PENGARUH PENDEKATAN SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY
AND SOCIETY (SETS) MELALUI KERJA KELOMPOK BERBASIS
LINGKUNGAN TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA
KELAS V SD N 9 SESETAN, DENPASAR
Ni L. Pt. Andry Handayani
1, Siti Zulaikha
2, MG. Rini Kristiantari
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {andryhandayani1, sitizulaikha3492}@yahoo.com, [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan Science, Environment, Technology and
Society (SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan
menggunakan pembelajaran konvensional Tahun Pelajaran 2013/2014. Jenis Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Experimental). Rancangan Penelitian yang digunakan adalah
Nonequivalent Pretest-Posttest Control group Design. Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD N 9
Sesetan, Denpasar. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling jenuh yaitu kelas VA yang berjumlah 40 orang dan kelas VB yang berjumlah 42 orang. Data yang dikumpulkan adalah data hasil belajar IPA ranah kognitif, data tersebut dikumpulkan dengan metode tes, jenis tes itu adalah tes objektif dengan jenis tes pilihan ganda biasa. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji-t. Hasil pengujian normalitas dan homogenitas terhadap data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Setelah data berdistribusi normal dan homogen maka dilakukan uji hipotesis menggunakan uji-t dengan taraf signifikan 5% sehingga diperoleh hasil thit=5,75 dan ttabel=2,00 dengan db=80 (n1+n2-2=40+42–2=80). Berdasarkan pengujian tersebut, thit>ttabel (5,75>2,000), maka Ha diterima dan H0 ditolak.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendekatan
Science, Environment, Technology, and Society (SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan
berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar.
Kata kunci : pendekatan SETS, kerja kelompok berbasis lingkungan, dan hasil belajar
Abstract
This research aims to determine significant differences in learning achievement between the students that learned science with used SETS approach through group work-based environment learning with students with used conventional learning method Academic Year 2013/2014. This research is quasi-experimental. The design of this research is Nonequivalent Pretest-Posttest Control Group Design. The research population is the fifth grade students of SD N 9 Sesetan, Denpasar. The sampling technique used in this research is surfeited sampling technique and choose VA class that consist of 40 students and VB class that consist of 42 students. The data were collected is science cognitive learning achivement, by using an objective test method with standard multiple choices. And analyzed by using t-test.Test results of normality and homogenity of data from experimental group and control group were normally distributy and homogeneous.After testing the hypothesis using t-test on significance rate of 5% in order to obtain results tmath=5.75 and ttable=2.00 with db=80(n1+n2-2=40+42-2=80). Based on these tests, tmath>ttable (5.75>2.000), then Ha is accepted and H0 is rejected. From the research it can be concluded that the SETS approach through Group Work-Based Environmental influence on students learning achievement of science class V SD N 9 Sesetan, Denpasar.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mensejahterakan kehidupan bangsa. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah interaksi dalam proses pembelajaran IPA. Sutrisno (2007:19) mengemukakan bahwa ”Ilmu Pengetahuan Alam merupakan usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat (correct) pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar (true), dan dijelaskan dengan penalaran yang sahih (valid) sehingga dihasilkan kesimpulan yang benar (truth)”. “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang mengajak para siswa untuk mempelajari alam, gejala alam yang kemudian bermanfaat untuk menyelidiki mengenai peristiwa alam yang terjadi” (Samatowa,2011:19). Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari suatu konsep yang ada di lingkungan sekitar yang memiliki suatu kebenaran yang didapat dari hasil penemuan melalui prosedur atau metode yang benar sehingga menghasilkan suatu kebenaran ilmiah.
IPA terdiri dari 4 hakekat yaitu ”IPA sebagai produk berupa konsep, teori dan hukum, IPA sebagai proses yaitu bagaimana cara mendapatkan ilmu pengetahuan tersebut, IPA sebagai sikap meliputi rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam dan IPA sebagai aplikasi berarti penerapan metode dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari” (Trianto,2007:110) . Dari hakekat tersebut, pembelajaran IPA di harapkan dapat memupuk rasa ingin tahu siswa secara ilmiah. ”Ada berbagai alasan yang menyebabkan IPA menjadi salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar diantaranya: IPA berfaedah bagi suatu bangsa, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang melatih/mengembangkan kemampuan berpikir kritis, IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka jika diajarkan melalui percobaan yang dilakukan sendiri oleh siswa, maka, mata pelajaran IPA mempunyai nilai–nilai pendidikan yaitu
dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan” (Samatowa,2011:6).
Dalam pelaksanaan pembelajaran IPA di SD diperlukan adanya interaksi siswa dengan obyek atau alam secara langsung agar siswa mendapatkan pengalaman–pengalaman yang nyata dalam setiap kegiatan pembelajarannya. Oleh karena itu guru sebagai fasilitator perlu menciptakan kondisi dan menyediakan sarana agar siswa dapat menemukan konsep IPA pada materi yang sedang dipelajari, penemuan konsep tersebut dapat dilakukan dengan percobaan–percobaan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari siswa. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan yang ditemukan di sekolah, proses kegiatan pembelajaran IPA hanya berlangsung di dalam kelas. Kegiatan pembelajaran yang demikian tentu tidak dapat menghadirkan contoh–contoh nyata sesuai dengan apa yang sedang dipelajari siswa. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut siswa masih sangat pasif, kurang terjadi interaksi antara guru dan siswa. Dalam kegiatan pembelajaran masih di dominasi metode ceramah, guru menjelaskan apa yang akan siswa pelajari kemudian siswa mencatat apa yang dijelaskan oleh guru sesekali guru mengajukan pertanyaan yang kadang dijawab serempak oleh siswa sehingga tidak dapat mengukur kemampuan siswa secara individu. Selain itu tidak adanya tugas kelompok juga menyebabkan kurangnya interaksi siswa yang satu dengan siswa yang lain. Kegiatan belajar yang demikian tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Bloom (dalam Sudjana,2005:22) menjelaskan hasil belajar dibagi menjadi tiga yaitu ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi, ranah afektif berkenaan dengan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi, dan ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari gerakan refleks,
keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Menurut Gagne (dalam Suprijono,2009:5) “hasil belajar adalah pola–pola perbuatan, nilai– nilai, pengertian–pengertian, sikap–sikap, apresiasi dan keterampilan”. Jadi hasil belajar IPA adalah hasil belajar kognitif siswa terhadap konsep–konsep yang terdapat dalam pelajaran IPA.
Agar hasil belajar IPA menjadi lebih baik, guru dapat menghadirkan kegiatan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan diantaranya dengan menerapkan pendekatan SETS melalui kerja kelompok berbasis lingkungan. ”Pendekatan SETS pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan penilaian siswa terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi” (Poedjiadi,2010:134). Ciri–ciri atau karakteristik dari pendekatan SETS adalah sebagai berikut (Sutarno,2008:9.29): “(1)siswa tetap diberikan unsur-unsur pembelajaran sains, (2)siswa dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat, (3)siswa diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains tersebut ke bentuk teknologi, (4)siswa diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang dibincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antara unsur tersebut, (5)siswa dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian menggunakan konsep sains tersebut bila diubah ke dalam bentuk teknologi, dalam konteks konstruktivisme dan (6)siswa dapat diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan”. Langkah pembelajaran yang dilaksanakan ketika pembelajaran berlangsung yaitu: “(1) tahap inisiasi atau mengawali, memulai dan dapat pula disebut dengan invitasi yaitu undangan agar siswa memusatkan
perhatian pada pembelajaran, (2) Tahap 2 yaitu pembentukan konsep dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode misalnya pendekatan keterampilan proses, metode demonstrasi, metode eksperimen, metode bermain peran dan lain-lain, (3) Tahap 3 yaitu penyelesaian masalah dilakukan ketika telah mendapatkan konsep-konsep permasalahan atau isu yang didapat dari beberapa cara misalnya melalui observasi, (4) Tahap 4 yaitu pemantapan konsep yaitu perlu dilakukan pelurusan konsep–konsep yang ditemukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (5) Tahap 5 yaitu penilaian keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor. Materi pelajaran dikaitkan dengan contoh-contoh nyata yang berhubungan dengan masyarakat di sekitar siswa yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dari contoh–contoh tersebut siswa saling berdiskusi sehingga dapat memudahkan memahami materi tersebut.
Selain menggunakan pendekatan yang tepat, lingkungan juga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Setiawan (2011:6.1) mengemukakan bahwa “lingkungan banyak berperan dalam meningkatkan semangat belajar siswa. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan kelas dan lingkungan di luar kelas”. Pembelajaran dengan kerja kelompok juga dapat membuat siswa yang satu dengan yang lainnya saling berinteraksi sehingga kelas menjadi tidak pasif. Suyatno (2009:51) mengatakan “dalam kerja kelompok, guru membentuk kelompok belajar yang anggotanya heterogen agar semua anggota kelompok dapat berbagi informasi yang mereka dapatkan dan dapat memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan pembelajaran yang dapat didiskusikan dengan teman sebaya atau teman kelompoknya”.
Dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui kerja kelompok berbasis lingkungan siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep IPA karena pengetahuan yang didapatkan siswa tidak hanya melalui buku tetapi juga dari lingkungan dan teman-temannya. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan Science, Environment, Technology, and Society (SETS) melalui kerja kelompok berbasis
lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014.
METODE
Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu atau Quasi
Experimental yaitu ”Nonequivalent Pretest-Posttest Control group Design”.Rancangan
Penelitian dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar1. Nonequivalent Pretest-Posttest
Control group Design.
(Darmadi (2011:184) Keterangan :
E : Kelas Eksperimen K : Kelas Kontrol
X : Perlakuan (treatment yaitu pembelajaran dengan pendekatan SETS melalui kerja kelompok berbasis lingkungan)
- : Pembelajaran konvensional Y1 : Pre test kelas Eksperimen Y2 : Post test kelas Eksperimen Y1 : Pre test kelas kontrol Y2 : Post test kelas kontrol
Dalam penelitian ini Pre test
dilakukan untuk menyetarakan pemikiran antara kelompok kelas kontrol dan kelompok kelas eksperimen yang dilakukan dengan memberikan tes awal kepada masing–masing kelompok, tes tersebut adalah tes ulangan umum yang telah diberikan pada akhir semester II. Sedangkan hasil Post tes didapat dengan cara memberikan tes yang diberikan setelah peneliti selesai memberikan treatmen terakhir pada masing–masing kelompok. Dantes (2012:97) mengemukakan ”pemberian pretes
biasanya digunakan untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok”.
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar yang berjumlah 82 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Sampling Jenuh. “Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel” (Sugiyono,2012:68). Penentuan Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan melalui undian, undian yang keluar pertama yaitu kelas VA merupakan kelas yang dijadikan kelompok eksperimen dan kelas VB menjadi kelompok kontrol.
Untuk mengetahui kesetaraan antara kelas VA dan kelas VB dilakukan pengujian dengan menggunakan uji-t. Sebelum menggunakan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Chi-Square, diperoleh = 2,13 untuk kelompok eksperimen pada taraf signifikan 5% (α=0,05) dan derajat kebebasan (db)=5 diperoleh tabel= (0,05:5)=11,1. Karena tabel> hit, ini berarti sebaran data berdistribusi normal. Sedangkan untuk kelompok kontrol diperoleh =3,64 pada taraf signifikan 5% (α=0,05) dan derajat kebebasan (db)=5 diperoleh tabel= (0,05:5)=11,1. Karena tabel> hit, ini berarti sebaran data berdistribusi normal. Jadi data nilai hasil ulangan siswa kelas VA dan VB berdistribusi normal.
Uji homogenitas varians dilakukan dengan uji F. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh Fhit sebesar 1,56 sedangkan Ftabel pada taraf sifnifikan 5% dengan db (39,41) adalah 1,69. Ini berarti Fhit<Ftabel, maka data siswa kedua kelompok tersebut homogen. Setelah data dari kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya dilakukan analisis dengan uji-t. Untuk mengetahui signifikansi hasil perhitungan uji-t tersebut, maka perlu dibandingkan dengan nilai ttabel dengan db=80(n1+n2-2=40+42-2=80) dan taraf signifikansinya adalah 5% diperoleh ttabel=2,000. Karena thitung kurang dari ttabel
E :
Y1
X
Y2
(1,019<2,000), maka data dua kelompok tersebut dikatakan setara.
“Variabel adalah suatu atribut, sifat, aspek, dari manusia, gejala, objek, yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya” (Darmadi, 2011:21). Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaiu variabel bebas dan variable terikat. “Variabel bebas disebut juga dengan
independent variable yaitu variabel stimulus
atau masukan, dilakukan oleh seseorang dalam lingkungannya yang dapat memengaruhi perilaku hasil” (Setyosari,2010:128). Variabel bebas dari penelitian ini adalah pendekatan Science,
Environment, Technology, and Society (SETS) melalui kerja kelompok berbasis
lingkungan. Masih menurut Setyosari (2010:129) “Variabel terikat disebut juga dengan dependent variable yaitu faktor– faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas yaitu faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan peneliti tersebut”. Variabel terikat dari penelitian ini adalah hasil belajar IPA.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang hasil belajar kognitif IPA dengan metode tes, bentuk tes adalah objektif dengan jenis tes Pilihan Ganda Biasa (PGB) yang berjumlah 40 soal. Setiap soal disertai empat alternatif pilihan jawaban yang dapat dipilih siswa yaitu pilihan a, b, c, dan d. Setiap jawaban yang benar akan diberikan skor satu dan jawaban yang salah diberikan skor nol. Sebelum tes tersebut digunakan terlebih dahulu dilakukan uji validitas, uji daya beda, tingkat kesukaran dan uji reliabilitas. “Sebuah tes memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan” (Arikunto,2012:82). Uji validitas dibedakan menjadi dua yaitu validitas isi dan validitas butir. Wahidmurni (2010:87) menyatakan “validitas isi terkait dengan sejauh mana butir-butir, tugas-tugas atau pertanyaan yang tertuang mencerminkan domain yang relevan dengan tujuan tes”. Validitas isi dalam penelitian ini dilakukan dengan penyusunan kisi-kisi tes hasil belajar. Sedangkan
validitas butir ditentukan melalui analisis butir berdasarkan koefisien korelasi point biserial (rpbi) karena tes bersifat dikotomi. Hasil perhitungan uji validitas dibandingkan dengan nilai yang didapatkan dari r tabel, jika r hitung>r tabel maka termasuk dalam kategori valid. Dari 60 butir soal yang di uji, 14 soal tidak valid dan 46 soal dapat dinyatakan valid.
Arikunto (2012:211) menyatakan “daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah”. Dari hasil analisis terdapat 19 butir soal yang termasuk ke dalam kriteria baik, 21 butir soal yang termasuk ke dalam kriteria cukup, dan 6 butir soal yang termasuk kedalam kriteria jelek. Bilangan yang menunjukkan sulit dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index) atau tingkat kesukaran. Arikunto (2012:223) menjelaskan “apabila indeks kesukaran 0,00 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sulit, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah”. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh 5 butir soal yang termasuk ke dalam kriteria soal sukar, 16 butir soal yang termasuk ke dalam kriteria soal sedang dan 19 butir soal yang termasuk kedalam kriteria soal mudah.
Menurut Darmadi (2011:122) “tes reliabilitas mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur”. . Untuk menguji reliabilitas pada tes pilihan ganda digunakan pendekatan single test-single trial dengan menggunakan Formula Kuder- Richardson yaitu Rumus KR20. Koefisien reliabilitas pada umumnya digunakan patokan sebagai berikut. (1) apabila r11 sama dengan atau lebih besar daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas tinggi. (2) apabila r11 lebih kecil daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi. Setelah melakukan analisis data, hasil yang diperoleh adalah r11=0,83 (r11>rtabel) maka dapat diartikan bahwa tes tergolong reliabel. Setelah dilakukan uji validitas, daya beda, tingkat
kesukaran dan reliabilitas tes dapat diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sehingga diperoleh data hasil belajar IPA dari kedua kelompok. Data hasil belajar IPA yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji-t. Sebelum melakukan analisi dengan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran data skor hasil belajar IPA siswa masing–masing berdistribusi normal atau tidak. Kriteria pengujian uji normalitas adalah jika < (tabel) maka h0 diterima yang berarti data berdistribusi normal. Sedangkan taraf signifikansinya adalah 5% dan derajat kebebasan (dk)=(k-1).
Uji homogenitas dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan pada uji hipotesis benar–benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok. Kriteria pengujian homogenitas adalah Fhit<Ftabel maka data bersifat homogen, derajat
kebebasannya adalah n-1 dan taraf signifikansi adalah 5%.
Jika hasil uji normalitas mendapatkan data berdistribusi normal dan hasil uji homogenitas varians mendapatkan data yang homogen maka untuk menguji hipotesisnya digunakan uji beda mean yaitu uji t yaitu polled varian. Kriteria pengujiannya adalah jika thit <ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika thit ≥ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Pengujian dilakukan pada taraf siginfikansi 5% dengan dk=n1+n2–2.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil belajar IPA yang terkumpul dianalisis sehingga diperoleh rata-rata ( ), varians (S2), dan standar deviasi (SD) dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai rata-rata, Varians dan standar Deviasi hasil belajar Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
Model Pembelajaran Jumlah siswa tiap kelompok Nilai rata-rata ( ) Varians (S2) Standar Deviasi (SD) Pendekatan SETS melalui kerja
kelompok berbasis lingkungan
40 80,25 114,04 10,68
Pembelajaran Konvensional 42 67,48 84,70 9,20
Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan Pendekatan SETS melalui kerja kelompok berbasis lingkungan memiliki rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional.
Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Dari hasil perhitungan uji normalitas diperoleh data hasil belajar IPA kelompok eksperimen (X2hit) adalah 3,49 dengan taraf signifikan 5% dan dk=5(6-1) dan diketahui X2tabel=11,1 ini berarti X2hit<X2tabel maka data hasil belajar IPA pada kelompok eksperimen berdistribusi normal.
Sedangkan data hasil belajar IPA kelompok kontrol (X2hit) adalah 4,48 dengan taraf signifikan 5% dan dk=5(6-1) dan diketahui X2tabel =11,1 ini berarti X2hit<X2tabel maka data hasil belajar IPA pada kelompok kontrol berdistribusi normal.
Pengujian homogenitas varians pada penelitian ini menggunakan uji F dari Havley. Berdasarkan hasil pehitungan uji homogenitas diperoleh hasil Fhitung=1,35 dan diketahui Ftabel=1,69 sedangkan taraf signifikan 5% (α=0,05) dengan db(39,41) sehingga dapat dikatakan bahwa data hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen karena Fhitung<Ftabel. Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas diperoleh data
hasil belajar IPA dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen, maka dapat dilanjutkan dengan pada pengujian hipotesis penelitian. Hipotesis yang di uji pada penelitian ini adalah hipotesis awal (H0) yang menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan SETS melalui kerja kelompok berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014 dan hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara
siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan SETS melalui kerja kelompok berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014.
Pengujian hipotesis menggunakan uji-t dengan uji signifikansinya adalah jika thitung<ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika thitung≥ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Pengujian dilakukan dengan taraf siginifikansi 5% dan dk=n1+n2 -2. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel -2.
Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Kelompok N S2 Db thit ttabel Kesimpulan
Eksperimen 40 114,04 80,25 80 5,75 2,000 H0 ditolak
Kontrol 42 84,70 67,48
Dari hasil perhitungan uji-t diperoleh thitung sebesar 5,75 untuk mengetahui signifikansinya maka perlu dibandingkan dengan nilai ttabel dengan dk=80(n1+n2-2= 40+42-2=80) dan taraf signifikansi 5% diperoleh nilai ttabel =2,000. Karena thitung lebih besar dari ttabel (5,75>2,000) maka H0 ditolak dan Ha diterima, jadi terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan Science, Environment, Technology, and Society
(SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014.
Setelah melakukan analisis data dengan menggunakan uji-t, diperoleh thitung sebesar 5,75 dengan dk=80 (n1+n2-2= 40+42-2=80) dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh nilai ttabel= 2,000. Dari hasil perhitungan dapat diketahui thitung lebih besar dari ttabel (5,75>2,000) dan hasil rata-rata post tes dari kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol (80,25>67,48), ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara
siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan Science, Environment, Technology, and Society
(SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar diterima. Jadi siswa yang belajar dengan pendekatan Science,
Environment, Technology, and Society
(SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan lebih baik daripada siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional pada materi tumbuhan hijau.
Hal ini disebabkan karena pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Science, Environment, Technology, and Society (SETS) melalui
kerja kelompok berbasis lingkungan dapat mengajak siswa untuk menyelesaikan konsep-konsep maupun permasalahan IPA secara kerja kelompok dengan memanfaatkan lingkungan disekitarnya. Dengan pendekatan ini siswa diajak mempelajari materi lalu dikaitkan dengan contoh-contoh nyata yang berhubungan dengan masyarakat di sekitar siswa yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dari contoh–contoh tersebut siswa saling berdiskusi sehingga dapat
memudahkan memahami materi tersebut. Melalui kerja kelompok, siswa dapat saling bertukar pendapat untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai suatu konsep IPA sehingga kegiatan pembelajaran tidak monoton dan jenuh saat belajar, karena siswa juga tidak hanya menerima materi pelajaran yang dijelaskan guru tetapi juga dapat mencari informasi tersebut dari lingkungan disekitar mereka. Ketika siswa secara berkelompok mencari informasi dan solusi dari permasalahan IPA yang terdapat pada kehidupan sehari-hari maka pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran akan lebih lama karena siswa yang mengalami pengalaman-pengalaman belajarnya sendiri.
Lain halnya dengan pembelajaran konvensional, dalam kegiatan pembelajaran konvensional siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi yang diberikan guru sehingga siswa menjadi kurang aktif karena hanya terjadi komunikasi satu arah saja. Hal yang demikian dapat mengakibatkan kejenuhan selama proses pembelajaran berlangsung, selain itu pemahaman siswa terhadap suatu materi yang sedang dipelajari tidak akan bertahan lama pada ingatan siswa karena siswa tidak mengalami pengalaman belajar sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Trianto (2009:6) “dalam pembelajaran konvensional siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berpikir, dan memotivasi diri sendiri (self
motivation), padahal aspek–aspek tersebut
merupakan kunci keberhasilan dalam suatu pembelajaran”.
Hasil penelitian ini memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Imtihanah (2009) yang menyatakan bahwa penerapan pendekatan SETS (Science, Environment,
Technology and Society) dapat
meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain itu penelitian ini juga memperkuat penelitian yang dilakukan Tristanti (2011) menyatakan bahwa penerapan pendekatan SETS (Science,
Environment, Technology and Society)
dapat meningkatkan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA. Asy’ari (2007:81) menyatakan “pendekatan SETS memiliki nilai tambah diantaranya (1) pendekatan
SETS dapat membuat pembelajaran lebih bermakna, (2) memperluas wawasan siswa tentang keterkaitan sains dengan bidang studi lain, (3) membuat siswa dapat menikmati kegiatan–kegiatan sains dengan perolehan pengetahuan yang tidak mudah dilupakan, (4) dapat bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan dan (5) dapat mengembangkan pembelajaran terpadu”. Hasil dari penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian dari Suswati (2013) menyatakan bahwa penerapan model SETS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari 2 Malang Tahun Pelajaran 2012/2013.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu karena pada penelitian ini pendekatan SETS diterapkan melalui kerja kelompok berbasis lingkungan yaitu kegiatan pembelajaran dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok, didalam kelompok siswa saling berdiskusi untuk memecahkan suatu permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar mereka yang solusinya dapat ditemukan dengan cara memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau mencari informasi mengenai konsep IPA yang mereka temukan di buku. Dengan adanya pembelajaran berbasis lingkungan maka siswa akan lebih mudah memahami apa yang sedang mereka pelajari, hal tersebut didukung oleh Setiawan (2011:6.10) yang menyatakan “salah satu cara yang efektif dalam membelajarkan suatu pengetahuan kepada siswa adalah dengan melalui kegiatan belajar sambil bermain di alam bebas contohnya lingkungan sekolah, dibandingkan dengan hanya belajar di dalam kelas saja”.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Science,
Environment, Technology, and Society
(SETS) melalui kerja kelompok berbasis lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil
belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pendekatan
Science, Environment, Technology, and Society (SETS) melalui kerja kelompok
berbasis lingkungan dengan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional siswa kelas V SD N 9 Sesetan, Denpasar Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal tersebut dapat dilihat dari uji hipotesis dengan uji-t, diperoleh thitung sebesar 5,75 dengan dk=80 (n1+n2-2= 40+42-2=80) dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh nilai ttabel= 2,000. maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dan hasil perhitungan perbedaan nilai rata-rata post tes siswa pada kelompok eksperimen lebih besar daripada siswa kelompok kontrol yaitu 80,25 untuk siswa kelompok eksperimen dan 67,48 untuk siswa kelompok kontrol.
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah (1) Siswa sebaiknya dapat memanfaatkan berbagai sarana yang disediakan oleh sekolah dengan baik sehingga hasil belajar dapat lebih baik (2) guru sebaiknya dapat menerapkan pendekatan SETS dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan kompetensi dasar dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor; (3) guru sebaiknya menyediakan sumber belajar yang lebih bervariasi sehingga siswa mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik; (4) sarana dan prasarana sebaiknya lebih ditingkatkan agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih lancar sehingga hasil belajar siswa akan lebih baik, (5) untuk peneliti lain agar dapat menerapkan pendekatan SETS dengan lebih optimal dalam pelaksanaan penelitiannya sehingga hasil penelitiannya dapat lebih baik.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan Edisi 2.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Asy’ari, Muslichach. 2006. Penerapan
Pendekatan Sains - Teknologi - Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian. Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.
Imtihanah,Mtristica Umanaaul. 2009.
“Penerapan Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sekolah bertaraf Internasional Kelas XI IPA1 SMA Negeri 3 Malang”. Skripsi
(tidak diterbitkan). Jurusan Biologi,Universitas Negeri Malang. Poedjiadi, Anna. 2010. Sains Teknologi
Masyarakat. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Samatowa, Usman. 2011. Pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT.
Indeks.
Setiawan, Deni., dkk. 2011. Komputer dan
Media Pembelajaran. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Setyosari,Punaji.2010.Metode Penelitian
Pendidikan dan
Pengembangan.Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil
Proses Belajar Mengajar. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative
Learning. Yokyakarta: Pustaka
Belajar.
Suswati, Hermin. 2013. “Penerapan model
SETS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari 2 Malang”.
Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang.
Sutarno, Nono dkk. 2008. Materi dan
Pembelajaran IPA SD. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Sutrisno, Leo dkk. 2007. Pengembangan
Pembelajaran IPA SD. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran
Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana
Pustaka.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
---.2009.Mendesain Model
Pembelaja-ran Inovatif-Progresif. Jakarta:
Ken-cana Prenada Media Grup.
Tristanti, Ika Diana. 2011. ”Penerapan
Pendekatan Science Environment Technology Society (SETS) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN
Selorejo Tulungagung”. Skripsi
(tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang.
Wahidmurni, dkk. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Nuha