• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah seminar UNS Pert Organik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Makalah seminar UNS Pert Organik"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1)

PENGOMPOSAN LIMBAH ORGANIK PERTANIAN UNTUK MENGHASILKAN PUPUK ORGANIK YANG SEHAT DAN RAMAH LINGKUNGAN

2)

Suhartini

Abstrak

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara agraris. Praktek pertanian yang telah berlangsung lama tentu telah merubah lingkungan pertanian sekarang ini khususnya tanah-tanah pertanian menjadi tidak sesubur waktu dahulu. Dengan kata lain penggunaan tanah-tanah secara terus menerus untuk bercocok tanam telah menciptakan kemunduran tanah yang ditandai oleh maraknya erosi dan tanah longsor serta kebutuhan pupuk baik organik maupun pupuk buatan dengan jumlah yang cukup besar. Upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah yang berkelanjutan dengan diantaranya dapat dilakukan dengan menggunakan agen pupuk organik yang akhir-akhir ini sedang digemari. Dalam hal ini Limbah organik pertanian lmerupakan sumber pupuk organik yang penting bagi tanah-tanah pertanian kita.

Limbah organik pertanian yang dikenal di sekitar kita dapat berupa sisa-sisa tanaman, kotoran hewan ternak, sisa pakan, media bekas budidaya jamur, sampah kebun dan sebagainya. Bahan-bahan organik merupakan pupuk organik penting bagi masyarakat guna memperbaiki kondisi tanah. Namun pemakaian bahan organik sebagai pupuk organik dewasa ini juga harus memperhatikan berbagai hal agar tidak merugikan bagi lingkungan. Penanganan limbah organik dengan pengomposan merupakan cara yang dewasa ini dianggap sangat ramah lingkungan guna memproduksi pupuk organik yang sehat berupa kompos. Melalui pengomposan, selain kualitas pupuk dapat dipertanggung jawabkan, lingkungan pertanian yang diberi kompos juga tidak tercemar. Sejalan dengan santernya gaung issu polusi lingkungan, pengurangan penggunaan pupuk kimia, mempertahankan kesuburan tanah alami secara berkelanjutan, dan meminimasi munculnya tempat-tempat penampungan sampah yang baru, teknologi pengomposan layak diperhitungkan dewasa ini.

Kata-kata kunci: Pengomposan-Limbah Organik Pertanian-Pupuk Organik-Ramah Lingkungan

1)

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pengelolaan Lingkungan Pertanian , di Universitas Sebelas Maret, Surakarta 21-10-2003

2)

Ir Suhartini MS, Dosen Prodi Biologi FMIPA dan Puslit-PKLH Universitas Negeri Yogyakarta

COMPOSTING OF AGRICULTURAL WASTES CAN PRODUCE A HYGIENIC ORGANIK FERTILIZER AND FAVOURABLE ENVIRONMENTALLY

Abstract

(2)

fertilisers must consider the character of each organik wastes. In addition the treatment of wastes is very important to produce a good organik fertilisers. Composting is one of many kinds waste management systems that able to produce organik or natural fertilizers that recognized with compost, rich in plant nutrients. By sanitising the material composted at 70°C, compost is material organik free from pathogen.

Key words: Composting-agricultural organik wastes-hygienic-organik fertilizer-environment

Pendahuluan

Pertanian merupakan sumber pangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hingga kinipun julukan itu masih melekat erat di sebagian besar penduduk kita terutama yang tinggal di pedesaan. Berbagai model bercocok tanam terdapat di tanah air kita, mulai dari bertanam padi, palawija, tanaman hutan dengan berbagai variasinya yang tergantung dari kondisi setiap wilayah. Sebagai negara agraris, berbagai aneka produk pertanian sangat mudah dijumpai, mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, padi, jagung, ketela, kayu hewan ternak seperti sapi, kerbau, ayam, kuda. Bahkan akhir-akhir ini di beberapa tempat sector pertanian telah berkembang dari tradisonal ke industri, sebagai contohnya adalah industri peternakan ayam. Namun demikian penggunaan tanah secara terus menerus untuk bercocok tanam telah menciptakan kemunduran tanah yang ditandai oleh maraknya erosi dan tanah longsor serta kebutuhan pupuk baik organik maupun buatan dengan jumlah yang cukup besar. Peledakan penduduk dan kemisikinan diantaranya juga ikut menjadi pendorong makin rusaknya lingkungan pertanian. Upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah yang berkelanjutan dengan menggunakan agen pupuk organik rupanya sedang digemari akhir-akhir ini. Limbah organik pertanian merupakan sumber pupuk organik yang penting bagi petani kita.

Limbah Organik Pertanian

(3)
[image:3.612.117.488.134.657.2]

tidak sama namun secara umum penggunaan bahan organik memberikan berbagai keuntungan. Berbagai macam limbah organik pertanian beserta nisbah C/N disajikan pada Tabel 1. Macam –macam limbah organik beserta nisbah C/N (Gaur, 1982 ; Yulipriyanto,

2001)

Bahan organik adalah sumber nitrogen (90-95%) pada tanah-tanah yang tidak dipupuk. Disamping itu. bahan organik dapat menjadi sumber utama fosfor dan sulfur yang tersedia

Jenis Bahan Organik Rasio C/N

Jerami padi

Jerami gandum

Daun dan batang jagung

Batang kapas Sampah tebu Kotoran kerbau Kotoran manusia Urine Kotoran kering Biogas Pucuk kentang Kubis Bawang Lada

Lumpur statiun pemurnian air **

Reruntuhan vegetasi non leguminosae

Pupuk hijau Pucuk daun Kotoran sapi Kotoran biri-biri Kotoran kuda Jerami biji-bijian

Serbuk gergajian kayu

Mikroba

Lumpur aktif

Limbah rumah tangga

Residu bibji jagung

(4)

ketika humus tersedia dalam tanah (2% atau lebih). Melalui ativitas mikroorganisme, bahan organik mensuplai secara langsung atau tidak langsung semen-semen pembentuk agregat tanah; khususnya rantai gula panjang yang dikenal dengan polisakarida. Bahan organik juga menyumbang pada pertukaran kapasitas kation kira-kira 30-70% dari seluruh KTK. Permukaan humus yang luas mempunyai tempat-tempat pertukaran kation yang menyerap unsur hara untuk tanaman secara terus menerus dan secara temporer dapat menyerap polutan-polutan logam berat (Cu, Cd dsb). Adsorbsi polutan-polutan ini dapat membersihkan air yang terkontaminasi. Bahan organik meningkatkan kandungan air pada kapasitas lapang, meningkatkan ketersediaan pada tanah-tanah berpasir, meningkatkan laju aliran udara melalui tekstur tanah yang halus. Efek yang terakhir ini mungkin karena agregasi tanah yang menghasilkan pori-pori tanah lebih besar. Bahan organik adalah suatu sumber karbon untuk mikroorganisme yang menampilkan sisi lain dari fungsi positif bahan organik di tanah (pemfikasai N2 bebas, denitrifier). Humus dapat menjadi penyeimbang tanah melawan perubahan keasaman, salinitas dan alkalinitas yang cepat ; dan kerusakan oleh pestisidan dan logam berat beracun. Tambahan pula pemakaian bahan organik secara terus menerus dapat memperbaiki kualitas produksi tanaman (lihat gambar 1).

(5)
[image:5.612.130.459.125.566.2]

Gambar 1. Mekanisme yang menunjukkan pengaruh bahan organik terhadap kualitas tanaman (Khosino, 1990)

Protein dalam tumbuhan berkurang Kualitas produksi diperbaiki

Nilai nutrisi produk (Vit.C;Beta carotene) meningkat

Aktivitas dekomposisi amilum menurun

Penggunaan Bahan Organik

Pembentukan agregat tanah Kelembaban tanah stabil dan rendah Defisiensi dalam kelembaban tumbuhan

Adaptasi pada kelembaban rendah

Penekanan sintesa protein

Pelepasan nitrogen lambat

(6)
[image:6.612.148.444.118.483.2]

Gambar 2. Diagram alir dari berbagai proses yang memungkinkan untuk recovery energy dari limbah organik pertanian (Sharma et al., 1996)

Pengomposan

Pengomposan adalah salah satu metode yang telah lama digunakan untuk mengelola limbah organik padat terutama yang berasal dari aktivitas pertanian dengan sasaran utama menghasilkan pupuk organik berupa kompos. Seiring dengan makin besarnya jumlah penduduk, macam limbah organik yang dihasilkannya juga cukup banyak, demikian pula macamnya juga beragam. Pengomposan dianggap dapat dengan mudah beradaptasi dengan kondisi material organik yang berbeda-beda tersebut. Meskipun demikian pemilihan teknologi pengomposan untuk memproses limbah organik juga didasarkan pada berbagai alasan.

Bahan Organik Segar

Metanisasi

Vermikomposting

Vermikompos

Pengomposan

Kompos

Bahan organik tak stabil Jamur

Merang

Panas

Media jamur merang

Penghangat lantai Metan

(7)

1. Pengomposan dapat mengolah berbagai fraksi bahan organik berupa sampah, dapat mengendalikan bau sampah hijauan, sampah organik perkotaan atau sampah industri (Storm, 1985).

2. Pengomposan juga sangat efisien sebagai metode pengolahan lumpur produksi statiun pemurnian air yang jumlahnya dari hari ke hari kian banyak dan telah menimbulkan problem sendiri bagi penduduk perkotaan dewasa ini. Perubahan lumpur tersebut menjadi bahan yang stabil dan berkurangnya volume merupakan kasus yang (Nakasaki et al., 1985).

3. Pengomposan memungkinkan untuk mengolah kotoran hewan yang menghasilkan

bahan-bahan humik dan unsur-unsur biologis yang bila digunakan pada tanah-tanah pertanian dapat menghindarkan dari kerusakan tanah dan tanaman dibanding dengan disebar secara langsung (Beffa et al., 1994).

4 Pengomposan adalah proses pemanasan aerobik yang selama fase thermofil temperaturnya

meningkat hingga pada suatu titik temperatur yang cukup untuk menyehatkan bahan-yang sedang dikomposkan sehingga diperoleh produksi yang meyakinkan (Beffa et al., 1996). 5. Pengomposan tidak hanya sebuah cara untuk mengurangi produksi sampah manusia dan

mendaur ulang unsur hara, tetapi juga menghasilkan kompos yang sangat berguna untuk mengkonservasi sumberdaya tanah yang pada saat yang bersamaan juga untuk media pertumbuhan (Klamer dan Bath, 2000).

6. Penanganan limbah organik padat makin lama makin sulit dan sangat mahal terutama

(8)

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, pertimbangan pemilihan pengomposan untuk memproses limbah organik dapat dilatar belakangi oleh produk yang diinginkan (mutu), aspek ekonomi serta kesehatan produk. Sementara berdasarkan definisinya maka pengomposan dapat didefinisikan sebagai berikut.

Pengomposan dapat dianggap sebagai dekomposisi dan stabilisasais substrat organik biologik dalam kondisi-kondisi yang memungkinkan perkembangan temperatur thermofil sehingga diperoleh hasil akhir yang cukup stabil baik untuk disimpan maupun digunakan pada tanah tanpa memberikan efek negatif pada lingkungan (Haugh ,1980). Dengan demikian pengomposan adalah sebuah teknik stabilisasi dan untuk mengolah sampah (limbah organik) organik.

Gambar 3. Macam mikroorganisme dan evolusi temperatur selama pengomposan (Mustin, 1987) 0 6 7 8 80 5 9 10 70 °C MIKROORGANISME THERMOFIL Bak teri dom inan pH 10 20 30 40 60 50 Waktu HUM IFIK ASI Deg rada

si s enya wa sede rhan a Jam ur A ktino m ise tes K om pe tisi dan p

[image:8.612.160.496.363.616.2]
(9)

Sementara De Bertoldi et al. (1983), mendefinisikan pengomposan sebagai suatu cara untuk memperoleh produksi yang stabil karena terjadinya transformasi biologik melalui oksidasi bahan organik padat. Ia adalah cerminan dari peristiwa sebenarnya yang terjadi di dalam tanah.

Pengomposan masih dapat didefinisikan sebagai sebuah metode konversi dan pemanfaatan substrat organik secara biologik dan terkendali (dalam bentuk produksi biomassa, sampah organik biologik) dalam bentuk hasil yang telah distabilisasi, higienis, mirip tanah dan kaya substansi humik (Mustin, 1987).

Dalzell et al (1987) dan Gaur (1982), pengomposan didefinisikan sebagai proses

perombakan bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang

lembab, panas, beraerasi dengan humus sebagai hasil akhir.

Hal yang sama juga bagi Beffa et al. (1996), pengomposan adalah suatu proses biodegradasi bahan organik, menghasilkan panas, bersifat aerob dan dalam fase solid.

Théobald (1994), baginya pengomposan juga adalah sebuah proses biologik terkerkendali yang memungkinkan berubahnya bahan organik menjadi bahan organik stabil, . Proses tersebut dicirikan oleh banyak sifat seperti penggunakan bahan organik padat, meningkatnya temperatur, terjadinya degradasi secara aerob dan hilangnya massa bahan yang dikomposkan.

Akhirnya berdasarkan Morand et al. (1999), pengomposan adalah proses biologik dari degradasi dan reorganisasi bahan organik dengan adanya unsur hara, yang mengantarkan substrat karbon lignoselulolitik menjadi substrat humik yaitu kompos.

(10)
[image:10.612.135.455.223.504.2]

biji-bijian yang tidak diinginkan . Pengomposan adalah daur ulang bahan organik secara biologis yang akan menghasilkan bahan humus, faktor yang stabil dan mempengaruhi kesuburan. Proses biologis yang terjadi pada pengomposan -adalah hasil dari aktivitas mikrobiologik komplek yang kondisinya berbeda-beda (khusus). Dari uraian dan rangkuman berbagai definisi pengomposan maka pengomposan dapat menjawab sebuah definisi bioteknologi (Mustin, 1987).

Gambar 4. Representasi proses pengomposan secara skematik A) skema diusulkan oleh Théobald (1994), B) skema diusulkan oleh Itävaara et al. (1995).

Kompos, pupuk organik sehat dan ramah lingkungan

Salah satu indikator pengomposan adalah munculnya temperatur thermofil pada bahan organik yang sedang dikomposkan. Dengan temperatur antara 650-70°C ini sudah dianggap cukup untuk mensterilasi bahan yang dikomposkan. Karena berbagai bibit penyakit dapat dimatikan selama proses berlangsung maka hasil akhir yang diperoleh adalah kompos yang higienis yang kalau diaplikasikan di lapangan tidak akan memberikan dampak yang merugikan bagi lingkungan. Sedangkan bahan organik lain seperti kotoran hewan, limbah

Stok initial

pupuk

Amendement Stok

final

jerami, serbuk gergaji hijauan

dsb. C

kotoran hewan lumpur stasiun pemurnian air dsb.

H2O

N Iklim H2O, N Pembalikan

Emisi gas bau

PENGOMPOSAN VALORISASI

patogèn jus A

protéines karbohidrat lemak

rasio C/N kelembaban températur pH

CO2 CO2 PANAS

O2

HUMUS

B

(mikroba, bactéri, jamur, actinomycètes)

BAHAN ORGANIK

(11)

hijauan ternak, sisa-sisa limbah organik lain yang tidak dikomposkan bila digunakan langsung di tanah-tanah pertanian masih harus melalui proses lebih lanjut seperti penghancuran lebih lanjut baik oleh mikroorganisme atau hewan-hewan tanah lain dapat mengganggu tanaman.

Penambahan bahan organik segar ke tanah sebaiknya dihindari sebab ia menghasilkan perubahan-perubahan ekosistem bersamaan dengan berkembangnya tanaman. Jika bahan organik baru terdegradasi sebagian maka degradasi tersebut akan dilanjutkan oleh mikroflora tanah yang menghasilkan produk-produk intermedier yang tidak sesuai bagi pertumbuhan tanaman. Sebaliknya rasio C/N dari bahan organik yang terlalu tinggi akan memunculkan fenomena kelaparan nitrogen (Bernal et al., 1998). Kita harus menjaga image bahwa varietas kompos mengikuti sifat-sifat alami bahan organik dan teknologi pengomposan yang digunakan. Idealnya setiap jenis kompos digunakan untuk jenis tanah yang sesuai, demikian pula iklim dan tanaman budidayanya (Mustin, 1987). Oleh karena itu adalah sangat penting mengetahui kompos muda (belum matang) dan kompos matang. Untuk kompos muda yaitu baru dikomposkan sebagian maka masih bersifat fitotoksik, humifikasi bahan organik yang tidak lengkap menghasilkan molekul-molekul intermediate yang masih bersifat racun bagi tanaman dan menyebabkan terkadinya kekurangan nitrogen

Fungsi kompos sebagai amandment tanah adalah mirip pupuk kimia yaitu memperkaya tanah akan N,P,K namun pengaruhnya yang prinsip adalah untuk merangsang stabilisasi fisik, biologik dan kemik tanah, demikian pula keseimbangan elemen-elemen mineral (de Bertoldi et al., 1983). Fraksi organik dari bahan yang terkompos harus telah terdekomposisi dengan cukup yaitu adanya kandungan humus. Humus adalah produk akhir humifikasi dalam hal mana senyawa-senyawa yang berasal dari lignin, polisakarida, senyawa-senyawa nitrogen dirubah menjadi bahan-bahan stabil. (Tuomela et al., 2000).

. Penambahan kompos pada tanah dapat memodifikasi sifat-sifat fisik, kimia dan biologik dalam jangka panjang . Gobat et al. (1998) memberikan daftar modifikasi yang diperankan kompos :

- Kapasitas retensi air dan ketersediaannya bagi tanaman meningkat demikian pula stabilitas struktur

- Melalui humik dalam kompos kapasitas tukar kation juga meningkat. Tanah mampu mengikat mineral tanah lebih banyak yang mendorong ketersedaan mineral bagi akar dan menghindari hilangnya ion-ion

- Kompos matang merupakan medium komunitas mikroorganisme mesofil yang

(12)

- Pada waktu mikroorgnisme tanah melakukan mineralisasi, kompos membebaskan CO2. Konsentrasu CO2 meningkat tidak hanya pada lapisan atmosfir tanah tetapi juga pada selimut udara di atas tanah dan hal ini menguntungkan bagi aktifitas fotosintesa tanaman tingakat rendah.

- Penggunaan kompos memperbaiki kualtas tanaman budidaya karena adanya peraikan pada tanah, yang tentunya menguntungkan bagi tanaman

- Pada umumnya kompos menyumbang menekan parasit-parasit tanah yang merangsang berkembanganya aktivitas organisme antagonis (kompetisi, sekresi antibiotik, hyperparasitisme)

- - Kompos tidak membunuh patogen tetapi tetapi pebngendalian melalui persaingan berbagai mikroorganisme yang menguntungkan yang berkembang dan aktif (Ozores-Hampton et al., 1994).

Kita juga dapat melihat peranan kompos terhadap porositas tanah, kemampuannya mengadsorbsi bahan-bahan toksik dan pestisida, nutrisi organik tanaman .Tanah juga lmerupakan lingkungan yang komplek dan hidup dimana terjadi interaksi diantara elemen-elemen antara tanaman dan tanah atau di tanah itu sendiri. (Mustin, 1987).

Penutup

Pemakaian kompos sebagai pupuk organik sebetulnya bukan hal baru bagi kita, akan tetapi budaya penggunaan kompos untuk memupuk tanaman atau menjaga kesuburan tanah secara besar-besaran di kalangan petani masih sangat terbatas. Kendala yang dihadapi oleh masyarakat pengguna kompos adalah masih terbatasnya persedian kompos, waktu pembuatan kompos yang cukup memakan waktu dan masih sedikitnya instalai pengomposan baik milik pemerintah maupun masyarakat. Dengan memperhatikan trend dunia dalam mengurangi pemakaian pupuk kimia dan lebih mengedepankan kesuburan berkelanjutan yang ramah lingkungan serta bahan baku kompos yang melimpah di daerah tropik seperti Indonesia, sosialisasi seputar kompos dan pengomposan terus

(13)

Beffa, T., Blanc, M., Lyon, P.-F., Vogt, G., Marchiani, M.., Lott Fischer, J. and Aragno, M., 1996. Isolation of Thermus strains from hot compost (60-80°C). Applied and Environmental Microbiology 62 : 1723-1727

Beffa, T., Lott Fischer, J. Aragno, M. Selldorf P., Gandolla, M. and Gumowski, P., 1994. Etude du développement de moisissures potentiellement allergéniques (en particulier Aspergillus fumigatus) au cours du compostage en Suisse. Swiss Federal Environmental Office (OFEFP-BUWAL, reference RD/OFEFP/310.92.84), pp. 1-95

Bernal, M.P., Sanchez-Monedero, M.A., Paredes C., Roig, A., 1998. Carbon mineralization from organik wastes at different composting stages during their incubation with soil. Agriculture Ecosystem and Environment 69: 175-189

Bertoldi, M. de, Vallini, G. & Pera, A., 1983. The biology of composting: a review. Waste Management & Research 1: 157-176

Chen, Sh.H., 1994. Survey on municipal domestic wastes composting technology in mainland China. Chin. J. Environ. Sci., 15 (1): 53-56.

Dalzell, H.W. Biddllestone;K;R. Gray and K. Thurairajan.1987. Soil Management: Compost production and Use in Tropical and Subtropical Environments. FAO-UN,Rome

Gaur,A.C. 1982. A Manual of Rural Composting. Project Field Document No 15

Gobat, J.-M., Aragno, M. and Matthey, W., 1998. Le sol vivant: Bases de pédologie, biologie des sols. Presses polytechniques et universitaires romandes, CH-1015 Lausanne, 519 p. Haug,R.T. 1980. Compost Engineering Principle and practice. Ann Arbor Science. Publishers

Inc/the Butterworth Group. Ann Arbor, Michigan

Itävaara, M., Venelampi, O., Karjomaa, S., 1995. Testing methods for determining the compostability of packaging materials. In: Barth, J. (Ed). Proceedings of Biological Waste Management «Wasted Chance» BWM Infoservice, Germany.

Khosino,Masayoshi., 1990. The use of organik and chemical fertilisers in Japan. Food and Fertilizer Technology center. Extension Bulletin No 311.

Klamer, M., Eiland, F., Lind ,A-M., Leth , J.J; Iversen, L., Sochting, U. and E. Baath., 2000. Changes in chemical composition and microbial biomass during composting of straw and pig slurry. In : Warman PR, Taylor BR (eds). Proceedings of the International Composting Symposium (ICS’99), September 19-23, 1999, Dartmouth/Halifax, Nova Scotia, Canada. CBA Press Inc., Truro, NS, Canada.

Morand, P., Baron, S., Yulipriyanto, H., 1999. Détermination de la nature et quantification des gaz émis lors du compostage de mélanges d’effluents d’élevage et déchets ligno-cellulosiques, en relation avec les populations et les activités microbiennes de ces mélanges. Rapport Final, Convention n° 9875026, Université de Rennes 1, 4 Vaulx-Jardin, COOPAGRI-Bretagne, 115 p.

Morand, P., Baron, S., Yulipriyanto, H., Robin, P., 2000. Gaseous emissions during composting of poplar bark-poultry dung mixtures. First Results. In : Warman P. R., Taylor B. R. (eds). Proceedings of the International Composting Symposium (ICS’99), September 19-23, 1999, Dartmouth/Halifax, Nova Scotia, Canada. CBA Press Inc., Truro, NS, Canada, pp. 544-570

(14)

Nakasaki, K., Sasaki, M., Shoda, M. and Kubota, H., 1985. Change in Microbial Numbers during Thermophilic Composting of Sevage Slude with Reference to CO2 Evolution Rate. Applied and Environmental Microbiology, 49 : 37-41

Ozores-Hampton, M., Bryan, H.H. and McMillan, R., 1994. Suppressing diseases in field crops. Biocycle 35(7) : 60-65

Sakai,S., Sawell,S., Chandler,A.J., Eighmy,T.,T., Kosson,D.S., Vehlow,J., Van der Sloot,H.A., Hartlén,J. and Hjelmar,O. 1996. World trends in municipal solid waste management. Waste Management, Vol. 16, Nos 5/6 pp. 341-356

Sharma, V.K., Canditelli, M., Fortuna, F., and Carnacchia,G., 1997. Processing of urban and agroindustrial residues by Aerobic Composting. Energy Concers. Mgmt vol 38, pp 453-478

Théobald, O., 1994. L’élevage de porcs sur litière: Compte rendu du colloque de Rosmalen 21-22 septembre 1992, Techni-porc 16193 : 39-42

Tuomela, M., Vikman, M., Hatakka, A., Itävaara, M., 2000. Biodegradation of lignin in a compost environment : a review. Bioresource Technology 72 : 169-183

Gambar

Tabel 1. Macam –macam limbah  organik beserta nisbah C/N  (Gaur, 1982 ; Yulipriyanto,
Gambar 1.  Mekanisme yang menunjukkan pengaruh bahan organik terhadap  kualitas tanaman (Khosino, 1990)
Gambar 2.  Diagram alir dari berbagai proses yang memungkinkan untuk recovery energy dari limbah organik pertanian (Sharma et al., 1996)
Gambar 3. Macam mikroorganisme dan evolusi temperatur selama pengomposan (Mustin,
+2

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,