BAB 1 PENDAHULUAN. penting bagi kehidupan manusia. Bahasa salah satu wujud yang tidak dapat dapat

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat komunikasi yag dimiliki oleh manusia untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya, menyampaikan gagasan, perasaan, informasi dalam bersosialisasi antarmasyarakat, dan mempunyai peranan yag penting bagi kehidupan manusia. Bahasa salah satu wujud yang tidak dapat dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Setiap manusia menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa, walaupun sebenarnya manusia juga dapat berkomunikasi dengan menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa. Kehidupan masyarakat bersifat dinamis begitu juga dengan bahasa, yang selalu mengikuti kehidupan masyarakat sehingga bahasa mengalami perubahan.

Suwito (dalam Rahardi, 2015: 20) telah menunjukkan bahwa apabila terdapat dua bahasa atau lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama terjadilah kontak bahasa. Dikatakan demikian karena terjadi peristiwa saling kontak antara bahasa yang sau dengan bahasa lainnya (language contacts) dalam peristiwa berkomunikasi.

Kontak bahasa adalah peristiwa saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dan yang lainnya, baik yang terjadisecara langsung maupun yang tidak langsung. Peristiwa kontak antarbahasa itu dapat menimbulkan perubahan bahasa Mackey (dalam Rahardi, 2015: 21). Kontak bahasa terjadi pada masyarakat ya

(2)

bilingual atau multilingual, karena pada masyarakat ini menggunakan lebih dari satu bahasa. Dalam pandangan sosiolinguistik, situasi kebahasaan pada masyarakat bilingua atau multilingual menarik untuk diteliti. Karena adanya bahasa dalam interaksi verbal.

Berdasarkan aspek lingustik terdapat istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut kedwibahasaan “berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa, masyarakat tutur yang terbuka dan mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu akan mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya”. Dengan adanya kontak komunikasi yang dwibahasa sehingga terjadi alih kode, campur kode, dan interferensi.

Alih kode merupakan peristiwa peralihan dari kode satu ke kode yang lain. Jadi jika seorang penutur mula-mula menggunakan kode A (misalnya bahasa Jambi) dan beralih menggunakan kode B (misalnya bahasa Indonesia), maka peristiwa peralihan pemakaian bahasa itu disebut alih kode (code switching) Suwito (dalam Rahardi, 2015: 23). Appel (dalam Chaer, 2004: 107) mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan penggunaan bahasa karena berubahnya situasi.

Rahardi (2015:25) memparkan alih kode yaitu pemakaian secara bergantian dua bahasa atau mungkin lebih, variasi-variasi bahasa dalam bahasa yang sama atau mungkin gaya-gaya bahasanya dalam suatu masyarakat tutur bilingual. Gejala peralihan pemakaian bahasa dalam suatu tindak komunikasi ditentukan oleh penutur dan mitra tutur, kehadiran P3, dan pengambilan keuntungan. Tindakan komunikasi seorag dwibahasawan dalam mengalihkan

(3)

pemakaian bahasa ini dilakukan dengan adaya kesadaran dari si pemakai bahasa tersebut. Dengan demikian, alih kode itu sendiri merupakan suatu gejala peralihan pemakaian bahasa yang terjadi karena berubahnya situasi. Alih kode terjadi antarbahasa, dapat pula terjadi antarragam dalam satu bahasa.

Alih kode berkaitan erat dengan masalah peralihan penggunaan bahasa oleh sekelompok penutur yang bisa terjadi akibat adanya kontak bahasa. Dalam masyarakat yang bilingual dan diglosik terjadilan saling kontak bahasa antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Kondisi semacam ini dapat membawa akibat adanya hubungan ketergantungan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain pada masyarakat tutur itu. Artinya, tidak pernah ada penutur pada masyarakat yang bilingual hanya menggunakan satu bahasa secara murni, tidak terpengaruh bahasa lainnya yang sebenarnya sudah ada dalam diri penutur itu. Hal demikian dapat menimbulkan gejala alih kode.

Lebih lanjut, fenomena bahasa dalam kehidupan masyang multilingual terkait dengan perihal tindak tutur. Fenomena yang dimaksud berkatikan dengan alih kode yang merupakan topuk permasalahan dalam penelitian ini. Tindak tutur merupakan suatu tindakan berkomunikasi dalam menyampaikan suatu informasi oleh penutur kepada mitra tuturnya dengan maksud ataupun tujuan tertentu.

Dalam suatu tindakan komunikasi, khususnya pada komunikasi proses belajar mengajar di kelas, guru yang dwibahasawan terkadang menentukan pilihan kode (code choice) yang hendak digunakan untuk berkomunikasi. Dipilihnya kode tersebut dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti lawan bicara, topik pembicaraan, suasana, ranah, dan lain sebagainya. Dalam menentukan pilihan kode, seorang individu yang dwibahasawan akan mampu mengalihkan kode atau bahkan

(4)

mencampurkan kode dalam komunikasinya. Misalkan pada tindak komunikasi guru, alih kode dari bahasa satu ke bahasa yang lain pastinya terjadi.

Ketika guru yang dwibahasawan berkomunikasi, akan muncul fenomena salah satu bahasa dari minimal dua bahasa yang dikuasai oleh guru tersebut yang mampu mendominasi komunikasinya. Hal tersebut berkaitan dengan pilihan bahasayang digunakan untuk berkomunikasi yang telah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang dimaksud meliputi faktor lawan bicara, topik pembicaraan, ataupun tingkat penguasaan terhadap salah satu dari minimal dua bahasa yang dikuasainya untuk berkomunikasi. Pemilihan bahasa juga mendasari terciptanya komunikasi. Pilihan bahasa yang dimaksud merupakan suatu peristiwa sosial dalam suatu masyarakat yang terjadi karena adanya interaksi dalam berkomunikasi.

Lebih lanjut, tidak hanya faktor-faktor linguistik yang mampu memicu munculnya pilihan bahasa dalam berkomunikasi. Akan tetapi, hal tersebut dapat dikarenakan pula oleh beberapa faktor lain diluarnya. Penentuan pilihan bahasa erat terkait dengan situasi sosial dalam suatu masyarakat. Faktor tingkat pendidikan, perbedaan usia, status sosial, dan juga karakter yang dimiliki seorang individu mampu mempengaruhi seorang individu tersebut untuk menentukan pilihan bahasa mereka ketika berkomunikasi dengan individu lain. Demikian pula situasi yang melatarbelakangi suatu pembicaraan juga dapat memperngaruhi bagaimana sebuah bahasa akan dipilih untuk dipergunakan.

Pemilihan bahasa merupakan gejala dalam aspek kedwibahasaan yang dikarenakan di dalam repertoire-nya terdapat lebih dari satu bahasa. Telah

(5)

dijelaskan sebelumnya bahawa pilihan bahasa pasti bergantung pada beberapa faktor, seperti faktor partisipan, topik, suasana, ranah, dan lain sebagainya.

SMP N 18 Kota Jambi merupakan salah satu sekolah terbaik yang ada di Kota Jambi. Sekolah ini dipilih karena peneliti melakukan pengalaman lapangan persekolah di sekolah tersebut. Jadi, sembari peneliti melakukan kegiatan pengalaman lapangan pesekolahn, peneliti juga melakukan observasi dan penelitian di SMP 18 Kota Jambi.

PERCAKAPAN DI RUANG ISTIRAHAT LABORATORIUM Ibu Rahmi : “ kak, mau titip beli siomay?”

Ibu Rabitha : “ Siapo yang nak pegi beli Mi?”

Ibu Rahmi : “ Yuli yang nak beli kak, tu dio lagi di kantor”. Ibu Rabitha : “ ai dak lah, kk la makan pulak tadi”.

Tuturan tersebut terjadi di ruang istirahat laboratorium SMP N 18 Kota Jambi. Tuturan tersebut terjadi dalam situasi nonformal antara sesama guru. Topik yang dibicarkan yaitu Ibu Rahmi menawarkan siomay. Dalam alih kode tersebut terjadi alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi. Peristiwa tutur tersebut dimulai oleh Ibu Rahmi yang menggunakan kode bahasa Indonesia. Ibu Rabitha menjawab menggunakan kode bahasa Melayu Jambi. Kemudian Ibu Rahmi pun mengalihkan kode bahasa Indonesia ke kode bahasa Melayu Jambi. Hal ini dilakukan karena dinilai lebih komunikatif.

Dengan demikian, sesuai dengan konteks telah terjadi alih kode intern, yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi. Alih kode ditunjukkan oleh Ibu Rahmi ketika menjawab pernyataan Ibu Rabitha, yaitu dalam tututan “ Yuli yang nak beli kak, tu dio lagi di kantor”.Dari penggalan tersebut arah alih kode yaitu dari bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi.

(6)

Pemikiran inilah yang menjadi dasar pijakan untuk menjadikan alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi sebagai sebuah kajian sosiolinguistik yang mengkaji sebuah bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat pemakainya. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang objektif tentang bentuk alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi.

Penelitian ini mendeskripksikan tentang bentuk dan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya Alih Kode Bahasa Indonesia ke Bahasa Melayu Jambi di Lingkungan Sekolah SMP N 18 Kota Jambi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, masalah yang diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Apa saja bentuk alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi?

2. Faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi?

1.3 Tujuan Penelitian

(7)

1. Mendeskripsikan bentuk alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi.

2. Menjelaskan penyebab terjadinya alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara praktis maupun teoritis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan memberikan subangan berupa pengembangan teori kebahasaan dan juga mampu menambah informasi khasanah penelitian dalam kajian linguistik terapan. Hal kajian linguistik terapan yang dimaksud digunakan sebagai ilmu linguistik yang memusatkan perhatiannya pada gejala kebahasaan yang terjadi di dalam masyarakat.

Secara praktis, penelitian ini memberikan deskripsi tentang alih kode bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Jambi di lingkungan sekolah SMP N 18 Kota Jambi dan faktor penyebabnya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian sejenis, serta menjadi bahasan tentang gejala kebahasaan yang sedang terjadi. Selain itu juga diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontirbusi data dasar bagi penelitian lanjutan yang sejenis dan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca, dan peneliti bahasa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :