang mempunyai tujuan khusus dan dilengkapi oleh alat-alat material dan peraturan-peraturan tersendiri serta diakui oleh umum. Negara harus mempunyai akar yang langsung tertanam dalam masyarakat. Karena itu, dasar pun harus sesuatu faham yang hidup, yang dijalankan sehari-hari, yang terang dan dapat dimengerti dalam menyusun hidup sehari-hari, yang terang dan dapat dimengerti dalam menyusun hidup sehari-hari rakyat perorangan maupun kolektif.

Maka di dalam menyusun suatu UUD bagi negara, dan untuk mencapai hasil yang memuaskan, perlulah bertolak dari pokok pikiran yang pasti, yakni UUD bagi negara Indonesia harus menempatkan negara dalam hubungan yang seerat-eratnya dengan masyarakat yang hidup di negeri ini. Tegasnya, UUD negara itu haruslah berurat dan berakar dalam kalbu, yakni berurat berakar dalam akal pikiran, alam perasaan dan alam kepercayaan serta falsafah hidup dari rakyat dalam negeri ini. Dasar negara yang tidak memenuhi syarat yang demikian itu, tentulah menempatkan negara terombang-ambing, labil dan tidak duduk di atas sendi-sendi yang pokok.

Pemikiran politik K.H Ahmad Dahlan

(4)

Latar belakang situasi dan kondisi tersebut telah mengilhami munculnya ide pembaharuan Dahlan. Ide ini sesungguhnya telah muncul sejak kunjungannya pertama ke Mekkah. Kemudian ide itu lebih dimantapkan setelah kunjungannya yang kedua. KH Ahmad Dahlan pergi ke Mekah dua kali, pertama selama 8 bulan (setelah menikah dengan Siti Walidah binti Haji Fadhil), dan yang kedua pada tahun 1903 dengan anaknya, Muhammad Siraj Dahlan. Yang kedua ini ia bermukim selama satu tahun. Sepulangnya ia dirikan asrama untuk mengajar, murid-muridnya berdatangan dari Yogya maupun luar Yogya (antara lain Pekalongan, Batang, Magelang, Semarang, Solo).

Ada perbedaan menarik mengenai cara mengajarnya, ketika belum berangkat ke Mekah yang kedua, KH Ahmad Dahlan masih mengajarkan kitab-kitab kalangan “ahlussunah wal jamaah” berupa kitab aqaid, fikih dalam mahzab Syafi’i dan tasawuf dari Imam al-Ghazali. Namun, setelah berangkat yang kedua kali ke Mekah, kitab-kitab yang dibaca adalah kitab-kitab berisi pembaharuan keagamaan. Diantara kitab-kitab yang sering dibaca antara lain; Risalat at-Tauhid (Muhammad Abduh), Tafsir Juz Amma (sama), Dariat al Marif (Farid Wajdi), Al Tasawul wa al Wasilah (Ibnu Taimiyyah), dll.

Dapat dikatakan disinilah mulai munculnya pergeseran pemikiran. Pergeseran ini memiliki beberapa faktor-faktor penyebab tentunya, selain buku-buku yang dia bawa tersebut. Secara umum, ide-ide pembaharuan Ahmad Dahlan menurut Ramayulis dan Samsul Nizar dapat diklasifikasikan kepada dua dimensi, yaitu; Pertama, berupaya memurnikan (purifikasi) ajaran Islam dari khurafat, tahayul, dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam. Kedua, mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.

Ide-ide pembaharuan tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan. Menurut Ahmad Dahlan pendidikan juga merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Jadi berarti pola pemikiran Ahmad Dahlan hampir sama dengan pola pemikiran Mohammad Abduh. Menurut Abduh bahwa revolusi dalam bidang politik tidak akan ada artinya, sebelum ada perubahan mental secara besar-besaran dan dilalui secara berangsur-angsur atau secara evolusi. Tegasnya bagi Muhammad Abduh dalam rangka memperjuangakn terwujudnya ’izzul Isalam wal muslimin di samping umat Islam harus berani merebut kekuasaan politik kenegaraan, maka terlebih dahulu yang perlu dibenahi adalah memperberbaharui sember-sumber para mujaddin dan ulama.

(5)

Ahmad Dahlan, fokus paling penting dalam pemikirannya adalah pendidikan. Maka itu Muhammadiyah pertamanya dirintis dari sekolah yang ia dirikan, dan hingga kini banyak sekali sekolah Muhammadiyah yang terdapat di Indonesia.

Untuk mewujudkan ide pembaharuannya di bidang pendidikan, maka Dahlan merasa perlu mendirikan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal. Apa yang dilakukannya merupakan sesuatu yang masih cukup langka dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam pada waktu itu. Di sini, ia menggabungkan sistem pendidikan Belanda dengan sistem pendidikan tradisonal secara integral. Ada satu hal yang cocok untuk mencari sebab mengapa KH. Ahmad dahlan tergelitik untuk melakukan pembaharuan pemikiran, dalam hal ini dikaitkan dengan hal yg lebih spesifik, yakni masalah sosial. Menurut keterangan yg diperoloh dr biografinya, KH Ahmad Dahlan sangat gemar membaca, termasuk majalah-majalah berbahasa arab seperti majalah Al Manar dan Al Urwatul Wutsqa yg diperoleh dr hasil selundupan dari pelabuhan Tuban, Jawa Timur.

Dia tidak memiliki peribadi pemberontak dan cenderung lurus-lurus saja semasa mudanya tapi dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan terampil. Dan mempertimbangkan usianya yang baru 36 tahun, mungkin mempengaruhi pula pemikirannya yang masih mudah menerima unsur-unsur baru. Pemikirannya terpengaruh banyak oleh reformis Timur Tengah. Malahan ada keterangan bahwa KH Ahmad Dahlan sempat bertemu langsung pada Sayid Rasyid Ridha tatkala di Mekah dan sejak itu ia membaca karya-karya Abduh, Ridha, Ibnu, dll. Jika KH Ahmad Dahlan tidak mengambil seluruh substansinya, maka setidaknya ia telah mengambil spiritnya.

Mempertimbangkan keadaan di ambang awal abad 20 itu, hampir semua kelompok agama berada dalam keadaan yang stagnan. Belum majubya pendidikan dan tekanan dari pihak Belanda melatarbelakangi hal tersebut. KH Ahmad Dahlan mengalami kegelisahan, yang cenderung tidak muncul dikalnagan umat yang lain. Disebut kegelisahan karena tindakannya yang mengarah pada hal-hal sosial yang peduli umat dan tampak pula dalam renungannya tentang kematian. Setelah ditelusuri secara seksama, setidaknya terdapat tiga faktor minor KH Ahmad Dahlan terinspirasi. Ketiga faktor tersebut adalah; renungan tentang kematian sebagai pendorong beramal saleh, beragama harus menyapa kehidupan, dan tauhid sebagai semangat dalam menerjemahkan kehidupan. KH Ahmad Dahlan merasakan dan menuliskan renungan mengenai keadaan setelah mati dan kegelisahan serta kekhawatiran yang ia rasakan.

Sedangkan untuk yang kedua, ia menuliskan pemikirannya tentang peran agama dalam kehidupan. Menurutnya agama seharusnya bukan hanya sekadar menjadi ritual tapi benar-benar dipahami sebagai pegangan hidup.

“Agama itu pada mulanya bercahaya berkilauan, akan tetapi semakin lama semakin suram. Namun yang suram itu bukan agmanya melankan manusianya” KH Ahmad Dahlan

(6)

keseharian, diantaranya dengan membaca tafsir. Ia tidak menyukai keadaan umat yang sering melakukan pengajian yang hanya mengaji dalam bahasa arabnya, tanpa mengerti artinya.

Menurutnya, umat haruslah mengerti arti dari Al Qur’an. Dan yang terakhir, arti tauhid menurut KH Ahmad Dahlan adalah persaudaraan berdasar ketunggalan akidah dan syariah dan persaudaraan kemanusiaan. Yang pertama berarti memegang teguh akidah ketuhanan yang maha esa, tapi menjaga ukhuwah islamiyah. Disini berarti menghormati yang lain. Terdapat tataran yang berbeda dalam syariah bukanlah suatu yang besar dan bermasalah dalam kelompok-kelompok dalam umat. Selama akidah ketuhanan tidak bisa lain, hanya menyembah Allah swt. Sedangkan untuk arti dari persaudaraan kemanusiaan, lebih kepada nilai sosial, yang berarti menunjukkan keinginan untuk menghadirkan kesejateraan bersama bagi umat.

Pemikiran politik H.O.S. Tjokroaminoto

Dalam beberapa tulisan, terutama tulisan Humaidi mengenai pemikiran Tjokroaminoto, maka ada dua perbedaan antara pemikiran Tjokroaminoto pada masa sebelum dan sesudah berumur 40 tahun, atau lebih tepatnya ketika ia keluar dari penjara kolonial. Humaidi sendiri membagi masa ini menjadi masa “Tjokro Muda” dan “Tjokro Tua”. Digambarkan bahwa “Tjokro Muda” adalahTjokro yang bersemangat, dan melihat Islam sebagai alat untuk memperjuangkan nasionalisme, memperjuangkan persatuan nasional. Sementara “Tjokro Tua” adalah Tjokro yang mulai berpikir secara dikotomis yaitu membedakan Islam dan komunisme sebagai bagian terpisah dalam menafsirkan nasionalisme.

“Tjokro Muda” memiliki kecenderungan menjadikan Islam sebagai tali pemersatu di organisasi SI dan untuk mengangkat derajat kaum bumiputera secara sah. Untuk mengejar ketertinggalan kaum bumi putera, Tjokro juga tidak lupa menuturkan cerita Subali dan Sugriwa yang mencari Cupu Manik Astragino. Dalam cerita tersebut, digambarkan mengenai Subali dan Sugriwa yang siap mati untuk mendapatkan senjata itu. Tentu, penceritaan ini adalah sebuah ajakan simbolik, dengan menggunakan pendekatan “world view”masyarakat Jawa. Cupu diartikan sebagai adalah lambang kemajuan, sedang Subali dan Sugriwa adalah merujuk kepada kaum bumi putera yang sedang mengejar kemajuan, yang bersedia mengorbankan diri demi sebuah cita-cita. Arti penting dari pemaparan ini menunjukkan beberapa hal. Pertama, kadar pemahaman Tjokro mengenai Islam tidaklah mendalam, cenderung biasa-biasa saja. Ia menjadikan Islam hanya sebatas klaim legitimasi, tetapi ia lupa mendasarkan klaimnya dari kitab apa, ayat apa. Kedua, terlihat watak sinkretis dalam pemahaman ke-Islaman Tjokro. Pada satu sisi ia mengambil pembenaran secara agama, tetapi pada sisi lain ia juga menyandarkan pada cerita wayang yang notabenenya bekas peninggalan budaya hinduisme-jawa yang membekas pada pemahaman golongan Islam abangan.

(7)

40 tahun dalam penjara, adalah daulat akan keberadaannya sebagai pemimpin pergerakan, sama dengan umur Nabi Muhammad ketika diangkat menjadi utusan Allah. Kedua, Setelah keluar dari penjara, ia berusaha untuk kembali ke CSI (Central Sarekat Islam) dan menarik pengikut dari kaum buruh. Usahanya ini gagal.

Tentunya, hal ini semakin menguatkan perspektif Tjokro bahwa untuk membangun nasionalisme dalam arti yang luas, tidak dapat dibangun dari sesuatu yang general. Nasionalisme harus dibangun atas dasar kesamaan, dan untuk itu diperlukan unsur pembeda guna membersihkannya dari unsur lain. Tjokro percaya hal itu adalah Islam. Pemahaman “baru” Tjokro mengenai Islam, secara substansial tampak dalam brosur “Sosialisme Di Dalam Islam”. Brosur ini, selain sebagai hasil kerja pikiran Tjokro, juga sebuah pembentukan opini dan upaya untuk menarik mereka yang sudah teracuni komunis untuk kembali kepada SI. Brosur tersebut berisikan beberapa hal pokok, yaitu perikemanusiaan sebagai dasar bangunan Islam, perdamaian, sosialisme dan persaudaraan. Islam sama dengan sosialisme karena tiga hal, yaitu unsur kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Dari segi isi, kelihatannya Tjokroaminoto sudah ingin memberi batasan antara Sosialisme Islam dan komunisme. Karena sosialisme Islam, menyandarkan kekuatannya kepada Allah.

Pada tahun 1922-1924, Tjokro aktif menjadi pemimpin dari Kongres Al-Islam yang disponsori oleh kaum modernis. Hal ini sebagai pembuktian mengenai kecenderungan pemahamannya tentang Islam sebagai sebuah ideologi. Selain itu, Tjokro juga bersemangat menanggapi isu kekhalifahan yang dikemukakan oleh Ibnu saud. Hal ini memperjelas bahwa pemikiran Tjokro telah dipengaruhi oleh ide-ide Pan-Islamisme. Pada akhirnya kecenderungan pan-Islamis semakin menguat dalam pemikiran Tjokro. Ketika muncul federasi PPPKI, PSI yang diketuai Tjokro sangat ingin muncul sebagai kekuatan yang menguasainya. Tjokro juga semakin keras berpidato mengenai dikotomi nasionalisme Islam dan sekuler. Kaum beragama, harus memilih organisasi yang didasarkan agama, tutur Tjokro. Arti dari gerakan Pan-Islamis Tjokro ini menyiratkan bahwa setidaknya yang dibayangkan Tjokro adalah sebuah nasionalisme, sebuah kebangsaan yang didasarkan semangat persatuan nasib. Islam maupun sekuler, dalam dikotomi ini, di akui sebagai unsur yang sedang berjuang demi nasionalisme.

Pemikiran politik karto suwiryo

Kartosuwiryo adalah seorang Tokoh Pejuang Islam Revolusioner yang dalam sejarah kita di catat dengan tinta agak kelam kalau tidak boleh dikatakan hitam. Namun setelah mendalami pemikirannya dari beberapa literatur sesungguhnya "Beliau" adalah seorang yang istiqomah(teguh pendirian) dan memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Islam. berikut pemikiran beliau (As-Syahid S. M. Kartosuwiryo) yang penulis kutip dari beberapa literatur. Negara Islam! Itulah cita-cita hakiki bagi Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SM Kartosuwiryo) bahkan untuk merealisasikan tujuan tersebut ia rela untuk diburu bahkan diberikan hukuman mati oleh pemerintah Soekarno pada saat itu. Kartosuwiryo sedemikian rupa memperjuangkan Negara Islam.

(8)

bahwa “sesuatu yang dikarenakan keberadaannya untuk menuju sesuatu yang telah diwajibkan maka keberadaannya menjadi wajib”. Karena itu keberadaan Negara Islam adalah wajib adanya dikarenakan dengan perantara Negara tersebut maka aturan–aturan mengenai syariat akan menjadi lebih sempurna.

Meskipun pada tahap awal perjuangannya dilakukan melalui perantara parlemen dengan menggunakan kendaraan partai seperti di PSII pada periode sebelum kemerdekaan dan Masyumi setelah di era awal–awal kemerdekaan, namun dikarenakan adanya kekecewaan yang sangat dalam pada diri Kartosuwiryo mengenai teman-temannya di parlemen, Kartosuwiryo kemudian berinisiatif untuk berjuang di luar parlemen. Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah dokumentasi yang disusun oleh majelis penerangan negara Islam bahwa Kartosuwiryo dilukiskan sebagai pribadi yang mempunyai intelektualitas tinggi, namun ia tak pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya karena ia selalu berada pada sebuah lingkungan orang-orang yang tujuan utamanya hanya untuk mengejar kekuasaan belaka. (“Darul Islam dan Kartosuwiryo”/Holk H Dengel). Hal tersebut diperburuk ketika Amir Syarifudin naik menjabat sebagai Perdana Menteri menggantikan Syahrir. Karena bagi Kartosuwiryo Amir Syarifudin merupakan musuh dalam selimut karena ia telah menjual Negara Indonesia (Pasundan) kepada para penjajah terutama ketika terjadi Perjanjian Renville.

 Jalan Menuju Sebuah Negara Islam

Selama hampir lima tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia memasuki masa-masa revolusi (1945–1950). Menyusul kekalahan Jepang dari sekutu, Belanda bermaksud untuk kembali menjajah Indonesia. Dan tak diragukan lagi bahwa yang diprioritaskan oleh para pendiri bangsa pada saat itu adalah kemampuan untuk memperahankan Republik Indonesia yang baru berdiri dan mencegah Belanda untuk kembali berkuasa. Bahkan setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah pada tahun 1949 kelompok Islam perlahan-lahan mulai memperlihatkan kekuatannya yang cukup besar melalui perantara partai politik Islam Masyumi, yang dibentuk pada bulan November 1945.

Untuk alasan itu sampai-sampai Syahrir, seorang pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri di era revolusi, menyatakan “Jika pemilihan umum dilaksanakan pada tahun-tahun tersebut, maka Masyumi yang pada saat itu merupakan gabungan dari kalangan muslim modernis seperti Muhammadiyah dan ortodoks seperti NU, dengan jumlah anggotanya lebih besar di daerah pedesaan akan memperoleh 80 persen suara. (“Islam dan Negara” /Bachtiar Effendy). Setelah memproklamirkan Negara tersebut Kartosuwiryo lebih memilih untuk tidak bekerja-sama dengan pihak manapun baik Belanda dan Republik, sehingga ia mulai mendemonstrasikan pengalamannya ketika ia membuat sikap politik hijrah PSII, bagi dia hanya ada dua tempat pilihan bagi manusia yaitu Darul Islam atau Darul Kufar.

Pemikiran politik soeharto

(9)

Ananta Toer menuturkan dua sosok yang diametral, dalam cerita yaitu Wiranggaleng dalam Arus Balik dan Minke dalam Bumi Manusia. Yang satu begitu hegemonik dalam melahap sebahagian besar porsi dari sebuah arus besar , yang satu merupakan noktah dari gambaran besar arus yang ada.

Dalam hal iniSoeharto terlanjur dilekatkan dengan kemampuannya melahap banyak saham dalam warna Orde Baru. Hal ini dapat dilihat pada analisis para Indonesianis maupun dalam negeri, bahkan Liddle mengistilahkannya dengan Soeharto deterministic. Berbeda dengan pendahulunya Soekarno yang lebih glamour dalam garis keturunan, Soeharto cenderung tidak menonjolkan silsilah keluarganya ke khalayak ramai. Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di dusun Kemusuk. Dia adalah seorang anak desa yang lahir dari keluarga petani miskin. Ibunya ialah Sukirah dan ayahnya ialah Kertosudiro. Penderitaan hidup sedari kecil membuatnya berhati- hati untuk bergantung pada orang lain dalam hal apa pun. Ia juga lebih menyukai hubungan dekat dengan beberapa orang saja dimana ia menjadi tokoh dominannya. Hal inilah yang sedikit banyak menjelaskan mengenai blok aliansi yang dipintal dan disulam oleh Soeharto sepanjang masa kekuasaannya. Soeharto naik ke tampuk kekuasaan tidak bisa dilepaskan dari perannya dalam usaha penumpasan PKI. Episode seputar perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto hingga saat ini masih menyisakan sekelumit misteri yang mengusik, mulai dari surat Supersemar, Gestapu yang terjadi, dan peran penting Soeharto dan lain sebagainya.

(10)

dimandulkannya politik aliran dan hegemoniknya Golkar dalam setiap kemenangan dalam sejarah pemilu Orde Baru. Stabilisasi politik ini menjadi permasalahan dikarenakan menimbulkan korban jiwa (seperti peristiwa Tanjung Priok,dll) dan mencederai jiwa demokrasi yang menghargai perbedaan pendapat .

Berbeda dengan Soekarno yang meluap- luap emosinya dalam pidato, figur Soeharto merupakan sosok yang kalem. Soeharto juga tidak meninggalkan kumpulan tulisan seperti halnya Mao, Ho Chi Minh, ataupun Mahathir. Yang menarik dari penuturan salah seorang teknokrat Orde Baru bahwa dalam beberapa tahun pertama ketika mereka bertemu Soeharto, ia akan duduk dan mendengarkan. Dengan menggunakan pulpen Parker gemuk, ia mencatat pada buku notes besar selagi mereka terus berbicara.

Namun, sang teknokrat ini menyatakan, bahwa setelah beberapa tahun, ketika ia cukup menguasai apa yang perlu ia ketahui, malah ia yang berbicara, dan giliran para teknokratlah yang mengeluarkan pena untuk mencatat apa- apa yang ia minta untuk dikerjakan.

Kemandirian Soeharto sedari kecil membawa imbas pada ketrampilan Soeharto dalam memimpin pemerintahan. Soeharto begitu leluasa untuk memikat dan memarginalisasikan kelompok maupun orang- orang di sekitarnya. Dalam lingkar kekuasaannya berdiri para teknokrat, pengusaha, petinggi militer, sebagai mesin patronase yang rumit yang memastikan bahwa semua pelaku dalam Orde Baru secara praktis terkompromikan dan berutang budi kepadanya sehingga mereka tidak memiliki ruang manuver politik. Kemampuannya dalam mengendalikan dan memilah kelompok yang akan dijadikan pendamping kekuasaannya memperlihatkan aksi politik yang unik bahkan dalam skala dunia sekalipun.

Dalam kaitannya dengan politik aliran, tradisionalisme Jawa juga mempengaruhi corak pemikiran dari Soeharto sepanjang pemerintahannya. Idiom- idom Jawa yang ditunjukkannya pada sejumlah kesempatan dan penghayatannya yang mendalam pada falsafah Jawa. Pada era 1990-an, pada dekade terakhir pemerintahannya terjadi perubahan signifikan pada diri Soeharto dengan memberikan akses lebih terbuka bagi kalangan muslim yang selama ini termarginalisasikan dalam kebijakannya. ICMI dan Muamalat dianggap representasi dari kekuatan sosial politik dan ekonomi ummat yang menjadi pertanda Soeharto di usianya yang kian menua mulai berusaha mendalami Islam dan tertarik pada Islam. Sekalipun begitu unsur budaya Jawa tidak lantas hilang sama sekali. Istilah lengser keprabon yang kemudian dipakai bagi pergantian pucuk RI 1 merupakan idiom Jawa. Terakhir, Soeharto merupakan dinamika yang unik dan teramat mewarnai corak Indonesia pada masanya dan masih kita rasakan gaungnya hingga sekarang. Diperlukan penilaian sejarah yang jernih dan kearifan untuk memaafkan sosok yang menyejarah ini.

Pemikiran politik tan malaka

(11)

komunis Indonesia tidak berdiri diatas itu, bagi mereka facisme jepang hanyalah merupakan satu tahap dari perkembangan kapitalisme, untuk itu facisme harus diperangi. Bagi Tan Malaka sikap facisme buta adalah bentuk ke-tidaknasionalisme-an. Bagi Tan Malaka revolusi Indonesia memiliki dua sisi, revolusi nasional adalah bingkainya dan revolusi social adalah isinya.

Jadi revolusi Indonesia tidaklah berhenti pada revolusi politik semata-mata, naumn harus dilanjutkan dengan emansipasi social sebagai kelanjutan revolusi tersebut. Melaui MADILOGnya pula, bisa ditunjukkan bahwa Tan Malaka berusaha mensintesakan Marxisme dalam konteks ke-indonesia-an, dengan melacak akar-akar kebangsaan dan kebudayaan masyarakat untuk kemudia diselaraskan dengan keyakinan politiknya, yaitu Murbaisme. Murbaisme dengan demikian tidak sama dengan komunisme. Atau lebih enaknya dikatakan Marxis-Nasionalis. Ia memiliki ciri khas dalam menuangkan ide-ide nasionalisme, yang membedakannya dengan tokoh-tokh yang lain.dalam pemikirannya terdapat konvergensi anatara ideology Marxisme, yang sebenarnya bersifat internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi rasa kebangsaan, dengan ideology nasionalisme yang memiliki ciri khas pada nation state.

Disamping itu, dalam MADILOG ia juga memperlihatkan penghargaannya terhadap islam. Islam sangat mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Islam diakuinya sebagai penerang obor dalam hidupnya. Selanjutnya kalau ia dikatakan seorang komunis, tetapi mengapa ia begitu menekankan aspek persatuan diantara sesama warga bangsa apapun afiliasi politik maupun ideologinya, mengapa ia tidak berjuang untuk perjuangan kelas yang menjadi bagian penting dalam teori Marxis-Leninis. Dan yang lebih mencolok lagi adalah mengapa ia ber-Tuhan?, hal itu dibuktikannya ketika ibunya sakit, ia sempat berulang-ulang melantunkan bacaan surat yasin dalam al-qur'an.

Pemikiran politik tradisionalisme jawa

Pemunculan aliran ini agak kontroversial karena aliran ini tidak muncul sebagai kekuatan politik formal yang kongkret, melainkan sangat mempengaruhi cara pandang aktor-aktor politik dalam Partai Indonesia Raya (PIR), kelompok-kelompok Teosufis (kebatinan) dan sangat berpengaruh dalam birokrasi pemerintahan (pamong Praja).

Soekarno sebagai Founding Father dirasa banyak dipengaruhi pemikiran politik jawa/tradisionlisme jawa & mungin tradisionalisme jawa pun memengaruhi pemikiran Nasionalisme radikal lainnya.

Nasionalisme Radikal& tradisionalisme jawa memang agak sukar dibedakan, hal ini disebabkan karna :

1. Sama bersifat eklektif

(12)

Pada masa kejayaan soekarno sangat kental tradisi jawa. Raja bergelar Narasoma (memperhatikan rakyatnya), soekarno dgn marhaenisme/sarinah . Salya(bijaksana), soekarno dgn penyambung lidah rakyat

Konsepsi tradisionalisme jawa bisa terlihat dalam masa pemerintahn soekarno, dan pula pihak-pihak lain spt dlm pidato seopomo dg konsep negara integralistik(staatsidee) Juga dlm pihak-pihak yang menentang implementasi negara islam, contohnya dlm tulisan pidato atmodarmito di dpn sidang konstituante 12 novbr 1957.

Menurt ia rakyat indonesia belum menjiwai islam walaupun secara sejarah pernah diwarnai kerajaan-kerajaan islam namun peninggalan-peninggalan slalu dari hindu budha,seperti keris. Kebudayaan politik di Indonesia pada dasarnya bersumber dari tingkah laku, pola dan interaksi yang majemuk, Menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam buku ”Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965”. ada lima aliran pemikiran politik yang mewarnai perpolitikan di Indoensia, yakni: nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosialisme demokrat, dan komunisme. Kelima aliran pemikiran inilah yang membentuk budaya politik dan sistem politik di Indonesia dari masa lampau sampai masa sekarang, dengan berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia. Membicarakan Budaya politik di Indonesia tak lepas dari pemikiran politik yang secara historis mewarnai perpolitikan di Indonesia. Aliran politik Indonesia menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam buku ”Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965”. yang mewarnai perpolitikan di Indoensia, yakni: Aliran pemikiran ini dalam pemilu 1955 direfleksikan melalui partai-partai peserta pemilu, diantaranya komunisme diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), nasionalisme radikal (PNI), Islam (Masyumi, NU), tradisionalisme Jawa (PNI, NU, PKI), dan sosialisme demokrat (PSI,Masyumi,PNI).

Pemikiran Radikal-progressif Soekarno sudah terbentuk sejak usianya masih sangat muda, salah satu tulisannya yang bisa menjadi acuan adalah “Nasionalisme, Islam dan Marxisme” cikal bakal munculnya NASAKOM. Dalam Tulisan yang dimuat di Jurnal Indonesia Muda tahun 1926 itu, Soekarno dengan terang-terangan mengatakan bahwa maksud kedatangan kolonialis datang ke Indonesia adalah untuk memenuhi hasratnya mengakumulasi modal dan keuntungan (ekonomis).

(13)

Pemikiran politik islam agus salim

Gagasan untuk mengkaji Islam sebagai nilai alternatif baik dalam perspektif interpretasi tekstual maupun kajian kontekstual mengenai kemampuan Islam memberikan solusi baru pada temuan-temuan di semua dimensi kehidupan akhir-akhir ini semakin merebak luas.

Penguasaan lebih mendalam mengenai wawasan pemikiran secara filosofis, terutama penjelajahan intelektual terhadap gagasan-gagasan berfikir barat yang seakan tak terbendung lagi datangnya bagi kaum muslimin sudah dimulai sejak abad ke-21, pemikir-pemikir muslim sedang bergulat kuat untuk menemukan jati diri pemikiranya agar bisa memanfaatkan ide-ide yang merayap tak terhingga sebagai akibat modernisasi berfikir radikal yang diterapkan Barat.

Adanya perbedaan pemikiran tentang konsep politik dalam pengertian strategi perjuangan umat Islam Indonesia, gejala-gejalanya sangat nyata dan bahkan sebetulnya dapat dilacak akar-akarnya sejak tokoh-tokoh bangsa ini merumuskan bentuk dan dasar negara. Oleh karena itu, Indonesia kontemporer saat ini juga tak pernah sepi dari masalah tersebut, yang oleh banyak pengamat sering dikelompokkan ke dalam dua model politik Islam, yaitu pendekatan struktural dan pendekatan kultural.

Pemikiran politik (fundamentalis dan liberalis) sama-sama ingin merespon kondisi kontemporer di Indonesia yang terkait dengan umat Islam. Hanya saja pendekatannya saja yang berbeda, bahkan saling berlawanan. Islam liberal menghadirkan Islam masa lalu demi modernitas. Islam liberal mengangkat tema sekitar demokratisasi, sedangkan Islam fundamentalistik yang revivalis menegaskan modernitas atas nama masa lalu yang mengangkat tema sekitar pergerakan syari’at Islam.

Pemikiran politik islam soekarno

 Islam dan Nasionalisme

Hingga di sini, Soekarno pada tahun 1926 masih sepakat dengan konsepsi seperti di atas. Ia dengan mengamati gerakan yang dipimpin Jamaluddin al-Afghani dengan Pan-Islamismenya, menyimpulkan bahwa gerakan tersebut merupakan gerakan internasionalisme. Oleh karena itu tidak terbatas pada suatu bangsa saja. Ia menyebutkan bahwa pergerakan Islamisme pada hakikatnya tiada bangsa. Dan Soekarno pun mengakui adanya konsepsi teritorial politik dalam agama Islam. Darul Islam dan Darul Harb.

Soekarno mengatakan :

(14)

oleh umat islam dan khalifah harus berkuasa sungguh-sungguh buat menegakkan dan melindungi Islam di seluruh kalangan umat”.

Tetapi konsepsi khilafat tersebut, termasuk dengan syarat-syaratnya, telah berakhir dengan naiknya Muawiyah sebagai Khalifah setelah Ali bin Abi Thalib. Dalam hal ini Soekarno mengatakan, “Padamlah tabiat Islam yang sebenarnya.”

Pada kesempatan lain Soekarno mengatakan :

Islam yang sejati tidaklah mengandung asas anti-nasionalis; Islam yang sejati tidaklah bertabiat anti sosialis. “. . . Islam yang sejati mewajibkan pada pemeluknya mencintai dan bekerja untuk negeri yang ia diami, mencintai dan bekerja untuk rakyat di antara mana ia hidup, selama negeri dan rakyat itu masuk Darul Islam?

Islamisme yang memusuhi pergerakan Nasional yang layak bukanlah Islamisme yang sejati; Islamisme yang demikian adalah Islamisme yang ‘kolot’, Islamisme yang tak mengerti aliran zaman”!

Di sini Soekarno menegaskan, meskipun Islam tidak mengenal batas-batas geopolitis, karena mendasarkan diri pada persahabatan umat manusia, tidaklah pada tempatnya kalau Islam menentang gerakan nasionalisme. Nasionalisme hanyalah ungkapan rasa cinta terhadap tanah air dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan Islam.

 Islam dan Internasionalisme

Sejalan dengan pendapat itu Soekarno menyebutkan bahwa internasionalisme Islam telah surut dan tak mungkin dapat diberlakukan lagi. Tetapi alasan-alasan yang diajukannya tidak didasarkan kepada ajaran-ajaran agama : Al-Qur’an dan Sunnah. Alasannya hanya didasarkan kepada realitas sejarah yang pernah dilalui oleh umat islam. Konsep khilafat yang telah berlalu itu tidak lagi sejalan dengan ajaran islam, dan khalifah tidak lagi memenuhi syarat yang telah ditentukan, sebab ia tidak dipilih dan bahkan tidak mampu melakukan usaha-usaha menegakkan dan melindungi Islam dan umatnya di seluruh dunia. Hal itu disebabkan luasnya wilayah teritorial yang didiami oleh umat islam.

(15)

 Hubungan Agama dan Negara

Dalam konsep Nasionalisme, mengharuskan dipisahkannya antara agama dan negara. Meskipun ia pada dasarnya tidak menolak sama sekali adanya persatuan agama dan negara. Ia berpendapat bahwa persatuan agama dan negara dalam Islam, dan secara murni menjalankan ajaran-ajaran Islam tersebut,karena ia sangat yakin bahwa orang-orang yang bukan penganut agama Islam akan menolak gagasan itu. Sementara Islam mengajarkan kepada umatnya asas demokrasi. Pendapatnya tentang pemisahan antara negara dan agama didasarkan kepada pengetahuannya tentang dunia Islam dengan gerakan-gerakan politiknya Mustafa Kemal Attaturk, bahkan ia juga dianggap sebagai orang yang mempropagandakan ide-idenya di Indonesia.

Pemikiran politik islam Bung Hatta

 Pemikiran dan Konsep Ekonomi Bung Hatta

Bagi Bung Hatta, ajaran agama Islam yang diterimanya sejak kecil bukan untuk memamerkan kemampuan mengaji karena sudah seharusnya orang Islam belajar al-Qur’an, atau memakai atribut-atribut dan asesori yang menggambarkan dirinya seorang Islam. Bagi Bung Hatta, Islam untuk diamalkan, bagaikan garam, tak terlihat tetapi terasa dalam makanan, bukan sebagai gincu (lipstick), kelihatan tetapi tak terasa. Sebaliknya bagi Bung Hatta, nilai-nilai Islam harus dijadikan sarana untuk mensejahterakan rakyat. Ilmu ekonomi harus membuat sistem perekonomian Indonesian menjadi sarana mensejahterakan rakyat, bukan untuk kepentingan kelompok atau individu.

 Pemikiran Hatta tentang Demokrasi

Cita-cita tentang keadilan sosial adalah sari pati dari nilai-nilai timur dan barat yang mengkristal dan membentuk visi Hatta mengenai masalah-masalah politik kenegaraan. Hatta sangat percaya bahwa demokrasi adalah hari depan sistem politik Indonesia. Kepercayaan yang mendalam kepada prinsip demokrasi inilah yang pernah menempatkan Hatta pada posisi yang berseberangan dengan Bung Karno ketika masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966). Hatta menilai sistem ini sebagai sistem otoriterian yang menindas demokrasi. Sekalipun pendapatnya berbenturan dengan Bung Karno, Hatta tetap saja memberikan fair chance kepada presiden untuk membuktikan dalam realitas. Sekalipun tertindas, di mata Hatta demokrasi tidak akan pernah lenyap dari bumi Indonesia.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...