DETERMINAN PERMINTAAN
PARIWISATA INTERNASIONAL INDONESIA
2002-2011
Riyan Hidayat1, Dewi Ratna Sjari M2
1Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia 2Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia
Email: [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini membahas determinan permintaan pariwisata internasional Indonesia dari sisi jumlah kunjungan dan total pengeluara wisatawan mancanegara. Di dalam studi ini terdapat beberapa faktor yang memengaruhi permintaan pariwisata internasional Indonesia yaitu pendapatan riil per kapita, biaya hidup relatif, biaya transportasi, kapasitas akomodasi, kebijakan fasilitasi visa, ancaman terorisme serta krisis ekonomi. Hasil dari studi ini menyarankan pemerintah perlu terus mendorong perbaikan infrastruktur pariwisata dan terus menambah jumlah negara yang memeroleh Visa on Arrival (VoA) agar permintaan pariwisata internasional Indonesia terus meningkat.
ABSTRACT
This Research discusses the determinant of international tourism for Indonesia measured by tourist arrival and tourist expenditures. The determinants involved in this study are per capita income, relative cost of living, cost of travel, accomodation capacity, visa on arrival policy, terrorism threat and economic crisis. The result implies that government need to keep on improving tourism infrastructures and giving more visa on arrival for supporting the development of international demand for Indonesia’s tourism.
Pendahuluan
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data World Travel and Tourism Council1, kontribusi pariwisata dunia terhadap total GDP dunia dari tahun 2000-2010 secara rata-rata adalah sebesar 9.7% per tahun. Selain itu, kontribusi sektor pariwisata dunia dalam penciptaan lapangan pekerjaan juga terus meningkat. Untuk periode 2000-2010, sektor pariwisata dunia berkontribusi dalam penciptaan lapangan pekerjaan rata-rata sebesar 8,3 % dari total tenaga kerja dunia setiap tahunnya.
Sementara itu, perkembangan pariwisata di Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang tidak jauh berbeda dengan pariwisata global. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)2 menunjukkan untuk periode 2007-2011 sektor pariwisata secara rata-rata setiap tahunnya memberikan lapangan pekerjaan kepada 7,75% dari total angkatan kerja. Untuk periode yang sama, sektor pariwisata berkontribusi rata-rata 4% terhadap GDP Indonesia setiap tahunnya.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Indonesia juga bisa dilihat dari penerimaan devisa sektor pariwisata. Data Kemenparekraf menunjukkan bahwa pada tahun 2010 dan 2011, penerimaan devisa pariwisata masuk dalam urutan 5 besar penerima devisa dari ekspor. Penerimaan devisa pariwisata berada di bawah penerimaan devisa Migas, Batubara dan Kelapa sawit seperti terlihat dalam tabel 1.
Tabel 1. Rangking Devisa Pariwisata Terhadap 5 Ekspor Barang Terbesar Rank Jenis Komoditas 2010 (Juta USD) 2011 (Juta USD) 1 Minyak dan gas Bumi 28,039.60 41,477.10 2 Minyak Kelapa Sawit 18,499.39 27,221.80
3 Karet Olahan 13,468.97 17,261.30
4 Pakaian Jadi 9,314.97 14,258.20
5 Pariwisata 7,603.45 8,554.40
Sumber: Nesparnas, Kemanparekraf
1 Dalam Travel & Tourism Economic Impact 2012 oleh WTTC.
2 Dalam Dampak Ekonomi Makro Berdasarkan Neraca Satelit Pariwisata Nasional (NESPARNAS), 2007 – 2011 oleh Kemanparekraf
Besarnya kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa dan indikator-indikator ekonomi lainnya terutama dipengaruhi oleh besarnya permintaan pada sektor pariwisata itu sendiri. Permintaan terhadap pariwisata Indonesia salah satunya berasal dari wisatawan mancanegara (wisman). Data BPS menunjukkan bahwa permintaan terhadap pariwisata Indonesia dari wisman memiliki tren positif.
Gambar 1. Kunjungan Wisman ke Indonesia, 1994-2011 (dalam juta Orang)
Sumber : Statistik Indonesia 2012, BPS (diolah penulis)
Data di atas menunjukkan bahwa permintaan internasional terhadap pariwisata nasional memiliki tren positif walaupun berfluktuasi. Sejak Tahun 1994 hingga 1997, permintaan internasional terhadap pariwisata Indonesia terus meningkat. Kemudian, pada -tahun 1997 hingga 1998 mengalami penurunan akibat krisis moneter yang berdampak pada terganggunya stabilitas politik dan keamanan di Indonesia. Penurunan kedatangan jumlah wisman ke Indonesia juga terjadi pada tahun 2003, 2005 dan 2006. Hal itu disebabkan adanya serangkaian gangguan terorisme yaitu Bom Bali I pada bulan Oktober 2003 dan Bom Bali II pada bulan Oktober 2005. Selanjutnya, dari tahun 2007, jumlah kedatangan wisman ke Indonesia kembali tumbuh positif.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Jumlah Kedatangan Wisman
Gambar 2. Jumlah Pengeluaran Wisman di Indonesia, 2000-2011 (Juta US$)
Sumber: Statistik Indonesia 2012, BPS (diolah penulis)
Sejalan dengan jumlah kedatangan wisman tersebut, total pengeluaran wisman selama di Indonesia juga menunjukkan tren positif terutama terjadi sejak tahun 2006. Namun, pada pertengahan 2008 hingga 2009 pengeluaran wisman di Indonesia mengalami penurunan karena adanya krisis finansial global.
Data di atas menunjukkan bahwa sektor pariwisata Indonesia merupakan sektor yang potensial bagi perekonomian. Namun demikian, potensi tersebut sepertinya belum dimanfaatkan dengan optimal. Hal itu bisa dilihat dari perbandingan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia di banding negara tetangga yang menawarkan obyek pariwisata yang kurang lebih sama dengan Indonesia. Gambar 3 memperlihatkan bahwa jumlah kunjungan wisman ke Indonesia dan beberapa negara lain anggota ASEAN.
Gambar 3. Kunjungan Wisman Ke Negara Asean (dalam 000 wisman)
Sumber: ASEAN Tourism Statistics Database (diolah penulis) 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Jumlah Pengeluaran Wisman 0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 2009 2010 2011 2012 Malaysia Thailand Singapore Indonesia Viet Nam The Philippines Cambodia Lao PDR Myanmar Brunei Darussalam
Menurut The Travel and Tourism Competitiveness Report 2013, daya saing pariwisata Indonesia masih berada dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand. Indonesia berada pada posisi 70 sementara Singapura, Malaysia dan Thailand pada posisi 10, 34 dan 43. Indikator daya saing pariwisata ini dinilai berdasarkan beberapa kelompok kategori yaitu kerangka peraturan pariwisata, keadaan lingkungan bisnis dan infrastruktur serta sumber daya alam,manusia dan budaya.
Pada tabel 2 terlihat bahwa indikator yang dinilai paling buruk untuk daya saing pariwisata Indonesia adalah infrastruktur pariwisata dimana Indonesia hanya dinilai 2.1 dari 7. Ini jauh di bawah kondisi infrastruktur Malaysia, Singapore dan Thailand. Dalam The Travel
and Tourism Competitiveness Report 2013 tersebut memang disebutkan bahwa potensi sektor
pariwisata Indonesia terhambat oleh infrastruktur yang kurang berkembang terutama infrastruktur pariwisata (The Travel and Tourism Competitiveness Report 2013, hal 22). Tabel 2. Perbandingan Peringkat Daya Saing Pariwisata Indonesia dan Beberapa Negara Lain
Indikator Indonesia Singapura Malaysia Thailand
Overall 70 10 34 43
I. T&T regulatory framework 95 6 55 76
II. Business environment and
infrastructure 84 4 41 44 a. Air Transport Infrastructure 54 14 26 21 b. Ground Transport Infrastructure 87 2 36 62 c. Tourism Infrastructure 113 38 73 31 d. ICT Infrastructure 87 9 57 90 e. Price Competitiveness in T&T Industry 9 66 5 25
III. T&T human, cultural and
natural resources 31 25 17 23
a. Human Resources 61 2 28 70
b. Affinity for Travel and
Tourism 114 8 16 18
c. Natural Resources 6 92 18 23
d. Cultural Resources 38 36 31 36
Sumber: The Travel and Tourism Competitiveness Report 2013, WEF (diolah penulis)
Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa sektor pariwisata masih mungkin memiliki potensi yang besar untuk mendukung ekonomi nasional. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kontribusi devisa sektor pariwisata memang mengungguli
kontribusi dari sektor lainnya sehingga kontribusi devisa sektor pariwisata Indonesia selalu masuk posisi kelima terbesar. Namun, kontribusi devisa sektor ini masih dibawah kontribusi devisa dari ekspor migas dan minyak kelapa sawit.
Untuk lebih mengoptimalkan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia serta mengoptimalkan konsumsi wisman atas barang/jasa pariwisata Indonesia maka perlu dilakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi permintaan terhadap pariwisata Indonesia baik dari sisi jumlah kunjungan maupun tingkat konsumsi. Untuk itu, studi ini melakukan analisis terhadap permintaan dari 24 negara yang menjadi pasar pariwisata Indonesia sepanjang tahun 2002-2011 untuk mengetahui faktor-faktor tersebut. Negara-negara yang menjadi pasar pariwisata Indonesia yaitu Singapura, Malaysia, Australia, Republik Cina, Jepang, Republik Korea, Filipina, Amerika Serikat, Inggris Raya, Belanda, Perancis, Jerman, Rusia, Hongkong, Kanada, Italia, Selandia Baru, Swedia, Norwegia, Brunei Darussalam, India, Pakistan, Bangladesh dan Srilanka.
Tinjauan Literatur
-Kerangka Teoritis
Landasan teori yang bisa digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang memengaruhi variabel dependen “ jumlah kedatangan wisatawan mancanegara” adalah persamaan Marshallian Demand. Fungsi Marshallian Demand menjelaskan tentang bagaimana memaksimumkan utilitas dengan kendala budget (Nicholson, 2004). Misalkan terdapat dua barang, X1 dan X2, maka preferensi individu atas dua barang tersebut bisa ditulis dalam fungsi utilitas seperti berikut:
!"#$#"%& = (!!!, !
!!) … … … (1)
Apabila budget individu adalah sebesar B, maka fungsi budget idividu adalah: ! = !!!!+ !!!!… … … . . … … … (2)
Dengan demikian, persamaan Marshallian Demand yang memaksimumkan utilitas dengan kendala budget dapat ditulis seperti berikut:
!"#: !!!. !
!!… … … . . … … … … . … (3) !. ! ! = !1!1+ !2!2… … … (4)
Untuk memaksimumkan kendala budget tersebut, dapat digunakan fungsi Lagrangian seperti berikut:
! = !!!. !
!!+ ! ! − !!!!− !!!! … … … . … … (5)
Kemudian, syarat perlu untuk memaksimumkan fungsi tersebut adalah dengan menurunkan secara parsial fungsi Lagrangian terhadap !!! dan !
!! !" !!! = !!! !!!! !!− !!! = 0 … … … (6) !" !!! = !!! !! !!!!− !!! = 0 … … … . . … (7) !" !!! = ! − !!!!− !!!! = 0 … … … . … … … (8) Dari persamaan (3) dan (4) diperoleh:
! =!!!!!!!! ! !! = !!!!! !!!! !! … … … . . … (9) !! !! = !!! !!!… … … . . . … (10) Dengan mensubstitusikan persamaan (6) ke persamaan (5) maka diperoleh:
! − !!!! !! = 0 … … … . … … … (11) ! = !!!! !!… … … . . … … (12) ! = !!!! !!… … … . . … … (13)
! = !! !! !!! ! ! !!!… … … . … … . … … … (14) ! = !! !! ! ! ! !!!!!… … … . . … (15) !! = ! !!! !!! ! ! !!! … … … . . … … . … (16) !! !!, !!, ! = ! !!! !!! ! !!!! … … … . . …(17) !! !!, !!, ! = ! !!! !!! ! !!!! … … … . … … (18)
Kemudian, persamaan (7) dan (8) disubstitusikan ke dalam persamaan utilitas sehingga menjadi: ! = !!!! !!… … … . . … … (19) ! = ! !!!! !! ! !!!! ! . ! !!!! !! ! !!!! ! … … . . (20)
Sehingga fungsi Marshallian Demand untuk !! dan !! adalah : !!! = !
!! !, !!, !! … … … . . . … (21)
!!! = !
!! !, !!, !! … … … (22)
dan indirect utility function menjadi: ! = ! !!! !, !
Dimana V adalah fungsi indirect utility
Indirect utility merupakan fungsi yang menunjukkan utilitas maksimum yang bisa
dicapai dengan pengeluaran tertentu. Fungsi indirect utility seperti di atas bisa menjadi pedoman dalam menentukan faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kedatangan wisman ke Indonesia.
-Studi Terdahulu
Proenca dan Soukiazis (2005) menganalisis permintaan internasional terhadap pariwisata Portugal dari wisatawan Spanyol, Jerman, Perancis, dan Inggris untuk periode tahun 1977-2001. Dalam studi ini, dilakukan estimasi model statis dan dinamis terhadap permintaan pariwisata di Portugal. Spesifikasi model fungsi permintaan terhadap pariwisata Portugal yang digunakan dalam studi ini adalah sebagai berikut:
!"!!,! = !! + !!!"!!,!+ !!!"!!,!+ !!!"!!+ !!!"!"!+ !!!86! Dimana:
Wi,t adalah rasio pengeluaran pariwisata negara asal dengan negara tujuan
Yi,t adalah PDB per kapita negara asal wisman
Pi,t adalah harga relatif antara negara tujuan dan negara asal (CPI dan nilai tukar)
Ai,t adalah kapasitas akomodasi yaitu jumlah tempat tidur hotel yang tersedia
IPi,t adalah rasio investasi publik dengan GDP
D86 adalah dummy dampak integrasi
Proenca dan Soukiazis (2005) melakukan analisis model statis tersebut dengan menggunakan tiga metode estimasi data panel yaitu pooled (OLS), Fixed Effect (LSDV), dan Random Effect (GLS). Hasil estimasi dari ketiga alternatif metode ini tidak memberikan hasil yang berbeda terlalu jauh. Pada ketiga metode estimasi, PDB perkapita dan kapasitas akomodasi menjadi variabel yang signifikan secara statistik. Nilai elastisitas pendapatan permintaan terhadap pariwisata Portugal lebih besar dari satu yang berarti pariwisata merupakan barang mewah. Artinya, 1% peningkatan pendapatan perkapita negara yang menjadi pasar pariwisata Portugal akan meningkatkan jumlah kedatangan wisman ke Portugal lebih dari 1%.
Sementara itu, variabel harga relatif memilik tanda negatif dalam estimasi FE dan RE tanpa ada signifikansi secara statistik. Ini bukti bahwa biaya hidup relatif antara negara asal
dan negara tujuan bukan faktor penentu dalam pengambilan keputusan oleh wisatawan untuk memilih Portugal sebagai daerah tujuan wisata. Hal ini karena wisatawan tersebut berasal dari negara yang memiliki standar hidup yang lebih tinggi dibanding Portugal.
Variabel rasio investasi publik di negara tujuan tidak signifikan di dalam permintaan untuk pariwisata di Portugal dan memiliki tanda negatif. ini menunjukkan bahwa wisatawan mancanegara lebih peduli pada fasilitas akomodasi individu dari pada pelayanan publik. Untuk variabel dummy dampak pembukaan perbatasan Portugal juga tidak signifikan secara statistik dan memiliki arah positif.
Metodologi Penelitian
Dalam menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan internasional terhadap pariwisata Indonesia, dibangun dua model permintaan terhadap pariwisata Indonesia. Model pertama mengukur permintaan dengan jumlah kedatangan wisman sementara model kedua mengukur permintaan dari total pengeluaran wisman (penerimaan dari wisman). Pembentukan kedua model permintaan ini berdasarkan pada kerangka teori dan penelitian terdahulu.
Model permintaan internasional terhadap pariwisata Indonesia dapat diturunkan dari kerangka teori fungsi indirect utility seperti berikut:
! = !(!, !!!, !!!)
Dalam kedua model, variabel dependen permintaan wisman diturunkan dari proksi utilitas. Selanjutnya, sebagai proksi budget (B) dan proksi harga !!!!!!, dapat diturunkan variabel GDP per kapita dan variabel harga relatif.
Kemudian, berdasarkan kerangka teori diatas dan penelitian terdahulu tersebut maka dalam penelitian ini model permintaannya dikembangkan seperti dalam kerangka berfikir berikut ini:
Gambar 4. Kerangka Berfikir
Permintaan terhadap pariwisata Indonesia dilihat dari sisi jumlah kedatangan dan pengeluaran wisman. Oleh karena itu, dibangun dua model yaitu model jumlah kedatangan wisman dan model pengeluaran wisman. Variabel-variabel independen untuk model jumlah kedatangan wisman adalah pendapatan riil perkapita, biaya hidup relatif, biaya transportasi, akomodasi (jumlah kamar hotel), dummy kebijakan Visa on Arrival, dummy kejadian Bom Bali I dan II, serta krisis finansial global 2008. Sementara itu, variabel-variabel independen untuk model pengeluaran wisman adalah pendapatan riil perkapita, biaya hidup relatif, biaya transportasi, akomodasi (jumlah kamar hotel) dan dummy krisis finansial global 2008. Tabel 3 meringkas meringkas definisi untuk setiap variabel yang digunakan untuk memproksi setiap faktor-faktor yang memengaruhi permintaan terhadap pariwisata Indonesia.
Dalam studi ini digunakan data panel sehingga cara estimasi yang digunakan harus dipilih antara fixed effect model atau random effect model. Selain itu, metode yang digunakan untuk estimasi juga harus tepat yaitu antara Ordinary Least Square (OLS) apabila diasumsikan tidak memiliki masalah heteroskedastis atau Generalized Least Square (GLS) jika ada masalah heteroskedastis.
Tabel 3. Tabel Definisis Variabel
Definisi Umum Definisi Khusus Variabel Penelitian
Permintaan wisman terhadap pariwisata Indonesia
Jumlah Kedatangan Wisman per negara
asal TA
Jumlah Pengeluaran Wisman total per
negara asal EXP
Pendapatan riil perkapita PDB riil Perkapita RGDP Biaya Hidup Relatif TPi,t=CPIIndonesia/(CPIorigin*ERIndonesia/Origin) TP
Biaya Transportasi Harga Minyak Dunia*Jarak TC
Akomodasi Jumlah Kamar Hotel HR
Dampak Kualitatif
Dummy Kebijakan VoA(1 jika VoA dan 0
jika bukan VoA) DvoA
Dummy Bom Bali I(1 jika Bom Bali I dan
0 Jika tidak Bom Bali I) D2003
Dummy Bom Bali II(1 jika Bom Bali II
dan 0 jika tidak Bom Bali II) D2005 Dummy Krisis Finansial Global 2009 (1
jika krisis dan 0 jika tidak krisis) D09
Spesifikasi model dalam studi ini diturunkan dari kerangka berfikir dalam pembentukan model permintaan yang dijelaskan sebelumnya. Spesifikasi model yang digunakan dalam studi ini adalah sebagai berikut:
1. !"#$!,! = !!+ !!!"#!"#!,!+ !!!"#$!,!+ !!!"#$!,!+ !!!"#$!+ !!!"#$!,!+ !!!2003!,!+ !!!2005!,!+ !!!09
2. !"#$%!,! = !! + !!!"#!"#!,! + !!!"#$!,!+ !!!"#$!,!+ !!!"#$!+ !! !09 Dimana:
!"!,! = Jumlah Kedatangan Wisatawan Mancanegara dari Negara i pada tahun t !"#!,! = Jumlah Penerimaan dari Wisatawan Mancanegara Negara i pada tahun t !"#$!,! = PDB riil per kapita negara i pada tahun t
!"!,! = Biaya hidup relatif wisman di Indonesia !"!,! = Biaya Perjalanan Wisman Ke Indonesia
!"! = Akomodasi
!"#$!,! = Dummy Kebijakan VoA (1 jika VoA dan 0 jika bukan VoA)
!2003!,! = Dummy Bom Bali I (1 jika Bom Bali I dan 0 Jika tidak Bom Bali I) !2005!,! = Dummy Bom Bali II (1 jika Bom Bali II dan 0 jika tidak Bom Bali II) !09!,! = Dummy Krisis Finansial Global 2009 (1 jika krisis dan 0 jika tidak krisis)
Analisa dan Pembahasan
Estimasi Model Jumlah Kedatangan Wisman
Dengan Hausman Test diketahui bahwa model yang sebaiknya digunakan adalah fixed
effect. Sementara itu, dari uji pelanggaran asumsi terlihat adanya pelanggaran asumsi
heteroskedastis. Oleh karena itu, dilakukan estimasi dengan menggunakan GLS. Hasil estimasi terlihat pada tabel 4.
Dari hasil estimasi untuk variabel pendapatan perkapita (LnRGDP) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=1%. Artinya, pada tingkat kepercayaan 99% variabel pendapatan per kapita memengaruhi kedatangan wisman secara signifikan. Nilai koefisien GDP riil per kapita sebesar 2.027. Besaran ini menunjukkan bahwa peningkatan 1% pendapatan per kapita akan meningkatkan jumlah kunjungan wisman sebesar 2.027%. Hasil estimasi ini sesuai dengan hipotesis dimana saat pertumbuhan perkapita suatu negara semakin baik, maka permintaan untuk berwisata semakin meningkat. Selain itu, besaran ini menunjukkan bahwa pariwisata Indonesia adalah barang mewah karena nilai elastisitas pendapatannya lebih besar dari 1.
Kemudian, variabel biaya hidup relatif wisman di Indonesia (LnTP) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=1%. Hal itu berarti pada tingkat kepercayaan 99%, variabel biaya hidup relatif wisman di Indonesia memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan. Selain itu, diperoleh nilai koefisien variabel ini sebesar -0.76. Nilai ini menunjukkan bahwa peningkatan 1% harga pariwisata Indonesia akan menurunkan kedatangan wisman sebesar 0.76%. Hasil ini sesuai dengan hipotesis awal dimana saat harga pariwisata Indonesia meningkat, jumlah kedatangan wisman ke Indonesia akan menurun.
Tabel 4. Hasil Estimasi Model Jumlah Kedatangan Wisman
FE RE GLS
Lnta lnta Lnta
Lngdpriil 2.027 0.881 2.027 (8.43)*** (5.36)*** (9.05)*** Lntp -0.76 -0.024 -0.76 (3.41)*** 0.18 (3.66)*** Lntc -0.22 -0.205 -0.22 (1.78)* -1.59 (1.91)* Lnhr 0.91 1.369 0.91 (1.75)* (2.62)*** (1.88)* Dvoa 0.24 0.091 0.24 (2.76)*** -0.96 (2.96)*** d2003 (0.128)* -0.188 -0.128 -1.9 (2.51)** (2.04)**0 d2005 0.005 -0.019 0.005 -0.07 -0.24 -0.07 d09 -0.003 -0.037 -0.003 -0.04 -0.41 -0.04 Constant -21.977 -11.875 -22.344 (3.82)*** (2.20)** (3.91)*** Observations 240 240 240 Number of Negara 24 24 24 R-squared 0.53
* significant at 10%; ** significant at 5%; ***significant at 1%
Variabel biaya perjalan (LnTC) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=10%. Artinya, pada tingkat kepercayaan 90%, variabel biaya perjalanan memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan. Nilai koefisien untuk variabel ini adalah sebesar -0.22. Dengan demikian, peningkatan 1% biaya perjalanan akan menurunkan jumlah kedatangan wisman ke Indonesia sebesar 0.22%. Oleh karena itu, hasil ini sesuai dengan
hipotesis dimana saat biaya perjalanan meningkat, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia menurun.
Selanjutnya, dari hasil estimasi terlihat variabel akomodasi (LnHR) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=10%. Hal ini berarti variabel biaya perjalanan memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 90%. Selain itu, variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar 0.91. Artinya, peningkatan 1% akomodasi (jumlah kamar hotel) akan meningkatkan jumlah kedatangan wisman ke Indonesia sebesar 0.91%. Oleh karena itu, hasil ini sesuai dengan hipotesis yaitu saat infratruktur pariwisata membaik ( jumlah akomodasi) maka jumlah kedatangan wisman ke Indonesia akan meingkat. Untuk dummy variable kebijakan Visa on Arrival (DVoA), hasil estimasi sesuai dengan hipotesis dan nilai t-stat signifikan pada α=1%. Hal ini berarti keberadaan kebijakan VoA memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Nilai koefisien variabel ini adalah sebesar 0.24. Dengan demikian, adanya VoA akan menyebabkan jumlah kedatangan wisman ke Indonesia meningkat sebesar 0.24%
Hasil estimasi untuk variabel kejadian Bom Bali I(D2003) sesuai dengan hipotesis. Nilai t-stat variabel ini signifikan pada α=5%. Oleh karena itu, dummy variable kejadian Bom Bali I memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar -0.128. Artinya, adanya kejadian Bom Bali I menyebabkan jumlah kedatangan wisman ke Indonesia menurun sebesar 0.128%.
Sementara itu, hasil estimasi untuk variabel kejadian Bom Bali II(D2005) tidak signifikan memengaruhi jumlah kedatangan wisman ke Indonesia. Begitu juga dengan krisis finansial global 2009 tidak memengaruhi jumlah kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan.
Estimasi Model Pengeluaran Wisman
Hasil Hausman Test menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan adalah fixed effect. Sementara itu, hasil uji pelanggaran asumsi memperlihatkan adanya pelanggaran asumsi heteroskedastis. Dengan demikian, metode GLS digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Hasil estimasi model pengeluaran wisman terdapat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Estimasi Model Pengeluaran Wisman
FE RE GLS
lnexp Lnexp Lnexp
Lngdpriil 1.836 0.721 1.836 (6.78)*** (4.43)*** (7.26)*** Lntp -0.986 -0.082 -0.986 (4.13)*** -0.65 (4.42)*** Lntc -0.238 -0.15 -0.238 (2.27)** -1.39 (2.43)** Lnhr 2.712 2.576 2.712 (7.49)*** (7.20)*** (8.01)*** d09 -0.128 -0.077 -0.128 (1.74)* -0.96 (1.86)* Constant -51.248 -33.606 -52.322 (10.91)*** (9.06)*** (10.99)*** Observations 228 228 228 Number of Negara 24 24 24 R-squared 0.61
* significant at 10%; ** significant at 5%; ***significant at 1%
Hasil estimasi diatas memperlihatkan untuk variabel pendapatan perkapita (LnRGDP) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=1%. Dengan demikian, variabel pendapatan per kapita memengaruhi pengeluaran wisman secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99% . Nilai koefisien GDP per kapita sebesar 1.836. Nilai ini menunjukkan bahwa peningkatan 1% pendapatan per kapita akan meningkatkan jumlah pengeluaran wisman sebesar 1.836%. Hasil estimasi ini sesuai dengan hipotesis dimana saat pertumbuhan perkapita suatu negara semakin baik, maka pengeluaran wisatawan untuk wisata semakin meningkat.
Kemudian, untuk variabel biaya hidup relatif wisman di Indonesia (LnTP), nilai t-stat signifikan pada α=1%. Hal ini berarti variabel harga pariwisata memengaruhi pengeluaran wisman di Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar -0.986. Berarti, peningkatan 1% biaya hidup di Indonesia akan
menurunkan pengeluaran wisman sebesar 0.986%. Hasil ini sesuai dengan hipotesis dimana peningkatan biaya hidup akan menurunkan pengeluaran wisman.
Selanjutnya, untuk variabel biaya perjalan (LnTC), hasil estimasi sesuai dengan hipotesis dan nilai t-stat signifikan pada α=5%. Artinya, pada tingkat kepercayaan 95%, variabel biaya perjalanan memengaruhi pengeluaran wisman di Indonesia secara signifikan. Variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar -0.238. Dengan demikian, peningkatan 1% biaya perjalanan akan menurunkan pengeluaran wisman di Indonesia sebesar 0.238%.
Kemudian dari hasil estimasi terlihat variabel akomodasi (LnHR) memiliki nilai t-stat yang signifikan pada α=1%. Hal ini berarti variabel akomodasi memengaruhi pengeluaran wisman di Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Selain itu, variabel ini memiliki nilai koefisien sebesar 2.712. Artinya, peningkatan 1% akomodasi (jumlah kamar hotel) akan meningkatkan pengeluaran wisman di Indonesia sebesar 2.712%. Oleh karena itu, hasil ini sesuai dengan hipotesis yaitu saat jumlah akomodasi meningkat maka pengeluaran wisman di Indonesia akan meningkat.
Selanjutnya, krisis finansial global 2009 memengaruhi pengeluaran wisman di Indonesia secara signifikan pada α=10%. Hal ini berarti keberadaan krisis finansial global 2009 memengaruhi kedatangan wisman ke Indonesia secara signifikan pada tingkat kepercayaan 90%. Nilai koefisien variabel ini adalah sebesar -0.128. Dengan demikian, adanya krisis finansial global akan menyebabkan pengeluaran wisman Indonesia menurun sebesar 0.128%.
Analisis Determinan Permintaan Pariwisata Internasional Indonesia
Hasil estimasi model jumlah kedatangan wisman dan model pengeluaran wisman menunjukkan bahwa variabel pendapatan perkapita signifikan memengaruhi permintaan wisman terhadap pariwisata Indonesia baik dari sisi jumlah kedatangan wisatawan maupun pengeluaran wisatawan. Untuk kedua model juga, elastisitas pendapatan lebih dari satu sehingga bisa disimpulkan bahwa pariwisata Indonesia merupakan barang mewah bagi wisman yang datang ke Indonesia. Selain itu, nilai koefisien variabel pendapatan paling besar dibanding nilai koefisien variabel lainnya untuk model jumlah kedatangan wisman. Hal tersebut berarti permintaan pariwisata Indonesia dari sisi jumlah kedatangan lebih elastis terhadap pendapatan dibandingkan variabel lainnya.
Kemudian, variabel biaya hidup relatif wisman juga signifikan memengaruhi permintaan terhadap pariwisata Indonesia baik dari sisi jumlah kedatangan wisman maupun dari sisi pengeluaran wisman. Dengan nilai koefisien yang lebih kecil dari satu pada kedua model, berarti permintaan terhadap pariwisata Indonesia bersifat tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga.
Sementara itu,variabel biaya perjalanan signifikan untuk kedua model. Namun demikian, besaran koefisien ini tidak terlalu besar sehingga permintaan terhadap pariwisata Indonesia tidak terlalu sensitif terhadap perubahan biaya perjalanan.
Hasil estimasi untuk variabel infrastruktur pariwisata yaitu jumlah kamar hotel signifikan pada kedua model. Jumlah kamar hotel signifikan memengaruhi permintaan terhadap pariwisata Indonesia baik dari sisi kedatangan wisatawan mancanegara maupun pengeluaran wisatawan mancanegara. Nilai koefisien variabel ini untuk model jumlah kedatangan wisman adalah yang terbesar kedua setelah GDP riil perkapita. Sementara itu, pada model pengeluaran wisman, nilai koefisien variabel jumlah kamar hotel adalah yang paling besar dibandingkan besaran koefisien variabel lain. Dengan demikian, untuk model pengeluaran wisman infrastruktur pariwisata yaitu jumlah kamar hotel menjadi determinan utama permintaan pariwisata.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini bisa disimpulkan bahwa jumlah kedatangan wisman ke Indonesia dipengaruhi secara positif oleh pendapatan riil perkapita negara asal (LnRGDP) dan jumlah kamar hotel (LnHR) serta secara negatif oleh biaya hidup relatif wisman (LnTP), biaya transportasi (LnTC), kebijakan VoA (DvoA) dan kejadian Bom Bali I. Selain itu, Total pengeluaran wisman dipengaruhi secara positif oleh pendapatan riil perkapita negara asal (LnRGDP) dan jumlah kamar hotel (LnHR) serta secara negatif oleh biaya hidup relatif wisman (LnTP), biaya transportasi (LnTC), dan krisis finansial global 2009 (D2009).
Saran
Sebagaimana kesimpulan penelitian ini bahwa jumlah hotel signifikan memengaruhi baik kedatangan maupun total pengeluaran wisman, untuk itu pemerintah perlu terus mendorong berkembangnya akomodasi pariwisata. Selain itu, Adanya kebijakan VoA juga
dibuktikan memberi pengaruh positif terhadap permintaan internasional terhadap pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus menambah negara yang memeroleh VoA .
Daftar Referensi
ASEAN. 2014. ASEAN Tourism Statistics Database. www.asean.org Januari, 2014. Biro Pusat Statistik.2012. Statistik Indonesia 2012. Jakarta: BPS
Blanke, Jennifer, & Thea Chiesa.2014. The Travel and Tourism Competitiveness Report
2013.Geneva: WEF
Kemenparekraf.(2012). Dampak Ekonomi Makro Berdasarkan Neraca Satelit Pariwisata
Nasional (NESPARNAS), 2007 – 2011.Desember, 2013. Januari 15, 2014.
http://www.parekraf.go.id/userfiles/file/Dampak%20Ekonomi%202007%20-%202011.pdf
Kemenparekraf.(2012). Statistik Wisatawan Mancanegara 2007-2011. http://www.parekraf.go.id/asp/ringkasan.asp?c=110
Kemenparekraf.2013. Rangking Devisa Pariwisata Terhadap 10 Ekspor Barang Terbesar,
2007-2011. Januari 15, 2014.
http://www.parekraf.go.id/userfiles/file/Ranking%20Devisa%202007%20-%202011.pdf
Nicholson, Walter, & Christopher Snyder. Microeconomic Theory: Basic Principles and Extensions.
Proenca, Sara, &Elias Soukiazis.(2005). Demand for Tourism in Portugal: A Panel Data
Approach. Faculdade de Economia da Universidade de Coimbra: Portugal
WTTC.(2012). Travel & Tourism Economic Impact 2012 World. Geneva: World Travel and Tourism Council.