Evolusi Global HSPA
Anggraini MulwindaJurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Semarang [email protected]
Abstrak: Evolusi HSPA (High-Speed Packet Access) yang juga dikenal dengan HSPA Evolution,
HSPA+, I-HSPA atau Internet HSPA, merupakan broadband nirkabel yang standarisasinya telah didefinisikan oleh WCDMA 3GPP seri ke-7 dan 8. Tujuan dari Evolusi HSPA adalah untuk meningkatkan kinerja HSPA dalam hal efisiensi spektrum, memperbesar kapasitas dan peak data-rate, memperkecil latency, menghemat baterai, dukungan yang lebih baik pada VoIP, dan untuk memanfaatkan potensi teknologi WCDMA secara lebih maksimal. Artikel ini membahas tentang MIMO, higher-order modulation, continuous packet connectivity, layer-2 enhancement, enhanced CELL_FACH pada Evolusi HSPA, juga termasuk daftar aplikasi teknologi Evolusi HSPA secara komersial.
Kata Kunci : HSPA, HSPA Evolution, HSPA+, I-HSPA
1. Pendahuluan
Salah satu aspek penting dari sistem komunikasi bergerak third-generation (3G) adalah pengembangan akses packet-data. WCDMA (Wideband Code-Division Multiple
Access). 3GPP (3rd Generation Partnership Project) seri 99 menyediakan data-rate 384
Kbit/s untuk cakupan wide-area. Seiring dengan peningkatan penggunaan layanan
packet-data serta tampilnya berbagai layanan baru, meningkat pula desakan permintaan akan kecepatan lebih tinggi dan kapasitas yang lebih besar dengan biaya produksi yang optimal.
WCDMA 3GPP seri 5 memperkenalkan spesifikasi kanal transport downlink, atau yang kemudian dikenal sebagai HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) fase pertama, dengan kapasitas 4,1 Mbps. Kemudian menyusul fase 2 berkapasitas 11 Mbps dan kapasitas maksimal downlink
peak data rate hingga mencapai 14 Mbit/s.
Selanjutnya untuk mengakomodasi
permintaan pengembangan uplink, pada WCDMA 3GPP seri 6 diperkenalkan teknologi Enhanced Uplink, yang selanjutnya disebut sebagai HSUPA (High
Speed Uplink Packet Access), dengan
kapasitas mencapai 5,8 Mbps.
Teknologi HSDPA dan HSUPA yang
dikembangkan dari WCDMA untuk
mengoptimalkan jaringan Universal Mobile
Telecommunication System (UMTS).
Bersama-sama, kedua teknologi ini (HSDPA dan HSUPA) dikenal sebagai
High-Speed Packet Access (HSPA).
Pengembangan kinerja UMTS tidak hanya berhenti pada HSPA. Evolusi HSPA, yang juga dikenal dengan HSPA Evolution,
HSPA+, I-HSPA atau Internet HSPA, mulai
diperkenalkan pada WCDMA 3GPP seri ke-7 dan 8. Tujuan dari Evolusi HSPA adalah untuk meningkatkan kinerja HSPA dalam hal efisiensi spektrum, memperbesar kapasitas dan peak data-rate, memperkecil
latency, menghemat baterai, dukungan
yang lebih baik pada VoIP, dan untuk memanfaatkan potensi teknologi WCDMA secara lebih maksimal. Berikut adalah beberapa fitur penting dalam WCDMA 3GPP :
3GPP Seri 7
1) downlink MIMO (Multiple Input Multiple Output),
2) higher order modulation, uplink (16QAM) dan downlink (64QAM),
3) improved layer 2 support for high downlink data rates,
4) enhanced CELL_FACH state (downlink), 5) continuous packet connectivity (CPC). 6) enhanced fractional DPCH (F-DPCH)
3GPP Seri 8
1) combination of MIMO dan 64QAM 2) CS over HSPA
3) Dual Cell HSDPA
4) improved layer 2 support for high uplink data rates,
5) enhanced CELL_FACH state (downlink),
2. Multiple Input Multiple Output
MIMO berarti menggunakan multi-antena untuk uplink dan downlink dengan tujuan
untuk memaksimalkan pemanfaatan
dimensi ruang dari radio-channel. Dalam beberapa kasus, MIMO secara signifikan dapat meningkatkan kinerja pengiriman/ penerimaan data.
Pada 3GPP seri 7, disebutkan MIMO untuk mengirim 2 stream, dengan setiap stream dapat menggunakan QPSK (Quadrature
Phase-Shift Keying) atau 16QAM
(Quadrature Amplitudo Modulation).
Pendekatan ini disebut D-TxAA, Double
Transmit Antenna Array, yang hanya bisa
diaplikasikan pada High Speed Downlink
Shared Channel. Dengan dasar Sistem
MIMO 2x2, yaitu 2 antena pengirim pada sisi base-station dan 2 antena penerima pada sisi UE (User Equipment), secara teori
downlink peak data-rates mampu mencapai
28 Mbps. Dan standarisasi 3GPP seri 8, setiap stream dapat menggunakan 64QAM dan memungkinkan downlink peak
data-rate hingga 42 Mbps. Perlu diperhatikan
bahwa Evolusi HSPA tidak mencakup
uplink MIMO.
Gambar 1. MIMO pada Evolusi HSPA
Dengan D-TxAA, 2 data-stream yang berbeda (agar lebih yakin dapat dilakukan
transport blocking) dapat dikirimkan secara
simultan melalui radio-channel yang memiliki kode kanalisasi WCDMA yang sama. Pada gambar 2.1, kedua data-stream tersebut diindikasikan dengan warna biru dan hijau. Setiap transport-block dan kanalisasi diproses dikodekan secara terpisah. 2 transport-block yang berbeda dapat memiliki skema modulasi dan pengkodean yang berbeda pula, tergantung pada kriteria data-rate dan kondisi
radio-channel masing-masing. Setelah
pemisahan dan pengacakan dilakukan,
precoding berdasarkan factor beban
diaplikasikan untuk mengoptimalkan sinyal dalam proses pengiriman melalui kanal radio bergerak. Terdapat 4 pembebanan
precoding, yaitu w1, w2, w3, dan w4. Pelu
diperrhatikan bahwa w1 nilainya tetap dan
w2 nilainya dapat diatur oleh base-station.
Sedangkan w3 dan w4 ditentukan secara
otomatis karena nilai tersebut harus orthogonal dengan nilai w1 dan w2. Maka
perhitungan pembebannya adalah :
Setelah itu, stream pertama dikalikan dengan w1 dan w2, dan stream kedua
dikalikan dengan w3 dan w4. Baru kemudian
factor beban tersebut dijumlahkan sebelum dilakukan pengiriman melalui masing-masing antena, sehingga setiap antena mengirimkan satu bagian dari masing-masing stream.
3. Higher-Order Modulation
Skema modulasi digital menentukan jumlah bit yang dipetakan pada fase dan amlitudo dari sinyal yang dikirimkan. Gambar 3.1 mengilustrasikan diagram konstelasi dari berbagai skema modulasi yang berbeda.
Gambar 2. Diagam Konstelasi Skema Modulasi
Setiap bit secara berurutan dipetakan pada simbol modulasi dengan setiap titik konstelasi mewakili fase dan amplitudonya. Jumlah bit yang disampaikan setiap simbol modulasi adalah sebagai berikut :
1) 1 untuk BPSK (Binary Phase-Shift
Keying)
2) 2 untuk QPSK 3) 4 untuk 16QAM 4) 6 untuk 64QAM
Dalam 3GPP seri 6, disebutkan bahwa HSPA pada downlink menggunakan skema modulasi QPSA dan 16QAM, sedangkan untuk uplink adalah dengan skema modulasi BPSK dan QPSK. Kemudian skema modulasi yang lebih tinggi mulai diperkenalkan pada 3GPP seri 7, tujuannya adalah untuk meningkatkan data-rate. Pada downlink digunakan skema modulasi 64QAM untuk meningkatkan peak data-rate sebesar 50%, yaitu dari 14 Mbps menjadi 21 Mbps, dan pada uplink, skema modulasi 16QAM melipatgandakan peak data-rate dari 5,7 Mbps menjadi 11 Mbps.
Selanjutnya, peralatan pengaturan channel secara mekanis juga dimodifikasi agar mendukung :
1) Sistem pensinyalan dari skema modulasi yang baru
2) Ukuran transport block yang lebih besar
3) CQI (Channel Quality Indicator) yang lebih luas
4. CPC- Continuous Packet Connectivity
CPC merupakan kumpulan dari fitur-fitur yang bertujuan untuk mengoptimalkan dukungan dari pengguna packet-data dalam suatu jaringan HSPA. Dengan kinerja layanan packet-data yang semakin baik, maka jumlah pengguna juga meningkat. Di sisi lain, suatu cell juga harus mendukung peningkatan jumlah pengguna tersebut. Dan dari sudut pandang pengguna, akan lebih ideal apabila terdapat suatu keadaan di mana pengguna-pengguna tersebut memiliki koneksi tetap (dedicated
connection) CELL_DCH, meskipun mereka
mungkin hanya sesekali mempunyai periode-periode aktif transmisi data, yang biasanya pada koneksi tipe DSL. Dengan demikian, koneksi-koneksi para pemakai
packet-data harus dipelihara dan seringnya
penghentian koneksi dan penyambungan kembali harus dapat dihindarkan untuk memperkecil latency yang dirasakan oleh para pemakai.
3GPP seri 7 berusaha mencari solusi agar
dedicated connection bagi pengguna
packet-data dapat lebih efisien baik dari sisi uplink maupun downlink. Dan sebagai
hasilnya adalah Continuous Packet Connectivity (CPC). CPC terdiri dari 2 fitur
utama, yaitu :
4.1. UE DTX/ DRX
UE DTX (User Equipment Discontinuous
Transmission) memungkinkan pengguna
menghentikan continuous transmission dari
Dedicated Physical Control Channel
(DPPCH) maupun High Speed Dedicated
Physical Control Channel (HS-DPCCH)
ketika tidak ada informasi yang harus dikirimkan pada posisi uplink. Meskipun tidak melakukan continuous transmission, namun apabila tidak ada pengiriman data pada Enhanced Dedicated Channel (E-DCH) atau HS-DPCCH, maka uplink
DPPCH secara berkala melakukan
transmisi menurut suatu pola aktivitas tertentu. Aktivitas teratur ini dilakukan untuk
memelihara sinkronisasi dan power control
loop.
Untuk memungkinkan fleksibilitas, setiap UE dapat memilih di antara 2 pola aktifitas
uplink DPCCH, yaitu UE DTX cycle 1 atau
UE DTX cycle 2. UE DTX cycle 2 dipilih apabila tidak ada transmisi data uplink. UE DTX cycle 1 digunakan secara temporer
tergantung durasi aktivitas E-DCH. Setelah transmisi uplink terakhir pada E-DCH, UE menunggu durasi parameter “Batas aktivitas UE DTX cycle 2” UE berubah dari
cycle 1 ke cycle 2. Contoh penggunaan UE
DTX cycle 1 dan 2 dalam 2 opsi
Tranmission Time Interval (TTI) dapat
dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3. Contoh uplink DTX, 2ms TTI
Gambar 4. Contoh uplink DTX, 10ms TTI
Panjang transmisi DPCCH uplink dapat diatur oleh layer yang lebih tinggi. Parameter UE DPCCH burst 1 dan 2 menandai panjang transmisi DPCCH uplink (di dalam rangka tengah) pada cycle 1 dan 2. Untuk membantu sinkronisasi, awalan UE telah memiliki 2 slot sebelum data uplink
atau transmisi HS-DPCCH dengan
transmisi DPCCH (preamble) dan
dilanjutkan dengan slot yang lebih panjang (postamble). Jika tidak ada lagi data uplink atau transmisi HS-DPCCH untuk waktu yang cukup lama, maka preamble dapat diatus hingga panjangnya melebihi 2 slot. Keuntungan UE DTX adalah secara langsung menghemat daya/ konsumsi
baterai dan mengurangi interferensi karena kepadatan traffic.
Dengan cara yang sama, UE DRX (User
Equipment Discontinuous Reception)
memungkinkan pengguna menghentikan
continuous reception apabila tidak ada
informasi yang harus diterima pada
downlink. Hanya saja diperlukan
pengecekan secara periodik jika ada informasi yang mungkin harus diterima.
4.2. HS-SCCH-less operation
High Speed Shared Control Channel (HS-SCCH) merupakan mode operasi HSDPA khusus yang mengurangi beban lebih
HS-SCCH dan mengurangi pemakaian daya. Mode ini mengubah struktur konvensional penerimaan data HSDPA. Dalam HSDPA, seperti disebutkan pada 3GPP seri 5, UE tujuan, dalam HS-SCCH, diidentifikasikan dengan 16bit HRNTI (HSDPA Radio Network Temporary Identifier). Ketika UE mendeteksi informasi kontrol yang relevan pada HS-SCCH, maka adan diswitch untuk pindah ke sumber HSPDSCH yang terkait untuk menerima paket data tersebut. Namun dalam HS-SCCH-less operation, skema ini berubah. HS-SCCH-less operation terasa lebih optimal dalam
layanan dengan paket data yang relatif kecil namun banyak jumlahnya, seperti pada VoIP. Pemilihan akan memakai
HS-SCCH-less operation atau operasi konvensional
terletak pada Base Station. Prinsip dasarnya dapat dilihat pada gambar 4.3.
(i) 1st step, Initial transmission of data packet
Transmisi pertama dari paket data dengan HS-DSCH dilakukan tanpa berhubungan dengan HSSCCH. Transmisi pertama selaul menggunakan QPSK dan versi redundancy XRV = 0. Hanya 4 format transpor yang
dapat digunakan sehingga UE dapat secara
mudah mendeteksi
Gambar 5. HS-SCCH-less operation
format yang tepat. Ke-4 format transpor yang mungkin dikonfigurasi oleh layer yang
lebih
tinggi. Hanya kode-kode channel yang sudah dikenal yang dapat digunakan dalam mode operasi ini dan dikonfigurasikan per UE oleh layer yang lebih tinggi : indeks kode parameter HS-PDSCH menyediakan indeks dari kode HS-PDSCH yang pertama untuk digunakan. Untuk setiap format transpor disediakan 1 atau 2 kode channel yang diperlukan.
Cyclic Redundancy Check (CRC) dari
HS-DSCH menjadi spesifikasi UE berdasarkan pada 16bit HRNTI dengan tujuan untuk memungkinkan pendeteksian paket pada HS-DSCH. Hal ini disebut pemasangan CRC metode 2 (pemasangan dengan metode 1 merupakan cara konvensional yang didasarkan pada 3GPP seri 5).
Jika paket dapat diterima dengan baik, UE akan mengirimkan ACK pada HS-DPCCH. Namun UE tidak megirimkan apa-apa jika paket tidak dapat diterima dengan baik.
(ii) 2nd and 3rd step, retransmission of data packet
Jika paket tidak diterima pada langkah pertama tadi, maka base station dapat mengirim ulang. Jumlah pengiriman ulang ini dibatasi sampai 2 kali saja. Untuk membedakan dengan pengiriman pertama, pengiriman ulang menggunakan sinyal HS-SCCH. Karena pengkodean HS-SCCH ini berbeda dengan pada 3GPP seri 5, maka untuk HS-SCCH-less operation disebut dengan HS-SCCH tipe 2, dan HS-SCCH konvensional seri 5 disebut HS-SCCH tipe 1.
Pada HS-SCCH tipe 2, disebutkan tipe informasi khusus terdapat 6bit yang harus
di-set menjadi 111110 untuk
mengindikasikan HS-SCCH less operation. Kemudian untuk informasi terdapat 7bit yang terdiri dari 2bit informasi transport
block size, 3bit pointer menuju pengiriman
sebelumnya dengan transport block yang sama, 1bit indikator untuk menandai pengiriman ulang yang ke-2 atau ke-3, dan 1bit tersimpan.
Perbedaan format tipe 1 dan 2 adalah sebagai berikut :
5. Layer-2 Enhancements
Setelah layer fisik dikembangkan sehingga dapat mengakomodasi data rate yang lebih tinggi, agar kinerjanya tetap optimal maka layer 2 perlu dikembangkan pula. Hal ini terangkum pada 3GPP seri 7 yang meliputi ukuran Radio Link Control (RLC) yang fleksibel, segmentasi Media Access Control (MAC), dan perbaikan MAC multiplexing pada transmisi downlink. Sebagai konsekuensinya, transmiter dibebaskan untuk memilih ukuran RLC PDU (Protocol
Data Unit).
Secara umum, jaringan dapat
mensegmentasi RLC service data unit (SDU) ke dalam PDU, yang memiliki efisiensi lebih dalam transmisi dan re-transmisi melalui udara. Fleksibilitas transmiter untuk memilih ukuran RLC PDU membantu mengurangi beban lebih protokol layer 2 melalui pengurangan header dan
padding RLC.
Di sisi downlink, protokol RLC dimulai pada
Radio Network Controller (RNC), di mana
MAC diakhiri dalam Node-B. Jika RLC PDU terlalu besar untuk ditransmisikan malalui udara dengan jumlah retransmisi hybrid
automatic repeat request (HARQ) yang
sewajarnya, maka pengirimannya harus
disegmentasi. 3GPP seri 7
memperkenalkan protokol MAC terbaru,
yaitu MAC-ehs, yang mendukung
fleksibilitas ukuran dan segmentasi pada RLC PDU. Sedangkan pada seri 8 pengembangan serupa dengan protokol
downlink mulai diaplikasikan pada protokol
uplink. Sehingga dukungan pada ukuran
RLC PDU memperbaiki coverage pada
uplink dan membantu mengurangi
pemrosesen dan terjadinya beban lebih pada layer 2.
6. Enhanced CELL_FACH (Foward Access Channel)
Dari 3GPP seri 99, terdapat 4 status protokol yang berbeda yang dapat diaplikasikan pada UE dalam mode hubungan Radio Resource Control (RRC),
yaitu : CELL_DCH, CELL_FACH,
CELL_PCH, URA_PCH, yang semuanya merupakan karakter channel yang dapat diterima atau ditransmisikan oleh UE.
Kemudian, logical channel DCCH
(Dedicated Control Channel) dan DTCH (Dedicated Traffic Channel) hanya tersedia pada status CELL_DCH dan CELL_FACH.
Dan fungsi HSDPA serta HSUPA
sebagaimana terdefinisi pada 3GPP seri 5 dan 6, hanya tersedia dalam status CELL_DCH. Jadi ‘Enhanced CELL_FACH’
tidak hanya berpengaruh pada
CELL_FACH, namun statusnya secara keseluruhan.
Gambar 6. Status RRC dan transisinya
Status CELL_FACH menggunakan FACH yang dipetakan pada S-CCPH (Secondary
Common Control Physical Channel) untuk
transmisi data-packet downlink ukuran kecil.
Penggunaan HS-DSCH pada status
CELL_FACH dapat meningkatkan data-rate dan dapat mengurangi delay pensinyalan data pada downlink, serta mempercepat transisi status ke CELL_DCH.
Selanjutnya setelah status CELL_FACH, keuntungan dari transmisi dengan H_DSCH dikembangkan pada status CELL_PCH dan URA_PCH juga, dan dapat mengurangi
delay pensinyalan. Tabel berikut
memberikan ilustrasi logical channel yang dapat ditransmisikan dengan HSDSCH pada status yang berbeda.
Sedangkan pada 3GPP seri 7, HSDPA telah diaktifkan untuk pengguna dalam CELL_FACH. Pada sisi downlink UE memonitor channel pada HSDPA untuk mendeteksi penjadwalan informasi untuk identitas spesifik yang dimiliki oleh mereka sendiri (HRNTI). Kekurangan pada
dedicated channel uplink menjadikan 3GPP
seri ini tidak mampu mendukung continuous
transmission pada CQI (Channel Quality Indicator) atau umpanbalik HARQ. Sebagai
konsekuensinya, 3GPP harus memodifikasi
link adaption dan HARQ.
Pada 3GPP seri 8, uplink telah diperbaiki
dengan mengaktifkan E-DCH pada
CELL_FACH. Enhanced CELL_FACH
bertujuan untuk mendapatkan format
header yang sama pada layer2 dengan
menggunakan CELL_DCH. Dengan cara demikian, transmisi data dapat dilanjutkan tanpa terjadi interupsi, meskipun terjadi perpindahan antara CEEL_FACH dan CELL_DCH.
7. MBSFN, Downlink-Optimized Broadcast
3GPP seri 7 telah mengoptimalkan MBMS untuk memperkuat efisiensi transmisi sehingga lebih baik daripada efisiensi
menggunakan multisel MBMS yang
digunakan pada seri 6. Solisinya adalah dengan menggunakan MBSFN (Mulicast/
Broadcast Single Frequency Network) yaitu
merupakan jaringan frekuensi tunggal yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan broadcast serta memfasilitasi sistem broadcast yang lebih baik dengan cara mentransmisikan bentuk gelombang yang sama dari multiple cell sehingga
kemampuan broadcast dari WCDMA
meningkat. Cara ini memungkinkan UE memandang multiple cell MBSFN sebagai
cell tunggal berukuran besar.
3GPP berusaha meningkatkan performa MBSFN dengan memperkenalkan DOB (Downlink Optimized Broadcast). DOB merupakan konsep khusus dari TDD (Time
Division Duplex) 3,84MBps yang beroperasi
pada unpaired spectrum. Prinsip dasar
DOB identic dengan MBSFN FDD
(Frequency Division Duplex) yang berarti operator WCDMA yang memiliki akses pada unpaired spectrum memiliki prioritas untuk memindahkan jaringannya saat diperlukan.
8. 3GPP Seri 9, Evolved Multicarrier Operation in Downlink
Setelah seri 8 memperkenalkan dual-carrier
operation pada sisi downlink, pada seri
selanjutnya membahas tentang
Pengoperasian multiband pada multiple
carrier memungkinkan pengguna tunggal
secara simultan menggunakan spectrum terdistribusi memalui jalur transmisi yang berbeda sehingga operator dapat lebih fleksibel dalam mengalokasikan spectrum yang ada.
Langkah ke depan yang mungkin dibahas dan dikembangkan dalam 3GPP seri 9 antara lain :
1) MIMO, 64QAM dan 4 downlink carrier, memberikan peak data rates yang lebih besar daripada 100MBps
2) Dual carrier pada sisi uplink,
memberikan 23 MBps
Pengembangan-pengembangan pada
evolusi HSPA secara keseluruhan menawarkan kemudahan dan efektivitas bagi operator untuk migrasi mobile
broadband atau sistem komunikasi
bergerak, menuju jaringan 4G.
9. Kesimpulan
1) Tujuan dari Evolusi HSPA adalah untuk meningkatkan kinerja HSPA dalam hal efisiensi spektrum, memperbesar kapasitas dan peak data-rate,
memperkecil latency, menghemat baterai, dukungan yang lebih baik pada VoIP, dan untuk memanfaatkan potensi
teknologi WCDMA secara lebih
maksimal.
2) MIMO potensial untuk meningkatkan puncak bit rate data sampai 100%. 3) High-order modulation menggunakan
lebih banyak bit per simbol sehingga meningkatkan puncak bit rate data sampai 50% pada sisi downlink dan 100% di sisi uplink.
4) CPC meningkatkan kemampuan pada layer fisik, menghasilkan latency minimal, kapasitas yang lebih besar, dan waktu siaga baterai yang lebih lama. Dengan simulasi ditunjukkan bahwa konsep CPC meningkatkan kapasitas VoIP uplink sekitar 40% dan downlink 10%.
5) 3GPP seri 7 memperkenalkan protokol MAC terbaru, yaitu MAC-ehs, yang mendukung fleksibilitas ukuran dan segmentasi pada RLC PDU.
6) Enhanced CELL_FACH bertujuan meningkatkan sistem pendukung trafik data dan switching yang lebih cepat untuk kestabilan dan keberlanjutan sistem transmisi.
7) MBMS single-frequency network,
downlink-optimized broadcast
mentransmisikan bentuk gelombang yang sama dari multiple cell sehingga kemampuan broadcast dari WCDMA meningkat.
Daftar Pustaka
Bergman. Johan, dkk, HSPA Evolution –
Boosting The Performance of Mobile Broadband Access, Ericsson Review,
vol 1, 2008.
Bergman. Johan, dkk, Continued HSPA Evolution of Mobile Broadband, Ericsson Review, vol 1, 2009.
Gessner, Christina. dan Meik Kottkamp, HSPA+ Technology Introduction; Application Note, Rohde and Schwarz, 2008.
Seidel, Eiko., Technology of High Speed Packet Access (HSPA), NOMOR Research White Paper, 2006
Third Generation Partnershop Project, http://www.3gpp.org diakses 12-01-2009. http://hspa.gsmworld.com diakses 12-01-2009. http://en.wikipedia.org/wiki/3GPP diakses 12-01-2009. http://en.wikipedia.org/wiki/Evolved_HSPA diakses 12-01-2009. http://en.wikipedia.org/wiki/High-Speed_Packet_Access diakses 12-01-2009.