~-~~~~~-KOLEKSI DAN EVALUASIGALUR-GALUR LOKAL KACANG BOGOR (Vigna Subterranea)
Makalah disampaikan pada acara Seminar Nasional Peripi 6-7 November 2012 di IICC Bogor Kuswanto
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
PERI PI
Departemen Agronomi danHortikultura, Faperta IPB, Dramaga, BogorTelp/fax 0251-8629348 PERHIMPUNAN ILMU PEMULlAAN INDONESIA
Nomor Lamp. Perihal
: OS/P-SKN/PERIPI/X/2012 Bogor, 19 Oktober 2012
: Pemberitahuan Hasil Seleksi Makalah
Kepada Yth.
Bapak/lbu Kuswanto Universitas Brawijaya
Kami sampaikan dengan hormat bahwa berdasarkan rapat Panitia Seminar Nasional PERIPI tanggal 19 Oktober 2012 bahwa makalah saudara dengan judul Koleksi dan Evaluasi Galur-Galur Lokal Kacang Bogor (Vigna 5ubterranea) dapat dipresentasikan secara oral pada Seminar Nasional PERIPI 2012 tanggal 6-7 November 2012. Kami sampaikan pula bahwa akan ada penilaian presenter oral terbaik.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami sampaikan terima kasih.
Panitia Seminar Nasional PERIPI 2012 ,
~ ,
F•of. Dr. Ir. Sobir, MS. Ketua
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN
BUDIDAYA PERTANIAN
JI.Veteran Malang - 65145, Indonesia
Nomor Telepon :+62-0341-570471,569984 Fax: +62-0341-575846
Email: [email protected]:http\\:bp.ub.ac.id
SURATTUGAS
2 2
'I. 1") "" ,Nomor: 6&0; IUN.lO.4IFP/KP/2012
Dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkup staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, maka Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian menugaskan kepada staf pengajar Jurusan Budidaya Pertanian :
Nama : Prof. Dr. Ir.Kuswanto NIP : 19630711 198803 1 002
Untuk melaksanakan kegiatan seminar sebagai Pemakalah pada:
Seminar Nasional Perhimpunan Dmu Pemuliaan Indonesia Tanggal 6-7 Nopember 2012 di IPB Bogor
Demikian surat tugas ini dibuat utnuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab dan akan diadakan perbaikan atau perubahan seperlunya apabila terdapat kekeliruan dalam penetapannya serta dapat digunakan sebagaimana mestinya.
PERHIMPUNAN ILMU PEMULIAAN INDONESIA
(PERIPI)
SERTI FI KAT
PENGHARGAAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH DISAMPAIKAN KEPADA
KUSWANTO
YANG TELAH TERPILIH SEBAGAI PENYAJI ORAL TERBAIK
PADA
SEMINAR NASIONAL
PERHIMPUNAN ILMU PEMULIAAN INDONESIA
DENGAN TEMA
PERAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PEMULlAAN
DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN INDUSTRI PERBENIHAN NASIONAL
BOGOR, 6-7 NOVEMBER 2012
PROF (R). DR. KUSUMA DIWYANTO KETUA UMUM PERIPI
PROF. DR. SOBIR KETUA PANITIA
PERHIMPUNAN ILMU PEMULIAAN INDONESIA
(PERIPI)
SERTIFIKAT
PENGHARGAAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH DISAMPAIKAN KEPADA
KUSWANTO
YANG TELAH MENGIKUTI DAN BERPARTISIPASI AKTIF SEBAGAI
PEMAKALAH ORAL
PADA
SEMINAR NASIONAL
PERHIMPUNAN ILMU PEMULIAAN INDONESIA
DENGAN TEMAPERAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PEMULIAAN
DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN INDUSTRI PERBENIHAN NASIONAL BOGOR, 6-7 NOVEMBER 2012
• DR. KUSUMA DlWY ANTO PROF. DR. SOBIR KETUA PANITIA KETUA UMUM PERIPI
Diversitas genetik varietas lokal 09.30 - 09.45 kacang tanah berdasarkan karakter
kandungan isoflavon, lemak total dan asam lemak tak enuh
09.45 - 10.00 Koleksi dan evaluasi galur-galur lokal Kuswanto kacan bo or (Vigna subterranea) (A-30) Evaluasi galur-galur kacang boger
Dita Actaria 10.00 - 10.15 (Vigna subterranea (l.) Verdcourt)
(A-31) asal Sukabumi
10.15 - 10.30 Rehat Ko i
Sesi Para lei 2 Moderator:
Dr Darman M. Arsyad Daya hasH galur-galur harapan mutasi
56 10.30 - 10.45 kedelai berumur genjah di lahan Asadi sawah tadah hujan dan lahan kering (A-26) Sulawesi Selatan
Variation in seed protein and oil
10.45 - 11.00 contents among soybean genotypes Aslim Rasyad and their relationship to yield (A-27) components
Pengembimgan teknik imature
Teguh Wijayanto 11.00 - 11.15 embryo culture untuk mempercepat
fase eneratif tanaman kedelai (A-28) Analisis parameter genetik dan
kemajuan seleksi F3 Dan F4
Sahiral Yakub 11.15 - 11.30 persilangan Tambora X 84400 untuk
(A-29) ketahanan kedelai terhadap hama
engisa polon
Karakterisasi genotipik galur-galur
Arvita Netti sihaloho 11.30 - 11.45 kedelai putative mutan tahan
(A-34) kekeringan
Daya hasil galur-galur kedelai
Apri Sulistyo 11.45 - 12.00 (Glycine max) toleran ulat grayak
(A-35) (S do tera litura)
12.00 - 13.00 Istirahat Makan Sian dan Sholat
13.00-13.30 Presentasi Poster
Sesi Para lei 3 Moderator: Dr Bahaglawati Pengujian ketahanan aksesi plasma
Sumartini
13.30 - 13.45 nutfah kacang tanah (Arachis
(A-24)
hypogaea) terhadap penyakit karat
KETERANGAN PRESENTASI
Panitia Seminar Nasional Perhimpunan IImu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) tahun 2012 menyatakan bahwa makalah berjudul "Koleksi Dan Evaluasi Galur-Galur Lokal Kacang Bogor (Vigna subterranea)" telah dipresentasikan oleh :
Nama : Prof. Dr.Ir.Kuswanto, MS
Instansi : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Pada acara seminar nasional PERIPI di IPB ICC Bogor
Demikian surat keterangan ini dibuat agar dapat dipergunakan seperlunya oleh yang bersangkutan.
KOlEKSI DAN EVAlUASI GAlUR-GAlUR lOKAl
KACANG BOGOR (Vigna subterranea)
Kuswanto, Budi Waluyo, Ranin Anindita Pramantasari, Sartika Canda Fakultas Pertanian Universitas Brawiyaya
Contac person: [email protected]
ABSTRAK
Kacang boqor merupakan salah satu sumber pangan alternatif di Indonesia. Kacang boqor perlu segera diteliti, agar dapat diakui sebagai sumber kekayaan Indonesia dan sebagai satu sumber karbohidrat dan protein. Terdapat tiga kegiatan, koleksi galur-galur lokal dari sentra penanaman di Jawa, penyusunan deskripsi galur-galur lokal dan evaluasi keragaman genetik plasma nutfah kacang boqor di Indonesia. Oiperoleh 50 galur lokal kacang boqor yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Dari galur yang diperoleh, telah berhasil dideskripsikan 38 galur lokal. Terdapat keragaman tinggi antar galur lokal dan dalam galur lokal. Keragaman ditunjukkan oleh hampir semua karakter yang diamati. Perlu segera dilakukan seleksi galur dan upaya purifikasi galur lokal yang potensi
I. PENDAHUlUAN
Kacang boqor (Vigna subterranea) atau kacang bambara, merupakan salah satu sumber pangan alternatif di Indonesia. Kacang boqor berasal dari Afrika, kemudian berkembang di kawasan Amerika, Asia dan Australia. Tanaman ini dikembangkan di daerah sub Sahara Afrika, terutama pada daerah semi kering. Oi Asia, kacang boqor telah dibudidayakan di India, Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand. Oi Indonesia, kacang boqor telah lama beradaptasi dengan baik di wilayah Bogor dan bagian timur Jawa Barat, sehingga lebih dikenal sebagai kacang bogor. Saat ini, kacang boqor telah menyebar ke Sukabumi, Majalengka, Tasikmalaya, Bandung, Jawa Tengah (Pati dan Kudus), Jawa Timur (Gresik), Lampung, NTB dan NIT. Berbeda dengan tanaman legume pada umumnya, kacang boqor lebih adaptif dan toleran pada daerah yang kurang subur (Linnemann, 1990;Stephens, 2003).
Budidaya kacang bog~r banyak ditemukan Jawa Barat, Banten dan pesisir utara Jawa Timur. Distribusi tanaman yang banyak ditemukan di kota Bogor dan kota Gresik. Penanaman di sekitar boqor menyebabkan tanaman ini dinamakan
kacang bogor, sedangkan di Gresik biasa disebut dengan nama kacang kapri.
Berbagai publikasi internasional, menyebutkan kacang bogor dengan nama
bogor ground nut (Liu, 2010). Oalam perkembangan selanjutnya, tanaman
kacang bogor tersebar ke Sukabumi dan Bandung. Sebagian masyarakat menyebut kacang tersebut dengan nama kacang Bandung (Rukmana, 2000).
Potensi kacang bogor, adalah sebagai bahan pangan alternatif sebagai
penghasil protein dan karbohidrat. Pada biji kering mengandung 16 - 21%
protein, 50 - 60% karbohidrat dan 4,5 - 6,5 % lemak, serta mengandung
kalsium, fosfor, zat besi dan vitamin B1 (Purseglove, 1968; Suwanprasert et al.,
2006). Konsumsi polong muda biasanya dengan cara direbus, sedangkan biji
kering biasanya diproses dahulu menjadi tepung. Oi sebagian Negara Afrika,
(misal Harare) biji kering juga pakai sebagai bahan utama pembuatan susu
(Hampsonet al,. 2000).
Kacang bogor cocok tumbuh sampai ketinggian 1.600 meter dari
permukaan laut. Sebagai salah satu jenis kacang tanah, persyaratan hidup
kacang bogor, mirip tanaman kacang tanah. Suhu rata-rata tahunan yang
dibutuhkan 19-27oC, dengan penyinaran matahari yang cukup. Curah hujan yang
dikehendaki berkisar antara 500-3.500 mm per tahun (Astawan, 2009).
Penanaman di dataran rendah banyak dilakukan di Indonesia.
Salah satu kelebihan kacang bogor adalah kemampuannya untuk hidup di
tanah dengan unsur hara yang minim dan kurang air. Kemampuan tersebut
menjadikan tanaman ini mampu tumbuh dan banyak dikembangkan di daerah kering Afrika tropis (Astawan, 2009). Sebagai tanaman kacang-kacangan, tanaman kacang bogor juga dapat mengikat nitrogen melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium seperti halnya sifat tanaman kacang-kacangan lainnya (Ntundu
et al., 2003).
Kacang bogor anggota famili Leguminoceael Papilionaceae, subfamili
Papilionoidae, genus Vigna dan spesies Vigna subterranea (L.) Verdcourt
(Fachruddin, 2000), mempunyai jumlah kromosom 2n
=
2x=
22 pasangkromosom (2n
=
22). Kacang bogor termasuk tanaman menyerbuk sendiri.Bunga hampir sarna dengan bunga kacang panjang, baik bentuk, susunan
maupun warnanya. Penyerbukan sendiri pada kacang bogor sangat didukung
Penelitian terhadap kacang bogor di Indonesia masih jarang dilakukan. Kacang bogor dinilai kurang komersial karena namanya kurang dikenal. Sebagai plasma nutfah Indonesia, kacang bogor harus segera dimunculkan di kancah penelitian, agar dapat diakui sebagai sumber kekayaan Indonesia, tidak di curi peneliti asing dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber karbohidrat dan protein di Indonesia.
Salah satu masalah penting yang perlu segera diketahui dalam peningkatan produksi kacang bogor di Indonesia adalah perlunya kajian tentang galur-galur lokal sebagai bahan utama pemuliaan tanaman. Beragamnya galur lokal yang ada memberikan peluang besar terhadap pembentukan varietas unggul. Varietas unggul yang dimaksud antara lain mempunyai hasil tinggi, toleran terhadap hama penyakit, umur genjah, nutrisi tinggi dll. Saat ini Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya mulai mengoleksi galur-galur lokal sebagai bahan perakitan varietas.
Program pemuliaan kacang bogor dapat diawali dengan evaluasi galur-galur lokal yang telah dimiliki. Galur lokal tersebut memiliki potensi sebagai bahan utama dalam perakitan varietas. Evaluasi galur lokal mulai dilakukan sejak tahun 2010 yang meliputi koleksi dari beberapa sentra produksi, penyusunan deskripsi, evaluasi keragaman genetik dan studi kekerabatan genetik melalui morfologi.
Tujuan penelitian adalah untuk mengoleksi, mengevaluasi potensi galur-galur lokal kacang bogor dalam rangka pengembangan varietas unggul.
METODE DAN PELAKSANAAN
Penelitian merupakan rangkaian 3 kegiatan yang dikerjakan secara paralel, mulai Mei 2010 sampai November 2011. Rincian kegiatan adalah sebagai berikut:
Kegiatan 1 .'Koleksi galur-galur lokal kacang bogor dari sentra penanaman di Jawa Timur dan Jawa Barat
Koleksi dilakukan dengan cara mengumpulkan benih galur-galur lokal dari berbagai sentra penanaman. Daerah yang banyak ditanami kacang bogor antara lain Jawa Timur dan Jawa Barat. Benih yang dikumpulkan, diberi nama daerah asal penanaman. Apabila satu daerah diperoleh lebih dari 1 jenis galur lokal,
maka penaman menggunakan nama daerah dan nomor urut galur loka!. Galur-galur yang diperoleh di evaluasi dan ditanam di Kebun Percobaan Jatikerto UB.
Kegiatan 2 :Penyusunan Deskripsi Galur-galur Kacang Bogor
Penyusunan deskripsi galur mengacu standar Descriptors for Bambara Groundnut (Vigna subterranea) (2000), yang dikeluarkan oleh International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), Roma Italy; International Institute of Tropical Agriculture (IITA), Ibadan, Nigeria dan The International Bambara Groundnut Network, Germany. Semua galur hasil koleksi, di tanam di kebun percobaan Jatikerto. Penanaman dan pemeliharan dilakukan berdasarkan standar budidaya tanaman kacang bambara. Pengamatan dilakukan terhadap semua karakter kualitatif dan kuantitatif sesuai metode deskripsi.
Kegiatan 3. Evaluasi potensi dan keragaman genetik plasma nutfah kacang bambara di Indonesia.
Penanaman di lapangan diatur menurut augmented design dengan pembagian blok berdasar waktu tanam dan kelompok galur lokal, Penanaman dan pemeliharan dilakukan berdasarkan standar budidaya tanaman kacang bambara. Pengamatan dilakukan terhadap karakter pertumbuhan vegetatif, pembungaan, polong, biji, hasil dan kualitas (nutrisi).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Semua kegiatan penelitian telah selesai dilaksanakan. Hasil penelitian yang disajikan secara berurutan.
1. Hasil koleksi galur lokal
Dari kegiatan koleksi, telah diperoleh 50 galur lokal (Tabel 1) yang dikoleksi dari berbagai tempat di Jawa Barat dan Jawa Timur. Tidak ditemukan galur lokal di Jawa Tengah. Daftar nama galur lokal yang diperoleh adalah sebagai berikut (TabeI1).
Galur-galur tersebut diperoleh dari beberapa sentra penanaman di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur. Koleksi dilakukan dengan mendatangi tempat penanaman di tingkat petani.-Hasil survey ini menunjukkan bahwa kacang boqor yang ditanam petani di Indonesia adalah jenis loka!. Terdapat petani yang mempunyai satu galur tertentu, namun galur tersebut masih beragam. Hal ini
terlihat dari beragamnya warna dan bentuk biji. Keragaman dalam galur ini potensial dijadikan sebagai bahan pemuliaan tanaman.
label 1. Daftar nama galur yang berhasil dikoleksi
No. Nama Galur lokal No. Nama galur lokal
1 Gobras 1d 26 Gobras 3d 2 Ralao 4-1 27 Raiap 4-2 3 Rajap 3-1 28 Rajap 3-2 4 Rajap 1-1 29 Rajap 1-2 5 Rajap 2-1 30 Rajap 2-2 6 Cikur 3-1 31 Cikur 3-2 7 Cikur 1-1 32 Cikur 2-1 8 Cikur 2-2 33 Cikur 1-2
9 Gobras Sedang 34 Gobras 4-2
10 Gobras 2-1 35 Gobras Kecil
11 Gobras 1-1 36 Gobras 1-2
12 Gobras Ct 37 Gobras 2-2
13 Gobras 4-1 38 Gobras 3-2
14 Gobras 4 Hitam 39 Gobras 5-2
15 Gobras 5-1 40 Gobras 3-1 16 Gobras 1-3 41 Gobras 4-3 17 Cikur 1-3 42 Cikur2-3 18 Cikur 3-3 43 Gobras 2-3 19 Cikur 2d 44 Gobras4d 20 Gobras 3-3 45 Sukaraja 1 21 Sukaraja 2 46 Situraja 1 22 Situraja 2 47 Cikijing 1 23 Cikijing 2 48 Urug 1 24 Urug 2 49 Ciarog 1 25 Ciarog 2 50 Brondong
Program pemuliaan kacang bogor masih belum banyak dikembangkan karena kacang bogor bukan tanaman utama di Indonesia. Namun potensi kacang bogor sebagai sumber pangan alternatif menjadi penting untuk dibudidayakan. Kacang bogor yang dibudidayakan oleh petani merupakan varietas lokal yang belum banyak diteliti.
2. Hasil penyusunan deskripsi
Dari 50 galur yang di tanam, berhasil disusun deskripsinya sebanyak 38 galur lokal. Pada saat penanaman terjadi seleksi alamiah, sehingga 12 beberapa galur lokal tidak tumbuh. Berdasarkan deskripsi galur, terdapat keragaman yang tinggi dari hampir semua karakter yang diamati. Contoh deskripsi adalah sebagai berikut. Nama galur Gobras 1.2, Asal Tasikmalaya, tipe pertumbuhan
semibunch, rambut pada batang tipis, bentuk daun /anceo/ate, warna daun hijau,
warna tangkai daun hijau muda, warna pangkal tangkai daun merah keunguan,
jumlah daun 25 panjang daun 71,33mm, lebar daun 33,27mm, panjang tangkai daun 137,67 mm, warna bunga kuning, hari berbunga 42 hari, hari berbunga 50%: 47hari, panjang bendera bunga 7,4 mm, pigmentasi pada bunga ada,
letak pigmentasi bunga sayap bunga, panjang tangkai bunga 8,7 mm, jumlah bunga per tangkai 2, sebaran tanaman 10,7 em, tinggi tanaman 21,36 em,
panjang internode 18,4 mm, bulan penyusunan deskripsi Juli - Agustus 2010,
lokasi tanam Kebun Percobaan Jatikerto FP UB, Deskriptor Shanti Budi Lestari dan Kuswanto
3. Keragaman genetik
Evaluasi keragaman genetik dilakukan berdasarkan pengamatan karakter kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan pengamatan morfologis, terdapat keragaman karakter kualitatif antar galur lokal. Perbedaan karakter kualitatif menunjukkan adanya perbedaan sifat genetic. Perbedaan karakter kualitatif dapat diamati dengan mudah dan hasil pengelompokkannya terlihat pada Tabel 2. Dari tabel tersebut terlihat adanya keragaman genetik antar galur yang dapat diketahui dari 4 karakteryang diamati (Lestari dan Kuswanto,2010).
Tabel 2. Hasil identifikasi karakter kualitatif
No. Karakter yang diamati Macam fenotip Keterangan
Bunch 5 galur (13%)
1 Tipe tanaman Semibunch 25 galur (66%)
SDreadina 8 galur (21%)
Round
-2 Bentuk daun terminal Ova/ 4 galur (10%)
Lanceo/ate 33 galur (87%) Elliptic 1 galur (3%)
Hiiau Semua galur (100%)
3 Wamadaun Merah
-Ungu
-Tidak ada
-4 Rambut pad a batang Tipis 29 galur (76%)
Tebal 9 galur (24%)
5 Pigmentasi pad a bunga Ada Semua galur (100%)
-Warna biji tidak disajikan dalam tabel karena datanya sangat beragam. Dalam satu galur lokal ditemukan warna biji yang bermaeam-macam. Berdasarkan karakter warna biji, telah membuktikan bahwa terdapat keragaman yang tinggi antar galur lokal dan di dalam beberapa galur lokal. Dengan alasan ini pula, maka hasil pengamatan karakter kuantitatif disajikan secara deskriptif (Tabel 4). Pengamatan karakter kuantitatif dilakukan terhadap umur berbunga, umur berbunga 50%, panjang bendera bunga, panjang tangkai bunga, jumlah bunga per tangkai, jumlah daun, panjang daun terminal, lebar daun terminal, panjang petiole, sebaran tanaman, tinggi tanaman dan panjang internode.
Dari Tabel 3 juga terlihat keragaman yang tinggi pada semua karakter yang diamati. Program pemuliaan tanaman dapat dikerjakan dengan mendasarkan hasil pengamatan terhadap kedua karakter tersebut. Berdasarkan hasil tersebut, masalah penting dalam pengembangan galur lokal adalah keragaman. Dalam satu galur dapat ditemukan warna biji, bentuk biji dan bentuk tanaman yang berbeda.
Tabel3. Hasil identifikasi karakter kuantitatif
No. Karakter Kisaran
1 Umur berbunga 41 - 45 hst
2 Umur berbunga 50% 46 - 56 hst
3 Panjang bendera bunga 6-8,2 mm
4 Pa~angtangkaibunga 6,4 -11,5 mm
5 Jumlah bunga per tangkai 1 - 2 bunga
6 Jumlah daun 20-46
7 Panieno daun terminal 53,33 -77,73 mm
8 Lebar daun terminal 22,6 - 34,13 mm
9 Panjang petiole 111 -171,47 mm
10 Tinggi tanaman 21,36 - 29,24 em
11 Sebaran tanaman 9,9 -17,2 em
12 Panjang internode 13,17 - 23,13 mm
(Lestan dan Kuswanto, 2010).
Galur tersebut perlu dimurnikan agar dapat dikembangkan sebagai varietas baru atau sebagai tetua persilangan. Setelah murni, perlu dilakukan uji kemurnian untuk menjamin sifat kemurnian genetiknya. Kemurnian dapat dideteksi pada tahap awal melalui benih hasil koleksi, baik bentuk, ukuran
maupun warnanya. Sebaliknya, dari kelompok galur yang diseleksi, diperlukan adanya keragaman tanaman. Keragaman dapat dideskripsikan melalui sifat morfologi maupun agronomi (Massawe et aI., 2002), yang diperoleh dari karakterisasi tiap galur.
Keragaman juga dapat diketahui pada tingkat enzimatis melalui perbedaan pola pita isoenzim atau melalui uji DNA tanaman. Berdasarkan karakterisasi sifat morfologi, agronomi, enzimatis dan DNA tanaman, akan didapat deskripsi tiap galur, yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui potensi dan peluang pengembangannya. Keragaman fisiologi dan morfologi juga dapat diketahui dari perbedaan deskripsi antara galur yang diuji dengan varietas kontrol, terutama pada sifat morfologi dan agronomi (Lee 1996, Mian 1988,
Collinson 1997, Massawe1996, Nguyen 1997).
Pengamatan secara enzimatis dilakukan untuk mendukung pengamatan morfologis agar diketahuikeragaman dan kekerabatan genetik antar galur.
Ciarog 1.1
.----J-:-:-:-:-:--Brondong Kec.Lamongan1
Gobras42.1 Urug2.1 ..---+.::=
TU10Gobras13 (Camp)1 0.946946
TU19 Dlondong Kec.Lamongan2
0.900~ Gobras52.1 0.1~~~78.946946lbraS31.1 ~Cikur31.1 0.918919 Ciarog 1.2 .---..._..~.?bras 4 Hitam 1 7 TU13972973s31.2 PU~~2'132;Ukajaya1.1 0.914414-R~jap 42.1 TU20 tillJ5 0.894144°.9729733-1.1 Cikur112 TU21 ---hn"'r~s432 0.879379 HTU1
I
I\-!TU111.000000Hitam 2 ~TU16~946,bras 4 CoklatTua 1 0.918919-Gobras13 (Camp)2 r----1._.~R~jap 2-2.2 4 0.9729732-2.1 TU17 jhi~n 2-1.1 0.914414 HTU2 ~TU3)00000 .2 TU23 0.972~7? 2-12 0~826577 R'~Jap - .111 '---I. TU26 TU1297~73S 12.2 0.748874 0.932'132'obras12.1I
~Rajap 1-2.1 0.946946jap 1-1.2 0.82'1324 TU27 0.652352 TU28 0.610191Gambar Fenogram Hasil Isoenzim menggunakan enzim peroksidase, esterase, dan malate dehydrogenase (MDH)
Dari hasil fenogram diatas, terlihat bahwa terdapat keragaman yang tinggi antar galur lokal. Terdapat 3 kelompok kekerabatan genetik dari galur-galur yang di analisis. Dari masing-masing kelompok juga terdapat keragaman dan kekerabatan dari beberapa galur. Kekerabatan tanaman juga memiliki arti penting dalam pemuliaan tanaman. Bagi proses pemuliaan tanaman, keragaman merupakan bagian yang cukup penting. Berdasarkan hasil penelitian awal pada kacang bogor telah diketahui bahwa tanaman jenis kacang ini memiliki banyak
keragaman (Canda, Kuswanto, Kendarini, 2011). Keragaman tanaman dapat ditunjukkan oleh beberapa bagian tanamannya, seperti warna kulit biji putih, krem, coklat, ungu, hitam, hingga bertutul-tutul. Di dalam kulit biji juga terdapat ragam daging biji yang berwarna putih dengan tekstur dan citarasa yang khas (Liu, 2010).
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Diperoleh 50 galur lokal kacang bogor yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat
2. Diperoleh 38 deskripsi galur lokal kacang bogor
3. Terdapat keragaman tinggi antar galur lokal dan dalam galur lokal, Saran
Kegiatan pemuliaan tanaman perlu segera dilakukan untuk memperbaiki galur-galur lokal, Perlu segera dilakukan seleksi galur dan upaya purifikasi galur lokal yang potensial.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2000. Descriptors for Bambara Groundnut (Vigna subterranea) International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), Roma Italy;
Brink, M. 1997. Rates of Progress toward Flowering and Podding in Bambara Groundnut (Vigna subterranea) as a Function of temperature and Photoperiod. Annals of Botany 80: 550 - 513.
Dewi, F.T. 2009.Vigna subterranean. http://toiusd.multiply.com/
Fitri Puspitasari, Kuswanto dan I.Yulianah 2010. Keragaman genetik dan potensi hasil16 galur kacang bambara \Vigna subterranea (I.) Verdcourt), Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang
Hampson, K., Azam-AIi, S.H., Sesay, A., Mukwaya, S.M., Azam-AIi, S.N. 2000. Assessing Opportunities for Increased Utilisation of Bambara Groundnut In Southern Africa. Tropical Crops Research Unit, School of Biosciences,University of Nottingham.
Hayyu Febriani, Kuswanto dan N. Kendarini. 2010. Potensi genetik dan penyusunan deskripsi galur kacang bambara \Vigna subterranea (I.) Verdcourt, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang
Heller, J., Begemann and J.Mushonga. 1995. Bambara Groundnut. Vigna subterranean (L.) Verde. Proceedings of The Workshop on Conservation and Improvement of Bambara Groundnut (Vigna subterranea (L.) Verdc.). Harare, Zimbabwe.
.",---Pasquet, Rerny S. , Sonya Schwedes, and Paul Gepts. 1999. Isozyme Diversity in Bambara Groundnut, Crop Science, 39 : 1228-1236
Karikari, S.K. 2000. Variability Between Local And Exotic Bambara Groundnut Landraces In Botswana. African Crop Science Journal 8 (2): 145 - 152. Karikari, S.K. D.J. Wigglesworth, B.C. Kwerepe, T.V. Balole., B. Sebolai and
D.C. Munthali. 1995. Bambara Groundnut (Vigna subterranea (L.) Verdc) in Botswana. Proceeding of The Workshop on Conservation and Improvement of Bambara Groundnut (Vigna subterranea (L.) Verdc.). Harare, Zimbabwe.
Linneman,AR 1990. Cultivation of Bambara Groundnut [Vigna subterranea (L.) Verdc] in Western Province, Zambia. Report of A Field Study. Tripical Crop Comunication.
Linneman, AR, E. Westphal and M. Wessel. 1995. Photoperiod Regulation of Development and growth in Bambara Groundnut (Vigna subterranea).
Department of Agronomy, Wageningen Agricultural University, Netherlands. Field Crops Research 40: 39-47.
Massawe, F.J., M. Dickinson, J.A Roberts and S.N. Azam-Ali. 2002. Genetic Diversity in Bambara Groundnut (Vigna subterranean (L.) Verdc) Landraces Revealed by AFLP markers. NRC Research Press. Notingham. Ntundu,W.H., I.C. Bach, J.L. Christiansen, and S.B. Andersen. 2004. Analysis of Genetic Diversity In Bambara Groundnut [Vigna subterranea (L.) Verdc] Landraces Using Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) Markers. African Journal of Biotechnology (3):4 pp. 220-225.
Pramantasari, RA., Kuswanto, dan SL Purnamaningsih. 2011. Keragaman genetik 14 galur kacang bambara. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
Canda, S., Kuswanto dan N.Kendarini. 2011. Pendugaan Jarak Genetik Dan Hubungan Kekerabatan Galur Lokal Kacang Bogor (Vigna Subterranea
(L.) Verdc.) Berdasarkan Penanda Morfologi Dan Isozim, Skripsi Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.
Schenkel, M. 2006. Bambara Bean. National Research Council. Lost Crop of Africa (2): Vegetables pp. 52 - 73.
Stephens, J.M. 2003. Bambara Groundnut Voandzeia subterranea (L.) Thouars. University of Florida. IFAS Extension. Florida.
Suwanprasert, J., T. Toojinda, P. Srivines and S. Chanprame. 2006. Hybridization Technique for Bambara Groundnut. Breeding Science (56): pp.125 -129.
Suwanprasert. 2012. Bambara Groundnut in Thailand. Article presented in International Workshop on Bambara Groundnut, Perlis University, Malaysia.